Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
PENGARUH KOMBINASI KAPUR DOLOMIT DAN POC BATANG PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PADA TANAH GAMBUT
Pemberian kapur dolomit dan POC batang pisang pada tanah gambut dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi yang sesuai untuk tanaman sawi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi kapur dolomit dan POC batang pisang yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan di lahan yang terletak di Jl. Aloevera, Kelurahan Bansir Darat, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, dilaksanakan dari tanggal 23 mei – 23 juni 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu rancangan acak lengkap yang terdiri dari 9 taraf perlakuan. P1 : Kapur dolomit 11,25 ton/ha + dengan POC batang pisang 150 ml/ L air, P2 : Kapur dolomit 11,25 ton/ha + dengan POC batang pisang 300 ml/ L air, P3 : Kapur dolomit 11,25 ton/ha + dengan POC batang pisang 450 ml/ L air, P4 : Kapur dolomit 15 ton/ha + dengan POC batang pisang 150 ml/ L air, P5 : Kapur dolomit 15 ton/ha + dengan POC batang pisang 3000 ml/ L air, P6 : Kapur dolomit 15 ton/ha + dengan POC batang pisang 450 ml/L air, P7 : Kapur dolomit 18,75 ton/ha + dengan POC batang pisang 150 ml/ L air , P8: Kapur dolomit 18,75 ton/ha + dengan POC batang pisang 300 ml/ L air, P9: : Kapur dolomit 18,75 ton/ha + dengan POC batang pisang 450 ml/ L air. Variabel yang diamati yaitu jumlah daun, volume akar, luas daun, kadar klorofil daun, berat basah dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kapur dolomit dan POC batang pisang berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun, luas daun, jumlah daun, berat segar dan berat kering tanaman serta berpengaruh tidak nyata terhadap volume akar. Kapur dolomit 15 ton/ha dan POC batang pisang 300ml/liter air merupakan dosis yang efisien dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sawi
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK KANDANG AYAM DAN PUPUK KNO3 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH DI TANAH GAMBUT
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kombinasi dosis pupuk kandang ayam dan pupuk KNO3 yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil bawang merah di tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dan waktu penelitian 5 bulan, mulai dari 20 febuari s/d 20 juli 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu dosis kombinasi pupuk kandang ayam dan pupuk KNO3. Terdapat 7 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali, setiap ulangan terdiri 4 tanaman sampel sehingga tanaman berjumlah keseluruhan 112 tanaman. Perlakuan k1=pupuk kandang ayam 10 ton/ha + pupuk KNO3 200 Kg/ha, k2=pupuk kandang ayam 10 ton/ha + pupuk KNO3 600 Kg/ha, k3=pupuk kandang ayam 15 ton/ha + pupuk KNO3 500 Kg/ha, k4=pupuk kandang ayam 20 ton/ha + pupuk KNO3 400 Kg/ha, k5=pupuk kandang ayam 25 ton/ha + pupuk KNO3 300 Kg/ha, k6=pupuk kandang ayam 30 ton/ha + pupuk KNO3 200 Kg/ha, k7=pupuk kandang ayam 30 ton/ha + pupuk KNO3 600 Kg/ha. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah anakan, jumlah umbi per rumpun, berat basah umbi per rumpun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan, kombinasi pupuk kandang ayam dan KNO3 dosis 30 ton/ha + 600 kg/ha, merupakan dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah di tanah gambut. Kata Kunci : bawang merah, gambut, pupuk kandang ayam, pupuk KNO
THE EFFECT OF RICE HUSK BIOCHAR AND NPK FERTILIZER ON THE GROWTH AND YIELD OF RADISH IN RED YELLOW PODSOLIC SOIL
Radish (Raphanus sativus L.) is an annual plant, In Podsolic Soil. Utilization red-yellow podsolic soil as a growing medium is fact with the characteristics of dense soil and high clay content, low organic matter content, moderate to high base saturation, generally low nutrient content of N, P, K, and low pH. Efforts to improve the physical and chemical properties of red-yellow podzolic soil can be carried out by giving balanced organic matter and inorganic fertilizers so that it is expected to increase soil productivity. One of the organic materials that can be used was rice husk biochar. NPK anorganik fertilizer is an important macro nutrient needed by plants in large quantities so it must be available in sufficient quantities contain the growing media. This study aims were to find the interaction of biochar and NPK fertilizer on the growth and yield of radish on Red Yellow Podsolik soil. This research was conducted from 27 April – 30 May 2022, in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak. The study used a factorial Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors. The first factor consisted of planting media, namely husk charcoal biochar (A) which consisted of 3 treatment levels and the second factor was NPK fertilizer (P) with 3 treatment levels. Each treatment combination was repeated 3 times and each experimental unit contained 4 sample plants, so there were 108 plants. The variables observed in this study were the number of leaves, plant fresh weight, plant dry weight, tuber length, tuber diameter and tuber fresh weight. The results showed that the dose of 10 tons/ha of biochar and 400 kg/ha of NPK fertilizer gave the best results on the growth and yield of radish on red-yellow podzolic soil. Keywords : Fertilizer, Radish, Rice Husk Biochar, Red-Yellow Podzolic Soil, Response
RESPON TANAMAN KACANG TANAH AKIBAT PENBERIAAN ABU SERBUK KAYU DAN PUPUK NPK PADA TANAH GAMBUT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan interaksi terbaik antarakombinasi dosis abu serbuk kayu dan pupuk NPK pada tanaman kacang tanah di tanahgambut. Penelitian di laksanakan di lahan gambut Dusun Rimba Jaya Desa Sungai DuriKecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Waktu penelitian± 3 bulan di mulai dari 13 April 2020 sampai 19 juli 2020. Rancangan penelitian yangdi gunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 2 faktor dengan 3 taraf perlakuan. Faktor abu serbuk kayu yang terdiri dari a1=18 ton/ha, a2=27 ton/ha, a3=35 ton/ha dan faktor pupuk NPK yang terdiri dari m1=150 kg/ha, m2=250 kg/ha, m3=300 kg/ha. Penanaman di lakukan dengan cara benih di letakan di tiap-tiap lubang tanam dengan jumlah dua benih per lubang tanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm antara tanaman. Variabel pengamatan di lakukan pada tinggi tanaman, berat kering tanaman, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, jumlah polong isi per tanaman dan jumlah biji per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian abu serbuk kayu dan pupuk NPK berpengaruh nyata pada semua variabel pengamatan. Abu serbuk kayu dosis 2,7 kg/ha dan pupuk npk 250 kg/ha memberikan hasil terbaik pada variabel berat polong per tanaman dan jumlah polong per tanaman.Kata Kunci: Abu Serbuk Kayu, Pupuk NPK, Tanah Gambut, Kacang Tanah
PENGARUH KOMPOS LIMBAH KULIT KOPI DAN PUPUK ORGANIK CAIR KEONG MAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUNCIS PADA TANAH ALUVIAL
Tanah aluvial merupakan jenis tanah yang memiliki potensi sebagai lahan pertanian, namun tanah aluvial memiliki kesuburan tanah yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kompos kulit kopi dan pupuk organik cair keong mas yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis yang ditanam pada tanah aluvial.Penelitian menggunakan metode eksperimen faktorial rancangan acak lengkap yang terdiri dari faktor pertama adalah kompos kulit pisang (K0 terdiri dari k1 = 10 ton/ha k2 = 15 ton/ha dan k3 = 20 ton/ha, sedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi pupuk organik cair keong mas (P) terdiri dari p1 = 150 ml/l; p2 = 250 ml/l; dan p3 = 350 ml/l, dengan berbagai variasi 3. variabel pengamatan terdiri dari volume akar, berat kering tanaman, umur berbunga, jumlah polong/ tanaman dan berat segar.Hasil penelitian ini pertumbuhan dan hasil tanaman buncis ditentukan dengan kompos kulit kopi dan pupuk organik keong mas. Dosis efektif diperoleh sebesar 10 ton/ha dan konsentrasi 150 ml/l.Jumlah polong/tanaman buncis lebih dominan faktor tunggal kompos kulit kopi dan pupuk organik cair keong mas masing-masing pada dosis 15 ton/ha dan konsentrasi 350 ml, Kata kunci : Aluvial, Buncis, Kompos kulit kopi, POC keong ma
PENGELOLAAN KONSERVASI TANAH BERDASARKAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN DI KEBUN RAYA SAMBAS
ABSTRAKKebun Raya Sambas memiliki topografi yang bervariasi dan kemiringan lereng yang curam beresiko terjadinya degradasi lahan. Upaya untuk mengurangi degradasi lahan maka perlu dilakukan konservasi tanah berdasarkan dengan kelas kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah, menentukan sub-kelas kemampuan lahan, dan menentukan pengelolaan konservasi tanah berdasarkan kelas kemampuan lahan di Kebun Raya Sambas. Lokasi Penelitian di Kebun Raya Sambas Kecamatan Subah Kabupaten Sambas dengan luas 151,84 Ha. Metode yang digunakan adalah analisis kemampuan lahan berdasarkan Arsyad (2006). Hasil penelitian menunjukan karakteristik tanah di lokasi penelitian Kebun Raya Sambas memiliki iklim yang sangat basah, bentuk lahan yang bervariasi dari datar hingga curam, penggunaan lahan merupakan hutan sekunder (hutan lahan rendah), jenis tanah Typic Kandiudult, Typic Hapludults, Typic Udipsamments, dan Typic Endoaquepts. Terdapat 4 kelas kemampuan dengan subkelas : IIIs, IVs, IVe, VIws, VIe, dan dan VIIIs. Pengelolaan konservasi tanah pada kelas kemampuan lahan III dapat dilakukan konservasi secara vegetatif dengan penamaman menurut strip crroping. Pada kelas kemampuan lahan IV dan VI dapat dilakukan dengan pembuatan teras dan saluran bervegetasi. Pada kelas kemampuan lahan VIII didaerah yang tergenang dapat menerapkan saluran bervegetasi akan tetapi lebih baiknya kelas kemampuan lahan VIII dibiarkan dalam keadaan alami untuk menjaga ciri khas Kebun Raya Sambas sebagai daerah riparian. Kata Kunci : Kelas Kemampuan Lahan, Konservasi Tanah, Kebun Raya Samba
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TERUNG GELATIK TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAH ALUVIAL
ABSTRAKTerung (Solanum melongena) adalah jenis sayuran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatan tanah Aluvial sebagai media tumbuh untuk budidaya terung gelatik dihadapkan pada sejumlah kendala, seperti kesuburan yang bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya dengan ketersediaan unsur hara yang umumnya rendah. Upaya mengatasi kekurangan unsur hara pada tanah aluvial dapat dilakukan dengan penambahan Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil terung gelatik pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di Gang Asia Jaya, Jalan Harapan Jaya Kota Baru Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor dengan 5 taraf perlakuan konsentrasi Pupuk Organik Cair yaitu p1 = 1 ml/liter; p2 = 2 ml/liter; p3 = 3 ml/liter; p4 = 4 ml/liter; p5 = 5 ml/liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman 2 mst, namun berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun,volume akar, waktu berbunga, berat kering tanaman, tinggi tanaman 3 mst, tinggi tanaman 4 mst , jumlah buah pertanaman, berat per buah dan berat buah. Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada pemberian Pupuk Organik Cair Hormon Tanaman Unggul dengan konsentrasi 3 ml/liter menghasilkan tinggi tanaman terung gelatik sebesar 7,43 cm. Kata Kunci: Aluvial, Pupuk Organik Cair, Terung Gelati
PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PAGODA TERHADAP KONSENTRASI NUTRISI AB MIX DENGAN SISTEM HIDROPONIK SUMBU
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dengan cara ekstentifikasi sawi, dapat ditempuh dengan memanfaatkan lahan perkarangan, penanaman sawi yang cocok dipekarangan adalah penanaman secara hidroponik. Sistem sumbu merupakan teknik hidroponik yang sederhana menggunakan prinsip kapilaritas air yang mana larutan nutrisi akan mengalir menuju perakaran melalui sumbu. Teknik hidroponik sistem sumbu ini sederhana dan lebih menguntungkan karena mudah dalam perawatannya dan tidak perlu melakukan penyiraman.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi nutrisi yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil sawi pagoda dengan sistem hidroponik sumbu. Penelitian dilaksanakan di Jl. Purnama Agung VII Parit Tokaya Kota Pontianak, penelitian berlangsung dari 23 Januari - 29 Februari 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor yaitu pupuk AB mix (P) dengan 5 taraf perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dimana unit perlakuan terdapat 3 sampel tanaman sehingga total keseluruhan ada 75 sampel tanaman. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan nutrisi AB Mix Good plant. Calnit, Flex G, Mag S, Map Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar tanaman (g), berat kering tanaman (g), kadar klorofil daun (spad unit) dan volume akar (cm3). hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi memberikan pengaruh sebesar 17% dan konsentrasi terbaik 1087,56 ppm untuk berat segar tanaman yaitu 80,63 g. pemberian konsentrasi memberikan pengaruh sebesar 17% dan konsentrasi terbaik 1087,56 ppm untuk berat segar tanaman yaitu 80,63 g
ABSTRACT
Stingray is an important fisheries commodity in North Kayong. Continuous stingrays catching results in the extinction of several stingray species. This study was conducted to determine the species composition, index of species diversity, dominance, uniformity, abundance and conservation status of rays at Sukadana Fishing port, North Kayong Regency. The method used in this study was a descriptive survey. The results of the study found 291 individual stingrays consisting of 14 species and 2 families. The results showed that the highest relative abundance is the Telatrygon zugei species with a value of 0.213 and the lowest abundance of stingrays are the Neotrygon kuhlii species with a value of 0.007, the index of stingray diversity (H) 2,371 classified as moderate, the uniformity index (E) 0.898 classified as high, the dominance index (C) 0.003 classified as low. Based on the IUCN Red List of Threatened Species, there are 6 species of stingrays are included in the category of Vulnerable (VU), 4 species are in the category of Near Threatened (NT), 2 species are in the category of Not Evaluated (NE), and 2 species are in the category of Data Deficient (DD)
RANSUM KOMPLIT KAMBING MENGGUNAKAN AMPAS SAGU HASIL FERMENTASI Aspergillus niger
RANSUM KOMPLIT KAMBING MENGGUNAKANAMPAS SAGU HASIL FERMENTASI Aspergillus niger Jumadi 1), Retno Budi Lestari 2), dan Duta Setiawan2)1)Mahasiswa, 2)Dosen Program Studi Peternakan – Fakultas Pertanian – UniversitasTanjungpura Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi – Pontianak – KalimantanBarat 78124email: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas sagu fermentasi pada ransum komplit ternak kambing kacang, mendapatkan formula yang tepat ransum komplit dengan menggunakan ampas sagu fermentasi pada ternak kambing kacang, mengetahui seberapa besar ampas sagu fermentasi dapat menggantikan rumput lapang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 1 faktor perlakuan yaitu: ransum komplit yang terdiri dari Rumput Lapangan (RL), Ampas Sagu Fermentasi (ASF) dan Konsentrat. Perlakuan tersebut terdiri dari: P0 =60% RL+ 0% ASF + 40% konsentrat, P1 = 45% RL + 15% ASF+ 40% konsentrat, P2 = 30% RL + 30% ASF+ 40% konsentrat, P3 = 15% RL + 45% ASF+ 40% konsentrat. Setiap perlakuan menggunakan kambing berumur 1–1,5 tahun terdiri dari 3 kelompok, sehingga jumlah unit percobaan ada 12 ekor kambing kacang jantan yang dikelompokan berdasarkan berat badan dengan kisaran bobot badan awal antara 13,5–20,6 kg dengan rata-rata bobot badan 17,5 ± 2,07 kg. Hasil penelitian menunjukkan ransum komplit yang terdiri dari Rumput Lapangan (RL), Ampas Sagu Fermentasi (ASF) dan Konsentrat yang diberikan dengan taraf yang berbeda menunjukan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap Pertambahan Bobot Badan (PBBH) antara 70,13-84,12 g, Konversi Pakan antara 16,01—19,46 dan Kecernaan Bahan Kering (KcBK) antara 59,35-79,15 %. Kesimpulan dari Penelitian ini adalah formulasi ransum komplit dengan 45 % ampas sagu fermentasi menggunakan Aspergillus niger mampu menggantikan rumput dan dapat menghasilkan performa produksi terbaik. Kata kunci : Ampas Sagu, Fermentasi, Ransum Kompli