137686 research outputs found
Sort by
Evaluasi Pelaksanaan Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Puskesmas Singosari, Kabupaten Malang
Pemerintah telah membentuk Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga (PIS-PK) untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
status gizi masyarakat. Namun, capaian Indeks Keluarga Sehat (IKS) dan
kunjungan rumah di Indonesia, masih tergolong sangat rendah. Pandemi Covid-
19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 turut menyebabkan pelaksanaan
PIS-PK semakin tersendat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi
pelaksanaan PIS-PK. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui
wawancara mendalam dan telaah dokumen, yang kemudian dianalisis secara
deskriptif dengan metode analisis tematik. Dari hasil penelitian ini, didapatkan
lima klaster tema yaitu Input Persiapan Puskesmas, Proses Pelaksanaan PISPK,
Output PIS-PK, Kendala yang Terjadi Dalam PIS-PK, serta Rencana dan
Harapan Perbaikan Sistem. Kesimpulan penelitian ini adalah capaian PIS-PK
belum memenuhi target nasional akibat terdapat banyaknya permasalahan
dalam penyelenggaraan PIS-PK, yakni pada input dan proses. Dibutuhkan
perencanaan strategi kembali untuk memperbaiki penyelenggaraan PIS-PK
kedepannya, khususnya dalam mengatasi setiap masalah dan kendala yang
telah terjadi, seperti masalah pendanaan dan pendataan; kendala dari petugas;
kendala dari masyarakat; masalah aplikasi; dan masalah edukasi masyarakat
Hubungan Kadar Trombopoietin Dengan Kejadian Trombositopenia Pada Pasien Sirosis Hepatis
Sirosis hepatis merupakan sebuah kondisi pada penyakit hati kronis yang
merusak organ hati. Sirosis hepatis merusak jaringan parenkimal yang menyusun
organ hati. Sirosis terjadi dengan proses yang perlahan lahan terjadi, yang mana
selama proses terjadinya fibrosis, regenerasi nodul-nodul yang abnormal, hingga
terjadinya fase sirosis yang merupakan ‘end-stage’ dari proses fibrosis hati.
Penurunan thrombopoietin akan berpengaruh terhadap penurunan maturase
megakaryosit dan penurunan kadar platelet sehingga mengakibatkan kondisi
trombositopenia. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui adanya hubungan
antara kadar trombopietin dengan terjadinya trombositopenia pada pasien sirosis
hepatis. Sampel yang diambil yaitu pasien yang terdiagnosis sirosis hepatis serta
memenuhi syarat kriteria inklusi di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Variabel
yang akan dilihat yaitu kadar trombopoietin pada pasien sirosis hati dengan
komplikasi trombositopenia dan pasien sirosis hati tanpa komplikasi
trombositopenia di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Data kadar TPO akan
diperiksa dengan metode ELISA terhadap sampel serum darah pasien, dan data
kadar platelet akan dilihat dari hasil pemeriksaan darah lengkap terakhir pasien.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ditemukan
hubungan signifikan antara kadar TPO dengan kadar trombosit pada pasien sirosis
hepatis, baik yang terkategori komplikasi trombositopenia maupun tidak
terkategori kompikasi
Calving Rat e dan Sex Ratio Hasil Inseminasi Buatan Semen Beku Non Sexing dan Semen Beku Sexing Metode Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll Pada Sapi Peranakan Friesian Holstein di Desa Bendosari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang”.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat calving
rate dan sex ratio hasil Inseminasi Buatan menggunakan
semen sexing dengan metode sentrifugasi gradien densitas
percoll serta semen non sexing pada sapi Peranakan Friesian
Holstein (PFH) di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon,
Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan mulai tanggal 9
Agustus hingga 24 Agustus 2023. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi dan panduan yang
berguna bagi mahasiswa dan peternak dalam menerapkan
teknik Inseminasi Buatan (IB) dengan menggunakan semen
sexing metode Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll (SGDP)
serta semen non sexing untuk meningkatkan tingkat kelahiran dan sex ratio pada sapi PFH, yang nantinya akan digunakan
sebagai evaluasi dalam program pemeliharaan sapi PFH dan
digunakan sebagai evaluasi dalam pemeliharaan sapi PFH
dengan tujuan pembibitan secara mandiri oleh peternak.
Penelitian ini menerapkan metode observasional dengan
pendekatan kuantitatif. Observasi dilakukan secara langsung di
lapangan untuk mengamati sex ratio hasil IB non sexing dan
sexing dengan metode SGDP. Data diperoleh melalui
wawancara dengan inseminator dan peternak untuk
mengetahui keberhasilan kelahiran ( calving rate ) dan jenis
kelamin pedet yang dihasilkan ( sex ratio ). Selanjutnya, data
diolah secara deskriptif analitik menggunakan Microsoft Excel
dengan melakukan rekapitulasi data dan perhitungan
persentase, kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk grafik.
Objek penelitian terdiri dari sapi Peranakan Friesian Holstein
(PFH) hasil IB pada penelitian sebelumnya. Ada 79 ekor sapi
yang dibagi menjadi dua kelompok: 39 sapi yang diinseminasi
menggunakan semen non sexing (P0) dan 40 sapi yang
diinseminasi menggunakan semen sexing SGDP (P1).
Sapi-sapi tersebut memiliki usia minimal 1,5 tahun dan
kondisi tubuh minimal 2,5 (skala 1-5). IB dilakukan dengan
single dosis pada jam ke-8 setelah menunjukkan tanda birahi,
dan deposisi semen menggunakan metode deep insemination
pada posisi 4 ( corpus utery .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
semen non sexing dan sexing SGDP dalam IB menghasilkan
perbedaan dalam conception rate, calving rate, dan sex ratio .
Hasil IB menggunakan semen non sexing menunjukkan hasil
yang lebih baik dibandingkan dengan semen sexing .
Perbedaan ini disebabkan oleh proses yang panjang dalam pembuatan sexing spermatozoa, yang mengakibatkan penurunan kualitas spermatozoa, termasuk kerusakan
membran dan penurunan motilitas spermatozoa. Conception
rate dari penggunaan semen non sexing mencapai 51,3%,
sedangkan semen sexing SGDP mencapai 40%. Calving rate
yang dihasilkan juga menunjukkan perbedaan, dengan
persentase 46,15% untuk semen non sexing dan 35% untuk
semen sexing SGDP. Sementara itu, sex ratio pedet yang
dihasilkan menunjukkan perbandingan jantan dan betina
sebesar 61,1%:39,9% untuk semen non sexing dan 50%:50%
untuk semen sexing SGDP. Meskipun demikian, hasil sex ratio
dari penggunaan semen sexing belum mencapai tujuan utama,
yaitu mengubah proporsi alamiah (50:50) menjadi (80:20)
sesuai dengan kromosom yang diinginkan. Diperlukan
keterampilan dan ketepatan dari inseminator dalam melakukan
deposisi semen untuk memastikan bahwa penggunaan sexing
spermatozoa dapat menghasilkan keturunan sesuai dengan
yang diinginkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan semen non sexing dan sexing SGDP memiliki
perbedaan dalam persentase conception rate, calving rate, dan
sex ratio
Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pia Apel Menggunakan Metode Silver Meal Heuristic (SMH) di UMKM Permata Agro Mandiri, Batu
UMKM Permata Agro Mandiri memproduksi pia apel dengan nama produk “Shyif”. Permintaan pia apel “Shyif” mengalami kenaikan dan penurunan, sehingga akan berpengaruh terhadap penentuan kuantitas bahan baku pia apel yang harus disediakan. Metode pengendalian persediaan bahan baku yang dapat digunakan pada kondisi permintaan fluktuatif yakni metode silver meal heuristic. Dengan demikian pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat persediaan bahan baku apel yang optimum menggunakan metode Silver Meal Heuristic.
Penelitian ini dilaksanakan di UMKM Permata Agro Mandiri Kota Batu pada bulan Juli 2022. Pada penelitian ini, tahapan pertama yang dilakukan yakni menghitung peramalan permintaan menggunakan metode dekomposisi aditif, weighted moving average, dan exponential smoothing yang kemudian akan dihitung nilai errornya menggunakan mean absolut deviation (MAD), mean squared error (MSE), dan mean absolute percentage error (MAPE). Hasil peramalan dengan nilai error terkecil akan dikonversikan menggunakan bill of materials, lalu dilakukan perhitungan persediaan bahan baku menggunakan metode silver meal heuristic. Setelah itu, dilakukan perhitungan safety stock dan reorder point untuk mengetahui kuantitas minimal persediaan serta tingkat pemesanan kembali bahan baku yang dibutuhkan. Total biaya persediaan menggunakan metode silver meal heuristic akan dibandingkan dengan total biaya persediaan yang diterapkan oleh UMKM.
Hasil penerapan silver meal heuristic berpengaruh terhadap perubahan periode pemesanan bahan baku yang lebih rendah. Hal ini mengakibatkan kuantitas pemesanan yang lebih besar sehingga perlu memperhatikan penanganan penyimpanan bahan baku guna menjaga kualitas bahan. Berdasarkan perhitungan perusahaan, total biaya persediaan sebesar Rp 9.160.257. Sementara itu, pada perhitungan silver meal heuristic, total biaya persediaan sebesar Rp 3.344.396.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah penerapan pengendalian persediaan dengan metode silver meal heuristic mendapatkan penghematan dibandingkan dengan metode yang diterapkan perusahaan. Penghematan yang diperoleh sebesar 63% atau sebanyak Rp 5.815.861. Perusahaan disarankan untuk menerapkan metode silver untuk meminimalkan biaya total persediaan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih memperhatikan periode pemesanan serta umur simpan bahan baku yang digunakan
Pemanfaatan Daun Bidara (Ziziphus mauritiana) sebagai Biokoagulan dalam Menurunkan Kekeruhan dan Total Suspended Solid pada Limbah Cair Tahu
Industri tahu di Indonesia mencapai 84 ribu unit usaha dengan kapasitas produksi mencapai 2,56 juta ton per tahun. Proses produksi tahu menghasilkan limbah cair yang memiliki tingkat bahan organik tinggi dan berpotensi mencemari perairan. Penggunaan bahan kimia konvensional dalam pengolahan limbah cair tahu menjadi solusi yang mahal dan berdampak negatif pada lingkungan. Pada beberapa tahun terakhir telah dikembangkan alternatif biokoagulan yang ramah lingkungan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai biokoagulan yaitu daun bidara. Namun penelitian mengenai biokoagulan dari daun bidara masi terbatas, sehingga diperlukan penelitian untuk mengeksplorasi potensi daun bidara sebagai bahan koagulasi alternatif dalam mengurangi pencemaran limbah cair tahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis biokoagulan dan menentukan dosis yang optimum serta efisien untuk menurunkan kekeruhan dan TSS dalam limbah cair tahu.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan daun bidara sebagai biokoagulan dalam proses koagulasi-flokulasi untuk mengolah limbah cair tahu. Metode jar test digunakan untuk menentukan dosis optimum biokoagulan dalam menjernihkan air limbah dengan mengukur parameter pH, TSS, dan kekeruhan. Eksperimen dilakukan dengan variasi dosis koagulan, diaduk menggunakan jar test, dan dilanjutkan dengan proses sedimentasi. Data yang diperoleh dari penelitian diolah dan dianalisis untuk menentukan dosis koagulan yang paling efektif dalam mengurangi kekeruhan dan TSS pada limbah cair tahu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa dosis biokoagulan daun bidara berpengaruh signifikan terhadap nilai kekeruhan dan TSS. Dosis yang efisien dalam menurunkan kekeruhan yaitu sebesar 8 mL dengan nilai removal efficiency sebesar 66,25%, sedangkan untuk TSS yaitu sebesar 10 mL dengan nilai removal efficiency sebesar 69,79%. Adapun dosis optimum biokoagulan daun bidara untuk menurunkan kekeruhan sebesar 9,86 mL dan TSS sebesar 11,48 mL
Penilaian Kinerja Karyawan Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process dan Multi-Objective Optimization On The Basic Of Ratio Analysis (Studi Kasus di CV Permata Agro Mandiri)
CV Permata Agro Mandiri merupakan salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi olahan apel. CV Permata Agro Mandiri berdiri pada tahun 2009 di Desa Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Produk yang dihasilkan CV Permata Agro Mandiri adalah thins brownies apel, pai apel, wingko apel. CV Permata Agro Mandiri mengalami kendala berupa penurunan produktivitas dalam beberapa tahun yang lalu dan sistem penilaian kinerja yang ada berdasarkan perilaku atau behavior appraisal system dengan cara penilaiannya melakukan checklist attitude tentang uraian catatan kehadiran karyawan yang dilakukan langsung oleh Admin serta dilakukan pengrekapan sebulan sekali, karena hal tersebut CV Permata Agro Mandiri membutuhkan penilaian kinerja untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Penilaian kinerja umumnya merupakan perencanaan kebijakan sebuah perusahaan atau UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) sebagai penyesuaian pengambilan keputusan tepat terkait perencanaan tenaga kerja, pemecatan, mutasi, perbaikan kinerja dan promosi untuk perencanaan pengembangan karir yang berkelanjutan. Metode AHP akan menghasilkan luaran pembobotan penilaian kinerja, dilanjutkan dengan metode MOORA untuk merangking penilaian.
Hasil Penelitian Kriteria pencapain target pada CV Permata Agro Mandiri memiliki hasil bobot tertinggi pencapaian target karena perusahaan mewajibkan terhadap setiap karyawan harus memiliki rasa paham dalam mencapai sebuah target yang telah diberikan oleh perusahaan karena jika pencapaian target mengalami penurunan maka bisa dikatakan untuk setiap tanggung jawab, kehadiran, dan faktor yang lainnya. Dan hasil Penelitian Perangkingan didapatkan tiga kelompok yaitu kelompok pertama dengan nilai kriteria yang dibutuhkan perusahaan dengan nilai diatas 0,2, kelompok yang kedua kelompok menengah dengan nilai kriteria ada yang sudah bagus dan masih ada yang kurang untuk karyawan yang dibutuhkan perusahaan dengan nilai 0,1-0,2 dan kelompok terendah diperoleh nilai kriteria yang rendah yang dibutuhkan untuk melakukan peningkatan kinerja dengan nilai dibawah 0,1
Hubungan Berat Badan Terhadap Keratometry Reading Pada Anak Down Syndrome dan Anak Tanpa Down Syndrome
Pendahuluan: Down syndrome adalah kelainan genetik akibat adanya salinan ke-
3 pada kromosom 21. Penyandang down syndrome rentan mengalami obesitas
karena basal metabolic rate yang rendah. Disebutkan bahwa down syndrome
berkorelasi dengan kelainan oftalmologi yaitu keratoconus. Namun, mekanisme
serta kaitan berat badan dan keratoconus pada anak down syndrome belum
sepenuhnya dipahami. Tujuan: Mengetahui hubungan berat badan terhadap
keratometry reading pada anak down syndrome dan anak tanpa down syndrome.
Metode: Penelitian observasional analitik ini dilakukan dengan pendekatan cross
sectional. Luaran data berasal dari pengukuran kelengkungan kornea
menggunakan Auto Refractometer pada anak tanpa down syndrome (data
sekunder) dari panti asuhan daerah Kota Malang dan anak dengan down
syndrome (data primer) dari RSSA Kota Malang. Analisis hubungan berat badan
terhadap keratometry reading pada anak dengan dan tanpa down syndrome
menggunakan SPSS dengan Uji Regresi linear dan Uji Korelasi. Hasil dan
Pembahasan: Didapatkan 92 anak; 69 anak tanpa down syndrome dan 23 anak
dengan down syndrome. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna (p= 0.152;
r= -0.309) antara berat badan dan keratometry reading pada anak down syndrome.
Berdasarkan kelompok usia, tidak didapatkan hubungan signifikan antara berat
badan dan keratometry reading, namun berkorelasi cukup kuat (>0.4 r <0.6). Pada
anak tanpa down syndrome tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara
berat badan dan keratometry reading (p= 0.760; r= 0.037). Berdasarkan kelompok
usia tidak didapatkan hubungan signifikan antara berat badan dan keratometry
reading, dengan korelasi sangat lemah (r<0.2). Kesimpulan: Tidak didapatkan
hubungan signifikan antara berat badan dan hasil keratometry reading pada anak
dengan down syndrome dan anak tanpa down syndrome
Hubungan antara Morfometrik dengan Bobot Badan Domba Ekor Tipis
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara morfometrik dengan bobot badan domba ekor tipis. Materi penelitian ini adalah penelitian dilakukan di Mahardi Farm, Desa Selorejo, Kabupaten Blitar menggunakan domba ekor tipis betina sebanyak 30 ekor yang berumur 2 tahun. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengukuran secara langsung ukuran lingkar dada, tinggi badan, panjang badan, lingkar pinggang, dan penimbangan bobot badan. Variable yang diamati dalam penelitian ini adalah lingkar dada (LD), tinggi badan (TB), panjang badan (PB), lingkar pinggang (LP), dan bobot badan (BB). Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan analisis korelasi, analisis regresi linear sederhana, dan analisis regresi linear berganda. Nilai korelasi antara morfometrik LD, TB, PB, dan LP terhadap bobot badan mulai dari rendah ke tinggi berkisar antara 0,33; 0,80; 0,80; 0,88. Lingkar dada memiliki hubungan yang sangat nyata dengan bobot badan domba ekor tipis (P<0,001). Kesimpulan dari penelitian adalah lingkar dada, tinggi badan, panjang badan, dan lingkar pinggang memiliki hubungan yang positif dengan bobot badan. Ukuran lingkar dada memiliki korelasi yang paling kuat terhadap bobot badan domba dibandingkan tinggi badan, panjang badan, dan lingkar pinggang. Pada hasil regresi linear berganda lingkar dada juga menunjukkan nilai signifikansi yang sangat nyata terhadap bobot badan. Hal ini menunjukkan ukuran lingkar dada menjadi ukuran morfometrik yang paling kuat yang dapat digunakan untuk mengestimasi bobot badan ternak
Pengaruh Pemberian Pisang Ambon sebagai Terapi Tambahan Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Ibu Hamil dengan Hipertensi Gestasional (Studi di Puskesmas Cilimus dan Puskesmas Linggarjati)
Latar Belakang: Penyebab langsung kematian maternal di
Indonesia terkait kehamilan dan persalinan salah satunya adalah karena
hipertensi dalam kehamilan. Salah satu terapi non-farmakologi untuk
mengatasi tekanan darah tinggi adalah dengan konsumsi pisang ambon
karena mengandung kalium yang tinggi. Tujuan penelitian: mengetahui
pengaruh pemberian pisang ambon sebagai terapi tambahan terhadap
penurunan tekanan darah pada ibu hamil hipertensi di Wilayah Kerja
Kabupaten Kuningan. Metode penelitian: kuantitatif dengan metode
Quasi Eksperiment dengan Two Group Pretest-Posttest Control Group.
Analisis data menggunakan uji wilcoxon. Sampel penelitian ini berjumlah
32 ibu hamil hipertensi. Responden dibagi dua kelompok, kelompok
perlakuan diberikan pisang ambon sebanyak 200 gr sehari. Dua kelompok
diukur tekanan darah sebelum dan sesudah perlakuan, penelitian
eksperimen dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian: kelompok
perlakuan sistolik sebelum dan sesudah perlakuan menunjukan ρ-value
0,000 dan diastolik ρ-value 0,000, artinya terdapat perbedaan antara pretest
dan post-test pemberian buah pisang ambon dan obat antihipertensi
(ρ-value <0,05). Kesimpulan: pemberian pisang ambon berpengaruh
dalam penurunan tekanan darah pada ibu hamil hipertensi di Wilayah Kerja
Kabupaten Kuningan
Kajian Mutu Fisik Chips Camer (Tepung Mocaf dan Tepung Kacang Merah) Sebagai Makanan Selingan Bagi Remaja Putri Anemia.
Pada tahun 2019 WHO menyebutkan prevalensi anemia pada wanita usia subur mencapai 31,2% disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi. Pemenuhan zat besi dapat dilakukan melalui pemberian makanan tinggi zat besi dengan produk chips berbahan dasar tepung mocaf dan tepung kacang merah. Produk pangan memiliki karakteristik mutu fisik yang berbeda karena pengaruh dari bahan dasar pembuatan produk tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu fisik terkait kekerasan, dan daya patah pada beberapa formulasi produk chips tepung mocaf dan tepung kacang merah. Penelitian ini menggunakan rancangan Experimental Laboratory dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 12 unit percobaan yang terdiri dari 4 perlakuan berbeda yang direplikasi sebanyak 3 kali dengan komposisi tepung mocaf dan tepung kacang merah secara berturut-turut yaitu P0 (100%:0%), P1 (40%:60%), P2 (50%:50%), P3 (60%:40%). Hasil analisis statistik uji mutu fisik pada tingkat kepercayaan 95% (p<0,05) menunjukkan terdapat perbedaan pada parameter kekerasan (p=0,001) menggunakan uji Kruskal Wallis dan parameter daya patah (p=0,022) menggunakan uji One Way Anova. Perlakuan terbaik berdasarkan mutu fisik menggunakan zeleny ditemukan pada chips camer kode P1 dengan perbandingan tepung mocaf dan tepung kacang merah sebesar 40%:60%