137686 research outputs found
Sort by
Pengaruh Komposisi PCC dan GGBFS Terhadap Permeabilitas dan Retak Struktur Ferosemen
Ferosemen merupakan beton bertulang tipis yang terbuat dari mortar semen hidrolik,
dengan beberapa lapis kawat sebagai tulangan utama, dan memiliki diameter kawat yang
relatif kecil. Dibandingkan dengan teknologi tradisional lainnya, ferrocement dikenal karena
kekuatan, fleksibilitas, dan daya tahannya yang unggul. Namun ferrocement juga
memerlukan perbaikan sifat fisik dan mekanik dalam penerapannya sehingga memerlukan
penambahan material lain. Pada penelitian ini semen PCC sebagai salah satu bahan dasar
pembuatan ferosemen digantikan sebagian oleh semen slag (yaitu GGBFS) dengan variasi
substitusi sebesar 0%, 10%, 20% dan 30%. Serta tulangan utama berupa wiremesh dengan
variasi fraksi volume tulangan sebesar 1,20%, 1,80% dan 2,40%. Tujuan substitusi GGBFS
yaitu untuk memperoleh nilai ketahanan ferosemen terhadap aliran air dan pengaruhnya
terhadap retak stuktur ferosemen. Sedangkan perbedaan fraksi volume tulangan bertujuan
untuk mendapatkan perbandingan besar kekuatan yang mampu di tahan oleh ferosemen pada
masing-masing fraksi tulangan yang sudah ditentukan. Metode penelitian adalah penelitian
eksperimen laboratorium dengan pengujian berupa uji permeabilitas (yaitu uji kedalaman
penetrasi air) dan uji lentur, dimana masing-masing benda uji diuji ketika beton mencapai
umur 28 hari. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa substitusi GGBFS sebesar 10%, 20%
dan 30% mampu menjadikan mortar ferosemen bersifat impermeabel (kedap air). Hasil
tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifkan antara substitusi GGBFS
sebesar 10%, 20% dan 30% sehingga untuk mencapai beton yang impermeabel proporsi
substitusi GGBFS yang dapat digunakan adalah sebesar antara 10% sampai dengan 30%.
Selanjutnya Ferosemen dengan fraksi tulangan sebesar 2,4% dan substitusi GGBFS 30%
memiliki kekuatan tertinggi dibandingkan dengan variasi-variasi lainnya. Namun tidak ada
perbedaan signifikan besar kekuatan yang dihasilkan antara substitusi GGBFS 30% dan 0%
(atau tanpa substitusi GGBFS)
Pemanfaatan Ekstrak Kulit Manggis Mengandung Xanthone terhadap Maskulinisasi pada Perendaman Larva Ikan Pelangi Boesemani (Melanotaenia boesemani) dengan Dosis yang Berbeda
Ikan pelangi (M. boesemani) merupakan komoditas ikan hias endemik dari aliran sungai di Papua, Indonesia. Ikan pelangi jantan lebih digemari oleh masyarakat karena memiliki warna yang lebih menarik dan dengan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ikan betina. Namun, populasi ikan jantan yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan ikan betina yaitu berkisar 20-25%. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menghasilkan ikan jantan lebih banyak adalah dengan sex reversal atau membalikkan arah kelamin betina menjadi jantan (maskulinisasi)
Tindakan Komunikatif Antar Aktor dalam Diskursus Pembentukan dan Pengelolaan Desa Wisata Giripurno Kota Batu
Penelitian ini mengkaji tentang diskursus pembentukan dan pengelolaan Desa wisata khususnya proses awal perencanaan hingga pelaksanaan Desa Wisata di Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis bentuk diskursus antar aktor di dalam pembentukan dan pengelolaan Desa Wisata di Desa Giripurno. Manfaat penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap kajian sosiologi serta dapat menjadi rujukan atau literatur bagi penelitian berikutnya dengan tema serupa yaitu tentang diskursus aktor pengelola dalam pembentukan dan pengelolaan Desa Wisata dalam menjalankan program Desa Wisata agar kemudian dapat dikembangkan dan disempurnakan. Kemudian memberikan pengetahuan pada masyarakat atas proses pembentukan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah, sedangkan bagi pemerintah sebagai bahan evaluasi untuk menerapkan kebijakan yang komunikatif-diskursif.
Penelitian ini menggunakan teori Diskursus yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas. Diskursus merupakan bentuk tindakan komunikatif-intersubjektif yang argumentatif, kritis, dan terbuka untuk mencapai sebuah konsensus dalam sebuah sistem dan lebenswelt. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus jenis perjodohan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian yang dilakukan bahwa pembentukan awal wisata di Desa Giripurno berjalan secara diskursif pada tingkat penggagas awal namun belum mencerminkan tindakan komunikatif karena perbedaan lebenswelt antar aktor yang membuat adanya dominasi salah satu pihak dalam komunikasi yang berlangsung. Pembentukan awal wisata tidak melibatkan Pemerintah Desa dan seluruh anggota masyarakat Desa Giripurno secara utuh sehingga wisata yang terbentuk tidak memiliki dukungan penuh dari masyarakat.
Pembangunan destinasi wisata yang bukan di lahan milik Desa membuat wisata sulit berkembang karena Desa tidak berwenang dalam mengalokasikan dana untuk pembanguna wisata diluar kekuasaan milik Desa. Hal ini menjadi sumber masalah yang membuat wisata awal yang terbentuk tidak berjalan lagi karena pemilik lahan ditimpa musibah yang membuat lahan tersebut harus dijual. Kemudian Pemerintah Desa membangun destinasi wisata baru yang berdiri di lahan milik Desa, dan mengeluarkan SK pengelola wisata di Desa Giripurno. Kemudian, diperkuat dengan pembentukan PERDES (Peraturan Desa) wisata Giripurno sebagai jalan dalam menguasai wisata yang ada di Desa Giripurno.Tindakan yang dilakukan Pemerintah Desa kemudian memutus tindakan komunikatif para stakeholders
Optimisasi Portofolio Saham Menggunakan Metode Simulasi Monte Carlo dan Recurrent Neural Network
Skripsi ini membahas tentang penerapan kombinasi Machine
Learning dengan metode simulasi Monte Carlo (MCS) untuk
mengoptimasi portofolio berdasarkan Teori Portofolio. Teknik ML
yang digunakan untuk memprediksi harga saham adalah Gated
Recurrent Unit (GRU). Penelitian ini menggunakan data saham
indeks LQ45 pada tanggal 1 April 2020 hingga 13 November 2023.
Data periode 1 April 2020 hingga 18 Agustus 2023 digunakan untuk
pelatihan, sedangkan periode selanjutnya disisihkan untuk prediksi
dan validasi model. Metode penelitian mencakup prediksi harga dari
setiap saham menggunakan model GRU, kemudian menentukan
ekspektasi dan korelasi return berdasarkan hasil prediksi untuk
memilih saham dengan return tertinggi dan korelasi rendah. Pada
langkah selanjutnya, portofolio optimal dibentuk dan dipilih dari
berbagai opsi menggunakan kombinasi MCS dan MVO
(Mean-Variance Optimiziation). Berbagai komposisi dan bobot aset
dalam portofolio disimulasikan menggunakan MCS. MVO juga
diterapkan saat simulasi untuk memilih portofolio terbaik berdasarkan
rasio risk-return. Penelitian menghasilkan portofolio optimal yang
terdiri dari 9 saham dengan distribusi bobot 0, 08 (ACES), 0, 11
(AKRA), 0, 02 (BBNI), 0, 11 (BMRI), 0, 14 (BRPT), 0, 18 (CPIN),
0, 05 (MEDC), 0, 03 (SCMA), dan 0, 28 (TPIA). Berdasarkan
expected return dan risikonya, portfolio optimal memiliki expected
Sharpe Ratio sebesar 3, 89. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
portofolio sudah berperforma dengan baik. Ketika performa
portofolio optimal dievaluasi terhadap data aktual, portofolio
menghasilkan Sharpe Ratio sebesar 3, 88 yang sedikit lebih rendah
dari expected Sharpe Ratio, tetapi masih menghasilkan performa
unggul. Kesimpulannya, kombinasi GRU dan MCS berpotensi
menjadi metode yang efektif untuk optimisasi portofolio
Optimalisasi Persediaan Barang dengan Metode Peramalan dan Economic Order Quantity (EOQ) (Studi Kasus: Koperasi Karyawan PT HM Sampoerna Sukorejo)
Koperasi Karyawan (Kopkar) PT HM Sampoerna Sukorejo
merupakan koperasi yang menjual barang kebutuhan pokok untuk
para anggotanya. Untuk memaksimalkan keuntungan, salah satu
upaya yang dapat dilakukan oleh Kopkar PT HM Sampoerna yaitu
perencanaan persediaan barang. Produk yang paling banyak diminati
oleh pelanggan Kopkar PT HM Sampoerna Sukorejo yaitu produk
rokok dengan merk A Mild dan Dji Sam Soe Magnum. Perencanaan
persediaan untuk kedua produk tersebut perlu diperhitungkan agar
persediaannya optimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
dilakukan perencanaan persediaan dengan menggunakan metode
peramalan penjualan yang tepat. Metode peramalan yang digunakan
untuk meramalkan penjualan A Mild dan Dji Sam Soe Magnum untuk
periode April 2023 hingga Maret 2024 yaitu metode single
exponential smoothing. Hasil peramalan yang didapatkan untuk A
Mild 16 dan Dji Sam Soe Magnum yaitu berturut-turut sebesar 7.968
dan 3.036. Perencanaan persediaan dengan Economic Order Quantity
(EOQ) didapatkan hasil yang lebih optimal sehingga Kopkar PT HM
Sampoerna Sukorejo dapat menghemat biaya persediaan untuk
produk A Mild 16 dan Dji Sam Soe Magnum. Total biaya persediaan
yang harus dikeluarkan untuk A Mild 16 dan Dji Sam Soe Magnum
dalam setahun dengan menggunakan EOQ berturut-turut yaitu sebesar
Rp.821.475,90 dan Rp.256.789,87
“Karakteristik Morfometrik Domba Sapudi”.
Domba merupakan ternak yang mampu berkembang dan bertahan di semua zona agroekologi, karenanya domba menyebar hampir di beberapa wilayah Indonesia, domba Sapudi sebagai salah satu rumpun domba lokal Indonesia dan sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang harus dilindungi dan dilestarikan. Domba Sapudi mempunyai daya adaptasi baik terhadap iklim, penyakit, dan pakan berkualitas rendah, domba ini mempunyai sumber gen yang khas, produktif dipelihara dengan biaya rendah, serta dapat beranak sepanjang tahun, serta mempunyai posisi yang sangat strategis di masyarakat karena mempunyai fungsi sosial, ekonomi, dan budaya
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfometrik domba Sapudi dan selanjutnya diharapkan dapat digunakan oleh peternak dan masyarakat umum sebagai salah satu sumber pengetahuan untuk menciptakan sifat unggul bibit domba Sapudi yang dinilai dari karakteristik Morfometrik. Selanjutnya hasil dari sifat unggul ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas Domba Sapudi.
. Penelitian ini dilaksanakan di UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Garahan Kabupaten Jember, Jawa Timur pada bulan Oktober- November 2023. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ternak domba Sapudi sebanyak 204 ekor di UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Kabupaten Jember. Variabel penelitian yang diamati dalam penelitian ini yaitu karakteristik morfometrik meliputi karakteristik kuantitatif dan karakteristik kualitatif. Karakteristik kuantitatif domba Sapudi meliputi bobot badan, tinggi badan, panjang badan, dan lingkar dada, panjang ekor, lingkar ekor, lingkar skrotum Karakteristik kualitatif domba Sapudi meliputi warna pada tubuh, garis muka, bentuk tanduk, garis punggung, bentuk telinga, bentuk ekor, dan kepadatan wol. Analisa data kuantitatif menggunakan uji T-Student untuk membandingkan karakteristik domba Sapudi jantan dan betina berdasarkan umur yang berbeda. Data kualitatif berupa karakter morfologi dianalisa menggunakan rumus frekuensi relatif untuk mengetahui perbedaan persentase dari setiap karakter morfologi.
Karakteristik kuantitatif bobot badan domba Sapudi terbesar pada jantan adalah 37,75 ± 5,60 kg dan pada betina 23,19 ± 1,64 kg. Karakteristik tinggi badan jantan 65,91 ± 4,51 cm dan betina 58,56 ± 1,72 cm. Hasil pengukuran pada panjang badan jantan tertinggi adalah 63,33 ± 3,90 cm dan betina 58,43 ± 1,56 cm. Sedangkan lingkar dada domba Sapudi jantan 76,45 ± 4,73 cm dan pada betina 63,86 ± 2,37 cm. Karakteristik panjang ekor jantan tertinggi adalah 27,00 ± 2,44 cm dan pada betina 29,86 ± 1,31 cm. Pengukuran lingkar ekor tertinggi pada jantan 32,83 ± 5,56 cm dan pada betina 24,81 ± 1,01 cm. Hasil pengukuran lingkar skrotum pada jantan tertinggi 26,91 ± 3,11 cm.Karakteristik kualitatif domba Sapudi meliputi warna dominan kepala dan tubuh 100 % putih, garis muka cembung pada jantan 60,53 % dan betina 57,22 %, bentuk telinga tegak meyamping 100 %, tidak memiliki tanduk 81,58 % jantan dan 100 % betina, garis punggung cekung meninggi kebelakang 69,35 % jantan dan 57,82 % betina, 3 bentuk ekor didominasi oleh sigmoid pada jantan 65,79 % dan betina 53,01 %, bentuk segitiga 13,16 % jantan dan 32,53 % betina serta bentuk ekor lurus pada jantan 21,05 % dan betina 14,46 % dan kepadatan wol dengan skor 1 yang hanya diselimuti oleh rambut 53,63 % jantan dan 55,42 % betina, tempramen memiliki karakter agresif pada jantan 100 % dan betina 83 %, sebagian besar telah sesuai dengan SNI domba Sapudi
“Pengaruh Kadar Antioksidan Quercetin Terhadap Kualitas Semen Domba Dorper Dan Domba Awwasy Pada Penyimpanan Suhu Ruang Menggunakan Pengencer Tris Aminomethane”
Domba merupakan komoditas ternak yang memiliki potensi pengembangan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Domba memiliki sifat prolific, mudah beradaptasi, dan kebal terhadap beberapa macam penyakit. Perbaikan mutu genetik domba dapat dilakukan dengan inseminasi buatan. Keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi oleh kualitas semen. Penyimpanan semen pada suhu dan waktu tertentu akan menyebabkan penuruan kualitas karena metabolisme spermatozoa dan peningkatan reactive oxygen species (ROS).
Penambahan pengencer diharapkan mampu memberikan lingkungan hidup dan menjaga kualitas semen selama masa penyimpanan. Penambahan antioksidan juga diperlukan untuk menurunkan ROS selama proses metabolisme spermatozoa. Pengencer Tris-Aminomethane merupakan jenis pengencer yang banyak dipakai sebagai pengencer semen dalam proses pembuatan semen cair maupun semen beku. Pengencer Tris-Aminomethane mengandung fruktosa, laktosa, rafinosa, asam amino, dan vitamin. Quercetin adalah antioksidan yang dapat menghambat peroksidase lipid pada membran spermatozoa serta menurunkan aktivitas radikal bebas sehingga mampu mempertahakan kualitas semen domba.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar antioksidan quercetin terhadap kualitas semen domba Dorper dan Awwasy pada penyimpanan suhu ruang yang ditambahkan pengencer Tris-Aminomethane kuning telur. Materi penelitian yang digunakan adalah semen segar dari 1 pejantan domba Dorper dan 1 pejantan domba Awwasy dimana penampungan dilakukan 2 kali seminggu menggunakan vagina buatan.
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 4 perlakuan 5 ulangan pada masing masing domba. Pola rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dua faktor dengan pola 4 x 5 sehingga didapatkan 20 perlakuan. Perlakuan quercetin adalah 0 μM, 30 μM, 60 μM, dan 90 μM dan waktu penyimpanan pada suhu ruang selama 0 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, dan 8 jam. Variabel yang diamati adalah persentase motilitas individu, viabilitas, abnormalitas, dan integritas membran spermatozoa. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 23 dan microsoft excel dengan metode analisi ragam ANOVA dan dilanjutkan Uji Jarak Berganda Duncan apabila terdapat perbedaan nyata atau sangat nyata.Hasil penelitian menunjukkan bahwa antioksidan quercetin memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap motilitas individu domba Dorper (P<0,01) namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap viabilitas, abnormalitas, dan integritas membran. Konsentrasi antioksidan quercetin memberikan pengaruh yang nyata terhadap motilitas individu spermatozoa domba Awwasy (P < 0,05) namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap viabilitas, abnormalitas, dan integritas membran. Waktu penyimpanan pada suhu ruang memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap motilitas individu dan integritas membran spermatozoa domba Dorper (P< 0,01), namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap viabilitas dan abnormalitas domba Dorper . Waktu penyimpanan pada suhu ruang memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap motilitas individu dan integritas membran spermatozoa domba Awwasy (P< 0,01), namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap viabilitas dan abnormalitas domba Awwasy. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan antioksidan quercetin 30 μM memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan motilitas individu spermatozoa domba Dorper sebesar 76,4±5,11% dan domba Awwasy sebesar 74,6±8,28% hingga 8 jam (W8) penyimpanan pada suhu ruang
Analisis Framing Pemberitaan Kasus Pembunuhan Brigadir J Pasca Vonis Hukuman Mati Ferdy Sambo Pada Situs Kompas.Com Dan Detik.Com
Penelitian ini membahas mengenai perbedaan framing yang dilakukan dua media yaitu Kompas.com dan Detik.com terkait kasus pembunuhan Brigadir J pasca vonis hukuman mati Ferdy Sambo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana framing yang dibentuk oleh kedua media dalam pemberitaan kasus pembunuhan Brigadir J pasca vonis hukuman mati Ferdy Sambo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis framing Robert N. Entman. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi berupa teks berita pada situs Kompas.com dan Detik.com. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas.com tampak lebih berhati-hati dalam penulisan beritanya terlihat dari bagaimana Kompas.com memuat pernyataan hakim terhadap sikap masyarakat terhadap kasus ini di beberapa beritanya. Sementara itu, media Detik.com tampak menunjukkan simpati kepada korban meski dalam penulisan beritanya tidak terdapat kata-kata kiasan berkonotasi negatif seperti yang dilakukan oleh Kompas.com pada pemberitaannya. Dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi media di Indonesia untuk dapat menyajikan berita dari berbagai sisi dan pembaca berita membaca berita dari berbagai sumber agar lebih bijak dalam memaknai suatu fenomena. Kemudian diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini menggunakan model framing lainnya
Pengaruh Perbedaan Rasio Tepung Daun Stevia (Stevia Rebaudiana) dan Gula Pada Kualitas Fisik Gelato”
Gelato merupakan cara pengolahan susu segar yang berfungsi untuk memperpanjang daya simpan susu dengan komposisi yang terdiri dari sedikit krim, gula sebagai pemanis dan kuning telur sebagai pengemulsinya. Gelato adalah es krim khas yang berasal dari Italia yang banyak digemari oleh masyarakat di seluruh dunia. Gelato memiliki beberapa perbedaan dari es krim biasanya, perbedaan tersebut terdiri dari sifat fisik, kandungan gula, kandungan lemak dan proporsi bahan penyusunnya. Gelato memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga berbahaya untuk dikonsumsi oleh masyarakat secara berlebihan. Masyarakat Indonesia memiliki tingkat penyakit diabetes yang meningkat pada tahun 2022-2023 dengan peningkatannya sebanyak 2,2% dengan populasi 6 juta, sedangkan untuk obesitas terdapat peningkatan pada tahun 2022-2023 yaitu lebih dari 30% orang dewasa di Indonesia mengidap obesitas. WHO menyatakan bahwa Indonesia mendapatkan peringkat tertinggi dalam tingkat obesitas di Asia Tenggara. Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi agar mengurangi tingkat kandungan gula pada gelato agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang memiliki penyakit diabetes dan obesitas. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah mengganti gula menggunakan pemanis alami berupa tepung daun stevia.
Tepung daun stevia (Stevia rebaudiana) adalah tepung dari tanaman semak yang memiliki kemampuan sebagai pemanis alami yang dapat digunakan sebagai pengganti gula. Jika dibandingkan dengan gula biasa, pemanis buatan ini dapat memberikan rasa yang jauh lebih manis tanpa menambah asupan kalori maupun meningkatkan gula darah. Tepung daun stevia memiliki tingkat kemanisan 200-300 kali lebih manis dari sukrosa. Tepung daun stevia juga memiliki sifat nonkarsinogenik dan aman dikonsumsi oleh manusia. Tepung daun stevia memiliki rasa yang agak pahit di akhir sehingga perlu ditambahkan komponen lain untuk meminimalisasi rasa pahitnya sehingga tepung daun stevia merupakan komponen yang cocok untuk ditambahkan pada gelato. Oleh karena itu dilakukan penelitian gelato dengan perbedaan rasio antara gula dan tepung daun stevia sebagai pemanis alami.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh rasio tepung daun stevia (Stevia rebaudiana) dan gula sebagai pemanis alami dalam pembuatan gelato ditinjau dari uji overrun, daya leleh, viskositas dan organoleptik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam menambah pengetahuan umum masyarakat mengenai gelato dengan tepung daun stevia sebagai pengganti pemanis gula.Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2023 sampai bulan Oktober 2023 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang untuk pembuatan gelato, pengujian overrun, daya leleh, viskositas dan organoleptik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelato dengan perbedaan rasio antara gula dan tepung daun stevia (Stevia rebaudiana) sebagai pemanis dengan konsentrasi yang berbeda.
Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan penelitian menggunakan pemanis dari tepung daun stevia dalam pembuatan gelato yaitu P1 (gula 15,7% dan tepung daun stevia 0,3%), P2 (gula 15,5% dan tepung daun stevia 0,5%), dan P3 (gula 15,3% dan tepung daun stevia 0,7%). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah overrun, daya leleh, viskositas, dan organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam. Apabila diperoleh hasil yang berbeda sangat nyata maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pemanis tepung daun stevia sebagai pengganti pemanis dalam pembuatan gelato memberikan pengaruh yang sangat signifikan (P<0,01) terhadap overrun, daya leleh, viskositas dan organoleptik. Rata-rata overrun berkisar antara 19,86%-26,08%, daya leleh 29,55-33,70 menit, viskositas 29,4-57,5 mPa.s dan skor organoleptik memengaruhi warna, tekstur, aroma dan rasa.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan perbedaan rasio gula dan tepung daun stevia pada gelato dapat menurunkan nilai overrun, memperpanjang waktu leleh dan meningkatkan viskositas, dengan nilai rata-rata overrun 19,86%-26,08%; daya leleh 29,55-33,70 menit; viskositas 29,32-57,5 mPa.s. Selain itu, proporsi tepung daun stevia yang ditambahkan juga memengaruhi penilaian panelis dalam uji organoleptik dengan nilai rata-rata organoleptik warna 1,94-
x
3,66; organoleptik tekstur 3,61-4,01; organoleptik aroma 3,22-4,08; organoleptik rasa 2,75-4,24
Pengaruh Ekstrak Buah Kemang (Mangifera kemanga) terhadap Rendemen, Total Padatan, Kadar Protein dan Mutu Organoleptik Keju Mozzarella.
Keju merupakan salah satu produk pangan yang terbuat dari bahan baku susu, dihasilkan dari proses koagulasi atau penggumpalan protein susu yang sering disebut curd. Berbagai jenis dan macam keju sering dijumpai masyarakat, tergantung dengan proses pembuatan, jenis susu yang digunakan serta perlakuan yang diterapkan dalam proses pematangan. Contoh keju tanpa pematangan adalah keju mozzarella. Keju mozzarella adalah keju lunak yang proses pembuatannya tidak dimatangkan atau sering disebut keju segar (fresh cheese). Pembuatan keju dapat menggunakan Bakteri Asam Laktat (BAL) maupun dengan pengasaman langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) terhadap rendemen, total padatan, kadar protein dan mutu organoleptik keju mozzarella. Manfaat penelitian ini memberikan informasi dan wawasan bagi masyarakat mengenai pembuatan keju mozzarella menggunakan metode pengasaman langsung dari ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) tanpa menggunakan bakteri starter.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya untuk pembuatan keju mozzarella dan pengujian rendemen, total padatan, dan mutu organoleptik. Pengujian kadar protein dilakukan di Laboratorium Klinik Hewan Satwa Sehat. Waktu penelitian dilakukan pada November hingga Desember 2023. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah keju mozzarella yang berbahan dasar susu sapi segar yang diasamkan menggunakan pengasam ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga), asam sitrat dan enzim renet. Metode penelitian adalah percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan konsentrasi ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) yang berbeda adalah P0 sebagai kontrol (0%), P1 (1,5%), P2 (2%), dan P3 (2,5%) dari volume susu. Variabel yang diuji adalah rendemen, total padatan, kadar protein dan mutu organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam, apabila berbeda nyata (P<0,05) atau berbeda sangat nyata (P<0,01) maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi penambahan ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,05) terhadap rendemen, total padatan, kadar protein, aroma dan tekstur keju mozzarella. Rataan rendemen 9,76-10,40%, rataan total padatan sebesar 56,95-58,81%, kadar protein sebesar 12,37-14,25%, rataan aroma 2,88-3,38, rataan tekstur 3,10-3,35, rataan warna 3,23-3,45, dan rataan rasa 2,99-3,58.
Kesimpulan hasil penelitian adalah penambahan ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) sebagai bahan pengasam pada pembuatan keju mozzarella dengan konsentrasi penambahan ekstrak buah kemang (Mangifera kemanga) yang berbeda dapat meningkatkan rendemen, total padatan, nilai kesukaan dan menurunkan kadar protein keju. Saran dari penelitian ini adalah perlu diperhatikan estimasi waktu pada proses working maupun streching