Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
    1262 research outputs found

    PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG KOTORAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KUBIS BUNGA PADA TANAH GAMBUT

    No full text
    Utilization of peat soil for cauli flower plant constrained in some limiting factors, such as the physical, chemical and biological unfavorable. One attempt to solve the problem on peat soil is application of chicken drop. This study aimed to determine the effect and the best dose of chicken drop on the growth and yield of cauli flower plant on peat soil. This research was conducted in a plastic house located in Kalimas Village, Sub district in Sungai Kakap, Kubu Raya district on May 23rd until August 16th, 2013. The research method used the completely randomized to design ( CRD ), it consists of six treatment levels, four replications and each treatment levels consist of three plant samples. Treatment levels were p1 = 360 g / polybag , p2 = 540 g / polybag , p3 = 720 g / polybag , p4 = 900 g / polybag , p5 = 1080 g / polybag , p6 = 1260 g / polybag . Observation variable were the number of leaves, leaf area , fresh weight of mass crop, crop diameter and root volume . The results show that aplication of chicken drop on peat soil gives the same response in all variables except leaf area at week 8th. Dose 540 g/ polybag gives the best results compare wits the other treatments. Keywords: Cauliflower, Chicken Drop, Peat Soi

    PENGARUH PUPUK KASCING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN BABY PADA TANAH ALUVIAL

    No full text
    ABSTRACT This research aims to observe the influences of vermicompost fertilizer on baby cucumber growth and yield in aluvial soils. The research project was held in Parit Haji Muksin 2, Sungai raya dalam Subdistrict, Kubu Raya Regency. This research took place from July 1th to August 15th 2014, using Randomized Block Design with a single-factor that includes 6 treatment levels.  These treatment levels are: 12g/plant, 27g/plant 42 g/plant 57 g/plant 72 g/plant, and 87g/plant. Each treatment was repeated 4 times. This result showed that vermicompost fertilizer significant effect on root volume (cm3), dry plant weight (g) and time of flowering but not significant effevt on leaf area (cm2), number of fruits (fruit) and fruit weight (g). Key words: aluvial, vermicompost, baby cucumbe

    Pengaruh Beberapa Jenis Abu terhadap Pertumbuhan dan Hasil Mentimun pada Tanah Gambut.

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis abu yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil mentimun pada tanah gambut. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 31 Maret 2014 sampai dengan tanggal 11 Mei 2014. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan : A (abu sekam padi); B (abu jerami padi); C (abu tandan kosong kelapa sawit); D (abu alang - alang) terdiri dari 6 ulangan, setiap ulangan terdapat 4 tanaman sampel. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi, berat kering tanaman (g), jumlah buah pertanaman (buah), berat buah pertanaman (g), kehijauan daun (Spad unit), volume akar (cm3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis abu tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan.   Kata kunci : Abu, Mentimun, Tanah Gambut

    Bawang Daun, Pupuk kotoran Bebek, Tanah Gambut.

    No full text
    Tanaman bawang daun  (Allium fistulosum L.) merupakan salah satu jenis sayuran bumbu yang digunakan oleh masyarakat sebagai campuran berbagai jenis masakan. Tanah gambut mempunyai unsur hara yang rendah karena belum terdekomposisi sempurna. Salah satu usaha untuk menciptakan media tumbuh yang sesuai bagi tanaman bawang daun, adalah dengan memperbaiki sifat fisik dan kimia pada tanah gambut dengan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang kotoran bebek. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dosis pupuk kandang kotoran bebek yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman daun bawang pada tanah gambut dan mengetahui jarak tanam yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman daun bawang pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wajok Hulu Teluk Dalam, dimulai dari tanggal 5 Februari sampai dengan 28 Maret 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dalam Rancangan Petak Terbagi( Split Plot Design ) yang terdiri dari dua faktor yaitu jarak tanam sebagai petak utama ( main plot) dan pupuk kandang kotoran bebek  sebagai anak petak ( sub plot ) dengan 3 ulangan. Petak utama (main plot) j1 = Jarak tanam 10 cm x 10 cm j2 = Jarak tanam 20 cm x 20 cm j3 = Jarak tanam 30 cm x 30 cm dan Anak petak ( sub plot ) p1 =  10 ton/ha  setara dengan 1500 g/bedeng, p2 =  20 ton/ha setara dengan 3000 g/ bedeng, p3 = 30 ton/ha setara dengan 4500 g. Variabel yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah anakan per rumpun, Berat segar tanaman per rumpun, Berat tanaman per bedeng. Hasil penelitian ini menunjukan  bahwa perlakuan yang efektif pada pemberian pupuk kandang kotoran bebek sebanyak 20 ton/ha dan perlakuan jarak yang efektif yaitu jarak tanam 20 cm x 20 cm memberikan hasil yang baik pada  hasil tanaman bawang daun

    PREDIKSI EROSI DENGAN METODE USLE PADA LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MASYARAKAT DI GUNUNG SEHAK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

    No full text
    Lokasi penelitian merupakan hutan sekunder dengan bentuk wilayah yang sangat curam. Sejak tahun 2008 sampai sekarang telah terjadi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit masyarakat dengan cara tebang bakar dan dikelola dengan tidak melakukan tindakan konservasi, sehingga perubahan penggunaan lahan ini turut mempercepat degradasi tanah melalui erosi tanah yang berujung pada kehilangan hara serta kelestarian/umur lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besarnya erosi dan tingkat bahaya erosi yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari (1) Persiapan penelitian meliputi kegiatan penelaahan data sekunder (pra lapangan) antara lain : studi pustaka dan penentuan titik pengamatan; (2) Penelitian dan pengamatan lapangan yaitu menentukan titik – titik koordinat pengamatan, pengecekan hasil interpretasi peta kelas lereng untuk melengkapi data kemiringan dan panjang lereng, usaha konservasi yang telah dilakukan, sistem pengelolaan lahan dan vegetasi yang ada di lokasi penelitian, serta pengambilan contoh tanah; (3) Analisis contoh tanah di laboratorium; (4) Analisis data dan penyajian hasil penelitian mengenai prediksi erosi dengan metode USLE pada lahan perkebunan kelapa sawit masyarakat di Gunung Sehak Desa Aur Sampuk Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Prediksi laju erosi mencapai 4397,50 sampai 13171,32 ton/ha/tahun. Nilai erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 29,05 sampai 51,74 ton/ha/tahun. Nilai prediksi erosi sangat besar dibandingkan dengan nilai erosi yang dapat ditoleransi dan tingkat bahaya erosi berada pada status sangat berat pada semua lahan. Perencanaan dan penanggulangan bahaya erosi yang sesuai adalah hutan alami (primer) yang berkembang baik dengan seresah tinggi atau mengembalikan lahan sebagai hutan alami, dan jika lahan masih ingin dipertahankan maka direkomendasikan penerapan tindakan konservasi untuk menekan besarnya erosi yaitu mengombinasikan: secara vegetatif (penanaman LCC (Leguminosa Cover Crops)) dan secara mekanik (pembuatan teras bangku konstruksi baik; teras bangku konstruksi sedang; teras bangku konstruksi kurang baik; teras bangku teras tradisional; teras bangku teras tradisional yang dilengkapi dengan rorak; dan pembuatan parit yang memotong lereng menurut garis kontur)

    IDENTIFIKASI SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH WILAYAH EKS PETI PADA SUB SUB DAS BELANTIAN KABUPATEN LANDAK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sifat Fisika dan Kimia tanah pada lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI) dan hutan karet pada wilayah sub-sub DAS Belantian Kabupaten Landak. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tebedak Dusun Entikit Sub-Sub DAS Belantian Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak. Metode yang digunakan dengan mengambil sampel langsung di lapangan, pengambilan sampel 2 tempat yaitu lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI) dan hutan karet masing-masing 9 titik pengamatan dan 2 kedalaman, kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Parameter pengamatan terdiri dari sifat fisika yaitu konsistensi tanah, warna tanah, perubahan landscape, bobot isi tanah, kadar air kapasitas lapangan, porositas tanah, tekstur tanah, struktur tanah dan permeabilitas tanah, sifat kimia yaitu pH tanah, C-Organik tanah, N-Total tanah. Hasil penelitian berdasarkan uji t hitung menunjukkan bahwa semua parameter tidak berbeda nyata, dan kandungan unsur-unsur hara lebih tinggi hutan karet dibandingkan dengan lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI)

    PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PUPUK AB-MIX TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI PADA BUDIDAYA AKUAPONIK

    Get PDF
    Sawi (Brassica juncea L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang baik, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia, sayuran ini mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh manusia seperti energi, protein,lemak, karbohidrat, serat, fosfor, zat besi, natrium, kalium dan sumber vitamin. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan interaksi konsentrasi dan frekuensi pupuk AB-Mix yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pada budidaya akuaponik. Penelitian ini dilaksanakan di lahan petani yang terletak di Desa Kalimas Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Waktu penelitian dilakukan pada 04 September-04 Oktober 2022. Penelitian ini merupakan eksperimen lapangan dengan pola faktorial Rancangan AcakLengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yang terdiri dari konsentrasi pupuk AB-mix (K) yang terdiri dari 3 taraf perlakuan dan faktor kedua adalah frekuensi (F) dengan 2 taraf perlakuan. Masing- masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap unit percobaan terdapat 4 tanaman sampel. Perlakuan yang dimaksud adalah : k1 : 900 ppm/ liter air k2 : 1200 ppm/ liter air k3 : 1500 ppm/ liter air. Faktor Frekuensi (f) yang terdiri dari 2 taraf, yaitu : f1 : seminggu 1 kali f2 : seminggu 2 kali. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan tempat penelitian, persiapan instalasi akuaponik, persipan media tanam, penyemaian, pembuatan larutan pupuk AB-Mix, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Variabel penelitian meliputi jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan dosis interaksi konsentrasi dan frekuensi pupuk AB-Mix yang terbaik, tetapi dosis efektif ditunjukkan konsentrasi pupuk AB- Mix 1500 ppm/l air dengan frekuensi pemberian sebanyak seminggu 2 kali terhadap pertumbuhan dan hasil sawi dengan budidaya akuaponik

    PENGARUH PUPUK KANDANG KOTORAN AYAMTERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAYAM CABUT(Amaranthus sp) DI TANAH ALUVIAL

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut di tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak lengkap, dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah c1 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 103 gram/polybag (untuk mencapai 8% bahan organik), c2 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 433 gram/polybag (untuk mencapai 10% bahan organik), c3 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 801 gram/polybag (untuk mencapai 12% bahan organik), c4 = penambahan kotoran ayam sebanyak 1.212 gram/polybag (untuk mencapai 14% bahan organik), c5 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16% bahan organik). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah daun (helai), berat segar (gram), volume akar (cm3), berat kering bagian atas tanaman (gram), berat kering akar (gram). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke dua , tetapi pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap variabel jumlah daun pada minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 103 gram/polybag (untuk mencapai 8 % bahan organik) juga memberikan hasil yang sama dengan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16 % bahan organik), sehingga tidak ada perlakuan yang terbaik. Kata kunci : Aluvial , Bayam cabut , pupuk kandang kotoran ayam PENDAHULUAN Bayam (Amaranthus sp) merupakan tumbuhan yang ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Kandungan asam folat yang ada di bayam mampu melindungi otot jantung dari meningkatnya kadar glukosa yang mudah larut. Bayam juga mengandung vitamin B9 yang bermanfaat sebagai suplemen bagi wanita hamil untuk melindungi bayi dari cacat pada bagian syaraf, pencegah anemia karena bayam banyak mengandung zat besi, mengurangi pembentukan batu empedu, sebab bayam kaya magnesium. Bayam juga mempunyai kegunaan lain seperti bahan obat tradisional dan bahan kecantikan. Kirana dkk, (2011) menambahkan bahwa bayam merupakan salah satu sayuran terpenting di Asia dan Afrika. Bayam merupakan tanaman semusim yang berumur pendek dan dapat dibudidayakan dengan mudah diperkarangan rumah atau lahan pertanian. Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2010) bahwa luas areal penanaman bayam di Kalimantan barat pada tahun 2009 mencapai 1.382 Ha dengan hasil produksi 3.048 ton dan produktivitas 2,21 ton/ha sedangkan pada tahun 2010 luas areal penanaman 1.293 Ha dengan hasil produksi 2.468 ton dan produktivitas 1,92 ton/ha. Berdasarkan data tersebut terdapat penurunan dari luas penanaman, produksi, dan produktivitas. Usaha peningkatan produksi bayam, khususya di Kalimantan Barat ini dapat ditempuh melalui dua program utama yakni ekstensifikasi (perluasan areal) dan intensifikasi (peningkatan produktivitas). Ekstensifikasi yaitu program peluasan areal tanaman bayam selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi bayam melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usaha-usaha tersebut ternyata meningkatkan produktivitas bayam terutama dengan penerapan teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas). Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2007) tanah alluvial merupakan tanah yang luas penyebarannya sekitar 2.000.000 Ha atau sekitar 13,62% dari keseluruhan wilayah Kalimantan Barat. Penggunaan tanah alluvial untuk budidaya tanaman umumnya menghadapi beberapa kendala, diantaranya miskin unsur hara, reaksi tanah masam hingga basa, kandungan bahan organik yang rendah (Sarief, 1986). Reaksi tanah yang masam pada tanah aluvial dapat menyebabkan unsur hara terutama P dan Ca kurang tersedia sedangkan unsur hara Fe, Al dan Mn berada dalam jumlah berlebihan sehingga menjadi racun bagi tanaman. Keadaan tanah yang tidak menguntungkan ini menyebabkan tanaman bayam tidak dapat tumbuh dengan baik karena ketersediaan air, udara tanah dan unsur hara rendah sehingga pertumbuhan akar terhambat dan dapat menyebabkan terganggunya penyerapan air dan unsur hara, yang pada akhirnya produksi bayam menurun. Usaha untuk mengatasi permasalahan pada tanah aluvial adalah dengan penambahan bahan organik. Berdasarkan hasil analisis Laboratorium tanah aluvial yang digunakan memiliki kandungan C- organik 4,25 %. Sedangkan menurut Buckman dan Brady (1982) untuk menunjang pertumbuhan yang baik, tanaman memerlukan bahan organik yaitu sekitar 15 % - 20 % , sehingga perlu penambahan bahan organik. Penggunaan bahan organik ini, dimaksudkan untuk menjadi alternatif dalam peningkatan produktivitas tanah aluvial, yaitu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Salah satu jenis pupuk organik yang dapat digunakan adalah pupuk kandang kotoran ayam. Pupuk kandang ayam kaya akan nitrogen, magnesium, kalium, kalsium dan mengandung posfor yang tinggi. Pemilihan penggunaan pupuk kandang kotoran ayam pada tanah aluvial, dikarenakan pupuk ini mempunyai sifat ganda yaitu merupakan perekat yang baik bagi butir- butir tanah yaitu memungkinkan tanah menjadi tahan terhadap hanyutan air dan hembusan angin, di samping itu tanah akan menjadi remah, dimana struktur tanah akan ringan sehingga akar dapat hidup dengan baik dan banyak mengandung oksigen yang dapat memperbaiki dan meningkatkan aktifitas jasad renik tanah ( Anonim,2013). METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan dilingkungan kampus Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Waktu penelitian yaitu tanggal 25 Juli- 23 Agustus 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Benih varietas unggul bayam loli tanah aluvial, polybag dengan berukuran 30 x 40 cm atau 6 kg,pupuk kandang kotoran ayam, pupuk dasar Urea dan SP-36. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : cangkul, gembor, parang, alat dokumentasi, penggaris, timbangan analitik, alat tulis dan alat lain yang mendukung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola rancangan acak lengkap, dengan satu faktor terdiri dari 5 taraf perlakuan. Tiap perlakuan diulang 5 kali,tiap percobaan terdiri dari 3 sampel tanaman, sehingga terdapat 75 sampel pengamatan. Perlakuan yang diberikan adalah berbagai taraf penambahan pupuk kandang kotoran ayam untuk mencapai berbagai taraf kandungan bahan organik , yaitu : c1 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 103 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 8 % ). c2 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 433 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 10 % ). c3 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 801 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 12 % ). c4 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.212 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 14 % ). c5 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.678 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 16 % ). Data hasil penelitian dianalisis dengan metode uji F 5%. Jika hasil penelitian berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan Uji beda nyata jujur(BNJ) dengan taraf uji 5% (Gasperz,1991). HASIL DAN PEMBAHASAN 1.Hasil Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan jumlah daun minggu ke dua. Tetapi berpengaruh tidak nyata pada variabel jumlah daun minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.212 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi terhadap jumlah daun pada minggu ke dua, jumlah daun pada minggu ke tiga dan berat kering akar. Selanjutnya, pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi pada volume akar. Sedangkan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.212 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi terhadap berat kering akar. Hasil penelitian dari pengaruh pemberian pupuk kandang kotoran ayam terhadap semua variabel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rerata Variabel Pertumbuhan dan Hasil Bayam Cabut pada berbagai Dosis Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Ayam Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (gram/polybag) JD2 JD3 BS VA BKBAT BKA 103 433 801 1.212 1.678 3,68ab 3,33b 3,84ab 4,14a 3,45ab 4,21 4,54 4,44 4,82 4,62 4,18 4,65 4,46 4,49 4,78 1,47 1,33 1,20 1,27 1,61 0,20 0,19 0,47 0,28 0,33 0,27 0,21 0,23 0,34 0,33 UJI BNJ 5 % 0,78 Keterangan : Angka yang memiliki huruf berbeda pada kolom yang sama diartikan berbeda nyata. JD2 : Jumlah daun pada minggu ke dua (gram) JD3 : Jumlah daun pada minggu ke tiga (gram) BS : Berat segar (gram) VA : Volume akar (cm3) BKBAT : Berat kering bagian atas tanaman (gram) BKA : Berat kering akar (gram) 2. Pembahasan Perhitungan jumlah daun dilakukan pada seluruh tanaman sampel dan dilakukan setiap minggu mulai saat seminggu setelah tanam sampai akhir penelitian. Daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna,diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu kedua dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke tiga. Faktor genetik merupakan faktor yang mempengaruhi berpengaruh atau tidak suatu variabel pengamatan dan faktor luar meliputi ketersediaan air, unsur hara, iklim dan tanah, serta perkembangan hama dan penyakit. Menurut Williams (1993), faktor genetik adalah suatu faktor yang menentukan batas pertumbuhan tiap sel organ dan seluruh bagian daun sehingga kadang-kadang pada waktu tertentu jumlah daun tidak akan bertambah. Pupuk kandang kotoran ayam yang digunakan berdasarkan hasil analisis mempunyai C/N rasio 6,59, namun C/N ratio yang dibutuhkan tanaman bayam adalah 12. Nilai ini masih rendah, hal ini diduga akan mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur hara seperti N,P,K,Ca,Mg menjadi rendah walaupun terdapat penambahan dari pupuk urea sebagai pupuk dasar pada saat tanaman berumur dua minggu, tetapi pemberiannya juga dalam jumlah yang sangat sedikit yaitu 0,6 gram/polybag. Unsur hara yang berada dalam bentuk tidak tersedia tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman dalam metabolisme, sehingga tinggi rendahnya konsentrasi pupuk yang diberikan pada tanaman tidak akan mempengaruhi pertumbuhannya. Unsur Nitrogen berperan dalam sintesa protein, lemak dan berbagai perseyawaan organik. Menurut Gardner (1985), bahwa ketersediaan Nitrogen (N) yang tinggi menyebabkan pertambahan pucuk lebih dominan. Ditambahkan oleh Slamet (1991), bahwa kekurangan Nitrogen dan Posfor dapat mempengaruhi jumlah daun. Penambahan Nitrogen yang cukup pada tanaman akan mempercepat laju pembelahan dan pemanjangan sel. Nitrogen merupakan penyusun asam amino dan asam nukleat yang berperan dalam pembelahan sel tanaman. Adapun unsur K berperan dalam pembentukan dinding sel, mengatur tekanan osmotik sel serta berperan sebagai katalisator pada enzim yang terlibat pada proses fotosintesis. Jumlah daun merupakan salah satu indikator pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman dimulai dengan terjadinya pembelahan sel hingga bertambah besarnya protoplasma yang berakibat berkembangnya suatu jaringan, menyebabkan ukuran tanaman bertambah (Hardjadi, 1983). Menurut Sarief (1986), bahwa unsur hara merupakan faktor yang menentukan pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang optimal memerlukan unsur hara dalam konsenterasi yang optimal serta unsur hara yang seimbang dengan jumlah yang dibutuhkan tanaman. Jika unsur hara yang dibutuhkan masih dibawah konsentrasi yang diperlukan tanaman, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Penambahan jumlah daun berhubungan dengan aktifitas sel-sel meristimatik di titik tumbuh, yang terjadi akibat pembelahan sel meristem apikal pada kuncup terminal dan kuncup lateral yang menghasilkan sel-sel baru dan akan menumbuhkan daun (Kimball, 1990). Pengamatan berat segar dilakukan pada saat panen, diketahui bahwa perlakuan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat segar bayam. Berat segar merupakan hasil akumulasi fotosintat dalam bentuk biomasa tanaman dan kandungan air pada daun. Menurut Lahadassy dkk (2007) bahwa untuk mencapai berat basah yang optimal, tanaman masih membutuhkan banyak energi maupun unsur hara agar peningkatan jumlah maupun ukuran sel dapat mencapai optimal serta memungkinkan adanya peningkatan kandungan air tanaman yang optimal pula. Dijelaskan oleh Loveless (1987), bahwa sebagian besar berat segar tumbuhan disebabkan oleh kandungan air. Air berperan dalam turgiditas sel, sehingga sel-sel daun akan membesar. Menurut Jumin (2002) bahwa besarnya kebutuhan air setiap fase pertumbuhan berhubungan langsung dengan proses fisiologi dan faktor lingkungan. Ditambahkan juga oleh Gardner (1985) ketersediaan unsur hara merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan laju pertumbuhan tanaman. Faktor lain yang dapat mempengaruhinya adalah penggunaan paranet yang seharusnya tidak digunakan, penelitian dilaksanakan pada musim kemarau, sehingga penggunaan paranet ditujukkan untuk mengurangi banyaknya tanaman yang layu dan mati terkena sinar matahari langsung. Namun, setelah tanaman berumur dua minggu setelah tanam, paranet tersebut dibuka dikarenakan tanaman mengalami etiolasi, dimana tanaman mencari arah datangnya matahari. Etiolasi ini merupakan salah satu pemicu yang menyebabkan berat segar bayam berpengaruh tidak nyata. Berdasarkan hasil analisis keragaman dan rerata volume akar diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap volume akar. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut belum mampu memperbaiki media tumbuhan tanaman. Media yang kurang baik tersebut menyebabkan akar tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya termasuk dalam mengabsopsi unsur hara yang berperan dalam pertumbuhan tanaman. Air diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur hara yang terlarut di dalamnya, kemudian diangkut kebagian atas tanaman terutama daun, melalui pembuluh xylem (Lakitan,2001). Kemudian, diduga pula ketersediaan unsur hara P dalam pupuk kandang kotoran ayam kurang optimal dalam mendorong pertumbuhan akar-akar muda. Unsur fosfor (P) berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Selanjutnya menurut Djuarnani dan Setiawan (2005) penambahan pupuk kandang kotoran ayam pada tanah akan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan akan memudahkan air berdifusi yang dimanfaatkan akar untuk penyerapan air dan unsur hara dalam jumlah yang banyak untuk keperluan fotosintesis. Semakin panjang akar, maka akan memperpendek jarak unsur-unsur hara dengan akar tanaman,maka memudahkan penyerapan hara yang dilakukan baik secara aktif maupun secara pasif sehingga membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Akar-akar tanaman yang paling aktif adalah dekat ujung akar yang baru berbentuk rambut akar, dimana kegiatan respirasi (pernapasan) adalah yang terbesar . Sel-sel yang menyusun akar tanaman dibagian luar terdiri dari dinding sel yang tidak aktif yang bersinanggungan langsung dengan tanah, sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang aktif dikelilingi oleh suatu membran. Berat kering dilakukan pada akhir penelitian, berdasarkan hasil analisis ragam dan rerata berat kering bagian atas tanaman pada berat kering bagian atas dan hasil analisis ragam dan rerata berat kering akar diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Berat kering mencerminkan akumulasi senyawa organik yang berhasil disintesis tanaman dari senyawa anorganik terutama air dan karbondioksida. Unsur hara yang telah diserap oleh akar baik yang digunakan dalam sintesis senyawa organik maupun yang tetap dalam bentuk ionik dalam jaringan tanaman akan memberikan kontribusi terhadap pertambahan berat kering tanaman. Berat kering tanaman berhubungan dengan peningkatan penyerapan berbagai unsur hara yang menunjang proses fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut akan digunakan tanaman untuk membentuk struktur tubuh, cadangan makanan, senyawa sel aktif dan sebagai energi metabolisme (Gardner, 1991). Perbedaan jumlah unsur hara yang diterima tanaman semestinya akan menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula, mengingat fungsi penting unsur-unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg pada tanaman. Namun, dalam penelitian ini pemberian pupuk kandang kotoran ayam yaitu 103 gram/polybag, 433 gram/polybag, 801 gram/polybag, 1.212 gram/polybag, dan 1.678 gram/polybag yang diberikan dalam waktu yang sama tidak menghasilkan perbedaan pertumbuhan pada bayam, sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur hara yang diterima relatif sama akibat unsur hara pada pupuk masih dalam bentuk tidak tersedia. Tersedianya unsur hara di dalam tanah akan mendukung pertumbuhan tanaman yang berada di atasnya sehingga dapat menyebabkan berat kering meningkat. Menurut Lingga dan Marsono (2003) unsur hara nitrogen sangat berperan penting untuk merangsang pertumbuhan hijau daun, lemak dan senyawa lainnya. Unsur hara dalam pupuk kandang kotoran ayam diberikan pada tanaman dan masuk ke dalam tanah serta dapat dengan mudah terikat dan tereduksi dengan zat hara lainnya, hal ini yang menyebabkan pupuk kandang tidak dapat diserap dengan maksimal oleh akar, penyebab lainnya yaitu proses pencucian unsur hara karena air hujan yang dapat menyebabkan terhambatnya pembentukan batang dan daun, hat tersebut yang menyebabkan pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering bagian atas dan berat kering akar dalam penelitian ini. C.Variabel Pengamatan Lingkungan 1. Suhu Hasil pengamatan terhadap suhu udara harian selama penelitian yaitu antara 26oC 29oC. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 20o (Anonim,2013). Dengan demikian, suhu udara selama penelitian sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam masa pertumbuhan. Suhu udara secara langsung mempengaruhi proses fotosintesis dan respirasi, jika suhu udara rendah maka pertumbuhan tanaman akan lambat dan bahkan terhenti karena, sedangkan pada suhu udara yang tinggi akan berakibat pada terganggunya proses fisiologi tanaman. 2. Kelembaban Udara Hasil pengamatan terhadap kelembaban udara harian selama penelitian yaitu 59,00 % 73,00 %, kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 60% . Pengaruh yang utama dari kelembaban udara terhadap tanaman yaitu laju transpirasi, dimana transpirasi akan menurun jika kelembaban udara tinggi dan sebaliknya laju transpirasi akan meningkat jika kelembaban udara rendah. D. Rangkuman penelitian Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut menunjukkan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke dua dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke tiga. Perlakuan dengan pemberian 1.212 gram/polybag pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata jika dibandingkan dengan pemberian pupuk kandang ayam 433 gram/polybag, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap perlakuan dengan dosis 103 gram/polybag, 801 gram/polybag dan 1.678 gram/polybag pupuk kandang kotoran ayam, rerata jumlah daun pada minggu ke tiga tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.212 gram/polybag yaitu 4,82 helai, dan terendah pada perlakuan 103 gram/polybag yaitu 4,21 helai. Pada variabel berat segar, rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.678 gram/polybag yaitu 4,78 gram dan terendah pada perlakuan 103 gram/polybag yaitu 4,18 gram, rerata volume akar tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.678 gram/polybag yaitu 1,61 cm3, dan terendah pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 1,20 cm3. Sedangkan, variabel berat kering bagian atas tanaman, rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 0,47 gram, dan terendah pada perlakuan 433 gram/polybag yaitu 0,19 gram. Selanjutnya, pada variabel berat kering akar rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.212 gram/polybag yaitu 0,34 gram dan terendah pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 0,21 gram. PENUTUP A. Kesimpulan Pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 103 gram/polybag (untuk mencapai 8 % bahan organik) memberikan hasil yang sama dengan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16 % bahan organik), sehingga tidak ada perlakuan yang terbaik. Pemberian pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan pengaruh nyata pada jumlah daun pada minggu ke dua, tetapi tidak pengaruh nyata pada jumlah daun pada minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti dapat memberikan saran untuk mengetahui dosis yang tepat maka perlu dilakukan penelitian di daerah-daerah yang memiliki keadaan dan jenis tanah yang berbeda, sehingga dalam budidaya bayam cabut dapat diperoleh hasil yang optimal. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2013. Budidaya Bayam. www.caramenanam.com/2013/06/teknik-menanam-bayam. Diakses/diunduh tanggal 6 Februari 2014. 23:34 Anonim.2013.Anjuran Fungsi Pupuk Kandang Kotoran Ayam. www. labuhanbatu-utar4.blo

    PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG KAMBING DAN LAMA SOLARISASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH ALUVIAL

    Get PDF
    Bawang merah (allium ascalonicum L) merupakan satu diantara jenis komoditas tanaman hortikultura yang tergolong dalam sayuran rempah. Pemanfaatan tanah aluvial di Kalimantan Barat untuk budidaya bawang merah memiliki hambatan yaitu tingkat produktifitasnya rendah. Satu diantara upaya dalam meningkatkan produktivitas tanah aluvial adalah dengan menambahkan pupuk kandang kambing namun pupuk kandang kambing harus dikomposkan terlebih dahulu dan upaya untuk mempercepat proses pengomposan adalah dengan solarisasi. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan perlakuan dosis pupuk kandang kambing dan lama solarisasi yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Sungai Kakap. Penelitian dilaksanakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan 2 faktor perlakuan dengan 3 ulangan. Solarisasi sebagai main plot (S) yaitu S1 Solarisasi 2 minggu, S2 Solarisasi 3 minggu, S3 Solarisasi 4 minggu dan dosis pupuk kandang kambing sebagai sub plot (P) yaitu P1 Pupuk kandang kambing 20 ton/ha, P2 Pupuk kandang kambing 40 ton/ha, P3 Pupuk kandang kambing 60 ton/ha. Variabel yang diamati dalam penelitian yaitu tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat segar umbi perbedengan, berat kering angin umbi per rumpun dan berat kering angin umbi perbedengan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama solarisasi dan dosis pukan kambing memberikan hasil yang sama terhadap semua variabel pengamatan. perlakuan solarisasi 2 minggu dan dosis pupuk kandang kambing 20 ton/ha merupakan perlakuan yang efektif terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah aluvial

    Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa Sawit Di Desa Argo Mulyo Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang

    Get PDF
                Evaluasi lahan adalah usaha penilaian suatu lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan dapat dinilai pada keadaan sekarang dan yang akan datang setelah diperbaiki. Kesesuaian lahan sangat perlu diperhatikan dalam berbudidaya agar bisa agar mendapatkan hasil yang optimal. Khususnya pada tanaman kelapa sawit, walaupun kelapa sawit dapat tumbuh pada keadaan lahan yang ada, tetapi setiap tanaman memiliki karakter yang membutuhkan persyaratan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian lahan tanaman kelapa sawit di wilayah Desa Argo Mulyo Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan matching. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara pengambilan sampel tanah di lapangan yang dilanjutkan dengan analisis di Laboratorium. Kegiatan ini meliput empat tahap yaitu : Persiapan, Kegiatan lapangan, Analisis Laboratorium dan Pengolahan data pembuatan peta dan penyusunan laporan. Penelitian ini memiliki parameter fisika dan kimia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kelapa sawit di daerah penelitian yaitu Kelas N1f(tidak sesuai) dan untuk kelas kesesuaian potensial pada lokasi penelitian S1 (sangat sesuai) lokasi penelitian pada SPT 1 dan SPT 2 memiliki luasan 100 ha

    403

    full texts

    1,262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇