University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Perbedaan Ekspresi Biomarker Protein Zinc Finger Pada Kejadian Sumbing Bibir dan Langit-langit di NTT dan non-NTT di Indonesia

    No full text
    Latar Belakang : Angka kejadian Cleft Lip and Palate (CL/P) di dunia adalah 1 dari 700 kelahiran dan diperkirakan terdapat 3200 angka kejadian per tahunnya, diikuti dengan jumlah pertumbuhan populasi di dunia yang semakin meningkat. Nusa Tenggara Timur merupakan daerah endemic kejadian CL/P di Indonesia. Faktor lingkungan dan genetic terlibat dalam proses melokular embriogenesis CL/P. Faktor lingkungan yang berpengaruh diantaranya adalah geografi, riwayat keluarga, tradisi, dan malnutrisi selama masa kehamilan. Faktor genetik yang ditemukan adalah pautan gen atau segregasi lokus pada protein yang berfungsi dalam proses embriologi. GLIoma Associated Oncogene Family Zinc Finger 2 (GLI2) terlibat dalam migrasi dan deferensiasi sel neural crest. Penurunan ekspresi gen GLI2 yang merupakan superfamili Zinc Finger mempengaruhi kejadian CL/P. Ekspresi gen tersebut menjadi fokus penulis dalam melatar belakangi penelitian ini. Variasi ekspresi gen menjadi penentu bagaimana terjadinya kondisi CL/P.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan ekspresi gen pada kejadian CL/P di Nusa Tenggara Timur dengan daerah lainnya di Indonesia dan potensinya sebagai letak intervensi pada prevensi kejadian CL/P. Berdasarkan dari distribusi data ditemukan fold change <3 (dibawah normal) menandakan terdapat penerunan kadar protein Zinc Finger pada NTT dan non-NTT. Pada hasil studi didapatkan uji Kruskal-Wallis p = 0,199 (p>0,05) maka tidak didapatkan perbedaan ekspresi protein Zinc Finger pada kedua wilayah

    Hubungan Vitamin D dengan Osteoporosis pada Pasien Hiperplasia Adrenal Kongenital Anak.

    No full text
    Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) merupakan kelainan autosomal resesif yang mengakibatkan defisiensi enzim untuk biosintesis kortisol di adrenal. Akibatnya, produksi kortisol oleh kelenjar adrenal menurun dan dapat disertai peningkatan hormon androgen. Untuk mengatasi hal tersebut, pasien HAK perlu mendapat terapi penggantian kortisol dengan steroid seumur hidup. Namun, penggunaan steroid jangka panjang dikhawatirkan memiliki efek samping, salah satunya osteoporosis. Selain itu, berdasarkan data epidemiologi vitamin D, anak di Indonesia memiliki kerentanan defisiensi vitamin D yang dapat memperparah risiko terjadinya osteoporosis. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara vitamin D dengan osteoporosis yang dilihat dari nilai z-score Bone Minerdal Densitometry (BMD), agar dapat menjadi pertimbangan terapi dan pencegahan osteoporosis pada pasien HAK anak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan metode pengambilan data cross sectional dari rekam medis 12 pasien HAK anak di RSUD dr. Saiful Anwar Malang dengan retang usia 6-12 tahun. Variabel yang diteliti mengukur kadar 25(OH) serum dan z-score BMD pada pasien HAK Anak. Analisis menggunakan uji korelasi spearman. Penelitian sudah lulus uji kelayakan etik yang dikeluarkan oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Hasil yang didapatkan adalah adanya korelasi yang signifikan antara vitamin D dengan osteoporosis yang dilihat dari nilai BMD pada pasien HAK anak dengan koefisien korelasi P-value <0,05 dan koefisien korelasi 0,991. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vitamin D berkorelasi positif signifikan dengan osteoporosis dilihat dari nilai BMD pasien HAK anak

    Pengaruh Kombinasi Latihan Fisik dan Pemberian Diet Hipokalori Terhadap Steatosis Pankreas dan Kadar Oxidized Low-Density Lipoprotein (Ox-LDL) pada Tikus Model Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)

    No full text
    Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) diakui sebagai gangguan pada hati yang paling umum terjadi dan dapat meningkatkan mortalitas. Peningkatan fluks free fatty acid (FFA) pada NAFLD dapat menyebabkan terjadinya akumulasi lemak pada pankreas yang mengarah kepada steatosis pankreas. FFA yang meningkat juga menyebabkan stres oksidatif sehingga menghasilkan oxidized low�density lipoprotein (Ox-LDL). Penatalaksanaan yang dianjurkan untuk NAFLD adalah modifikasi gaya hidup seperti latihan fisik dan diet hipokalori. Oleh karena itu, penelitian ini mempunyai tujuan membuktikan pengaruh kombinasi latihan fisik dan diet hipokalori terhadap persentase steatosis pankreas dan kadar Ox-LDL pada tikus model NAFLD. Penelitian ini bersifat true experimental study dengan metode post test only group design menggunakan bahan biologis tersimpan (BBT) berupa jaringan pankreas dan data sekunder kadar Ox-LDL dari penelitian sebelumnya. Keseluruhan sampel terbagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok pemberian diet normal (KDN), kelompok pemberian diet penginduksi NAFLD atau kelompok western diet (KWD), dan kelompok kombinasi latihan fisik dan diet hipokalori atau kelompok exercise diet (KED). Pola analisis data yang diaplikasikan adalah uji normalitas Saphiro-Wilk, selanjutnya uji One-Way ANOVA apabila terbukti normalitas, dan hasil uji yang tidak memperlihatkan normalitas menggunakan uji Kruskal-Wallis. Berdasarkan hasil penelitian pada keseluruhan kelompok perlakuan, perbandingan KDN dan KWD, serta perbandingan KED dan KWD ditemukan adanya perbedaan yang signifikan pada kedua variabel. Selain itu terlihat adanya penurunan baik persentase steatosis pankreas maupun kadar Ox-LDL pada tikus yang diberi kombinasi latihan fisik dan diet hipokalori (KED) dibandingkan tanpa kombinasi latihan fisik dan diet hipokalori (KWD) mendekati diet norma

    Analisis Pengaruh Media Sosial terhadap Minat Kunjungan ke Program Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya

    No full text
    Perkembangan teknologi informasi di Indonesia telah berada pada tingkat yang cukup pesat. Dengan kondisi ini, perlu adanya pemanfaatan media sosial yang maksimal dalam mencapai tujuan tertentu yang bersifat positif, misalnya mempromosikan program-program masjid. Salah satu masjid yang telah memanfaatkan media sosial dalam mempromosikan program-programnya adalah Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari beberapa variabel media sosial terhadap minat kunjungan ke program masjid, dengan mengambil studi kasus pada Masjid Raden Patah, yang merupakan masjid kampus utama dari Universitas Brawijaya. Penelitian ini menerapkan metode survei dengan melibatkan para jamaah program Masjid Raden Patah yang sudah pernah berkunjung ke salah satu program masjid ini minimal sebanyak dua kali, dengan menerapkan teknik purposive sampling dan ukuran minimal sampel sebesar 100 data. Proses pengumpulan data berhasil dilakukan dengan melibatkan 109 responden, yang memiliki rentang usia 18–23 tahun. Proses analisis data menerapkan metode generalized linear model dengan memanfaatkan aplikasi desktop RStudio. Hasil proses analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Kualitas Konten dan Kualitas Desain dari media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap Minat Kunjungan ke program Masjid Raden Patah. Namun, variabel Kualitas Informasi dari media sosial tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Minat Kunjungan ke program Masjid Raden Patah. Hasil studi ini dapat mengembangkan topik bahasan penelitian baru yang melibatkan pengaruh media sosial terhadap minat kunjungan, tetapi secara spesifik pada objek masjid

    Pemetaan Preferensi Bahan Pangan Sumber Protein Pilihan Di Kalangan Mahasiswa Universitas Brawijaya Berdasarkan Tingkat Pengetahuan dan Status Ekonomi.

    No full text
    Pertumbuhan populasi yang cepat mengakibatkan peningkatan permintaan pangan di masa depan. Ketersediaan pangan, terutama protein, menjadi krusial. Peningkatan produksi protein bisa meningkatkan ketersediaan pangan dan nutrisi, juga mendorong diversifikasi makanan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber protein tunggal. Namun, peningkatan produksi protein, terutama dari sumber hewani seperti peternakan besar, memiliki dampak negatif seperti peningkatan gas rumah kaca, pencemaran air, dan masalah limbah peternakan. Untuk mengatasi ini, peneliti mengembangkan sumber bahan pangan protein yang berkelanjutan. Dalam mengembangkan sumber bahan pangan protein, pemahaman terhadap preferensi konsumen terhadap produk pangan sumber protein sangat penting, karena preferensi konsumen mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi mahasiswa terhadap sumber bahan pangan protein dan mengetahui perbedaan preferensi konsumen berdasarkan bidang life science, status ekonomi dan tingkat pengetahuan menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi mahasiswa terhadap sumber protein menunjukkan bahwa bahan pangan protein nabati seperti tahu dan tempe dapat bersubstitusi dan dapat berkompetitif dengan bahan pangan protein hewani seperti daging ayam. Perbedaan preferensi juga terlihat berdasarkan bidang life science dan tingkat pengetahuan, menunjukkan perbedaan persepsi terhadap sumber protein. Perbedaan ini terjadi dikarenakan persepsi mahasiswa terhadap bahan pangan sumber protein juga membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin beragam pemilihan sumber bahan pangan dan sadar akan lingkungan sekitar. Namun demikian, dalam analisis preferensi berdasarkan ekonomi, tidak terlihat perbedaan signifikan dalam pemilihan bahan pangan protein antara status ekonomi tinggi dan rendah. Hal ini dikarenakan terdapat faktor-faktor lain yan mempengaruhi pemilihan pembelian

    Pengaruh Terapi Kombinasi Paclitaxel dan Ekstrak Daun Tectona grandis Terhadap Ekspresi Mucin 1 dan Proliferasi Sel Triple Negative Breast Cancer.

    No full text
    Kanker payudara adalah keganasan tersering baik di Indonesia maupun di dunia dan sekitar 15-20% dari kasus kanker payudara merupakan jenis Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Kanker TNBC memiliki prognosis terburuk dan tidak responsif terhadap terapi endokrin. Kemoterapi merupakan pilihan terapi utama, salah satunya adalah paclitaxel. Paclitaxel, sebagai agen antimitosis, menghentikan mitosis dengan mengikat tubulin dan mencegah depolimerisasi tubulin. Paclitaxel mempengaruhi sel normal di samping sel kanker sehingga menimbulkan efek samping yang tidak nyaman bagi pasien. Oleh karena itu, studi ini meneliti protein Mucin 1 (MUC1) yang terekspresi hampir 90% pada sel TNBC sebagai target terapi yang potensial. Protein MUC1 berperan dalam berbagai jenis jalur proliferasi sel dan bekerja pada target yang berbeda dengan paclitaxel. Ekstrak daun Tectona grandis mengandung beberapa kandungan bioaktif, termasuk quercetin yang terbukti menghambat proliferasi sel TNBC dengan menekan ekspresi MUC1. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun T. grandis dalam menurunkan proliferasi sel TNBC melalui jalur sinyal MUC1. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun T. grandis yang dikombinasikan dengan paclitaxel dalam menurunkan ekspresi MUC1 dan proliferasi sel pada sel TNBC. Studi ini merupakan studi in vitro dengan desain studi post-test only randomized control group design. Sel MDA-MB-231 digunakan sebagai representasi sel TNBC. Kelompok sel diklasifikasikan dalam enam kelompok, yaitu kelompok Kontrol Negatif (KN), kelompok paclitaxel 10 μg/mL atau Kontrol Terapi Standar (KTS), kelompok kombinasi paclitaxel 5 μg/mL (PAC) dan ekstrak daun T. grandis 7.5 mg/mL, kombinasi PAC dan ekstrak daun T. grandis 15 mg/mL, kombinasi PAC dan ekstrak daun T. grandis 30 mg/mL, dan ekstrak tunggal daun T. grandis 60 mg/mL. Penelitian ini dilakukan dalam lima tahapan utama, yaitu tahap ekstraksi daun T. grandis, kultur sel, intervensi, pengamatan ekspresi MUC1 dengan metode indirect immunofluorescence (IF), dan pengamatan aktivitas proliferasi sel dengan metode 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT). Data hasil penelitian berupa data kualitatif (ekspresi MUC1 di bawah mikroskop fluorescence) yang dikonversi menjadi data kuantitatif menggunakan software ImageJ dan data kuantitatif (persentase viabilitas sel dari hasil uji MTT). Semua data kuantitatif kemudian dianalisis dengan uji normalitas Saphiro Wilk, uji homogenitas, uji one-way Analysis of Variance (ANOVA) atau Kruskal Wallis, dan uji korelasi Pearson

    Hubungan Terapi Steroid dengan Kualitas Hidup pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES) Anak.

    No full text
    Peningkatan angka kesintasan pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES) di Indonesia berkaitan dengan faktor risiko dan tatalaksana yang diberikan. Steroid sebagai terapi utama pada pasien LES dinilai mampu memunculkan remisi meskipun sering diikuti dengan efek samping yang tidak diinginkan. Pasien LES anak lebih rentan mengalami efek samping sehingga cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih rendah. Pemantauan pengobatan yang diberikan serta kualitas hidup secara berkala pada pasien LES anak merupakan hal yang penting untuk mewaspadai timbulnya potensi gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara terapi steroid dengan kualitas hidup pada pasien LES anak. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan pada 30 pasien LES di poliklinik anak RSUD Dr. Saiful Anwar Malang yang dipilih berdasarkan metode consecutive sampling. Kuesioner PedsQL-GC digunakan untuk menilai kualitas hidup. Hasil analisis korelasi Spearman-Rank menemukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara dosis kumulatif (p = 0.541; p > 0.05) dan durasi total terapi steroid (p = 0.414; p > 0.05) dengan kualitas hidup pada pasien LES anak. Korelasi sangat lemah dengan arah negatif ditemukan pada hubungan antara dosis kumulatif dengan kualitas hidup (r = -0.116), sedangkan durasi total terapi steroid menunjukkan arah yang sebaliknya (r = 0.155). Analisis regresi linear berganda pada seluruh variabel yang diasumsikan sebagai prediktor kualitas hidup secara simultan menunjukkan pengaruh yang signifikan (p = 0.010; p 0.05). Dapat disimpulkan bahwa peningkatan dosis kumulatif steroid cenderung menurunkan kualitas hidup, sedangkan peningkatan durasi total terapi steroid cenderung meningkatkan kualitas hidup

    Formulasi dan Granulasi Pupuk Hayati Mikoriza Arbuskula (Glomus sp.) Dengan Menggunakan Bahan Pembawa Pupuk Kompos FP UB dan Pupuk Kandang Sapi.

    No full text
    Pupuk hayati adalah mikrobia yang diberikan ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Pupuk hayati memiliki unsur hara yang mampu menyediakan unsur hara pada tanah, sebagai bahan pembenah tanah, kapasitas penahanan air, tingkat perembesan air dalam tanah, dan kepadatan pori-pori tanah. Pupuk hayati yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah salah satunya adalah pupuk hayati mikoriza. Mikoriza memiliki banyak manfaat yaitu dapat meningkatkan unsur hara yang terdapat dalam tanaman inang dan meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan serta penyakit yang menyerang tanaman inang. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh formulasi bahan pembawa pupuk hayati terhadap sifat biologi, fisik, kimia pupuk granul tertinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan pupuk kompos UB (S) dan pupuk kandang sapi (K) sebagai faktor perlakuan. Faktor 1 yaitu pupuk kompos UB dan faktor 2 yaitu pupuk kandang sapi. Bobot pupuk kompos UB yang digunakan dalam penelitian ini yaitu S1 = 400g, S2 = 600g, dan S3 = 800g. Bobot pupuk kandang sapi yang digunakan yaitu K1 = 400g, K2 = 600g, dan K3 = 800g. Terdapat 9 kombinasi yang diulang sebanyak 3 kali. Bobot mikoriza arbuskula (MA) yang digunakan dalam formulasi sama yaitu sebanyak 200g (87 spora) untuk semua perlakuan. Parameter uji meliputi: sifat biologi yaitu viabilitas spora mikoriza dan infeksi akar, sifat fisik pupuk hayati (persentase granul Ø 2-5 mm, berat jenis, waktu dispersi, dan kadar air), dan sifat kimia pupuk hayati (C-organik, N, P, K, C/N rasio, potensi muatan negatif dan pH). Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS menghasilkan analisis ragam (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk kompos UB dan pupuk kandang sapi. Pada hasil analisis yang menunjukan pengaruh nyata maka dilakukan uji antar perlakuan BNJ (5%). Kemudian untuk mengetahui keeratan antar parameter dilakukan uji korelasi dan untuk mengetahui pengaruh antar variabel dilakukan uji regresi. Berdasarkan hasil analisis sifat biologi, sifat fisik, dan sifat kimia pupuk, formulasi S1K1, S2K3, dan S1K3 merupakan formulasi yang menunjukan pengaruh nyata terhadap sifat pupuk. Kombinasi 400 g pupuk kompos UB dan 400 g pupuk kandang sapi menghasilkan sifat biologi pupuk tertinggi, tetapi tidak berpengaruh nyata dalam menghasilkan viabilitas spora mikoriza sebesar 78,67 % dan infeksi akar 73,33 %. Kombinasi 600 g pupuk kompos UB dan 800 g pupuk kandang sapi berpengaruh nyata dalam menghasilkan sifat fisik pupuk tertinggi. Kombinasi 400 g pupuk kompos UB dan 800 g pupuk kandang sapi berpengaruh nyata dalam menghasilkan sifat kimia pupuk tertinggi

    Respon Setiap Fase Pertumbuhan Tanaman Ercis (Pisum sativum L.) Terhadap Kondisi Variasi Cuaca di Dataran Menengah.

    No full text
    Tanaman ercis (Pisum sativum L.) atau sering disebut dengan kacang kapri merupakan jenis kacang-kacangan yang sering dikonsumsi sebagai sayur. Tanaman ercis bukan hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga terkenal dan banyak dibudidayakan oleh beberapa negara seperti Rusia, China, Kanada, India, Amerika Serikat dan Perancis. Produksi ercis di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Penanaman ercis di dataran menengah dilakukan untuk meningkatkan produksi ercis. Produksi ercis erat kaitannya dengan kegiatan budidaya yang dilakukan petani. Usaha peningkatan produksi ercis dapat dimulai dengan memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat budidaya. Fase-fase pertumbuhan tanaman tidak terlepas dari faktor lingkungannya. Tujuan penelitian untuk mempelajari pengaruh variabel cuaca terhadap setiap fase pertumbuhan tanaman ercis di dataran menengah. Hipotesis penelitian yaitu kondisi variabel cuaca berpengaruh terhadap setiap fase pertumbuhan tanaman ercis di dataran menengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2023. Lokasi penelitian bertempat di Jalan Pringgandani, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Alat yang digunakan selama penelitian yaitu lux meter dan logger. Bahan penelitian yaitu 80 aksesi lokal. Aksesi lokal yang digunakan berasal dari daerah Semarang, Karo, Garut, Temanggung, Boyolali, Batu, dan Probolinggo. Data cuaca meliputi data suhu udara, kelembapan udara, curah hujan dan intensitas sinar matahari. Rancangan percobaan penelitian yaitu menggunakan augmented design II. Penanaman tanaman ercis tanpa ulangan. Genotipe yang digunakan terdiri atas 80 aksesi lokal. Lahan percobaan dibagi menjadi 4 blok dengan masing — masing blok terdapat 20 aksesi lokal. Pengamatan dianalisis menggunakan kode BBCH (Biologische Bundesansalt Bundessortenanmt und Chemische Industrie). Analisis data yang digunakan yaitu analisis nilai ratarata, median dan uji korelasi variabel cuaca dengan fase pertumbuhan tanaman ercis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan suhu udara akan menghambat fase muncul daun dan fase muncul batang tanaman ercis. Peningkatan suhu udara akan mempercepat fase muncul bunga pada tanaman ercis. Peningkatan kelembapan udara akan mempercepat fase perkecambahan, fase muncul daun dan fase muncul batang pada tanaman ercis. Peningkatan intensitas cahaya matahari akan mempercepat fase perkecambahan tanaman ercis. Peningkatan intensitas cahaya matahari akan memperlambat fase muncul daun, fase muncul batang dan fase polong matang tanaman ercis

    Fenologi Perkembangan Bunga dan Polong Ercis (Pisum sativum L.) untuk Penentuan Waktu Panen.

    No full text
    Ercis (Pisum sativum L.) merupakan tanaman penghasil polong yang termasuk ke dalam famili legum dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Polong ercis memiliki kandungan nutrisi yang tinggi yaitu 17–22 gr karbohidrat, 20-50 gr pati, 14-26 gr serat, 6,2- 6,5 gr protein, 0,4 gr lemak, 9-10 mg kalsium, 97 - 99 mg kalium per 100 gr dan kandungan vitamin B1, B2, dan B9. Namun, produksi ercis di Indonesia masih rendah yang ditandai dengan peningkatan nilai impor ercis yang terus meningkat. Produksi ercis yang masih rendah dapat disebabkan oleh praktik manajemen yang belum tepat salah satunya dalam penentuan waktu panen. Penentuan waktu panen polong dapat dilakukan dengan mengamati fenologi perkembangan bunga dan polong ercis. Pengamatan fenologi perkembangan ercis dikombinasikan dengan pengukuran kuantitatif yaitu dengan mengamati perubahan ukuran polong agar dapat ditentukan waktu panen yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan bunga dan polong ercis sebagai dasar informasi dalam menentukan waktu panen polong. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret- Mei 2023 yang berlokasi di Jl. Pringgandani, Kelurahan Tlogomas, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan 80 aksesi ercis lokal yang berasal dari koleksi pribadi Dr. Budi Waluyo, S.P.,M.P. dari Karo, Semarang, Batu, Garut, Temanggung, Boyolali, dan Probolinggo dan 2 varietas komersial ercis yaitu Taichung, dan Berastagi. Penanaman ercis di lahan menggunakan rancangan Augmented Design II . Lahan penelitian dibagi menjadi 4 blok, dimana setiap blok diisi dengan 20 aksesi dan 2 varietas cek ditanam di setiap blok sehingga terdapat 82 satuan percobaan. Pengamatan meliputi perkembangan bunga dan perkembangan polong. Analisis data menggunakan statistika deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata dan simpangan baku/standar deviasi. Selanjutnya hasil analisis data disajikan dalam bentuk grafik boxplot dan garis yang ditujukan untuk menggambarkan pola perkembangan bunga dan polong setiap genotipe ercis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola perkembangan bunga beragam pada setiap aksesi yang dipengaruhi oleh genetik tanaman yang ditinjau berdasarkan pengamatan terhadap awal muncul kuncup bunga, umur bunga mekar, perilaku waktu bunga mekar, bunga 50%, dan umur akhir pembungaan. Perkembangan polong memiliki pola yang sama tetapi perilaku berbeda yang ditinjau berdasarkan awal muncul polong dan ukuran polong. Penentuan panen polong hijau dilakukan ketika lebar dan tebal polong telah mencapai ukuran maksimum dan awal pematangan polong ketika polong telah mencapai ukuran akhir polong dengan melihat lamanya durasi perkembangan polong. Panen polong hijau ercis dapat dilakukan pada 12 hari setelah bunga mekar. Panen polong hijau dapat dilakukan pada 40 Hst-63 Hst dan durasi lama perkembangan polong 19 hingga 24 hari setelah bunga mekar. Lama waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan polong selama 16-24 hari. Panen polong kering ercis dilakukan ketika seluruh polong pada setiap tanaman telah matang dan kering. Waktu panen polong kering ercis dapat dilakukan pada 58 Hst-87 Hst

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇