University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Analisis Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Olahan Susu Di Umkm Susu Racik Mak Tam Kediri

    No full text
    Rendahnya konsumsi susu di Indonesia memberikan peluang usaha kepada produsen olahan susu lokal sebagai upaya menyediakan susu sehingga memudahkan masyarakat untuk mengkonsumsi susu. Spesifikasi yang dimiliki suatu produk memberikan masyarakat percaya terhadap produk olahan susu lokal aman untuk dikonsumsi. Susu Racik Mak Tam merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang olahan susu dengan memiliki outlet yang tersebar di Kediri. Permahaman terkait kepuasan konsumen susu racik Mak Tam sangat perlu diperhatikan untuk dapat menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Apabila konsumen merasa puas dengan susu racik Mak Tam maka berpotensi untuk melakukan pembelian ulang. Berdasarkan observasi yang dilakukan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen di susu racik Mak Tam Kediri, yaitu harga, kualitas produk, citra merek, pelayanan dan promosi. Perusahaan harus mampu memberikan harga, kualitas produk, citra merek, pelayanan dan promosi terbaik sebagai senjata strategis yang potensial untuk menjadi produk yang dilihat konsumen sehingga produk susu racik Mak Tam tetap menjadi produk olahan susu lokal yang dipercaya oleh masyarakat Kediri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat konsumsi susu masyarakat terhadap brand susu lokal dan kepuasan konsumen pada faktor yang digunakan yaitu kualitas produk, harga, citra merek, pelayanan dan promosi di UMKM Susu Racik Mak Tam Kediri. Responden penelitian ini yaitu sebanyak 100 orang yang menjadi konsumen saat pembelian produk susu racik Mak Tam. Metode pengumpulan data penelitian ini yaitu survey dan wawancara menggunakan kuesioner. Data primer pada penelitian ini yaitu bersumber dari konsumen susu racik Mak Tam dan data sekunder bersumber dari laporan-laporan dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu konsumen yang sedang melakukan pembelian produk susu racik Mak Tam. Variabel penelitian yaitu harga, kualitas produk, citra merek, pelayanan dan promosi. Hasil penelitian menunukkan bahwa responden didominasi oleh konsumen perempuan (55%) dikarenakan perempuan lebih menyukai kuliner dan memiliki pengetahuan untuk mengkonsumsi minuman yang sehat. Usia responden didominasi usia produktif yaitu 17-23 tahun (45%), dengan status konsumen didominasi oleh pelajar/santri/mahasiswa sebanyak (37%) keseringan konsumen mengkonsumsi susu racik Mak Tam yaitu < 5 kali. Hasil analisis PLS SEM yaitu menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, citra merek dan pelayanan yang diberikan signifikan terhadap kepusan konsumen susu racik Mak Tam. Sedangkan variabel harga dan promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen susu racik Mak Tam Kediri. Hal tersebut dikarenakan susu racik Mak Tam memiliki kualitas produk yang sangat baik dibandingkan dengan kompetitornya sehingga Mak Tam menjadi produk olahan susu lokal yang populer di Kediri dengan menyediakan pelayanan yang ramah dan baik. Tetapi harga yang dimiliki susu racik Mak Tam tergolong cukup tinggi untuk ukuran minuman di Kediri dan promosi yang diberikan banyak konsumen yang tidak mengetahui. Harapannya susu racik Mak Tam memberikan promo kepada konsumen di beberapa event yang dimiliki sehingga konsumen lebih excited untuk mengkonsumsi susu racik Mak Tam

    Analisis Kerawanan Dan Pencegahan Kebakaran Hutan Di Taman Hutan Raya Raden Soerjo

    No full text
    Indonesia menjadi salah satu negara di benua Asia yang sering menghadapi masalah kebakaran hutan dan terjadi saat musim kemarau tiba. Selama lima tahun terakhir, luas kebakaran hutan di Pulau Jawa paling tinggi terjadi pada tahun 2023 seluas 71.109,63 ha dan luas kebakaran hutan tertinggi di Provinsi Jawa Timur dengan luas 49.498,32 ha. Salah satu kawasan hutan di Jawa Timur yang mengalami kejadian kebakaran hutan yaitu Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo terjadi hampir setiap tahun, dan faktor-faktor seperti perubahan iklim, aktivitas manusia, dan kondisi vegetasi menjadi penyebab utama kebakaran hutan. Tahura Raden Soerjo memiliki peran penting sebagai kawasan peyangga dan sumber air sehingga sangat penting melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan. Oleh karena itu, analisis pencegahan kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo perlu didasarkan pada pemahaman mendalam akan kebijakan pencegahan kebakaran hutan, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kebakaran, pola sebaran hotspot, dan aktivitas manusia yang berkontribusi terhadap kebakaran hutan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2024 di Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Pengambilan data dilakukan dengan cara interpretasi peta, wawancara, observasi lapang, dan penelusuran dokumen. Data yang dikumpulkan dengan cara interpretasi pada peta adalah tutupan lahan, curah hujan, suhu permukaan tanah, sebaran hotspot, jarak dari permukiman, jarak dari jalan, dan kelerengan. Interpretasi peta digunakan untuk membuat pemodelan spasial rawan kebakaran hutan mengunakan software Arcmap 10.8. Data yang dikumpulkan dengan observasi dan wawancara adalah data terkait faktor dan penyebab kebakaran hutan dan upaya pencegahan kebakaran hutan. Data yang dikumpulkan dengan penelusuran dokumen yaitu terkait SOP pencegahan kebakaran hutan, ketersediaan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan, dan sejarah terjadinya kebakaran hutan. Data dianalisis secara spasial menggunakan Weighted Overlay dan validasi model, serta analisis deskriptif kualitatif model Miles dan Huberman. Weighted Overlay digunakan sebagai pembobotan variabel pada pembuatan peta daerah rawan kebakaran di Tahura Raden Soerjo. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan secara menyeluruh data yang diperoleh selama proses penelitian. Hasil yang diperoleh pada tingkat kerawanan kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo terbagi dalam lima kategori, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi, dengan luas yang berbeda-beda di tiap kategori, seperti 5208,09 ha untuk sangat rendah dan 2804,50 ha untuk sangat tinggi. Kelas kerawanan yang dibangun mampu menduga titik kebakaran sebesar 81,37% pada kelas kerawanan tinggi hingga sangat tinggi yang menandakan model spasial yang dibangun dapat menggambarkan kelas-kelas kerawanan kebakaran hutan di Tahura Raden Soerjo. Wilayah bagian timur Tahura, mencakup Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan Kota Batu, menunjukkan tingkat kerawanan yang tinggi hingga sangat tinggi dalam kisaran 200-2000 ha. Faktor penyebab kebakaran melibatkan faktor manusia, seperti perburuan liar, pembakaran di lahan perhutani oleh pesanggem, dan pembakaran yang disengaja, maupun faktor alam sebagai pendukung terjadinya kebakaran hutan seperti kemarau panjang dan tumpukan bahan bakar kering. Upaya pencegahan mencakup berbagai strategi, mulai dari patroli rutin hingga sosialisasi dan pemeliharaan sekat bakar. Rekomendasi strategi yang diusulkan meliputi diversifikasi program kerja dengan fokus pada rencana strategis pengendalian kebakaran, mengoptimalkan peran pemerintah daerah, sampai dengan deteksi dini berupa pemantauan hotspot untuk meningkatkan kesiagaan dan efektivitas pengendalian kebakaran hutan

    Analisis Keseimbangan Kepentingan Perusahaan Dan Pekerja Dalam Perlindungan Rahasia Dagang Melalui Perjanjian Kerahasiaan

    No full text
    Pada penelitian ini, penulis mengangkat permasalahan mengenai Perlindungan Hukum Bagi Perusahaan Dalam Penolakan Penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan (Non Disclosure Agreement) Oleh Pekerja Yang Mengundurkan Diri. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya kekosongan norma di Indonesia mengenai peraturan kewajiban pekerja untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan. Negara-negara yang tergabung dalam kesatuan Uni Eropa telah memiliki regulasi terkait dengan confidential information yang mana diatur secara khusus dalam The European Public Limited-Liability Company (Employee Involvement) Regulation 2009 bahwa setiap dokumen yang memiliki persyaratan untuk dijaga kerahasiaannya, tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kecuali sesuai dengan persyaratan dalam informasi atau dokumen tersebut, serta dalam EU General Data Protection Regulation yang menyebutkan bahwa peran seorang petugas perlindungan data yang ditunjuk bertanggung jawab untuk mendidik dan memberi informasi kepada karyawan, harus menandatangani perjanjian kerahasiaan agar dapat dipastikan bahwa dokumen atau informasi adalah rahasia. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kekosongan norma di Indonesia dengan menggunakan pendekatan penelitian hukum normatif dan comparative approach. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengangkat dua rumusan masalah, yakni (1) Bagaimana pengaturan hukum mengenai kewajiban menandatangani perjanjian kerahasiaan (non disclosure agreement) di Indonesia dan Uni Eropa? Dan (2) Bagaimana pengaturan yang ideal terkait perlindungan hukum bagi perusahaan dalam penolakan penandatanganan perjanjian kerahasiaan (non disclosure agreement) oleh pekerja yang mengundurkan diri? Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh jawaban terkait rumusan masalah yaitu, (1) Indonesia memiliki Undang-Undang Rahasia Dagang untuk mengatur mengenai rahasia dagang agar mampu memberikan perlindungan hukum dalam lingkup sistem rahasia dagang. Namun, Indonesia belum memiliki peraturan yang secara eksplisit menjelaskan mengenai perjanjian kerahasiaan. Pada negara-negara yang tergabung dalam kesatuan Uni Eropa, yang telah memiliki pengaturan mengenai confidential information yakni The European Public Limited-Liability (Employee Involvement) Regulations 2009 dan The European General Data Protection Regulation. Dua regulasi tersebut menetapkan landasan hukum serta prosedur untuk menjaga kerahasiaan informasi dalam konteks kerjasama antara pekerja dan perusahaan. (2) Perlindungan hukum terhadap perusahaan memerlukan perhatian pada keadilan kontraktual. Perlindungan hukum secara preventif dapat dilakukan dengan penambahan pasal atau penjelasan pasal pada UU Rahasia Dagang maupun dengan perjanjian kerja dengan mengadopsi pengaturan di Uni Eropa. Sedangkan perlindungan hukum secara represif, dapat dilakukan dengan memberikan sanksi pidana pada Pasal 17 UU Rahasia Dagang maupun sanksi perdata pada Pasal 1234 KUHPerdata

    Tatalaksana Penanganan Endometritis Pada Sapi Friesian Holstein Di Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kota Batu

    No full text
    Pak Dadang, seorang peternak dari Junrejo, melaporkan bahwa sapi miliknya yang sebelumnya sehat dengan BCS 3 mulai menunjukkan penurunan nafsu makan, pernapasan dypsnea, dan keluarnya leleran putih susu dari vagina. Awalnya, Pak Dadang mengira ini adalah tanda birahi, tetapi sapi tidak menunjukkan gejala estrus setelah partus. Gejala klinis yang tampak meliputi kelemahan, lendir putih keruh keluar dari vulva, demam, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, penurunan produksi susu, perilaku tidak nyaman, dan perubahan siklus estrus. Hasil pemeriksaan menunjukkan suhu tubuh sapi 39,1ºC, respirasi 42 kali/menit, dan pulsus 106 kali/menit. Lendir berbau busuk keluar dari vulva sapi. Pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi rektal pada uterus dan penggunaan alat metricheck. Berdasarkan anamnesa, gejala klinis, dan pemeriksaan klinis, sapi didiagnosa mengalami endometritis dengan skor 2/5, ditandai oleh pus putih keruh berbau busuk. Prognosisnya fausta karena sapi masih bisa makan dan minum dengan normal. Terapi yang diberikan meliputi flushing dengan antibiotik Sulfadiazine, Trimethoprim (colibact®) yang dicampur dengan NS, dan injeksi Vet B1 sebanyak 20 ml secara intramuscular untuk meningkatkan nafsu makan. Selain itu, hormon PGF2α sebanyak 2 ml disuntikkan secara IM, antibiotik Penicillin sebanyak 7 ml, dan antiinflamasi Dexamethasone sebanyak 5 ml juga diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa leleran pada bagian vagina mulai berkurang dan sapi kembali mengalami fase estrus yang normal

    Penanganan Prolaps Uteri Pasca Partus Pada Sapi Simmental Di Desa Wagir Kabupaten Malang Periode 9 – 20 Oktober 2023

    No full text
    Prolaps uteri merupakan kejadian pada sapi yang uterusnya keluar melewati vagina dan menggantung di vulva. Prolapsus uteri terjadi pada stadium ketiga setelah pengeluaran fetus dan setelah kotiledon fetus terpisah dari karankula induk. Sapi dengan anamnesa yaitu sapi muncul keluarnya uterus dari dalam tubuh setelah 1 jam partus, menurut peternak pada umur kebuntingan trimester akhir (8 bulan) sapi berpindah tempat dari desa Ngajum ke desa Wagir dengan jarak sekitar 22 kilometer. Berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan fisiknya sapi didiagnosa mengalami prolaps uteri. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan memasukkan uteri ke dalam saluran reproduksi dan dilakukan penjahitan pada vulva. Sapi dianastesi epidural dengan menggunakan lidocain sebanyak 5 ml dengan dosis 1,5 mg/ml. Selanjutnya injeksi Sulpidone® (dypirone dan lidocaine) sebanyak 10 ml dengan dosis pemberian 20-40 mg/kg. Uteri yang sudah reposisi kedalam saluran reproduksi diberikan Colibact® bolus (Trimethoprim dan Sulfadiazine) secara intrauterine sebanyak 2 bolus, vulva sapi dijahit menggunakan tipe jahitan Buhner Suture. Pemberiaan terapi pasca penanganan dengan injeksi Vitol-140® (vitamin A,D,E) sebanyak 10 ml dengan dosis pemberian 5 ml/ekor, dan juga injeksi antibiotik (Ceftiofur®) sebanyak 10 ml dengan dosis pemberian 3 mg/kg. Evaluasi keberhasilan penanganan kasus ini ditunjukkan melalui pelepasan jahitan pada hari ke 7 pasca penanganan yang diketahui tidak adanya infeksi sekunder serta menggunakan pemeriksaan darah lengkap (hematology analyzer) sebagai indikator keberhasilan dari kandungan dalam darah

    Kepastian Hukum Pengaturan Masa Percobaan Kerja Pegawaiperusahaan Daerah Air Minum

    No full text
    Pada Tesis ini, penulis mengangkat permasalahan mengenai kepastian hukum pengaturan masa percobaan kerja pegawai Perusahaan daerah air minum. Pilihan tema tersebut dilatarbelakangi oleh konflik norma hukum mengenai pengaturan masa percobaan kerja antara Peraturan Menteri Dalam Negeri No 2 Tahun 2007 tentang organ dan kepegawaian perusahaan daerah air minum dengan UndangUndang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sehingga permendagri belum bisa memberikan kepastian hukum terhadap pegawai Perusahaan daerah air minum. Berdasarkan hal tersebut, karya tulis ini mengangkat rumusan masalah: (1) Apakah Ketentuan Masa Percobaan Kerja Pada Pasal 33 Ayat (2) Peraturan Menteri dalam Negeri No 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum memenuhi Asas Kepastian Hukum? (2) Bagaimana pengaturan tentang masa percobaan kerja yang berkepastian hukum? Kemudian penulisan karya tulis ini menggunakan metode normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan analisis (analytical approach). Bahan hukum yang diperoleh penulis akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis interpretasi gramatikal, dan interpretasi sistematis. Dari hasil penelitian dengan metode di atas, penulis memperoleh jawaban atas permasalahan yang ada bahwa ketentuan masa percobaan kerja pada pasal 33 ayat (2) Peraturan Menteri dalam Negeri No 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan daerah air minum belum memenuhi kepastian hukum, karena meskipun aturannya tetap, dan jelas, namun tidak konsisten serta peraturan tersebut tidak sejalan dengan peraturan Undang-Undang Ketenagakerjaan, dan seharusnya peraturan yang dipakai dalam menentukan masa percobaan tersebut adalah Undang-Undang Ketenagakerjaan. Pengaturan tentang masa percobaan kerja karena tidak konsisten antara permendagri dan UU Ketenagakerjaan tentang lamanya masa percobaan sehingga peraturan yang berkepastian hukum tersebut harus bersifat tetap, jelas dan konsisten. Sehingga penerapan masa percobaan kerja pada Perusahaan daerah air minum menjadi jelas, adil, dan memberikan kepastian serta perlindungan bagi pekerja

    Penafsiran Perbuatan Tercela Berupa Constitutional Disobedience Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Sebagai Alasan Impeachment Terhadap Presiden

    No full text
    Pada Tesis ini, peneliti mengangkat permasalahan tentang rekonstruksi pengaturan pengelolaan tanah kas desa untuk mewujudkan kepastian hukum. Pilihan tema tersebut di latar belakangi oleh adanya ketidaklengkapan aturan yang membahas mengenai pengelolaan tanah kas desa yang melebihi masa jabatan kepala desa. Hal tersebut menjadi urgensi bagi peneliti untuk melengkapi aturan di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Aset Desa. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka karya tulis ini mengangkat rumusan masalah: (1) Bagaimana kepastian hukum pengelolaan tanah kas desa dalam penyelenggaraan desa? (2) Bagaimana rekonstruksi pengaturan pengelolaan tanah kas desa yang dapat menjamin kepastian hukum bagi masyarakat dan pemerintahan desa? Kemudian penulisan karya tulis ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan kasus. Bahan hukum primer, dan sekunder yang diperoleh dari peneliti akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Analisis preskriptif ini adalah dengan melibatkan penilaian terhadap normanorma hukum yang ada dan memberikan rekomendasi atau panduan tentang bagaimana norma-norma tersebut seharusnya diterapkan atau diinterpretasi. Teknik ini sering digunakan untuk menganalisis kasus-kasus hukum yang kompleks, serta untuk mengembangkan panduan praktis bagi pengambilan keputusan di bidang hukum. Dari hasil penelitian dengan metode di atas, maka peneliti memperoleh jawaban atas permasalahan yang ada bahwasannya Meskipun dalam hukum positif Indonesia banyak yang mengatur tentang pengelolaan Tanah Kas Desa, namun tidak menutup kemungkinan bahwasannya masih terdapat juga beberapa kasus tentang problematika pengelolaan Tanah Kas Desa yang ada di beberapa daerah. Selanjutnya Dengan adanya analisis teori kepastian hukum yang dikemukukan oleh Gustav Radbruch dan didasari oleh asas kejelasan rumusan, kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi x 12 muatan serta selaras dengan teori hierarki peraturan perundang-undangan, maka sangat diperlukan aturan baru yang menjelaskan bagaimana pengelolaan Tanah Kas Desa yang melebihi batas jabatan kepala desa agar menciptakan kepastian hukum untuk masa yang akan mendatang. Rekonstruksi Pengaturan tersebut akan dimasukkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Aset Desa agar memiliki kekuatan hukum yang mengikat sehingga masyarakat bisa bisa taat dan patuh terhadap hukum positif yang berlaku

    Topografi dan Batimetri Bangsring Underwater Sebagai Pedoman Wisata Selam

    No full text
    Bangsring Underwater (Bunder) yang terletak di Banyuwangi merupakan kawasan wisata berbasis konservasi yang ditujukan untuk meningkatkan perekonomian warga. Destinasi wisata di Bunder adalah taman bawah laut, fish apartement, dan rumah apung. Informasi mengenai batimetri yang dapat digunakan untuk memahami struktur dasar perairan. Instrumen yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi batimetri suatu perairan, dapat menggunakan singlebeam echosounder. Pemetaan batimetri Bunder dapat digunakan untuk mendukung wisata selam, konservasi, dan meningkatkan keberlanjutan kawasan wisata Bunder. Penelitian ini akan menghasilkan peta batimetri yang dapat digunakan untuk memahami karakteristik dasar perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keadaan topografi menggunakan total station, memetakan batimetri menggunakan singlebeam echosounder, dan mengetahui destinasi penyelaman di perairan Bangsring Underwater, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini dilakukan di Bangsring Underwater pada tanggal 8 Februari dan 11 Februari 2024. Luas area pemeruman ± 20 ha dan luas area pengukuran elevasi tanah adalah ± 1.1 ha. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemeruman, pengukuran pasang surut, dan pengukuran elevasi tanah. Pemeruman dilakukan dengan menggunakan singlebeam echosounder, pengambilan data pasang surut menggunakan tide staff dan data sekunder iPasoet, dan pengukuran elevasi tanah menggunakan total station. Pada data pemeruman dilakukan koreksi pasang surut dan koreksi kedalaman sehingga menghasilkan data kedalaman terkoreksi. Kemudian data batimetri terkoreksi ini digabungkan dengan data total station dan dilakukan interpolasi. Setelah itu, dilakukan pembuatan kontur dan garis kontur berdasarkan nilai elevasi dan kedalaman yang ada. Hasil dari kedua data yang diinterpolasi dibuat menjadi peta destinasi penyelaman. Kemudian kedua data tersebut dipotong menggunakan extract by mask dan dibuat menjadi peta topografi dan peta batimetri. Kemudian dilakukan analisa pasang surut, topografi, cross section, batimetri, dan destinasi penyelaman. Penelitian ini menghasilkan tipe pasang surut, peta topografi, peta batimetri, dan peta destinasi penyelaman. Peta topografi menghasilkan nilai kontur dengan rentang -0.48 hingga 1.894 meter. Tipe pasang surut berdasarkan nilai formzahl yaitu 1.47 yang menandakan bahwa pasang surut terjadi campuran dominan ganda. Peta batimetri menghasilkan nilai kedalaman dengan rentang -0.001 hingga -37.82 meter. Hasil cross section batimetri menggunakan 34 garis cross section dengan jarak 15 meter antar garisnya. Nilai rata-rata pengklasifikasian kemiringan lereng adalah 9% yang dapat disimpulkan bahwa kemiringan lereng masuk ke dalam kelas 3 kategori bergelombang. Pada topografi, cross section dilakukan dengan 2 garis. Hasil pengklasifikasian kemiringan lereng yaitu 2% yang termasuk ke dalam kelas 1 kategori landai. Pada peta destinasi penyelaman,terdapat karang alami, zona inti, karang transplantasi, Paras Reef, dan wreck

    Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Growth, Firm Size Dan Collateralizable Assets Terhadap Kebijakan Dividen

    No full text
    Arus globalisasi yang pesat memicu persaingan bisnis yang ketat, sehingga perusahaan memerlukan modal cukup untuk bertahan. Pasar modal menjadi sumber dana eksternal, di mana perusahaan dapat memperjualbelikan sekuritas untuk membiayai usahanya. Investasi saham menawarkan potensi keuntungan tinggi dengan risiko tinggi, yang berasal dari capital gain dan dividen. Kebijakan dividen yang mencerminkan pembagian laba kepada pemegang saham, dipengaruhi oleh kondisi keuangan perusahaan. Rasio Dividend Payout Ratio digunakan untuk menilai pembagian laba sebagai dividen. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian explanatory dengan pendekatan kuantitatif dengan menganalis pengaruh enam variabel yang terdiri dari profitabilitas, likuiditas, Leverage, Growth in Assets, Firm size, dan Collateralizable assets terhadap Deviden Payout Ratio. Penelitian ini menguji pengaruh variabel-variabel tersebut pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2022, dengan data dari laporan keuangan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih sampel perusahaan non-keuangan yang konsisten dalam indeks LQ45 dan membagikan dividen selama periode penelitian. Data dianalisis menggunakan software EViews 13. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya profitabilitas yang diukur dengan Return On Assets (ROA) memiliki pengaruh signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR), sementara likuiditas (Current Ratio), leverage (Debt to Equity Ratio), Growth in Assets, Firm Size, dan Collateralizable Assets tidak memiliki pengaruh signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor internal tersebut tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam pembagian dividen. Sebaliknya, kondisi keuangan dan proyeksi kinerja perusahaan lebih berperan dalam menentukan kebijakan dividen. Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan dividen dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memerlukan pertimbangan mendalam dari manajemen perusahaan

    Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu Chilling terhadap Karakteristik Fillet Ikan Tongkol yang Direndam Bakteri Asam Laktat Lactobacillus plantarum

    No full text
    Ikan tongkol merupakan salah satu jenis ikan laut ekonomis yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Potensi ekonomis perikanan tongkol tidak hanya di Indonesia, namun juga mampu bersaing dipasar Internasional. Penyebab tingginya permintaan ikan tongkol dipasar dikarenakan ikan tongkol memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan gizi yang tinggi pada ikan tongkol memiliki sifat yang mudah rusak serta busuk setelah ditangkap dan mati. Peningkatan masa simpan ikan tongkol dapat dilakukan dengan cara penyimpanan suhu chilling. Namun, penyimpanan ikan tongkol pada suhu chilling masih memiliki masa simpan terbatas. Penyimpanan ikan pada suhu chilling hanya dapat mempertahankan masa kesegaran ikan selama 3 – 4 hari. Oleh karena itu perlu pengawet yang aman dalam produk agar memiliki kualitas yang baik dengan umur simpan yang lebih lama. Penggunaan bakteri asam laktat, khususnya Lactobacillus plantarum, diusulkan sebagai biopreservatif untuk meningkatkan umur simpan fillet ikan tongkol pada penyimpanan suhu chilling. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh lama penyimpanan pada suhu chilling terhadap karakteristik fillet ikan tongkol yang telah direndam BAL Lactobacillus plantarum sebagai pengawet alami. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Prosedur pada penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui lama perendaman terbaik bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum terhadap karakteristik fillet ikan tongkol. Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui lama penyimpanan terbaik terhadap karakteristik fillet ikan tongkol pada suhu chilling. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sederhana terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan. Dilakukan parameter uji yaitu pH, TMA, TVBN, Total BAL, TPC dan uji organoleptik. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan aplikasi SPSS 25 dengan ANOVA (Analysis of Variance) guna untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakteristik fillet ikan tongkol. Analisis parameter organoleptik menggunakan SPSS 25 dengan metode Kruskal�wallis dan penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode zeleny. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama perendaman bakteri asam laktat (BAL) Lactobacillus plantarum berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap karakteristik fillet ikan tongkol. Hal tersebut ditinjau dari nilai pH, TMA dan TVBN. Perlakuan lama perendaman terbaik yaitu dengan perendaman selama 30 menit dengan nilai pH sebesar 6.02, nilai TMA sebesar 1.92 mgN/100g dan nilai TVBN sebesar 11.48 mgN/100g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama penyimpanan pada suhu chilling berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap karakteristik fillet ikan tongkol yang direndam BAL. Hal tersebut ditinjau berdasarkan nilai pH, TMA, TVBN, TPC dan organoleptik. Perlakuan lama penyimpanan terbaik didapatkan pada hari ke-14 dengan nilai pH sebesar 6.82, nilai TMA sebesar 2.63 mgN/100g, nilai TVBN sebesar 23.47 mgN/100g, nilai TPC sebesar 1,4 x 105 dan nilai organoleptik skoring warna 3 (skor 1-6), aroma 4 (skor 1-6), tekstur 5 (skor 1-6)

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇