137686 research outputs found
Sort by
Kandungan Nutrisi Dan Kecernaan Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum) Dan Legume Pueraria Javanica Yang Ditanam Monokultur Dan Tumpang Sari Pada Umur Panen 60 Hari
Hijauan pakan ternak yang sangat potensial dan
sering diberikan pada hewan ternak adalah rumput gajah
(Pennisetum purpureum). Rumput gajah memiliki
kandungan nutrisi BK 20,29%,PK 6,26%,SK 32,60%.
Permasalahan pada kandungan nutrisi rumput gajah yaitu
rendahnya kandungan protein kasar serta tingginya serat
kasar membuat pemanfaatan rumput gajah sebagai
hijauan pakan ternak belum cukup. Pensubstitusian
legume Pueraria javanica pada rumput gajah dapat
meningkatkan kandungan nutrisi karena legume dapat
menghasilkan nitrogen yang dapat bermanfaat bagi
rumput. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
kandungan nutrisi dan kecernaan rumput gajah dan
legum Pueraria javanica yang ditanam secara tumpang
sari dan monokultur pada umur panen 60 hari. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi seluruh pihak khususnya peternak dan pelaku
industri pakan ternak sebagai upaya mengefensiasi lahan
guna penyedian pakan ternak ruminansia yang
berkualitas.
Materi penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah rumput gajah dan Legum Pueraria
javanica yang ditanam tumpang sari dan monokultur
pada umur potong 60 hari. Metode penelitian yang
digunakan adalah percobaan di laboratorium dengan
rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan
sebagai berikut: P1 = monokultur rumput gajah, P2 = 4
baris rumput gajah + 1 baris legum Pueraria javanica,
P3 = 3 baris rumput gajah + 2 baris legum Pueraria
javanica, P4 = monokultur Pueraria javanica dan
memiliki 4 ulangan. Variabel yang diukur pada
kandungan nutrisi (BK,BO,LK,SK,PK) menggunakan
analisa proksimat mengacu pada AOAC tahun 2005,
untuk kecernaan variabel yang diukur (KcBK dan KcBO)
mengacu pada Tilley and Terry (1963). Data analisis
ragam dari RAL apabila berpengaruh di olah
menggunakan uji jarak berganda Duncan (UJBD).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa memiliki
pengaruh nyata (P<0,05) pada protein kasar (PK) untuk
penanaman rumput gajah dengan atau tanpa tumpang sari
dengan legum Pueraria javanica, dengan hasil
P1=6,53±3,11% , P2=7,60±2,27% , P3=10,56±1,58% ,
P4=15,88±2,29%. Untuk hasil kecernaan bahan kering
(KcBK) dengan hasil P1= 64,76±10,98%, P2=
68,33±7,96%, P3= 63,69±9,67%, P4= 64,14±9,37% dan kecernaan bahan organik (KcBO) dengan hasil P1=
62,89±8,82%, P2= 68,19±7,25%, P3= 55,65±8,67%, P4=
69,59±11,42% memiliki pengaruh yang tidak nyata
(P>0,05).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh
dapat disimpulkan bahwa penanaman secara tumpang
sari pada rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan
Pueraria javanica dapat meningkatkan kandungan
protein kasar. Perlu dilakukan Penanaman pola tanam
tumpang sari 3 baris rumput gajah dengan 2 baris
leguminosa Pueraria javanica pada umur panen 60 hari
dapat diaplikasikan dalam sistem produksi hijauan pakan
ternak
Efektivitas Program Kartu Identitas Anak (KIA) (Studi Pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bekasi).
Program Kartu Identitas Anak (KIA) adalah dokumen resmi yang menunjukkan identitas seorang anak yang berusia kurang dari 17 tahun dan belum menikah. Kota Bekasi mencatat tingkat kepemilikan KIA terendah di Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program KIA di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlokasi di Kota Bekasi, sedangkan situsnya berada di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Teknik pengumpulan data melibatkan data primer dan sekunder melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan program KIA telah dilaksanakan dengan baik, terutama dalam aspek kebermanfaatan, serta pelaksanaan program cukup baik dalam aspek keberhasilan program, tingkat output, dan kepuasan masyarakat. Meskipun demikian, beberapa aspek, seperti keberhasilan sasaran dan tingkat input program, masih perlu ditingkatkan. Proses penyelenggaraan KIA melalui kerjasama dengan pihak swasta telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama di sekolah swasta yang menjadikan KIA sebagai syarat pendaftaran. Namun, penelitian menunjukkan adanya hambatan, seperti kurangnya pelatihan dan pendidikan bagi pegawai, serta kurang optimalnya sosialisasi.Faktor pendukung program KIA melibatkan kegiatan sosialisasi dan kebijakan sekolah swasta yang mendukung program ini. Di sisi lain, faktor penghambat termasuk masalah penggunaan teknologi E-OPen, partisipasi masyarakat, dan kendala dalam kerjasama dengan pihak swasta
Efektivitas Kombinasi Pupuk Anorganik (Padat dan Cair) Terhadap Kandungan Unsur Hara Tanah, Serapan Hara Tanaman, Pertumbuhan, dan Produksi Cabai pada Inceptisols.
Cabai termasuk komoditas hortikultura unggulan nasional dan bernilai ekonomis tinggi. Meningkatnya jumlah penduduk dan industri makanan mengakibatkan peningkatan permintaan cabai di Indonesia. Permintaan cabai yang terus meningkat masih belum bisa terpenuhi dikarenakan luas lahan panen yang semakin berkurang dan produksi cabai belum optimal. Faktor penting dalam mendukung keberhasilan budidaya tanaman cabai yaitu menjaga kesuburan tanah melalui penambahan pupuk anorganik NPK. Pupuk anorganik padat seringkali kurang efektif karena tidak semua unsur hara bisa diserap oleh tanaman akibat pencucian, penguapan atau keterbatasan tanaman dalam menyerap unsur hara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan memberikan tambahan unsur hara menggunakan pupuk NPK majemuk dalam bentuk cair. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh berbagai dosis pemberian kombinasi pupuk anorganik (padat dan cair) terhadap kandungan unsur hara tanah, serapan hara tanaman, pertumbuhan dan produksi cabai, dan menganalisis hubungan antara sifat kimia tanah dengan serapan hara tanaman.
Penelitian bertempat di lahan milik Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya tepatnya di lahan percobaan Jatimulyo dan laboratorium kimia tanah sejak Januari sampai Juli 2023. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan di mana perlakuan yang digunakan yaitu, kontrol (B0), 1 NPK padat + 0 NPK cair (B1), 0 NPK padat + 1 NPK cair (B2), ½ NPK padat + ½ NPK cair (B3), ½ NPK padat + ¾ NPK cair (B4), ½ NPK padat + 1 NPK cair (B5), ¼ NPK padat + ½ NPK cair (B6), ¼ NPK padat + ¾ NPK cair (B7), ¼ NPK padat + 1 NPK cair (B8). Penggunaan 1 NPK padat yaitu NPK 15:15:15 800 kg/ha, ZA 200 kg/ha, SP-36 300 kg/ha, KCl 200 kg/ha dan 1 NPK cair yaitu Ajifol dengan dosis 2 L/ha. Parameter yang diamati antara lain tinggi tanaman dan jumlah daun yang diamati pada 2, 4, dan 6 MST, bobot segar buah per tanaman, serapan N, P, dan K tanaman serta efisiensi penggunaan hara NPK pada saat panen. Analisis data menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut DMRT taraf 5% apabila terdapat pengaruh signifikan. Selain itu, uji korelasi untuk mengetahui hubungan antar parameter.
Penggunaan kombinasi pupuk anorganik NPK padat dan cair memberikan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, produksi cabai, serapan P, dan serapan K tanaman di mana masing-masing memiliki nilai p value 0,444, 0,056, 0,672, 0,180, dan 0,218. Namun penggunaan kombinasi pupuk anorganik NPK padat dan cair memberikan pengaruh nyata terhadap serapan N dengan p value < 0,01. Perlakuan B3 (½ NPK padat + ½ NPK cair) memiliki nilai RAE tertinggi yaitu 258,51%. Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara unsur hara N, P, dan K terhadap produksi dan juga serapan N, P, dan K tanaman cabai. Nilai r hitung dari korelasi N, P, dan K terhadap produksi (-0,216, -0,013, dan -228) terhadap serapan N, P, dan K (0,308, 0,287, dan 0,345) dimana nilai r hitung < r tabel 3809
Evaluasi dan Perbaikan Desain Antarmuka Pengguna Sistem Persetujuan Colocation Application Form (CAF) Menggunakan Metode Human Centered Design (Studi Kasus: PT Tower XYZ)
PT Tower XYZ merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan sistem informasi dalam menjalankan proses bisnisnya. Perusahaan ini bergerak dalam bisnis jasa penyedia layanan tower telekomunikasi. Sistem informasi utamanya yaitu TowerSys terbagi menjadi TowerSys v.1 dan TowerSys v.2. Dalam TowerSys v.1 terdapat sebuah modul yang bernama Colocation Application Form (CAF) yang digunakan untuk proses persetujuan CAF. Berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder PT Tower XYZ, didapatkan informasi bahwa modul CAF di TowerSys v.1 belum pernah dievaluasi dari sisi usability dan membutuhkan pembaharuan dikarenakan memiliki permasalahan usability pada sistem yang mempengaruhi performa proses CAF. Oleh karena itu, performa CAF perlu ditingkatkan dengan memperbaiki desain antarmuka sistem sesuai dengan kebutuhan stakeholder dan user. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi modul CAF saat ini dengan metode Usability Testing untuk mendapatkan nilai usability dan pendekatan Human Centered Design (HCD) untuk dapat menghasilkan solusi desain perbaikan antarmuka pengguna yang tepat. Aspek usability yang diukur pada penelitian ini adalah efektivitas, efisiensi, dan kepuasan pengguna menggunakan System Usability Scale (SUS). Hasil evaluasi awal mendapatkan nilai efektivitas sebesar 93,3%, nilai efisiensi sebesar 89,76%, dan nilai kepuasan pengguna dengan skor SUS sebesar 38,5. HCD digunakan untuk mengetahui permasalahan pada sistem dengan memusatkan perhatian pada pengguna dan menghasilkan rekomendasi perbaikan desain pada rancangan desain antarmuka pengguna. Rancangan yang dihasilkan pada penelitian ini berupa wireframe dan high-fidelity prototype. Setelah dilakukan perbaikan desain antarmuka pengguna, maka dilakukan evaluasi kembali terhadap solusi desain yang menunjukkan peningkatan nilai untuk seluruh aspek usability dengan nilai efektivitas sebesar 100%, nilai efisiensi sebesar 100%, dan nilai kepuasan pengguna dengan skor SUS sebesar 85
Optimasi Biaya Persediaan Barang Pada Industri Alat Berat Untuk Spare Part Menggunakan Particle Swarm Optimization (PSO) Berdasarkan Prediksi Penjualan
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan biaya persediaan barang
pada industri alat berat, khususnya untuk spare part, dengan memanfaatkan
Particle Swarm Optimization (PSO) berdasarkan prediksi penjualan. Proses
penelitian dimulai dengan pengembangan model prediksi penjualan
menggunakan metode ETS untuk mendapatkan perkiraan permintaan yang
akurat. Selanjutnya, PSO digunakan untuk mengoptimalkan kebijakan persediaan
berdasarkan prediksi penjualan tersebut. Eksperimen dilakukan dengan variasi
parameter PSO untuk menemukan pengaturan optimalnya. Implementasi model
ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi biaya
persediaan dan meningkatkan efisiensi operasional industri alat berat. Evaluasi
kinerja model dan hasil optimasi dilakukan melalui analisis sensitivitas, validasi
lapangan, dan evaluasi dampak finansial. Kesimpulannya, penelitian ini
memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi manajemen persediaan
yang lebih cerdas dan adaptif dalam menghadapi variasi permintaan pasar
Arahan Peningkatan Kinerja Operasional dan Pelayanan Stasiun Pasar Senen
Ibukota Negara Indonesia saat ini yaitu, DKI Jakarta memerlukan jaringan transportasi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya, baik transportasi umum maupun pribadi. Sebagai salah satu transportasi darat dengan banyak keunggulan, seperti, dapat mengangkut barang maupun manusia dengan kapasitas yang banyak sehingga dapat menghemat energi dan efisiensi ruang transportasi, nilai keamanan yang tinggi, dan nilai pencemaran lingkungan yang rendah (Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian), kereta api umum digunakan oleh masyarakat sebagai pilihan utama moda transportasi. Pengoperasian kereta api memerlukan prasarana yang dapat menunjang kebutuhan pengguna maupun pengelola jasa, yaitu stasiun. Stasiun Pasar Senen sebagai salah satu stasiun kelas besar dan pemberhentian akhir pengguna kereta api jarak jauh dengan tujuan DKI Jakarta melayani perjalanan kereta api jarak jauh dan kereta rel listrik. Stasiun ini direnovasi pada tahun 2020 untuk meningkatkan konektivitas moda menuju dan dari Stasiun Pasar Senen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja operasional dan pelayanan yang tersedia di Stasiun Pasar Senen setelah dilakukannya renovasi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif karakteristik stasiun, analisis ketersediaan ruang stasiun, analisis sirkulasi stasiun, analisis Level of Service (LOS), analisis kesesuaian Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa area boarding Stasiun Pasar Senen mendapatkan nilai LOS C untuk pintu 1 dan LOS B untuk pintu 2, dari 31 variabel yang diteliti, 3 (tiga) variabel perlu dijadikan prioritas utama untuk ditingkatkan dan sebanyak 7 (tujuh) variabel memiliki klasifikasi kesesuaian yang buruk
Pencegahan Penyakit Kapang Kelabu yang Disebabkan oleh Botrytis cinerea pada Buah Stroberi (Fragaria sp.) dengan Memanfaatkan Edible Coating Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut
Komoditas hortikultura memiliki potensi yang besar karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun terdapat permasalahan mendasar yang dapat mempengaruhi rendahnya mutu komoditas hortikultura sehingga berimbas pada nilai ekonominya, salah satunya adalah serangan patogen pada fase pascapanen. Permasalahan patogen ini menyebabkan kehilangan hasil dan penurunan kualitas produk hingga 20-25%. Diantara semua jenis patogen pascapanen, patogen dari golongan jamur merupakan penyebab utama kerusakan pascapanen terutama pada buah stroberi. Penyakit pascapanen yang menyerang buah stroberi yaitu “kapang kelabu” yang disebabkan oleh Botrytis cinerea. Salah satu solusi untuk melindungi buah stroberi dari kerusakan biologis akibat patogen adalah penggunaan edible coating minyak atsiri daun jeruk purut. Minyak atsiri daun jeruk purut mampu menghambat pertumbuhan patogen jamur B. cinerea karena memiliki potensi sebagai antimikroba yang berasal dari senyawa citronellal. Oleh karena itu, dilakukan penelitian edible coating minyak atsiri daun jeruk purut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan jamur patogen B. cinerea secara in vitro, pengaruhnya terhadap tingkat keparahan penyakit dan bobot susut buah sehingga alternatif solusi ini nantinya dapat digunakan untuk melindungi buah stroberi dari kerusakan biologis pascapanen akibat B. cinerea sehingga buah stroberi pascapanen mempertahankan kualitasnya.
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret hingga Oktober 2023 di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dan Laboratorium Terpadu Universitas Brawijaya. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan pada pengujian in vitro dan diulang sebanyak 3 kali pada aplikasi buah. Tahapan penelitian terdiri dari persiapan alat dan bahan, isolasi dan identifikasi makroskopis serta mikroskopis jamur B. cinerea, identifikasi molekuler, esktraksi daun jeruk purut, pembuatan emulsi edible coating, uji in vitro antijamur emulsi atsiri daun jeruk purut, variabel pengamatan meliputi laju pertumbuhan jamur patogen, diameter koloni, persentase penghambatan, dan berat kering miselium. Selanjutnya pengamatan abnormalitas miselium jamur, tingkat keparahan penyakit pada buah stroberi uji, bobot susut buah, dan analisis data statistik. Hasil penelitian diperoleh isolat D2 (Botrytis cinerea) dengan tingkat kemiripan jamur sebesar 99,81% dengan isolat B. cinerea CF95 yang ada di data GenBank. Penelitian menunjukkan perlakuan emulsi edible coating minyak atsiri daun jeruk purut secara in vitro dengan konsentrasi 0,10%, 0,15% dan 0,20% mampu menghambat pertumbuhan patogen jamur Botrytis cinerea hingga 100%. Nilai ini tergolong dalam kategori penghambatan sangat kuat. Hasil aplikasi edible coating minyak atsiri daun jeruk purut pada buah stroberi mampu memperlambat masa inkubasi, menurunkan intensitas penyakit dan laju perkembangan jamur B. cinerea. Penggunaan edible coating dengan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut tertinggi (0,20%) mampu mencegah persentase penyusutan bobot buah hingga 0,17% selama 8 hari penyimpanan
Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja dan Disiplin Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada Karyawan Balitbang SDM Kementerian KOMINFO Jakarta).
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menjelaskan dan menganalisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan di Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta, (2) Menjelaskan dan menganalisis Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta, (3) Menjelaskan dan menganalisis Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta, (4) Menjelaskan dan menganalisis penagruh gaya kepemimpinan, motivasi kerja, disiplin kerja secara simultan terhadap kinerja karyawan.
Jenis Penelitian ini Menggunakan explanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner google form kepada 112 responden yaitu karyawan Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis statistika inferensial yang terdiri dari uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji hipotesis.
Hasil pada penelitian ini menunjukan bahwa Gaya Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan, variabel Motivasi Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan, Disiplin Kerja kerja berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan, variabel Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap Kinerja Karyawan. Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta perlu menerapkan gaya kepemimpinan, motivasi kerja, disiplin kerja agar dapat terlakasana secara tepat dan efektif serta dapat mencerminkan kinerja atas kinerja karyawan yang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kinerja karyawan yang terjadi di Balitbang SDM Kementerian Kominfo Jakarta dipengaruhi secara simultan oleh variabel Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Disiplin Kerj
Evaluasi Program Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka: Stake’s Countenance Evaluation Model (Studi Pada Social Economic Accelerator Lab Batch 4)
Minimnya keaktifan peserta menjadi kendala utama di dalam penyelenggaraan program studi independen bersertifikat. Kondisi demikian mendorong perlunya suatu evaluasi program studi independen bersertifikat sebagai bagian dari program pendidikan dengan menggunakan model evaluasi stake countenance. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan difokuskan pada aspek antecedents (kondisi awal), aspek transaction (proses), aspek outcomes (hasil akhir). Teknik pengumpulan data di dalam penelitian ini menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada aspek antecedents menjelaskan mengenai latar belakang bergabungnya SEAL dalam program studi independen bersertifikat beserta persiapan yang dilakukan pada program studi independen bersertifat batch 4. Pada aspek transaction, pelaksanaan program terdiri dari pembelajaran umum dan pengerjaan final project. Namun, proses pelaksanaan masih memiliki beberapa kendala, seperti minimnya keaktifan peserta, ruang lingkup pembelajaran terlalu luas, standar operasional prosedur yang masih belum optimal, miskomunikasi dengan mitra, durasi pembelajaran yang kurang optimal, dan anggota kelompok yang apatis selama pengerjaan final project. Evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan oleh pihak SEAL pada saat program berjalan merujuk kepada initial assessment yang dilakukan sekali setelah program telah berjalan 1 bulan. Pada aspek outcomes, pemahaman peserta terhadap konsep transformasi digital telah mengalami peningkatan. Selain itu, setelah mengikuti program ini, kemampuan softskill peserta, seperti komunikasi dan kerjasama tim mengalami peningkatan. Lalu, untuk evaluasi akhir program yang dilaksanakan oleh pihak SEAL masih terdapat perbedaan standar nilai di antara kurikulum SEAL (tidak memakai nilai bulat) dengan standar nilai Kampus Merdeka (memakai nilai bulat) sehingga dikhawatirkan menyebabkan ketidakadilan pada penilaian ketika terjadi pembulatan nilai.
Peneliti memberikan saran agar SEAL dapat menyusun dokumen standar operasional prosedur secara khusus yang mencakup segala prosedur mengenai penyelenggaraan program secara komprehensif, pengerucutan ruang lingkup pembelajaran, penyelarasan terhadap durasi pembelajaran, pengadaan matrikulasi materi bagi peserta, dan penguatan koordinasi kepada setiap mitra yang menjadi partner pada saat proses pengerjaan final projec
Implementasi Kebijakan Keluarga Harapan Plus Dalam Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (Studi Kasus Kecamatan Dau Kabupaten Malang)
Kemiskinan mencakup keterbatasan dalam akses terhadap peluang
ekonomi, sosial, dan politik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar
serta ketidakadilan dalam distribusi kekayaan dan kesempatan di dalam masyarakat. Kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan yaitu melalui kebijakan Keluarga Harapan Plus, Kecamatan Dau salah
satu penerima Keluarga Harapan Plus di Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kebijakan Keluarga Harapan Plus serta faktor yang
mempengaruhi percepatan penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Dau
Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif studi kasus yang mana pengambilan data ini dilakukan dengan wawancara. Penelitian ini menggunakan teori implementasi menurut George Edward III yang terdapat empat indikator yaitu Komunikasi yang diciptakan dalam kebijakan ini sudah berjalan
dengan baik mulai dari pelaksana kebijakan paling atas yaitu pihak Dinsos Provinsi Jatim, Kabupaten Malang, Kecamatan Dau hingga ke masyarakat tidak ada hambatan, semua informasi diberikan secara merata, adil dan tidak adanya kesalahpahaman. Sumber Daya Keluarga Harapan Plus terbukti sudah memadai karena staf pendamping mampu memahami tugasnya dan mampu menyampaikan
informasi dan pelayanan yang tepat untuk penerima manfaat sesuai dengan hasil rapat koordinasi, koodinasi lintas instansi dan sosialisasi. Sumber daya penunjang
yang diberikan ini mampu menunjang pelaksanaan PKH Plus agar berjalan lancar
pemberian bantuan. Disposisi atau sikap pelaksana dalam kebijakan ini, pelayanan
yang diberikan kepada penerima pun sudah dapat diterima dengan baik. Namun,
perlu adanya peningkatan kedisiplinan dari pendamping dalam melaksanakan
pendampingan, kurangnya tenaga pendamping yang ada memiliki pengaruh dari kurangnya kedisiplinan serta keaktifan dari pendamping itu sendiri. Struktur
Birokrasi sebagai pelaksana dalam kebijakan harus bisa mendukung kebijakan yang
telah ditetapkan, pelaksanaan PKH Plus sudah sesuai dengan pedoman yang
digunakan, pembagian tugas yang tepat sesuai dengan keahlian merupakan suatu
kunci dari keberhasilan kebijakan Keluarga Harapan Plus