Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
Status Unsur Hara N, P dan K di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Daya Sumber Makmur Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak
ABSTRAKKelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sangat penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Tanaman kelapa sawit memberikan kontribusi terhadap ekspor pasar, penyerapan tenaga kerja, pendapatan perkebunan dan juga produk domestik bruto (PDB). Penelitian ini dilaksanakan di PT. Daya Sumber Makmur Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak. Lokasi penelitian memiliki kelas lereng bergelombang sampai berbukit / agak curam serta curah hujan yang cukup tinggi. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus 2019 sampai dengan Oktober 2019 mulai dari persiapan hingga tahap penyajian hasil. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat status unsur hara N, P dan K pada tanaman kelapa sawit di tanah Ultisol serta memberikan informasi tentang saran pemupukan Urea, SP-36 dan KCl pada tanaman kelap sawit. Kriteria status hara pada lokasi penelitian mulai dari rendah hingga sedang, N-total kriteria rendah hingga sedang, P-tersedia memiliki kriteria sangat tinggi, K-dd kriteria rendah hingga sedang, pH tanah dengan kriteria sangat masam, KTK kriteria rendah, KB kriteria rendah hingga sangat rendah dan C-organik kriteria sangat rendah. Rekomendasi pupuk yang harus diberikan pada tanaman kelapa sawit dalam bentuk pupuk majemuk NK (17:33) dan RP yaitu NK (17:33) dengan dosis 5,1 kg/pohon/tahun ditambah dengan pupuk KCl dengan dosis 0,03 kg dalam bentuk pupuk tunggal dan pupuk RP dengan dosis 0,8 kg/pohon/tahun.Kata Kunci : Nitrogen (N), Posfor (P), Kalium (K), Kelapa Sawit, Ultiso
Efisiensi Pengeringan Irisan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Pada Berbagai Suhu Dan Metode Pengeringan Menggunakan Pengering Kabinet
Masalah utama proses pengeringan adalah rendahya efisiensi alat pengeringan yang berpengaruh terhadap meningkatnya biaya produksi. Oleh karena itu dikembangkan metode pengeringan yang berbeda, untuk membandingkan lama dan efisiensi pengeringan irisan buah mengkudu (Morinda citrifolia) pada beberapa suhu. Metode pengeringan menggunakan tiga metode, yaitu metode konvensional, metode adsorpsi dan metode sirkulasi, dengan kombinasi suhu yaitu 50°C, 57°C dan 65°C. Data hasil pengukuran diolah menggunakan kalkulator psikometrik dan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan yang paling singkat yaitu 11 jam pada pengeringan sirkulasi dengan suhu 65ºC. Efisiensi pengeringan konvensional pada suhu 50°C, 57°C dan 65°C menghasilkan efisiensi pengeringan masing-masing 15,8%, 14,6% dan 14,8%. Pengering metode adsorpsi dengan suhu 50°C, 57°C dan 65°C menghasilkan efisiensi sebesar 13,9%, 15,5% dan 14,8%. Pengering metode sirkulasi dengan suhu 50°C, 57°C dan 65°C menghasilkan efisiensi sebesar 17,5%, 17,6% dan 16,7%. Kata kunci: Adsorpsi, Konvensional, Pengeringan, Sirkulas
Respon Tanaman Buncis Akibat Pemberian Bokasi Eceng Gondok dan Pupuk NPK pada Tanah Aluvial
Peningkatan produksi tanaman buncis pada tanah aluvial dengan pemberian bokasi eceng gondok dan pupuk NPK dapat dicapai akibat meningkatnya kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi yang sesuai kebutuhan tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi berbagai dosis bokasi eceng gondok dan pupuk NPK yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil buncis pada tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, mulai dari September sampai November 2020. Metode penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor pertama pemberian berbagai dosis bokasi eceng gondok dengan 3 taraf (10 ton/ha, 15 ton/ha, dam 20 ton/ha). Faktor kedua yaitu pemberian berbagai dosis pupuk NPK dengan 3 taraf (150 kg/ha, 250 kg/ha, dan 350 kg/ha). Variabel yang di amati yaitu tinggi tanaman 1 MST, 2 MST, 3 MST, dan 4 MST, volume akar, berat kering tanaman, panjang polong, jumlah polong dan berat polong per tanaman. Interaksi dari berbagai dosis bokasi eceng gondok dan pupuk NPK tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis kecuali pada variabel berat kering tanaman diperoleh hasil terbaik pada interaksi eceng gondok 15 ton/ha dan NPK 250 kg/ha
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TERUNG GELATIK TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAH ALUVIAL
ABSTRAKTerung (Solanum melongena) adalah jenis sayuran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatan tanah Aluvial sebagai media tumbuh untuk budidaya terung gelatik dihadapkan pada sejumlah kendala, seperti kesuburan yang bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya dengan ketersediaan unsur hara yang umumnya rendah. Upaya mengatasi kekurangan unsur hara pada tanah aluvial dapat dilakukan dengan penambahan Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil terung gelatik pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di Gang Asia Jaya, Jalan Harapan Jaya Kota Baru Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor dengan 5 taraf perlakuan konsentrasi Pupuk Organik Cair yaitu p1 = 1 ml/liter; p2 = 2 ml/liter; p3 = 3 ml/liter; p4 = 4 ml/liter; p5 = 5 ml/liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman 2 mst, namun berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun,volume akar, waktu berbunga, berat kering tanaman, tinggi tanaman 3 mst, tinggi tanaman 4 mst , jumlah buah pertanaman, berat per buah dan berat buah. Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada pemberian Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul dengan konsentrasi 3 ml/liter menghasilkan tinggi tanaman terung gelatik sebesar 7,43 cm. Kata Kunci: Aluvial, Pupuk Organik Cair, Terung Gelati
Penggunaan Biochar Sekam Padi dan Pupuk KCl terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Peranggi pada Tanah Aluvial
Tanah aluvial yang digunakan sebagai media tanam cabai peranggi memiliki kekurangan berupa tekstur tanah yang liat dan pejal sehingga mengurangi potensi akar untuk berkembang, selain itu kandungan kalium yang rendah juga mengurangi kemampuan tanaman dalam menghasilkan buah. Penggunaan biochar sekam padi dan pupuk KCl sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai peranggi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh biochar sekam padi dan pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai peranggi di tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan yaitu pemberian biochar sekam padi dan pupuk KCl yang masing-masing terdiri dari 0 g/tanaman + 6,8 g/tanaman (b0), 225 g/tanaman + 5,6 g/tanaman (b1), 450 g/tanaman + 4,5 g/tanaman (b2) dan 675 g/tanaman + 3,4 g/tanaman (b3). Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan 3 sampel. Jumlah unit percobaan sebanyak 60 tanaman. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah cabang produktif (batang), jumlah buah per tanaman (buah) dan berat buah per tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan pemberian biochar sekam padi sebesar 450 g/tanaman setara 15 ton/ha dan pupuk KCl sebesar 4,5 g/tanaman setara 150 kg/ha merupakan perlakuan terbaik pada variabel volume akar dan berat buah per tanaman.Kata Kunci : Aluvial, Biochar, Cabai Peranggi, KC
Peranan Amelioran Red Mud dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Serapan Hara N, P, dan K pada Tanaman Jagung di Lahan Pasca Tambang Bauksit Kabupaten Sanggau
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh red mud dan pupuk kandang sapi terhadap serapan hara N, P, dan K pada tanaman jagung di lahan pasca tambang bauksit di PT. Antam Kabupaten Sanggau. Penelitian menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan sehingga terdapat 20 petak percobaan. Penelitian dilakukan dengan tahapan persiapan red mud, persiapan lahan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, hingga pemanenan kemudian diambil sampel daun dan batang bagian atas tanaman jagung dan di analisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan D (4,5 kg/bedeng red mud + 50 kg/bedeng pupuk kandang sapi) dapat meningkatkan pH tanah dari 4.77 menjadi 7,12 atau meningkat 49,3 %, meningkatkan berat kering tanaman sebesar 157%, serapan N tanaman sebesar 216%, serapan P tanaman sebesar 342% dan serapan K tanaman sebesar 188%. Perlakuan C (3 kg/bedeng red mud + 40 kg/bedeng pupuk kandang sapi) dapat meningkatkan pH tanah sebesar 40%, berat kering tanaman sebesar 205%, serapan N tanaman sebesar 325%, serapan P tanaman sebesar 426% dan serapan K tanaman sebesar 277%. Perlakuan B (1,5 kg/bedeng red mud + 30 kg/bedeng pupuk kandang sapi) dapat meningkatkan pH tanah sebesar 25%, berat kering tanaman sebesar 65%, serapan N tanaman sebesar 81%, serapan P tanaman sebesar 121% dan serapan K tanaman sebesar 86%.Kata Kunci: Red Mud, Serapan Hara, Lahan Pasca Tamban
FORMULASI PERMEN JELLY SIRSAK (Annona Muricata Linn) DENGAN JERUK SAMBAL (Citrus amblycarpa)
Soursop fruit is a source of vitamin C, has a distinctive taste and aroma, which is sweet, sour and contains vitamins and minerals that are useful for containing a high enough water content so that it is very easy to damage during storage. Jelly candy is a candy made from water or fruit juice and gelling material, which has a transparent appearance and has a certain texture and elasticity. One of the factors that affect the quality of jelly candy is gelling material (hydrocolloid). The study was conducted on different concentrations of chili orange to get soursop jelly candy with chewy consistency and quality according to SNI (Indonesian National Standard). This study aims to obtain the right concentration of soursop juice and chili orange juice in the manufacture of soursop juice jelly candy based on physicochemical and sensory characteristics. This study used a randomized block design with 1 treatment factor, namely the concentration of chili orange which consisted of 6 levels of treatment with 3 replications for each treatment so that 18 samples were obtained. The results showed that the best treatment was found in the concentration of 80 grams of soursop juice, 20 grams of chili orange with physicochemical test results in the form of water content (15.40 %), ash content (0.49 %), hardness level (0.21 kg force). . The best sensory characteristics of jelly are color 3.7 (slightly yellow), sweetness 2.93 (sweet), soursop aroma 2.73 (yes), texture 2.83 (slightly chewy) favorite 3.43 (like).Keywords: Orange chili sauce, Jelly candy, Sourso
PENGARUH KOTORAN WALET TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI RAWIT PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis kotoran walet terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang terletak di Jalan Sepakat 2, Gang Racana UNTAN, Pontianak berlangsung dari 26 Desember 2020 – 26 April 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 4 sampel sehingga jumlah keseluruhan ada 100 tanaman. Perlakuan yang dimaksud yaitu yaitu W1 = 10 % berat tanah atau setara dengan 800 g/polybag, yaitu W2 = 15 % berat tanah atau setara dengan 1.200 g/polybag, W3 = 20 % berat tanah atau setara dengan 1.600 g/polybag, yaitu W4 = 25 % berat tanah atau setara dengan 2.000 g/polybag dan yaitu W5 = 30 % berat tanah atau setara dengan 2.400 g/polybag. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, kadar klorofil daun, volume akar, berat kering tanaman, berat buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kotoran walet berpengaruh nyata pada berat kering tanaman, berat buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman. Perlakuan dosis kotoran walet dosis 15% berat tanah atau setara dengan 1200 g/polybag sudah efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai rawit pada tanah podsolik merah kuning
PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA PADA SISTEM AKUAPONIK MINI DENGAN PENAMBAHAN PUPUK KANDANG AYAM
Selada (Lactuca sativa, L.) merupakan salah satu tanaman sayuran daun yang banyak dibudidayakan dan memiliki prospek yang cukup baik. Namun produksi tanaman selada secara kontinyu masih tergolong rendah. Oleh karena itu diperlukannya inovasi teknologi dalam meningkatkan hasil dan produksi pertumbuhan tanaman selada. Akuaponik dapat menjadi salah satu inovasi teknologi dalam memproduksi tanaman selada secara kontinyu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk kandang ayam yang terbaik dalam memperbaiki kualitas kontainer air kolam agar dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman selada pada sistem akuaponik mini. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 taraf perlakuan, yaitu perbedaan takaran dosis pupuk kandang ayam, dan tiap perlakuan terdiri dari 25 populasi dengan 15 tanaman sampel. Adapun perlakuan tersebut yaitu (1) P0 = Kontrol/Tanpa perlakuan pupuk kandang ayam, (2) P1 = Penambahan 3 g pupuk kandang ayam, (3) P2 = Penambahan 15 g pupuk kandang ayam, (4) P3 = Penambahan 30 g pupuk kandang ayam, (5) P4 = Penambahan 45 g pupuk kandang ayam. Variabel yang diamati adalah jumlah daun (helai), panjang daun (cm), lebar daun (cm), volume akar (cm³), berat kering tanaman (g), dan berat segar tanaman bagian atas (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun umur 3 – 4 mst, panjang daun, lebar daun, dan berat segar tanaman selada bagian atas. Adapun takaran dosis penambahan pupuk kandang ayam terbaik terjadi pada perlakuan 45 g pupuk kandang ayam berdasarkan potensi hasil tanaman merupakan perlakuan terbaik terhadap berat segar tanaman selada bagian atas. Kata Kunci : Akuaponik, Pupuk Kandang Ayam, Selad
THE EFFECT OF CHICKEN MANURE AS ORGANIC MATTER AND NPK FERTILIZER ON GROWTH AND YIELD OF CABBAGE IN ALLUVIAL SOIL
Cabbage Flowers are flower buds in large numbers forming thick and dense circles. Utilization of alluvial soil as a growing medium is faced with low soil fertility, acidic soil pH, low levels of organic matter availability, and lack of nutrient content. The limited carrying capacity of the alluvial soil needs to be overcome by adding organic matter and nutrients needed to improve soil fertility as a growing medium for cauliflower plants. This study aims to determine the interaction of chicken manure as organic matter and NPK on the growth and yield of flower cabbage on alluvial soil. This research was conducted at Jalan Daya Nasional, Tanjungpura University Lecturer Complex, Pontianak from 27 December – 28 March 2022. This research is a field experiment with a factorial pattern of Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors. The first factor consisted of chicken manure (K) which consisted of 3 treatment levels and the second factor was NPK fertilizer (N) with 3 treatment levels. Each treatment combination was repeated 3 times and each experimental unit contained 4 sample plants, so there were 108 plants. The first factor is chicken manure which consists of 3 levels, namely: 108 ton/ha, 243 ton/ha and 378 ton/ha. The second factor is NPK fertilizer which consists of 3 levels, namely: 300 kg/ha, 450 kg/ha and 600 kg/ha. Observation variables include: number of leaves, root volume, dry weight of the top of the plant, fresh weight of flowers and flower diameter. The results showed that there was an interaction between chicken manure and NPK fertilizer on the variable number of leaves 4 WAP. The dose of 243 ton/ha and pupuk NPK 600 kg/ha fertilizer is an efficient dose to increase the growth of flower cabbage on alluvial soil. Keywords : Alluvial, Cabbage Flowers, NPK, Chicken Manur