137686 research outputs found
Sort by
Pengaruh Kadar Quercetin dan Suhu Thawing Dalam Pengencer Tris Aminomethan terhadap Kualitas Post Thawing Semen Domba
Domba Merino memiliki postur yang cukup besar dengan bulu wol yang tebal
melindungi tubuhnya dari suhu dingin ketika musim dingin. Domba Merino memiliki
kriteria tubuh yang sedang dengan bobot pejantan mencapai 50-70 kg. Bobot yang
lumayan membuat peternak indonesia tertarik untuk melakukan persilangan dengan
domba lokal, upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan IB. Keberhasilan dalam
melakukan IB juga ditunjang dengan processing semen yang baik. Dalam proses
penyimpanan dan Thawing, semen mengalami banyak hal aktifitas yang dapat
menurunkan kualitasnya seperti tekanan osmotik, cold shock, terbentuknya kristal
kristal es intraselular, aktivitas dari radikal bebas dan produksi Reactive Oxygen
Species (ROS). Semen agar kualitasnya dapat terjaga maka sebaiknya penambahan
antioksidan perlu dilakukan untuk mengurangi aktivitas berlebih yang dapat
menimbulkan penurunan kualitas. Penambahan pengencer Tris aminomethan dan
suplementasi dari antioksidan quercetin diduga dapat mencegah terjadinya hal hal yang
dapat menurunkan kualitas semen. Proses dan metode thawing juga mempengaruhi
kualitas semen.
Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas semen domba pada kadar
quercetin disetiap perlakuan dan suhu thawing yang berbeda dengan penambahan
pengencer Tris aminomethan. Harapan dari penelitain ini adalah mendapatkan hasil
dan dapat memberikan Informasi terkait kualitas semen domba post thawaing pada
suhu yang berbeda dengan pengencer tris aminomethan dan penembahan antioksidan
quercetin pada kadar terbaik. Harapannya juga penelitian ini mampu membantu
peternak dalam meningkatkan populasi domba di indonesia melalui program IB
dengan pejantan unggul.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen domba merino yang
ditampung di PT KTHR indonesia. Metode yang digunakan dalam penampungan yaitu
dengan vagina buatan. Syarat semen segar yaitu memiliki motilitas individu ≥70 % dan
motilitas massa minimal 2+. Pengencer yang digunakan untuk mengencerkan semen
yaitu menggunakan pengencer Tris aminomethan kuning telur. Rancangan yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan pola kombinasi 4x3
Perbandingan Cemaran Allopumiliotoksin dan Aflatoksin G2 (AFG2) pada Pakan Konsentrat Sapi Perah di Dua Musim Berbeda
Peternakan sapi perah merupakan sektor yang digemari masyarakat
Indonesia, didukung oleh iklim yang cocok dengan indeks kelembaban suhu yang
baik. Untuk meningkatkan produksi sapi perah, pakan yang berkualitas harus bebas
dari kontaminasi termasuk biotoksin. Biotoksin adalah senyawa kimia yang
memiliki efek beracun pada organisme lain termasuk ternak sapi yang dihasilkan
oleh organisme hidup. Indonesia dengan dua musim yaitu musim hujan dan
kemarau menjadi salah satu faktor kondisi yang dapat mempengaruhi pencemaran
biotoksin pada pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat
cemaran Allopumiliotoksin dan Aflatoksin G2 pada pakan konsentrat sapi perah di
dua musim yang berbeda yaitu musim hujan dan kemarau. Sampel terdiri dari 10
sampel pakan konsentrat yang diambil pada musim kemarau dan 10 sampel pakan
konsentrat pada musim penghujan. Sampel kemudian dianalisis secara untargeted
menggunakan LC-HRMS (Liquid chromatography High-resolution mass
spectrometer). Hasil cemaran biotoksin pada pakan konsentrat dianalisis secara
statistika T-test dengan tingkat signifikasi 0,05 (P<0,05) pada website
metaboanalyst.ca 6.0. Hasil penelitian menunjukkan cemaran Aflatoksin G2 dan
Allopumiliotoksin pada musim yang berbeda memiliki perbedaan secara signifikan
(P<0,05), dimana cemaran Aflatoksin G2 dan Allopumiliotoksin lebih tinggi pada
musim penghujan dibandingkan musim kemarau
Profil Protein dan Ekspresi IL-4 pada Spleen Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Protein TSH 25 kDa
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) atau dikenal juga sebagai tirotropin
merupakan hormon berupa glikoprotein yang berasal dari hipofisis anterior. TSH
memiliki efek spesifik pada kelenjar tiroid. Kelainan sekresi TSH dapat
mengakibatkan kekurangan hormon tiroid atau disebut juga dengan hipotiroid.
Hipotiroid kongenital (HK) merupakan gangguan endokrin yang terjadi ketika
kelenjar tiroid bayi tidak cukup menghasilkan hormon tiroid. Hipotiroid Kongenital
menyebabkan rendahnya kadar hormon tiroid dalam tubuh. Tujuan penelitian ini
adalah mengetahui pengaruh induksi protein TSH 25 kDa terhadap profil pita
protein serum dan ekspresi IL-4 pada spleen mencit (Mus musculus) galur BALB/c.
Pada penelitian ini protein TSH 25 kDa digunakan sebagai immunogen untuk
produksi anti TSH 25kDa. Protein 25 kDa diperoleh dari sampel serum umbilical
cord bayi manusia baru lahir yang dilakukan isolasi protein dan dilanjutkan dengan
elektroelusi untuk mendapatkan protein spesifik TSH 25 kDa. Imunisasi dilakukan
secara intraperitoneal dengan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) untuk imunisasi
pertama dan Incomplete Freund’s Adjuvant (IFA) untuk imunisasi booster dengan
total volume sebanyak 100μL. Profil protein dianalisa secara deskriptif dengan
menggunakan pembanding UniProt (https://www.uniprot.org). Ekspresi IL-4
dianalisa dengan SPSS menggunakan uji Independent T-Test. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa induksi protein TSH 25 kDa menghasilkan perbedaan profil
pita protein serum mencit dengan jumlah pita dengan berat molekul lebih besar dari
150 kDa yang diprediksi sebagai antibodi terbentuk lebih banyak pada kelompok
induksi TSH 25 kDa. Induksi protein TSH 25 kDa menunjukkan hasil perbedaan
signifikan pada ekspresi IL-4 (P<0,05). Terdapat peningkatan ekspresi sebesar 87%
pada spleen mencit yang diinduksi TSH 25 kDa
Pengaruh Jumlah Lubang Perforated Fin Terhadap Distribusi Temperatur dan Perpindahan Kalor pada Pendinginan Motor Bakar
Penelitian perforated fin dimaksudkan untuk mengetahui performansi perpindahan
panas dan distribusi temperatur untuk mencegah adanya akumulasi panas yang berlebih pada
motor bakar. Panas yang dihasilkan dari pembakaran pada motor bakar apabila tidak
dipindahkan dapat merusak komponen pada motor bakar sehingga dibutuhkan sistem
pendinginan berupa fin. Fin merupakan media penambahan luas penampang yang digunakan
untuk perpindahan panas secara konveksi dan konduksi. Penambahan Fin pada pendinginan
motor bakar memiliki kelebihan yaitu dapat mencegah mencegah adanya akumulasi panas
yang berlebih pada motor bakar yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan termal.
Penelitian ini menggunakan simulasi dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh
perforated fin terhadap distribusi temperatur dan perfomaansi perpindahan kalor dan
pengaruh variasi jumlah lubang perforated fin terhadap distribusi temperatur dan
performansi perpindahan kalor berupa koefisien perpindahan panas konveksi, efisiensi dan
efektivitas pada fin. Penelitian dilakukan dengan menentukan kondisi batas yaitu kecepatan
aliran udara sebesar 5 m/s dengan suhu udara 297 kelvin, sumber panas pada permukaan
liner dijaga konstan 373 Kelvin. Permodelan ini dilakukan dengan menggunakan software
Ansys Workbench 2021 R2. Dari penelitian ini, didapat bahwa penambahan perforasi akan
menurunkan efisiensi fin akibat adanya gradien temperatur. Penambahan perforasi akan
meningkatkan efektivitas fin dan koefisien perpindahan kalor. Efisiensi fin tertinggi dicapai
oleh fin tanpa perforasi, diikuti fin dengan 12, 20, 28, dan 36 perforasi. Sedangkan,
efektivitas fin tertinggi diraih oleh fin dengan 36 perforasi, diikuti oleh 20, 28, 12, dan tanpa
perforasi. Koefisien perpindahan panas konveksi tertinggi terdapat pada fin dengan 20
perforasi, diikuti oleh 36, 12, 28, dan tanpa perforasi. Penting untuk dicatat bahwa variasi 28
perforasi mengalami penurunan efektivitas dan koefisien perpindahan panas konveksinya.
Hal ini terjadi karena fin yang memiliki variasi 20 perforasi sudah mencapai tingkat optimal,
di mana peningkatan jumlah perforasi tidak menghasilkan peningkatan yang signifikan
dalam efektivitas dan koefisien perpindahan panas
Analisis Posting di Waktu Aktif dan Waktu Tidak Aktif Dalam Meningkatkan Engagement Rate” (Studi Kasus : @aylish.idn)
Waktu posting konten yang tepat merupakan hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan promosi produk melalui media social Instagram karena
waktu posting konten merupakan salah satu hal yang mempengaruhi
engagement rate. Dengan memposting konten di waktu yang tepat akan
mendapatkan eksposure yang maksimal dan meningkatkan engagement
rate. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbandingan
engagement rate antara konten yang di posting di waktu aktif dan waktu
tidak aktif serta untuk mengukur seberapa besar perbandingan engagement
rate tersebut. Selain itu, penelitian ini bertujuan juga untuk mengidentifikasi
kapan waktu yang efektif dan tidak efektif untuk memposting konten
supaya engagement rate meningkat. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa angka yang
akan dianalisis menggunakan rumus engagement rate. Dalam analisis
tersebut diperlukan data-data yang harus dikumpulkan yaitu berupa angka
jumlah like, comment, share & save yang diperoleh dari fitur insight
instagram. Proses pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan selama
15 hari yaitu pada tanggal 22 April 2024 – 6 Mei 2024. Dari data yang sudah
dianalisis didapatkan hasil penelitian bahwa : (1) Terdapat adanya
perbandingan engagement rate antara posting di waktu aktif dan posting di
waktu aktif. (2) Besar perbandingan engagement rate antara konten yang
diposting pada waktu aktif dan waktu tidak aktif adalah sebesar 79.01%.
(3) Waktu yang efektif untuk memposting konten pada instagram
@aylish.idn dalam meningkatkan engagement rate adalah pukul 16:32 WIB,
16:38 WIB & 16:39 WIB dengan total engagement rate sejumlah 7.69%,
sedangkan waktu yang tidak efektif untuk memposting konten pada
instagram @aylish.idn dalam meningkatkan engagement rate adalah pukul
00:12 WIB dengan total engagement rate sejumlah 1.09%
Studi Perencanaan Jarigan Distribusi Air Bersih Desa Pojok Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung
Fenomena Kekeringan kerap terjadi di sebagian wilayah Indonesia, salah satunya di
Kabupaten Tulungagung. Terjadinya kekeringan dapat disebabkan oleh berbagai macam
faktor, seperti pemanasan global. Hal ini menyebabkan iklim menjadi tidak teratur sesuai
musimnya. Desa Pojok, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagug mengalami
kekeringan akhir-akhir ini. Berdasarkan wawancara terhadap warga Desa Pojok, terdapat
sebagian warga yang tidak dapat terpenuhi kebutuhan airnya. Terdapat pula kesenjangan
air bersih dikarenakan hanya sedikit warga yang memiliki sumur, sedangkan yang tidak
memiliki sumur hanya memanfaatkan sumber mata air yang tidak selalu ada di sepajang
tahun.
Masalah yang telah terjadi di Desa Pojok, diperlukannya pembangunan sebuah
infrastruktur distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Pojok.
Perencanaan ini bersumber dari air tanah, sehingga dilakukan pengujian geolistrik untuk
mengetahui kondisi geologinya. Setelah pengujian tersebut dilakukan perencanaan sumur
bor dalam sebagai sumber distribusi air bersih. Untuk memperoleh berapa kebutuhan air
bersih di Desa Pojok, dilakukan perhitungan proyeksi penduduk untuk menghitung
proyeksi kebutuhannya. Setelah memperoleh proyeksi kebutuhan selama 20 tahun ke
depan dilakukan perencanaan komponen distribusi air bersih seperti pompa dan tandon.
Perencanaan komponen yang telah dilakukan akan diinput ke dalam pemodelan
dengan bantuan software WaterCAD v8i. Diperoleh kebutuhan air bersih sebesar 8,519
liter/detik dengan dimensi Panjang 4,5 meter, lebar 4 meter, dan tiggi 3 meter. Kontrol dari
pemodelan ini adalah berdasarkan Permen PU No. 18 Tahun 2007 dimana nilai kecepatan
harus bernilai 0,1 – 2,5 m/s, tekanannya harus bernilai 0,5 – 8 atm, dan headloss gradient
bernilai 0 – 15 m/km. Hasil dari pemodelan tersebut diinterpretasikan ke dalam bentuk
gambar teknis. Berdasarkan gambar teknis tersebut diperoleh rencana biaya untuk
Pembangunan jaringan distribusi air bersih sebesar Rp 3,727,110,000.00 ((Tiga Milyar
Tujuh Ratus Dua Puluh Tujuh Seratus Sepuluh Ribu Rupiah) dengan biaya konsumsi
listrik sebesar Rp 356,901.30 per hari
Perbandingan Ukuran dan Bentuk Mikroplastik Pada Darah Vena dan Darah Transplasenta Ibu Bersalin
Plastik di lingkungan mengalami degradasi akibat radiasi sinar UV dan
degradasi secara mekanik dapat menyebabkan sampah plastik terpecah menjadi
potongan kecil disebut sebagai mikroplastik. Ketika mikroplastik tertelan bersama
makanan dan masuk kedalam usus, mikroplastik dapat melintasi lumen usus
yang kemudian akan dikumpulkan oleh sel dendritik dan diangkut ke dalam
sistem limfatik hingga mencapai sirkulasi darah. Pada ibu hamil mikroplastik yang
mencapai sirkulasi darah dapat menembus sawar plasenta, melewati jalur
transplasenta hingga ke janin. Mikroplastik dapat menyebabkan banyak toksisitas
bagi ibu dan janin, karena dapat berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh,
menyebabkan stress oksidatif dan perubahan pada DNA. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi serta membandingkan ukuran dan bentuk partikel
mikroplastik pada darah vena dan darah transplasenta. Metode penelitian ini
adalah penelitian cross sectional dengan mengambil 4ml sampel plasma darah
vena dan darah transplasenta dari 52 ibu bersalin yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi. Semua darah diidentifikasi kandungan mikroplastik menggunakan
mikroskop stereo dengan perbesaran 100x. Bentuk mikroplastik diidentifikasi
menggunakan software NIS-Elemen, lalu ukuran mikroplastik dihitung
menggunakan software image j. Hasil penelitian didapatkan partikel mikroplastik
pada semua sampel darah vena dan darah transplasenta. Partikel yang
ditemukan bervariasi, mulai dari jenis fragmen, film, fiber dan granule dalam
ukuran 2.00 μm - 586.47 μm di darah vena dan berukuran 2.82 μm - 137.15 μm
di darah transplasenta. Hasil dari uji mann whitney rerata ukuran mikroplastik
didapatkan p value 0.959, lalu untuk bentuk fragmen, film, fiber, granule
berurutan didapatkan p value 0.000, 0.775, 0.935, 0.202. Dapat disimpulkan tidak
ada beda antara rerata ukuran mikroplastik, terdapat perbedaan jumlah fragmen
dan tidak ada beda antara jumlah film, fiber granule partikel mikroplastik pada
darah vena dan darah transplasenta
Pengaruh Daya Hambat Ekstrak Etanol Rumput Laut (Gracilaria verrucosa) Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro
Penyakit merupakan masalah utama dalam budidaya ikan, baik untuk ikan
hias maupun ikan konsumsi. Secara umum penyakit dapat dikelompokkan menjadi
penyakit infeksi, dan non infeksi. P. aeruginosa termasuk salah satu penyakit
infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang biasanya menyerang komoditas ikan
perairan tawar. Bakteri P. aeruginosa merupakan bakteri yang termasuk bakteri
gram negatif berbentuk basil berukuran 0,5 - 1 μm x 3 - 4 µm dan 2 - 3 flagel
tunggal bersifat polar. Alternatif pengobatan yang digunakan dalam mengatasi
masalah tersebut yaitu dengan memanfaatkan bahan alami berupa tumbuhan
yang memiliki senyawa antibakteri. Pemanfaatan bahan alami dikarenakan tidak
menimbulkan resisten terhadap bakteri dan dinilai ramah lingkungan. Salah satu
bahan alami produk akuakultur yang dimanfaatkan untuk mengatasi
permasalahan ini yaitu rumput laut G. verrucosa yang memiliki berbagai senyawa
bioaktif seperti alkaloid, falvonoid, fenol, dan saponin yang dapat digunakan
sebagai antibakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya hambat ekstrak
etanol rumput laut G. verrucosa terhadap bakteri P. aeruginosa secara in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Brawijaya, Malang pada Februari 2024 – April 2024. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan penelitian Rancangan
Acak Lengkap menggunakan 5 perlakuan dosis ekstrak etanol rumput laut
Gracilaria verrucosa yang berbeda yaitu A (93,75 mg/L), B (187,5 mg/L), C (375
mg/L), D (750 mg/L), E (1500 mg/L) dan 2 kontrol yaitu kontrol positif dan kontrol
negatif. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol rumput laut
(G. verrucosa) memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap daya hambat
pertumbuhan bakteri P. aeruginosa. Perlakuan yang memberikan rata-rata
diameter zona hambat terbesar ada pada perlakuan dosis A (750 mg/L) dengan
diameter 11.23 ± 0.25 mm. Sedangkan untuk rata-rata diameter zona hambat
terkecil ada pada perlakuan dosis E (830 mg/L) dengan diameter sebesar 8.2 ±
0.6 mm. Hubungan zona hambat antar perlakuan ekstrak etanol rumput laut (G.
verrucosa) terhadap pertumbuhan bakteri P. Aeruginosa menunjukan
perpotongan garis secara linier dengan persamaan y = -0,0382x + 40,258 dengan
koefisien R2 = 0,9176. Penelitian ini didapat kesimpulan bahwa pemberian ekstrak
etanol rumput laut (G. verrucosa) dengan dosis perlakuan yang berbeda terbukti
dapat menghambat pertumbuhan bakteri P. Aeruginosa . Ekstrak etanol rumput
laut terbukti memiliki sifat antibakteri yang ditandai dengan adanya zona hambat
disekitar kertas cakram. Ekstrak etanol rumput laut juga memiliki sifat
bakteriostatik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Jaminan Keamanan Para Pihak Yang Bersengketa Dalam Sidang Secara Elektronik Di Pengadilan Tata Usaha Negara (Studi Di Ptun Surabaya)
Pada skripsi ini penulis mengangkat permasalahan mengenai bagaimana
perlindungan hukum terhadap hak jaminan keamanan yang diterima oleh para
pihak yang bersengketa melalui peradilan secara elektronik. Pengaturan keamanan
persidangan telah diatur dalam Perma 5/2020 tentang Protokol Persidangan dan
Keamanan dalam Lingkungan Pengadilan. Namun, pada kenyataannya
keseluruhan isi Perma hanya menjelaskan aturan terkait persidangan konvensional
saja. Padahal seharusnya perlu diatur juga mengenai penjaminan keamanan saat
beracara apabila persidangan dilakukan secara elektronik, karena berkaitan
dengan keabsahan barang bukti, kerahasiaan dokumen, maraknya kejahatan
cyber, dan indikasi hacking sehingga merugikan pihak bersengketa dan tentunya
menghambat berlangsungnya peradilan elektronik.
Berkaitan dengan hal di atas, penelitian ini mengangkat rumusan masalah:
1) Bagaimana perlindungan hukum atas hak jaminan keamanan para pihak yang
bersengketa di PTUN dalam persidangan secara elektronik?; 2) Apa hambatan
yang dihadapi dan solusi yang PTUN Surabaya lakukan terhadap hak jaminan
keamanan para pihak yang bersengketa dalam persidangan elektronik?. Penelitian
menggunakan jenis penelitian sosio legal dengan metode pendekatan yuridis
sosiologis. Seluruh data yang diperoleh dalam penulisan ini dianalisis diolah
berdasarkan hasil yang terkumpul dari observasi, wawancara langsung, arsip data
Tim Terpadu dan referensi lain yang relevan dengan penelitian.
Pada penelitian ini diperoleh bahwa perlindungan hukum yang diberikan
PTUN Surabaya kepada para pihak adalah dengan dua metode di antaranya; pada
tahap pemeriksaan persiapan dan acara pembuktian dilakukan secara persidangan
konvensional, sedangkan agenda sidang lainnya secara elektronik. Selain itu,
terdapat perbaikan pada sistem e-Court (maintanance) secara berkala yang
dilakukan MA, dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) mulai dari aparat
penegak hukum dan seluruh staf PTUN Surabaya