137686 research outputs found
Sort by
Penjadwalan Pemeliharaan Preventif Mesin Filling Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) II DI KUD BATU
KUD BATU merupakan lembaga sosial ekonomi berbentuk koperasi yang memiliki
berbagai macam unit usaha, salah satunya adalah susu pasteurisasi yang merupakan produk
unggulan dan olahan susu pertama dari KUD BATU. Namun, dalam keberlangsungan
proses produksi susu pasteurisasi masih didapati permasalahan terkait ketidaktercapaian
target produksi. Penyebab permasalahan tersebut adalah sering terjadinya fenomena
kegagalan pada sejumlah mesin yang berdampak pula terhadap terjadinya downtime,
khususnya mesin filling 160ml yang merupakan mesin dengan frekuensi kegagalan
tertinggi, durasi downtime terlama, rasio pemenuhan produksi terendah, dan umur tertua
jika dibandingkan dengan mesin lain pada lini produksi susu pasteurisasi. Di sisi lain,
sebagian besar aktivitas maintenance yang diimplementasikan oleh KUD BATU hanyalah
berupa corrective maintenance sehingga dibutuhkan penjadwalan pemeliharaan preventif
guna mencegah risiko kegagalan dan meningkatkan keandalan mesin.
Reliability Centered Maintenance (RCM) II merupakan suatu pendekatan
pemeliharaan yang mengombinasikan praktik dan strategi dari aktivitas Preventive
Maintenance (PM) dan Corrective Maintenance (CM) untuk memaksimalkan umur (life
time) dan fungsi aset. Oleh karena itu, RCM II merupakan metode yang sesuai guna
mengatasi permasalahan pada KUD BATU. Langkah penelitian yang dilakukan antara lain
adalah identifikasi sistem dan batasannya menggunakan Functional Block Diagram (FBD),
penyusunan Machine/Machinery Failure Mode and Effect Analysis (MFMEA) untuk
menentukan mode kegagalan kritis, pembuatan RCM II Information Worksheet,
perhitungan Time to Failure (TTF), pendugaan distribusi TTF menggunakan index of fit,
perhitungan parameter distribusi TTF, perhitungan Mean Time to Failure (MTTF),
perhitungan nilai keandalan, dan pembuatan RCM II Decision Worksheet.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 mode kegagalan kritis, yaitu solenoid
valve macet, filler cylinder drop, filler pneumatic hose bocor, capper pneumatic hose
bocor, capper head tidak menutup botol secara sempurna, PLC command output not
working, dan filler sensor tidak merespon. Analisis metode RCM II menghasilkan jenis
aktivitas perawatan yang direkomendasikan untuk mode kegagalan solenoid valve macet
yaitu scheduled on condition task dengan interval waktu pemeliharaan optimal selama 153
jam (31 hari), filler cylinder drop yaitu scheduled restoration task dengan interval waktu
pemeliharaan optimal selama 358 jam (72 hari), filler pneumatic hose bocor yaitu
scheduled discard task dengan interval waktu pemeliharaan optimal selama 223 jam (45
hari), capper pneumatic hose bocor yaitu scheduled discard task dengan interval waktu
pemeliharaan optimal selama 169 jam (34 hari), capper head tidak menutup botol secara
sempurna yaitu scheduled on condition task dengan interval waktu pemeliharaan optimal
selama 52 jam (11 hari), PLC command output not working yaitu scheduled on condition
task dengan interval waktu pemeliharaan optimal selama 68 jam (14 hari), dan filler sensor
tidak merespon yaitu scheduled on condition task dengan interval waktu pemeliharaan
optimal selama 20 jam (5 hari). Implementasi metode Reliability Centered Maintenance
(RCM) II juga mampu meningkatkan nilai keandalan untuk setiap mode kegagalan kritis,
yaitu filler pneumatic hose bocor sebesar 49%, solenoid valve macet sebesar 48%, capper
head tidak menutup botol secara sempurna sebesar 41%, filler cylinder drop sebesar 39%,
capper pneumatic hose bocor sebesar 37%, filler sensor tidak merespon sebesar 31%, dan
PLC command output not working sebesar 27%
Analisis Penerapan Aplikasi Blu BCA Sebagai Bank Digital Pada Gen Z PT.Bank Central Asia Kantor Cabang Pembantu Batu (Studi Kantor Cabang Pembantu Batu)
Blu BCA adalah layanan perbankan milik PT BCA Digital yang
dikembangkan untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi
finansial secara online. Berbeda dengan bank konvensional, Blu BCA tidak
memiliki kantor cabang yang bisa didatangi. Namun, seluruh transaksi dan
layanan bank ini dapat diakses kapanpun dan dimanapun hanya dengan
melalui ponsel. Selain itu penggunaan bank digital Blu BCA tidak
memerlukan kartu atm untuk bertransaksi sehingga lebih mempermudah
nasabah untuk melakukan Tarik tunai di mesin atm. Blu BCA juga tidak
dikenai biaya administrasi bulanan seperti bank-bank lain pada umumnya.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
seberapa besar peran Gen Z dalam penggunaan Blu BCA. Penelitian ini
menggunakan metode wawancara dengan hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa rata-rata pengguna dari Blu BCA adalah Gen Z dan
mereka sudah sangat puas dengan penggunaan Blu BCA karena dinilai
sangat mudah penggunaan fitur-fiturnya yang dinilai menarik perhatian
Gen Z. nasabah terkait penggunaan Blu BCA sudah berada dalam kategori
“Sangat puas
Perancangan Ulang Desain Kemasan Dan Media Promosi Tahu Kress Sebagai Upaya Peningkatan Brand Awareness
Perancangan ini menggunakan Mix Method Teknik dengan
pengumpulan data menggunakan primer dan sekunder bertujuan untuk
meningkatkan Brand Awarenss Tahu Kress milik Ibu Tantri. Lokasi yang
dilakukan pada penelitian di Gor Jayabaya Kota Kediri, berdasarkan
wawancara, observasi, dan kuisioner pada Tahu Kress Kurangnya identitas
visual dan media promosi yang dimiliki Tahu Kress disebabkan kemasan
yang dimiliki kurang melindungi kualitas sebuah produk. Tak hanya itu,
dalam berbisnis media promosi sangat penting dikarenakan dari media
promosi produk Tahu Kress dapat dikenal oleh banyak orang. Desain
kemasan juga mengacu harus pada perancangan yang telah dibuat dari
pemilihan warna, font, bahan kemasan, dan segala elemen yang ada di
desain grafis pada kemasan. Maka permasalahan diatas hasil akhir dalam
Perancangan Ulang Desain Kemasan Dan Media Promosi Tahu Kress
Sebagai Upaya Peningkatan Brand Awareness. Identitas visual yang baik
merupakan suatu kunci dalam meningkatkan Brand Awareness bagi produk
Tahu Kress. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1), Redesign visual
identias produk Tahu Kress menggunakan pendekatan mix method dengan
melakukan observasi, wawancara, studi literature, dan
kuisioner,(2)Redesign ini menghasilkan sebuah kemasan primer, sekunder,
serta GSM yang bertujuan sebagai pedoman dalam menggunakan identitas
visual Tahu Kress,(3)Media implementasi yang digunakan dalam redesign
yang sesuai dengan kebutuhan Tahu Kress yakni berupa, Poster, X-banner,
Stiker, Merchendise dan media promosi Instagra
Pengaruh Atribut Brand Ambassador Terhadap Minat Beli Dalam Promotion Media Sosial TikTok yang Dimediasi Karakteristik (Studi Kasus : Boy Group EXO Sebagai Brand Ambassador Scarlett Whitening)
Dalam menghadapi era persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk mengatasi tantangan dengan terus berinovasi dan merancang strategi pemasaran yang efektif. Fenomena media sosial, khususnya TikTok, menjadi sangat signifikan dengan jumlah pengguna yang mencapai 1,09 miliar per April 2023. Strategi pemasaran memanfaatkan media sosial dengan menggunakan kolaborasi bersama brand ambassador berhasil menarik perhatian. Banyak penelitian yang telah mengekplorasi pembentukan parasocial relationship (PSR) antara brand ambassador dan followers. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi parasocial relationship (PSR) yang dibangun melalui brand ambassador, mengidentifikasi atribut personal brand ambassador
yang paling berpengaruh dalam membentuk parasocial relationship (PSR), serta meneliti dampak pengikut (followers) sebagai variabel kontrol dalam media sosial terhadap pembentukan dan pengaruh parasocial relationship (PSR). Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner, menggunakan teknik non-probability sampling, dengan jenis purposive sampling. Data dikumpulkan melalui survei yang mengikuti akun TikTok Scarlett Whitening dan pernah membeli produk Scarlett Whitening, serta masyarakat di pulau Jawa dengan rentang umur 17 – 25 tahun. Penelitian ini melibatkan 122 responden, hasil analisis menunjukkan bahwa parasocial relationship (PSR) yang terbangun melalui boy group EXO memiliki dampak yang efektif dalam memacu minat beli konsumen terhadap produk. Sikap homofili dan daya tarik fisik muncul sebagai atribut personal yang signifikan dalam membentuk parasocial relationship (PSR), followers di media sosial, terutama TikTok, memberikan kontribusi langsung pada pembentukan parasocial relationship (PSR) dan memengaruhi minat beli konsumen
Implementasi Job Analytics Mapping untuk Optimalisasi Kinerja Karyawan dengan Pendekatan AHP pada PT Saboten Milenial Indonesia
PT Saboten Milenial Indonesia melakukan penentuan grade hanya berdasarkan
berdasarkan struktur organisasinya karena PT ini masih belum memiliki guidance atau
kriteria yang jelas dan terstruktur untuk penentuan grade pada masing-masing posisinya.
Sehingga perlu melakukan job analytics mapping dengan job value yang didapatkan dari
hasil job evaluation untuk mendapatkan job grade yang sesuai. Berdasarkan urgensinya,
penelitian ini terfokus pada grade 1B hingga 2B divisi operasional dengan jumlah 96
karyawan.
Berdasarkan hasil brainstorming dengan expert, didapatkan enam faktor dan 22 sub
faktor yang diadaptasi dari tiga perusahaan konsultan ternama. Selanjutnya, dalam
melakukan pembobotan, diawali dengan penyebaran kuesioner perbandingan berpasangan
yang mencakup seluruh bobot faktor dan sub faktor kepada dua orang yang berpengalaman
pada divisi operasional. Kemudian, pembobotan dilakukan dengan mengolah data nilai
perbandingan antar faktor dan antar sub faktor dengan menggunakan AHP dengan bantuan
software Expert Choice. Kemudian, Job value didapatkan dari hasil perkalian antara bobot
setiap faktor dengan skor setiap faktor. Skor faktor didapatkan dari hasil penjumlahan skor
sub faktor dalam faktor yang telah dikalikan dengan bobot tiap - tiap sub faktor.
Hasil job value pada job position Head Production memiliki job value sebesar 58,95,
Head Warehouse sebesar 62,07, Head Store sebesar 65,67, Leader Shift sebesar 42,88,
Purchasing sebesar 50,70, Production sebesar 42,80, Driver sebesar 35,17, Waiters sebesar
33,63, Barista sebesar 33,52, Kitchen sebesar 32,54, Dishwasher sebesar 30,33, Koki
sebesar 34,69, dan Cashier sebesar 35,67
Arahan Prioritas Peningkatan Jalur Pejalan Kaki Pada Ruas Jalan Raden Patah Kabupaten Sidoarjo
Berjalan kaki merupakan moda paling sederhana dalam melakukan pergerakan.
Berjalan cenderung memiliki kecepatan yang lambat sehingga memungkinkan pelakunya
untuk mengamati lingkungan secara detail. Pada perkotaan berjalan merupakan moda yang
wajib difasilitasi. Berjalan menjadi sarana interaksi dan komunikasi sosial masyarakat kota.
Fasilitas bagi pejalan kaki pada perkotaan adalah jalur pejalan kaki yang biasanya berada
pada sepanjang jalan. Kondisi eksisting menunjukkan jalur pejalan kaki tidak di wilayah ini
tidak berfungsi secara optimal. Hal tersebut dikarenakan berbagai kekurangan seperti adanya
peralihan fungsi jalur oleh pedagang, parkir kendaraan, serta kondisi jalur yang tidak sesuai
standar. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mencoba
memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi jalur pejalan kaki di koridor Jalan Raden
Patah kabupaten Sidoarjo. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidenti fikasi
karakteristik jalur dan pengguna. Hasil analisis ini menunjukkan tingkat operasional jalur
pejalan kaki yang karakteristiknya tidak sesuai dengan standar.
Evaluasi dan rekomendasi masing-masing segmen dianalisis menggunakan
Importance Performance Anaylsis (IPA) dan Quality Function Deployment (QFD). Hasil
tersebut yaitu, 1) Evaluasi kinerja operasional masih terdapat berbagai variabel yang belum
memenuhi standar. Seperti lebar trotoar, fasilitas passing place, hambatan pedagang kaki
lima, parkir kendaraan yang terdapat pada seluruh segmen. Pada tingkat pelayanan seluruh
segmen, segmen 3 merupakan yang paling buruk karena berada di kawasan pendidikan. 2)
Evaluasi kinerja pelayanan memiliki kinerja penting namun kinerja kurang pada segmen 1,2
dan 3 adalah ketersediaan perkerasan trotoar, lebar trotoar, tanaman peneduh, tempat
peneduh, lebar trotoar, serta trotoar bebas aktivitas selain pejalan kaki (seperti pedagang kaki
lima, parkir kendaraan bermotor), ketersediaan tempat sampah dan lampu penerangan. 3)
Rekomondasi kinerja operasional memberikan arahan untuk pengadaan fasilitas
penyeberangan pelican, Pengadaan marka, rambu, dan papan informasi penyeberangan serta
APILL, dan pelebaran trotoar menjadi 2 meter, memasang ubin garis sebagai pengarah dan
dot sebagai peringatan, Menambal perkerasan yang berlubang dan hancur dengan paving,
Penyediaan ruang parkir diluar bahu jalan (off street), oenyediaan lampu penerangan setiap
jarak 10 m dengan tinggi 4m, penyediaan tempat sampah setiap 20 meter berbahan metal,
serta Penataan papan reklame/baliho. 4) Rekomondasi kinerja pelayanan memberikan
arahan untuk Penyediaan ruang bagi pedagang kaki lima dengan lebar maksimal 3 meter,
Penyediaan ruang parkir diluar bahu jalan (off street), Pelebaran trotoar dengan lebar 2m,
Penyediaan tempat peneduh sebanyak 1 titik pada masing-masing sisi jalur, menambah
vegetasi tanaman peneduh dengan bentuk percabangan batang dan massa daun padat,
Menambal perkerasan yang berlubang dan hancur dengan paving, pelebaran trotoar menjadi
2 meter, penyediaan tempat sampah setiap 20 meter, memasang ubin garis sebagai pengarah
dan dot sebagai peringatan, Penyediaan lampu penerangan setiap jarak 10 m dengan tinggi
4m, serta Penataan papan reklame/baliho pada sepanjang jalur pejalan kaki
PengaruhiLimbah Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) yang Dikalsinasi terhadap Kuat Tekan daniModulus Elastisitas Betoni
Perkembangan infrastruktur menjadi salah satuiparameter pentingidalam menilai
perkembanganisuatu negara. Selain itu, infrastruktur juga berperan penting dalam
mendorong perkembangan ekonomi melalui pertumbuhan pendapatan per kapita. Di
samping perannya yang penting, posisi Indonesia terkait hal ini masih jauh di bawah
harapan banyak pihak dimana Indonesia menduduki peringkat 72 dari 141 negara
berdasarkan data dari The Global Competitiveness Report. Hal ini mendorong Pemerintah
Indonesia untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur jangka panjang.
Kebijakan pemerintah terkait pembangunan infrastruktur mendorong naiknya
permintaan akan material konstruksi, terutama beton dengan angka produksi mencapai 25
juta ton pada tahun 2022. Hal ini otomatis meningkatkan permintaan material
penyusunnya, terutama semen yang menjadi material pengikat dalam campuran beton
dengan angka produksi mencapai 65,2 juta ton pada tahun 2022. Namun, industri semen
dinilai berbahaya terhadap lingkungan karena semen memproduksi gas rumah kaca dalam
jumlah besar dan menyumbang 2,77% terhadap gas rumah kaca nasional pada 2019.
Besarnya dampak pencemaran lingkungan mendorong adanya bahan-bahan yang lebih
ramah lingkungan untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dalam industri
semen serta menunjang pembangunan berkelanjutan. Limbah cangkang kerang hijau
(Perna viridis) dapat berfungsi sebagai pengganti semen karena memiliki komposisi
kalsium karbonat (CaCO3) yang cukup tinggi, yakni melampaui 90%.
Penelitian ini menggunakan limbah cangkang kerang hijau yang berasal dari Desa
Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Limbah cangkang
kerang lalu melewati proses kalsinasi serta pengujian XRF untuk mengidentifikasi kadar
senyawa di dalamnya. Setelah itu, benda uji beton berbentuk silinder berukuran diameter
15 cm dan tinggi 30 cm dibuat untuk kemudian diuji kuat tekan dan modulus elastisitasnya
pada umur 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan limbah cangkang
kerang hijau sebagai substitusi sebagian semen menurunkan kuat tekan dan modulus
elastisitas beton. Limbah cangkang kerang hijau memiliki filler effect characteristic
sehingga elemen ini memiliki kecenderungan untuk mengisi rongga-rongga dibandingkan
berlaku sebagai binder dalam campuran beton. Hal ini membuat berkurangnya proporsi
binder dalam campuran beton. Selain itu, tidak adanya kandungan silika pada cangkang
kerang hijau ini membuat beton kehilangan daya ikat antar partikelnya. Namun, tetap
diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sifat limbah cangkang kerang
hijau ketika bercampur dengan semen portland komposit
Perancangan User Experience Proses Manajemen Inventaris Merchandise Menggunakan Metode Human-Centered Design (Studi Kasus: PT Telkomsel Branch Malang)
PT Telkomsel Branch Malang merupakan perusahaan yang memberikan
pelayanan bagi pelanggan Telkomsel di area Malang dan sekitarnya. Perusahaan
ini memiliki program pemberian merchandise untuk meningkatkan loyalitas dan
menarik minat pelanggan pada produk Telkomsel. Pada implementasinya, proses
manajemen inventaris merchandise masih menggunakan metode konvensional
yang mengakibatkan kurang efektifnya proses yang terjadi dan data menjadi
tidak akurat. Dalam rangka mengatasi permasalahan yang terjadi, penelitian ini
mengusulkan suatu solusi menggunakan metode Human-Centered Design (HCD)
untuk merancang suatu user experience berupa website manajemen inventaris
merchandise PT Telkomsel Branch Malang. Hasil dari penelitian ini berupa tiga
rancangan prototype yang dievaluasi kepada tiga kelompok pengguna, yaitu
Supervisor, PIC Store, dan CS Store menggunakan pendekatan Usability Testing
dan User Experience Questionnaire (UEQ). Rata-rata skor Usability Testing untuk
aspek efektivitas dari pengguna Supervisor, PIC Store, dan CS Store adalah
97,41%. Pada aspek efisiensi, diperoleh rata-rata skor 96,3%. Pada aspek
kepuasan pengguna, diperoleh skor rata-rata PSSUQ sebesar 1,34. Sedangkan
untuk UEQ, diperoleh skor dengan kategori excellent pada seluruh aspeknya,
yaitu nilai aspek daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketepatan, stimulasi, dan
kebaruan berturut-turut sebesar 2,13, 2,23, 2,34, 2,08, dan 2,13. Penelitian ini
memberikan kontribusi positif dalam merancang pengalaman pengguna pada
proses manajemen inventaris merchandise PT Telkomsel Branch Malang
Evaluasi Kinerja Sistem Pengangkutan Sampah di Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi,
Sistem pengangkutan sampah menjadi sub-sistem yang berperan penting dalam
pengelolaan sampah, fungsi utama dari sistem ini adalah mengangkut seluruh sampah pada
sumber/TPS dan selanjutnya akan diangkut menuju TPA. Salah satu indikator pengelolaan
sampah yang baik yakni sistem pengangkutan sampah sudah berjalan secara optimal.
Optimalnya pengangkutan dapat diindetifikasi dari tidak adanya sampah yang menginap dan
menetap pada sumber/TPS serta rute pengangkutan yang efektif dan efisien.
Mengacu pada hasil survey, Kecamatan Bantargebang mengiindikasikan masih
adanya permasalahan terkait sistem pengangkutan sampah. Beberapa permasalahan tersebut
diantaranya meliputi masih kurangnya frekuensi pengangkutan, belum maksimalnya sarana
dan peralatan pengelolaan sampah, serta minimnya kuantitas armada pengangkut. Ritasi
pengangkutan yang dilakukan nilainya tidak sebanding dengan kondisi dari timbulan
sampah yang dihasilkan per-harinya. Hal tersebut kemudian berpengaruh terhadap
banyaknya sampah yang dapat terangkut ke TPA. Minimnya kuantitas serta kualitas dari
sarana dan peralatan juga memberikan pengaruh terhadap kinerja sistem pengangkutan
sampah di Kecamatan Bantargebang. Seperti pada TPS RW 02 Kelurahan Bantargebang dan
TPS RW 03 Kelurahan Bantargebang, tidak sedikit dari sampah yang menetap diluar jam
operasional TPS, dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan namun juga pada masyarakat.
Setelah dilakukan analisis, diketahui bahwa kesesuaian kinerja dari sistem
pengangkutan di keempat TPS Kecamatan Bantargebang dapat dikatakan masih kurang
sesuai. Penyebab utamanya yakni minimnya frekuensi pengangkutan, dimana jumlahnya
tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan. Hal tersebut kemudian
berpengaruh terhadap efektifitas pengangkutan sampah, dapat disimpulkan bahwa dari 14
daerah pelayanan hanya terdapat 2 daerah pelayanan yang sudah efektif karena persentase
sampah yang dapat terangkut ke TPA Sumur Batu sudah memenuhi 100% (TPS RW 01
Kelurahan Bantargebang dan TPS RW 02 Kelurahan Cikiwul). Ketersediaan sarana untuk
pemindahan dan pengangkutan sampah juga memberikan dampak terhadap proses
pengangkutan, dapat diketahui keempat TPS belum terfasilitasi dengan baik. Kemudian
berkaitan dengan rute, rute yang dilalui oleh armada dari masing-masing jalur pelayanan
menuju TPA Sumur Batu sudah optimal, hanya terdapat 2 jalur pelayanan yang mengalami
perubahan rute yakni Perumahan Armed dan RW 05 Kelurahan Bantargebang. Penentuan
rute didasarkan pada pertimbangan jarak, waktu tempuh, kecepatan, dan kondisi jalan.
Berdasar pada permasalahan yang ada, selanjutnya akan disusun arahan dan
rekomendasi. Dalam upaya peningkatan kinerja sistem pengangkutan sampah di Kecamatan
Bantargebang, dipertimbangkan dari hasil analisis kinerja operasional sistem pemindahan
dan pengangkutan sampah serta analisis efektifitas. Adapun, untuk rekomendasi penetuan
rute optimal dapat diketahui dengan menggunakan Network Analyst (Analisis Penentuan
Rute)
Pengaruh Sistem Kandang Cage Dan Litter Terhadap Kualitas Internal Telur Layer.
Kandang merupakan tempat ayam melakukan
aktivitas produksi, sehingga kenyamanan dan bentuk kandang
perlu diperhatikan agar ayam merasa nyaman dan tidak
mengganggu proses produksi serta kualitas telur. Pemilihan
untuk kandang layer harus memperhatikan kesejahteraan
ayam, produktivitas telur, dan kebutuhan peternakan untuk
dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
Kesejahteraan sangat mempengaruhi produktivitas
(produktivitas unggas merupakan wujud dari pertumbuhan,
perkembangan, produksi telur dan reproduksi). Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh
sistem kandang cage dan litter terhadap kualitas internal telur
layer.
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 3 Juli
sampai dengan 20 Agustus 2023 yang berlokasi di Peternakan
Layer Naufah Barokah Farm Indonesia yang berada di Desa
Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa
Timur, kemudian dilakukan analisis kualiatas internal telur di
Laboratorium Unggas Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya. Ayam yang digunakan layer strain Hy-Line Brown
berjumlah 240 ekor ayam yang berumur 16-24 minggu. Ayam
dimasukkan dalam kandang cage berjumlah 120 ekor dan
kandang litter berjumlah 120 ekor. Pengambilan sampel untuk
uji kualitas internal telur ayam patelur pada minggu ke 6
penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan
metode percobaan dengan menggunakan 2 perlakuan dan 5
ulangan. Pada masing-masing ulangan terdapat 24 ekor layer.
Analisis data yang telah diperoleh berdasarkan varibel
pengamatan yaitu berat yolk, berat albumen, indeks yolk,
indeks albumen dan haugh unit. Data yang diperoleh dianalisis
menggunakan uji T tidak berpasangan (Unpaired Sampel T
Test).
Hasil penelitian menunjukkan rataan berat yolk pada
perlakukan P0 sebesar 12,20±0,72 dan P1 sebesar 12,44±0,55.
Berat albumen diperoleh rataan pada perlakukan P0 sebesar
34,76±1,18 dan P1 sebesar 31,70±2,10. Indeks yolk diperoleh
rataan pada perlakukan P0 sebesar 0,507±0,02 dan P1 sebesar
0,502±0,01. Indeks albumen diperoleh rataan pada perlakukan
P0 sebesar 0,131±0,01 dan P1 sebesar 0,126±0,01. Nilai
haugh unit diperolah pada perlakukan P0 sebesar 94,66±2,61
dan P1 sebesar 94,49±3,17. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sistem kandang litter tidak berpengaruh nyata (P >
0,05) terhadap berat yolk, indeks yolk, indeks albumen dan
haugh unit. Akan tetapi, sistem kandang litter secara nyata
menurunkan (P < 0,05) berat albumen jika dibandingkan
dengan sistem kandang cage.
Kesimpulan penelitian ini adalah sistem kandang litter
tidak memberikan efek negatif pada kualitas internal telur
seperti berat yolk, indeks yolk, indeks albumen dan haugh unit.
Akan tetapi, sistem kandang litter menyebabkan penurunan
berat albumen layer. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang penambahan kandungan protein dalam pakan untuk
memenuhi kebutuhan sintesis albumen pada layer yang
dipelihara pada sistem kandang litter