University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Optimasi Formula Kopi Berbasis Biji Kurma (Phoenix dactylifera L.) dengan Penambahan Rempah (Jahe, Kayu manis, Kapulaga dan Cengkeh) Menggunakan Mixture Design D-Optimal

    No full text
    Kopi biji kurma adalah minuman yang terbuat dari biji kurma yang disangrai dan digiling mirip dengan kopi. Senyawa yang terkandung dalam biji kurma memiliki potensi untuk menjadi produk yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Namun, penelitian mengenai kopi biji kurma di Indonesia masih terbatas dan masyarakat belum banyak mengetahui formulasi serta manfaat produk ini. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan formulasi yang optimal, sehingga dapat menciptakan kopi berbasis biji kurma dengan tambahan rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, kapulaga, cengkeh, dan kopi robusta, yang tidak hanya meningkatkan rasa tetapi juga memberikan efek menyegarkan serta manfaat tambahan bagi kesehatan. Optimasi formula kopi biji kurma rempah dengan lima faktor bahan yaitu biji kurma, jahe, kayu manis, kapulaga dan cengkeh dilakukan menggunakan perangkat lunak Design Expert 13 dengan metode Mixture Design D-Optimal. Respon yang diuji adalah aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Data rata-rata yang diperoleh dianalisis dengan Design Expert 13 untuk melakukan optimasi numerik, yang menghasilkan formula optimal. Pada formula optimal dilakukan uji verifikasi secara triplo dan kemudian dilakukan karakterisasi kopi biji kurma rempah dengan parameter aktivitas antioksidan, total fenol, kadar air, kadar kafein, dan parameter sensoris, untuk membandingkan dengan kopi biji kurma rempah komersial. Hasil formula optimal kopi biji kurma rempah yang disarankan oleh Design Expert 13 adalah dengan proporsi 82% biji kurma, 5% jahe, 8% kayu manis, 4% kapulaga, dan 1% cengkeh. Formula yang diprediksi diharapkan menghasilkan aktivitas antioksidan sebesar 87,39 mg TE/100g. Verifikasi terhadap formula optimal menggunakan Paired T�Test menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara prediksi dan hasil aktual. Hasil pengujian karakteristik formulasi optimal menunjukkan aktivitas antioksidan total sebesar 85,09 mg TE/100g, inhibisi 82,69%, dan nilai IC50 sebesar 221,41 ppm, serta total fenol sebesar 35,26 mg GAE/100g dan kadar air sebesar 5,74%. Hasil uji fisik menunjukkan formula kopi biji kurma optimal memiliki warna dengan parameter L* = 38,6; a* = +12,2; b* = +24,2. Hasil uji hedonik yang melibatkan 103 panelis menunjukkan bahwa tingkat kesukaan terhadap produk kopi biji kurma rempah yang optimal adalah “agak suka”

    Pengaruh Jenis Pelarut Dan Waktu Ekstraksi Dari Mikroalga Nannochloropsis oculata Dengan Metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) Terhadap Aktivitas Antibakter

    No full text
    Nannochloropsis oculata merupakan mikroalga uniseluler yang termasuk dalam marine chlorella. Nannochloropsis oculata memiliki senyawa bioaktif seperti klorofil, karotenoid, senyawa fenolik seperti asam klorogenik, kumarin, flavonol, flavonon, flavon, asam hidrobenzoat, asam hidrosinamat, dan berbagai senyawa turunannya. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan UAE (Ultrasonic Assisted Extraction) yang merupakan ekstraksi dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik atau proses yang disebut sonikasi. Penelitian ini dilakukan sebagai tujuan dalam mengetahui pengaruh jenis pelarut (etanol, metanol, etil asetat) dan waktu ekstraksi UAE (10 menit, 20 menit, 30 menit) pada biomasa N. oculata terhadap aktivitas antibakteri, yang diuji dengan uji difusi cakram, uji konsentrasi hambat minimum (KHM), dan uji konsentrasi bunuh minimum (KBM). Penelitian dirancang menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance), dengan uji lanjut Tukey dengan taraf kepercayaan 95

    Suksesi Khamir, Bakteri dan Kapang dengan Identifikasi Secara Konvensional pada Kopi Arabika selama Fermentasi Maserasi Karbonat

    No full text
    Salah satu proses pengolahan kopi yang penting yaitu proses fermentasi. Metode fermentasi mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yang berbeda. Maserasi karbonat merupakan metode fermentasi anaerob dengan injeksi gas CO2 dalam wadah tertutup. Metode ini masih baru, sehingga belum ada penelitian mengenai metode maserasi karbonat pada fermentasi kopi. Selama fermentasi berlangsung terjadi suksesi mikroorganisme yang dapat diketahui dari jumlah koloni tiap jenis selama fermentasi pada jam tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk pendugaan genus mikroorganisme dan mengetahui kelimpahan tiap jenis dalam suksesi mikroorganisme pada kopi Arabika selama fermentasi maserasi karbonat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan perbandingan literatur dalam mengidentifikasi mikroorganisme. Langkah awal yang dilakukan yaitu pengambilan sampel ceri kopi Arabika (sampel tanpa fermentasi, fermentasi 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam), penghancuran sampel, isolasi dan inkubasi dengan inkubator aerob dan anaerob (kadar CO2 5%), lalu dilakukan uji makroskopis berupa pengamatan bentuk, margin, elevasi, kekompakan, warna, tekstur, permukaan dan diameter (mm) koloni, uji mikroskopis berupa pewarnaan gram menggunakan reagen kristal violet, etanol, iodin dan safranin untuk bakteri, pewarnaan menggunakan metylen blue untuk khamir dan penambahan aquades untuk kapang. Pada uji biokimia berupa uji H2S, uji sitrat, uji lisin, uji indol, uji MR, uji VP, uji gas untuk bakteri dan uji fermentasi gula (glukosa, galaktosa, sukrosa, laktosa, maltosa dan trehalosa) untuk khamir. Diduga terdapat genus Bacillus, Lactobacillus dan Acetobacter untuk bakteri, genus Saccharomyces dan Candida untuk khamir dan genus Mucor dan Aspergillus untuk kapang. Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni pada waktu fermentasi tertentu (0 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam) dengan metode Standart Plate Count (SPC) untuk menentukan suksesi mikroorganisme. Hasil perhitungan jumlah koloni yang pertama tumbuh yaitu khamir lalu bakteri dan terakhir kapang. Berdasarkan hasil uji identifikasi pada bakteri terdapat 3 isolat diduga termasuk genus Bacillus, 3 isolat diduga termasuk genus Lactobacillus dan 1 isolat diduga termasuk genus Acetobacter jika dilihat dari makroskopis, mikroskopis dan hasil uji biokimia. Pada khamir terdapat 6 isolat diduga termasuk genus Candida dan 2 isolat diduga termasuk genus Saccharomyces dilihat dari makroskopis, mikroskopis dan hasil uji fermentasi gula. Pada kapang 2 isolat diduga genus Aspergillus dan 1 isolat diduga genus Mucor dari segi makroskopis dan mikroskopis. Pada suksesi mikroorganisme yang mengalami pertumbuhan maksimal pada fermentasi jam ke 0 yaitu khamir, lalu bakteri pada jam ke 48 dan kapang pada jam ke 72. Pada fermentasi jam ke 0 genus yang tumbuh yaitu Bacillus, Lactobacillus, Candida dan Saccharomyces. Pada fermentasi jam ke 24 genus yang tumbuh yaitu Bacillus, Lactobacillus, Acetobacter, Candida, Saccharomyces, Aspergillus dan Mucor. Pada fermentasi jam ke 48 genus yang tumbuh yaitu Bacillus, Lactobacillus, Candida, Saccharomyces, Aspergillus dan Mucor. Pada fermentasi jam ke 72 genus yang tumbuh yaitu Bacillus, Lactobacillus, Candida, Saccharomyces dan Aspergillus. Pada fermentasi jam ke 96 genus yang tumbuh yaitu Lactobacillus, Candida dan Saccharomyces

    Produksi Bioetanol Dari Makroalga Gracillaria Sp. Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae Unggul Melalui Metode Fermentasi Bertahap

    No full text
    Minyak dan gas mendominasi sumber energi, namun produksi minyak bumi Indonesia menurun setiap tahun, memperlihatkan cadangan yang menipis. Oleh karena itu, energi alternatif seperti biofuel diperlukan. Bioetanol berdasarkan bahan bakunya dibagi menjadi empat generasi, dengan generasi ketiga menggunakan alga, seperti Gracillaria sp., yang kaya karbohidrat dan tumbuh dengan cepat di perairan indonesia. Kandungan Gracillaria sp. yang terdiri atas kadar karbohidrat sebesar 79,08 (%bk), terbubkti dapat dijadikan sumber glukosa yang dapat digunakan dalam memproduksi bioetanol. Proses hidrolisis merupakan sebuah proses perombakan karbohidrat dalam rumput laut berupa Selulosa dan Hemiselulosa, dan mengkonversinya menjadi gula sederhana yang dapat digunakan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae terimobilisasi pada proses fermentasi dan menghasilkan etanol. Hidrolisis asam merupakan proses pemutusan rantai gula kompleks dalam keadaan asam, dan dalam penelitian ini menggunakan H2SO4. Hidrolisis enzim merupakan proses pemutusan rantai gula kompleks menjadi gula sederhana menggunakan bantuan enzim selulase. Fermentasi bertahap dilakukan dengan menambahkan 5% yeast pengurai xilosa terlebih dahulu selama 5 hari kemudian ditambahkan 5% yeast pengurai galaktosa dan difermentasikan selama 5 hari. Metode ini memerlukan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan fermentasi konsorsium dimana 10% campuran yeast pengurai xilosa dan galaktosa ditambahkan kedalam media pada saat yang bersamaan. Uji fermentasi pada penelitian ini didukung oleh pengujian faktor lain yang mempengaruhi seperti OD (optical density), pH, kadar gula pereduksi, dan uji K2Cr2O7 guna mengetahui kadar bioetanol secara kualitatif. Dari uji, diketahui bahwa OD, pH, dan gula pereduksi ketiganya dipengaruhi oleh media hasil hidrolisis asam atau enzim dan juga jenis fermentasi yang dilakukannya dengan nilai ANNOVA 0,00. Selain itu, kadar etanol tertinggi didapatkan pada sampel fermentasi bertahap menggunakan media hidrolisis enzim pada jam ke�120 dengan kadar etanol sebesar 0.0006%

    Pengaruh Konsentrasi Katalis Kulit Durian (Durio Zibethinus L) dan Waktu Reakasi Transesterifikasi terhadap Kualitas Biodiesel Menggunakan Gelombang Ultrasonic Sistem Batch

    No full text
    Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi Indonesia telah menyebabkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kebutuhan energi, khususnya energi transportasi. Kebutuhan terhadap energi ini semakin meningkat, sedangkan ketersediaan bahan bakar minyak bumi terbatas dan sifatnya tidak terbarukan. Biodiesel, salah satu sumber bahan bakar alternatif, mendapat perhatian sebagai solusi. Metode transesterifikasi dipilih karena prosesnya yang cukup sederhana yaitu dengan mereaksikan trigliserida dengan alkohol membentuk metil ester asam lemak (FAME) dan gliserol sebagai produk samping. Dalam proses transesterifikasi umumnya dilakukan dengan penambahan katalis. Kulit durian yang diabukan menjadi salah satu bentuk katalis yang dapat digunakan karena memiliki beberapa kandungan pendukung seperti kalium 8,68-11,36 mgg-1, natrium 3,2-7,6 mgg-1, kalsium 2,74-3,8 mgg-1. Pada penelitian ini dilakukan dengan sistem batch dengan gelombang ultrasonik sebagai alat pendukung guna proses pengerjaan dengan waktu yang singkat. Waktu reaksi transesterifikasi dan konsentrasi katalis menjadi faktor pada penelitian ini guna mengetahui pengaruh reaksi transesterifikasi dan kualitas biodiesel. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh waktu reaksi transesterifikasi terhadap kualitas biodiesel menggunakan gelombang ultrasonic sistem batch dan mengetahui pengaruh konsentrasi katalis kulit durian terhadap kualitas biodiesel menggunakan gelombang ultrasonic sistem batch. Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu waktu reaksi dan konsentrasi katalis. Waktu reaksi transesterifikasi yang terdiri atas 4 level yaitu 2 menit, 4 menit, 6 menit, dan 8 menit dan berat katalis (% terhadap volume minyak) yang terdiri atas 3 level yaitu 2%, 3%, dan 4%. Sampel kemudian diuji dan dianalisis yield biodiesel, densitas, viskositas kinematik, dan nilai kalor. Data yang diperoleh dari eksperimen akan dievaluasi menggunakan analisis ragam atau uji ANOVA dan uji lanjut Duncan (DMRT) dengan taraf signifikansi 5%. Pada penelitian ini didapatkan perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan waktu reaksi selama 8 menit dengan konsentrasi katalis kulit durian 4%. Pada parameter uji kualitas biodiesel tersebut masing-masing mendapatkan nilai yield biodiesel berkisar pada nilai 84-89.33%, Nilai densitas biodiesel berkisar pada nilai 0.853-0.884 g/cm3, nilai viskositas kinematik berkisar pada 5.187-7.05 cSt, dan nilai kalor biodiesel sebesar 100131.92-10231.48 kal/gram

    Pengaruh Perbedaan Intensitas Injeksi CO2 Pada Fermentasi Carbonic Maceration dan Tingkat Penyangraian Terhadap Mutu Sensori Kopi Arabika Yellow Caturra

    No full text
    Beragamnya jenis kopi memunculkan citarasa kopi yang berbeda bergantung pada beberapa faktor seperti proses pengolahan, level roasting dan teknik penyeduhan yang digunakan. Salah satu teknik penyeduhan yang banyak digunakan yaitu frenchpress terutama untuk jenis kopi arabika. Pengolahan kopi arabika mulai dikembangkan menggunakan metode Carbonic Maceration. Dengan proses pengolahan dan penentuan level roasting yang sesuai dapat meningkatkan cita rasa hasil seduhan kopi. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan berupa Nested serta metode uji sensori DA (Descriptive Analysis). Faktor pertama yaitu intensitas injeksi CO2 pada proses fermentasi carbonic maceration (tanpa injeksi CO2, injeksi CO2 selama 5 menit di awal proses, dan injeksi CO2 setiap 12 jam sekali). Faktor yang kedua yaitu tiga Tingkat penyangraian yang digunakan (light, medium, dan dark). Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 perlakuan dengan masing -masing perlakukan 3 kali ulangan sehinga diperoleh 27 satuan percobaan dengan metode Penyeduhan frenchpress Analisa yang dilakukaan yaitu Analisa fisik dan kimia pada green beans sesuai dengan SNI 2907-2008. Pengujian fisik dan kimia roasted beans meliputi pH dan TDS. Pengujian sensoris menggunakan metode Descriptive Analysis (DA). Pengujian perlakuan terbaik berdasarkan uji sensori meliputi uji kadar kafein, uji asam organik, dan uji senyawa volatil. Seluruh hasil analisis yang berbeda nyata dilakukaan uji lanjut dengan Fisher’s Least Significant Difference (LSD) dengan selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan intensitas injeksi karbon dioksida berpengaruh nyata terhadap atribut TDS,pH, aftertaste roasted, body sedangkan intensitas injeksi CO2 pHaroma fruity, aftertaste fruity, body. Perlakuan terbaik dari hasil sensori diperoleh pada kopi Arabika Yellow Caturra carbonic maceration dengan sekali intensitas injeksi yang dilakukaan di awal proses fermentasi dan Tingkat penyangraian dark. Sampel perlakuan terbaik diuji kadar kafein dan didapatkan hasil 1,035, uji asam organik ditemukan 9 senyawa asam organik, uji senyawa volatil ditemukan 21 senyawa volatil

    Pengaruh Waktu Inkubasi Enzim Transglutaminase dan Sumber Pati Terhadap Karakteristik Mi Berbasis Kedelai Hitam

    No full text
    Indonesia merupakan negara pengonsumsi mi tertinggi ke-2 di dunia dengan asupan hingga`14 juta bungkus di tahun 2022 (World Instant Noodles Association, 2023). Kandungan karbohidrat dari mi cukup tinggi (di atas 50%), tetapi kandungan zat gizi seperti protein, vitamin, dan serat cukup rendah sehingga konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko permasalahan kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, dan kurang gizi. Ketergantungan masyarakat pada makanan berbasis gandum juga dapat menimbulkan permasalahan ketahanan pangan sebab Indonesia tidak mampu memproduksi gandum. Oleh sebab itu, pembuatan mi berbahan dasar selain gandum diperlukan, dan kedelai hitam menjadi pilihan yang baik dengan kecocokannya tumbuh di daerah tropis dan kandungan proteinnya yang tinggi. Namun, beberapa mi yang telah dikembangkan sebelumnya memiliki masalah berupa karakteristik fisik yang buruk seperti nilai hardness yang rendah sehingga penerimaannya menurun, oleh sebab itu dilakukan perlakuan berupa pemberian enzim transglutaminase dan penambahan sumber pati. Pemberian transglutaminase dapat membentuk ikatan silang sehingga dapat memperbaiki tekstur. Diketahui pula bahwa variasi waktu inkubasi dapat mempengaruhi karakteristik dari produk yang dihasilkan (Le et al., 2023). Perlakuan berupa penambahan tepung sagu, tapioka, dan modified cassava flour (mocaf) sebagai sumber pati juga dilakukan untuk membantu memperbaiki kualitas mi dengan cara membentuk gel saat pati tergelatinisasi sehingga membentuk struktur yang lebih padat. Tepung sagu, tapioka, dan mocaf dipilih sebab merupakan sumber pati yang banyak ditemui di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah waktu inkubasi dan jenis sumber pati berpengaruh terhadap karakteristik mi, dengan manfaat sebagai upaya pengembangan produk. Penelitian dilaksanakan dengan metode Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor berupa variasi jenis tepung campuran dan waktu inkubasi. Penambahan jenis sumber pati dilakukan dalam 4 variasi, yaitu 100% tepung kedelai, 60% tepung kedelai + 40% tepung tepung sagu, 60% tepung kedelai + 40% tepung tapioka, dan 60% tepung kedelai + 40% mocaf. Lama waktu inkubasi dilaksanakan dengan variasi 60 dan 120 menit. Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pemasakan, warna, kuat tarik, dan tekstur mi. Hasil pengujian kemudian digunakan untuk menentukan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inkubasi tidak memberikan pengaurh nyata pada perlakuan. Hal ini diduga karena inkubasi telah melewati waktu optimumnya Sementara itu, sumber pati berpengaruh signifikan terhadap waktu pemasakan, daya rehidrasi, kuat tarik, kecerahan (L*), dan empat parameter tekstur (cohesiveness, springiness, chewiness, resilience), tetapi tidak berpengaruh signifikan pada warna kemerahan (a*), kekugingan (b*), hardness, dan adhesiveness. Perlakuan terbaik adalah mi dengan bahan 60% tepung kedelai dan 40% tepung tapioka dengan inkubasi 60 menit, dengan karakteristik yaitu nilai L* 60,8, a* 5,2 b* 25,5, waktu pemasakan 4,5 menit, daya rehidrasi dan swelling index 129,1% dan 37,1%. Perlakuan ini juga memiliki parameter tekstur yaitu hardness 392 g, adhesiveness 0,087 mJ, cohesiveness 0,41, springiness 0,633, chewiness 1,013 mJ, dan resilience 0,14

    Analisis Produk Ready to Eat (RTE) Sosis Premium Mendekati Kadaluarsa (Near Expired Date) dengan Pendekatan Analisis Daya Terima Konsumen Pada PT X

    No full text
    Sejauh jaman berkembang, begitu pula dengan perkembangan bidang industri pangan. Persaingan demi persaingan bagi penggiat usaha untuk menjual produknya. Salah satu produk yang sedang tren saat ini ialah produk sosis premium. PT X sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang FnB dengan produk barunya berupa sosis premium. Dalam penjualannya sering kali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dimana banyak produk yang tidak terjual hingga mendekati kedaluwarsa (near expired date/NED) ataupun sampai kedaluwarsa. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi suatu produk hingga bisa tidak terjual sampai kedaluwarsa. Untuk itu akan dilakukan penelitian magang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan suatu produk tidak terjual hingga kedaluwarsa. Penelitian magang ini dilaksanakan di PT X, Cengkareng, Jakarta Barat selama 3 bulan (24 Juli – 1 November 2023). Pengambilan data dan observasi dilakukan di Head Office, Pabrik PT. X di Cikupa, dan gudang penyimpanan di MGM Bosco Bekasi. Adapun Tahapan magang dimulai dari observasi dan wawancara, studi literatur pendahulu, diskusi dan konsultasi, pelaksanaan penelitian, evaluasi, dan ditutup dengan penarikan kesimpulan dan pemberian saran kepada perusahaan. Kegiatan penelitian terdiri dari studi literatur, wawancara dengan pihak terkait menggunakan metode wawancara semiterstruktur, penyebaran survei kuesioner kepada penjual dan konsumen, serta pengumpulan data-data pendukung yang dapat diperoleh dari perusahaan kemudian akan dianlisis sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor internal dan eksternal yang menjadi faktor mengapa produk tersebut bisa sampai tidak terjual hingga kedaluwarsa. Hasil analisis dari data ini akan dijadikan dasaran evaluasi yang kemudian akan diberikan kembali kepada perusahaan dalam bentuk saran dan masukan sehingga diharapkan perusahaan dapat melakukan beberapa perubahan yang dapat mendukung perubahan produk menjadi lebih baik. Hasil dari kegiatan magang merupakan analisis terhadap faktor internal dan eksternal perusahaan. Pada faktor internal dilakukan terhadap data historis produk sosis premium yang mana ditemukan terutama pada rencana dan realisasi penjualan serta penurunan penjualan yang signifikan pada kuartal terakhir di tahun 2023. Sementara pada faktor eksternal dilakukan analisis terhadap minat dan daya terima konsumen pada produk sosis premium PT X dengan jumlah responden 200 orang (n=200). Adapun dari hasil pengujian, produk sosis premium belum menjadi tren yang popular di masyarakat dan daya terima serta minat konsumen yang tidak stabil terhadap produk menjadi faktor mengapa banyak produk tidak terjual hingga mendekati kadaluarsa sehingga menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Terdapat banyak ruang improvisasi bagi attribut produk untuk dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih diminati oleh masyarakat serta dapat bersaing dengan produk-produk serup

    Analisis Bahaya Paparan Kebisingan Area Spinning Workstation Putar PT. Waskita Beton Precast Tbk. Sidoarjo,

    No full text
    Penelitian ini berfokus pada area spinning workstation putar PT. Waskita Beton Precast Tbk. Sidoarjo. PT Waskita Beton Precast Plant Prambon Tbk. Sidoarjo adalah sebuah perusahaan manufaktur beton precast dan ready mix dimana proses produksi nya jelas memakan waktu dan tenaga yang besar dari pekerjanya. Proses produksi dari perusahaan ini dimulai dari workstation putar yang dimana di dalam workstation tersebut terdapat area pres, area wire cagging, area spinning, area perakitan, dan lain – lain yang bertujuan untuk memproduksi spun pile. Selain workstation pada perusahaan ini terdapat batching plant yang dimana bertujuan untuk memproduksi bahan baku ready mix atau beton cair yang sudah siap digunakan untuk cetakan yang tersedia pada perusahaan ini. Perusahaan ini memiliki 2 batching plant yaitu 60 dan 90, perbedaan dari keduanya yaitu terkait daya tahan dari beton yang akan digunakan. Pada workstation non putar pada perusahaan ini biasa untuk pembukaan dari cetakan yang sudah dibuat pada workstation atau batching plant lainnya. Area spinning memiliki kondisi kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengukuran kebisingan dengan tingkat kebisingan ekuivalen dan pemetaan titik pengukuran menggunakan teknik grid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kebisingan pada seluruh area workstation putar dan membuat noise mapping sebagai bahan evaluasi pengendalian kebisingan bagi PT. Waskita Beton Precast Tbk. Sidoarjo serta memberikan rekomendasi pengendalian terhadap perusahaan untuk mengurangi kebisingan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pengumpulan data pengukuran pada setiap titik sesuai dengan metode yang digunakan serta menghitung tingkat kebisingan ekuivalen. Pengolahan data selanjutnya m emetakan kebisingan dari hasil ukuran kebisingan yang sudah dihitung dengan tingkat kebisingan ekuivalen. Hasil dari pemetaan kebisingan yang sudah dilakukan belum sesuai dengan Nilai Ambang Batas. Rekomendasi pengendalian yang diberikan menggunakan hirarki pengendalian yang terdiri dari eliminasi, subtitusi, rekayasa teknik, administrasi, dan alat pelindung diri

    “Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Proyek IUWASH PLUS di Desa Pakiskembar” in

    No full text
    SAID IUWASH PLUS merupakan sebuah inisiatif lima tahun delapan bulan yang dirancang untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses terhadap pasokan air dan layanan sanitasi serta peningkatan perilaku kebersihan utama di kalangan masyarakat miskin dan rentan perkotaan. Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah yang termasuk dalam proyek IUWASH PLUS. Proyek IUWASH PLUS di Desa Pakiskembar terbilang sukses dengan adanya keberlanjutan dan kelanjutan Upaya Masyarakat di bidang air dan sanitasi. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat melihat Tingkat partisipasi Masyarakat Desa Pakiskembar di dalam proyek tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan konsep Ladder of Citizen Participation oleh Sherry R. Arnstein dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif dan metode pengumpulan data dengan wawancara dan studi Pustaka

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇