137686 research outputs found
Sort by
Sistem Monitoring Konsentrasi Gas Sulfur Dioxside (So2) Secara Real-Time Berbasis Sensor Mq-136 Pada Tangki Karbonasi Di Pg Kebonagung Kota Malang Dengan Platform Penampil Google Spreadsheet
Produksi Pabrik Gula Kebonagung menggunakan proses
karbonatasi dengan memanfaatkan asap pembakaran biomassa ampas
tebu sebagai pemurnian nira. Namun, asap dari pembakaran biomassa
mengandung gas sulfur dioxide (SO2), yang memiliki dampak negatif
terhadap kesehatan dan lingkungan. Gas SO2 dapat menyebabkan
penyakit pernapasan dan berkontribusi pada pencemaran udara. Oleh
karena itu, perlu adanya penelitian untuk mengembangkan sistem
monitoring gas SO2 di pabrik gula, yang tidak hanya mendukung
pemantauan kualitas produksi gula, tetapi juga melindungi kesehatan
masyarakat dan lingkungan. Penelitian ini menghasilkan sistem
monitoring gas SO2 di Tangki Karbonasi PG Kebonagung Kota
Malang, mampu mengirimkan data ke Google Spreadsheet. Hasil
monitoring pada tangki karbonasi selama 3 hari menunjukkan
konsentrasi gas SO2 pada rentang 0 – 7 ppm dengan diperoleh
performa yang baik pada kondisi indoor. Pada hasil pengujian indoor
diperoleh performa dengan jarak aman peletakan sistem monitoring
pada rentang 0 – 30 meter dan jarak maksimal sistem dapat menerima
data pada jarak 55 meter. Sistem monitoring ini juga dilegkapi dengan
penyimpanan dengan kapasitas penyimpanan micro SD Card sebesar
3,7 GB dan google spreadsheet sebesar 10 juta cell dan 18.278
column
Analisis Dinamik Model Penyebaran Penyakit Hepatitis A dengan Vaksinasi dan Sanitasi
Skripsi ini membahas tentang analisis dinamik model penyebaran
penyakit hepatitis A dengan vaksinasi dan sanitasi. Populasi model ini
dibagi menjadi enam subpopulasi, yaitu subpopulasi individu rentan,
subpopulasi individu terpapar, subpopulasi individu tervaksin,
subpopulasi individu terinfeksi, subpopulasi individu sembuh, dan
subpopulasi patogen. Analisis dinamik yang dilakukan pada model
meliputi penentuan titik kesetimbangan model, angka reproduksi
dasar (R0), analisis kestabilan lokal dan global titik kesetimbangan,
dan analisis sensitivitas. R0 didapat dengan menggunakan matriks
generasi selanjutnya. Kestabilan lokal dari titik kesetimbangan
didapatkan dengan menggunakan linearisasi. Metode Castillo-Chavez
digunakan untuk membuktikan kestabilan global titik kesetimbangan
bebas penyakit, sedangkan fungsi Lyapunov digunakan untuk
menunjukkan kestabilan global titik endemik. Hasil analisis yang
diperoleh menunjukkan bahwa model memiliki dua titik
kesetimbangan, yaitu titik kesetimbangan bebas penyakit hepatitis A
yang selalu eksis dan titik kesetimbangan endemik hepatitis A yang
eksis apabila R0 > 1. Titik kesetimbangan bebas penyakit bersifat
stabil asimtotik lokal apabila memenuhi kriteria Routh-Hurwitz dan
stabil asimtotik global jika R0 < 1, sedangkan titik kesetimbangan
endemik bersifat stabil asimtotik, baik lokal maupun global. Hasil
analisis sensitivitas menunjukkan bahwa laju vaksinasi merupakan
parameter yang paling sensitif terhadap angka reproduksi dasar.
Simulasi numerik yang dilakukan menunjukkan hasil yang sesuai
dengan hasil analisis
Analisis Kestabilan Dan Penentuan Ambang Batas Lereng Tambang Batubara, Area Lowwall Pit X Banko Tengah Pt Bukit Asam Tbk, Menggunakan Data Radar Monitoring System
Penelitian ini dilakukan di PT Bukit Asam Tbk yang berlokasi
di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Adanya masalah yang signifikan
pada ketidakstabilan lereng tambang yang berpotensi menimbulkan
risiko longsor dengan konsekuensi merugikan baik secara finansial
maupun terhadap keselamatan jiwa. Dengan dilakukan penelitian
pemantauan lereng menggunakan radar monitoring system dapat
memberikan peringatan dini yang optimal. Tujuan penelitian ini
adalah identifikasi karakteristik longsor beserta menentukan ambang
batas (threshold-alarm) berdasarkan nilai velocity dan inversevelocity lereng pada ketidakstabilan lereng menggunakan radar
monitoring system. Metode penelitian menggunakan IBIS-ArcSAR
berupa teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) yang menggunakan
gelombang elektromagnetik. Perhitungan faktor keamanan (FK)
dilakukan dengan model perhitungan Morgenstern-Price untuk
menganalisis kestabilan lereng. Studi kasus dilakukan di salah satu
lereng tambang batubara dengan hasil nilai FK berkisaran 1.028
menandakan lereng tidak memenuhi kriteria desain lereng stabil.
Dilakukan pemantauan selama 48 jam pada area lereng zona kritis
yang didominasi oleh batulempung dan batulanau. Hasil dari
penelitian menunjukan bahwa perubahan tren deformasi pada lereng
tambang dimulai dari deformasi linear kemudian berubah menjadi
deformasi progresif sebelum longsor terjadi. Kelongsoran terjadi pada
pukul 00:30 AM, 19 September 2023 dengan nilai velocity 15,140
mm/jam dan nilai inverse velocity 0,066 mm/jam. Nilai ambang batas
pada zona kritis sebesar 8,521 mm/jam untuk nilai velocity dan 0,012
mm/jam untuk nilai inverse velocity. Kesimpulan dari penelitian ini
ketika nilai velocity mencapai 8,521 mm/jam dan inverse velocity
0,012 mm/jam berpotensi terjadi longsor dalam kurung waktu 1 jam
Karakteristik NuggetiEntokndengan SubstitusinTepungnKentang dan TepungnTerigunDitinjau darinKadarnAir, SusutnMasak, pH dannTekstur
Daging entok memiliki karakteristik daging alot dan kering, berwarna
gelap danimemilikiibauiyangiamis menyengat. Salahisatu inovasiiuntuk mengatasi
hal tersebut adalah dengan mengolah daging entok menjadi nugget. Dalamiproses
pembuataninugget selainnbahan utama yaitundaging giling dannbumbu yang
dicampurnsering pula ditambahkannbahannpengisi (filler). Penggunaannbahan
pengisi (filler) padamproduk restrukturisasi memiliki perannuntuk meminimalkan
biaya produksi dan untuk meningkatkan volume produk restrukturisasi. Tepung
kentang dan tepung terigu merupakan dua bahannbaku umum yangndigunakan
dalammpembuatan produk pangan, termasuk olahanmdaging seperti nugget.
Karakteristik dari tepung kentang yaitu memiliki dayanserapitinggi, teksturihalus,
rasansedikitimanis, serta beraroma harumnkhasitepungnkentang.
Penelitiannini dilaksanakan pada 11 September 2023 sampai 12 Oktober
2023. Pembuatan nugget entok dilakukanidi LaboratoriumiTeknologinHasil
TernakiFakultasnPeternakannUniversitasnBrawijaya. Pengujian kadar air, susut
masak, dan pHidilakukanndinLaboratoriumnTeknologinHasilnTernakmFakultas
PeternakannUniversitasnBrawijaya. Pengujianiteksturidilakukan diiLaboratorium
Klinik Hewan Satwa Sehat Indonesia. Materiipenelitianiyangidigunakannadalah
nuggetnyangndibuatidariidaging entok dengannperbandinganitepungikentang dan
tepungiterigu. MetodeipenelitianimenggunakaniRancanganiAcaknLengkap (RAL)
dengann5nperlakuanndan 5nulangan. Perlakuanndalamnpenelitianminimadalah
perbandingan tepung terigu dengan tepung kentang, yaitu P0 (tepung kentang 0%,
tepung terigu 100%), P1 (tepungikentang 25%, tepungiterigu 75%), P2 (tepung
kentang 50%, tepung terigu 50%), P3 (tepung kentang 75%, tepung terigu 25%),
dan P4 (tepung kentang 100%, tepung terigu 0%). Dataiyangndiperolehndianalisis
denganmanalisisnragam/analysis of varians (ANOVA), jikanhasilnanalisisv
menunjukkannperbedaan, makandilanjutkanmdenganmmenggunakanmUjinJarak
BergandamDuncan (UJBD).
Hasilnpenelitiannmenunjukkanmbahwa perbandingan tepungmkentang
dengan tepung terigu dengan persentasenberbeda pada setiap perlakuan tidak
memberikannpengaruhmnyatamterhadapnkadarnair, susut masak, dan pH, tetapi
memberikan pengaruh nyata terhadap tekstur. Nilai rataan rata kadar air berkisar
antara 52,62 – 53,55%, nilai terendah P3 sebesar 51,62% dan tertinggi P2 sebesar
53,55%. Nilai rataan susut masak berkisar antara 1,09 – 2,03%, nilai terendah P1
sebesar 1,09% dan tertinggi 2,03%. NilainrataannpH berkisariantara 5,78 – 5,82,
nilai pH tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan nugget tanpa
penambahan tepung kentang. Nilai rataan tekstur berkisar antara 14,66 – 18,02
mm/gr/10s, nilai terendah P0 sebesar 14,66 mm/gr/10s dan tertinggi P4 sebesar
18,02 mm/gr/10s. Kesimpulanndarinpenelitianmini yaitumberdasarkanmhasil
penelitian bahwa fungsi penggunaan tepung kentang dan tepung terigu pada
pembuatan nugget entok yaitu untuk meningkatkan volume dan memperbaiki
tekstur pada nugget, hal itu ditunjukkan oleh perlakuan P2 (tepung kentang 50% :
tepung terigu 50%) yang memiliki nilai tektur yang paling baik.. Saran dari
penelitian ini yaitu Perlakuan P2 (tepung kentang 50% : tepung terigu 50%) dapat
digunakan sebagai formulasinpembuatannnugget entok denganmsubstitusintepung
kentang dan tepung terigu karena memiliki nilai tekstur yangnbaik
Evaluasi Nilai Nutrisi Pakan Sapi Madura Di Kabupaten Bangkalan Menggunakan Teknik In Vivo Dan In Vitro”.
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi respon produksi ternak sapi Madura terhadap
pakan yang disajikan yaitu berupa rumput lapang yang disuplementasi dengan pakan
konsentrat. Penelitian dibagi menjadi 2 tahap yaitu penelitian in vivo (Tahap I) dan in vitro
(Tahap II). Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa penambahan pakan konsentrat pada
rumput lapang meningkatkan nilai PBBH sapi Madura dan menurunkan nilai konversi pakan
secara nyata (P<0,05). Penelitian tahap I menghasilkan PBB paling tinggi pada perlakuan P4
sebesar 0,81 kg/ekor/hari dan konversi pakan terendah pada perlakuan P4 (7,91). Hasil
penelitian in vitro menunjukkan bahwa penambahan pakan konsentrat meningkatkan secara
sangat nyata (P<0,01) nilai produksi gas, degradasi BK dan BO, pH dan suhu rumen serta
ESPM. Penelitian in vitro menghasilkan nilai ESPM paling baik pada perlakuan P4 sebesar
51,39 g n/Kg BOTR. Hasil penelitian baik tahap I maupun tahap II secara konsisten
menunjukkan bahwa penambahan pakan konsentrat dengan proporsi ampas tahu paling tinggi
(30%) memberikan pengaruh terhadap performa sapi Madura dan Madrasin yang dapat dilihat
dari nilai PBB dan ESPM
Transformasi Pertanian Konvensional Menuju Pertanian Berkelanjutan (Studi Kasus di Desa Jelu Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro)
Desa Jelu merupakan sebuah desa di Kecamatan Ngasem Kabupaten
Bojonegoro yang memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kondisi alam di
desa Jelu berupa dataran rendah, sehingga sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian di sektor pertanian. Petani di Desa Jelu Kecamatan
Ngasem masih menggunakan sistem pertanian konvensional. Penggunaan
pupuk anorganik dan pestisida kimia yang merupakan input utama dalam usaha
tani konvensional menjadi penyebab degradasi lahan, keracunan tanaman dan
penurunan biota serta terjadinya kerusakan lingkungan. Oleh karena beragam
dampak yang dapat ditimbulkan akibat praktik pertanian konvensional, maka
dalam penelitian ini dilaksakanan analisis secara mendalam terkait kesiapan dan
persepsi petani di Desa Jelu Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro dalam
bertransformasi menuju pertanian berkelanjutan.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis karakteristik perilaku petani di
Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro terhadap sistem
pertanian konvensional, meliputi penggunaan pestisida dan pupuk anorganik 2)
Menganalisis persepsi petani terhadap transformasi menuju pertanian
berkelanjutan di Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro 3)
Menganalisis kesediaan petani di Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten
Bojonegoro untuk menerima (Willingnes to Accept) pertanian organik dalam
transformasi pertanian berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa
tahapan yaitu: a) menentukan identifikasi masalah yang akan diamati, b)
melakukan studi pendahuluan (survei) untuk menentukan lokasi pengambilan
sampel, c) pelaksanaan penelitian lapang dengan pengambilan data penelitian,
d) menganalisis data yang telah diperoleh dan kemudian melakukan studi
pembahasan terhadap data yang telah diperoleh, yang selanjutnya memberikan
rekomendasi hasil penelitian.Penelitian ini dilakukan di Desa Jelu Kecamatan Ngasem, Kabupaten
Bojonegoro yang terdiri atas 5 (lima) Dusun, yakni Dusun Demping, Dusun
Plosorejo, Dusun Jelu, Dusun Prajekan dan Dusun Gempol Garut. Penelitian ini
dilakukan pada bulan November 2023 dengan jumlah sampel 68 responden.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil analisis perilaku petani di Desa Jelu,
Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro terhadap sistem pertanian
konvensional, meliputi penggunaan pestisida dan pupuk anorganik,
menunjukkan bahwa variabel usia, lama pendidikan, dan lama bertani tidak
berpengaruh terhadap jumlah pestisida yang digunakan petani. Hasil analisis
persepsi petani terhadap transformasi menuju pertanian berkelanjutan di Desa
Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa indeks
keberlanjutan masing masing dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan termasuk
dalam kategori cukup berkelanjutan. Hasil analisis kesediaan petani di Desa
Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro untuk menerima (Willingnes
to Accept) pestisida organik dalam transformasi pertanian berkelanjutan,
menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Desa Jelu percaya pada
“Pertanian berkelanjutan dapat membantu menjaga lingkungan dan sumber
daya alam yang lebih baik”, petani di Desa Jelu juga percaya pada “Pertanian
berkelanjutan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi tanah dan hasil
panen”, dan petani di Desa Jelu memiliki “Ketertarikan untuk beralih ke pertanian
berkelanjutan dalam produksi tanaman”, serta petani mengharapkan “Minimal
keuntungan yang tertinggi dalam sekali panen” yakni Rp 1.601.000,00 s/d Rp
2.000.000,0
Analisis Genangan Dan Banjir Terhadap Aspek Sosial Dan Ekonomi Di Desa Pandan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro
Genangan dan banjir merupakan bencana yang seringkali menimbulkan
kerugian besar dan berdampak serius terhadap aspek sosial dan ekonomi
masyarakat. Desa Pandan yang terletak di Kecamatan Ngraho Kabupaten
Bojonegoro merupakan salah satu wilayah yang mengalami permasalahan
genangan dan banjir. Karakteristik geografis desa, seperti pemukiman yang
berada pada ketinggian lebih tinggi dari persawahan, menyebabkan aliran
air hujan dan air limbah dari pemukiman penduduk dan daerah yang lebih
tinggi mengalir ke dalam satu jalur DAS Sungai, bermuara ke anak sungai
di sebelah barat. Desa. Sampah di saluran drainase, perubahan lahan,
pelebaran jalan, penyempitan drainase, dan tingginya debit di anak sungai
merupakan beberapa faktor penyebab terjadinya permasalahan genangan
dan banjir di desa tersebut. Peneliti juga melakukan pengujian untuk
memastikan kualitas data yang dikumpulkan, meliputi uji validitas,
reliabilitas, linearitas, normalitas, multikolinearitas, dan uji regresi linier
berganda. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa data yang
dikumpulkan valid, reliabel, dan linier, dengan beberapa pengecualian.
Hasil uji regresi linier berganda memberikan gambaran hubungan antara
variabel independen dan dependen sehingga dapat lebih memahami
dampak genangan dan banjir terhadap aspek sosial dan ekonomi Desa
Panda
Kualitas Silase Daun Singkong (Manihot esculenta) yang diberi Lactobacillus plantarum dengan Level yang Berbeda dan Molases”
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023
sampai dengan bulan Januari 2024. Pembuatan silase dilakukan
di Laboratorium Lapang Sumber Sekar Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya Malang. Analisis kandungan nutrisi
dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Loka
Pengujian Standar Instrumen Ruminansia Besar, Pasuruan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
penambahan Lactobacillus plantarum dengan level yang
berbeda terhadap kandungan nutrisi silase daun singkong
(Manihot esculenta).
Pakan memiliki peranan penting dalam usaha
peternakan. Pakan dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
produksi ternak. Pakan yang biasanya diberikan kepada ternak
berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan merupakan sumber
pakan utama yang dapat diperoleh dari rumput-rumputan,
leguminosa, dan hasil samping pertanian atau perkebunan.
Daun singkong (Manihot esculenta) merupakan hasil samping
pertanian yang berpotensi digunakan sebagai alternatif pakan
ternak. Daun singkong saat panen menyumbang 10-40% dari
total produksi tanaman singkong. Daun singkong mengandungxi
Bahan Kering 23,36%, Protein Kasar 29%, Serat Kasar 19,06%,
Lemak Kasar 9,41%, Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen 34,08%,
dan abu 8,83%, disisi lain daun singkong mengandung asam
sianida (HCN) yang bersifat antinutrisi dan dapat menimbulkan
dampak negatif bagi ternak. Selain itu daun singkong yang
jumlah nya melimpah dimusim panen saja menyebabkan
banyak daun singkong yang membusuk dan dibiarkan begitu
saja. Teknologi pengolahan pakan menjadi silase dapat
digunakan untuk mengurangi zat antinutrisi dan
memperpanjang umur simpan daun singkong.
Materi penelitian yang digunakan pada penelitian ini
adalah daun singkong, peralatan pengolahan, serta alat dan
bahan untuk analisis kandungan nutrisi. Metode penelitian ini
yaitu percobaan laboratorium menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan
yang duji coba pada penelitian ini meliputi perlakuan kontrol
yaitu daun singkong + 5% molasses (P0), daun singkong + 2%
Lactobacillus plantarum + 5% molasses (P1), daun singkong +
4% Lactobacillus plantarum + 5% molasses (P2), daun
singkong + 6% Lactobacillus plantarum + 5% molasses (P3).
Data yang diperoleh pada penelitian selanjutnya dianalisis
menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan apabila terdapat
perbedaan nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan UJi
Jarak Berganda Duncan (UJBD).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan
Lactobacillus plantarum dengan level yang berbeda dan
molasses memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)
terhadap kandungan nutrisi yang meliputi kandungan bahan
kering, protein kasar, dan serat kasar dan memberikan pengaruh
yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kandungan bahan organik
dan lemak kasar. Nilai rataan bahan kering pada P0 sebesarxii
46,55±3,32%, pada P1 sebesar 64,18±1,68%, pada P2 sebesar
65,79±0,37% dan P3 68,66±0,68%. Nilai rataan protein kasar
pada P0 sebesar 23,84±0,40%, pada P1 sebesar 24,18±0,48%,
pada P2 sebesar 25,58±0,93% dan P3 27,15±0,55%, dan nilai
rataan pada serat kasar pada P0 sebesar 20,30±0,75%, pada P1
sebesar 21,43±0,81%, pada P2 sebesar 19,82±0,71% dan P3
19,28±1,07%. Perlakuan penambahan Lactobacillus plantarum
6% (P3) menghasilkan nilai rataan bahan kering yang paling
tinggi yaitu sebesar 68,66±0,68%, nilai rataan kandungan
protein kasar sebesar 27,15±0,55%, dan kandungan serat kasar
terkecil sebesar 19,28±1,07%.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
penambahan Lactobacillus plantarum terbaik diperoleh pada
penambahan sebanyak 6% ditinjau dari kenaikan kandungan
bahan kering, peningkatan protein kasar dan penurunan
kandungan serat kasar. Saran dari penelitian ini, pada skala
peternak kecil pembuatan silase dengan penambahan
Lactobacillus plantarum tidak dianjurkan karena harga
starternya yang mahal. Akan tetapi pada skala yang besar
penambahan Lactobacillus plantarum dapat digunakan karena
hasil yang ditunjukkan dapat meningkatkan protein didalam
silase. Skala industri yang lebih besar dapat menggunakan
bakteri yang telah dikultur untuk menekan biaya pembelian
bakteri yang mahal
Karakter sifat kualitatif dan kuantitatif persilangan itik dan entok (titktok) pada umur yang berbeda
Karakteristik ternak dapat diketahui melalui penampilan fenotipik. Melalui fenotipik dapat
digolongkan menjadi dua sifat yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kualitatif merupakan
sifat yang dapat di ukur dan dibedakan antar individunya. Sedangkan untuk sifat kuantitatif adalah
sifat yang dapat di ukur. Langkah awal dalam melakukan pemuliaan hewan ternak dalam rangka
mengindentifikasi sifat-sifat penting yang bernilai ekonomis dapat diketahui dengan cara
mengindentifikasi karakteristik kuantitatif berupa bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh pada
ternak. Ukuran tubuh tersebut meliputi panjang badan, panjang/tinggi leher, panjang sayap, lebar
sayap, lebar dada, panjang kepala, panjang paruh, panjang tulang tibia, dan bobot badan.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter sifat kualitatif dan
kuantitatif hasil persilangan itik dan entok pada umur yang berbeda. Hasil dari penelitian ini adalah
untuk memberikan informasi mengenai berbagai perbedaan umur dari karakter sifat kualitatif dan
kuantitatif persilangan itik dan entok. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
persilangan itik entok di akhir fase yaitu 5 minggu (Fase grower) dan 8 minggu (Fase finisher)
dengan jantan sebanyak 36 ekor dan betina 40 ekor. Pola pemeliharaan intensif dilakukan dengan
system terkurung yang didukung dengan pemberian pakan yang baik dengan campuran pakan
eceng gondok. Peralatan yang digunakan adalah alat tulis, jangka sorong digital, timbangan
gantung digital, pita ukur dan penggaris panjang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa karakter sifat kualitatif persilangan itik entok di
dominasi dengan warna hitam dan hitam putih pada warna bulu, warna paruh dan kulit kaki. Pada
hasil kuantitatifnya pada fase grower rata rata pada bobot badan jantan 1246.22±200.18 sedangkan
untuk betina 1009.05±268.88, lebar paruh jantan 2.98±0.32 betina 2.67±0.25, panjang paruh jantan
5.37±0.47 betina 4.87±0.43, tinggi kepala jantan 4.84±0.31 betina 4.60±0.18, panjang kepala
jantan 8.54±1.04 betina 8.04±0.90, panjang leher jantan 6.94±1.10 betina 6.85±0.66, panjang
punggung jantan 26.09±2.56 betina 24.16±2.50, panjang sayap jantan 18.12±6.09 betina
16.38±6.03, panjang femur jantan 11.90±1.17 betina 11.07±1.35, panjang tibia jantan 9.87±1.30
betina 9.12±1.09, lebar dada jantan 12.38±1.77 betina 11.56±1.75, panjang jari ketia jantan
8.70±0.82 betina 7.77±0.70. Untuk fase finisher rata rata ukuran tubuh yaitu bobot badan jantan
1874.94±86.36 betina 1523.80±123.51, lebar paruh jantan 3.41±0.39 betina 3.12±0.46, panjang
paruh jantan 5.91±0.33 betina 5.51±0.25, tinggi kepala jantan 5.69±0.25 betina 5.47±0.43, panjang
kepala jantan 10.24±0.65 betina 9.19±1.03, panjang leher jantan 9.01±0.74 betina 7.50±0.94,
panjang punggung jantan 30.61±1.89 betina 27.31±1.27, panjang sayap jantan 27.17±2.71 betina
25.06±2.46, panjang femur jantan 12.94±1.34 betina 12.48±0.95, panjang tibia jantan 12.38±2.12viii
betina 10.46±1.24, lebar dada jantan 15.06±1.28 betina 13.67±1.57, panjang jari ketiga jantan
9.26±0.60 betina 8.75±0.62.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini karakteristik kualitatif dan kuantitatif pada persilangan
itik dan entok (tiktok) memiliki hasil sifat kualitatif dan kuantitatif yang berbeda berdasarkan fase
grower dan finisher. Beberapa parameter dalam karakter sifat kualitatif tiktok mengalami
penurunan presentase warna pada fase grower menuju fase finisher. Pada karakter sifat kuantitatif
pada fase grower menuju finisher mengalami kenaikan, tetapi dalam beberapa parameter terjadi
kenaikan yang tidak signifikan
Pengaruh Information Communication Technology (ICT) Pada Energi Terbarukan Menggunakan Gru Dan Ridge Regression
Information and communication technologies (ICT), atau Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) adalah peralatan yang dapat digunakan untuk membuat,
memroses dan menyebarkan data. ICT sendiri sudah menjadi bagian dari
keseharian, terlebih selama pandemi Covid 19, yang mengakibatkan setiap
kegiatan dilakukan secara daring melalui perangkat digital. Namun, meski
memberikan manfaat, penggunaan ICT berdampak pada meningkatnya
penggunaan energi listrik. Di Indonesia sendiri, 82% sumber energi listriknya
masih berasal dari bahan bakar fosil, yang suatu saat dapat habis juga
menghasilkan polusi. Solusi yang paling banyak diberikan terkait permasalahan
akibat bahan bakar fosil adalah memanfaatkan energi terbarukan. Energi
terbarukan adalah energi yang bersumber dari sumber daya alam dan tidak akan
habis. Beberapa penelitian sudah dilakukan untuk mencari hubungan dan
pengaruh dari penggunaan ICT terhadap berkembangnya energi terbarukan.
Penelitian-penelitian tersebut mengumpulkan data penggunaan ICT dan produksi
energi terbarukan dari berbagai negara untuk dianalisis. Namun, masih sedikit
penelitian yang membahas kasus spesifik dengan data dari suatu negara, atau
pengaruh ICT terhadap jumlah penggunaan energi listrik dan emisi CO2.
Penelitian ini difokuskan pada prediksi jumlah konsumsi energi listrik dan emisi
CO2 berdasarkan perkembangan ICT. Prediksi dilakukan dengan mengumpulkan
data dari empat variabel ICT, yaitu mobile cellular subscription, secure internet
server, fix broadband subscription dan individual using internet dari tahun
2010-2019. Data tersebut digunakan untuk memprediksi hingga tahun 2025 dan
memprediksi jumlah konsumsi energi listrik juga emisi CO2. Didapatkan, keempat
variabel ICT memiliki tren meningkat dimana setiap tahunnya jumlah
penggunaannya meningkat. Keempat variabel tersebut juga memiliki korelasi
positif terhadap konsumsi energi listrik dan emisi CO2, yang menandakan seiring
meningkatnya ICT, meningkat pula konsumsi energi listrik dan emisi CO2. Energi
terbarukan menjadi solusi terhadap permasalahan keterbatasan energi dan emisi
CO