137686 research outputs found
Sort by
Analisis Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Olahan Susu Di Umkm Susu Racik Mak Tam Kediri
Rendahnya konsumsi susu di Indonesia memberikan peluang usaha kepada produsen
olahan susu lokal sebagai upaya menyediakan susu sehingga memudahkan masyarakat untuk
mengkonsumsi susu. Spesifikasi yang dimiliki suatu produk memberikan masyarakat percaya
terhadap produk olahan susu lokal aman untuk dikonsumsi. Susu Racik Mak Tam merupakan
salah satu perusahaan yang bergerak di bidang olahan susu dengan memiliki outlet yang
tersebar di Kediri. Permahaman terkait kepuasan konsumen susu racik Mak Tam sangat perlu
diperhatikan untuk dapat menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Apabila konsumen merasa puas dengan susu racik Mak Tam maka berpotensi untuk melakukan
pembelian ulang. Berdasarkan observasi yang dilakukan, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kepuasan konsumen di susu racik Mak Tam Kediri, yaitu harga, kualitas
produk, citra merek, pelayanan dan promosi. Perusahaan harus mampu memberikan harga,
kualitas produk, citra merek, pelayanan dan promosi terbaik sebagai senjata strategis yang
potensial untuk menjadi produk yang dilihat konsumen sehingga produk susu racik Mak Tam
tetap menjadi produk olahan susu lokal yang dipercaya oleh masyarakat Kediri.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat konsumsi susu masyarakat
terhadap brand susu lokal dan kepuasan konsumen pada faktor yang digunakan yaitu kualitas
produk, harga, citra merek, pelayanan dan promosi di UMKM Susu Racik Mak Tam Kediri.
Responden penelitian ini yaitu sebanyak 100 orang yang menjadi konsumen saat pembelian
produk susu racik Mak Tam. Metode pengumpulan data penelitian ini yaitu survey dan
wawancara menggunakan kuesioner. Data primer pada penelitian ini yaitu bersumber dari
konsumen susu racik Mak Tam dan data sekunder bersumber dari laporan-laporan dan jurnal
yang berkaitan dengan penelitian ini. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu
konsumen yang sedang melakukan pembelian produk susu racik Mak Tam. Variabel penelitian
yaitu harga, kualitas produk, citra merek, pelayanan dan promosi.
Hasil penelitian menunukkan bahwa responden didominasi oleh konsumen perempuan
(55%) dikarenakan perempuan lebih menyukai kuliner dan memiliki pengetahuan untuk
mengkonsumsi minuman yang sehat. Usia responden didominasi usia produktif yaitu 17-23
tahun (45%), dengan status konsumen didominasi oleh pelajar/santri/mahasiswa sebanyak
(37%) keseringan konsumen mengkonsumsi susu racik Mak Tam yaitu < 5 kali. Hasil analisis
PLS SEM yaitu menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, citra merek dan pelayanan yang
diberikan signifikan terhadap kepusan konsumen susu racik Mak Tam. Sedangkan variabel
harga dan promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen susu racik Mak
Tam Kediri. Hal tersebut dikarenakan susu racik Mak Tam memiliki kualitas produk yang
sangat baik dibandingkan dengan kompetitornya sehingga Mak Tam menjadi produk olahan
susu lokal yang populer di Kediri dengan menyediakan pelayanan yang ramah dan baik. Tetapi
harga yang dimiliki susu racik Mak Tam tergolong cukup tinggi untuk ukuran minuman di
Kediri dan promosi yang diberikan banyak konsumen yang tidak mengetahui. Harapannya susu racik Mak Tam memberikan promo kepada konsumen di beberapa event yang dimiliki sehingga
konsumen lebih excited untuk mengkonsumsi susu racik Mak Tam
Analisis Kerawanan Dan Pencegahan Kebakaran Hutan Di Taman Hutan Raya Raden Soerjo
Indonesia menjadi salah satu negara di benua Asia yang sering menghadapi
masalah kebakaran hutan dan terjadi saat musim kemarau tiba. Selama lima tahun
terakhir, luas kebakaran hutan di Pulau Jawa paling tinggi terjadi pada tahun 2023
seluas 71.109,63 ha dan luas kebakaran hutan tertinggi di Provinsi Jawa Timur
dengan luas 49.498,32 ha. Salah satu kawasan hutan di Jawa Timur yang
mengalami kejadian kebakaran hutan yaitu Taman Hutan Raya (Tahura) Raden
Soerjo. Kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo terjadi hampir setiap tahun, dan
faktor-faktor seperti perubahan iklim, aktivitas manusia, dan kondisi vegetasi
menjadi penyebab utama kebakaran hutan. Tahura Raden Soerjo memiliki peran
penting sebagai kawasan peyangga dan sumber air sehingga sangat penting
melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan. Oleh karena itu, analisis
pencegahan kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo perlu didasarkan pada
pemahaman mendalam akan kebijakan pencegahan kebakaran hutan, faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya kebakaran, pola sebaran hotspot, dan aktivitas
manusia yang berkontribusi terhadap kebakaran hutan.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2024 di Taman
Hutan Raya Raden Soerjo. Pengambilan data dilakukan dengan cara interpretasi
peta, wawancara, observasi lapang, dan penelusuran dokumen. Data yang
dikumpulkan dengan cara interpretasi pada peta adalah tutupan lahan, curah hujan,
suhu permukaan tanah, sebaran hotspot, jarak dari permukiman, jarak dari jalan,
dan kelerengan. Interpretasi peta digunakan untuk membuat pemodelan spasial
rawan kebakaran hutan mengunakan software Arcmap 10.8. Data yang
dikumpulkan dengan observasi dan wawancara adalah data terkait faktor dan
penyebab kebakaran hutan dan upaya pencegahan kebakaran hutan. Data yang
dikumpulkan dengan penelusuran dokumen yaitu terkait SOP pencegahan
kebakaran hutan, ketersediaan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan,
dan sejarah terjadinya kebakaran hutan. Data dianalisis secara spasial menggunakan
Weighted Overlay dan validasi model, serta analisis deskriptif kualitatif model
Miles dan Huberman. Weighted Overlay digunakan sebagai pembobotan variabel
pada pembuatan peta daerah rawan kebakaran di Tahura Raden Soerjo. Metode
deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan secara menyeluruh data yang
diperoleh selama proses penelitian.
Hasil yang diperoleh pada tingkat kerawanan kebakaran hutan di Tahura
Raden Soerjo terbagi dalam lima kategori, mulai dari sangat rendah hingga sangat
tinggi, dengan luas yang berbeda-beda di tiap kategori, seperti 5208,09 ha untuk
sangat rendah dan 2804,50 ha untuk sangat tinggi. Kelas kerawanan yang dibangun
mampu menduga titik kebakaran sebesar 81,37% pada kelas kerawanan tinggi
hingga sangat tinggi yang menandakan model spasial yang dibangun dapat
menggambarkan kelas-kelas kerawanan kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo.
Wilayah bagian timur Tahura, mencakup Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Malang,
dan Kota Batu, menunjukkan tingkat kerawanan yang tinggi hingga sangat tinggi dalam kisaran 200-2000 ha. Faktor penyebab kebakaran melibatkan faktor manusia,
seperti perburuan liar, pembakaran di lahan perhutani oleh pesanggem, dan
pembakaran yang disengaja, maupun faktor alam sebagai pendukung terjadinya
kebakaran hutan seperti kemarau panjang dan tumpukan bahan bakar kering. Upaya
pencegahan mencakup berbagai strategi, mulai dari patroli rutin hingga sosialisasi
dan pemeliharaan sekat bakar. Rekomendasi strategi yang diusulkan meliputi
diversifikasi program kerja dengan fokus pada rencana strategis pengendalian
kebakaran, mengoptimalkan peran pemerintah daerah, sampai dengan deteksi dini
berupa pemantauan hotspot untuk meningkatkan kesiagaan dan efektivitas
pengendalian kebakaran hutan
Analisis Keseimbangan Kepentingan Perusahaan Dan Pekerja Dalam Perlindungan Rahasia Dagang Melalui Perjanjian Kerahasiaan
Pada penelitian ini, penulis mengangkat permasalahan mengenai
Perlindungan Hukum Bagi Perusahaan Dalam Penolakan Penandatanganan
Perjanjian Kerahasiaan (Non Disclosure Agreement) Oleh Pekerja Yang
Mengundurkan Diri. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya kekosongan norma di
Indonesia mengenai peraturan kewajiban pekerja untuk menandatangani
perjanjian kerahasiaan. Negara-negara yang tergabung dalam kesatuan Uni Eropa
telah memiliki regulasi terkait dengan confidential information yang mana diatur
secara khusus dalam The European Public Limited-Liability Company (Employee
Involvement) Regulation 2009 bahwa setiap dokumen yang memiliki persyaratan
untuk dijaga kerahasiaannya, tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut
kecuali sesuai dengan persyaratan dalam informasi atau dokumen tersebut, serta
dalam EU General Data Protection Regulation yang menyebutkan bahwa peran
seorang petugas perlindungan data yang ditunjuk bertanggung jawab untuk
mendidik dan memberi informasi kepada karyawan, harus menandatangani
perjanjian kerahasiaan agar dapat dipastikan bahwa dokumen atau informasi
adalah rahasia. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kekosongan norma di
Indonesia dengan menggunakan pendekatan penelitian hukum normatif dan
comparative approach. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengangkat
dua rumusan masalah, yakni (1) Bagaimana pengaturan hukum mengenai
kewajiban menandatangani perjanjian kerahasiaan (non disclosure agreement) di
Indonesia dan Uni Eropa? Dan (2) Bagaimana pengaturan yang ideal terkait
perlindungan hukum bagi perusahaan dalam penolakan penandatanganan
perjanjian kerahasiaan (non disclosure agreement) oleh pekerja yang
mengundurkan diri?
Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh jawaban terkait rumusan
masalah yaitu, (1) Indonesia memiliki Undang-Undang Rahasia Dagang untuk
mengatur mengenai rahasia dagang agar mampu memberikan perlindungan
hukum dalam lingkup sistem rahasia dagang. Namun, Indonesia belum memiliki
peraturan yang secara eksplisit menjelaskan mengenai perjanjian kerahasiaan.
Pada negara-negara yang tergabung dalam kesatuan Uni Eropa, yang telah
memiliki pengaturan mengenai confidential information yakni The European Public
Limited-Liability (Employee Involvement) Regulations 2009 dan The European
General Data Protection Regulation. Dua regulasi tersebut menetapkan landasan
hukum serta prosedur untuk menjaga kerahasiaan informasi dalam konteks
kerjasama antara pekerja dan perusahaan. (2) Perlindungan hukum terhadap
perusahaan memerlukan perhatian pada keadilan kontraktual. Perlindungan
hukum secara preventif dapat dilakukan dengan penambahan pasal atau
penjelasan pasal pada UU Rahasia Dagang maupun dengan perjanjian kerja
dengan mengadopsi pengaturan di Uni Eropa. Sedangkan perlindungan hukum
secara represif, dapat dilakukan dengan memberikan sanksi pidana pada Pasal 17
UU Rahasia Dagang maupun sanksi perdata pada Pasal 1234 KUHPerdata
Tatalaksana Penanganan Endometritis Pada Sapi Friesian Holstein Di Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kota Batu
Pak Dadang, seorang peternak dari Junrejo, melaporkan bahwa sapi miliknya
yang sebelumnya sehat dengan BCS 3 mulai menunjukkan penurunan nafsu makan,
pernapasan dypsnea, dan keluarnya leleran putih susu dari vagina. Awalnya, Pak
Dadang mengira ini adalah tanda birahi, tetapi sapi tidak menunjukkan gejala estrus
setelah partus. Gejala klinis yang tampak meliputi kelemahan, lendir putih keruh
keluar dari vulva, demam, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan,
penurunan produksi susu, perilaku tidak nyaman, dan perubahan siklus estrus. Hasil
pemeriksaan menunjukkan suhu tubuh sapi 39,1ºC, respirasi 42 kali/menit, dan
pulsus 106 kali/menit. Lendir berbau busuk keluar dari vulva sapi. Pemeriksaan
dilanjutkan dengan palpasi rektal pada uterus dan penggunaan alat metricheck.
Berdasarkan anamnesa, gejala klinis, dan pemeriksaan klinis, sapi didiagnosa
mengalami endometritis dengan skor 2/5, ditandai oleh pus putih keruh berbau
busuk. Prognosisnya fausta karena sapi masih bisa makan dan minum dengan
normal. Terapi yang diberikan meliputi flushing dengan antibiotik Sulfadiazine,
Trimethoprim (colibact®) yang dicampur dengan NS, dan injeksi Vet B1 sebanyak
20 ml secara intramuscular untuk meningkatkan nafsu makan. Selain itu, hormon
PGF2α sebanyak 2 ml disuntikkan secara IM, antibiotik Penicillin sebanyak 7 ml,
dan antiinflamasi Dexamethasone sebanyak 5 ml juga diberikan. Hasil evaluasi
menunjukkan bahwa leleran pada bagian vagina mulai berkurang dan sapi kembali
mengalami fase estrus yang normal
Penanganan Prolaps Uteri Pasca Partus Pada Sapi Simmental Di Desa Wagir Kabupaten Malang Periode 9 – 20 Oktober 2023
Prolaps uteri merupakan kejadian pada sapi yang uterusnya keluar melewati vagina
dan menggantung di vulva. Prolapsus uteri terjadi pada stadium ketiga setelah pengeluaran
fetus dan setelah kotiledon fetus terpisah dari karankula induk. Sapi dengan anamnesa
yaitu sapi muncul keluarnya uterus dari dalam tubuh setelah 1 jam partus, menurut
peternak pada umur kebuntingan trimester akhir (8 bulan) sapi berpindah tempat dari desa
Ngajum ke desa Wagir dengan jarak sekitar 22 kilometer. Berdasarkan temuan klinis dan
pemeriksaan fisiknya sapi didiagnosa mengalami prolaps uteri. Penanganan yang
dilakukan yaitu dengan memasukkan uteri ke dalam saluran reproduksi dan dilakukan
penjahitan pada vulva. Sapi dianastesi epidural dengan menggunakan lidocain sebanyak 5
ml dengan dosis 1,5 mg/ml. Selanjutnya injeksi Sulpidone® (dypirone dan lidocaine)
sebanyak 10 ml dengan dosis pemberian 20-40 mg/kg. Uteri yang sudah reposisi kedalam
saluran reproduksi diberikan Colibact® bolus (Trimethoprim dan Sulfadiazine) secara
intrauterine sebanyak 2 bolus, vulva sapi dijahit menggunakan tipe jahitan Buhner Suture.
Pemberiaan terapi pasca penanganan dengan injeksi Vitol-140® (vitamin A,D,E) sebanyak
10 ml dengan dosis pemberian 5 ml/ekor, dan juga injeksi antibiotik (Ceftiofur®) sebanyak
10 ml dengan dosis pemberian 3 mg/kg. Evaluasi keberhasilan penanganan kasus ini
ditunjukkan melalui pelepasan jahitan pada hari ke 7 pasca penanganan yang diketahui
tidak adanya infeksi sekunder serta menggunakan pemeriksaan darah lengkap (hematology
analyzer) sebagai indikator keberhasilan dari kandungan dalam darah
Kepastian Hukum Pengaturan Masa Percobaan Kerja Pegawaiperusahaan Daerah Air Minum
Pada Tesis ini, penulis mengangkat permasalahan mengenai kepastian hukum
pengaturan masa percobaan kerja pegawai Perusahaan daerah air minum. Pilihan
tema tersebut dilatarbelakangi oleh konflik norma hukum mengenai pengaturan
masa percobaan kerja antara Peraturan Menteri Dalam Negeri No 2 Tahun 2007
tentang organ dan kepegawaian perusahaan daerah air minum dengan UndangUndang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sehingga permendagri
belum bisa memberikan kepastian hukum terhadap pegawai Perusahaan daerah
air minum.
Berdasarkan hal tersebut, karya tulis ini mengangkat rumusan masalah: (1)
Apakah Ketentuan Masa Percobaan Kerja Pada Pasal 33 Ayat (2) Peraturan Menteri
dalam Negeri No 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan
Daerah Air Minum memenuhi Asas Kepastian Hukum? (2) Bagaimana pengaturan
tentang masa percobaan kerja yang berkepastian hukum?
Kemudian penulisan karya tulis ini menggunakan metode normatif dengan metode
pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan analisis
(analytical approach). Bahan hukum yang diperoleh penulis akan dianalisis dengan
menggunakan teknik analisis interpretasi gramatikal, dan interpretasi sistematis.
Dari hasil penelitian dengan metode di atas, penulis memperoleh jawaban atas
permasalahan yang ada bahwa ketentuan masa percobaan kerja pada pasal 33
ayat (2) Peraturan Menteri dalam Negeri No 2 Tahun 2007 tentang Organ dan
Kepegawaian Perusahaan daerah air minum belum memenuhi kepastian hukum,
karena meskipun aturannya tetap, dan jelas, namun tidak konsisten serta
peraturan tersebut tidak sejalan dengan peraturan Undang-Undang
Ketenagakerjaan, dan seharusnya peraturan yang dipakai dalam menentukan
masa percobaan tersebut adalah Undang-Undang Ketenagakerjaan. Pengaturan
tentang masa percobaan kerja karena tidak konsisten antara permendagri dan
UU Ketenagakerjaan tentang lamanya masa percobaan sehingga peraturan yang
berkepastian hukum tersebut harus bersifat tetap, jelas dan konsisten. Sehingga
penerapan masa percobaan kerja pada Perusahaan daerah air minum menjadi
jelas, adil, dan memberikan kepastian serta perlindungan bagi pekerja
Penafsiran Perbuatan Tercela Berupa Constitutional Disobedience Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Sebagai Alasan Impeachment Terhadap Presiden
Pada Tesis ini, peneliti mengangkat permasalahan tentang rekonstruksi pengaturan
pengelolaan tanah kas desa untuk mewujudkan kepastian hukum. Pilihan tema
tersebut di latar belakangi oleh adanya ketidaklengkapan aturan yang membahas
mengenai pengelolaan tanah kas desa yang melebihi masa jabatan kepala desa. Hal
tersebut menjadi urgensi bagi peneliti untuk melengkapi aturan di dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Aset Desa.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka karya tulis ini mengangkat rumusan masalah:
(1) Bagaimana kepastian hukum pengelolaan tanah kas desa dalam penyelenggaraan
desa? (2) Bagaimana rekonstruksi pengaturan pengelolaan tanah kas desa yang dapat
menjamin kepastian hukum bagi masyarakat dan pemerintahan desa?
Kemudian penulisan karya tulis ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif
dengan pendekatan perundang-undangan dan kasus. Bahan hukum primer, dan
sekunder yang diperoleh dari peneliti akan dianalisis dengan menggunakan teknik
analisis Analisis preskriptif ini adalah dengan melibatkan penilaian terhadap normanorma hukum yang ada dan memberikan rekomendasi atau panduan tentang
bagaimana norma-norma tersebut seharusnya diterapkan atau diinterpretasi. Teknik
ini sering digunakan untuk menganalisis kasus-kasus hukum yang kompleks, serta
untuk mengembangkan panduan praktis bagi pengambilan keputusan di bidang
hukum.
Dari hasil penelitian dengan metode di atas, maka peneliti memperoleh jawaban atas
permasalahan yang ada bahwasannya Meskipun dalam hukum positif Indonesia banyak
yang mengatur tentang pengelolaan Tanah Kas Desa, namun tidak menutup
kemungkinan bahwasannya masih terdapat juga beberapa kasus tentang problematika
pengelolaan Tanah Kas Desa yang ada di beberapa daerah. Selanjutnya Dengan
adanya analisis teori kepastian hukum yang dikemukukan oleh Gustav Radbruch dan
didasari oleh asas kejelasan rumusan, kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi
x
12
muatan serta selaras dengan teori hierarki peraturan perundang-undangan, maka
sangat diperlukan aturan baru yang menjelaskan bagaimana pengelolaan Tanah Kas
Desa yang melebihi batas jabatan kepala desa agar menciptakan kepastian hukum
untuk masa yang akan mendatang. Rekonstruksi Pengaturan tersebut akan
dimasukkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 Tentang
Pengelolaan Aset Desa agar memiliki kekuatan hukum yang mengikat sehingga
masyarakat bisa bisa taat dan patuh terhadap hukum positif yang berlaku
Topografi dan Batimetri Bangsring Underwater Sebagai Pedoman Wisata Selam
Bangsring Underwater (Bunder) yang terletak di Banyuwangi merupakan
kawasan wisata berbasis konservasi yang ditujukan untuk meningkatkan
perekonomian warga. Destinasi wisata di Bunder adalah taman bawah laut, fish
apartement, dan rumah apung. Informasi mengenai batimetri yang dapat
digunakan untuk memahami struktur dasar perairan. Instrumen yang dapat
digunakan dalam mengidentifikasi batimetri suatu perairan, dapat menggunakan
singlebeam echosounder. Pemetaan batimetri Bunder dapat digunakan untuk
mendukung wisata selam, konservasi, dan meningkatkan keberlanjutan kawasan
wisata Bunder. Penelitian ini akan menghasilkan peta batimetri yang dapat
digunakan untuk memahami karakteristik dasar perairan. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengetahui keadaan topografi menggunakan total station, memetakan
batimetri menggunakan singlebeam echosounder, dan mengetahui destinasi
penyelaman di perairan Bangsring Underwater, Kabupaten Banyuwangi.
Penelitian ini dilakukan di Bangsring Underwater pada tanggal 8 Februari
dan 11 Februari 2024. Luas area pemeruman ± 20 ha dan luas area pengukuran
elevasi tanah adalah ± 1.1 ha. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan
pemeruman, pengukuran pasang surut, dan pengukuran elevasi tanah.
Pemeruman dilakukan dengan menggunakan singlebeam echosounder,
pengambilan data pasang surut menggunakan tide staff dan data sekunder
iPasoet, dan pengukuran elevasi tanah menggunakan total station. Pada data
pemeruman dilakukan koreksi pasang surut dan koreksi kedalaman sehingga
menghasilkan data kedalaman terkoreksi. Kemudian data batimetri terkoreksi ini
digabungkan dengan data total station dan dilakukan interpolasi. Setelah itu,
dilakukan pembuatan kontur dan garis kontur berdasarkan nilai elevasi dan
kedalaman yang ada. Hasil dari kedua data yang diinterpolasi dibuat menjadi peta
destinasi penyelaman. Kemudian kedua data tersebut dipotong menggunakan
extract by mask dan dibuat menjadi peta topografi dan peta batimetri. Kemudian
dilakukan analisa pasang surut, topografi, cross section, batimetri, dan destinasi
penyelaman.
Penelitian ini menghasilkan tipe pasang surut, peta topografi, peta batimetri,
dan peta destinasi penyelaman. Peta topografi menghasilkan nilai kontur dengan
rentang -0.48 hingga 1.894 meter. Tipe pasang surut berdasarkan nilai formzahl
yaitu 1.47 yang menandakan bahwa pasang surut terjadi campuran dominan
ganda. Peta batimetri menghasilkan nilai kedalaman dengan rentang -0.001
hingga -37.82 meter. Hasil cross section batimetri menggunakan 34 garis cross
section dengan jarak 15 meter antar garisnya. Nilai rata-rata pengklasifikasian
kemiringan lereng adalah 9% yang dapat disimpulkan bahwa kemiringan lereng
masuk ke dalam kelas 3 kategori bergelombang. Pada topografi, cross section
dilakukan dengan 2 garis. Hasil pengklasifikasian kemiringan lereng yaitu 2% yang
termasuk ke dalam kelas 1 kategori landai. Pada peta destinasi penyelaman,terdapat karang alami, zona inti, karang transplantasi, Paras Reef, dan wreck
Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Growth, Firm Size Dan Collateralizable Assets Terhadap Kebijakan Dividen
Arus globalisasi yang pesat memicu persaingan bisnis yang ketat, sehingga
perusahaan memerlukan modal cukup untuk bertahan. Pasar modal menjadi sumber
dana eksternal, di mana perusahaan dapat memperjualbelikan sekuritas untuk
membiayai usahanya. Investasi saham menawarkan potensi keuntungan tinggi
dengan risiko tinggi, yang berasal dari capital gain dan dividen. Kebijakan dividen
yang mencerminkan pembagian laba kepada pemegang saham, dipengaruhi oleh
kondisi keuangan perusahaan. Rasio Dividend Payout Ratio digunakan untuk
menilai pembagian laba sebagai dividen. Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian explanatory dengan pendekatan kuantitatif dengan menganalis pengaruh
enam variabel yang terdiri dari profitabilitas, likuiditas, Leverage, Growth in Assets,
Firm size, dan Collateralizable assets terhadap Deviden Payout Ratio. Penelitian
ini menguji pengaruh variabel-variabel tersebut pada perusahaan LQ45 di Bursa
Efek Indonesia periode 2017-2022, dengan data dari laporan keuangan yang
dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia. Teknik purposive sampling
digunakan untuk memilih sampel perusahaan non-keuangan yang konsisten dalam
indeks LQ45 dan membagikan dividen selama periode penelitian. Data dianalisis
menggunakan software EViews 13. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya
profitabilitas yang diukur dengan Return On Assets (ROA) memiliki pengaruh
signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR), sementara likuiditas (Current
Ratio), leverage (Debt to Equity Ratio), Growth in Assets, Firm Size, dan
Collateralizable Assets tidak memiliki pengaruh signifikan. Temuan ini
mengindikasikan bahwa faktor-faktor internal tersebut tidak selalu menjadi
pertimbangan utama dalam pembagian dividen. Sebaliknya, kondisi keuangan dan
proyeksi kinerja perusahaan lebih berperan dalam menentukan kebijakan dividen.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan dividen dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang memerlukan pertimbangan mendalam dari manajemen perusahaan
Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu Chilling terhadap Karakteristik Fillet Ikan Tongkol yang Direndam Bakteri Asam Laktat Lactobacillus plantarum
Ikan tongkol merupakan salah satu jenis ikan laut ekonomis yang sering
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Potensi ekonomis perikanan tongkol tidak
hanya di Indonesia, namun juga mampu bersaing dipasar Internasional. Penyebab
tingginya permintaan ikan tongkol dipasar dikarenakan ikan tongkol memiliki
kandungan gizi yang tinggi. Kandungan gizi yang tinggi pada ikan tongkol memiliki
sifat yang mudah rusak serta busuk setelah ditangkap dan mati. Peningkatan
masa simpan ikan tongkol dapat dilakukan dengan cara penyimpanan suhu
chilling. Namun, penyimpanan ikan tongkol pada suhu chilling masih memiliki
masa simpan terbatas. Penyimpanan ikan pada suhu chilling hanya dapat
mempertahankan masa kesegaran ikan selama 3 – 4 hari. Oleh karena itu perlu
pengawet yang aman dalam produk agar memiliki kualitas yang baik dengan umur
simpan yang lebih lama. Penggunaan bakteri asam laktat, khususnya
Lactobacillus plantarum, diusulkan sebagai biopreservatif untuk meningkatkan
umur simpan fillet ikan tongkol pada penyimpanan suhu chilling. Sehingga tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh lama
penyimpanan pada suhu chilling terhadap karakteristik fillet ikan tongkol yang telah
direndam BAL Lactobacillus plantarum sebagai pengawet alami.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Prosedur pada penelitian
ini dibagi menjadi dua tahap. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui
lama perendaman terbaik bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum terhadap
karakteristik fillet ikan tongkol. Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui lama
penyimpanan terbaik terhadap karakteristik fillet ikan tongkol pada suhu chilling.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sederhana terdiri
dari 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan. Dilakukan parameter uji yaitu pH, TMA,
TVBN, Total BAL, TPC dan uji organoleptik. Data hasil penelitian dianalisis
menggunakan aplikasi SPSS 25 dengan ANOVA (Analysis of Variance) guna
untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakteristik fillet ikan tongkol.
Analisis parameter organoleptik menggunakan SPSS 25 dengan metode Kruskal�wallis dan penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode zeleny.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama perendaman bakteri
asam laktat (BAL) Lactobacillus plantarum berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap
karakteristik fillet ikan tongkol. Hal tersebut ditinjau dari nilai pH, TMA dan TVBN.
Perlakuan lama perendaman terbaik yaitu dengan perendaman selama 30 menit
dengan nilai pH sebesar 6.02, nilai TMA sebesar 1.92 mgN/100g dan nilai TVBN
sebesar 11.48 mgN/100g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama
penyimpanan pada suhu chilling berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap
karakteristik fillet ikan tongkol yang direndam BAL. Hal tersebut ditinjau
berdasarkan nilai pH, TMA, TVBN, TPC dan organoleptik. Perlakuan lama
penyimpanan terbaik didapatkan pada hari ke-14 dengan nilai pH sebesar 6.82,
nilai TMA sebesar 2.63 mgN/100g, nilai TVBN sebesar 23.47 mgN/100g, nilai TPC
sebesar 1,4 x 105 dan nilai organoleptik skoring warna 3 (skor 1-6), aroma 4 (skor
1-6), tekstur 5 (skor 1-6)