University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Penafsiran Hakim Pengadilan Agama Terkait Wali Nikah Dalam Penetapan Permohonan Itsbat Nikah

    No full text
    Pada skripsi ini, penulis menganalisis mengenai penafsiran hakim pengadilan agama pada penetapan permohonan itsbat nikah terkait wali nikah dan halangan perkawinan dengan menganalisis lima penetapan itsbat nikah yang ditolak atau tidak dapat diterima dan lima penetapan itsbat nikah yang dikabulkan atau diterima pada perkara yang sama serta menganalisis akibat hukum dari penetapan itsbat nikah tersebut karena adanya perbedaan hasil penetapan pada perkara yang sama. Berdasarkan hal tersebut, skripsi ini mengangkat rumusan masalah: (1) Bagaimana Penafsiran hakim Pengadilan Agama terkait wali nikah perkawinan dalam penetapan permohonan itsbat nikah? (2) Bagaimana akibat hukum pengabaian hakim terkait wali nikah dan halangan dalam perkawinan pada penetapan permohonan itsbat nikah? Kemudian penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statue approach) dan pendekatan kasus (case approach). Selanjutnya, penulis memperoleh bahan hukum primer, sekunder, melalui teknik studi kepustakaan yang dilakukan secara daring ataupun luring. Dalam melakukan analisis, penulis menggunakan teknik interpretasi yaitu metode penafsiran hakim dalam menetapkan permohonan itsbat nikah terkait wali nikah dan halangan perkawinan Hasil penelitian, penetapan itsbat nikah yang ditolak menggunakan penafsiran gramatikal yang menafsirkan syarat dan rukun perkawinan serta menggunakan penafsiran restriktif yang membatasi ketentuan wali nikah. Pada penetapan itsbat nikah yang dikabulkan, menggunakan penafsiran teleologis yang menafsirkan peraturan hukum sesuai dengan tujuan kemasyarakatan dan penafsiran ekstensif yang memperluas ketentuan wali nikah. Namun, penulis sependapat dengan penafsiran pada penetapan itsbat nikah yang ditolak karena majelis hakim bertumpu pada peraturan perundang-undangan bahwa wali nikah terdiri dari wali nasab dan wali hakim. Jika wali nikah bukan yang berhak, maka perkawinan dianggap tidak sah secara hukum negara dan dapat dibatalkan. Status perkawinan para pemohon yang hanya sah secara agama dan tidak sah secara hukum negara maka tidak ada hubungan keperdataan antara suami, isteri dan anak serta perkawinan para pemohon dapat dibatalkan. Akibat hukum penetapan itsbat nikah diterima adalah status hukum perkawinan para pemohon dinyatakan sah dan dapat dicatatkan sehingga menimbulkan hubungan keperdataan antara suami isteri serta anak yang dilahirkan. Saran untuk kantor urusan agama mengadakan sosialisasi dan edukasi hukum perkawinan kepada masyarakat bekerjsama dengan pihak terkait seperti tokoh agama, majelis hakim berpartisipasi aktif dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi hukum perkawinan kepada masyarakat dengan menjadi narasumber dan masyarakat sebelum melangsungkan perkawinan mencari informasi tentang wali nikah yang sah dengan mengikuti ceramah agama, penyuluhan hukum, seminar

    Peran Serta Masyarakat Dalam Pengolahan Sampah di Desa Mojosari Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    Keberhasilan pengelolaan sampah tidak lepas dari peran serta masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah saat ini masih belum terlihat secara signifikan. Partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan sampah diteliti dalam penelitian ini karena kegiatan pengurangan sampah masih melibatkan pembakaran sampah terbuka dan penguburan di halaman yang berbahaya bagi lingkungan. Sebuah model penelitian dirancang, dan kuesioner didistribusikan di antara 112 rumah tangga (KK) untuk menganalisis partisipasi mereka dalam program pengelolaan sampah pedesaan. Survei kuesioner semi-terstruktur, diskusi kelompok terfokus, dan wawancara dengan informan utama diadopsi untuk memperoleh informasi kualitatif. Kerangka analisis mencakup analisis Mass Balance analysis (MBA) dan Arnstein’s participation (APL) ladder. MBA diterapkan untuk mengukur tingkat pengurangan limbah saat ini dari setiap rumah tangga, sementara (APL) digunakan untuk mengevaluasi tingkat partisipasi masyarakat dalam program ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengurangan sampah adalah 0,48 kg/KK/hari yang menyumbang total pengurangan sampah sebesar 17,94 kg/hari di desa (24,39% dari total timbulan sampah). Pengukuran menggunakan Arnstein’s participation (APL) ladder mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat di Desa Mojosari, Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro berada di tingkat partisipasi ketiga, yaitu informing (51,6%). Di mana rumah tangga dapat mengakses informasi begitu mereka menyadari bahwa mereka memiliki peran potensial dalam program pengelolaan sampah. Meskipun persentase partisipasi yang sedang dan tinggi lebih tinggi daripada tingkat rendah, yaitu melalui manipulasi dan terapi, itu tidak mengindikasikan bahwa pengelolaan sampah di Mojosari dilakukan dengan baik. Ini terlihat dari praktik pengelolaan sampah yang saat ini kurang optimal, yang mungkin disebabkan oleh 28,52% masyarakat yang tidak berpartisipasi secara aktif dalam program. Ini menunjukkan bahwa pengurangan dan pemisahan sampah di sumbernya belum sepenuhnya melibatkan partisipasi warga. Temuan ini, menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah di desa terutama bergantung pada kader masyarakat mengenai subjek lingkungan serta dan latar belakang ekonomi masyarakat. Disimpulkan di mana masyarakat lemah secara ekonomi dan ada tokoh manipulatif, memastikan tingkat partisipasi masyarakat yang lebih tinggi lebih menantan

    Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Terhadap Daya Hambat Bakteri Vibrio parahaemolyticus Secara In Vitro

    No full text
    Potensi sumberdaya perikanan laut Indonesia kurang lebih 6,4 juta ton per tahun. Komoditas perikanan laut yang banyak dibudidayakan oleh pembudidaya di Indonesia adalah udang. Kendala yang dihadapi oleh para petambak adalah terjadi kematian masal akibat dari serangan penyakit. Penyakit yang timbul pada ikan dapat disebabkan oleh virus, parasit, jamur, dan bakteri. Serangan penyakit pada ikan budidaya akan menyebabkan penurunan produksi budidaya hingga kematian ikan. Bakteri Vibrio parahaemolyticus merupakan bakteri penyebab penyakit vibriosis yang sering menginfeksi udang. Bakteri V. parahaemolyticus juga menjadi agen penyebab penyakit hepatopankreas akut. Ikan yang terinfeksi Bakteri V. parahaemolyticus terlihat dari ekor memerah, geripis, dan tubuhnya pucat. Pencegahan dan pengobatan penyakit vibriosis dilakukan dengan penggunaan senyawa antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol akan menimbulkan bakteri yang resisten terhadap jenis antibiotik dan residu pada produk perikanan. Alternatif lain yang dilakukan untuk penanggulangan penyakit menggunakan obat yang berasal dari bahan alami. Tanaman daun alpukat berpotensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) dalam menghambat bakteri V. parahaemolyticus secara in vitro. Pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Budidaya Ikan Divisi Parasit dan Penyakit Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya pada bulan Maret – April 2024. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini dilakukan dengan 5 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari 32,5 mg/L, 27,5 mg/L, 22,5 mg/L, 17,5 mg/L, dan 12,5 mg/L. Perlakuan A (12,5 mg/L) diperoleh rata-rata diameter zona hambat sebesar 8,72 mm ± 0,16 mm. Perlakuan B didapatkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 9,63 ± 0,18 mm. Perlakuan C didapatkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 10,05 ± 0,14 mm. Perlakuan D didapatkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 10,21 ± 0,27 mm. Perlakuan E (32,5 mg/L) didapatkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 10,22 ± 0,19 mm. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun alpukat berpengaruh terhadap bakteri V. parahaemolitycus dan memiliki sifat bakterisidal. Zona hambat perlakuan A (12,5 mg/L), B (17,5 mg/L), C (22,5) mg/L, D (27,5) mg/L, dan E (32,5) mg/L termasuk ke dalam kategori sedang. Zona hambat terendah didapatkan pada perlakuan A (12,5 mg/L) dengan hasil rata-rata 8,77 mm dan zona hambat tertinggi pada perlakuan E (32,5 mg/L) dengan hasil rata-rata 10,22 mm

    Fortifikasi Pakan Rotifer (Brachionus sp.) dengan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru), Minyak Cumi, dan Chlorella vulgaris terhadap Laju Pertumbuhan dan Perkembangbiakan

    No full text
    Salah satu pakan larva ikan kerapu (Epinephelus sp.) pengganti kuning telur adalah rotifer (Brachionus sp.). Rotifer mengandung banyak nutrien yang dibutuhkan bagi larva ikan yang masih berkembang meliputi asam amino, lemak tak jenuh, mineral, vitamin, dan antibiotik untuk menjaga kekebalan tubuh larva serta tidak menimbulkan efek samping bagi larva. Ketersediaan populasi rotifer perlu diperbanyak agar memenuhi kebutuhan pakan larva ikan salah satu caranya adalah dengan penambahan nutrisi berupa pakan yang dapat menunjang laju pertumbuhan, tingkat produktivitas telur, ukuran dan waktu regenerasi rotifer (Brachionus sp.) Penelitian ini dilaksanakan selama bulan November – Desember 2023 di Laboratorium Pakan Alami dan Laboratorium Observasi Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 1 kontrol yang dilakukan pengulangan selama 3 kali. Rotifer diberi pakan berupa Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL ; Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL dengan ikan lemuru (Sardinella lemuru) 0,06 gr/L ; Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL dengan minyak cumi 5 µL/L; Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL dengan Chlorella vulgaris 3 x 106 sel/mL. Metode pemberian pakan yang digunakan adalah dengan metode tetes secara kontinu. Parameter utama yang diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat produktivitas telur, ukuran dan waktu regenerasi rotifer (Brachionus sp.) ditambah dengan parameter penunjang meliputi salinitas, suhu, oksigen terlarut, dan pH. Hasil penelitian ini adalah perlakuan terbaik dalam menghasilkan laju perkembangbiakan (876,38 ind/L) dan tingkat produktivitas telur (55,06 %), waktu regenerasi tercepat (39 jam), dan ukuran rotifer terbesar adalah 7,7 µm adalah pemberian pakan pakan Nannochloropsis sp. 15 x 106 sel/mL dan minyak cumi 5 µl/L

    Implementasi SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) pada Pemerintah Kota Malang.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi optimalnya implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada Pemerintah Kota Malang sebagai bentuk optimisme reformasi dan ketersediaan informasi mengenai program-program pemerintah di era reformasi yang memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk mengetahui, mengikuti, menilai, dan mengkritisi program-program pemerintah. Analisis penelitian ini menggunakan kerangka teoritis Implementing Public Policy yang dikembangkan oleh George Edward III, yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kendala fragmentasi dan partisipasi langsung pada pimpinan perangkat daerah di Kota Malang, karena pimpinan perangkat daerah mendelegasikan tanggung jawabnya ke tingkat yang lebih rendah dimana dapat menghambat implementasi SAKIP. Pemerintah Kota Malang perlu mengupayakan peningkatan pemahaman pimpinan terkait pentingnya keterlibatan langsung dalam isu-isu strategis SAKIP. Pelatihan dan pemahaman mengenai manfaat positif dari partisipasi aktif dan kepemimpinan langsung akan membantu mencapai tujuan implementasi SAKIP secara optimal.Meskipun demikian, responsifitas terhadap evaluasi, partisipasi aktif Wali Kota, adaptasi kebijakan, penyusunan cascading kinerja, internalisasi pemahaman SAKIP, langkah-langkah strategis, refocusing anggaran, dan pemanfaatan teknologi informasi mencerminkan optimalnya implementasi SAKIP di Kota Malang, dengan nilai evaluasi tahun 2022 sebesar 80,70 dan predikat A. Hal ini menunjukkan keberhasilan dalam mencapai pemerintahan yang berorientasi pada hasil

    Proses Knowledge Sharing Pada Pelatihan Kerja Dalam Upaya Mengurangi Kemiskinan (studi pada Dinsos P3AP2KB Kota Malang)

    No full text
    Kemiskinan merupakan permasalahan umum yang sering dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang di dunia. Kota Malang hingga saat ini masih mengalami masalah kemiskinan yang menjadi sasaran program Dinas Sosial. Dinas Sosial sendiri merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan yang fokus utamanya adalah memberikan perlindungan, pembinaan, dan pelayanan sosial kepada kelompok-kelompok yang membutuhkan, seperti keluarga miskin. Program penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan dan salah satunya dalam bentuk knowledge sharing melalui program pelatihan kerja bagi warga miskin di Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis proses knowledge sharing pada program pelatihan kerja dan faktor-faktor penghambat serta pendorongnya, yang di hadapi oleh Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang. Metode penelian menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan informan serta menggunakan metode analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses knowledge sharing program pelatihan kerja sudah berjalan cukup baik dengan adanya initiation, requirement, implementation, dan follow-up. Namun dalam pelaksanaannya ditemukan faktor penghambat yaitu keterbatasan anggaran. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah proses knowledge sharing program pelatihan kerja bagi warga miskin di Kota Malang oleh Dinsos P3AP2KB sudag baik sesuai dengan teori proses knowledge sharing. Serta dalam pelaksanaannya terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat

    Implementasi Kebijakan Tentang Program Sekolah Penggerak (Studi Pada Kepmendikbudristek RI Nomor 371/M/2021 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang)

    No full text
    Implementasi kebijakan merupakan suatu pelaksanaan, ataupun tindakan/program yang dilakukan oleh sekelompok individu yang telah disusun dan direncanakan secara rinci dan cermat. Kebijakan tentang Program Sekolah Penggerak tertuang dalam Kepmendibukrsitek RI Nomor 371/M/2021. Kota Malang menjadi daerah yang dapat menerapkan program sekolah penggerak karena Sebagian besar sekolah di Kota Malang telah memiliki fasilitas yang mendukung untuk menerapkan Program Sekolah Penggerak ini. Adanya program sekolah penggerak ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan satu tahap lebih maju dari sekolah-sekolah lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, mendeskripsikan, serta menganalisa implementasi kebijakan tentang program sekolah penggerak di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berlokasi di Kota Malang, sedangkan situsnya berada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan SMP Negeri 16 Malang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa komunikasi antar actor dilakukan secara jelas dan konsisten, serta diadakan sosilisasi kepada para pelaksana kebijakan baik tingkat daerah ataupun tingkat satuan Pendidikan. Sumber daya yang terdiri dari sumber daya manusia, anggaran, dan fasilitas sudah cukup sesuai dan baik. Namun dalam implementasi kebijakan tersebut masih terdapat kekurangan dalam hal kurangnya pemahaman SDM terkait dengan pembelajaran dengan paradigma baru dan juga anggaran yang diberikan masih belum cukup. Disposisi/sikap pelaksana kebijakan sudah seluruhnya mendukung dengan adanya program sekolah penggerak ini. Struktur birokrasi berupa SOP tidak ada secara khusus dibuat oleh pemerintah daerah, sehingga perlu dibuatnya SOP, untuk memberikan informasi dan penjelasan lebih terstruktur lagi kepada satuan Pendidikan

    Karakterisasi Jenis Biji Kopi Lokal Indonesia Berdasarkan Analisis Fitur Warna, Tekstur dan Morfologi pada Citra Digital Reflektansi

    No full text
    Kopi merupakan salah satu komoditas dengan produksi yang tinggi per tahunnya di Indonesia dan telah banyak dipasarkan baik secara lokal maupun internasional. Indonesia sendiri juga merupakan negara dengan tingkat konsumsi kopi yang tinggi pula. Meski demikian banyak konsumen yang belum mengenal biji kopi di pasaran karena sulit membedakan jenis satu dengan yang lain yang menyebabkan kesalahan identifikasi biji kopi maupun kecurangan pada saat penjualan biji kopi itu sendiri. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan karakterisasi biji kopi berdasarkan hasil ekstraksi fitur warna, tekstur dan juga morfologi sehingga diketahui karakteristik dari biji kopi lokal yang ada di Indonesia. Pada penelitian ini digunakan 54 varietas biji kopi lokal yang diambil 15 citra untuk tiap varietasnya. Citra tersebut kemudian diektraksi sehingga diperoleh total 258 parameter yang terdiri dari fitur warna, tekstur dan morfologi. Hasil dari ekstraksi tersebut kemudian dipilih parameter terbaik untuk setiap fitur melalui proses seleksi fitur dengan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk dapat membedakan atau mengkarakterisasi biji kopi lokal indonesia berdasarkan asal pulaunya dan juga jenisnya. Dari hasil seleksi fitur diperoleh parameter fitur warna terbaik meliputi K mean (Black), M Mean (Magenta), a Mean, C_LCH Mean, U mean dan S_HSL Mean. Sedangkan untuk fitur tekstur terpilih paramter Y homogenity, Z energy, Green homogenity, Lab_L homogenity dan Gray homogenity. Kemudian untuk fitur morfologi meliputi eccentricity, solidity dan circularity. Fitur-fitur tersebut kemudian dianalisis dan diperoleh karakteristik biji kopi lokal Indonesia berdasarkan pulau asalnya dan juga jenis kopinya. Dari analisis diperoleh bahwa biji kopi arabika memiliki nilai a mean 0,505; K mean 0,512; eccentricity 0,691; circularity 0,845 dan rata-rata fitur tekstur sebesar 0,485. Kemudian biji kopi robusta memiliki nilai a mean 0,522, K mean 0,479; eccentricity 0,622; circularity 0,865 dan ratarata fitur tekstur 0,499. Sedangkan kopi liberika memiliki a mean 0,453; M mean 0,497; K mean 0,455; eccentricity 0,678; circularity 0,843 dan rata-rata nilai fitur tekstur sebesar 0,526. Selain itu hasil analisis menunjukkan bahwa masing-masing biji kopi baik tiap varietas maupun setiap kategori pulau memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara keseluruhan ataupun pada beberapa fitur saja

    Kajian Rasio Tepung Porang dengan Air dan Penambahan Kalsium Hidroksida terhadap Karakteristik Mi Shirataki

    No full text
    Diversifikasi produk pangan dibutuhkan dalam rangka menghasilkan pangan berkualitas tinggi guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satu caranya yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal berupa tanaman porang dan sorgum dimana komersialisasi bahan pangan tersebut masih terbatas. Tepung porang mengandung glukomanan sebagai bahan pengikat pada pembuatan produk mi shirataki basah. Penambahan basa lemah berupa kalsium hidroksida memberikan tekstur mi yang lebih kuat. Sorgum dapat meningkatkan nilai nutrisi dan mengurangi kekerasan tekstur pada mi shirataki basah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh rasio tepung porang dengan air dan penambahan kalsium hidroksida pada pembuatan mi shirataki basah. Penelitian diawali dengan penelitian pendahuluan yang dilanjutkan dengan penelitian utama. Metode penelitian untuk penelitian utama yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor, yaitu rasio tepung porang dengan air sebanyak 1:15, 1:25, dan 1:35 dan penambahan kalsium hidroksida sebanyak 1, 2, dan 3 gram dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Setelah itu, dilakukan uji nilai kekerasan, nilai kecerahan (L*), dan sensoris berupa uji hedonik meliputi kenampakan, kekerasan, kekenyalan, dan overall acceptance untuk mengetahui perlakuan terbaik yang kemudian diuji kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, dan kadar serat kasar. Perlakuan terbaik ditentukan dengan metode Multiple Attribute Zeleny. Analisis statistik dilakukan menggunakan Analysis of Variance atau ANOVA dengan Minitab 19 dan pada faktor yang berpengaruh nyata terhadap respon akan diuji lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila interaksi berpengaruh signifikan terhadap parameter uji atau uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila faktor penelitian berpengaruh signifikan terhadap parameter uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tepung porang dengan air dan penambahan kalsium hidroksida berpengaruh signifikan terhadap nilai kecerahan (L*), nilai penerimaan panelis terhadap atribut kenampakan, kekerasan, kekenyalan, dan overall acceptance pada produk pangan berupa mi shirataki. Mi shirataki perlakuan terbaik memiliki nilai kekerasan 162,57 gf; nilai kecerahan (L*) 62,18; nilai penerimaan panelis terhadap atribut overall acceptance 3,64; kadar air 94,64%; kadar abu 1,32%; kadar lemak 0,14%; kadar protein 0,22%; kadar karbohidrat 3,68%; kadar serat kasar 0,03%; dan energi 16,86 kkal. Perlakuan terbaik mi shirataki berdasarkan parameter nilai kekerasan, nilai kecerahan (L*), dan overall acceptance diperoleh pada mi shirataki dengan rasio tepung porang dengan air 1:25 dan jumlah kalsium hidroksida 2 g

    Evaluasi Kinerja Berbasis Balanced Scorecard pada Usaha Kotento di Kota Malang

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memberikan solusi atas permasalahan Kotento dengan menyusun Strategy Map. Strategy Map dirancang dengan pendekatan Balanced Scorecard yang bertujuan untuk meningkatkan total revenue Kotento. Hasil dari Balanced Scorecard yang telah dibentuk, kemudian disusun menjadi Key Perfomance Indicator sebagai bentuk penerapan dalam manajemen Kotento. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan wawancara dengan para informan, dokumentasi, dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, jurnal ilmiah, serta sumber lain yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan sistem manajemen Kotento yang buruk sehingga perlu proses evaluasi kinerja perusahaan, penetapan sasaran strategis dan inisiasi perbaikan dalam proses bisnisnya. Masalah dalam total revenue yang stagnan bahkan menurun saling berkaitan akibat dari permasalahan lain yang ditemukan peneliti. Dalam menyusun rancangan solusi bagi Kotento, peneliti menggunakan empat perspektif di dalam Balanced Scorecard yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan demikian, terciptalah beberapa sasaran strategis yang mengarah pada target peningkatan total revenue Kotento

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇