Jurnal Peternakan Indonesia
Not a member yet
    495 research outputs found

    Analisis Logistik Pakan dan Prospek Pengembangan Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Tasikmalaya

    Full text link
    Jumlah sapi perah di Kabupaten Tasikmalaya masih sedikit jika dibandingkan daerah lain yang sudah menjadi sentra pengembangan sapi perah. Prospek pengembangan ternak sapi perah memerlukan kesiapan penyediaan pakan yang memadai untuk mendukung penambahan populasi ternak sapi perah. Tujuan penelitian: 1) Menganalisis tipologi peternakan dan logistik pakan; 2) Menganalisis prospek pengembangan pada peternakan sapi perah. Penelitian dimulai dari bulan Juni – Juli 2023 melalui metode survei menggunakan analisis deskriptif pada tipologi peternakan dan logistik pakan, serta strategi pengembangan (analisis SWOT). Kabupaten Tasikmalaya prospektif untuk pengembangan sapi perah menurut hasil penelitian dengan mempertimbangkan terlebih dahulu aspek logistik pakannya untuk dapat mendukung upaya peningkatan populasi ternak sapi perah. Hasil analisis prospek pengembangan sapi perah, Kabupaten Tasikmalaya berada pada Kuadran I. Strategi pengembangan sapi perah yang paling sesuai yaitu strategi agresif (growth oriented strategy) dengan prospek utama pada kemajuan usaha melalui kekuatan dan peluang yang dimiliki. Strategi yang disarankan yaitu: 1) Peningkatan pada sarana untuk logistik pakan, 2) Integrasi sapi perah dengan pertanian (padi, jagung), 3) Introduksi teknologi pengolahan pakan, 4) Memaksimalkan penggunaan lahan untuk penanaman hijauan berkualitas, dan 5) Mengoptimalkan peran koperasi dalam menyediakan pakan yang dibutuhkan. Saran penelitian yaitu pertimbangan kajian logistik pakan dan hasil analisis prospek pengembangan ternak untuk pengembangan sapi perah

    Hubungan antara Umur dan Libido Pejantan terhadap Kualitas Semen pada Sapi Simmental

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur dan libido pejantan terhadap kualitas semen sapi Simmental. Penelitian ini menggunakan 13 ekor pejantan sapi Simmental yang berumur 3-7 tahun di UPTD BPTSD Tuah Sakato. Variabel penelitian ini meliputi skor libido pejantan dan kualitas semen (motilitas, viabilitas, konsentrasi, dan abnormalitas spermatozoa). Data penelitian dianalisis dengan analisis regresi menggunakan aplikasi IBM SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan (P<0,05) antara umur pejantan dengan motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa, tetapi tidak berkorelasi signifikan (P>0,05) dengan libido pejantan dan konsentrasi semen. Terdapat korelasi yang signifikan (P<0,05) antara libido pejantan dengan konsentrasi dan viabilitas semen. Libido dan kualitas semen terbaik ditemukan pada pejantan yang berumur 6 tahun yaitu libido 4,50±0,55, konsentrasi semen 1.555,50±535,82 x 106/ml, motilitas 86,67±0,82%, viabilitas 83,65±6,37%, dan abnormalitas 6,64±0,75%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah umur pejantan memiliki korelasi dengan motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa sapi Simmental dan skor libido pejantan memiliki korelasi dengan konsentrasi dan viabilitas semen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur dan libido pejantan terhadap kualitas semen sapi Simmental. Penelitian ini menggunakan 13 ekor pejantan sapi Simmental yang berumur 3-7 tahun di UPTD BPTSD Tuah Sakato. Variabel  yang diamati pada penelitian ini meliputi libido pejantan dan kualitas semen (motilitas, viabilitas, konsentrasi, dan abnormalitas spermatozoa). Data penelitian dianalisis dengan analisis regresi menggunakan aplikasi IBM SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan (P<0,05) antara umur pejantan dengan motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa, tetapi tidak berkorelasi signifikan (P>0,05) dengan libido pejantan dan konsentrasi semen. Kemudian terdapat korelasi yang signifikan (P<0,05) antara libido pejantan dengan konsentrasi dan viabilitas semen, tetapi tidak terdapat korelasi yang signifikan (P>0,05) dengan motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Libido dan kualitas semen terbaik ditemukan pada pejantan yang berumur 6 tahun yaitu libido 4,50±0,55, konsentrasi semen 1.555,50±535,82 x 106/ml, motilitas 86,67±0,82%, viabilitas 83,65±6,37%, dan abnormalitas  6,64±0,75%.   Kata kunci : Libido, kualitas semen, sapi Simmental, umur

    HAMBATAN ADOPSI PEMANFAATAN IKAN SAPU-SAPU SEBAGAI PAKAN TERNAK DI PERAIRAN DANAU KABUPATEN SOPPENG: -

    Full text link
    Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp) merupakan persoalan karena sebagai kompetitor, dan juga tidak memiliki nilai jual, padahal memiliki kandungan protein tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun Tingkat adopsi peternak yang memanfaatkannya masih rendah. Tujuan penelitian mengetahui faktor yang menghambat adopsi pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak di perairan danau Soppeng. Populasi penelitian adalah seluruh peternak yang berjumlah 30 orang. Data penelitian dilakukan dengan survey dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner, FGD, serta wawancara mendalam. Data yang dikumpulkan adalah hambatan peternak dalam memanfaatkan adopsi ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak dengan variabel a) membutuhkan biaya, b) tidak dikonsumsi, c) tidak memiliki nilai jual, d) kesulitan penanganan, e) dan ketidaktahuan peternak terhadap manfaat ikan sapu-sapu. Data dianalisis deskriptif yang menunjukkan bahwa faktor hambatan peternak dalam adopsi pemanfaatan ikan sapu-sapu sebanyak 50% menyatakan membutuhkan biaya; 80% tidak dikonsumsi; 83,3% tidak mengetahui cara pengolahan ; 86,7% tidak memiliki nilai jual, serta 73% menyatakan sulit penanganan.Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp) bagi sebagian besar petani merupakan persoalan karena menjadi hama pertanian yaitu sebagai kompetitor bagi ikan budidaya baik dalam habitat maupun pencarian makan,  dan juga ikan ini mempunyai sifat yang merusak sarang pemijahan ikan lain di sekitarnya yang berakibat menurunkan produktivitas ikan budidaya. Selain mendominasi jumlah tangkapan ikan oleh nelayan juga mengakibatkan ikan-ikan lain kurang berkembang. Ikan ini juga dapat merusak alat tangkap jaring insang yang dipakai oleh mayoritas nelayan.  Salah satu penyebab ikan ini berkembang biak  karena tidak memiliki nilai jual, sehingga apabila tertangkap oleh nelayan cenderung untuk dibuang kembai ke perairan, sehingga mengakibatkan populasi ikan sapu-sapi semakin banyak.  Walaupun ikan sapu-sapu ini banyak, tidak dapat dijual karena tidak memiliki harga, padahal ikan sapu-sapu ini memiliki kandungan protein tinggi, sehingga dapat diolah dan digunakan menjadi tepung ikan sapu-sapu. Namun demikian, adopsi oleh petani dalam pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak masih rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang menghambat adopsi pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak di perairan danau Soppeng. Penentuan petani sebagai responden dilakukan secara purposive , dengan jumlah responden 30 orang petani peternak. Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan survey dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara menggunakan kuesioner, focus group discussion, serta wawancara secara mendalam (indepth study) kepada beberapa informan kunci. Analisis data menggunakan analisis deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor yang menghambat adopsi  pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak di perairan danau soppeng   adalah ketidaktahuan petani terhadap ikan sapu-sapu memiliki manfaat , sulit penangannnya karena kulitnya keras, tidak memiliki nilai jual , ketidak tahuan peternak mengolah, dan butuh biaya. Untuk itu diperlukan peningkatkan pengetahuan peternak dalam memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak, yang dapat mengurangi biaya pakan dalam usaha budidaya ternak, agar peternak dapat meningkatkan produktifitas, pendapatan dan kesejahteraan pada peternakan rakyat di pedesaan.        Kata kunci: hambatan adopsi, ikan  sapu-sapu, pakan ternak, soppeng   &nbsp

    Analisis Ekonomi Usaha Penggemukan Sapi Potong di Kenagarian Panyakalan Kecamatan Kubung Kabupaten Solok: Income Analysis of Beef Cattle Fattening Business Case Study: “Jerisman” Beef Cattle Business in Panyakalan Village Kubung District Solok Regency

    No full text
    Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontribusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisis pendapatan usaha penggemukan sapi potong. Studi ini mengambil kasus pada usaha penggemukan sapi potong “Jerisman” yang berada di nagari Panyakalan Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Penentuan lokasi ditetapkan secara purposive, dimana usaha penggemukan sapi potong ini merupakan usaha penggemukan sapi potong dengan skala usaha lebih besar dibanding usaha yang lain di Kenagarian Panyakalan tersebut yaitu 45 ekor. Data dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan indikator keuntungan yaitu income analisis, R/C ratio, dan BEP (Break Even Point). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usaha penggemukan sapi potong Bapak Jerisman selama satu periode pemeliharaan adalah sebesar Rp 56.654.667/Periode atau Rp 9.442.472/bulan. Nilai R/C ratio adalah sebesar 1,1 dan BEP nilai penjualan sebesar Rp. 271.277.778.  Sedangkan BEP unit sebesar 11,3 ekor.  Ini artinya dengan penjualan sapi sebanyak 11 ekor usaha ini tidak untung dan tidak rugi. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha penggemukan sapi potong Bapak Jerisman menguntungkan.Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontribusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui performance ekonomi usaha ternak sapi potong yang meliputi modal, biaya, penerimaan, pendapatan dan Break Even Point (BEP. Studi ini mengambil kasus pada salah satu usaha peternakan sapi potong “Jerisman” yang berada di nagari Panyakalan Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Penentuan lokasi ditetapkan secara purposive, dimana usaha ternak sapi potong ini merupakan usaha ternak sapi ptong dengan skala usaha lebih besar dibanding usaha yang lain di Kenagarian Panyakalan tersebut yaitu 45 ekor. Metode analisis dalam aspek ekonomi yaitu income analisis, R/C ratio, dan BEP (Break Even Point). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usaha ternak  sapi potong Bapak Jerisman selama satu periode pemeliharaan adalah sebesar Rp 56.654.667/Periode atau Rp 9.442.472/bulan. Nilai R/C ratio adalah sebesar 1,1 dan BEP nilai penjualan sebesar Rp. 271.277.778.  Sedangkan BEP unit sebesar 11,3 ekor.  Ini artinya dengan penjualan sapi sebanyak 11 ekor usaha ini tidak untung dan tidak rugi

    Analysis of Food Security and Livestock-Based Food Consumption Patterns among Poor Households in the Coastal Area of Demak Regency: Analisis Ketahanan Pangan dan Pola Konsumsi Pangan Ternak pada Rumah Tangga Miskin di Wilayah Pesisir Kabupaten Demak

    Full text link
    Demak Regency, despite being a food-producing area, faces potential food insecurity. This study analyzed household income, food and non-food expenditures, spending and consumption of livestock- based foods, and food security based on energy adequacy levels (EAL) and the share of food expenditures. The role of animal protein consumption was emphasized due to its importance in improving nutrition and food security among poor households. The research was conducted from October 2024 to March 2025 in Sayung (Tugu, Banjarsari) and Bonang (Purworejo, Morodemak) Subdistricts, purposively selected for their highest poverty levels. Using a survey of 104 households, data were collected through interviews, 2×24-hour food recall, and observation. The results showed that average income IDR 1,790,290.89/ month; food expenditure IDR 1,041,490.40; livestock-based food expenditure IDR 193,389.42; non- food expenditure IDR 744,884.16; livestock-based food consumption 48.10 g/capita/day; food insecurity dominated (73.08%), while 26.92% were food secure.Kabupaten Demak berpotensi mengalami kerawanan pangan, meskipun merupakan wilayah penghasil pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan rumah tangga, pengeluaran pangan, pengeluaran non-pangan, dan kondisi ketahanan pangan berdasarkan tingkat kecukupan energi serta proporsi pengeluaran pangan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025 di Kecamatan Sayung (Desa Tugu dan Banjarsari) dan Kecamatan Bonang (Desa Purworejo dan Morodemak). Lokasi penelitian dipilih secara purposif berdasarkan pertimbangan tertentu, dengan mengambil daerah yang memiliki jumlah rumah tangga miskin tertinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Jumlah sampel sebanyak 104 rumah tangga. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner terbuka, food recall 2x24 jam, dan metode observasi. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Metode analisis kondisi ketahanan pangan menggunakan analisis silang (cross-classification) antara Tingkat Kecukupan Energi (TKE) dan pangsa pengeluaran pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) rata-rata pendapatan rumah tangga miskin di Kabupaten Demak adalah Rp 1.790.291 per bulan; 2) rata-rata pengeluaran untuk konsumsi pangan sebesar Rp 1.041.490 per bulan; 3) rata-rata pengeluaran non-pangan sebesar Rp 744.884 per bulan; 4) kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di wilayah pesisir didominasi oleh kategori rawan pangan sebesar 73,08% dan sisanya 26,92% masuk dalam kategori aman pangan. Kata Kunci: Ketahanan Pangan Rumah Tangga, Pendapatan Rumah Tangga, Pengeluaran Pangan, Tingkat Kecukupan Energ

    Karakterisasi Rumput Laut berdasarkan Densitas, Warna, dan Rendemen sebagai Bahan Pakan

    Full text link
    Rumput laut merupakan bahan pakan yang potensial bagi ternak. Mempunyai kandungan nutrisi yang baik terutama mineral dan senyawa aktif. Setiap rumput laut memiliki karakteristik yang berbeda yang mencerminkan kekhasan dan kandungan nutrisinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan empat jenis rumput laut berdasarkan karakteristiknya. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perbedaan empat jenis rumput laut sebagai perlakuan dengan ulangan sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati adalah densitas, warna, serta persentase rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis rumput laut mempengaruhi densitas. perbedaan warna dan persentase rendemen. Densitas keempat jenis rumput laut antara 0,851-0,974 g/ml, dengan rataan 0,860 g/ml. Densitas Gracilaria spp. 0,807 g/ml, Sargassum spp. 0,851 g/ml, Eucheuma spp. 0,808 g/ml, dan Gelidium spp. 0,974 g/ml. Warna keempat jenis rumput laut berbeda Gracilaria spp. light grey (RGB 186, 185, 166), Sargassum spp. grey (RGB 146, 148, 105), Eucheuma spp. light grey (RGB 205, 201, 190), dan Gelidium spp. faded brown (RGB 189, 178, 157). Persentase rendemen Gracilaria spp. 8.9%, Sargassum spp. 10%, Eucheuma spp. 5,3%, dan Gelidium spp. 7,8%. Empat jenis rumput laut tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda berdasarkan densitas, warna, dan rendemen, sehingga akan mempengaruhi pemanfaatnya sebagai bahan pakan ruminansia.Rumput laut merupakan bahan pakan yang potensial bagi ternak. Mempunyai kandungan nutrien yang baik terutama mineral dan senyawa aktif yang mempunyai efek bioaktif. Setiap rumput laut memiliki karakteristik yang berbeda yang mencerminkan kekhasan dan kandungan nutriennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan empat jenis rumput laut berdasarkan karakteristiknya. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perbedaan jenis rumput laut sebagai perlakuan dengan ulangan sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati adalah densitas, warna, serta persentase rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis rumput laut mempengaruhi densitas. Pengamatan memperlihatkan perbedaan warna dan persentase rendemen. Densitas keempat jenis rumput laut antara 0,851-0,974 g/ml, dengan rataan 0,860 g/ml. Densitas Gracilaria spp 0,807 g/ml, Sargassum spp 0,851 g/ml, Eucheuma spp 0,808 g/ml, dan Gelidium spp 0,974 g/ml. Warna keempat jenis rumput laut berbeda Gracilaria spp light grey (RGB 186, 185, 166), Sargassum spp grey (RGB 146, 148, 105), Eucheuma spp light grey (RGB 205, 201, 190), dan Gelidium spp faded brown (RGB 189, 178, 157). Persentase ekstrak kental Gracilaria spp 8.9%, Sargassum spp 10%, Eucheuma spp 5,3%, dan Gelidium spp 7,8%

    Perbandingan Karakteristik Fisik dan Sensoris Es Krim Berbasis Susu Rendah Laktosa, Susu UHT, dan Susu Kedelai: Comparison of the Physical and Sensory Characteristics of Ice Cream Made with Low- Lactose Milk, UHT Milk, and Soy Milk

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai jenis susu sebagai bahan baku utama pada pembuatan es krim terhadap karakteristik fisik dan sensori. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan (susu sapi rendah laktosa hasil hidrolisis enzimatis, susu sapi rendah laktosa komersial, susu sapi UHT komersial, dan susu kedelai) dan 5 ulangan. Parameter yang diamati yaitu overrun, melting time dan sensori. Penggunaan berbagai jenis susu dalam pembuatan es krim memberikan pengaruh signifikan (P<0.05) terhadap nilai overrun serta sensori warna, aroma tekstur, dan overall es krim, tetapi tidak memberikan pengaruh signifikan (P>0.05) pada sensori rasa. Es krim berbasis susu sapi (UHT, rendah laktosa hidrolisis enzimatis, dan rendah laktosa komersial) memiliki karakteristik overrun dan melting rate yang lebih rendah dibandingkan susu kedelai, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan diantara ketiga sampel tersebut. Walaupun es krim berbasis susu rendah laktosa hasil hidrolisis enzimatis menunjukkan nilai sensori yang lebih rendah pada atribut warna, aroma dan tekstur dibandingkan susu UHT konvensional, namun es krim berbasis susu rendah laktosa tetap layak dikembangkan sebagai alternatif fungsional bagi penderita intoleransi laktosa.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai jenis susu sebagai bahan baku utama pada pembuatan es krim terhadap karakteristik fisik dan sensori. Metode yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan (susu sapi rendah laktosa hasil hidrolisis enzimatis, susu sapi rendah laktosa komersial, susu sapi UHT komersial, dan susu kedelai) dan 5 ulangan. Parameter yang diamati yaitu karakteristik overrun, melting time dan sensori. Penggunaan berbagai jenis susu dalam pembuatan es krim memberikan pengaruh signifikan (P<0.05) terhadap nilai overrun serta sensori warna, aroma tekstur, dan overall es krim, tetapi tidak memberikan pengaruh signifikan (P>0.05) pada sensori rasa. Es krim berbasis susu sapi (UHT, rendah laktosa hidrolisis enzimatis, dan rendah laktosa komersial) memiliki karakteristik overrun dan melting rate yang lebih rendah dibandingkan susu kedelai, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan diantara ketiga sampel tersebut. Walaupun es krim berbasis susu rendah laktosa hasil hidrolisis enzimatis menunjukkan nilai sensori yang lebih rendah pada atribut warna, aroma dan tekstur dibandingkan susu UHT konvensional, namun es krim berbasis susu rendah laktosa tetap layak dikembangkan sebagai alternatif fungsional bagi penderita intoleransi laktosa

    Pengaruh Buah Mangrove sebagai Sumber Tanin terhadap Kecernaan Serat Indigofera secara In Vitro

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik pemanfaatan buah mangrove (Sonneratia alba) sebagai sumber tannin pada Indigofera zollingeriana terhadap kecernaan fraksi serat NDF, ADF, sellulosa dan hemiselulosa secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi P1 (100% Indigofera zollingeriana), P2 (Indigofera zollingeriana + 3% buah mangrove), P3 (Indigofera zollingeriana + 6% buah mangrove) dan P4 (Indigofera zollingeriana + 9% buah mangrove). Variabel yang diukur dalam penelitian ini mencakup kecernaan NDF, ADF, sellulosa dan hemiselulosa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan perbedaan antar perlakuan diuji dengan Duncan’s Multiple Range test (DMRT). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat signifikan (P<0,01) terhadap kecernaan NDF dan kecernaan selulosa, signifikan (P<0,05) terhadap kecernaan ADF, dan tidak berpengaruh secara signifikan (P>0,05) terhadap hemiselulosa. Rata-rata nilai kecernaan yang diperoleh adalah sebagai berikut kecernaan NDF berkisar 58,55%-61,23% kecernaan ADF 58,51%-60,29% kecernaan selulosa 59,68%-62,06% dan kecernaan hemiselulosa 61,85%-64,31% berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan buah mangrove (Sonneratia alba) sebagai sumber tannin pada Indigofera zollingeriana dapat membantu mempertahankan kecernaan fraksi serat (NDF, ADF, selulosa, dan hemiselulosa)

    Determinan Faktor Daya Saing Rendang Daging Sapi Sebagai Produk Pangan Berbasis Kearifan Lokal : Determinants of the Competitiveness of Beef Rendang Based on Local Wisdom

    No full text
    Pengembangan usaha dari olahan hasil ternak berbasis kearifan lokal dapat menjadi stimulan terhadap peningkatan pembangunan peternakan di Sumatera Barat. Rendang daging sapi adalah olahan hasil ternak yang merupakan masakan khas masyarakat Minangkabau. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor penentu dalam peningkatan daya saing rendang daging sapi. Penelitian ini dilakukan pada 31 UMKM rendang daging sapi yang berada di Kota Padang, Payakumbuh, Kota Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota. Metode penelitian adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM-PLS). Model dibangun berdasarkan indikator daya saing yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi, struktur, dan persaingan perusahaan, industri pendukung, peran pemerintah, dan peran peluang. Hasil penelitian mendapatkan peran pemerintah berpengaruh signifikan sedangkan kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi, struktur, dan persaingan perusahaan, industri pendukung, dan peran peluang tidak berpengaruh signifikan terhadap daya saing rendang daging sapi di Sumatera BaratPengembangan usaha dari produk olahan hasil ternak berbasis kearifan lokal dapat menjadi stimulan terhadap peningkatan pembangunan peternakan di Sumatera Barat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan daya saing. Rendang daging sapi adalah produk olahan hasil ternak yang merupakan  masakan khas masyarakat Minangkabau.  Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor penentu dalam peningkatan daya saing rendang daging sapi. Penelitian ini dilakukan pada UMKM rendang daging sapi yang berada di kota Padang, Payakumbuh, dan kabupaten Limapuluh Kota. Metode penelitian adalah metode survei  dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM-PLS). Model dibangun berdasarkan indikator daya saing yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi, struktur, dan persaingan perusahaan, industri pendukung, peran pemerintah, dan peran peluang. Hasil penelitian mendapatkan peran pemerintah berpengaruh signifikan sedangkan kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi, struktur, dan persaingan perusahaan, industri pendukung, dan peran peluang tidak berpengaruh signifikan terhadap daya saing rendang daging sapi di Sumatera Barat

    SUBSTITUSI RANSUM KOMERSIAL DENGAN DUK–ATF FERMENTASI RHIZOPUS OLIGOSPORUS DAN DAMPAKNYA TERHADAP BOBOT KARKAS SERTA KUALITAS DAGING PAHA ATAS AYAM BROILER: Substitution of Commercial Diet with DUK–ATF Fermented by Rhizopus oligosporus and Its Effect on Carcass Weight and Meat Quality of Broiler Thigh

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan campuran daun ubi kayu dan ampas tahu fermentasi (DUK–ATF) dengan Rhizopus oligosporus sebagai pengganti sebagian ransum komersial terhadap bobot karkas, kadar kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas ayam broiler. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan level DUK–ATF (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan level DUK–ATF dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas, kadar kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas broiler. Perlakuan penggunaan 15% (D) menghasilkan kadar kolesterol 24,81 mg/100g dan lemak kasar 5,79%, yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan kontrol (38,39 mg/100g dan 7,42%), dengan bobot karkas 1329,90 g yang masih dalam kisaran normal. Disimpulkan bahwa penggunaan DUK–ATF hingga 15% dapat meningkatkan kualitas daging ayam broiler melalui penurunan kolesterol dan lemak tanpa menurunkan performa secara signifikan. Aplikasi bahan pakan fermentasi ini juga berpotensi mendukung kemandirian pakan lokal dan pengelolaan limbah agroindustri secara berkelanjutan.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan campuran daun ubi kayu dan ampas tahu fermentasi (DUK–ATF) dengan Rhizopus oligosporus sebagai pengganti sebagian ransum komersial terhadap bobot karkas, kadar kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas ayam broiler. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan level DUK–ATF (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan level DUK–ATF dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas, kadar kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas broiler. Perlakuan 5% DUK–ATF menghasilkan bobot karkas tertinggi (1488,28 g), sedangkan perlakuan 20% memberikan bobot karkas terendah (1288,18 g). Selain itu, perlakuan tertinggi (20% DUK–ATF) juga menghasilkan kadar kolesterol dan lemak kasar terendah, masing-masing sebesar 23,39 mg/100 g dan 5,50%. Penurunan ini diduga terkait dengan kandungan serat dan senyawa bioaktif hasil fermentasi yang berperan dalam menekan sintesis lipid dalam jaringan. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa DUK–ATF berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk meningkatkan kualitas kesehatan produk daging broiler melalui penurunan kolesterol dan lemak, meskipun penggunaannya perlu dioptimalkan agar tidak menurunkan bobot karkas

    432

    full texts

    495

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Peternakan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇