137686 research outputs found
Sort by
Penafsiran Hakim Pengadilan Agama Terkait Wali Nikah Dalam Penetapan Permohonan Itsbat Nikah
Pada skripsi ini, penulis menganalisis mengenai penafsiran hakim pengadilan
agama pada penetapan permohonan itsbat nikah terkait wali nikah dan halangan
perkawinan dengan menganalisis lima penetapan itsbat nikah yang ditolak atau
tidak dapat diterima dan lima penetapan itsbat nikah yang dikabulkan atau
diterima pada perkara yang sama serta menganalisis akibat hukum dari penetapan
itsbat nikah tersebut karena adanya perbedaan hasil penetapan pada perkara yang
sama.
Berdasarkan hal tersebut, skripsi ini mengangkat rumusan masalah: (1)
Bagaimana Penafsiran hakim Pengadilan Agama terkait wali nikah perkawinan
dalam penetapan permohonan itsbat nikah? (2) Bagaimana akibat hukum
pengabaian hakim terkait wali nikah dan halangan dalam perkawinan pada
penetapan permohonan itsbat nikah?
Kemudian penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian normatif dengan
metode pendekatan perundang-undangan (statue approach) dan pendekatan
kasus (case approach). Selanjutnya, penulis memperoleh bahan hukum primer,
sekunder, melalui teknik studi kepustakaan yang dilakukan secara daring ataupun
luring. Dalam melakukan analisis, penulis menggunakan teknik interpretasi yaitu
metode penafsiran hakim dalam menetapkan permohonan itsbat nikah terkait wali
nikah dan halangan perkawinan
Hasil penelitian, penetapan itsbat nikah yang ditolak menggunakan penafsiran
gramatikal yang menafsirkan syarat dan rukun perkawinan serta menggunakan
penafsiran restriktif yang membatasi ketentuan wali nikah. Pada penetapan itsbat
nikah yang dikabulkan, menggunakan penafsiran teleologis yang menafsirkan
peraturan hukum sesuai dengan tujuan kemasyarakatan dan penafsiran ekstensif
yang memperluas ketentuan wali nikah. Namun, penulis sependapat dengan
penafsiran pada penetapan itsbat nikah yang ditolak karena majelis hakim
bertumpu pada peraturan perundang-undangan bahwa wali nikah terdiri dari wali
nasab dan wali hakim. Jika wali nikah bukan yang berhak, maka perkawinan
dianggap tidak sah secara hukum negara dan dapat dibatalkan. Status perkawinan
para pemohon yang hanya sah secara agama dan tidak sah secara hukum negara
maka tidak ada hubungan keperdataan antara suami, isteri dan anak serta
perkawinan para pemohon dapat dibatalkan. Akibat hukum penetapan itsbat nikah
diterima adalah status hukum perkawinan para pemohon dinyatakan sah dan
dapat dicatatkan sehingga menimbulkan hubungan keperdataan antara suami
isteri serta anak yang dilahirkan. Saran untuk kantor urusan agama mengadakan
sosialisasi dan edukasi hukum perkawinan kepada masyarakat bekerjsama dengan
pihak terkait seperti tokoh agama, majelis hakim berpartisipasi aktif dalam
kegiatan edukasi dan sosialisasi hukum perkawinan kepada masyarakat dengan
menjadi narasumber dan masyarakat sebelum melangsungkan perkawinan
mencari informasi tentang wali nikah yang sah dengan mengikuti ceramah agama,
penyuluhan hukum, seminar
Peran Serta Masyarakat Dalam Pengolahan Sampah di Desa Mojosari Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro
Keberhasilan pengelolaan sampah tidak lepas dari peran serta masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah saat ini masih belum terlihat secara
signifikan. Partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan sampah diteliti dalam
penelitian ini karena kegiatan pengurangan sampah masih melibatkan pembakaran sampah
terbuka dan penguburan di halaman yang berbahaya bagi lingkungan. Sebuah model
penelitian dirancang, dan kuesioner didistribusikan di antara 112 rumah tangga (KK) untuk
menganalisis partisipasi mereka dalam program pengelolaan sampah pedesaan. Survei
kuesioner semi-terstruktur, diskusi kelompok terfokus, dan wawancara dengan informan
utama diadopsi untuk memperoleh informasi kualitatif. Kerangka analisis mencakup analisis
Mass Balance analysis (MBA) dan Arnstein’s participation (APL) ladder. MBA diterapkan
untuk mengukur tingkat pengurangan limbah saat ini dari setiap rumah tangga, sementara
(APL) digunakan untuk mengevaluasi tingkat partisipasi masyarakat dalam program ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengurangan sampah adalah 0,48
kg/KK/hari yang menyumbang total pengurangan sampah sebesar 17,94 kg/hari di desa
(24,39% dari total timbulan sampah). Pengukuran menggunakan Arnstein’s participation
(APL) ladder mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat di Desa Mojosari, Kecamatan
Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro berada di tingkat partisipasi ketiga, yaitu informing
(51,6%). Di mana rumah tangga dapat mengakses informasi begitu mereka menyadari bahwa
mereka memiliki peran potensial dalam program pengelolaan sampah. Meskipun persentase
partisipasi yang sedang dan tinggi lebih tinggi daripada tingkat rendah, yaitu melalui
manipulasi dan terapi, itu tidak mengindikasikan bahwa pengelolaan sampah di Mojosari
dilakukan dengan baik. Ini terlihat dari praktik pengelolaan sampah yang saat ini kurang
optimal, yang mungkin disebabkan oleh 28,52% masyarakat yang tidak berpartisipasi secara
aktif dalam program. Ini menunjukkan bahwa pengurangan dan pemisahan sampah di
sumbernya belum sepenuhnya melibatkan partisipasi warga. Temuan ini, menunjukkan
bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah di desa terutama bergantung pada
kader masyarakat mengenai subjek lingkungan serta dan latar belakang ekonomi
masyarakat. Disimpulkan di mana masyarakat lemah secara ekonomi dan ada tokoh
manipulatif, memastikan tingkat partisipasi masyarakat yang lebih tinggi lebih menantan
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Terhadap Daya Hambat Bakteri Vibrio parahaemolyticus Secara In Vitro
Potensi sumberdaya perikanan laut Indonesia kurang lebih 6,4 juta ton per
tahun. Komoditas perikanan laut yang banyak dibudidayakan oleh pembudidaya
di Indonesia adalah udang. Kendala yang dihadapi oleh para petambak adalah
terjadi kematian masal akibat dari serangan penyakit. Penyakit yang timbul pada
ikan dapat disebabkan oleh virus, parasit, jamur, dan bakteri. Serangan penyakit
pada ikan budidaya akan menyebabkan penurunan produksi budidaya hingga
kematian ikan. Bakteri Vibrio parahaemolyticus merupakan bakteri penyebab
penyakit vibriosis yang sering menginfeksi udang. Bakteri V. parahaemolyticus
juga menjadi agen penyebab penyakit hepatopankreas akut. Ikan yang terinfeksi
Bakteri V. parahaemolyticus terlihat dari ekor memerah, geripis, dan tubuhnya
pucat. Pencegahan dan pengobatan penyakit vibriosis dilakukan dengan
penggunaan senyawa antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol akan
menimbulkan bakteri yang resisten terhadap jenis antibiotik dan residu pada
produk perikanan. Alternatif lain yang dilakukan untuk penanggulangan penyakit
menggunakan obat yang berasal dari bahan alami. Tanaman daun alpukat
berpotensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak
etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) dalam menghambat bakteri V.
parahaemolyticus secara in vitro. Pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilakukan di
Laboratorium Budidaya Ikan Divisi Parasit dan Penyakit Ikan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya pada bulan Maret – April 2024.
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Penelitian ini dilakukan dengan 5 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan
tersebut terdiri dari 32,5 mg/L, 27,5 mg/L, 22,5 mg/L, 17,5 mg/L, dan 12,5 mg/L.
Perlakuan A (12,5 mg/L) diperoleh rata-rata diameter zona hambat sebesar
8,72 mm ± 0,16 mm. Perlakuan B didapatkan rata-rata diameter zona hambat
sebesar 9,63 ± 0,18 mm. Perlakuan C didapatkan rata-rata diameter zona hambat
sebesar 10,05 ± 0,14 mm. Perlakuan D didapatkan rata-rata diameter zona
hambat sebesar 10,21 ± 0,27 mm. Perlakuan E (32,5 mg/L) didapatkan rata-rata
diameter zona hambat sebesar 10,22 ± 0,19 mm. Kesimpulan dari hasil penelitian
ini yaitu ekstrak etanol daun alpukat berpengaruh terhadap bakteri V.
parahaemolitycus dan memiliki sifat bakterisidal. Zona hambat perlakuan A (12,5
mg/L), B (17,5 mg/L), C (22,5) mg/L, D (27,5) mg/L, dan E (32,5) mg/L termasuk
ke dalam kategori sedang. Zona hambat terendah didapatkan pada perlakuan A
(12,5 mg/L) dengan hasil rata-rata 8,77 mm dan zona hambat tertinggi pada
perlakuan E (32,5 mg/L) dengan hasil rata-rata 10,22 mm
Fortifikasi Pakan Rotifer (Brachionus sp.) dengan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru), Minyak Cumi, dan Chlorella vulgaris terhadap Laju Pertumbuhan dan Perkembangbiakan
Salah satu pakan larva ikan kerapu (Epinephelus sp.) pengganti kuning
telur adalah rotifer (Brachionus sp.). Rotifer mengandung banyak nutrien yang
dibutuhkan bagi larva ikan yang masih berkembang meliputi asam amino, lemak
tak jenuh, mineral, vitamin, dan antibiotik untuk menjaga kekebalan tubuh larva
serta tidak menimbulkan efek samping bagi larva. Ketersediaan populasi rotifer
perlu diperbanyak agar memenuhi kebutuhan pakan larva ikan salah satu
caranya adalah dengan penambahan nutrisi berupa pakan yang dapat
menunjang laju pertumbuhan, tingkat produktivitas telur, ukuran dan waktu
regenerasi rotifer (Brachionus sp.)
Penelitian ini dilaksanakan selama bulan November – Desember 2023 di
Laboratorium Pakan Alami dan Laboratorium Observasi Balai Besar Riset
Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan
dan 1 kontrol yang dilakukan pengulangan selama 3 kali. Rotifer diberi pakan
berupa Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL ; Nannochloropsis sp. 15 x 106
sel/mL dengan ikan lemuru (Sardinella lemuru) 0,06 gr/L ; Nannochloropsis sp.
15 x 106 sel/mL dengan minyak cumi 5 µL/L; Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL
dengan Chlorella vulgaris 3 x 106 sel/mL. Metode pemberian pakan yang
digunakan adalah dengan metode tetes secara kontinu. Parameter utama yang
diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat produktivitas telur, ukuran dan waktu
regenerasi rotifer (Brachionus sp.) ditambah dengan parameter penunjang
meliputi salinitas, suhu, oksigen terlarut, dan pH.
Hasil penelitian ini adalah perlakuan terbaik dalam menghasilkan laju
perkembangbiakan (876,38 ind/L) dan tingkat produktivitas telur (55,06 %), waktu
regenerasi tercepat (39 jam), dan ukuran rotifer terbesar adalah 7,7 µm adalah
pemberian pakan pakan Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL dan minyak cumi 5
µl/L
Implementasi SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) pada Pemerintah Kota Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi optimalnya implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (SAKIP) pada Pemerintah Kota Malang sebagai bentuk optimisme
reformasi dan ketersediaan informasi mengenai program-program pemerintah di
era reformasi yang memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk mengetahui,
mengikuti, menilai, dan mengkritisi program-program pemerintah. Analisis
penelitian ini menggunakan kerangka teoritis Implementing Public Policy yang
dikembangkan oleh George Edward III, yang meliputi komunikasi, sumber daya,
disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
kendala fragmentasi dan partisipasi langsung pada pimpinan perangkat daerah di
Kota Malang, karena pimpinan perangkat daerah mendelegasikan tanggung
jawabnya ke tingkat yang lebih rendah dimana dapat menghambat implementasi
SAKIP. Pemerintah Kota Malang perlu mengupayakan peningkatan pemahaman
pimpinan terkait pentingnya keterlibatan langsung dalam isu-isu strategis SAKIP.
Pelatihan dan pemahaman mengenai manfaat positif dari partisipasi aktif dan
kepemimpinan langsung akan membantu mencapai tujuan implementasi SAKIP
secara optimal.Meskipun demikian, responsifitas terhadap evaluasi, partisipasi
aktif Wali Kota, adaptasi kebijakan, penyusunan cascading kinerja, internalisasi
pemahaman SAKIP, langkah-langkah strategis, refocusing anggaran, dan
pemanfaatan teknologi informasi mencerminkan optimalnya implementasi SAKIP
di Kota Malang, dengan nilai evaluasi tahun 2022 sebesar 80,70 dan predikat A.
Hal ini menunjukkan keberhasilan dalam mencapai pemerintahan yang berorientasi
pada hasil
Proses Knowledge Sharing Pada Pelatihan Kerja Dalam Upaya Mengurangi Kemiskinan (studi pada Dinsos P3AP2KB Kota Malang)
Kemiskinan merupakan permasalahan umum yang sering dihadapi oleh
negara-negara yang sedang berkembang di dunia. Kota Malang hingga saat ini
masih mengalami masalah kemiskinan yang menjadi sasaran program Dinas Sosial.
Dinas Sosial sendiri merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan yang fokus
utamanya adalah memberikan perlindungan, pembinaan, dan pelayanan sosial
kepada kelompok-kelompok yang membutuhkan, seperti keluarga miskin. Program
penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan dan salah satunya dalam bentuk
knowledge sharing melalui program pelatihan kerja bagi warga miskin di Kota
Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis
proses knowledge sharing pada program pelatihan kerja dan faktor-faktor
penghambat serta pendorongnya, yang di hadapi oleh Dinas Sosial P3AP2KB Kota
Malang.
Metode penelian menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara
dengan informan serta menggunakan metode analisis data interaktif Miles dan
Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses knowledge sharing
program pelatihan kerja sudah berjalan cukup baik dengan adanya initiation,
requirement, implementation, dan follow-up. Namun dalam pelaksanaannya
ditemukan faktor penghambat yaitu keterbatasan anggaran. Kesimpulan yang dapat
diperoleh dari penelitian ini adalah proses knowledge sharing program pelatihan
kerja bagi warga miskin di Kota Malang oleh Dinsos P3AP2KB sudag baik sesuai
dengan teori proses knowledge sharing. Serta dalam pelaksanaannya terdapat faktor
pendukung dan faktor penghambat
Implementasi Kebijakan Tentang Program Sekolah Penggerak (Studi Pada Kepmendikbudristek RI Nomor 371/M/2021 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang)
Implementasi kebijakan merupakan suatu pelaksanaan, ataupun
tindakan/program yang dilakukan oleh sekelompok individu yang telah disusun
dan direncanakan secara rinci dan cermat. Kebijakan tentang Program Sekolah
Penggerak tertuang dalam Kepmendibukrsitek RI Nomor 371/M/2021. Kota
Malang menjadi daerah yang dapat menerapkan program sekolah penggerak
karena Sebagian besar sekolah di Kota Malang telah memiliki fasilitas yang
mendukung untuk menerapkan Program Sekolah Penggerak ini. Adanya program
sekolah penggerak ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan satu
tahap lebih maju dari sekolah-sekolah lainnya. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui, mendeskripsikan, serta menganalisa implementasi kebijakan tentang
program sekolah penggerak di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berlokasi di Kota Malang, sedangkan
situsnya berada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan SMP
Negeri 16 Malang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa komunikasi antar actor
dilakukan secara jelas dan konsisten, serta diadakan sosilisasi kepada para
pelaksana kebijakan baik tingkat daerah ataupun tingkat satuan Pendidikan.
Sumber daya yang terdiri dari sumber daya manusia, anggaran, dan fasilitas sudah
cukup sesuai dan baik. Namun dalam implementasi kebijakan tersebut masih
terdapat kekurangan dalam hal kurangnya pemahaman SDM terkait dengan
pembelajaran dengan paradigma baru dan juga anggaran yang diberikan masih
belum cukup. Disposisi/sikap pelaksana kebijakan sudah seluruhnya mendukung
dengan adanya program sekolah penggerak ini. Struktur birokrasi berupa SOP
tidak ada secara khusus dibuat oleh pemerintah daerah, sehingga perlu dibuatnya
SOP, untuk memberikan informasi dan penjelasan lebih terstruktur lagi kepada
satuan Pendidikan
Karakterisasi Jenis Biji Kopi Lokal Indonesia Berdasarkan Analisis Fitur Warna, Tekstur dan Morfologi pada Citra Digital Reflektansi
Kopi merupakan salah satu komoditas dengan produksi yang tinggi per tahunnya di
Indonesia dan telah banyak dipasarkan baik secara lokal maupun internasional. Indonesia
sendiri juga merupakan negara dengan tingkat konsumsi kopi yang tinggi pula. Meski
demikian banyak konsumen yang belum mengenal biji kopi di pasaran karena sulit
membedakan jenis satu dengan yang lain yang menyebabkan kesalahan identifikasi biji
kopi maupun kecurangan pada saat penjualan biji kopi itu sendiri. Salah satu cara untuk
mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan karakterisasi biji kopi berdasarkan hasil
ekstraksi fitur warna, tekstur dan juga morfologi sehingga diketahui karakteristik dari biji
kopi lokal yang ada di Indonesia. Pada penelitian ini digunakan 54 varietas biji kopi lokal
yang diambil 15 citra untuk tiap varietasnya. Citra tersebut kemudian diektraksi sehingga
diperoleh total 258 parameter yang terdiri dari fitur warna, tekstur dan morfologi. Hasil dari
ekstraksi tersebut kemudian dipilih parameter terbaik untuk setiap fitur melalui proses
seleksi fitur dengan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk dapat membedakan
atau mengkarakterisasi biji kopi lokal indonesia berdasarkan asal pulaunya dan juga
jenisnya. Dari hasil seleksi fitur diperoleh parameter fitur warna terbaik meliputi K mean
(Black), M Mean (Magenta), a Mean, C_LCH Mean, U mean dan S_HSL Mean. Sedangkan
untuk fitur tekstur terpilih paramter Y homogenity, Z energy, Green homogenity, Lab_L
homogenity dan Gray homogenity. Kemudian untuk fitur morfologi meliputi eccentricity,
solidity dan circularity. Fitur-fitur tersebut kemudian dianalisis dan diperoleh karakteristik biji
kopi lokal Indonesia berdasarkan pulau asalnya dan juga jenis kopinya. Dari analisis
diperoleh bahwa biji kopi arabika memiliki nilai a mean 0,505; K mean 0,512; eccentricity
0,691; circularity 0,845 dan rata-rata fitur tekstur sebesar 0,485. Kemudian biji kopi robusta
memiliki nilai a mean 0,522, K mean 0,479; eccentricity 0,622; circularity 0,865 dan ratarata fitur tekstur 0,499. Sedangkan kopi liberika memiliki a mean 0,453; M mean 0,497; K
mean 0,455; eccentricity 0,678; circularity 0,843 dan rata-rata nilai fitur tekstur sebesar
0,526. Selain itu hasil analisis menunjukkan bahwa masing-masing biji kopi baik tiap
varietas maupun setiap kategori pulau memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara
keseluruhan ataupun pada beberapa fitur saja
Kajian Rasio Tepung Porang dengan Air dan Penambahan Kalsium Hidroksida terhadap Karakteristik Mi Shirataki
Diversifikasi produk pangan dibutuhkan dalam rangka menghasilkan pangan
berkualitas tinggi guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satu
caranya yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal berupa tanaman
porang dan sorgum dimana komersialisasi bahan pangan tersebut masih terbatas.
Tepung porang mengandung glukomanan sebagai bahan pengikat pada
pembuatan produk mi shirataki basah. Penambahan basa lemah berupa kalsium
hidroksida memberikan tekstur mi yang lebih kuat. Sorgum dapat meningkatkan
nilai nutrisi dan mengurangi kekerasan tekstur pada mi shirataki basah. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis pengaruh rasio tepung porang dengan air dan
penambahan kalsium hidroksida pada pembuatan mi shirataki basah.
Penelitian diawali dengan penelitian pendahuluan yang dilanjutkan dengan
penelitian utama. Metode penelitian untuk penelitian utama yaitu Rancangan Acak
Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor, yaitu rasio tepung porang dengan air
sebanyak 1:15, 1:25, dan 1:35 dan penambahan kalsium hidroksida sebanyak 1,
2, dan 3 gram dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 27 satuan percobaan.
Setelah itu, dilakukan uji nilai kekerasan, nilai kecerahan (L*), dan sensoris berupa
uji hedonik meliputi kenampakan, kekerasan, kekenyalan, dan overall acceptance
untuk mengetahui perlakuan terbaik yang kemudian diuji kadar air, kadar abu,
kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, dan kadar serat kasar. Perlakuan
terbaik ditentukan dengan metode Multiple Attribute Zeleny. Analisis statistik
dilakukan menggunakan Analysis of Variance atau ANOVA dengan Minitab 19 dan
pada faktor yang berpengaruh nyata terhadap respon akan diuji lanjut dengan uji
Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila interaksi berpengaruh signifikan
terhadap parameter uji atau uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila faktor penelitian
berpengaruh signifikan terhadap parameter uji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tepung porang dengan air dan
penambahan kalsium hidroksida berpengaruh signifikan terhadap nilai kecerahan
(L*), nilai penerimaan panelis terhadap atribut kenampakan, kekerasan,
kekenyalan, dan overall acceptance pada produk pangan berupa mi shirataki. Mi
shirataki perlakuan terbaik memiliki nilai kekerasan 162,57 gf; nilai kecerahan (L*)
62,18; nilai penerimaan panelis terhadap atribut overall acceptance 3,64; kadar air
94,64%; kadar abu 1,32%; kadar lemak 0,14%; kadar protein 0,22%; kadar
karbohidrat 3,68%; kadar serat kasar 0,03%; dan energi 16,86 kkal. Perlakuan
terbaik mi shirataki berdasarkan parameter nilai kekerasan, nilai kecerahan (L*),
dan overall acceptance diperoleh pada mi shirataki dengan rasio tepung porang
dengan air 1:25 dan jumlah kalsium hidroksida 2 g
Evaluasi Kinerja Berbasis Balanced Scorecard pada Usaha Kotento di Kota Malang
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memberikan solusi
atas permasalahan Kotento dengan menyusun Strategy Map. Strategy Map
dirancang dengan pendekatan Balanced Scorecard yang bertujuan untuk
meningkatkan total revenue Kotento. Hasil dari Balanced Scorecard yang telah
dibentuk, kemudian disusun menjadi Key Perfomance Indicator sebagai bentuk
penerapan dalam manajemen Kotento. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan
wawancara dengan para informan, dokumentasi, dan observasi lapangan,
sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, jurnal ilmiah, serta
sumber lain yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan sistem manajemen
Kotento yang buruk sehingga perlu proses evaluasi kinerja perusahaan, penetapan
sasaran strategis dan inisiasi perbaikan dalam proses bisnisnya. Masalah dalam total
revenue yang stagnan bahkan menurun saling berkaitan akibat dari permasalahan
lain yang ditemukan peneliti. Dalam menyusun rancangan solusi bagi Kotento,
peneliti menggunakan empat perspektif di dalam Balanced Scorecard yaitu
perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal serta
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan demikian, terciptalah beberapa
sasaran strategis yang mengarah pada target peningkatan total revenue Kotento