University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Implementasi Metode Joyful Learning Berbasis Ice Breaking “Connect Word Challenge” pada Pembelajaran Teks Negosiasi Siswa Kelas X

    No full text
    Penyampaian materi ajar oleh guru memang tidak selamanya berjalan dengan mudah dan menyenangkan. Berkaca dari hal tersebut, maka guru memerlukan sebuah metode pembelajaran yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah metode pembelajaran Joyful Learning. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran Joyful Learning berbasis ice breaking pada pembelajaran teks negosiasi kelas X-1 SMAN 01 Batu. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuisioner, observasi, dokumentasi, dan tes tertulis. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penerapan metode pembelajaran Joyful Learning berbasis ice breaking pada mata pelajaran bahasa Indonesia materi teks negosiasi dapat menjadikan semangat belajar siswa bertambah dan siswa menjadi lebih mudah untuk memahami materi yang diajarkan oleh guru. Adapun persentase untuk bertambahnya semangat belajar siswa memeroleh persentase 70% dengan kategori sangat setuju dan 30% dengan kategori setuju. Sementara itu, persentase untuk kemudahan siswa dalam memahami materi yang diajarkan mendapat persentase 67% dengan kategori sangat setuju dan 33% dengan kategori setuju. Keduanya didasarkan pada hasil kuisioner yang telah dibagikan kepada siswa kelas X-1 SMAN 01 Batu serta didapat melalui hasil tes tertulis KD menulis teks negosiasi berbentuk naratif yang dilaksanakan di kelas X-1 SMAN 01 Bat

    Pengaruh Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Kualitas Dimsum Daging Ayam Ditinjau dari Kadar Protein, Tekstur, Water Holding Capacity, dan Organoleptik

    No full text
    Daging ayam merupakan salah satu bahan pangan sebagai sumber protein hewani yang mudah mengalami kerusakan apabila tidak dilakukan pengolahan. Pengolahan daging ayam dapat menggunakan teknik restructured meat. Salah satu produk yang menggunakan teknik ini yaitu dimsum. Dimsum biasanya hanya menggunakan tepung tapioka sebagai bahan pengisi dan pengikat. Dimsum dapat ditambahkan dengan tepung lain sebagai diversifikasi pangan yang dapat meningkatkan mutu pada dimsum. Salah satu tepung yang dapat digunakan yaitu tepung daun kelor. Tepung daun kelor memiliki banyak kandungan protein, mineral, dan vitamin. Penambahan tepung daun kelor pada produk dimsum dapat meningkatkan kandungan protein dan serat serta meningkatkan mutu pada dimsum. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk menganalisis kualitas dimsum ayam dengan penambahan tepung daun kelor ditinjau dari kadar protein, tekstur, water holding capacity, dan organoleptik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak untuk pembuatan dimsum dan di Laboratorium Keamanan Pangan Fakultas Teknologi untuk pengujian kadar protein, tekstur, dan WHC. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2023 sampai dengan 16 November 2023. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dimsum yang dibuat dari tepung tapioka, tepung daun kelor, putih telur, garam, gula, bawang putih, bawang merah, merica bubuk, dan kulit dimsum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu penambahan tepung daun kelor dengan tanpa penambahan penambahan tepung daun kelor, P1 penambahan tepung daun kelor 1%, P2 penambahan tepung daun kelor 2% dan P3 penambahan tepung daun kelor 3%. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar protein, tekstur, water holding capacity, dan organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) dan Indeks Efektivitas De Garmo. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor pada dimsum memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap protein dan water holding capacity, memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap organoleptik warna, aroma, dan rasa, serta memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap tekstur dan organoleptik tekstur. Nilai rataan pada kadar protein 11,73-13,45%, tekstur 4,225-5,2N, water holding capacity 31-46%, organoleptik warna 1,4-5, aroma 1,56-4,45, rasa 2,05-4,45, dan tekstur 3,1-4,5. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung daun kelor sebesar 3% pada dimsum daging ayam memberikan hasil terbaik ditinjau dari kadar protein 13,45%, tekstur 5,15 N, WHC 31%, dan nilai organoleptik warna 1,4, aroma 1,56, rasa 2,05, dan tekstur 3,1. Penelitian lebih lanjut diperlukan adanyaix fermentasi pada tepung daun kelor untuk mengurangi rasa pahit dan aroma langu, suhu yang akan mempengaruhi tekstur dimsum, dan pencampuran dengan bahan lain untuk mengurangi warna gelap yang ditimbulkan oleh tepung daun kelor pada dimsum ayam

    Pengaruh Konsentrasi Dan Lama Perendaman Zpt Giberelin pada Benih Desmodium rensonii Terhadap Viabilitas (Daya Kecambah, Potensi Tumbuh, Tinggi Kecambah, Panjang Akar)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pengaruh konsentrasi dan lama perendaman dalam giberelin terhadap viabilitas benih Desmodium rensonii. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Penelitian dilaksanakan selama 14 hari pada bulan Agustus 2023. Sampel yang digunakan untuk penelitian adalah benih legum Desmodium rensonii dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Giberelin. Penentuan jumlah benih digunakan berdasarkan kebutuhan unit percobaan yaitu 4 perlakuan konsentrasi dengan 3 perlakuan lama perendaman dilakukan 4 kali ulangan dan setiap sampel membutuhkan 10 benih. Maka benih legum yang dibutuhkan yaitu sebesar 480 biji. Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah petridish ukuran 90 x 15mm, pinset, gelas plastik, pipet tetes, penggaris 30cm. Bahan yang digunakan yaitu air, kapas selectio dan kertas label. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor kemudian masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga menghasilkan 48 percobaan satuan. Hasil dari penelitian ini adalah benih Desmodium rensonii dari daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, tinggi tanaman dan panjang akar tanaman menunjukan bahwa konsentrasi giberelin dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap potensi, tumbuh maksimum dan tidak berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, tinggi tanaman dan panjang akar benih Desmodium rensonii. Sedangkan interaksi antara konsentrasi giberelin dan lama perendaman tidak menunjukan pengaruh atau tidak berbeda nyata terhadap secara keseluruhan variabel penelitian benih Desmodium rensonii. Saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksploarsi variabel-variabel yang menunjukan interaksi antara konsentrasi giberelin dan lama perendaman berpengaruh nyata

    Pengaruh Kondisi Penyimpanan Dalam Polong dan Perendaman Biji Koro Benguk (Mucuna pruriens) Terhadap Daya Kecambah

    No full text
    Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Peternakan Sumber Sekar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Semanding, Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kapubaten Malang. Waktu penelitian dilaksanakan pada 22 Agustus – 9 September 2023. Pelaksanaan penelitian memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan benih koro benguk (Mucuna pruriens) dalam polong dan perendaman terhadap daya kecambah, kecepatan berkecambah, rata-rata hari berkecambah, dan indeks vigor. Materi yang digunakan untuk pelaksanaan penelitian ini adalah benih koro benguk (Mucuna pruriens) yang dikecambahkan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor yang masing masing faktor terdiri terdiri atas 2 perlakuan. Ulangan yang digunakan sebanyak 3 kali sehingga dalam penelitian ini terdapat 12 unit percobaan. Faktor pertama adalah A1 = biji masih terdapat dalam polong dan A2 = biji dikeluarkan dari polong, faktor kedua adalah B1 = tanpa rendam dan B2 = perendaman dalam air pada suhu kamar selama 6 jam. Setiap unit percobaan berjumlah 100 biji, sehingga memiliki total 1.200 biji dalam pelaksanaan penelitian. Variabel yang diamati adalah daya kecambah, kecepatan berkecambah, rata-rata hari berkecambah, dan indeks vigor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penyimpanan benih memberikan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap daya kecambah dengan hasil tertinggi penyimpanan benih dalam polong 93,17±2,12%. Perlakuan perendaman memberikan hasil yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap kecepatan berkecambah dan rata-rata hari berkecambah dengan hasil tertinggi perlakuan tanpa perendaman benih sebesar 28±4,24%/etmal dan selama 6,51±0,07 hari. Sedangkan perendaman memberikan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap indeks vigor dengan hasil tertinggi pada perlakuan penyimpanan tanpa perendaman benih sebesar 43,83±7,78%. Penelitian ini tidak memberikan interaksi yang nyata antara kondisi penyimpanan dan perendaman benih. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kondisi penyimpanan benih berpolong pada benih koro benguk menunjukkan persentase daya kecambah yang tinggi dibandingkan dengan kondisi penyimpanan tanpa polong. Perlakuan perendaman memperlambat munculnya kecambah. Perlakuan tanpa perendaman benih koro benguk memberikan hasil tertinggi pada kecepatan, rata-rata berkecambah, dan indeks vigor dibandingkan perendaman benih selama 6 jam. Saran dari penelitian ini, saat budidaya koro benguk sebaiknya benih disimpan dalam polong dan tidak perlu direndam. Perlakuan ini dapat meningkatkan daya kecambah, meningkatkan kecepatan dan rata-rata berkecambah, serta meningkatkan indeks vigor benih

    Analisis Perilaku Pro-Lingkungan Terhadap Adaptasi Perubahan Iklim Pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Malang

    No full text
    Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan mendesak yang menimbulkan dampak serius di berbagai sektor, salah satunya adalah sektor peternakan. Perubahan iklim mengakibatkan dampak serius di sektor peternakan yang berperan sebagai penyedia protein hewani dalam berkontribusi terhadap ketahanan pangan, maka studi yang berkaitan dengan strategi beradaptasi dianggap sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan. Sebuah cara diperlukan sehingga dapat mendorong pembisnis untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satunya adalah merumuskan strategi adaptasi untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pro-lingkungan dalam strategi adaptasi seperti norma sosial, persepsi risiko, keterikatan tempat, dan faktor demografi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penerapan perilaku pro-lingkungan berdasarkan norma sosial, persepsi risiko, dan keterikatan tempat peternak sapi perah dalam menghadapi adaptasi perubahan iklim. Penelitian dilaksanakan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan lokasi yang dipilih merupakan lokasi yang berpotensi untuk mengembangkan peternakan sapi perah. Penentuan lokasi ditentukan menggunakan metode Teknik Multistage Random Sampling dengan tahap pertama menentukan Provinsi Jawa Timur sebagai provinsi terpilih dalam proses pengambilan sampel. Tahap kedua adalah menjadikan Kabupaten Malang sebagai kabupaten terpilih karena Kabupaten Malang memiliki populasi sapi perah terbanyak kedua di Provinsi Jawa Timur. Tahap ketiga menentukan Kecamatan Pujon dan Kecamatan Jabung sebagai lokasi terpilih untuk dilakukan penelitian karena Kecamatan Pujon menjadi kecamatan dengan populasi sapi perah terbanyak di Kabupaten Malang dan Kecamatan Jabung dengan populasi sapi perah terbanyak ketiga di Kabupaten Malang. Kecamatan Pujon memiliki letak topografi yang merupakan wilayah perbukitan, suhu di Kecamatan Pujon tergolong rendah sehingga Kecamatan Pujon sangat cocok dijadikan sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Malang. Kecamatan Jabung berdasarkan letak topografinya merupakan wilayah yang terdiri dari perbukitan dan dataran, meski begitu Kecamatan Jabung juga merupakan sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Malang karena wilayah Kecamatan Jabung cocok untuk mendirikan bisnis peternakan sapi perah. Penentuan responden yang digunakan adalah menggunakan metode Teknik Multistage Random Sampling. Jumlah responden yang diperlukan pada penelitian sebanyak 100 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Responden yang terlibat dalam penelitian adalah peternak sapi perah dengan kriteria 1) peternak yang tergabung dalam kelompok ternak, 2) peternak yang memiliki ternak sapi perah, 3) dan peternak yang sudah beternak lebih dari satu tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dua jenis yakni data primer dengan wawancara terstruktur dan data sekunder dengan jurnal, artikel, maupun buku. Wawancara dilakukan bersamaan dengan pengisian kuesioner menggunakan Likert Chart.v Kuesioner yang sudah terisi kemudian ditabulasi untuk menempatkan data hasil analisis berdasarkan variabel pengukuran yang sudah disediakan sebelumnya. Tabulasi penelitian menggunakan Microsoft Excel sebagai software untuk menempatkan data. Variabel penelitian terdiri dari variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen terdiri dari Norma Sosial (X1), Persepsi Risiko (X2), Keterikatan Tempat (X3), dan Karakteristik Demografi (X4). Variabel norma sosial terdiri dari empat indikator, yaitu sikap pribadi, perilaku pribadi, norma moral pribadi, dan perilaku masyarakat sekitar. Variabel persepsi risiko terdiri empat indikator, yaitu pengalaman peternak, dampak perubahan iklim terhadap produksi, dampak perubahan iklim terhadap kualitas produk, dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan ternak. Variabel keterikatan tempat terdiri dari empat indikator, yaitu identitas lokasi peternak, dukungan sosial, hubungan antar komunitas, dan durasi ketergantungan lokasi. Variabel karakteristik demografi terdiri dari enam variabel, yaitu jenis kelamin peternak, usia peternak, tingkat pendidikan peternak, lama beternak, jumlah ternak, dan pekerjaan utama peternak. Variabel dependen pada penelitian adalah Adaptasi Perubahan Iklim (Y). Data yang telah terkumpul dari hasil wawancara dengan responden dilakukan analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Kemudian data yang terkumpul dilakukan analisis statistik menggunakan software SmartPLS 3.0. Berdasarkan analisis deskriptif pada variabel norma sosial menunjukkan bahwa mayoritas peternak cenderung setuju dikarenakan responden merasakan bawa mereka mampu untuk mengadapi perubahan iklim dan mampu bangkit lagi setelah merasakan dampak perubahan iklim, serta dapat berinteraksi secara sosial dengan peternak lain untuk berbagi saran dan masalah akibat perubahan iklim. Variabel persepsi risiko menunjukkan bahwa mayoritas peternak cenderung setuju karena peternak merasa mereka sudah peduli terhadap perubahan iklim dari segi manajemen bisnis sampai dengan produksi hasil ternak, serta penyakit yang diderita ternak akibat perubahan iklim. Variabel keterikatan tempat menunjukkan bahwa mayoritas peternak cenderung setuju karena peternak merasakan mereka memiliki keterikatan yang kuat dengan tempat tinggal mereka saat ini, mereka mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dan mau berbagi kepada peternak lain, serta mereka juga memiliki hubungan yang baik dengan kerabat maupun tetangga sekitar. Variabel karakteristik demografi menunjukkan mayoritas peternak berjenis kelamin laki-laki dengan usia rata-rata 41-50 tahun, pendidikan terakhir responden terbanyak adalah lulusan SMA, lama beternak selama 10-20 tahun, jumlah komposisi ternak sebanyak 5-10 unit ternak dan menjadikan beternak sebagai pekerjaan utama. Variabel perubahan iklim menunjukkan bahwa mayoritas peternak cenderung setuju karena mereka paham dengan perubahan iklim dan mampu menghadapi dampak yang terjadi akibat perubahan iklim. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa norma sosial berpengaruh positif dan signifikan karena peternak memiliki kepedulian akan bahaya yang disebabkan oleh dampak perubahan iklim dan peternak dituntut untuk bisa bangkit kembali setelah terdampak oleh perubahan iklim, baik dampak besar maupun dampak kecil. Hasil analisis persepsi risiko berpengaruh positif dan signifikan karena peternak memahami dampak dari perubahan iklim dan bagaimana peternak mengatasi dampak dari perubahan iklim yang dapat menyerang bisnis peternakan mereka. Hasil analisis data variabel keterikatan tempat berpengaruh positif dan signifikan karena peternak merasa bahwa mereka dapat merasakan perasaan aman dan nyaman dengan memiliki hubungan yang baik antara warga pedesaan sehingga mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Hasil analisis variabel karakteristik demografi menunjukkan bahwa berpengaruh signifikan negatif karena pada variabel karakteristik demografi menunjukkan variasivi yang berbeda-beda dari setiap peternak, namun sebenarnya peternak memahami bahwa perubahan iklim memberikan dampak pada bisnis peternakannya tetapi peternak belum mampu untuk mengadopsi perilaku adaptasi perubahan iklim yang disebabkan oleh kurangnya aksesibilitas yang dimiliki karena mayoritas peternak disana merupakan peternak dengan skala kecil dan dengan tingkat pendidikan yang tergolong rendah. Kesimpulan yang didapatkan yakni norma sosial, persepsi risiko, keterikatan tempat, dan karakteristik demografi berpengaruh signifikan terhadap adaptasi perubahan iklim. Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya wawancara yang lebih mendalam terkait topik penelitian kepada para peternak dan memberikan penjelasan pada tiap variabel yang dianalisis karena tidak semua peternak mengerti tentang topik yang akan diteliti

    Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian Pestisida melalui Citra Merek sebagai Mediasi pada Petani Padi di Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    Penggunaan pestisida untuk membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dihadapi para petani padi di Kecamatan Kanor menjadi solusi efektif untuk menurunkan ancaman pada resiko kegagalan panen yang memiliki potensi kerugian. Namun penggunaan pestisida tanpa kontrol dan ketidakpatuhan pada aturan penggunaan memiliki resiko pada kerusakan lahan sawah. Perilaku petani padi dalam menggunakan pestisida terkonfirmasi memiliki kepatuhan yang rendah termasuk pada kebiasan mencampurkan dua atau lebih merek berbeda, serta menggunakan dosis lebih tinggi. Perilaku keputusan pembelian pestisida yang dilakukan para petani dalam penelitian ini akan diuji melalui bauran pemasaran yang terdiri dari kualitas produk, harga, tempat serta promosi yang dilakukan pihak produsen pestisida. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan mengambil sampel penelitian para petani padi di Kecamatan Kanor yang merupakan sentra produktif penghasil padi di Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah sampel sebanyak 93 petani yang diambil dari Desa Caruban dan Desa Tambahrejo. Analisis data penelitian menggunakan statistik deskripti dan analisis structural equation modeling (SEM) menggunakan aplikasi smartPLS. Hasil penelitian mendapati beberapa temuan diantaranya perilaku petani dalam menggunakan pestisida sebanyak 73,1 persen melakukan pencampuran berbagai merek, 20,4 persen menggunakan dosis lebih tinggi. Alasan paling banyak para petani memilih suatu merek pestisida didasarkan pada fungsi/manfaat (25,8 persen), mengikuti petani lain yang sudah menggunakan merek serupa (5,8 persen), harga pestisida (17,2 persen). Hasil uji SEM didapatkan hasil kualitas produk, tempat, dan promosi tidak memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian, hanya harga yang memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian pestisida. Pada uji hubungan dengan citra merek kualitas produk dan promosi memiliki pengaruh positif signifikan sedangkan harga dan tempat memiliki pengaruh negatif signifikan. Temuan selanjutnya mendapati citra merek berhasil memediasi harga, tempat, promosi dengan keputusan pembelian pestisida, namun citra merek gagal melakukan mediasi pada kualitas produk dengan keputusan pembelian. Selanjutnya citra merek memiliki pengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian pestisida. Strategi pemasaran yang tepat untuk dilakukan pemilik merek pestisida dapat mempertimbangkan strategi penyesuaian harga yang terjangkau dengan kemampuan para petani padi dan serta memberikan bukti nyata melalui mempraktekkan langsung pada tanaman padi di wilayah setempat, memberikan garansi produk pestisida jika gagal menyelesaikan masalah hama maka seluruh biaya operasional penanaman padi akan diganti, pihak perusahaan dapat menjalin kemitraan dengan petani yang bersedia lahan sawahnya digunakan sebagai tempat uji coba, hal tersebut sebagai upaya membangun citra merek pestisida yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah hama untuk mendorong keputusan pembelian pestisida pada petani padi di Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro

    Hubungan Kompetensi Kader Posyandu dalam Pelayanan Balita dengan Capaian Pelayanan Gizi Balita di Desa Gunungrejo Kecamatan Singosar

    No full text
    Berdasarkan riset dari (SSGI) pada tahun 2022 mengenai status gizi balita di Indonesia, prevalensi stunting di Indonesia 21,6%, overweight 3,5%, underweight 17,1% dan wasting 7,7%. Pemantauan status gizi balita dilaksanakan melalui penimbangan bulanan di posyandu dengan mengacu pada parameter SKDN. Salah satu parameter yang digunakan ialah N/D (persentase anak yang mengalami kenaikan berat badan dibandingkan dengan total anak yang diperiksa). Indikator N/D pada tahun 2022, di desa Gunungrejo hanya mencapai 52,9%. Kader posyandu diharapkan memiliki kompetensi yang baik dalam melakukan pelayanan karena dengan kompetensi yang baik bisa mengentaskan masalah gizi pada balita. Tujuan: untuk mengetahui hubungan kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan capaian pelayanan gizi balita di posyandu. Metode: menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian observasional dan menggunakan pendekatan cross sectional serta dianalisis dengan metode spearman. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dan kuisioner capaian pelayanan gizi balita. Besar sampel diambil menggunakan pendekatan purposive sampling, dan mendapatkan hasil 70 sampel ibu balita. Hasil: terdapat korelasi yang signifikan antara kompetensi kader posyandu dan capaian pelayanan gizi balita. Dari hasil analisis didapatkan bahwa responden menilai kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan kategori baik 28 (40,0%), cukup 19 (27,1%) dan kurang 23 (32,9%). Kemudian, capaian pelayanan gizi balita dengan kategori baik 27 (38,6%), cukup 18 (25,7%), kurang 25 (35,7%). Selanjutnya, terdapat hubungan kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan capaian pelayanan gizi balita dengan (p-value 0,002) dan korelasi koefisien sebesar 0.365 menunjukkan kedua hubungan variabel tersebut lemah dikarenakan kompetensi kader posyandu merupakan faktor eksternal dalam capaian pelayanan gizi balita. Kesimpulan: terdapat hubungan antara kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dan capaian pelayanan gizi balita di Desa Gunungrejo Kecamtan Singosari

    Hubungan Efikasi Diri Maternal Terhadap Manajemen Laktasi Pada Perempuan Pasca Salin Dengan Riwayat Menikah Dini di Kabupaten Probolinggo

    No full text
    Berdasarkan data Pengadilan Agama Kraksaan, Kabupaten Probolinggo masuk dalam urutan ke-3 angka pernikahan dini tertinggi di Jawa Timur. Faktor penyebab pernikahan dini yaitu kemiskinan, kurangnya kesempatan pendidikan, terbatasnya akses layanan kesehatan, stereotip mengenai peran gender, keyakinan bahwa pernikahan dapat mengamankan masa depan putri mereka atau melindungi mereka dari kehamilan di luar nikah. Ibu yang menikah di usia dini dapat berpengaruh terhadap rasa percaya diri atau efikasi diri dalam memberikan ASI kepada bayinya yang biasanya disebut sebagai manajemen laktasi. Taraf kesehatan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh manajemen laktasi yang baik. Manajemen laktasi dilakukan pada masa kehamilan (antenatal), persalinan (prenatal), dan terakhir pada masa menyusui hingga anak berumur 2 tahun (postnatal). Penelitian ini dilaksanakan pada akhir tahun 2023 hingga awal tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri maternal dengan manajemen laktasi yang meliputi persiapan dan perilaku laktasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif observasional dengan metode cross sectional. Data yang didapatkan dianalisis dengan chi-square untuk melihat hubungan efikasi diri maternal dengan manajemen laktasi. Dari 47 responden didapatkan p-value= 0,002 yang menunjukkan hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan persiapan laktasi dan p-value= 0,000 yang menunjukkan hubungan signifikan antara efikasi diri dengan perilaku laktasi

    Pengaruh Umur Bibit dan Konsentrasi Nutrisi pada Pertumbuhan dan Hasil Sawi Pakcoy (Brassica rapa L.)

    No full text
    Tanaman sawi pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat. Sawi pakcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Kesadaran masyarakat akan banyaknya manfaat pakcoy bagi kesehatan menyebabkan permintaan sayuran semakin meningkat. Salah satu cara untuk menghasilkan produk yang higienis dan bergizi tinggi yaitu dengan budidaya secara hidroponik. Tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik juga membutuhkan teknik budidaya yang tepat dan lingkungan budidaya yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh umur bibit dan konsentrasi nutrisi pada pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy. Hipotesis yang diajukan adalah umur bibit 7 HST dan konsentrasi nutrisi AB Mix 1300 ppm memberikan hasil tertinggi pada pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy. Penelitian telah dilaksanakan selama 3 bulan yaitu Desember 2023 hingga Februari 2024 di SMK Negeri 1 Plosoklaten yang berada di Jl. Pare-Wates Km. 7, Karang Nongko, Sumberagung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan Petak Utama (PU) adalah umur pindah bibit dan Anak Petak (AP) adalah konsentrasi AB Mix. Petak Utama (umur pindah bibit) antara lain P1 : 0 HST, P2 : 7 HST, dan P3 : 14 HST. Anak Petak (konsentrasi AB Mix) antara lain K1 : 900 ppm, K2 : 1100 ppm, K3 : 1300 ppm, dan K4 : 1500 ppm. Percobaan diulang sebanyak 3 ulangan sehingga diperoleh 9 petak unit percobaan dan 36 anak petak percobaan. Variabel pertumbuhan dan hasil yang diamati antara lain panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, berat segar total, berat segar konsumsi, dan indeks panen. Pengamatan pertumbuhan dilakukan pada saat tanaman berumur 21 HST, 28 HST, 35 HST, dan 42 HST. Pengamatan panen dilakukan pada saat tanaman berumur 48 HST. Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5%. Apabila hasil pengujian menunjukkan pengaruh perlakuan, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (Tukey) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan umur bibit dan konsentrasi nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pakcoy. Secara terpisah, penerapan perbedaan umur bibit dan konsentrasi nutrisi berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy. Perlakuan umur bibit 0 HST dan konsentrasi nutrisi 900 ppm memberikan rata-rata hasil lebih tinggi pada pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy antara lain panjang tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, berat segar total dan berat segar konsumsi

    Valuasi Ekonomi Ekosistem Arboretum Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dengan Pendekatan Total Economic Value.

    No full text
    Arboretum Sumber Brantas merupakan salah satu kawasan hutan konservasi yang memiliki manfaat yang beragam. Jasa lingkungan yang dihasilkan adalah mata air, penyerapan karbon, pencegahan banjir, penahan erosi, keanekaragaman hayati, dan pelestarian budaya. Pengelolaan Arboretum Sumber Brantas belum optimal karena setiap jasa lingkungan yang dihasilkan belum memiliki nilai secara ekonomi. Hal ini memunculkan kendala dalam pengelolaan seperti adanya pencurian tanaman, ekstraksi air ilegal, serta perilaku membuang sampah sembarangan yang berpotensi merusak ekosistem arboretum. Selain itu, terdapat tradeoff dalam peruntukan arboretum sebagai kawasan konservasi dan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai ekonomi total pada layanan lingkungan di Arboretum Sumber Brantas serta mengetahui pengaruh faktor sosial ekonomi pada kesediaan membayar masyarakat Sumber Brantas pada\ud nilai keberadaan Arboretum. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden yang memenuhi syarat yaitu kepala rumah tangga yang menggunakan arboretum untuk kegiatan budaya. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan informan kunci yaitu pihak pengelola Arboretum Sumber Brantas. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur pada jurnal, buku, dan dokumen pemerintah. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan model total economic value untuk menghitung nilai ekonomi dari manfaat guna dan non guna arboretum. Sementara itu, pengaruh faktor sosial ekonomi pada willingness to pay masyarakat pada nilai keberadaan arboretum dianalisis menggunakan regresi linier. Berdasarkan hasil analisis, diketahui jika nilai ekonomi dari jasa lingkungan ekosistem Arboretum Sumber Brantas adalah sebesar Rp 5.233.323.811,48 per tahun yang berasal dari nilai guna langsung berupa penyediaan air, nilai guna tidak langsung berupa penyerapan karbon, penyediaan oksigen, pencegahan banjir, penahan erosi, dan keanekaragaman hayati, serta nilai keberadaan berupa willingness to pay masyarakat pada kegiatan budaya. Sementara itu berdasarkan analisis pengaruh faktor sosial ekonomi pada nilai willingness to pay masyarakat, variabel yang signifikan adalah pendapatan dan usia. Informasi terkait nilai ekonomi jasa lingkungan arboretum dan pengaruh faktor sosial ekonomi pada willingness to pay pada manfaat budaya dapat dijadikan dasar bagi pengelola untuk menyusun program konservasi yang berkelanjutan

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇