University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Rekomendasi Pelaksanaan Pilar 4 Pengamanan Sampah Rumah Tangga dalam Mendukung Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah

    No full text
    Berdarkan Data Capaian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2022 dari Dinas Kesehatan, ditemukan terdapat dua desa yang memiliki capain terbaik dan terburuk, yakni Desa Semparu untuk desa dengan capain terbaik dan Desa Wajageseng dengan capaian terburuk dengan persentase capaian 100% dan 56,25% untuk Pilar 4 STBM Pengamanan Sampah Rumah Tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi terkait kondisi akses Pilar 4 menggunakan Analisis Skoring STBM juga kesesuain program yang terlaksana dengan pedoman menggunakan Analisis Logic Model. Selain itu, program STBM ini melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga dilakukan evaluasi terkait partisipasi masyarakat melalui analisis modal sosial melalui tiga aspek yakni tingkat partisipasi, densitas, dan sentralitas untuk melihat keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program STBM dan peran serta aktor dan penyelenggara program dalam penyebarluasan informasi menggunakan Social Network Analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwasannya Desa Semparu lebih baik dari Desa Wajageseng. Analisis Skoring STBM yang menggunakan data karakteristik pengelolaan sampah dengan 4 kriteria Desa Semparu memiliki capaian 78,1% dan 5%. Terkait kesesuain dengan Pedoman STBM, Di Desa Semparu 12 dari 12 indikator terklasifikasi sesuai sedangkan di Desa Wajageseng 11 dari 12 indiktor terklasifikasi tidak sesuai. Sedangkan pada Social Network Analysis nilai densitas dan sentralitas yang lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh peran pemerintah desa dan fasilitator juga penyebaran informasi yang lebih baik di Desa Semparu. Berdasarkan hasil analisis tersebut, kemudian disusun rekomendasi keberlanjutan program STBM Pilar 4 di Desa Semparu dan Desa Wajageseng. Rekomendasi dirumuskan berdasarkan potensi dan masalah dari masing-masing analisis yang dilakukan. Rekomendasi juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan, di mana rekomendasi yang dihasilkan sesuai dengan kondisi di desa dan dapat diimplementasikan

    Hubungan Partisipasi Rumah Tangga dalam Program Urban farming Komunitas dengan Tingkat Asupan Sayuran dan Buah-buahan pada Balita di Kota Malang.

    No full text
    Program Urban farming merupakan program yang mendorong warga perkotaan untuk memproduksi bahan pangan secara mandiri di perkarangan sekitar tempat tinggal yang terbatas. Tujuannya untuk meningkatkan ketahanan pangan, salah satunya melalui tingkat asupan sayuran dan buah-buahan yang yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara partisipasi rumah tangga dalam Program Urban farming komunitas dengan tingkat asupan sayuran dan buah-buahan pada balita di Kota Malang. Desain studi penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan studi cross-sectional. Data asupan sayuran dan buah-buahan balita dikumpulkan dengan single 24-hr recall dan diinterpretasikan dengan acuan dari Healthy Eating Index (HEI-Toddler-2020) dan Toddler Dietary Quality Index (SDQI). Kemudian, data yang didapatkan dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat asupan sayuran dan buah-buahan antara balita dari rumah tangga yang berpartisipasi di Program Urban farming komunitas dan tidak berpartisipasi. Mayoritas responden pada kedua kelompok memiliki tingkat asupan sayuran dan buah-buahan yang kurang dari rekomendasi. Rata-rata asupan harian sayur dan buah-buahan pada kelompok Urban Farming mencapai 89 ± 106 gram dan pada yang tidak berpartisipasi adalah 41,3 ± 64,3 gram. Tidak ditemukan hubungan antara partisipasi rumah tangga dalam Program Urban farming komunitas dengan tingkat asupan sayuran (Spearman, p = 0,303, r = 0,108) dan buah-buahan pada balita di Kota Malang (Spearman, p = 0,309, r = 0,107). Meskipun tidak ditemukan korelasi, tetapi tingkat asupan pada seluruh kelompok sayuran dan buah-buahah lebih tinggi pada balita di Program Urban farming, kecuali sayuran tinggi vitamin A berwarna kuning atau oranye

    New Zealand White Lepas Sapih dengan Pemberian Tepung Sludge dalam Pakan Terhadap Kecernaan Nutrisi dan Kualitas Karkas.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan Limbah Organik Unit Gas Bio (sludge) pada pakan kelinci New Zealand White dengan persentase berbeda terhadap produksi karkas dan kecernaan nutrisi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama dilaksanakan di Laboratorium Lapang Sumber Sekar Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya untuk persiapan pembuatan sludge, kemudian dilakukan pengujian proksimat sludge di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. Metode yang dilakukan pada penelitian tahap I ini adalah percobaan laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan yang terdiri dari P1: 100% sludge sapi perah, P2: 100% sludge ayam pedaging dan P3: 50% sludge sapi perah + 50% sludge ayam pedaging. Tahap kedua menggunakan metode percobaan laboratorium dan percobaan lapang yang dilaksanakan di peternakan rakyat Karangploso, Kabupaten Malang. Data yang diperoleh diolah dengan analisis sidik ragam menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri 5 perlakuan dan 3 ulangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu P0: 100% pakan basal, P1: 95% pakan basal + 5% Sludge, P2: 90% pakan basal + 10% sludge, P3: 85% pakan basal + 15% sludge dan P4: 80% pakan basal + 20% sludge. Materi penelitian ini adalah kelinci New Zealand White jantan lepas sapih umur 2 bulan sebanyak 20 ekor yang dikelompokkan dengan dua kelompok yaitu kelompok kecil (1000-1250g) dan kelompok besar (1250-1500g). Hasil penelitian tahap I menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan terhadap kandungan proksimat dalam pakan, sedangkan hasil penelitian tahap II menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) antar perlakuan terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik dan protein kasar, sedangkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) antar kelompok terhadap bobot potong, bobot karkas, bobot nonkarkas, bobot daging dan bobot tulang, perbedaan sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan terhadap bobot potong dan bobot tulang

    “Analisis Persepsi Peternak Plasma Terkait Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Bobot Panen Ayam Pedaging Di Kabupaten Pati”.

    No full text
    Ayam pedaging merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki produktivitas yang tinggi dengan pemiliharaan yang cepat yaitu 28 - 40 hari. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, populasi ayam pedaging di Jawa Tengah pada tahun 2022 tercatat sebanyak 625.111.183 ribu ekor ayam. Populasi ayam pedaging mengalami kenaikan 10,86% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu mencapai 563.855.237 ribu ekor. Dengan peningkatan tersebut membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan. Permintaan akan produk ayam pedaging mengalami peningkatan dengan permintaan bobot panen ayam berdasarkan preferensi dan kebutuhan konsumen. Permintaan tersebut menimbulkan segmentasi pasar sehingga peternak dituntut untuk meningkatkan produktivitas ayam pedaging. Produktivitas tersebut dapat ditunjang dengan beberapa faktor seperti strain yang digunakan, bobot DOC, manajemen perkandangan, manajemen kesehatan, manajemen pemberian pakan dan minum, suhu dan kelembaban lingkungan dan permintaan pasar sehingga diketahuilah faktor - faktor yang berpengaruh terhadap bobot panen ayam pedaging. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor - faktor yang berpengaruh terhadap bobot panen ayam pedaging, memberi gambaran preferensi konsumen kepada peternak dan broker mengenai bobot panen yang diinginkan konsumen serta mengetahui margin value pada rantai tataniaga penjualan daging ayam pedaging. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan mempertimbangkan permasalahan yang terdapat pada lokasi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Metode penentuan sampel menggunakan purposive sampling atau dilakukan secara sengaja dengan responden peternak ayam pedaging. Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan kuesioner skala likert yang dibagi kepada 60 peternak ayam pedaging yang ada di Kabupaten Pati. Variabel independen pada penelitian ini adalah strain yang digunakan (X1), bobot DOC (X2), manajemen perkandangan (X3), manajemen kesehatan (X4), manajemen pemberian pakan dan minum (X5), suhu dan kelembaban lingkungan (X6) dan permintaan pasar (X7) dengan variabel dependen adalah bobot panen ayam pedaging (Y). Analisis data yang dilakukan adalah menggunakan linear berganda untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dengan independen menggunakan program IBM SPSS statistik 29. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel bebas strain yang digunakan (X1), manajemen perkandangan (X3), manajemen pemberian pakan dan minum (X5) dan permintaan pasar (X7) berpengaruh sangat signifikan (P0,05) terhadap bobot panen ayam pedaging oleh peternak ayam pedaging di Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang telah dibuktikan dengan hasil uji yang dilakukan. Koefisien determinasi (R2) mempengaruhi mempengaruhi bobot panen ayam pedaging 62,9%, sedangkan sisanya sebesar 37,1% dipengaruhi oleh variabel - variabel yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Alur distirbusi penjualan ayam pedaging terbagi menjadi 3 jalur yang pertama dari peternak menuju ke broker atau perantara lalu menuju ke konsumen akhir, alur ke dua dari peternak menuju ke broker atau perantara lalu menuju ke pedagang daging mentah maupun olahan dan menuju ke konsumen akhir dan yang ketiga dari peternak menuji ke broker atau perantara menuju ke pedagang daging pasar setelah itu menuju ke pedagang daging olahan atau mentah dan menuju ke konsumen akhir. Segmentasi pasar ayam pedaging di Kabupaten Pati terbagi menjadi 4 kelompok. Saran bagi peternak adalah memperhatikan faktor - faktor yang berpengaruh terhadap bobot panen sehingga produktivitas ayam dapat optimal dan dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar, saran bagi mitra adalah memberikan sapronak dengan kualitas yang baik dan saran bagi broker dan pedagang pasar adalah menurunkan harga jual ayam pedaging

    Pengaruh Electronic Word Of Mouth Food Vlogger Terhadap Minat Berkunjung Pada Restoran Hotel Bintang 5 (Survei Pada Penonton Playlist “Bintang 5 Zonk” Akun Sosial Media Tiktok @Codebluuuu)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji serta menjelaskan pengaruh secara simultan dan parsial, antara Electronic Word of Mouth Food Vlogger Terhadap Minat Berkunjung Pada Restoran Hotel Bintang 5, bagi penonton playlist bintang 5 zonk akun sosial media tiktok @codebluuuu. Variabel independen dalam penelitian ini ialah EWOM Quality (X1), EWOM Quantity (X2), dan EWOM Credibility (X3). Sedangkan variabel dependen pada penelitian ini yakni Minat Berkunjung (Y). Jenis penelitian yang dilakukan ialah explanatory melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling dengan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang yang pernah menonton playlist ulasan bintang 5 zonk yang dibuat food vlogger tiktok @codebluuuu. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang diadopsi dari penelitian-penelitian terdahulu, dan disebarkan secara daring melalui bantuan google form. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini variabel EWOM Quality (X1), EWOM Quantity (X2), dan EWOM Credibility (X3) berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap Minat Berkunjung (Y) sebesar 60,6%. Sedangkan secara parsial EWOM Quality (X1) dan EWOM Credibility (X3) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Minat Berkunjung (Y). Namun secara parsial EWOM Quantity (X2) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Minat Berkunjung (Y). Keterbatasan dari penelitian ini, yakni hanya menguji 3 variabel EWOM terhadap minat berkunjung, yang ditinjau dari perspektif penerima pesan, yakni penonton playlist bintang 5 zonk yang dibuat food vlogger tiktok @codebluuuu. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi peneliti-peneliti selanjutnya, dikarenakan beberapa variabel lain yang mempengaruhi minat berkunjung, namun tidak digunakan dalam penelitian ini

    Analisis Kelayakan Usaha Penggemukan Domba Ekor Gemuk Dengan Penambahan Pemberian Pakan Ragi Roti Afkir Dan Vinasse

    No full text
    Ragi roti afkir merupakan ragi roti yang tidak layak dikonsumsi manusia, sering kali disebabkan karena melebihi batas waktu kadaluwarsa, yaitu lebih dari 12 bulan, atau kesalahan dalam proses produksi, terutama pada tahap pengemasan. Sedangkan vinasse adalah produk sampingan dari produksi industri ragi, alkohol, asam sitrat atau zat lain melalui fermentasi molase. Ragi roti afkir memiliki kandungan mikroba utama, khususnya jenis khamir Saccharomyces cerevisiae yang dapat diterima ternak dari berbagai golongan seperti ruminansia, ikan, dan unggas. Sedangkan vinasse mengandung sisa-sisa ragi yang membusuk dan banyak protein larut yang sebagian besar adalah nitrogen non-protein (NPN) dan mineral yang. industri roti di Indonesia berkembang pesat dengan pertumbuhan sekitar 10% per tahunnya. Namun, sekitar 25% dari produksinya tidak dapat terjual atau terbuang. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengelola limbah agar tidak terbuang sia-sia dan tidak mencemari lingkungan salah satunya diolah menjadi pakan tambahan ternak. Usaha Penggemukan Domba Ekor Gemuk merupakan bentuk usaha peternakan ruminansia kecil dengan kebutuhan modal yang lebih terjangkau dibandingkan dengan penggemukan ternak ruminansia besar. Domba Ekor Gemuk (DEG) memiliki karakteristik fisik yang mencolok, seperti ekor yang gemuk, berwarna putih, tidak bertanduk, berbulu kasar, dan dapat beradaptasi pada iklim kering. Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan dalam usaha penggemukan domba ekor gemuk mencakup manajemen pemeliharaan yang efisien, ketersediaan pakan, dan biaya perawatan yang terjangkau. Keterbatasan hijauan selama musim kemarau menjadi salah satu tantangan dalam usaha penggemukan domba, sehingga diperlukan pakan alternatif untuk memenuhi kebutuhan ternak. Salah satu opsi pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah Ragi Roti Afkir dan Vinasse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model agribisnis,laba/rugi, dan kelayakan usaha penggemukan domba ekor gemuk melalui penambahan pakan berupa ragi roti afkir dan vinasse. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Sumber Sekar, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dimulai dari November 2022 hingga Februari 2023. Sampel penelitian terdiri dari 30 ekor domba ekor gemuk, di mana 15 ekor diberikan pakan ragi roti afkir dan 15 ekor diberikan vinasse. Bibit bakalan diperoleh dari Kota Probolinggo dengan harga Rp.70.000 per kilogram melalui metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara langsung kepada penjual, peneliti, dan pembeli, kemudian data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model agribisnis merupakan suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mulai mata rantai produksi, pengolahan dan pemasaran hasil yang ada hubungannya dengan komoditi pertanian yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan.Selain itu, penambahan pakan ragi roti afkir dan vinasse dalam pakan konsentrat domba ekor gemuk layak untuk dikembangkan, karena ratarata nilai R/C dalam masing-masing perlakuan yang didapatkan lebih dari 1. Nilai R/C terbesar diperoleh dari perlakuan P4 ragi roti afkir dengan total 1,22. serta BEP Harga sebesar Rp70.000/ Kg. Sementara BEP harga yang didapatkan sebesar Rp.70.000 dan BEP produksi yang didapatkan dalam masing-masing perlakuan rata-rata lebih kecil dari jumlah produksi. sehingga usaha penggemukan dalam penelitian ini mengalami keuntungan terutama pada perlakuan P4 ragi roti afkir dengan keuntungan paling besar yaitu Rp.880.62, dibandingkan dengan penambahan vinasse dan perlakuan lain yang keuntungannya lebih kecil. Saran dari penelitian ini penambahan pakan ragi roti afkir dan vinasse tidak berpengaruh dalam menekan biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dikarenakan biaya terbesar didapatkan dari biaya perolehan bibit bakalan yang berkontribusi sebesar 72,7%. Sehingga peternak disarankan untuk mendapatkan bibit domba unggul dengan harga yang relative murah dan terjangkau untuk menekan biaya produksi serta mendapatkan keuntungan yang lebih besar

    Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap pH, Sineresis, Kadar Protein dan Lemak Yogurt Ekstrak Buah Kurma (Phoenix dactylifera L.)

    No full text
    Susu merupakan bahan makanan yang bergizi sempurna, mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Susu mengandung air sekitar 87,5% dengan komposisi gula susu berkisar 5%, lemak 3-4% dan protein 3,5%. Susu segar mudah mengalami kerusakan, maka hal ini dapat diatasi dengan melakukan pengolahan dengan cara fermentasi. Salah satu makanan hasil fermentasi adalah yogurt. Yogurt merupakan minuman probiotik hasil fermentasi yang berbahan dasar susu dengan rasa asam dan aroma yang khas. Lama fermentasi akan berpengaruh terhadap perubahan sifat fisik, kimia dan mikrobiologi yogurt. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap pH, sineresis, kadar protein dan lemak yogurt dengan penambahan ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) sebagai pemanis dan penstabil. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2023 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang dan Laboratorium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan,Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Materi penelitian yang digunakan yaitu yogurt susu sapi dengan penambahan ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) dengan perbedaan lama fermentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan, yaitu P1 (lama fermentasi 16 jam), P2 (lama fermentasi 24 jam), P3 (lama fermentasi 48 jam) dan P4 (lama fermentasi 72 jam). Variabel yang diuji yaitu pH, sineresis, kadar protein dan kadar lemak. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA), jika hasil analisis menunjukkan perbedaan yang nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap pH, sineresis dan kadar protein yogurt ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.), namun tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kadar lemak. Nilai rataan pH yogurt ekstrak buah kurma dengan lama fermentasi yang berbeda berkisar antara 3,85 sampai 4,19. Hasil rataan sineresis yogurt ekstrak buah kurma dengan lama fermentasi yang berbeda berkisar antara 64,54% sampai 74,68%. Hasil rataan kadar protein yogurt ekstrak buah kurma dengan lama fermentasi yang berbeda berkisar antara 9,05% sampai 17,9%, sedangkan nilai rataan kadar lemak yogurt ekstrak buah kurma dengan lama fermentasi yang berbeda berkisar antara 3,32% sampai 3,79%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa lama fermentasi yang berbeda pada yogurt ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) berpengaruh terhadap penurunan nilai pH, sineresis, kadar lemak dan meningkatkan kadar protein. Lama fermentasi 72 jam menghasilkan yogurt kualitas terbaik dengan nilai pH 3,85, sineresis 64,54%, kadar protein 17,9% dan kadar lemak 3,32%. Berdasarkan penelitian lama fermentasi yogurt ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) direkomendasikan maksimal 72 jam agar tetap memenuhi kualitas dan sebaiknya diamati masa simpannya

    Optimasi Green Inventory Routing Problem pada Distribusi Produk Menggunakan Metode Kombinasi Genetic Algorithm dan Tabu Search.

    No full text
    Kegiatan logistik meliputi aktivitas transportasi dan distribusi produk. Transportasi merupakan salah satu kontributor utama terjadinya peningkatan emisi gas karbon dioksida (CO2) akibat dari pembakaran bahan bakar fosil. Oleh karena itu, saat ini para stakeholder mendorong perusahaan untuk memperhatikan aspek lingkungan ke dalam operasi bisnisnya. Green Inventory Routing Problem (GIRP) adalah masalah optimasi yang mengintegrasikan antara manajemen transportasi (perutean kendaraan) dan manajemen persediaan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Salah satu metode untuk menyelesaikan masalah GIRP yaitu menggunakan algoritma kombinasi antara genetic algorithm dan tabu search (GA-TS). Penggabungan kedua algoritma tersebut akan merubah kemampuan algoritma dasar dan menghasilkan solusi yang Iebih berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah GIRP yang mempertimbangkan tingkat konsumsi bahan bakar menggunakan algoritma GA-TS. Terdapat beberapa analisa yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu analisis sensitivitas parameter algoritma GA-TS, analisis sensitivitas variabel terhadap total biaya distribusi dan konsumsi bahan bakar, dan evaluasi kinerja algoritma GA-TS. Hasil dari analisis sensitivitas parameter adalah set parameter terbaik untuk memperoleh solusi terbaik dengan algoritma GA-TS. Set parameter terbaik untuk dataset 10 pelanggan adalah ukuran populasi 40, jumlah generasi 60, kombinasi crossover rate (cr) : mutation rate (mr) 0,5:0,5, dan panjang tabu list 10, sedangkan set parameter terbaik untuk dataset 15 pelanggan adalah ukuran populasi 100, jumlah generasi 100, kombinasi crzmr 0,6:0,4, dan panjang tabu list 4. Pada dataset 25 pelanggan, set parameter terbaik adalah ukuran populasi 60, jumlah generasi 90, kombinasi crzmr 0,6:0,4, dan panjang tabu list 12. Selanjutnya, hasil analisis sensitivitas variabel menunjukkan bahwa perubahan harga bahan bakar dan kapasitas kendaraan mempengaruhi total biaya distribusi. Sementara itu, kinerja algoritma GA-TS berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan bahwa algoritma GA-TS mampu memperoleh total biaya distribusi yang Iebih rendah dan waktu komputasi yang relatif Iebih efisien dibandingkan dengan algoritma GA dasar dan TS dasar. Algoritma GA-TS mampu menghemat biaya sebesar 3,63% dibandingkan dengan algoritma GA dasar dan 2,45% dibandingkan dengan algoritma TS dasar. Namun, algoritma GA-TS tidak selalu menghasilkan tingkat emisi CO2 yang Iebih rendah dibandingkan algoritma keduanya. Tingkat emisi CO; yang dihasilkan algoritma GA-TS Iebih tinggi 2,18% dibandingkan algoritma GA dasar, tetapi Iebih rendah 9,58% dibandingkan algoritma TS dasar. Seiain itu, nilai relative errorpercentage (REP) dan cost ratio (CR) menunjukkan bahwa algoritma GA-TS Iebih efektif dan kompetitif dalam menyelesaikan masalah GIRP dibanding algoritma GA dasar dan TS dasa

    Komparasi Nilai Total Eritrosit dan Kadar Hemoglobin dan Indeks Eritrosit pada Darah Iguana Hijau (Iguana iguna) Yang Dipengaruhi Durasi Penyimpanan

    No full text
    Beberapa uji hematologi seperti, perhitungan total eritrosit, kadar hemoglobin dan indeks eritrosit dapat digunakan untuk menilai kondisi pasien. Faktor kesalahan seperti, pengananan sampel, pengangkutan, suhu penyimpanan, pemrosesan yang tertunda dan durasi penyimpanan dapat merubah kualitas hasil uji hematologi Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pada total eritrosit, kadar hemoglobin dan indeks eritrosit pada spesimen darah Iguana hijau (Iguana iguana) yang dipengaruhi durasi penyimpanan pada suhu lemari pendingin (4oC) selama 96 jam. Spesimen darah dikoleksi dari 19 ekor Iguana hijau dewasa yang disimpan di dalam tabung lithium heparin. Pemeriksaan hematologi dilakukan segera setelah koleksi sampel untuk mendapatkan nilai dasar dan dilakukan pemeriksaan 24 jam sekali selama 96 jam. Hasil perhitungan total eritrosit pada jam ke-0 (kontrol) sebesar 1,0±0,4 x 106 sel/μL; jam ke-24, 0,8±0,5 x 106 sel/μL; jam ke-48, 0,7±0,3 x106 sel/μL; jam ke-72, 0,6±0,4 x 106 sel/μL; jam ke-96, 0,4±0,3 x 106 sel/μL. Penurunan signifikan (p<0,05) terjadi pada perhitungan total eritrosit jam ke-72 dan jam ke-96. Hasil perhitungan kadar hemoglobin pada jam ke-0 (kontrol) ; 10,5±2,5 g/dL; jam ke-24, 10,4 ± 2,7 g/dL; jam ke-48, 9,9 ± 2,2; jam ke-72, 9,6±3,8 g/dL; jam ke-96 8,8±3,0 g/dL. Penurunan terjadi dari jam-0 hingga jam ke-96 namun tidak secara signifikan (p>0,05). Hasil perhitungan MCV pada jam ke-0 (kontrol) 565±334 fL; jam ke-24, 677±448 fL; jam ke-48, 785±867 fL, jam ke-72, 493±428 fL; jam ke-96, 1194±3420. Pada nilai MCV tidak terjadi penurunan. Hasil perhitungan nilai MCH pada jam ke-0 (kontrol), 130±61 pg; jam ke-24, 163±86 pg; jam ke-48, 197±166 pg, jam ke-72, 279±305 pg, jam ke-96, 1020±1442 pg. Terjadi kenaikan pada nilai MCH. Hasil perhitungan nilai MCHC pada jam ke-0 (kontrol) 25,4±7,0 g/dL; jam ke-24, 26,5±10,0 g/dL; jam ke-48, 25,6±9,3 g/dL; jam ke-72, 23,4±19,0 g/dL; jam ke-96, 19,8±17,5 g/dL. Pada nilai MCHC tidak terjadi penurunan secara signifikan pada jam ke-0 hingga jam ke-96. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya perbedaan berupa penurunan nilai total eritrosit dan nilai Hb namun tidak terjadi penurunan pada nilai indeks eritrosit, yang dipengaruhi oleh durasi penyimpanan

    Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Protozoa Gastrointestinal Pada Sapi Perah Peranakan Friesian Holstein Di Kota Batu

    No full text
    Infeksi endoparasit dapat menimbulkan kerugian ekonomi seperti penurunan produksi susu, penurunan produktifitas sapi, dan bahkan dapat menyebabkan kematian ternak. Salah satu infeksi endoparasit ialah infeksi protozoa GIT. Infeksi protozoa GIT yang sering terjadi yaitu Eimeria sp, Balantidium sp, dan Giardia sp yang dapat berkembang dalam saluran pencernaan dan dapat berdampak negatif seperti diare, tenesmus, disentri ataupun kenaikan suhu tubuh dan tidak jarang pula terjadi kematian bagi kesehatan sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi jenis protozoa GIT pada sapi perah peranakan FH yang dapat diidentifikasi di Kota Batu, tingkat prevalensi infeksi protozoa GIT pada sapi perah peranakan FH di Kota Batu, serta mengetahui hubungan faktor risiko infeksi protozoa GIT dengan kondisi umur, jenis kelamin, dan jumlah sapi dalam satu kandang. Metode penelitian ini bersifat cross sectional study dengan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara perektal dengan jumlah 400 sampel feses sapi perah peranakan FH. Pengamatan sampel feses dilakukan menggunakan Mikroskop dengan perbesaran 100x dan 400x dengan metode kualitatif berupa natif, sedimentasi, dan apung. Pada metode kuantitatif menggunakan McMaster dan sporulasi yang bertujuan untuk mengetahui derajat infeksi dari protozoa. Dilakukan identifikasi dengan bantuan Optilab Advanced Plus Camera dan aplikasi ImageJ® untuk mengidentifikasi morfologi protozoa. Analisis data dan hasil observasi kandang dilakukan dengan aplikasi Statistical Package for the Social Science (SPSS) dengan uji Chi-square yang dilanjutkan dengan uji likelihood-Ratio. Hasil dari penelitian terdapat prevalensi protozoa GIT pada sapi perah peranakan FH di Kota Batu yaitu Eimeria sp (5%) dengan kategori rendah. Tingkat prevalensi protozoa GIT memiliki hubungan signifikan terhadap faktor risiko berupa umur dan jumlah sapi dalam satu kandang Pvalue < 0,05. Sedangkan yang tidak berhubungan secara signifikan Pvalue > 0,05 terhadap faktor risiko berupa jenis kelamin. Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut dalam menganalisa faktor kejadian yang dapat menjadi penyebab persebaran protozoa GIT pada sapi perah peranakan FH di Kota Batu

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇