Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
STATUS HARA N, P, DAN K TANAH PADA LAHAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI DESA SUNGAI KERAN KECAMATAN SUNGAI RAYA KEPULAUAN KABUPATEN BENGKAYANG
Status hara tanah diperlukan untuk mengetahui kandungan hara yang tersedia di dalam tanah. Status hara diperoleh melalui survey lapangan dan analisis unsur hara di laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status hara N, P, dan K tanah serta memberikan saran pemupukan yang sesuai dengan kebutuhan tanah dan tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Keran Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang. Lokasi penelitian merupakan lahan kelapa sawit dengan umur tanaman yang berbeda yakni, umur 5 dan 9 tahun. Pengambilan sampel menggunakan metode diagonal. Hasil analisis menunjukkan bahwa status hara N,P, dan K pada dua lokasi penelitian berturut-turut Sedang, Sangat Tinggi, dan Rendah. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan pupuk sesuai rekomendasi yang digunakan, maka masing-masing lahan disarankan memberikan dosis pemupukan untuk lokasi A kebutuhan pupuk NPK 16-16-16 sebanyak 2 kg/pohon, Kekurangan dipenuhi dengan pupuk tunggal: 1,16 kg urea/pohon dan 0,94 kg KCl/pohon. Lokasi B 2,9 kg urea/pohon, 0,89 kg SP36/pohon (1,14 kg rock phospate/pohon), dan 2,5 kg KCl/pohon)
PEMETAAN LAHAN RAWAN BANJIR AREAL PERSAWAHAN DI DESA KUALA TOLAK KECAMATAN MATAN HILIR UTARA
Banjir terjadi karena faktor manusia dan faktor alam. Faktor fisik pada daerah alir sungai (DAS) adalah faktor alam dan saling terkait dalam kejadian banjir. Banjir yang terjadi di Desa Kuala Tolak, Kabupaten Ketapang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan sungai tolak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan kawasan yang berpotensi banjir pada lahan sawah Desa Kuala Tolak. Penilaian potensi banjir suatu wilayah menggunakan metode penelitian dengan dilakukan pemberian skoring dan pembobotan pada kelas di setiap parameter banjir (Suherlan, 2001). Dari hasil peta kerawanan banjir yang dibuat berdasarkan dari data kelas parameter banjir didapat bahwa lahan sawah di Desa Kuala Tolak terdiri dari dua kelas kerawanan banjir yaitu : Kelas Sangat Rawan dengan persentase 1,17% atau seluas 9,24 Ha dan Kelas Rawan dengan persentase 98,83% atau luasnya sebesar 779,77 Ha.Kata Kunci: Pemetaan, Kerawanan Banjir, pasang suru
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI DESA PANGGI RUGUK KECAMATAN KETUNGAU TENGAH KABUPATEN SINTANG
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit di wilayah Desa Panggi Ruguk Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode grid dengan jarak 200 x 250 meter dengan jumlah titik sampel sebanyak 12 titik. Penelitian ini dilaksanakan dengan Melakukan pengambilan sampel tanah di lapangan, jumlah sampel tanah yang diambil ada dua sampel tanah, pengambilan dilakukan perkedalaman yaitu pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm, dengan satu SPT, kemudian dilanjutkan dengan analisis di Laboratorium, Kegiatan yang dilakukan meliput empat tahapan yaitu : Persiapan, Kegiatan lapangan, Analisis Laboratorium dan Pengolahan data pembuatan peta dan penyusunan laporan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit di daerah lokasi penelitian masuk kedalam Kelas N1(tidak sesuai) dengan luas 100 ha. Rekomendasi pengelolaan terdiri dari pemupukan dan pengapuran. Tanah pada lokasi penelitian tergolong sangat masam dengan kisaran pH <4,5 (4,16) sehingga untuk mengatasi keadaan tanah yang bereaksi sangat masam tersebut perlu dilakukan rekomendasi pengapuran. Perhitungan dilakukan berdasarkan atas kadar Al-dd yang dapat ditukar pada tanah permukaan, dengan asumsi peningkatan pH menjadi 5,5. Kapur yang digunakan adalah kapur dolomit [CaMg(CO3)2]. Jumlah kapur yang dibutuhkan adalah 5,13 Ton/ha. Pupuk yang direkomendasikan untuk tanaman kelapa sawit di lokasi penelitian adalah pupuk N (urea) = 205,22 Kg/ha, pupuk P (SP-36) = 131,44 Kg/ha dan pupuk K (KCL) = 201,33 Kg/ha
Analisis Efisiensi Faktor-Faktor Produksi Usahatani Jeruk Keprok Terigas Di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor produksi apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani jeruk keprok terigas dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani jeruk keprok terigas di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja yaitu di Kecamatan Tebas dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu Kecamatan sentra produksi dan tempat dikembangkannya jeruk keprok terigas. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 30 petani jeruk keprok terigas. Penelitian ini menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglass, data diolah menggunakan program SPSS versi 17 dan analisis efisiensi faktor-faktor produksi dengan membandingkan nilai produk marjinal (NPM) terhadap harga rata-rata faktor produksi (Px). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi usahatani jeruk keprok terigas di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas berupa luas lahan, tenaga kerja dalam keluarga, tenaga kerja luar keluarga, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk TSP, pupuk organik, herbisida dan insektisida secara simultan berpengaruh secara nyata terhadap produksi usahatani jeruk keprok terigas. Faktor produksi luas lahan dan insektisida secara parsial berpengaruh secara nyata terhadap produksi jeruk keprok terigas sedangkan tenaga kerja dalam keluarga, tenaga kerja luar keluarga, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk TSP, pupuk organik dan herbisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi jeruk keprok terigas. Penggunaan faktor-faktor produksi usahatani jeruk keprok terigas di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas berupa luas lahan, tenaga kerja dalam keluarga, tenaga kerja luar keluarga, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk organik, herbisida belum efisien artinya penggunaan faktor produksi tersebut perlu ditambah, sedangkan pupuk TSP dan insektisida penggunaanya tidak efisien artinya penggunaan faktor produksi pupuk TSP dan insektisida harus dikurangi. Kata kunci: Usahatani jeruk keprok terigas, Efisiensi, Cobb-Douglass
PENGARUH SUBSTITUSI UBI JALAR ORANYE TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI NUGGET TEMPE KEDELAI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi ubi jalar oranye pada pembuatan nugget tempe kedelai yang mempunyai sifat fisikokimia dan sensori yang terbaik. Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap yang terdiri satu faktor perlakuan yaitu substitusi ubi jalar oranye sebanyak tujuh taraf terdiri dari substitusi 0g, 50g, 100g, 150g, 200g, 250g dan 300g, diulang sebanyak empat kali. Variabel pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan uji sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Uji sensori menggunakan metode Kruskal-Wallis selanjutnya untuk mendapatkan perlakuan terbaik dilakukan uji indeks efektifitas. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan nugget tempe kedelai terbaik pada perlakuan substitusi 300g ubi jalar oranye. Nugget yang dihasilkan memiliki karakter fisikokimia dengan rerata kadar air 58,06%, abu 1,40%, lemak 9,67%, protein 15,38% dan karbohidrat 15,49% dan karakter sensori yaitu rasa 3,70 (enak), warna 4,00 (kuning), tekstur 4,10 (tidak keras) dan kesukaan 3,70 (suka). Kata kunci : fisikokimia, nugget tempe kedelai, substitusi, ubi jalar orany
OPTIMALISASI USAHATANI TUMPANG SARI UNTUK MEMAKSIMUMKAN KEUNTUNGAN TANAMAN JAHE DAN MENTIMUN PADA LAHAN GAMBUT DI DESA MEKAR SARI KECAMATAN SUNGAI RAYA KABUPATEN KUBU RAYA
Abstrak Shinwani, Optimalisasi Usahatani Tumpangsari Untuk Memaksimumkan Keuntungan Tanaman Jahe Dan Mentimun Pada Lahan Gambut Di Desa Mekar Sari Kecamatan Sungai Raya. Dibawah bimbingan Dr. Novira Kusrini, SP,M.Si dan Maswadi, SP,M.Sc. Semua petani menginginkan hasil produksi yang lebih maksimal dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Masalah yang sering dialami oleh petani adalah kesulitan dalam menentukan luasan lahan (jumlah produksi) yang optimal yang disebabkan karena belum diterapkannya suatu metode yang dapat menghitung kombinasi terbaik luasan lahan (jumlah produksi) untuk tanaman jahe dan mentimun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keuntungan maksimal yang diperoleh petani dengan melakukan pola tanam tumpang sari jahe dan mentimun di Desa Mekar Sari. Outputnya berupa alokasi luas lahan yang optimal untuk dikembangkan oleh petani sehingga mendapatkan keuntungan yang lebih optimal. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan alat analisa Linear Programming untuk menghitung keuntungan yang diperoleh petani. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan dari hasil analisis keuntungan usahatani bahwa petani yang melakukan pola tanam tumpang sari dengan tanaman jahe serta mentimun sudah dalam keadaan optimal. Tingkat keuntungan optimal yang diperoleh petani adalah sebesar Rp 29.071.930 lebih besar dari keuntungan aktual sebesar Rp 27.959.498,61. Keuntungan optimal ini diperoleh dengan cara menanam jahe 0,6828 ? 0,68 hektar dan mentimun 2,3767 ? 2,37 hektar. Petani menghadapi kendala-kendala dalam upaya memaksimalkan keuntungan, berupa keterbatasan sumber daya ketersediaan lahan, ketersediaan jam tenaga kerja akan tetapi untuk ketersediaan modal tidak terpakai semua. Dari hasil analisis sensitivitas yaitu keuntungan jahe akan dapat dicapai pada rentang Rp 7.529.548 sampai dengan Rp 27.494.470 sedangkan keuntungan mentimun berada pada rentang Rp 3.225.062 sampai dengan Rp 11.776.450, dengan syarat: Luas lahan yang dipergunakan antara 0,7144 Ha sampai dengan 2,6087 Ha.Tenaga kerja dipergunakan pada rentang 78,9283 HOK sampai 154,5411 HOK.Sedangkan untuk modal dipergunakan hanya Rp 17.051.230 sedangkan modal yang ada Rp.18.855.560 artinya modal yang tersedia dari Rp.18.855.560 masih tersisa Rp.1.504.330 sampai Kata Kunci : optimalisasi, tumpangsari, keuntungan maksimal, model Linear Programmin
STUDI SIFAT FISIKA TANAH PADA BEBERAPA TINGKATAN UMUR PENCETAKAN SAWAH DI DESA PISANG KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sifat fisika tanah pada beberapa tingkatan umur pencetakan sawah. Penelitian dilakukan pada lahan sawah di Desa Pisang Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah, dan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel tanah pada tiga lokasi yaitu sawah berumur 15-24 tahun, 25-34 tahun dan 35-45 tahun. Pengambilan contoh tanah dilakukan secara diagonal sebanyak 5 titik dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Beberapa parameter pengamatan seperti bobot isi, kadar air kondisi lapangan, bobot jenis partikel, porositas, dan kemantapan agregat tanah dianalisis mengunakan Rancangan Acak Kelompok. Sedangakan parameter lainnya seperti tekstur tanah, C-organik, N-total, dan pH tanah dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pada beberapa sifat fisika tanah yaitu kadar air kondisi lapangan kedalaman 0-20 cm (*), bobot jenis partikel kedalaman 0-20 cm (**) dan kedalaman 20-40 cm (**), dan porositas pada kedalaman 0-20 cm (**). Kelas tekstur tanah hanya terdapat perbedaan pada periode penyawahan 15-24 tahun pada kedalaman 20-40 cm yaitu liat berpasir sedangkan kelas tekstur lainnya adalah liat. Keberadaan bahan organik dan N total akan menurun pada periode penyawahan 25-34 tahun namun akan sedikit meningkat pada periode penyawahan 35-45 tahun. Pada periode penyawahan 35-45 tahun, nilai C-organik dan N-total lapisan 20-40 cm lebih tinggi dari pada lapisan 0-20 cm. Nilai pH tanah akan meningkat pada periode penyawahan 25-34 tahun dan sedikit menurun pada periode penyawahan 35-45 tahun. Kata Kunci : Fisika Tanah, Umur Pencetakan Sawa
STUDI KARAKTERISTIK SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (SUB DAS) ENSABAL PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KAPUAS KABUPATEN SANGGAU
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi karakteristik Sub DAS Ensabal pada DAS Kapuas Kabupaten Sanggau. Sub DAS Ensabal terletak di Kabupaten Sanggau, yang memiliki luas wilayah 11.430 km². Secara geografis Sub DAS Ensabal terletak antara 0°8’48,62 0°15’ 3,39” LU dan 110°14’33,11” 110°23’33,8” BT. Pengamatan penelitian dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Pengamatan di lapangan dilakukan untuk mengamati dan mengambil sampel air yang dilakukan selama 7 hari di bagian hulu dan hilir Sub DAS Ensabal yang terletak di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Pengamatan di Laboratorium Kualitas dan Kesehatan Lahan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dilakukan untuk menganalisis sampel air. Hasil analisismenunjukkan Sub DAS Ensabal memiliki pola dentritikdan bentuk DAS memanjang seperti bulu burung di lapangan. Kerapatan drainase Sub DAS Ensabal adalah 0,13km/km2, termasuk kategori rendah. Profil Melitang Sungai pada Sub Das Ensabal berbentuk segitiga pada bagian hulu dan berbentuk parabola bagian hilir. Sub Das Ensabal memiliki 2 orde dan nilai indeks tingkat percabangan sungai (Rb) yaitu 1,33. Dari Hasil Pengamatan di lapangan, luas penampang rata-rata Sub DAS Ensabal di bagian hulu adalah 16,57 m2 dan di bagian hilir adalah 36,12m2. Untuk nilai kualitas air terdiri dari pH dengan rata-rata 6,58 di bagian hulu dan 6,07 di bagian hilir, temperatur air dengan rata-rata 28,80C di bagian hulu dan 28,60C di bagian hilir, dan kecerahan dengan rata-rata 61,71 cm di bagian hulu dan 53,86 cm di bagian hilir. Debit aliran rata-rata yaitu 1,78m3/detik di bagian hulu dan 4,95 m3/detik di bagian hilir. Hasil analisis di laboratorium menunjukkankonsentrasi sedimen (TSS) dengan rata-rata 7 mg/l di bagian hulu dan 12 mg/l di bagian hilir. Debit sedimen rata-rata 1,10 ton/hari di bagian hulu dan 6,12 ton/hari di bagian hilir. Kata Kunci : Karakteristik,DAS, Ensabal, Kapuas This research aims to study the characteristics of the subzone Ensabal conditions in Kapuas Sanggau . Ensabal subzone is located in the district, which has an area of 11,430 km² . Geographically subzone Ensabal lies between 0° 8'48,6 -0°15'3.39"N and 110°14'33,11"-110°23'33,8"BT . The research was conducted in subzone Ensabal with observational studies conducted in the field and in the laboratory . The field observations conducted to observe and take water samples were carried out for 7 days in the upstream and downstream subzone Ensabal located in the district, West Kalimantan Province . Observations in the Laboratory Quality and Health Land Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura conducted to analyze water samples . The analysis showed subzone Ensabal have dentritik pattern and form the watershed extends as a feather on the ground . Subzone Ensabal drainage density is 0.13 km/km2 , is low . Profile Melitang River in Sub Das Ensabal triangular on the upstream and downstream sections parabolic . Sub Das Ensabal have 2 order and branching river level index value (Rb) is 1.33 .From the results of field observations , the average cross-sectional area subzone Ensabal upstream is 16.57 m2 and downstream is 36.12 m2 . For water quality value consists of the average pH 6.58 and 6.07 upstream downstream , the water temperature with an average 28,80C 28,60C upstream and downstream , and the brightness of the mean average 61.71 cm in the upstream and downstream 53.86 cm. The average flow rate is 1.78 m3/sec upstream and 4.95 m3/sec downstream .Results of laboratory analysis showed concentrations of sediment (TSS) with an average of 7 mg/l in the upstream and 12 mg/l in the downstream . Sediment discharge an average of 1.10 tons/day in the upstream and 6.12 tons/ day in the downstream. Keywords : Characteristics , DAS , Ensabal , Kapuas
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH TERHADAP PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH DAN PUPUK NPK PADA MEDIA GAMBUT
Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Produksi bawang merah di Kalimantan saat ini tercatat sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah namun produksinya masih rendah. Rata-rata kebutuhan bawang merah di Kalimantan Barat sekitar 13.028 ton/tahun sedangkan produksi bawang merah tahun 2022 hanya sebesar 226,90 ton dari 118 ha luas panen. Bawang merah agar dapat berproduksi dengan maksimal perlu dilakukan budidaya yang baik, salah satunya dengan pemberian zat pengatur tumbuh dan pemupukan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh interaksi pemberian zat pengatur tumbuh dan dosis pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah yang terbaik pada media gambut. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, waktu penelitian mulai 15 Agustus s/d 25 Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama zat pengatur tumbuh dengan 2 taraf (tanpa zat pengatur tumbuh, dengan zat pengatur tumbuh) dan faktor kedua pupuk NPK dengan 3 taraf (0,8 g/polybag ; 1,2 g/polybag ; 1,Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah umbi, berat umbi segar (g) dan berat Umbi Kering Angin Per Rumpun (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah umbi, berat umbi segar (g) dan berat Umbi Kering Angin Per Rumpun (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ZPT secara mandiri berpengaruh terhadap variabel jumlah daun dan variabel jumlah umbi. Pemberian pupuk NPK secara mandiri berpengaruh terhadap variabel jumlah umbi
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG BURUNG PUYUH DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI EDAMAME DI TANAH PODSOLIK MERAH KUNING
Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merril.) dapat tumbuh dengan baik pada media tumbuh yang subur, unsur hara yang cukup, struktur dan aerasi tanah yang baik. Salah satu media tumbuh yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kedelai edamame adalah tanah podsolik merah kuning yang memiliki beberapa kendala. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberikan bahan organik berupa pupuk kandang burung puyuh dan pupuk anorganik NPK yang dikombinasikan dan diberikan secara berimbang. Penggunaan pupuk kandang burung puyuh sebagai bahan organik dapat memperbaiki kendala yang ada pada tanah podsolik merah kuning terutama sifat fisik tanah, dan penambahan NPK yang dapat diserap oleh tanaman secara cepat untuk memenuhi kebutuhan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara pupuk kandang burung puyuh dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai edamame di tanah podsolik merah kuning, serta mendapatkan dosis terbaik pupuk kandang burung puyuh dan NPK. Penelitian ini dilaksanakan dilahan penelitian Fakultas Petanian Universitas Tanjungpura pada tanggal 16 Agustus-14 November 2022. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu pemberian pupuk kandang burung puyuh (k) dan NPK (p) masing-masing dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan, sehingga total keseluruhan ada 108 sampel tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Interaksi antara dosis pupuk kandang puyuh 40 ton/ha + NPK 200 kg/ha dalam meningkatkan pertumbuhan kedelai edamame pada variabel berat kering tanaman. Pemberian pupuk kandang puyuh 30 ton/ha merupakan dosis terbaik untuk pertumbuhan kedelai edamame pada variabel jumlah cabang 4 minggu setelah tanam dan hasil kedelai edamame pada variabel bobot segar polong tertinggi serta jumlah polong isi.