Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
    1262 research outputs found

    PERFORMANS PRODUKSI BABI YORKSHIRE DI INSTALASI PEMBIBITAN TERNAK BABI DINAS PANGAN, PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT

    No full text
    Kebutuhan daging babi di Kalimantan Barat yang meningkat dibutuhkan peningkatan produktivitas sehingga diperlukan uji performans produksi. Hasil uji performans produksi dapat menjadi gambaran dan informasi untuk menentukan kebijakan dalam peningkatan produksi babi Yorkshire. Performans produksi yang sangat menentukan tingkat keberasilan dalam usaha peternakan babi adalah litter size, mortalitas lahir, bobot lahir, mortalitas prasapih dan bobot sapih. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel menggunakan data primer(recording) dari induk babi bangsa Yorkshire berjumlah 30 ekor. Hasil penelitian menunjukan performans produksi babi Yorkshire di Instalasi Pembibitan Ternak Babi Provinsi Kalimantan Barat memiliki rataan litter size sebanyak 11,362,63 ekor dengan mortalitas lahir 12 ekor (3,5 %). Rata-rata bobot lahir babi Yorkshire sebesar 1,460,15 kg sedangkan bobot sapih 6,510,86 kg dengan mortalitas prasapih 71 ekor (22%)

    PERTUMBUHAN SUBKULTUR PISANG CAVENDISH DENGAN TEKNIK IN VITRO PADA MEDIA ½ MS DENGAN PENAMBAHAN AIR KELAPA

    Get PDF
    Tanaman pisang cavendish pada umumnya selalu diperbanyak secara vegetatif, yaitu dengan menggunakan anakan yang tumbuh dari bonggolnya dan hanya memperoleh sekitar 5-10 anakan per tahun. Salah satu cara untuk memperbanyak tanaman pisang cavendish adalah dengan menggunakan teknik in vitro. Perbanyakan secara in vitro dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dengan waktu relatif singkat. Media tanam yang digunakan untuk kultur in vitro harus mengandung unsur hara makro, mikro, vitamin dan ZPT. Air kelapa dapat digunakan sebagai media modifikasi MS agar biaya produksi dapat berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi air kelapa terbaik untuk pertumbuhan subkultur pisang Cavendish pada media ½ MS. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan konsentrasi air kelapa yang terdiri atas 6 taraf perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan tiap ulangan terdiri dari 4 sampel jumlah unit percobaan yaitu 96 botol. Perlakuannya yaitu A0 = tanpa air kelapa, A1 = ½ MS + 5% air kelapa, A2 = ½ MS + 10% air kelapa, A3 = ½ MS + 15% air kelapa, A4 = ½ MS + 20% air kelapa, dan A5 = ½ MS + 25% air kelapa pada media ½ MS. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan tiap ulangan terdiri dari 4 sampel. Variabel yang diamati adalah waktu muncul tunas (mst), jumlah akar (helai), jumlah daun (helai), jumlah tunas (tunas), dan panjang tunas (cm). Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan eksplan pisang cavendish yang menggunakan media ½ MS tanpa air kelapa relatif sama dengan pertumbuhan pisang cavendish dengan media ½ MS + air kelap

    KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK PELENGKAP CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN ANGGREK Dendrobium sp.

    No full text
    Dendrobium merupakan salah satu genus anggrek yang umumnya dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Anggrek merupakan tanaman hias  yang memiliki pasar konsumen yang relatif stabil tidak tergantung musim. Dendrobium secara genetis memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lambat, sehingga diperlukan upaya budidaya dengan pemupukan, salah satunya yaitu pupuk pelengkap cair (PPC). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi konsentrasi dan frekuensi PPC terbaik untuk pertumbuhan anggrek Dendrobium sp. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Juli s.d. 30 November 2018 di rumah penelitian. Rancangan penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan pola Faktorial Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama adalah konsentrasi PPC (K), sedangkan faktor kedua yaitu frekuensi PPC (F). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 2 tanaman sampel, sehingga didapatkan 54 unit percobaan. Faktor konsentrasi PPC (K) yaitu: k1 (1 ml/l), k2 (2 ml/l), k3 (3 ml/l). Faktor frekuensi PPC (F) terdiri yaitu: f1 (3 hari sekali), f2 (5 hari sekali), f3 (7 hari sekali). Variabel yang diamati dalam penelitian yaitu pertambahan jumlah daun (helai), pertambahan panjang daun (cm), pertambahan jumlah anakan (anakan), dan waktu muncul anakan (hari). Hasil penelitian menunjukkan, tidak terjadi interaksi antara pemberian konsentrasi dan frekuensi pemberian PPC terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium sp. Konsentrasi PPC memberikan pertumbuhan yang baik terhadap jumlah daun dan waktu muncul anakan. Konsentrasi PPC efektif untuk pertumbuhan anggrek yaitu 1 ml/l. Frekuensi pemberian PPC memberikan pertumbuhan yang sama pada semua variabel pengamatan, sehingga tidak ditemukan frekuensi terbaik.  Namun, kombinasi perlakuan konsentrasi 1 ml/l dan frekuensi  7 hari sekali sudah cukup efisien untuk mempengaruhi pertumbuhan anggrek Dendrobium sp.Kata kunci: Anggrek Dendrobium sp, Frekuensi, Konsentrasi, Pupuk Pelengkap Cai

    HUBUNGAN POPULASI MIKROBA PELARUT FOSFAT TERHADAP KETERSEDIAAN FOSFOR (P) PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI DESA AMBAWANG KUALA KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    ABSTRAK  Aktivitas mikoorganisme dipengaruhi oleh ketersediaan P di dalam tanah maka P untuk sumber nutrisi aktivitas MPF perlu diberikan kedalam tanah. Kepadatan populasi yaitu aktivitas MPF dan kepadatan populasinya dalam tanah ditentukan  oleh  perubahan  pada  masing-masing lahan  sawah  dan  berdasarkan kondisi tersebut perlu dilakukan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui korelasi/hubungan populasi mikroba pelarut fosfat terhadap ketersediaan fosfor (P) pada lahan sawah tadah hujan di Desa Ambawang Kuala Kabupaten Kuburaya. Pengambilan sampel dengan menggunakan sistem diagonal pada 7 lokasi penelitian dengan 5 titik yang dikompositkan, jumlah sampel pada 7 lokasi penelitian sebanyak 7 sampel. Parameter penelitian meliputi parameter utama dan parameter penunjang. Tahapan penelitian meliputi penentuan lokasi, pengambilan sampel, analisis sampel dan karakteristik MPF di laboratorium, penentuan analisis statistik regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan hubungan populasi bakteri pelarut fosfat terhadap ketersediaan fosfor (P) pada lahan sawah tadah  hujan  adalah  r  =  0,602  dan  r2   =  0,362  dan  hasil  analisis  korelasi menunjukkan hubungan yang “kuat”, sedangkan hubungan populasi cendawan pelarut  fosfat  terhadap  ketersediaan  fosfor  (P)  pada  lahan  sawah  tadah  hujan adalah r = 0,429 dan r2 = 0,184, menunjukkan hubungan yang “cukup kuat”.   Kata kunci : Lahan Sawah Tadah Hujan, Mikroba Pelarut Fosfat, KetersediaanFosfo

    STUDI SIFAT FISIKA TANAH GAMBUT PADA TIGA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA RASAU JAYA I KECAMATAN RASAU JAYA KABUPATEN KUBU RAYA

    Get PDF
    ABSTRAK Tipe penggunaan lahan gambut yang berbeda mengakibatkan perubahan sifat fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan beberapa sifat fisika tanah gambut pada tiga penggunaan lahan di Desa Rasau Jaya I Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya. Penelitian dilakukan di 3 lahan yang berbeda yaitu kelapa sawit (S), jagung (J), dan semak belukar (B). Setiap penggunaan lahan ada 5 titik pengamatan, jadi total jumlah sampel yang diambil ada 15 sampel. Analisis data menggunakan Uji-t tidak berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sifat fisika tanah gambut pada semua parameter pada tiga penggunaan lahan. Hasil Uji-t menunjukkan bahwa pada penggunaan lahan sawit memiliki kadar serat gambut terendah yaitu 16,34 %, dan permeabilitas tanah yang terendah yaitu 1,13 cm/jam. Pada penggunaan lahan jagung memiliki bobot isi tanah yang tertinggi sebesar 0,34 g/cm3, kadar air kapasitas lapang yang terendah yaitu 61,22 %Volumetrik, dan porositas total tanah yang terendah yaitu 72,17 %. Pada penggunaan lahan semak belukar memiliki kadar serat gambut yang tertinggi sebesar 32,88 %, bobot isi tanah gambut yang terendah yaitu 0,14 g/cm3, kadar air kapasitas lapang yang tertinggi sebesar 79,87 %Volumetrik, porositas total tanah yang tertinggi sebesar 88,51 %, dan permeabilitas tanah yang tertinggi sebesar 2,99 cm/jam.Kata kunci: Tanah gambut, sifat fisika tanah, penggunaan lahan

    UJI KOMBINASI BIOCHAR KOTORAN AYAM TERHADAP KETERSEDIAAN HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicum Esculentum Mill) DI TANAH GAMBUT

    Get PDF
    ABSTRAKPemanfatan tanah gambut untuk digunakan sebagai lahan pertanian memerlukan sejumlah perbaikan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi biochar kotoran ayam  terhadap ketersedian hara N, P, K dan pertumbuhan tinggi tanaman tomat. Penelitian ini di lakukan dari bulan Agustus 2021 pada tanah gambut di Jl. Gusti Hamzah, Gg. Pancasila IV, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dosis biochar kotoran ayam : B0 0 ton/ha, B1 15 ton/ha, B2 30 ton/ha, B3 45 ton/ha, B4 60 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap parameter pH, C/N Rasio, N-total, P-tersedia, K-tersedia, dan tinggi tanaman. Perlakuan biochar kotoran ayam pada 1.666gr/polybag dapat meningkatkan pH, C/N Rasio, N-total, dan P-tersedia dibandingkan dengan kontrol (tanpa biochar kotoran ayam) yaitu masing-maisng 3,0000, 1,3300, 1,500, 25,93 cmol(+)kg-1. Perlakuan biochar kotoran ayam pada 1.250gr/polybag dapat meningkatkan K-tersedia dibandingkan dengan kontrol (tanpa biochar kotoran ayam)  yaitu 2,23 cmol(+)kg-1. Perlakuan biochar kotoran ayam pada dosis 1.666gr/polybag nilai rerata tertinggi yaitu 10,10 dibandingkan dengan perlakuan lainnya.Kata Kunci : biochar, tanaman tomat (Lycopersicum Esculentum Mill), tanah gambut   

    PEMBERIAN ABU KAYU DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BABY MENTIMUN PADA TANAH GAMBUT

    Get PDF
    Pemberian abu kayu dan NPK pada tanah gambut dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai untuk tanaman baby mentimun pada tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi abu kayu dan NPK yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman baby mentimun pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan di lahan KEP’S Agro Jl. Sui Raya Dalam, Kota Pontianak berlangsung dari 4 Februari  – 16 Maret 2021. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah abu kayu dengan 3 taraf perlakuan dan faktor kedua adalah pupuk NPK. Masing-masing faktor diulang sebanyak 3 kali, setiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel sehingga jumlah tanaman seluruhnya adalah 108 tanaman. Faktor pertama adalah Abu Kayu (A) a1 = Abu Kayu 310 g/polybag setara dengan 20 ton/ha, a2 = Abu Kayu 430 g/polybag setara dengan 28 ton/ha, a3 = Abu Kayu 552 g/polybag setara dengan 36 ton/ha. Faktor kedua adalah pupukNPK (N) n1 =  pupuk NPK 16 g/polybag setara dengan 200 kg/ha, n2 = pupuk NPK 24 g/polybag setara dengan 300 kg/ha, n3 = pupuk NPK 32 g/polybag setara dengan 400 kg/ha Variabel yang diamati yaitu, berat kering tanaman, volume akar, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman dan berat buah per buah. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya interaksi dari pemberian abu kayu dan NPK pada variabel volume akar yaitu abu kayu 28 ton/ha yang setara 430 g/polybag dengan NPK 400 kg/ha yang setara 32 g/polybag. Pemberian abu kayu dosis 36 ton/ha berbeda nyata dengan 20 ton/ha dan 28 ton/ha terhadap berat kering sedangkan pemberian NPK tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan.Kata kunci : Abu kayu, baby mentimun, gambut, pupuk NPK

    PENGARUH KOMPOS SOLID PLUS (KOSPLUS) TERHADAP SERAPAN HARA N,P SERTA K DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS DI TANAH GAMBUT

    Get PDF
    ABSTRAK Jagung manis merupakan jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Saat ini jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki nilai ekonomis paling tinggi bila dibandingkan dengan jenis lainnya. Tanah gambut merupakan tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah. Tanah ini memiliki kandungan bahan organik yang tinggi tetapi sangat bertolak belakang dengan kandungan unsur hara tanahnya, hal tersebut perlu adanya usaha pemupukan satu diantaranya pemberian kosplus menjadi alternatif pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kosplus terhadap serapan hara N,P dan K serta hasil tanaman jagung manis di tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura sebagai penyimpanan polybag dan analisis serapan hara di Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura sejak 12 maret - 30 juli 2021. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan yang diuji meliputi, P0 (Tanpa Perlakuan), P1 (280 g/polybag), P2 (560 g/polybag). P3 (830 g/polybag), P4 (1.100 g/polybag), P5 (1.390 g/polybag). Terdiri dari 6 perlakukan dengan 4 kali ulangan. Penelitian ini dilakukan 2 unit. Jadi keseluruhan yang diperoleh 6 x 4 = 24 polybag dan 24 x 2 = 48 polybag.  Hasil penelitian menunjukan pemberian kosplus dapat meningkatkan serapan hara N 541,9 %, serapan hara P sebesar 315,3% dan serapan hara K sebesar 234,6 %, berat basah tanaman sebesar 282,1 % dan berat kering tanaman sebesar 288,2 % pada P1 dibandingkan P0. Meningkatkan berat tongkol berkelobot sebesar 143,2 %, panjang tongkol sebesar 37,9 %, pada P1 dibandingkan P0 berat pongkol tanpa kelobot sebesar 145,1 % pada P4 dibandingkan ada P0.Kata kunci: Kompos Solid Plus (KOSPLUS), Serapan Hara N-P-K, Tanah Gambut

    THE RESPONSE OF BLACK RICE TOWARDS ALUMINIUM TOXICITY IN GERMINATION PHASE

    No full text
    Black rice is a type of rice which has high anthocyanins content functioning as antioxidants which are beneficial for health. Superior seed can be used to improve the production of black rice. However, local seeds with Aluminium tolerance are not available. This research aims to find out the response of several varieties of black rice towards Al toxicity in germination phase. This research used several black rise varieties namely Senakin, Tabah, Gula and Melawi variety. Meanwhile, inpara 2 variety was used as a comperative seed with Al tolerance and Cibogo variety was used as a comperative seed which is susceptible to Al. Seed selections is conducted to obtain seeds that has the potential to grow subobtimal condition. seeds were placed on straw paper which has been sprayed with 150 ppm Al solution and rolled. Comparison (I) Senakin, Tabah, Gula and Melawi variety were significantly different from Inpara 2 and Cibogo variety in observation variable Germination Percentage (GP), Vigor Index (VI), Grow Rate (GR) and Radicle Length (RL). Comparison (II) Senakin variety was significantly different from Tabah, Gula and Melawi variety in observation variable GP, VI, GR and RL. Comparison (III) Tabah variety was significantly different from Gula and Melawi variety in observation variable GP, VI, GR and RL. Comparison (IV) Gula variety was significantly different from Melawi variety in observation variable GP, VI, and GR, yet not significantly different in variable RL. Comparison (V) Inpara 2 variety was significantly different from Cibogo variety in observation variable GP and VI yet not significantly different in variable GR and RL.Keywords: Aluminium Toxicity, Black Rice, Germination, Susceptible, Tolerance, Variet

    Keanekaragaman Jenis Ikan Hasil Tangkapan Bagan Tancap Di Pulau Penata Kecil Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang

    No full text
    Pulau Penata Kecil merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang, Pulau ini memiliki luas ±60,7Ha dan di huni oleh penduduk musiman sebanyak ±250 jiwa. Pulau Penata Kecil memiliki potensi perikanan pelagis yang cukup tinggi, kondisi yang demikian mengundang masyarakat nelayan untuk memanfaatkan sumberdaya tersebut, Salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan pelagis kecil adalah bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, indeks keanekaragaman dan indeks dominansi ikan hasil tangkapan bagan tancap di Pulau Penata Kecil Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan menggunakan 6 buah bagan tancap, pengambilan sampel dilakukan dengan waktu hauling berbeda yaitu sebelum tengah malam dan sesudah tengah malam berdasarkan jarak bagan tancap dari bibir pantai. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh 16 spesies yang dikelompokan menjadi 14 famili, dan jenis ikan terbanyak di dominasi oleh familia Carangidae sebanyak 3 spesies dan ikan yang sering tertangkap selama penelitian adalah teri (Stelephorus indicus), ikan selar kuning (Selaroides leptolepis), dan ikan petek (Gazza dentex). Indeks keanekaragaman stasiun 1-3 berturut-turut 0,93, 0,92, 0,92 dan secara keseluruhan stasiun di peroleh nilai yaitu 0,87 yang dikategorikan tinggi dan indeks dominansi pada stasiun 1-3 berturut-turut 0,06, 0,07, 0,07 dan secara keseluruhan stasiun diperoleh nilai yaitu 0,12 yang dikategorikan rendah atau tidak ada jenis yang mendominasi. Kata Kunci : Komposisi jenis, Indeks Kenaekaragaman, dan Indeks Dominans

    403

    full texts

    1,262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇