137686 research outputs found
Sort by
Penentuan Nilai Kapasitas Tukar Kation Piropilit Alam Sumbermanjing Malang Selatan Teraktivasi terhadap Ion Mg2+ dan Aplikasinya dalam Pembuatan Agen Slow Release Fertilizer
Penggunaan quick release fertilizer (QRF) oleh petani di Indonesia
dalam perkebunan dan budidaya tanaman mengakibatkan pencemaran
pada lingkungan sekitar dan hilangnya nutrisi dari tanah. Selain itu,
penyerapan nutrisi yang kurang oleh tanaman dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman dan kerugian terhadap petani. Oleh karena itu,
dikembangkan pupuk lambat lepas (slow release fertilizer) yang
melepas nutrisi dengan laju yang lebih terkendali. Mineral piropilit
yang diperoleh dari Kecamatan Sumbermanjing, Malang Selatan
menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan pupuk lambat lepas.
Nilai kapasitas tukar kation mineral piropilit terhadap ion Mg2+ juga
dipelajari dengan memvariasikan pH aktivasi asam menggunakan HCl
(0,1 N, 0,2 N, 0,3 N, 0,4 N, dan 0,5 N) hingga diperoleh pH aktivasi
optimum. Hasil data yang diperoleh menunjukkan nilai kapasitas tukar
kation piropilit yang optimum sebesar 12,3828 mek/100 g pada
konsentrasi HCl aktivasi yaitu 0,3 N (pH = 0,52). Pupuk lambat lepas
dibuat dengan mineral piropilit (10 g), pupuk urea (10 g), serta
pengikat silang yaitu gum Arab dan kolagen (5 g). Pupuk dengan
pengikat silang kolagen dan gum Arab terbukti memenuhi batas
parameter sebagai pupuk lambat lepas. Jumlah pelepasan nitrogen dari
kedua pupuk terukur tidak melebihi batas parameter nutrisi yang
terlepas yaitu kurang dari 15% nutrisi yang terkandung setelah 24 jam
dan kurang dari 75% setelah 28 hari
PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM UNTUK AIR EMBUNG DI DUSUN PEPE, KABUPATEN BOJONEGOR
Air adalah elemen yang penting yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi, dan dapat
menopang segala aktivitas manusia. Berdasarkan data BPS (2023), perhitungan cakupan
pelayanan air minum nasional pada tahun 2022 adalah 91,05%, dengan cakupan
pelayanan air di pedesaan adalah 84,93%. Jika ditinjau dari target SDG’s ke-6 tentang Air
Bersih dan Sanitasi yaitu pelayanan air bersih atau air minum harus mencapai seluruh
masyarakat yang memenuhi aspek 4K. Salah satu faktor yang mempengaruhi
ketersediaan air bersih adalah kondisi geografi daerah tersebut yang menyebabkan
sulitnya mencari sumber mata air. Dusun Pepe, Desa Nganti, Kecamatan Ngraho,
Kabupaten Bojonegoro mengalami permasalahan penyediaan air bersih. Penduduk
Dusun Pepe mengandalkan air hujan yang disimpan selama musim hujan sebagai
sumber air untuk aktivitas sehari-hari, namun belum memenuhi standar kualitas yang
ditetapkan. Air embung perlu diolah terlebih dahulu agar dapat dikonsumsi. Pengolahan
menggunakan instalasi pengoalahan air bersih yang dirancang menggunakan sistem
yang sederhana dan ekonomis untuk mengatasi kekeruhan, kadar Total Plate Count
(TPC) yang tinggi, BOD, COD, dan kadar Besi (Fe) yang sesuai dengan standar sistem
pengolahan air yang ada di PDAM.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui debit kebutuhan air bersih dengan kualitas
air minum warga Dusun Pepe untuk menentukan spesifikasi dari unit yang dirancang dan
biaya yang diperlukan untuk membangun IPAM. Metode perhitungan debit dengan
mengkalikan jumlah penduduk Dusun Pepe dengan setengah dari jumlah kebutuhan air
bersih rata-rata perhari berdasarkan Permen PUPR No.10/PRT/M/2010. Diperoleh hasil
perhitungan kebutuhan air besih warga Dusun Pepe sebanyak 524 orang adalah 18.078
liter/hari. Berdasarkan parameter yang belum memenuhi baku mutu air minum, maka unit
yang dipilih meliputi unit aerasi, unit koagulasi, flokulasi, sedimentasi, unit filtrasi, dan unit
desinfeksi. Unit aerasi berfungsi untuk menurunkan kadar besi terlarut, BOD, dan COD ini
direncanakan memiliki kedalaman 2 m, panjang bak 1,9 m, dan lebar bak 1,9 m. Unit
aerasi dilengkapi dengan pompa dengan daya minimal 166,62 watt untuk mengalirkan air
keunit. Unit koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi digabung yang berfungsi untuk
menurunkan kekeruhan, BOD, dan COD direncanakan berbentuk hexagon dengan
kedalaman 1,8 m dan panjang sisi 1,1 m. Dilengkapi dengan ruang lumpur dengan
kedalaman 0,32 m. Koagulan yang digunakan adalah tawas dengan dosis sebanyak 4-
8 mg/L. Unit filtrasi untuk menurunkan kekeruhan, besi terlarut, BOD, dan COD
direncanakan berbentuk rectangular dengan menggunakan sistem pengaliran downflow.
Direncanakan memiliki kedalaman bak 1,2 m, panjang 0,7 m, dan lebar 1 m. Media filter
yang digunakan secara berurutan yaitu ijuk, pasir silika, manganese zeolit, karbon aktif,
dan ijuk. Unit desinfeksi yang dilakukan pada reservoir langsung direncanakan berbentuk
rectangular dengan kedalaman 1 m, panjang 4,1 m, dan lebar 1,5 m. Dilengkapi dengan
valve sebanyak 3 buah dan menggunakan kaporit sebagai desinfektan. Total biaya yang
diperlukan untuk membangun IPAM adalah Rp132.625.652,20
Peningkatan Kualitas Pelayanan Penanganan Pengaduan Gangguan Pemadaman Listrik pada PT PLN (Persero) ULP Malang Kota dengan Metode Lean Six Sigma for Service
Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang bertanggung jawab
dalam menyediakan jasa berupa penyediaan tenaga listrik. Dalam menyediakan jasa tenaga
listrik, terdapat defect pelayanan berupa gangguan pemadaman listrik. Penanganan
gangguan dinilai berdasarkan waktu pelayanan penanganan yaitu response time dan
recovery time. Response time merupakan waktu yang dibutuhkan bagi perusahaan dari saat
pengaduan gangguan oleh pelanggan diterima hingga petugas sampai di lokasi gangguan.
Sedangkan recovery time adalah waktu yang dibutuhkan dari saat pengaduan gangguan oleh
pelanggan diterima hingga penanganan gangguan diselesaikan oleh petugas. Berdasarkan
data historis tahun 2023 dan pengamatan yang dilakukan, terdapat gangguan yang response
time dan recovery time yang melebihi service level agreement (SLA) yang ditetapkan oleh
perusahaan dan indikasi waste dalam penanganan gangguan pemadaman listrik.
Penelitian ini menggunakan metode lean six sigma. Pada tahap define dilakukan
identifikasi masalah, identifikasi Critical-To-Quality (CTQ), dan menjelaskan penanganan
gangguan dengan SIPOC diagram. Pada tahap measure dilakukan pembuatan value stream
mapping, perhitungan nilai DPO sebesar 0,3 untuk response time dan 0,5 untuk recovery
time, DPMO sebesar 300.000 untuk response time dan 500.000 untuk recovery time, dan
sigma level sebesar 1,93 untuk response time dan 1,5 untuk recovery time, pembuatan peta
kendali P, dan boxplot diagram.
Pada tahap analyze, dilakukan analisis service blueprint existing, identifikasi akar
penyebab masalah dengan interrelationship diagram yaitu jumlah petugas terbatas, data
lokasi yang diperoleh dari aplikasi pengaduan kurang lengkap, dan petugas menunggu
gangguan sambil berkeliling tanpa tujuan. Selain itu, dilakukan analisis 7 wastes, dan
analisis 5W+1H. Pada improve, dilakukan analisis process decision program chart (PDPC)
dengan rekomendasi perbaikan terpilih yaitu pemanfaatan teknologi DFA, pengaturan ulang
pembagian jumlah petugas di dalam tim, penggunaan WhatsApp Business, pembuatan
dashboard jumlah gangguan berdasarkan kelurahan, pemanfaatan waktu menunggu untuk
melakukan pekerjaan lain, dan penambahan fitur untuk memantau lokasi petugas
Chest Cancer Classification from Chest CT-Scan Images using Deep Learning.
Chest cancer is fatal, encompassing various tumors. This includes lung cancer as the
most common, originating from tissues of the lungs. All chest cancer types present unique
challenges, leaving individuals and healthcare professionals searching for solutions. The
conventional fight against chest cancer includes surgery to remove the cancerous tissue,
radiation therapy to target remaining cancer cells, and chemotherapy to attack cancer cells
throughout the body. While these methods have seen advancements, innovative strategies are
still required to aid doctors in classifying the different chest cancer types.
Deep learning is currently showing potential, where researchers are developing
sophisticated algorithms capable of analyzing medical images to identify subtle patterns, and
distinguish between various cancer types. These deep learning models are also characterized
as highly adaptable where they can be trained on new data and continuously improve their
classification abilities, allowing them to stay relevant in dynamic environments where image
characteristics might change over time.
This research investigated the performance of DenseNet121, a deep learning
architecture with a combination of 2 data augmentation techniques namely, albumentations
and mixup in comparison with the CNN and VGG19 models for classifying chest cancer
types based on chest CT-scan images. Four image types were classified including
adenocarcinoma, large cell carcinoma, squamous cell carcinoma and normal. Performance of
the trained models was based on accuracy, precision, recall and F1-score parameters. It was
noted that DenseNet121 with a combination of albumentations and mixup achieved the best
accuracy of 92.14% outperforming both the CNN and VGG19 models. Combining
albumentations and mixup took advantage of the strengths of both augmentation techniques
to increase the size and the diversity of training datasets. This favors regularization to solve
the overfitting challenge faced by deep learning models. However, further research is still
required to evaluate these findings on larger and other kinds of datasets and most importantly,
compare them to the real-world scenarios that might introduce variations with a wider variety
of cases
Child Development Center dengan Pendekatan Arsitektur Interaktif di Kota Malang,
Tumbuh kembang anak usia dini merupakan satu hal yang sangat penting karena
akan membentuk karakteristik dan pengetahuan dasar anak untuk kedepannya, yang mana
dalam prosesnya tidak luput dari kemungkinan terjadinya gangguan. Untuk itu, diperlukan
sebuah fasilitas tumbuh kembang anak yang mampu mengoptimalkan proses tumbuh
kembang anak di usia dini dengan mengintegrasi aspek edukasi yaitu pendidikan anak usia
dini dengan aspek psikologi yaitu klinik tumbuh kembang anak. Namun, di Kota Malang
belum tersedia fasilitas yang mengintegrasi kedua aspek tersebut, dengan kondisi eksisting
hanya setengah dari fasilitas pendidikan anak usia dini yang memenuhi standar akreditasi,
termasuk dari segi arsitekturnya. Child Development Center menjadi solusi dengan
mewadahi kebutuhan tumbuh kembang anak di Kota Malang secara terintegrasi di satu
fasilitas yang sesuai dengan standar dengan memanfaatkan implementasi kriteria Arsitektur
Interaktif, yaitu pendekatan tematik yang berfokus pada interaksi dua pihak dalam sebuah
rancangan arsitektur, baik itu interaksi antar pengguna maupun interaksi pengguna dengan
bangunan, guna menunjang proses tumbuh kembang anak, baik dari segi sosial melalui
mendorong interaksi sosial anak, maupun segi motorik dan kognitif melalui menghadirkan
interaksi anak dengan elemen arsitektur.
Perancangan dilakukan dengan pendekatan paradigma Empirisisme melalui
observasi lapangan dan sekunder guna menemukan keterkaitan sifat dan kegiatan pengguna
anak usia dini serta kondisi aspek arsitektural eksisting yang berkaitan dengan literatur
terkait fasilitas tumbuh kembang anak serta Arsitektur Interaktif. Observasi menghasilkan
bahwa sifat, karakteristik, serta kegiatan anak memiliki keterkaitan dengan Arsitektur
Interaktif, yang mana hal-hal tersebut diterjemahkan dalam bentuk arsitektur yang sesuai
untuk tumbuh kembang anak. Hasil perancangan yang menghadirkan konsep ini tidak hanya
memberi sebuah fasilitas yang lengkap untuk tumbuh kembang anak, namun juga mampu
mengoptimalkan tumbuh kembang melalui tata ruang, implementasi alat permainan edukatif
sebagai elemen arsitektural, permainan elevasi, serta bentuk bangunan, sehingga
memberikan pondasi yang kuat untuk anak menginjak proses tumbuh kembang selanjutnya
yang bertempat di jenjang pendidikan berikutnya, hingga mereka dewasa
Penerapan Gaya Arsitektur Industrial Tropis Pada Fasad Perumahan Austinville
Kebutuhan akan tempat tinggal menjadi salah satu kebutuhan dasar untuk setiap manusia.
Tempat tinggal yang paling umum digunakan adalah rumah. Kebutuhan rumah masih menjadi
permasalahan yang belum terselesaikan bagi pemerintah Indonesia sampai tahun 2022. Kota
Malang juga tidak lepas dari dampak tersebut dilihat dari jumlah penduduknya yang cukup
padat serta banyaknya pendatang dari berbagai wilayah. Aspek rumah yang diperhatikan
adalah fasad rumah yang terdapat di perumahan Austinville. Fasad dinilai dari tingkat
penereapan gaya yang diterapkan pada perumahan, yaitu gaya arsitektur industrial tropis.
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode campuran melalui observasi,
wawancara dan pembagian kuesioner ke penghuni. Variabel yang digunakan adalah elemen
fasad yang terdiri dari atap, dinding, pintu dan jendela serta elemen visual yang digunakan
untuk penilaiannya. Observasi menunjukan bahwa fasad sudah menerapkan gaya industrial
tropis, namun tidak memunculkan seluruh ciri dari gaya arsitektur industrial maupun tropis.
Untuk kuesioner, responden memberikan tanggapan bahwa penerapan gaya sudah ‘sesuai’
dilihat dari lima skala Likert dari ‘sangat tidak sesuai’ sampai ‘sangat sesuai’
Optimasi Kondisi Fermentasi pada Produksi Metabolit Sekunder Kapang Laut dari Lumpur Laut Sebagai Penghasil Anti-MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)
Kasus resistensi bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
terhadap antibiotik semakin meningkat dan menjadi perhatian yang besar dalam dunia
medis karena MRSA bersifat multi resisten terhadap beberapa antibiotik, sehingga sulit
untuk disembuhkan. Adanya kasus resistensi tersebut mendorong eksplorasi dalam
pencarian dan pengembangan sumber antibiotik baru. Senyawa bioaktif dari kapang laut
dilaporkan memiliki potensi yang cukup besar. Salah satu kapang laut dengan
keanekaragaman melimpah adalah kapang laut dari lumpur laut yang berpotensi memiliki
aktivitas antibakteri. Pada penelitian sebelumnya, telah diperoleh 3 isolat kapang laut aktif
terhadap MRSA. Namun, daya hambat yang terbentuk tergolong pada kategori lemah dan
produksi yang dihasilkan dalam jumlah sedikit. Oleh karena itu, perlunya optimasi
fermentasi meliputi sumber karbon, nitrogen, dan waktu fermentasi untuk meningkatkan
produksi metabolit sekunder kapang laut.
Proses optimasi kondisi fermentasi kapang laut dalam produksi anti-MRSA
dilakukan melalui pendekatan RSM dengan sumber karbon, nitrogen, dan waktu fermentasi
sebagai variabel dan aktivitas antibakteri serta yield extract sebagai respon. Melalui
rancangan Central Composite Design metode RSM pada Design Expert dihasilkan solusi
dari hasil optimasi dengan model kuadratik pada bobot ekstrak dan linear pada aktivitas
antibakteri, yakni konsentrasi glukosa 10,056 g/L. Konsentrasi pepton 5,402 g/L, dan waktu
fermentasi 18 hari 5 jam. Dari kombinasi beberapa percobaan yang sesuai dengan software
DX-13 akan dihasilkan nilai dugaan atau prediksi respon bobot ekstrak sebesar 228,62 mg
dan aktivitas antibakteri sebesar 12,439 mm, sedangkan nilai verifikasi dari percobaan
aktual adalah masing-masing 228,90 mg dan 12,46 mm. Perbedaan nilai prediksi dengan
data percobaan laboratorium kurang dari 5%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri isolat kapang BT 1.1 dapat sedikit meningkat
dengan mengoptimasi sumber karbon, nitrogen, dan waktu fermentasi
Pengaruh Penambahan Sukrosa Dan Yeast extract Terhadap Peningkatan Yield Lipid Pada Delignifikasi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Menggunakan Jamur Schizophyllum Commune
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi limbah utama dari industri
pengolahan kelapa sawit. Limbah TKKS memiliki komponen penyusunnya yaitu material
yang kaya unsur karbon antara lain selulosa 42,7%, hemiselulosa 27,3% dan lignin
17,2%. Kandungan TKKS yang kaya akan lignoselulosa memiliki potensi untuk
digunakan sebagai bahan baku dalam produksi salah satu jenis biomassa, yaitu biolipid.
Keunggulan produk biolipid dari mikroorganisme yaitu siklus hidup yang pendek dan
tidak membutuhkan luas lahan untuk proses produksinya..
Produksi lipid dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu, pH, induser
dan C/N rasio. Faktor utama yang digunakan dalam produksi peningkatan yield lipid
yaitu sumber karbon jenis sukrosa dan sumber nitrogen jenis yeast extract. Penelitian
ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari
percobaan dua faktor. Faktor penambahan sukrosa dan yeast extract masing�masingnya terdiri dari 3 level. Pada penelitian ini dilakukan beberapa pengujian meliputi
Total Soluble Phenol (TSP), Total Gula Reduksi (TGR), pH, susut berat, lignoselulosa
dan yield lipid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur pendegradasi lignin Schizophyllum
commune dengan penambahan sukrosa dan yeast extract terbukti mampu
meningkatkan hasil degradasi lignoselulosa TKKS. Diperoleh nilai susut berat tertinggi
sejumlah 29% dari penambahan sukrosa 30 g/L dan yeast extract 1 g/L. Nilai TGR
tertinggi sejumlah 62 mg/g diepoleh dari penambahan sukrosa 30 g/L dan yeast extract
0,5 g/L. Nilai TSP tertinggi diperoleh dari penambahan TSP sejumlah 0,23 mg/g. Nilai
pH seluruh sampel mengalami penurunan. Perlakuan terbaik pada penelitian ini, yaitu
yield lipid diperoleh nilai tertinggi sejumlah 2,75% dengan penambahan sukrosa 30 g/L
dan yeast extract 0,75 g/L dan perlakuan tersebut sebagai perlakuan terbaik. Diperoleh
kandungan degradasi lignin tertinggi sejumlah 21,96% diperoleh dari sampel kontrol
TKK
Karakterisasi Activated Micro Biochar Sekam Padi dengan Aktivator Larutan H2SO4
Produksi padi di Indonesia mengalami peningkatan dari 54.415.294 ton pada tahun
2021 menjadi 54.748.977 ton pada tahun 2022. Sekam padi terbentuk sekitar 20-30% dari
total padi yang digiling. Sekam padi memiliki kandungan selulosa, lignin dan karbon yang
tinggi sangat berpotensi untuk diproduksi menjadi biochar. Penelitian ini bertujuan untuk
mengalisis pengaruh konsentrasi H2SO4 dan lama perendaman terhadap karateristik
activated micro biochar sekam padi, serta mengetahui perlakuan terbaik dari kombinasi
kedua faktor untuk menghasilkan activated micro biochar dengan karakteristik yang lebih
baik.
Metode rancangan penelitian yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
dengan menggunakan 2 faktor yakni konsentrasi pengaktif H2SO4 dan waktu perendaman.
Konsentrasi pengaktif H2SO4 adalah 1M, 3M, dan 5M sedangkan waktu perendaman yang
digunakan adalah 12 jam, 18 jam, dan 24 jam. Analisis karakteristik activated micro biochar
dilakukan pada kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap, kadar karbon terikat, dan
daya serap iodin dengan menggunakan analisis variasi dua arah (two-way ANOVA) dengan
bantuan software SPSS. Selanjutnya, penentuan perlakuan terbaik akan dilakukan
menggunakan metode Multiple Attribute Zeleny.
Hasil penelitian menunjukkan faktor konsentrasi H2SO4 dan waktu perendaman
berpengaruh signifikan terhadap kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap, kadar
karbon terikat dan daya serap iodin. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode
Multiple Attribute Zeleny menghasilkan perlakuan dengan konsentrasi H2SO4 5M dan waktu
perendaman selama 24 jam sebagai perlakuan terbaik. Perlakuan tersebut telah memenuhi
dua dari lima parameter SNI yaitu kadar air dan kadar zat mudah menguap dengan
karakteristik kadar air (2,36%), kadar abu (47,69%), kadar zat mudah menguap (12,97%),
kadar karbon terikat (39,33%), daya serap iodin (498,04mg/g)
Efektivitas Sintesis Silika Menggunakan Metode Elektrolisis Termodifikasi Proton Exchange Membrane (PEM) dengan Variasi Voltase.
Perkembangan industri manufaktur yang semakin meningkat di Indonesia berakibat pada
tingginya kebutuhan bahan baku, salah satunya adalah silika (SiO2). Silika merupakan
material yang tersusun dari atom oksigen dan silikon. Kedua atom tersebut merupakan unsur
yang melimpah di bumi sehingga menjadikan silika menjadi salah satu senyawa yang banyak
terdapat di alam. Silika memiliki beberapa karakteristik yang unik serta memiliki beberapa
fungsi seperti sebagai material penahan panas (isolator), filler, pengontrol viskositas,
adsorben, aditif pada makanan, dan lain sebagainya. Dalam prosesnya, silika dapat
dihasilkan dari mineral, nabati, dan sintesis. Silika dari proses sintesis umumnya dihasilkan
dari tetraethyl orthosolicate (TEOS) dan tetramethyl orthosilicate (TMOS). Namun, dari
segi ekonomis penggunaan TEOS dan TMOS tidak efektif pada industri skala besar karena
harganya tinggi, sulit didapatkan, dan mempunyai sifat beracun. Waterglass (natrium silikat)
dengan rumus kimia Na2SiO3 adalah bahan alternatif yang dapat digunakan dalam
pembuatan silika. Natrium silikat merupakan salah satu senyawa yang mengandung natrium
oksida (Na2O) dan silika (SiO2). Waterglass dinilai lebih murah, mudah didapat, ramah
lingkungan, mampu menghasilkan silika dengan pori yang besar, serta mempunyai tingkat
stabilitas yang hampir sama dengan TEOS dan TMOS.
Dalam sintesis silika secara umum menggunakan metode sol-gel, hidrotermal dan
kopresipitasi. Namun, ketiga metode tersebut dinilai kurang efektif karena dalam
penerapannya untuk metode sol-gel membutuhkan prekusor berupa alkoksida seperti TEOS
dan TMOS yang merupakan bahan baku mahal. Metode hidrotermal merupakan proses yang
mahal karena bekerja dalam suhu tinggi dan waktu yang lama. Sedangkan, metode
kopresipitasi merupakan proses yang sederhana, akan tetapi produk yang dihasilkan
memiliki kemurnian rendah. Oleh karena itu, tujuan pada penelitian ini akan mengkaji terkait
sintesis silika dengan metode elektrolisis yang termodifikasi menggunakan Proton Exchange
Membrane (PEM). Dimana untuk tahapan awal dalam penelitan yaitu dilakukan preparasi
larutan waterglass yang akan dilakukan pencampuran terlebih dahulu menggunakan larutan
NaCl 15% dengan perbandingan volume 1:10 dalam satuan ml. Kemudian tahapan
selanjutnya yaitu proses elektrolisis, yang mana dalam prosesnya dilakukan perlakuan
variasi voltase sebesar 3 volt, 6 volt ,9 volt, 12 volt, dan 15 volt dengan durasi waktu
elektrolisis selama 6 jam. Partikel silika yang terbentuk di bagian anoda nantinya akan diaging dengan dua tahap, tahap pertama yaitu aging pada suhu 25°C (suhu kamar) selama 18
jam, dan aging kedua pada suhu 60°C selama 1 jam. Kemudian endapan hasil aging akan
disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 120°C selama 6 jam. Partikel silika yang
terbentuk akan dikarakterisasi dengan uji X- Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui
kristalinitas silika yang terbentuk, uji Brunauer Emmett Teller (BET) untuk mengetahui luas
permukaan, distribusi ukuran pori, ukuran pori dan volume pori silika, uji X-Ray Fluoresence
(XRF) untuk mengetahui komposisi dari silika yang dihasilkan, dan uji Scanning Electron
Microscope (SEM) untuk mengetahui morfologi permukaan silika yang terbentuk.
Hasil analisis menunjukkan nilai kristalinitas silika yang dihasilkan secara berturut-turut
yaitu 21,29%; 22,16%; 22,58%; 22,92%; dan 23,32% untuk variabel 3 volt, 6 volt, 9 volt,
12 volt, dan 15 volt. Kenaikan nilai tersebut tidak terlalu signifikan, sehingga mengindikasikan variasi voltase tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kristalinitas
silika yang dihasilkan. Variasi voltase juga tidak memberikan dampak yang signifikan
terhadap morfologi partikel silika yang dihasilkan. Dikarenakan seluruh variabel
menunjukkan morfologi yang sama yaitu berbentuk bongkahan dan teraglomerasi. Analisis
komposisi silika variabel 3 volt, 6 volt, 9 volt, 12 volt, dan 15 volt menunjukkan hasil secara
berturut-turut yaitu 73,84%; 72,95%; 73,71%; 74,32%; dan 76,27%. Penurunan persentase
komposisi silika pada variabel 6 volt terjadi karena adanya impurities pada NaCl teknis yang
digunakan. Sedangkan kenaikan persentase komposisi silika pada variabel lainnya walaupun
tidak signifikan mengindikasikan bahwa semakin tinggi voltase yang digunakan maka
komposisi silika yang dihasilkan akan semakin tinggi pula. Ditinjau dari luas permukaan
spesifik partikel silika untuk variabel 3 volt, 6 volt, 9 volt, 12 volt, dan 15 volt secara
berturut-turut yaitu 322,373 m2g-1; 344,255 m2g-1; 364,675 m2g-1; 325,221 m2g-1; dan
447,718 m2g-1. Sedangkan nilai volume pori partikel silika yang dihasilkan untuk variabel 3
volt, 6 volt, 9 volt, 12 volt, dan 15 volt secara berturut-turut adalah 0,1966 cm3g-1; 0,2030
cm3g-1; 0,2219 cm3g-1; 0,2110 cm3g-1; 0,3183 cm3g-1. Kenaikan atau penurunan volume pori
partikel akan berbanding lurus dengan nilai luas permukaan spesifik partikel yang
dihasilkan. Hasil tersebut mengisyaratkan tinggi atau rendahnya voltase yang digunakan
akan berdampak lurus dengan nilai luas permukaan spesifik dan volume pori partikel silika
yang dihasilkan. Namun, kecuali untuk voltase 12 volt yang mengalami ketidaksesuaian
yaitu penurunan pada luas permukaan spesifik dan volume pori partikel silika yang
dihasilkan. Hal tersebut disebabkan karena adanya impurities berupa senyawa logam yang
dapat menyumbat pori-pori partikel silika sehingga dapat menyebabkan penurunan volume
pori yang juga berakibat pada penurunan luas permukaan spesifik partikel silika yang
dihasilkan. Distribusi ukuran pori partikel silika yang dihasilkan secara berturut-turut yaitu
yaitu 2,44 nm; 2,36 nm; 2,43 nm; 2,59 nm; dan 2,84 nm untuk variabel 3 volt, 6 volt, 9 volt,
12 volt, dan 15 volt. Hasil tersebut menjelaskan bahwa pori-pori partikel silika berukuran
mesopori (2 – 50 nm) yang sesuai dengan grafik isoterm adsorpsi-desorpsi N2 yaitu bertipe
II dengan hysteresis loop tipe H4