JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri
Not a member yet
210 research outputs found
Sort by
PENENTUAN RUTE ARMADA PENGIRIMAN PT.AAA MENGGUNAKAN ALGORITMA TWO-PHASE TABU SEARCH PADA VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH HETEROGENEOUS FLEET AND TIME WINDOWS UNTUK MENGATASI KETERLAMBATAN PENGIRIMAN
PT.AAA merupakan perusahaan yang memproduksi cat kayu, cat tembok, cat batu, pelitur, dan thinner yang mempunyai gudang distribusi atau yang dijadikan sebagai DC untuk kegiatan distribusi. PT. AAA mempunyai layanan pengiriman produk ke pelanggan dengan menggunakan armada sendiri untuk pelanggan di Pulau Jawa. Penentuan rute pengiriman produk dilakukan oleh operator berdasarkan sering atau biasa dilewati oleh armada bukan dengan perencanaan yang matang. Hal tersebut mengakibatkan sejumlah keterlambatan pengiriman bagi perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan usulan rute pengiriman produk ke pelanggan khususnya untuk daerah Karesidenan Surakarta dengan menggunakan Algoritma Two-Phase Tabu Search untuk mengurangi jumlah keterlambatan pengiriman produk. Adapun hasil dari penelitian ini adalah urutan rute dan kendaraan yang digunakan untuk melakukan pengiriman produk. Hasil perhitungan dari penelitian ini adalah memberikan usulan urutan rute pengiriman untuk armada pengiriman dengan jarak tempuh sebesar 22,51% lebih kecil dibandingkan urutan rute pada kondisi awal. Jarak tempuh tersebut berkurang dari 938,93 km menjadi 727,516 km. Akibat dari pengurangan jarak tempuh tersebut, maka rata-rata keterlambatan pengiriman produk ke pelanggan berkurang menjadi empat lokasi untuk setiap harinya
MENURUNKAN LEAD TIME PENGECEKAN MATERIAL TIN CASE 36 LONG DENGAN METODE VALUE STEAM MAPPING (VSM) PADA PT. F
Lead time merupakan salah satu faktor penting untuk mengukur kerja bagian proses produksi termasuk juga menentukan kualitas dan cost tentunya. Semakin kecil nilai lead time, berarti produk bisa diproduksi dengan waktu lebih cepat. Dalam sebuah industri waktu berarti uang. Semakin panjang waktu prosesnya, maka semakin besar uang yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu industri selalu berlomba – lomba untuk menekan lead time dengan menggunakan berbagai metode, salah satunya dengan Value Stream Mapping (VSM). Tentu saja sebagai perusahaan yang sedang berkembang, PT F perlu menerapkan Value Stream Mapping (VSM). Konsep ini adalah sebuah konsep yang menekankan pada identifikasi jenis aktivitas yang memiliki nilai tambah, yang tidak memiliki nilai tambah, dan aktivitas pemborosan. Setelah itu, melakukan identifikasi penyebab terjadinya pemborosan dan tipe aktivitas tersebut. Kemudian melakukan upaya mengeliminasi waste yang ada. Karena masih adanya fluktuasi lead time, perlu menerapkan Value Stream Mapping (VSM) agar dapat mengurangi waste activities, sehingga efisiensi dapat ditingkatkan dengan turunnya lead time. Untuk menganalisa masalah perlu adanya alat pengendali kualitas yaitu seven tools. Dengan menggunakan Seven Tools tersebut maka keefektifitasan lead time yang digunakan sekarang dapat turun hingga 50% atau 2 material/hari
ANALISIS KUALITAS LULUSAN TEKNIK INDUSTRI FT UMJ BERDASARKAN TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA LULUSAN
kemampuan yang dimiliki oleh alumni. Dimana, untuk mengetahui tingkat kepuasan penggua terhadap alumni juga dibutuhkan didalam borang akreditasi BAN PT yang dimuat dalam beberapa standar. Adapun tingakat kepuasan pengguna alumni dapat dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada pengguna/instanai terkait yang menggunakan alumni teknik industry UMJ yang berisikan atribut yang termuat dlam borang akreditasi program studi Ban PT adalahKerjasama tim, Pengembangan diri, Komunikasi, keahlian berdasarkan bidang ilmu (professional), etika dan moral serta kemampuan dalam menggunakan Bahasa asing (inggris). Dari hasil kuisioner dapat ditarik suatu hasil akhir bahwa alumni jurusan teknik industry Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta kurang dalam penguasaan dan penggunaan bahasa inggris. Oleh sebab itu perlu dilakukan tindak lanjutnya seperti ikut serta dalam kursus bahasa inggris, selalu menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari- hari, mengingat kosakata- kosakata bahasa inggris
ANALISIS BEBAN KERJA DOSEN BIDANG PENDIDIKAN DAN PENUNJANG MENGGUNAKAN METODE KNOWLEDGE CONVERSION 5C-4C
Dosen sebagai elemen penggerak dalam perguruan tinggi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong kemajuan perguruan tinggi. Dalam melaksanakan tugasnya melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan faktor penunjang akan dinilai dengan menggunakan BKD (Beban Kerja Dosen). Dari observasi awal pada BKD bidang pendidikan dan penunjang terdapat beberapa dosen yang telah melebih 12 SKS pada bidang pendidikan dan lebih dari 16 SKS pada total semua bidang. Terdapat rentang antara 0 SKS – 27,2 SKS pada bidang pendidikan semester ganjil periode 2016/2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi informasi dan knowledge BKD bidang pendidikan dan penunjang dosen. Perhitungan BKD dimulai dengan mengidentifikasi data bidang pendidikan dan faktor penunjang. Pengolahan data menjadi informasi menggunakan metode 5C yang terdiri dari contextualized, categorized, calculated, corrected, dan condensed. Proses konversi selanjutnya untuk mendapatkan knowledge dilakukan dengan metode 4C yang terdiri dari comparison, consequencess, connection, dan conversation. Hasil penelitian ini menunjukan bobot BKD sebagian besar dalam keadaan overload dari standar maksimal beban kerja yakni 16 SKS dan pembagian beban kerja belum merata pada tiap clusternya. Ditemukan knowledge berupa tingkat JFA dosen berpengaruh terhadap pembagian kerja dosen. Kelebihan beban kerja dan belum meratanya pembagian bobot kerja ini mengindikasikan bahwa masih dibutuhkannya tambahan SDM yang mumpuni untuk membantu proses pencapaian kinerja yang optimal
RANCANGAN PROGRAM PENINGKATAN KELULUSAN TEPAT WAKTU MAHASISWA TINGKAT SATU PADA PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS TELKOM DENGAN MENGGUNAKAN METODE KNOWLEDGE CONVERSION 5C-4C
Program Studi Teknik Industri merupakan prodi di Universitas Telkom yang terakreditasi A sehingga menjadi prodi yang diminati oleh calon mahasiswa baru. Terbukti dengan adanya peningkatan jumlah mahasiswa sebesar 24% pada tahun 2015. Peningkatan jumlah mahasiswa tidak sebanding lurus dengan pencapaian kelulusan tepat waktu di tingkat satu karena terjadi penurunan sebesar 13,34%. Ketua Prodi TI mengatakan bahwa keterlambatan lulus tingkat satu dapat mempengaruhi akreditasi program studi. Keterlambatan lulus tingkat satu dapat dilihat dari IP, IPK, dan nilai huruf setiap mata kuliah tingkat satu. Ketiga hal tersebut merupakan bentuk dari prestasi belajar seorang mahasiswa. Prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam penelitian ini, faktor yang diidentifikasi untuk diketahui keterkaitannya dengan prestasi belajar yaitu faktor dosen, motivasi belajar, strategi belajar, asal sekolah dan kota, kegiatan yang dilakukan mahasiswa ketika di tingkat satu, dan tunjangan beasiswa ketika ditingkat satu. Faktor-faktor tersebut diidentifikasi menggunakan knowledge conversion 5c-4c dengan cara mengkonversikan data menjadi informasi dengan diberi 5 nilai tambah yaitu contextualized, categorized, calculated, corrected dan condensed. Kemudian mengkonversikan informasi menjadi knowledge dengan diberi 4 nilai tambah yaitu comparison, consequences, connection, dan conversation. Berdasarkan hasil knowledge conversion, program yang dapat meningkatkan ketepatan waktu lulus tingkat satu di periode selanjutnya dengan cara melalui seminar mengenai self-awareness dan goal setting, pertemuan terjadwal dengan dosen wali, dan cara dosen dalam mengajar
IMPLEMENTASI PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK XX KAPLET PADA PROSES PENGEMASAN PRIMER DENGAN PENERAPAN KONSEP PDCA
PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang Healthcare dan Pharmaceutical. PT. XYZ memiliki beberapa produk unggulan salah satunya adalah produk XX Kaplet sebagai Obat yang dapat meningkatkan Kulaitas tidur, XX Kaplet selalu di produksi setiap bulannya, dengan jumlah batch berbeda-beda, setelah melakukan penelitian pada proses pengemasan primer (stripping) XX Kaplet penulis mengetahui bahwa XX Kaplet memiliki masalah cacat pada hasil strippingnya, jenis cacat antara lain adalah : strip bocor, ukuran kaplet tidak sesuai, kaplet double dan strip yang tidak rapi. Pada penelitian presentase cacat selama bulan febuari 2016 adalah 8% sementara batas toleransi yang diberikan perusahaan adalah 3%. Pengendalian kualitas harus dilakukan melalui proses yang terus-menerus dan berkesinambungan. Proses pengendalian kualitas tersebut dapat dilakukan dengan melalui penerapan PDCA (Plan – Do – Check – Action) yang diperkenalkan oleh Dr. W. Edwards Deming, perbaikan menggunakan siklus ini juga dibantu dengan alat kendali mutu (seven tools) untuk menunjang perhitungan dan analisa data-data yang ada. Deming yang merupakan pencetus dari siklus PDCA ini mengatakan bahwa jika organisasi ingin menghasilkan mutu dari produk atau jasa yang akan dihasilkan, maka roda siklus PDCA harus berputar. Setelah implementasi perbaikan dilakukan melalui penerapan metode PDCA dengan 4 siklus yaitu (Plan – Do – Check – Action) tingkat kecacatan menurun dari yang sebelumnya adalah 0.085 DPU menjadi 0.030 DPU, hal ini menunjukan bahwa kualitas strip XX Kaplet meningkat.dengan penurunan cacat sebanyak 0.055 DPU. dan sudah memenuhi standar toleransi cacat yang ditetapkan oleh PT. XYZ
PERANCANGAN DESAIN KEMASAN PRODUK OLAHAN COKLAT “COKADOL” DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT
Cokadol merupakan salah satu produk olahan coklat UPPKS Karya Lestari Padukuhan Gumawang. Produk ini berupa produk coklat dengan berisi dodol coklat. Pada saat ini produk tersebut sudah dipasarkan, meskipun pemasarannya belum meluas namun dari konsumen mendapatkan respon yang positif. Mengingat produk ini telah mendapatkan ijin P-IRT dan dengan adanya respon yang baik dari masyarakat maka pihak pengelola usaha berupaya meningkatkan kualitas produk. Adapun kualitas produk yang dimaksud adalah upaya pengembangan kemasan produk Cokadol. Pihak pengelola memandang perlu adanya perbaikan di dalam pengemasan produk demi menarik para konsumen terhadap produk ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan merancang desain kemasan produk Cokadol dengan metode Quality Function Deployment. Langkah-langkah di dalam penelitian ini mengikuti tahapan pada metode Quality Function Deployment namun hanya sampai pada tahap Part Deployment. Adapun jumlah sampel menggunakan teori jumlah atribut dikalikan 5 hingga 10 sesuai pendapat Heirs et al Teknik sampling menggunakan purposive samping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan suara konsumen atribut desain kemasan yang diinginkan antara lain, jenis bahan kemasan, harga yang terjangkau, dibuat dengan warna yang menarik, dapat digunakan sebagai tas oleh oleh, mempunyai bentuk yang unik, terdapat dalam berbagai ukuran, dapat didaur ulang. Sedangkan respon teknis yang dilakukan antara lain adanya penambahan logo, pemilihan bahan dengan kualitas baik, menambahkan warna dan motif yang unik dan desain yang multifungsi dan flexibl
PERANCANGAN PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN HOTEL XYZ MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD)
Saat ini industri pariwisata memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu wilayah yang memiliki potensi untuk industri pariwisata di Indonesia adalah wilayah Bandung. Hotel XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di dalam bidang jasa perhotelan di Bandung yang merupakan Hotel berbintang dua dengan tagline “Where Budget Meet Comfort” dimana tagline tersebut menginterpretasikan bahwa ini masih ke dalam kategori hotel budget dengan harga terjangkau. Namun, Hotel XYZ mengalami masalah dengan revenue yang tidak sesuai dengan target yang ditetapkan, khususnya pada bagian “room”. Hal ini terindikasi karena kualitas layanan yang kurang baik pada Hotel XYZ berdasarkan guest comment hotel dan nilai review di OTA (Online Travel Agent). Oleh karena itu, Hotel XYZ Akan melakukan pengembangan untuk peningkatan kualitas pada layanannya.Tujuan dan hasil dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi untuk meningkatakan kualitas layanan yang didasari oleh sebelas true customer needs. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Quality Function Deployment (QFD). QFD adalah salah satu metode yang berfungsi untuk menerjemahkan kebutuhan pelanggan dalam karakteristik produk dimana metode ini mempertimbangkan kapabilitas perusahaan untuk mengimplementasikannya
PENERAPAN METODE 5S UNTUK MEMINIMASI WASTE MOTION PADA PROSES PRODUKSI KERUDUNG INSTAN DI CV. XYZ DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING
CV. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang industri pakaian. Penelitian ini berfokus pada produksi kerudung instan. Berdasarkan data perusahaan, CV. XYZ tidak mampu mencapai target produksi sehingga adanya keterlambatan pengiriman produk kerudung instan pada periode pemesanan di tahun 2017. Permasalahan tersebut diindikasi adanya waste pada proses produksi. Dengan pendekatan lean manufacturing, dilakukan pemetaan dan identifikasi pada value stream mapping dan process activity mapping. Pada pemetaan value stream mapping didapatkan nilai lead time pembuatan kerudung instan sebesar 4727,55 detik. Dan pada identifikasi process activitymapping didapatkan adanya waste motion sebesar 24% pada proses produksi kerudung instan. Sehingga perlu adanya suatu perbaikan untuk meminimasi waste motion yang terjadi pada proses produksi kerudung instan. Selanjutnya mengindentifikasi akar penyebab waste motion menggunakan tools lean manufacturing, yaitu fishbone diagram dan 5 whys. Pada tahap selanjutnya untuk menyelesaikan penyebab dari waste motion adalah dengan menerapkan metode 5S. Pada usulan rancangan perbaikan untuk meminimasi waste motion adalah dengan menerapkan seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke hampir di seluruh workstation. Dari usulan rancangan perbaikan yang dibuat, kemudian memetakan proses produksi pada value stream mapping future state dan didapatkan hasil lead time yang berkurang menjadi 4561,60 detik
PERANCANGAN ALAT BANTU ALAT PEMANTAU AREA PRODUKSI YANG ERGONOMIS DENGAN METODE VALUE ENGINEERING (STUDI KASUS PT BT)
PT BT mengatur kenyamanan pekerja dan pengawasan mutu produk di area produksi dalam beberapa parameter diantaranya dilakukan pemantauan suhu ruang, kelembaban ruang, instensitas cahaya, jumlah partikel debu, sirkuliasi udara, dan cemaran mikroba. Data yang didapatkan melalui interview dan penyebaran kuisioner SNQ kepada 10 orang operator, 80% operator mengeluh kelelahan setelah melakukan pengukuran partikel debu dikarenakan pada proses pengukurannya dilakukan secara manual.Metode yang digunakan dalam perancangan alat bantu adalah Value Engineering yang memiliki tahap-tahap yaitu, tahap informasi, tahap kreatif, tahap evaluasi, tahap pengembangan dan tahap rekomendasi. Dalam pengumpulan data dan pemecahan masalah menggunakan SNQ (Standart Nordic Quistionnaire) , REBA, Uji keprisisian data partikel debu, serta pendekatan biomekanika dan antropometri.Hasil evaluasi didapat melalui analisis posisi kerja menggunakan REBA didapat skor 11 (level resiko sangat tinggi) sebelum menggunakan alat bantu dan skor 2 (level resiko rendah) setelah menggunakan alat bantu. Pada posisi kerja berdasarkan biomekanika hasil Gaya Tekan (Fcompression) dan Gaya Geser (Fshear) didapat masing-masing sebesar 9616,30 N dan 676,2 N tanpa menggunakan alat bantu sedangkan Gaya Tekan (Fcompression) dan Gaya Geser (Fshear) didapat masing-masing 728,88 N dan 0 N setelah menggunakan alat bantu. Dari perhitungan denyut nadi kerja yaitu bahwa %CVL dikatakan dalam kategori beban kerja berat dan memerlukan perbaikan untuk pekerjaan tanpa alat bantu yaitu 45,06%, dan kategori ringan untuk pekerjaan dengan alat bantu yaitu 23%. Pada Total Metabolisme yang didasarkan pada konsumsi oksigen dan pengeluaran energy dikatakan kategori beban kerja berat yaitu sebesar 353,50 kcal/h untuk pekerjaan tanpa alat bantu dan beban kerjaringan 134,33 kcal/h setelah bekerja menggunakan alat bantu