Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
    1262 research outputs found

    PENGARUH KAPUR DAN BOKASHI TKKS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI EDAMAME PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

    Full text link
    Kedelai Edamame merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang menjadi sumber protein nabati utama masyarakat Indonesia. Salah satu tanah yang dapat digunakan untuk budidaya tanaman kedelai edamame yaitu tanah podsolik merah kuning. Tanah podsolik merahkuning sebagai media tanam memiliki kendala seperti struktur tanah jelek pH rendah, ketersediaan unsur hara sedikit dan kandungan bahan organik rendah. Upaya untuk mengatasinya adalah dengan pemberian bahan pembenah tanah seperti kapur dolomit dan bokashi tandan kosong kelapa sawit. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis interaksi kapur dolomit dan bokashi tandan kosong kelapa sawit yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai edamame pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian dilaksanakan di Jalan Sepakat 2, Gg. Sejahtera. Penelitian ini berlangsung dari bulan November 2022 sampai Februari 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor pertama kapur terdiri dari 3 taraf yaitu d1 = 15 ton/ha setara dengan 75 g/polibag, d2 = 18 ton/ha setara dengan 90 g/polibag dan d3 = 20 ton/ha setara dengan 100 g/polibag. Faktor kedua bokashi tandan kosong kelapa sawit terdiri dari 3 taraf yaitu b1 = 5 ton/ha setara dengan 25 g/polibag, b2 = 10 ton/ha setara dengan 50 g/polibag dan b3 = 15 ton/ha setara dengan 75 g/polibag. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, volume akar, berat kering tanaman, jumlah polong per tanaman, bobot polong segar per tanaman, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, dan jumlah bintil akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara pemberian kapur dosis 18 ton/ha dan bokashi TKKS 10 ton/ha dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai edamame yang terbaik pada tanah podsolik merah kuning

    STUDI STATUS UNSUR HARA NITROGEN (N), FOSFOR (P) DAN KALIUM (K) TERHADAP TANAMAN LADA PADA TANAH FLUVAQUENTS DI KECAMATAN GALING KABUPATEN SAMBAS

    No full text
    Tanaman lada adalah tanaman perkebunan yang memiliki peluang dan potensi untuk dikembangkan sebagai suatu komoditas unggulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status unsur hara N, P dan K di lokasi penelitian untuk pengembangan tanaman lada beserta rekomendasi perbaikannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa status unsur hara N tergolong sedang sampai tinggi yaitu 0,21-0,68%, P tergolong sangat tinggi yaitu >35 ppm dan kalium tergolong rendah sampai tinggi yaitu antara  0,19-0,62 (cmol (+) kg-1. Rekomendasi pemupukan pada masing-masing lokasi yaitu L1A ( Urea 485,39, SP36 1030,3 kg/ha, KCL 958,3 kg/ha), L1B (Urea 489,04, SP36 1071,77, KCL 1053), L1B (Urea 480,78, SP36 973,22, KCL 528,76) dan L1D (Urea 464,62, SP36 977,66, KCL 1270,71). Kata Kunci : Fluvaquents, Lada, Status Unsur Hara, Pemupukan berimbang, Samba

    KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI LIANG TEH PONTIANAK DENGAN PENAMBAHAN DAUN PEGAGAN(Centella asiatica L.Urban)

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bobot daun pegagan (Centella asiatica L.Urban) yang optimum berdasarkan karakteristik fisikokimia dan sensori pada pembuatan liang teh Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri satu faktor perlakuan yaitu bobot daun pegagan (Centella asiatica L.Urban) sebanyak 7 taraf terdiri dari kandungan 0 g, 10 g, 20 g, 30 g, 40 g, 50 g, dan 60 g per 1000 ml air diulang sebanyak 4 kali. Variabel pengamatan meliputi vitamin C, pH, total asam, total padatan terlarut dan uji sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Uji sensori menggunakan metode Kruskal-Wallis selanjutnya untuk mendapatkan perlakuan terbaik dilakukan uji indeks efektifitas. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan liang teh dengan kandungan daun pegagan(Centella asiatica L.Urban) yang optimum ialah dengan bobot daun pegagan (Centella asiatica L.Urban) 40 g. Liang teh yang dihasilkan memiliki karakteristik fisikokimia; vitamin C 18,04 mg/100 g; total asam 1,12 %; pH 7,40 ; total padatan terlarut 6,35 ˚brix dan karakteristik sensori adalah aroma 3,36 (agak wangi); kekeruhan 3,96 (tidak keruh); warna 3,48 (merah kecoklatan); kekelatan 3,04 (agak kelat); dan kesukaan 3,24 (agak suka). Kata kunci : daun pegagan, fisikokimia, karakteristik, liang teh, sensor

    PENGARUH TINGKAT SUPLEMENTASI SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI MI BASAH

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat suplementasi sawi hijau pada mi basah yang mempunyai sifat fisiko kimia dan sensori terbaik Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan yaitu suplementasi sawi hijau yang terdiri dari tujuh taraf perlakuan yaitu n0= 0%, n1= 25%, n2= 30%, n3= 35%, n4= 40%, n5= 45%, dan n6= 50%. Variabel yang diamati adalah karakter fisikokimia dan sensori.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mi basah suplementasi sawi hijau yang dihasilkan memiliki kandungan air berkisar antara 36,74-45,07%, abu 0,77-2,27%, lemak 1,51–3,08%, protein 10,03–12,54%, dan karbohidrat 41,10-46,84%. Suplementasi sawi hijau berpengaruh nyata terhadap kadar air, dan kadar abu mi basah, namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat mi basah yang dihasilkan. Berdasarkan uji fisikokimia dan sensori, mi basah 35% sawi hijau menghasilkan nilai perlakuan (NP): 0,56 sebagai perlakuan terbaik dengan karakter fisikokimia yaitu kadar air 41,36%, abu 1,46%, lemak 2,78%, protein 10,92%, dan karbohidrat 43,46%. Hasil analisis sensori terbaik yaitu warna 4,25 (hijau), citarasa 4,53 (langu), tekstur 3,50 (agak kenyal), dan kesukaan 3,28 (agak suka). Kata kunci : Suplementasi, Sawi Hijau, Mi Basah

    PENGARUH PENGGUNAAN HERBISIDA SISTEMIK TERHADAP PENGENDALIAN GULMA DIPERKEBUNAN KELAPA RAKYAT PADA LAHAN GAMBUT DI PADANG TIKAR KECAMATAN BATU AMPAR

    No full text
    Pengaruh Penggunaan Herbisida Sistemik  Terhadap Pengendalian Gulma Di Perkebunan Kelapa Rakyat Pada Lahan Gambut Di Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar Erpiani(1), Sarbino(2), Rahmidiyani(2) (1)Mahasiswa, (2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan herbisida sistemik terhadap pengendalian gulma di perkebunan kelapa dan konsentrasi yang tepat dalam pengendalian gulma yang tumbuh di perkebunan kelapa rakyat pada lahan gambut di Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar. Penelitian dilakukan dengan analisis vegetasi dengan menggunakan metode kuadrat berukuran 1m x 1m sebelum dan sesudah penyemprotan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 kontrol dan 5 taraf konsentrasi herbisida yaitu P0 (secara mekanis yaitu dengan cara ditebas), P1 (konsentrasi 4 cc/l setara dengan dosis 2 l/ha), P2 (konsentrasi 5 cc/l setara dengan dosis 2,5 l/ha, P3 (konsentrasi 6 cc/l setara dengan dosis 3 l/ha), P4 (konsentrasi 7 cc/l setara dengan dosis 3,5 l/ha), dan P5 (konsentrasi 8 cc/l setara dengan dosis 4 l/ha). Hasil pengamatan menunjukkan terdapat 11 jenis gulma dari 8 family yang ditemukan di lokasi penelitian. Jenis gulma dominan yang terdapat di lokasi penelitian sebelum penyemprotan adalah gulma Scleria sumatrensis dengan nilai SDR 15,94%, tetapi setelah penyemprotan gulma yang dominan menjadi gulma Stenochlaena palustris dengan nilai SDR 30,29%. Gulma yang mampu bertahan terhadap penyemprotan adalah Stenochlaena palustris, Nephrolepsis bisserata, Gleichenia linearis, dan Scleria sumatrensis.   Kata Kunci : Gleichenia linearis, gulma, herbisida sistemik, Nephrolepsis bisserata , Scleria sumatrensis, dan Stenochlaena palustris. EEFECT OF THE USE SYSTEMIC HERBICIDE TO THE WEEDS CONTROL AT PEOPLE’S COCONUT PLANTATION IN PEATLANDS IN PADANG TIKAR DISTRICT OF BATU AMPAR Erpiani(1), Sarbino(2), Rahmidiyani(2) (1)Student, (2) Lecturers of Agriculture Faculty Tanjungpura University Pontianak ABSTRACT This study aims to determine the effect of the use of systemic herbicides to control weeds in coconut plantations and the appropriate concentration in the control of weeds that grow on people’s coconut plantations on peatland in Padang Tikar District of Batu Ampar. The study was conducted with vegetation analysis using the least squares method measuring 1m x 1m before and after spraying. The research was conducted using a randomized block design (RBD) with 1 control and 5 herbicide concentration level, are P0 ( mechanically by means of cut down), P1 (concentration of 4 cc/l dose equivalent to 2 l/ha), P2 (concentration of 5 cc/l is dose equivalent to 2.5 l/ha, P3 (concentration of 6 cc/l dose equivalent to 3 l/ha), P4 (concentration of 7 cc/l dose equivalent to 3.5 l/ha), and P5 (concentration of 8 cc/l dose equivalent to 4 l/ha). The results showed there are 11 types of weeds from 8 family found at the location. The dominant weed species found in the research location before spraying weeds is Scleria sumatrensis with the SDR value 15.94%, but after spraying weeds became dominant is Stenochlaena palustris with the SDR value 30.29%. Weeds are able to survive after spraying is Stenochlaena palustris, Nephrolepsis bisserata, Gleichenia linearis, and Scleria sumatrensis.   Keywords: Gleichenia linearis,weeds, systemic herbicide, Nephrolepsis bisserata, Scleria sumatrensis, and Stenochlaena palustris

    EVALUASI KESUBURAN TANAH UNTUK REPLANTING KELAPA SAWIT DI AFDELING II (DUA) PTPN XIII PARINDU KABUPATEN SANGGAU

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status unsur hara pada lahan sebelum dilakukan penanaman kembali (replanting). Penelitian dilakukan pada lahan perkebunan Afdeling II (Dua) PTPN XIII Parindu Kabupaten Sanggau. Tahapan penelitian ini meliputi persiapan, pengambilan data, pengambilan sampel, analisis sampel tanah di laboratorium, dan penyajian hasil. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan untuk pengamatan dan pengambilan sampel tanah. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode zig-zag  pada titik yang telah ditentukan pada setiap blok dengan kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm, serta dilakukan pengambilan sampel tanah pada kawasan hutan sebagai pembandingnya. Sampel tanah dari setiap lokasi lalu dikompositkan dan dianalisis di laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Universitas Tanjungpura Pontianak, serta dipadukan statusnya berdasarkan Pusat Penelitian Tanah (PPT) tahun 1983.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa status pH tanah, Kejenuhan Basa (KB), C-Organik, Kapasitas Tukar Kation (KTK), Nitrogen (N), Fospor (P), dan Kalium (K) pada lahan penelitian tergolong rendah ditingkat kesuburan tanahnya. Sehingga perlu dilakukan perbaikan ataupun upaya-upaya dalam meningkatkan kesuburan tanah, perbaikan drainase, pemberian kapur, pemberian pupuk yang seimbang dan perawatan tanaman yang intensif. Kata Kunci : Replanting Kelapa Sawit, PTPN XIII Parind

    Pengaruh Panjang Entris terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Bibit Lengkeng

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mencari panjang entris yang terbaik terhadap pengaruh sambung pucuk tanaman lengkeng. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan  diulang sebanyak lima kali, setiap ulangan terdiri dari tiga sampel tanaman. Perlakuan yang dimaksud yaitu e1: 7,5 cm, e2: 10 cm, e3: 12,5 cm, e4: 15 cm dan e5: 17,5 cm. Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah persentase tumbuh (%), jumlah daun (helai), tinggi tanaman (cm) dan jumlah tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengamatan panjang entris berpengaruh nyata terhadap persentase tumbuh (%), tinggi tanaman (cm) dan jumlah daun (helai) sedang variabel pengamatan seperti jumlah tunas berpengaruh tidak nyata.Rerata persentase tumbuh (%) dengan panjang entris 12,5 cm dan 17,5 cm memiliki nilai tertinggi, sedangkan nilai terendah pada panjang entris 7,5 cm dan 15 cm. Data rerata jumlah daun (helai) pada panjang entris 15 cm dan 17,5 cm memiliki nilai tertinggi, sedangkan nilai terendah terdapat pada panjang entris 7,5 cm dan 10 cm. Data rerata jumlah tunas terdapat pada panjang entris  10 cm dan 12,5 cm memiliki nilai tertinggi, sedangkan nilai terendah diberi pada panjang entris 7,5 cm dan 12,5 cm. Data rerata tinggi tanaman pada panjang entries 15 cm dan 17,5 cm memiliki nilai tertinggi, sedangkan nilai terendah terdapat pada panjang entries 7,5 cm dan 12,5 cm. Berdasarkan hasil pengamatan pengaruh panjang entris terhadap keberhasilan sambung pucuk bibit lengkeng dapat disimpulkan bahwa keberhasilan panjang entris dengan 17,5 cm mempunyai pertumbuhan yang terbaik.

    PENGARUH PUPUK KANDANG BEBEK DAN KNO3 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

    Full text link
    Kubis bunga (Brassica oleracea var. Botrytis L.) merupakan tanaman sayuran jenis kol dengan bunga bewarna putih. Pupuk kandang bebek memiliki potensi dalam perbaikan sifat fisik tanah diantaranya memperbaiki struktur tanah, tanah menjadi ringan untuk diolah dan meningkatkan ketersediaan tahan air. Pupuk Kalium Nitrat (KNO3) merupakan jenis pupuk kimia dengan kandungan kalium dan nitrogen didalamnya. Pupuk KNO3 mengandung unsur nitrogen sebesar (1-14) % dan K2O sebesar (44-46) % yang dapat langsung terserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+ dan segera tersedia bagi tanaman, sedangkan nitrat (NO3-) dapat langsung diserap oleh akar tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dosis interaksi antara pupuk kandang bebek dan KNO3 yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kubis bunga pada tanah PMK. Penelitian ini dilaksanakan di green house Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dilaksanakan dari tanggal 25 Januari – 29 Maret 2022 dengan ketinggian tempat ± 2 mdpl. Penelitian ini menggunakan faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pupuk kandang bebek terdiri dari 3 taraf dan pupuk KNO3 3 taraf dengan 3 ulangan, setiap ulangan ada 4 sampel tanaman sehingga ada 108 tanaman. Faktor pertama adalah pupuk kandang bebek (B) yang terdiri dari 3 taraf yaitu b1 = 10 ton/ha ≈ 250 g/tanaman, b2 = 15 ton/ha ≈ 375 g/tanaman dan b3 = 20 ton/ha ≈ 500 g/tanaman. Faktor kedua adalah pupuk KNO3 (K) yang terdiri dari 3 taraf yaitu : k1 = 150 kg/ha ≈ 3,75g/tanaman, k2 = 250 kg/ha ≈ 6, 25 g/tanaman dan k3 = 350 kg/ha ≈ 8,75 g/tanaman. Variabel yang diamati adalah volume akar (cm3), klorofil daun (spaad unit), berat kering tanaman (g), jumlah daun (helai), umur berbunga (hari), diameter krop (cm) dan berat krop/tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pupuk kandang bebek dan pupuk KNO3 pada semua variabel pengamatan, namun perlakuan pupuk kandang bebek sebesar 20 ton/ha ≈ 500 g/polybag dan  pupuk KNO3 350 kg/ha ≈ 8, 75 g/tanaman merupakan dosis yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga pada tanah PMK

    STUDI MIKORIZA ARBUSKULAR PADA BEBERAPA TIPE PENGGUNAAN LAHAN KERING DI DESA KEPAYANG KECAMATAN ANJONGAN KABUPATEN MEMPAWAH

    Full text link
    Mikoriza arbuskular adalah salah satu mikroba tanah yang mempunyai peranan penting dalam menyuburkan tanah apabila terjadi assosiasi simbiotik yang efektif antara akar tanaman dengan mikoriza sehingga dapat meningkatkan pengambilan fosfor (P), air, dan nutrisi lainnya bagi tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan populasi Mikoriza arbuskular pada tiga tipe pemanfaatan lahan kering. Setiap lokasi akan dipilih plot seluas 40 m x 5 m yang homogen dan tidak tergenang, selanjutnya lokasi yang telah dipilih dibagi menjadi 3 bagian (I, II, dan III) sehingga didapatkan masing-masing berukuran 13,3 m x 5 m, setiap bagian ditentukan plot untuk pengambilan sampel tanah. Tanah diambil dari kedalaman 0-20 cm pada plot kuadrat ukuran 0,5 m x 0,5 m. Teknik mengisolasi fungi mikoriza arbuskular menggunakan metode kombinasi antara Teknik tuang saring basah, kemudian dilanjutkan analisis statistika dengan uji One Way Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan populasi fungi MA ditemukan pada semua tipe pemanfaatan lahan kering (semak belukar, kebun kelapa sawit, hutan sekunder). Jumlah indeks keragaman tertinggi terdapat pada tipe pemanfaatan lahan semak belukar yaitu 2,00 dengan jumlah kemerataan jenis 0,64. Jumlah dan jenis spora pada ketiga tipe pemanfaatan lahan kering ditemukan 3 genus yaitu Glomus, Gigaspora, Acaulospora, sedangkan genus fungi yang paling banyak mendominasi adalah Glomus. Hasil uji analisis Anova (one-way) perbedaan yang nyata pada glomus dengan p-value 0.028, sedangkan Acaulospora dan Gigaspora menunjukkan tidak berbeda nyata. Perbedaan yang nyata pada glomus kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata dan didapatkan hasil nilai tertinggi yaitu pada hutan sekunder

    Pengaruh Tepung Cangkang Telur dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung pada Tanah Gambut

    Full text link
    Produktivitas Terung di Kalimantan Barat secara masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan produktivitas nasional pada tahun 2020. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi terung di Kalimantan Barat tahun 2020 sebesar 77. 254 ton dengan produktivitas mencapai 3,77 ton/ha, jumlah ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan produksi nasional pada tahun yang sama. Usaha untuk meningkatkan produktivitas terung di Kalimantan Barat adalah dengan memaksimalkan potensi lahan yang tersedia. Pemanfaatan tanah gambut sebagai media tumbuh tanaman terung dihadapkan pada kendala tingkat kesuburan yang rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan penambahan tepung cangkang telur untuk meningkatkan pH tanah gambut. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan dosis interaksi antara tepung cangkang telur dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil terung pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di lahan yang berlokasi di Kecamatan Pontianak Tenggara dengan ketinggian tempat 1 mdpl. Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dimulai pada tanggal 01 Februari – 10 April 2023. Penelitian ini merupakan eksperimen lapangan dengan pola faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu Tepung Cangkang Telur (T) dan faktor kedua yaitu pupuk NPK (P). Masing – masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, setiap ulangan terdiri dari 3 tanaman sampel sehingga terdapat 81 tanaman. perlakuan yang dimaksud yaitu faktor pertama dengan 3 taraf yaitu 12 g/polybag; 16 g/polybag dan 20 g/polybag. Faktor kedua terdiri dari 3 taraf yaitu 7,5 g/tanaman; 10 g/tanaman dan 12,5 g/tanaman. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, luas daun, jumlah buah, berat buah per buah, berat buah per tanaman, panjang buah dan diameter buah. Data hasil pengamatan di analisis seara statistik dengan menggunakan varians (uji F taraf 5%). Apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara pemberian tepung cangkang telur dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil terung pada tanah gambut dan tepung cangkang telur dosis 8 ton/ha setara dengan 16 g/polybag dan pupuk NPK dosis 400 kg/ha setara dengan 10 g/tanaman  memberikan pertumbuhan dan hasil terung yang terbaik pada tanah gambut

    403

    full texts

    1,262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇