Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
    1262 research outputs found

    RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL LOBAK TERHADAP PEMBERIAN BOKASI LIMBAH JAMUR TIRAM DAN NPK PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

    Get PDF
    Lobak (Raphanus sativus L.) merupakan tanaman semusim berupa perdu berakar tunggang. Umbi lobak dapat dikomsumsi sebagai sayuran, dapat juga dimanfaatkan sebagai obat-obatan, dan digunakan sebagai bahan kosmetik. Pemanfaatan tanah Podsolik Merah Kuning sebagai media tumbuh memiliki kendala seperti struktur tanah jelek, pH rendah, ketersediaan unsur hara sedikit dan kandungan bahan organik rendah. Upaya untuk mengatasi sifat tanah Podsolik Merah Kuning dapat dilakukan dengan pemberian bahan pembenah tanah seperti penggunaan bokasi limbah jamur tiram dan NPK. Penggunaan bokasi limbah jamur tiram sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sifat fisik tanah Podsolik Merah Kuning. NPK sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sifat kimia tanah Podsolik Merah Kuning. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mencari interaksi bokasi limbah jamur tiram dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah Podsolik Merah Kuning. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak dari tanggal 22 Mei - 6 September 2022. Penelitian ini menggunakan perlakuan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama bokasi limbah jamur tiram (B) sebanyak 3 taraf perlakuan yaitu b1 = 20 ton/ha, b2 = 30 ton/ha, b3 = 40 ton/ha dan faktor kedua NPK (N) sebanyak 4 taraf perlakuan yaitu n1 = 200 kg/ha, n2 = 150 kg/ha, n3 = 100 kg/ha, n4 = 50 kg/ha. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah daun, berat segar tanaman, berat segar umbi, diameter umbi, panjang umbi, dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tunggal pemberian dosis bokasi limbah jamur tiram 40 ton/ha merupakan dosis yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah Podsolik Merah Kuning. Faktor  tunggal pemberian NPK 150 kg/ha merupakan dosis yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah Podsolik Merah Kunin

    PENGARUH KONSENTRASI BIOURINE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH PADA TANAH ALUVIAL

    No full text
    Pupuk biourine adalah hasil fermentasi urine sapi dan rempah-rempah dengan melibatkan peran mikroorganisme. Pupuk biourine selain berfungsi untuk penyubur tanaman,  rempah-rempah yang terkandung dalam pupuk biourine juga sekaligus sebagai pestisida alami untuk tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi biourine terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah pada tanah alluvial. Penelitian ini dilaksanakan pada Tanggal 02 Februari 2015 sampai dengan 11 Mei 2015 di Jln. Arteri Supadio, Gang. Wonodadi 2, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari enam taraf perlakuan dan empat ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari empat tanaman sampel. Perlakuan dalam penelitian adalah pemberian biourine dengan konsentrasi: 2 cc/liter, 3 cc/liter, 4 cc/liter, 5 cc/liter, 6 cc/liter dan 7 cc/liter. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), berat kering tanaman (gram), waktu berbunga (hari), jumlah buah per tanaman (buah) dan berat buah per tanaman (gram). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biourine dapat meningkatkan pertumbuhan cabai merah pada tanah alluvial. Pemberian biourine dengan konsentrasi 4 cc/liter merupakan konsentrasi terbaik terhadap pertumbuhan cabai merah pada tanah alluvial

    PENGARUH TEPUNG CANGKANG SIPUT LAUT (Clypeomorus batillariaeformis L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL OKRA PADA TANAH GAMBUT

    Get PDF
    Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus L.) biasanya dikenal dengan sebutan kacang mia, dan kacang mekkah ini mempunyai beberapa keunggulan antara lain bersifat ekonomis, dapat dibudidayakan secara sederhana dan mudah serta dapat cepat di panen. Selain itu tanaman okra mengandung gizi yang cukup tinggi dan mempunyai banyak serat yang dipercaya dapat membantu pencernaan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman salah satunya dipengaruhi oleh media tanam. Tingkat kemasaman tanah menjadi faktor pembatas dalam pengembangan gambut untuk tujuan pertanian. Upaya untuk mengatasi permasalahan tanah gambut yang masam dapat dilakukan dengan pemberiaan tepung cangkang siput laut dapat digunakan untuk meningkatkan pH tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis tepung cangkang siput laut terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil okra pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang terletk di Jl. Reformasi Gg. Racana Untan. Penelitian ini akan dilaksanakan dari tanggal 2 Oktober 2022- 29 Desember 2022. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor perlakuan yaitu faktor pemberian tepung cangkang siput laut (A) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan 4 sampel Perlakuan. Sehingga terdapat 100 tanaman, adapun rancangan yang dimaksud adalah, a1 245,28 g/polybag,a2 367,91 g/polybag, a3 490,54  g/polybag, a4 613,17 g/polybag, a5 735,08 g/polybag. Variabel Pengamatan meliputi, Tinggi Tanaman, Volume Akar, Berat Kering Tanaman, Jumlah Buah Segar per tanaman dan Berat Buah/tanaman. hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan, Pemberian berbagai dosis tepung cangkang siput laut dapat meningkatkan pH tanah untuk pertumbuhan dan hasil  okra pada tanah gambut. Pemberian tepung cangkang siput laut dengan dosis 490,54 g/polybag meningkatkan pH tanah dari 3,00 menjadi 5,5 merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil okra pada tanah gambut tetapi pemberian tepung cangkang siput laut dosis 245,27 g/polybag merupakan dosis efektif untuk pertumbuhan dan hasil okra pada tanah gambut

    PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KUD “SEPUDAK” DI DESA GALING KECAMATAN GALING KABUPATEN SAMBAS

    No full text
    Koperasi Unit Desa “SEPUDAK” merupakan salah satu KUD yang didirikan dengan tujuan untuk memajukan kesejahteraan ekonomi dan kegiatan usaha anggota dan jajarannya. Akan tetapi saat ini KUD “SEPUDAK” menghadapi kendala dalam pengembangannya, baik dari sumber daya manusia (SDM) dan, sumber daya modal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi anggota tertadap kualitas pelayanan KUD “SEPUDAK” di Desa Galing Kecamatan Galing Kabupaten Sambas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (porpusive sampling) yaitu di Desa Galing dengan pertimbangan bahwa Desa Galing merupakan tempat berdirinya KUD “SEPUDAK” dan merupakan KUD yang memegang peranan utama dalam menyalurkan sarana produksi pertanian. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 responden dari  255 populasi yang rata-rata anggotanya adalah petani. Hasil penelitian tentang persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan yang di analisis berdasarkan lima dimensi. Terdapat empat dimensi menunjukkan kategori kurang baik dengan rata-rata skor masing-masing dimensi yakni: dimensi bukti langsung sebesar 75 persen, dimensi kepedulian sebesar 72,68 persen, dimensi kehandalan sebesar 63,57 persen, dan dimensi daya tanggap sebesar 70,5 persen, sedangkan untuk dimensi jaminan berada dalam kategori baik dengan skor sebesar 78 persen.   Kata Kunci : Persepi, Kualitas Pelayanan, KUD “SEPUDAK

    PEMANFAATAN DAUN GAMAL SEBAGAI BOKASHI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS PADA TANAH ULTISOL

    No full text
    Pemanfaatan Daun Gamal Sebagai Bokashi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Buncis Pada Tanah Ultisol Erikson Rambe1) Rahmidiyani dan Eddy Santoso2) 1)Mahasiswa, 2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari dosis bokashi daun gamal yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman buncis pada tanah ultisol. Penelitian ini menggunakan percobaan lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktorial, perlakuan terdiri dari pemberian bokashi daun gamal (P) dengan enam taraf yaitu: = tanpa pemberian bokashi, = 14,54 kg/bedengan setara dengan 6 % bahan organik, = 28,37 kg/bedengan setara dengan 8 % bahan organik,  = 42,20 kg/bedengan setara dengan 10 % bahan organik,                    = 56,03 kg/bedengan setara dengan 12 % bahan organik,                                   = 69,86 kg/bedengan setara dengan 14 % bahan organik dengan empat kali ulangan setiap ulangan terdiri dari lima sampel tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah berat kering (g), volume akar (cm3), jumlah polong per tanaman (polong), berat polong per tanaman (g), berat polong per bedengan (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi daun gamal memberikan pengaruh nyata terhadap berat kering tanaman, volume akar tanaman, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman dan berat polong per bedengan. Pemberian bokashi daun gamal dengan dosis 69,86 kg/bedengan setara dengan   14 % bahan organik memberikan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman buncis pada tanah ultisol. Kata kunci:  Bokashi daun gamal, buncis, tanah ultisol  Utilization gamal leaf as bokashi to the growth and result of the bean on the ultisol soil Erikson Rambe1) Rahmidiyani dan Eddy Santoso2) 1)Students, 2) Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura ABSTRACT This study aimed at exploring the dose of  Gamal Bokashi leaf which is best for the growth and crop of beans in ultisols. This study used field experiment with one factorial randomized block design (RBD), a treatment comprising administering Bokashi Gamal leaves (P) with six levels : () = without giving bokashi, () = 14.54 kg / bed equivalent to 6% organic materials,                    () = 28.37 kg / bed equivalent to 8% organic materials, () = 42.20 kg / bed equivalent to 10% organic materials, () = 56.36 kg / bed equivalent to 12% organic materials, () = 69,86 kg / bed equivalent to 14% organic materials, with four replication. Each replications consisted of five samples of plants. Observed variables in the study include: dry weight (g), root volume (cm3), number of pods per plant (pods), weight of pods per plant (g), weight of pods per seedbed (g). The result show that the administration of bokashi gamal leaves has a significant effect on plant dry weight of pod weight per bed. Giving bokashi of gamal leaves with a dose of 69.86 kg / beds equivalent to 14 % of organic ingredients provide the growth and crops to ultisols. Keyword : gamal’s leaf bokashi, bean, ultisol soi

    studi beberapa sifat kimia tanah pada lahan pasang surut untuk budidaya tanaman padi di desa sungai nyirih kecamatan jawai kabupaten sambas

    No full text
    Penelitian ini dilakukan pada lahan pasang surut yang belum ditanami padi, dengan tanamankelapa di sekitarnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya produksi padi di Desa SungaiNyirih dibandingkan dari beberapa desa di Kecamatan Jawai. Tujuan penelitian untukmengetahui beberapa sifat kimia tanah pada lahan pasang surut di Desa Sungai NyirihKecamatan Jawai Kabupaten Sambas dan menyusun saran pengelolaan unsur hara (pengapurandan rekomendasi pemupukan). Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah surveilapangan dengan mengambil sepuluh sampel tanah komposit yang dianalisis di LaboratoriumKimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Parameter penelitianterdiri dari pH tanah, kadar N-total, P-tersedia, K-dd, C-organik, DHL, KTK, KB, kedalamanpirit, serta muka air tanah. Dasar penentuan kriteria yang digunakan adalah kriteria kesuburantanah dari Pusat Penelitian Tanah tahun 1983. Hasil penelitian menunjukkan tipologi lahanpasang surut di Desa Sungai Nyirih termasuk tipologi lahan potensial dengan tipe luapan C danD. Pengolahan tanah dilakukan dengan sistem tanpa olah tanah (TOT), pengairan lahanmengandalkan air hujan. pH tanah termasuk dalam kriteria masam hingga agak masam dengankisaran pH 5,29 – 6,77. Kadar N-total berkriteria sedang dengan kisaran 0,25 – 0,49 %, Ptersediaberkriteria sangat rendah hingga sangat tinggi dengan kisaran 5,64 – 68,52 ppm, K-ddberkriteria rendah hingga tinggi dengan kisaran 0,18 – 0,61 cmol(+)kg. Kadar C-organikberkriteria rendah hingga sangat tinggi dengan kisaran 1,85 – 6,29 %. DHL tanah termasukdalam kriteria bebas garam dengan kisaran 1,09 – 1,29 mmhos. KTK tanah berkriteria rendahhingga tinggi dengan kisaran 7,47 – 26,48 cmol(+)kg-1. KB tanah berkriteria sangat rendahdengan kisaran 5,66 – 15,24 %. Kedalaman pirit berkriteria lapisan pirit dalam yaitu terletakpada lapisan 80 - 100 cm dari permukaan tanah. Muka air tanah berkriteria dangkal hingga dalamdengan kisaran 40 – 89 cm dari permukaan tanah. Untuk pertanaman padi pasang surutpengapuran tidak direkomendasikan. Pemupukan yang dianjurkan adalah pemberian pupuk ureasebanyak 179,65 kg/ha dan KCl 40,29 kg/ha

    Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah Aluvial

    No full text
    ABSTRAK Utin  Minarni1)Nurjani 2) dan Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura 2)Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Sawi  putih  merupakan  salah  satu  jenis  sayuran  yang  digemari  konsumen  dan  mempunyai  kandungan gizi  yang  cukup  tinggi. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menentukan dosis Pupuk Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  yang  terbaik  terhadap  pertumbuhan  dan  hasil  Sawi  putih  pada  tanah  aluvial. Penelitian  ini  dilaksanakan dilingkungan kebun percobaan Fakultas Pertanian  Universitas  Tanjungpura  Pontianak. Penelitian berlangsung  pada  September – Oktober 2013. Metode  Penelitian  yang  digunakan adalah Percobaan Rancangan Acak  Lengkap (RAL) dengan 1  Faktor, terdiri  dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan  setiap perlakuan terdiri dari                3 sampel tanaman, jumlahnya tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Dengan komposisi  pemberian dosis Pupuk Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  sebagai  berikut k0(0 g/polibek Puyuh Kandang Kotoran Burung Puyuh), k1(200 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh) dan k5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). Dengan variabel  pengamatan yaitu tinggi  tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar bagian tanaman (g) dan  volume  akar (cm3).  Pemberian  Pupuk  Kandang  Kotoran Burung  Puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap  variabel  pengamatan  tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sementara pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh berpengaruh nyata terhadap variabel  pengamatan  berat  segar bagian  tanaman.   Kata kunci : Aluvial, Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh, Sawi Puti

    EFFECT OF INCUBATION TIME AND CHICKEN MANURE Tricoderma Harzianum DIRT IN PEAT SOIL FOR GROWTH AND YIELD OF PERENGGI CHILI PLANTS

    No full text
    The purpose of this research to know the exact incubation time for growth and yield of perenggi chili plants in peat soil, given Trichoderma harzianum mean while another was not. The research plan used is factorial completely randomized design (CRD) consist of 2 factors. The fist factor were incubation time of chicken manure fertilizer (t) through 3 lever of actions. t1 = incubation time were two weeks (2), t2= incubation time were three weeks (3), t3 = incubation time were four weeks and the second factor was aplication of Tricoderma harzianum (W) using four levels of action. w0 = without Tricoderma harzianum,w1 = Tricoderma harzianum of 20 ml/liter concentration, w2 = with Tricoderma harzianum of 40 ml/liter concentration, w3 = Tricoderma harzianum of 60 ml/liter of water concentration. There are 12 combinations of actions repeated 3 times and there are 3 sample of plants. The variables observed in this research were plant height, leaf chlorophyll content, plant dry weight, root volume, blossom time, amount of fruits for each tree, weight of fruits for each tree, acidity, tempereture, rainfall, and humidity in the field. The research result shows that the effect of incubation time and application of Trichorderma harzianum make no differences to the growth and yield of chilli perenggi in peat moss soil. The effective dose of Trichoderma harzianum to improve the growth and yield of chilli perenggi in peat soil is concentration of 40 ml/liter and there was no interaction. Between incubation time and concertration of Trichorderma harzianum to the growth and production chilli perenggi. Keyword : Peat moss soil, Chilli perenggi, Tricoderma harzianum, Chicken manure

    PENGARUH PUPUK KANDANG KOTORAN BURUNG PUYUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PUTIH PADA TANAH ALUVIAL

    No full text
    EFFECT OF QUAIL MANURE ON GROWTH AND YIELD OF WHITE MUSTARD ON ALUVIAL SOIL ABSTRACT   Utin Minarni 1), Nurjani 2) and Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Student of Agriculture Faculty, Tanjungpura University 2) Lecturer of Agriculture Faculty, Tanjungpura University   White mustard is one kind of vegetables favourite best by consumers and it have high  nutrient content. This study aims to determine the dose of  quail manure on growth and yield of white mustard on aluvial soil. The research carried out in the experimental farm of the faculty of agriculture Universitas Tanjungpura Pontianak. The study took place from September – October 2013. The method used was a completely randomized experimental design (CRD) with 1 factor, consisting of 6 treatments, 4 replications, each replication consisted of 3 samples of plants,so total of plant is 72 plants. Level treatment of quail manure that given was  k0(without the quail  manure), k1(200 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), K5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). With the observation variables, namely plant height (cm), number of leaves (blade), leaf area (cm2), plant fresh weight (g), and root volume (cm3). Quail Manure have no real effect on the obser vation of variables plant height, leaf number, leaf area and root volume. The giving of quail manure significant to fresh weight of plant.   Keywords  : Aluvial, Quail manure, White mustard                                                 Pengaruh  Pupuk  Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  Terhadap        Pertumbuhan  Dan  Hasil  Sawi  Putih Pada  Tanah  Aluvial   ABSTRAK Utin  Minarni1)Nurjani 2) dan Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura 2)Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Sawi  putih  merupakan  salah  satu  jenis  sayuran  yang  digemari  konsumen  dan  mempunyai  kandungan gizi  yang  cukup  tinggi. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menentukan dosis Pupuk Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  yang  terbaik  terhadap  pertumbuhan  dan  hasil  Sawi  putih  pada  tanah  aluvial. Penelitian  ini  dilaksanakan dilingkungan kebun percobaan Fakultas Pertanian  Universitas  Tanjungpura  Pontianak. Penelitian berlangsung  pada  September – Oktober 2013. Metode  Penelitian  yang  digunakan adalah Percobaan Rancangan Acak  Lengkap (RAL) dengan 1  Faktor, terdiri  dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan  setiap perlakuan terdiri dari                3 sampel tanaman, jumlahnya tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Dengan komposisi  pemberian dosis Pupuk Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  sebagai  berikut k0(0 g/polibek Puyuh Kandang Kotoran Burung Puyuh), k1(200 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh) dan k5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). Dengan variabel  pengamatan yaitu tinggi  tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar bagian tanaman (g) dan  volume  akar (cm3).  Pemberian  Pupuk  Kandang  Kotoran Burung  Puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap  variabel  pengamatan  tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sementara pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh berpengaruh nyata terhadap variabel  pengamatan  berat  segar bagian  tanaman.   Kata kunci : Aluvial, Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh, Sawi Putih PENDAHULUAN Sawi putih (Brassica juncea) sebagai  tanaman  horikultura  merupakan  salah  satu  jenis  sayuran  yang  banyak  diminati  dan  disenangi  masyarakat. Sawi ini  sangat  digemari  oleh  orang  karena  rasanya  enak, daunnya  lemas  dan halus.  Sejalan  dengan  meningkatnya  jumlah  penduduk  serta  kesadaran  masyarakat akan pentingnya  mengkonsumsi sayuran  maka  permintaan akan  sayuran  yang  bernilai  gizi  tinggi  dan  permintaan  akan  jenis  komoditi  sayuran  yang beraneka  ragam  semakin  meningkatkan. Berdasarkan hal  tersebut  hendaknya  dapat  ditanggapi  secara  positif  sebagai  peluang  untuk  mengembangkan  budidaya  Sawi  putih, dimana  selain  memiliki harga  jual  yang  cukup tinggi, Sawi  putih  berumur  singkat, dapat  dipanen  dalam  waktu  yang  cepat  sehingga  dapat  meningkatkan  motivasi  petani  untuk  mengembangkan  usaha  taninya. Pemanfaatan tanah aluvial untuk media tanam Sawi putih dihadapkan pada sejumlah kendala, yaitu tingkat kemasaman tanah tinggi, struktur tanah yang kurang baik, dan kandungan bahan organik rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah aluvial diantaranya adalah dengan pengapuran, pengolahan tanah yang baik, dan penambahan bahan organik. Pengapuran bertujuan untuk mengurangi kemasaman tanah, hingga diperoleh nilai pH tanah yang diperlukan oleh tanaman Sawi putih.  Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah.  Penambahan bahan organik bertujuan untuk menambah kandungan bahan organik yang rendah pada tanah aluvial. Pupuk  kandang  kotoran burung puyuh  merupakan  kotoran  yang  berasal  dari  ternak  burung  puyuh  yaitu  berupa  kotoran  padat yang  telah  bercampur dengan urine dan sisa- sisa makan dikandang. Menurut Hermanudin (2002), pupuk  kandang  kotoran burung  puyuh  tergolong  panas, hal ini terbukti dengan adanya hawa panas saat tumpukkan pupuk kandangnya siap dimatangkan. Selain timbulnya panas. Pupuk kandang kotoran burung puyuh ini baunya lebih menyengat dibandingkan dengan pupuk kandang kotoran ayam atau unggas lainnya. Bau yang menyengat tersebut dipengaruhi oleh kadar protein yang terkandung dalam makan cukup tinggi. Sawi putih menghendaki kondisi tanah yang subur dan gembur, pH 5,8. Berdasarkan kenyataan ini, pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh harus diperhatikan dosis pemberiannya agar tercapai efisiensi pemupukan.  Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh dengan dosis yang terlalu rendah kurang berperan dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah aluvial.  Jadi, pada dosis berapa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang efektif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil sawi putih? METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak selama 2 bulan mulai bulan September  sampai  bulan  Oktober  2013. Bahan yang digunakan diantaranya polibek berukuran 40cm x  40cm, gelas plastik bekas air minum untuk tempat penyemaian benih, benih sawi putih, pupuk dasar, pupuk kandang kotoran burung puyuh, kapur dolomit.  Alat yang digunakan adalah arit, cangkul, ember, ayakan tanah, meteran, termometer, handspayer, higrometer, leaf area meter, alat tulis menulis, alat dokumentasi, timbangan elektrik dan tabung ukur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola sederhana yang terdiri dari 1 faktor perlakuan, yaitu perlakuan pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlah tanaman seluruhnya adalah 72 tanaman. Adapun perlakuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah                           k0 = 0 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k1 = 200 g/ polibek  pupuk   kandang  kotoran  burung  puyuh k2 =  400 g/polibek  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh k3 =  600 g/polibek  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh k4 =  800 g/polibek  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh k5 =  1000 g/polibek  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh   PELAKSANAAN  PENELITIAN   Pelaksanaan penelitian diawali dengan membersihkan areal dari gulma dan sampah. Kemudian tanah dicangkul dengan kedalaman 0 – 20 cm, kemudian tanah diangkat dengan menggunakan ember, diamparkan untuk proses pengeringan kemudian tanah yang sudah dikeringkan lalu diayak. Polibek yang digunakan sebagai media penanaman sawi putih ukuran polibek 40 x 40 cm dan dilubangi dengan diameter 1,5 cm dan jarak tanam 20 x30 cm. Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh ditaburkan ke dalam polibek kemudian dicampur secara merata pada lapisan olah tanah dengan jumlah sesuai dengan perlakuan, setelah itu dilakukan pengapuran dan pemberian pupuk NPK dengan cara mencampurkan tanah olahan hingga merata, kemudian dilakukan inkubasi selama 2 minggu sebelum tanaman dipindahkan. Penanaman dilakukan pada umur semai 24 hari, kondisi fisik bibit sawi putih memiliki rata- rata 4-5 helai daun, dengan tinggi rata – rata 4 – 5 cm.  Selama penelitian dilakukan pemeliharaan tanaman antara lain: penyiraman, penyulaman, penyiangan gulma dan pengendalian hama dan penyakit.  Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam.  Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanam beserta akarnya dari media tanam secara hati – hati agar akarnya tidak putus, serta daun dan batang tidak sobek dan patah.                         HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi tanaman (cm)     Gambar 2.  Tinggi  Tanaman  Sawi  Putih  Akhir  Penelitian 2. Jumlah  Daun ( helai )   Gambar 3.  Jumlah Daun Tanaman Sawi Putih Tiap Perlakuan (helai) Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan jumlah daun tanaman sawi putih. Dosis pupuk kandang kotoran burung puyuh 800 g/polibek  adalah dosis jumlah daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 6,2475 helai.                   3. Luas  Daun  (cm2)   Gambar 4. Analisis Luas Daun Pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (cm2) Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai luas daun sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah nilai luas daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 1047,5 cm2.  Luas daun terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 442,5 cm2.     4. Berat  Segar Per Tanaman (g) Untuk  mengetahui  taraf  perlakuan  yang  memberikan  perbedaan  terhadap berat segar  per tanaman  maka  dilakukan  Uji  BNJ  yang  hasilnya  dapat  dilihat  pada  tabel 6. Tabel 6.  Uji  BNJ  Pengaruh   Pupuk  Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  Terhadap  Berat Segar Per Tanaman (g) Perlakuan  Pupuk  Kandang  Kotoran  Burung Puyuh (g/polibek) Berat  Segar  Per  Tanaman (g) (k0)  0 g/polibek 156,44        a (k1) 200 g/polibek 274,85        ab (k5) 1000 g/polibek 297,77        ab (k3) 600 g/polibek 305,95        ab (k2) 400 g/polibek 341,63        ab (k4) 800 g/polibek 463,78          b BNJ = 5% = 101,01 Ket :  Angka  yang  diikuti  dengan  huruf  yang  sama  menunjukkan  perlakuan  tersebut  berbeda  tidak  nyata  pada  Uji  BNJ  5%   Hasil  Uji  BNJ  perlakuan  Pupuk  Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh  terhadap  berat  segar  per tanaman terlihat  bahwa  perlakuan pada  dosis  tanpa pupuk kandang kotoran burung puyuh berbeda tidak nyata terhadap perlakuan 200 g/polibek,                  1000 g/polibek , 600 g/polibek dan  400 g/polibek, tetapi  berbeda  nyata  dengan  perlakuan  800 g/polibek.     Gambar  5. Berat  Segar  Per  Tanaman  Pada  Berbagai  Perlakuan  Pemberian  Pupuk  Kandang  Kotoran  Burung  Puyuh (g) Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai bobot segar per tanaman sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah  nilai  berat segar  tertinggi  pada  penelitian  ini  yaitu 463,78 g. Berat segar terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 156,44 g. 5. Volume  Akar ( cm3 ) Gambar 6. Rerata Volume Akar pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung  Puyuh (cm3) Pembahasan Berdasarkan hasil analisis keragaman pada tabel 2,3,4 dan tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial berpengaruh tidak nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar.  Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial pada penelitian ini berbeda nyata terhadap variabel pengamatan berat segar per  tanaman sawi putih. Berpengaruh tidak nyatanya  Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan volume akar diduga disebabkan karena pupuk  kandang kotoran burung puyuh yang diberikan ke dalam tanaman dosisnya belum dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal, sehingga pengaruh dari masing – masing perlakuan masih belum terlihat jelas. Sementara berbeda nyata perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap berat segar per tanaman diduga pupuk kandang kotoran burung puyuh yang di berikan ke dalam tanaman dosisnya dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal. Menurut Sarief (1986), yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, tanaman harus mempunyai akar dan sistem perakaran yang luas serta untuk memperoleh unsur hara dan air sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Menurut Buckman (1982), kekurangan unsur N dan P dapat mempengaruhi pertumbuhan akar, unsur P yang terdapat pada bahan organik tidak begitu mudah dan cepat tersedia seperti unsur N.  Unsur hara dalam bentuk yang tersedia lebih cepat terserap tanaman untuk digunakan dalam proses metabolisme sehingga akan memberikan respon terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Selain faktor hara yang diberikan, pertumbuhan tanaman sawi putih juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya seperti pH tanah, suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan.   Suhu udara optimal untuk pertumbuhan sawi putih antara 19°C - 21°C. Rerata suhu udara selama penelitian berkisar antara 26,25°C – 30,75°C.  Kelembaban udara relatif untuk pertumbuhan sawi putih adalah 80% - 90%. Rerata kelembaban udara selama penelitian 85,74%. Kondisi suhu udara dan kelembaban udara ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman sawi putih. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : Pemberian  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh  dengan  dosis                800 g/polibek (k4) dapat dikatakan sebagai  dosis  terbaik  karena  memberikan  rerata  tertinggi  terhadap variabel  pengamatan berat  segar per tanaman.Pemberian  pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh terhadap  pertumbuhan  dan hasil sawi  putih  pada  tanah  aluvial, menunjukan berbeda  nyata terhadap  variabel  berat segar per tanaman, tetapi  berpengaruh  tidak  nyata  terhadap  variabel  pengamatan  tinggi  tanaman, jumlah  daun, luas daun  dan volume  akar.Pemberian pupuk kandang  kotoran  burung  puyuh  pada  dosis  600 g/polibek (k3) memberikan  hasil  yang  berbeda  tidak  nyata  dengan  dosis  yang  lebih  tinggi (1000 g/polibek) sehingga  apabila  dilihat  dari  segi  efisiensi  dosis  800 g/polibek  dapat  dijadikan  sebagai  dosis  acuan.   B. SaranBerdasarkan hasil penelitian, pemberian pupuk  kandang  kotoran  burung  puyuh yang  efektif  dapat  mempengaruhi  pertumbuhan  dan  hasil  sawi  putih  pada dosis 800 g/polibek.Pemanfaatan pupuk kandang kotoran burung pada dosis 800 g/polibek perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk jenis tanaman yang sama pada jenis tanah yang berbeda ataupun untuk jenis tanaman dan tanah yang berbeda. Selain itupula diperlukan adanya penelitian lanjutan di lapangan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh terhadap tanaman yang dibudidayakan.   DAFTAR PUSTAKA Buckman, H.O, dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan  Soegiman, Bharata Karya Aksara, Jakarta. Hermanudin. 2002. Pengaruh Limbah Crumb Rubber dan Kotoran Burung puyuh Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Pada Tanah Aluvial. Skripsi Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura: Pontianak. Tidak dipublikasikan. Sarief, E. S. 1986. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Pertanian. Universitas Panjadjaran Bandung.

    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT DI DESA MELOBOK KECAMATAN MELIAU KABUPATEN SANGGAU

    No full text
    Faktor – faktor Yang Mempengaruhi aktivitas pemeliharaan Kelapa Sawit Di Desa Melobok Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau. Dibawah bimbingan Dra. Marisi Aritonang, MMA selaku pembimbing pertama dan Dewi Kurniati, SP, MM selaku pembimbing kedua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ativitas pemeliharaan kelapa sawit oleh petani rakyat dan untuk mengetahui apakah faktor-faktor usahatani yaitu ketersediaan modal, ketersediaan sarana pemeliharaan, dan ketersediaan tenaga kerja berhubungan nyata terhadap aktivitas pemeliharaan kelapa sawit oleh petani rakyat. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dan metode survei, lokasi pada penelitian ini berada di Desa Melobok Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau, karena sebagaian besar petani mengusahakan kelapa sawit sebagai sumber pendapatan utama. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 44 responden dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara dengan bantuan kuisoner/daftar pertanyaan. Pengukuran tingkat aktivitas pemeliharaan kelapa sawit tanaman menghasilkan (TM) oleh petani rakyat menggunakan skala likert dan untuk mengetahui apakah faktor-faktor usahatani yaitu  ketersediaan modal, ketersediaan sarana pemeliharaan dan ketersediaan tenaga kerja berhubungan nyata terhadap aktivitas pemeliharaan kelapa sawit oleh petani rakyat menggunakan analisis uji Chi Square dengan program SPSS 18,00 for windows. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aktivitas pemeliharaan kelapa sawit oleh petani rakyat digolongkan tidak baik, hal ini menunjukkan dari keseluruhan aktivitas yaitu sepuluh aktivitas, empat aktivitas cukup baik dan enam aktivitas tidak baik. Berdasarkan hasil analisis mengenai ketersediaan modal dan ketersediaan sarana pemeliharaan berhubungan nyata terhadap aktivitas pemeliharaan kelapa sawit oleh petani rakyat dan ketersediaan tenaga kerja tidak memiliki hubungan yang nyata terhadap aktivitas pemeliharaan kelapa sawit pleh petani rakyat.     Kata kunci : Kelapa Sawit, Aktivitas, Faktor-Faktor Pemeliharaan

    403

    full texts

    1,262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇