University of Brawijaya

bkg
Not a member yet
    137686 research outputs found

    Representasi Arsitektur pada City Branding Kabupaten Banyuwangi dalam Menciptakan Identitas Kota yang Baru,

    No full text
    City branding merupakan cara suatu kota mempromosikan identitasnya yang memunculkan citra tertentu. Banyuwangi yang sebelumnya dikenal sebagai “kota santet” mem-branding kotanya sebagai Kota Pariwisata melalui representasi arsitektur untuk mengubah citra negatif. Telah banyak penelitian yang mengkaji mengenai city branding, identitas kota, citra kota, maupun representasi arsitektur tetapi belum ada yang secara spesifik mengaitkan seluruhnya sehingga penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan penelitian bagaimana city branding Banyuwangi menggunakan representasi arsitektur dalam mengubah identitasnya. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, dilakukan wawancara dengan arsitek langsung selama proses branding Banyuwangi dan observasi serta dokumentasi pada karya-karya arsitektur yang menjadi komunikasi city branding. Karya arsitektur yang digunakan sebagai unit amatan dipilih berdasarkan kategori komunikasi citra kota primer-spasial yaitu infrastruktur yang telah terbangun selama periode Bupati Azwar Anas (2010-2021), diantaranya Pendopo Sabha Swagata, Bandara Banyuwangi, Grand Watu Dodol (GWD); dan lanskap yaitu Taman Blambangan Banyuwangi, dan Taman Gandrung Terakota (TGT). Temuan setelah menganalisis data menggunakan inductive coding dibahas menggunakan narrative tools. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan dan branding kota melalui arsitektur yang sederhana namun bermakna seperti Pendopo Sabha Swagata, Bandara Banyuwangi, menunjukkan bahwa peningkatan ekonomi tidak memerlukan arsitektur yang megah dan mahal. Representasi arsitektur Banyuwangi pada ruang publik yang dekat dengan masyarakat seperti Taman Blambangan, GWD dan TGT berhasil merubah mindset lokal dan non-lokal, mendukung city branding sebagai kota wisata-budaya. Temuan ini dapat menjadi "Banyuwangi Effect" bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengembangkan strategi city branding melalui arsitektur yang berbasis pada identitas loka

    Tempat Evakuasi Akhir dengan Pendekatan Arsitektur Tanggap Darurat di Kabupaten Lumajang,

    No full text
    Tempat evakuasi akhir (TEA) di Kabupaten Lumajang menjadi jawaban dari permasalahan kondisi tempat pengungsian di Indonesia yang kebanyakan jauh dari standar tempat pengungsian. Dalam perancangannya, TEA harus dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dasar penggunanya secara layak dan tentunya menjadi area/bangunan yang paling aman dari situasi darurat akibat bencana yang sukar untuk diprediksi kedatangannya. Pemilihan lokasi di Kabupaten Lumajang didasari oleh potensi ancaman bencana yang ada pada daerah tersebut yaitu terdapat 11 dari 13 jenis bencana yang ada di Indonesia. Metode perancangan yang akan digunakan adalah metode pragmatis yang melalui proses pencarian beberapa alternatif dan eksplorasi bentuk. Dalam mendesain TEA didasari oleh teori arsitektur tanggap darurat sesuai dengan potensi ancaman bencana yang ada di tapak. Tapak berlokasi di Kecamatan Lumajang, sehingga perancangan akan dilandasi oleh aspek tanggap darurat gempa bumi, banjir, cuaca ekstrem (hujan deras dan angin kencang), serta prinsip keselamatan, perlindungan terhadap bahaya kebakaran, dan evakuasi. Hasil perancangan berupa area TEA yang terdiri atas massa utama bangunan yang memiliki fungsi sebagai tempat pengungsian dan ruang terbuka hijau (RTH) yang dapat digunakan sebagai area resource center (penggerak ekonomi pada tapak). Area resource center juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi dalam bentuk camp/tenda apabila kapasitas di dalam bangunan TEA telah membeludak. Standar TEA yang diterapkan meliputi aspek arsitektural, persyaratan lokasi, dan sarana prasarana. Prinsip arsitektur tanggap darurat diterapkan pada aspek struktural dan nonstruktural (elemen arsitektural dan mechanical electrical and plumbing/MEP) dalam bangunan dan tapak. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa area TEA ini merupakan tempat paling aman bagi korban bencana untuk mengungsi dan hidup sementara dengan layak

    Analisis Kapasitas Momen Nominal Profil pada Kondisi Strain Hardening.

    No full text
    Baja merupakan material yang sangat umum digunakan dalam dunia konstruksi. Sifat material yang unggul menahan kuat tekan beban dan tarik membuat material baja sering digunakan. Tidak hanya itu , instalasi yang lebih efisien dalam hal waktu membuat baja menjadi material yang sering digunakan untuk sebuah konstruksi yang membutuhkan waktu yang lebih pendek. Dalam material baja terdapat 3 zona yaitu zona elastis, zona plastis , dan zona strain hardening. Pada analisis zona plastis yang disebut analisis plastis, baja dianggap seolah-olah mengalami keadaan plastis hingga putus. Pada kenyataannya masih ada zona strain hardening yang terjadi pada material baja dengan efek terjadi peningkatan tegangan . Hal ini yang mendasari analisis ini untuk mencoba menganalisis seberapa besar peningkatan kapasitas momen nominal yang terjadi pada baja jika memperhitungkan kondisi strain hardening. Pada analisis ini dilakukan analisis kapasitas momen nominal pada kondisi elastis, kondisi strain hardening, dan kondisi putus. Grafik hubungan tegangan dan regangan yang digunakan menggunakan mutu Q335B dengan nilai tegangan leleh sebesar 384 MPa. Profil yang digunakan pada analisis ini adalah WF dengan dimensi 200.100.5,5.8. Pada grafik hubungan tegangan dan regangan , ditentukan 7 titik tinjau dari kondisi elastis hingga kondisi putus guna menyederhanakan grafik tegangan yang awalnya kurvatur menjadi multilinier. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa kapasitas momen nominal yang didapat pada kondisi elastis adalah 67,6198 kNm. Pada kondisi strain hardening, kapasitas momen nominal yang didapat adalah 108,2785 kNm. Pada kondisi putus, kapasitas momen nominal yang didapat adalah 108,2945 kNm. Peningkatan kapasitas momen nominal yang terjadi dari kondisi elastis ke kondisi strain hardening yaitu 60,1283%. Sedangkan peningkatan kapasitas momen nominal yang terjadi dari kondisi elastis ke kondisi putus yaitu 60,1521%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar regangan yang terjadi pada baja, semakin besar juga kapasitas momen nominal yang dapat ditahan oleh profil

    Pengaruh Variasi Suhu Lingkungan dan Beban Pendingin Terhadap Performa Kotak Pendingin TEC1-12706.

    No full text
    Perkembangan sektor industri masa kini meningkatkan konsumsi energi global, termasuk untuk sistem refrigerasi. Sistem refrigerasi yang paling umum adalah sistem refrigerasi uap yang menggunakan chlorofluorocarbon (CFC) yang berdampak negatif pada lingkungan. Alternatifnya adalah pendingin thermoelectric converter (TEC). TEC bekerja dengan arus listrik pada elemen semikonduktor tipe-p dan tipe-n, yang memindahkan panas dari sisi dingin ke sisi panas untuk dibuang. Efisiensi TEC diukur dengan Coefficient of Performance (COP), yang menunjukkan jumlah panas yang diserap dibandingkan daya listrik yang digunakan. Efisiensi ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan beban pendingin. Penelitian diperlukan untuk memahami pengaruh suhu lingkungan dan beban pendingin terhadap kinerja kotak pendingin TEC dengan mengamati dan menganalisis temperatur dan nilai COP yang dihasilkan. Pada penelitian ini, digunakan kotak pendingin dengan ukuran 32,5x22,5x28,5 cm yang memiliki polyurethane foam sebagai isolator termal, 4 buah modul TEC1- 12706, 4 buah heat sink dan kipas berukuran besar untuk sisi panas, 4 buah heat sink dan kipas berukuran kecil untuk sisi dingin, 2 buah power supply, 3 buah termometer digital, 2 buah thermocouple type K, thermal paste, dan wadah plastik sebagai wadah bagi beban pendingin berupa akuades. Penelitian dilakukan dalam waktu 90 menit dengan variasi suhu lingkungan yaitu 18°C, 22°C, 26°C, dan 30°C, serta variasi jumlah beban pendingin, yaitu 0 mL, 500 mL, dan 1000 mL. Pengukuran temperatur dilakukan setiap 5 menit dengan melakukan pengecekan suhu lingkungan, heat sink sisi dingin, heat sink sisi panas, ruangan kotak pendingin, serta beban pendingin untuk mengamati perubahan temperatur yang terjadi serta mengetahui nilai COP yang dihasilkan. Setelah dilakukan pengolahan data, didapatkan bahwa suhu lingkungan yang lebih rendah akan menghasilkan suhu yang lebih rendah dan nilai COP yang lebih baik, dimana pada suhu lingkungan 18°C, 22°C, 26°C, dan 30°C secara berurutan menghasilkan suhu akhir 15,6℃; 16℃; 22,3℃ dan 24,5℃. Nilai COP aktual secara berurutan yakni 0,704; 0,700; 0,697 dan 0,684. Sedangkan beban pendingin yang lebih besar jumlahnya akan menghasilkan suhu akhir yang lebih tinggi dan nilai COP yang lebih buruk, yaitu Pada suhu lingkungan 18℃ dengan variasi beban pendingin 0, 500, dan 1000 mL temperatur yang dihasilkan kotak pendingin secara berurutan yaitu 15,6℃; 16℃ dan 16,7℃. Nilai COP secara berurutan yakni 0,704; 0,697 dan 0,694

    Strategi Penerapan Adaptive Reuse Pada Bangunan Fendi’s Homestay Malang

    No full text
    Kota Malang mengalami perkembangan pesat pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sehingga sampai saat ini masih banyak ditemukan bangunan bersejarah khas kolonial Belanda sebagai warisan budaya yang seharusnya dilindungi. Kondisi pada bangunan bersejarah tersebut beragam, tidak sedikit yang terbengkalai dan beberapa lainnya mulai diupayakan untuk dikonservasi. Adaptive reuse merupakan salah satu upaya pelestarian cagar budaya dengan mengalihkan peran fungsi lama bangunan menjadi fungsi yang lebih baik dan bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi penerapan adaptive reuse pada bangunan Fendi’s Homestay sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Malang yang awalnya berupa rumah tinggal dan telah beralih fungsi menjadi homestay. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study) digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penerapan adaptive reuse berdasarkan teori strategi desain adaptive reuse beserta teknik renovasi dalam transformasi bangunannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fendi’s Homestay mengalami strategi installation tingkat 4 di tahun 2007 dan strategi insertion tingkat 7 di tahun 2013. Teknik renovasi pada bangunan induk cenderung diterapkan secara semi permanen dan berupa penambahan yang tidak merusak struktur ataupun mengancam keaslian bangunan. Pada bangunan baru, teknik renovasi diterapkan seoptimal mungkin untuk mengakomodasi fungsi baru dengan mengutamakan kenyamanan pengguna

    Kesesuaian Aksesibilitas Kesesuaian Aksesibilitas Bagi Penyandang Tunadaksa Pengguna Kursi Roda Pada Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya ,

    No full text
    Masjid Raden Patah (MRP) merupakan salah satu fasilitas keagamaan di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Universitas Brawijaya merupakan perguruan tinggi yang sudah menerapkan kebijakan kampus inklusif sejak tahun 2012. Karena itu, sudah semestinya Fasilitas yang ada pada Universitas Brawijaya menyediakan aksesibilitas yang ramah disabilitas dan sesuai dengan standar pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kesesuaian aksesibilitas pada Masjid Raden Patah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif menggunakan pendekatan studi kasus dengan Masjid Raden Patah sebagai objek penelitian. Strategi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melakukan skoring terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kesesuaian sesuai dengan standar yang berlaku yaitu Permen PUPR Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung, kemudian melakukan simulasi dengan partisipan yaitu salah satu jamaah penyandang disabilitas pengguna kursi roda sesuai rute aktivitas yang sering dilewati untuk mengetahui hambatan dan kesesuaian yang dirasakan oleh partisipan. Hasil analisis yang didapatkan dari mengkomparasikan hasil pengukuran elemen fisik dan fasilitas terpilih dengan standar, didapatkan persentase rata-rata sebesar 55% dan masuk kedalam kategori cukup sesuai. Kemudian, setelah dilakukan simulasi bersama partisipan, didapatkan hasil bahwa masih terdapat beberapa hambatan yang dialami oleh partisipan pada elemen sirkulasi dan fasilitas yang sudah sesuai menurut standar Dari kedua hasil analisis yang sudah dilakukan, didapatkan bahwa mayoritas elemen fisik dan fasilitas pada Masjid Raden Patah yang menjadi unit amatan di Masjid Raden Patah masih dianggap tidak cukup sesuai, dan hanya ruang salat diantara unit amatan lainnya yang dikategorikan sangat sesuai dan ramah terhadap penyandang disabilitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikator yang mungkin perlu diperbarui dan memerlukan perhatian dan perawatan yang berlebih. Namun, salah satu faktor ketidaksesuaian yang ada pada Masjid Raden Patah juga kemungkinan berasal dari pembangunan masjid yang dilakukan sebelum standar peraturan tersebut disahkan

    Perancangan Balai Latihan Kerja dengan Konsep Resilience Architecture di Bumi Semeru Damai,

    No full text
    Bencana dapat diartikan sebagai peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, sering dalam bentuk terganggunya kestabilan perekonomian ataupun peningkatan pengangguran ditengah komunitas. Kabupaten lumajang tercatat sebagai satu wilayah yang sering dilanda bencana alam, khususnya akibat meletusnya gunung Semeru. Akibat letusan Desember 2022, sejumlah lebih dari 2000 keluarga telah dipindahkan ke tempat domisili baru yang lebih aman, kawasan Bumi Semeru Damai. Pemindahan komunitas dalam jumlah besar tersebut berujung pada tercabutnya mata penghasilan asli masyarakat pada awalnya yakni pertanian yang tidak dijumpai dilokasi domisili baru tersebut. Masyarakat terdampak ini membutuhkan jenis mata pencaharian baru untuk memulai kehidupan barunya, keberadaan fasilitas Balai Latihan Kerja dinilai sangat mendesak sebagai upaya pembekalan ketrampilan bekal penghidupan warga terdampak tersebut. Konsep resilience architecture dipilih sebagai konsep dasar desain bangunan balai latihan kerja konstekstual terhadap lingkungan baru tersebut. Sedangkan pendekatan empirisme dilakukan untuk menentukan berbagai kriteria desain. Balai Latihan Kerja mewadahi pelatihan keterampilan di beberapa kejuruan pada tingkat kompetensi kerja. Kejuruan yang tersedia berupa kerjuruan Processing, Pariwisata, Teknologi Informasi dan Komunikasi, dan Tata Busana. Kajian aspek resilience architecture dilakukan berdasarkan literatur utama yaitu Istiadji, dkk (2018) sebagai landasan dalam observasi. Terdapat empat prinsip pada konsep ini, yaitu responsive, adaptive, absorptive, dan recovery. Keempat prinsip tersebut diterapkan pada desain Balai Latihan Kerja yang menghasilkan bangunan yang siaga dan tahan terhadap potensi ancaman bencana getaran tanah dan sebaran abu vulkanik di Bumi Semeru Damai, sebagai lokasi perancangan

    SPA & Wellness center di Kota Batu dengan Konsep Arsitektur Bioklimatik,

    No full text
    Pola hidup masyarakat modern saat ini penuh dengan aktifitas, cepat, dan sistematis dan menuntut masyarakat untuk selalu memiliki kondisi fisik dan mental yang optimal, kondisi tersebut bisa didapatkan melalui aktivitas relaksasi, meditasi, dan olah fisik. Wellness menjadi istilah yang tepat karena wellness merujuk pada kondisi kesehatan fisik dan mental seseorang, yang melibatkan pemeliharaan dan peningkatan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Sejak tahun 2017, Kemenparekraf telah mengembangkan wellness tourism dengan salah satu fokus utama yaitu usaha SPA dan Wellness center. Dalam perkembangannya, SPA membutuhkan diferensiasi produk, keberadaan fasilitas SPA akan lebih menarik apabila disandingkan dengan Wellness center. SPA & Wellness center dirancang pada tapak kosong seluas ± 3,9 ha di Jalan Sultan Agung No.20, Kel. Sisir, Kota Batu, Jawa Timur. Penerapan konsep bioklimatik selaras dengan salah satu prinsip pembentuk wellness yaitu untuk menciptakan lingkungan yang sehat, serta sebagai solusi terhadap kondisi alam Kota Batu. Penerapan konsep bioklimatik berpedoman pada 6 prinsip arsitektur bioklimatik oleh Kenneth Yeang. Dalam proses perancangan, SPA & Wellness center menggunakan pendekatan desain strukturalisme dengan strategi desain analisis pola (pattern analysis). Pendekatan desain strukturalisme bertujuan untuk mendapatkan tipologi persamaan dan perbedaan terhadap objek studi berdasarkan aspek-aspek yang diperlukan dan memunculkan taksonomi desain yang dikembangkan menjadi kriteria desain. Objek studi SPA terdiri dari 3 objek studi, yaitu Mango Bay Resort SPA, Babylon Garden SPA, dan Thermal Vals. Sedangkan objek studi Wellness center terdiri dari 3, yaitu Mashouf Wellness center, Lone Tree Wellness center, dan West Lafayette Wellness center

    Pengaruh Limbah Carageenan pada Campuran Asphalt Concrete Base Course (AC-BC) dengan Asbuton B 50/30 terhadap Karakteristik Marshall

    No full text
    Kebutuhan aspal minyak untuk perkerasan jalan sekitar 1,2 juta ton setiap tahun, tetapi aspal nasional belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga diimpor. Padahal, Indonesia memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia, yaitu Asbuton dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, dengan cadangan lebih dari 670 juta ton dan kadar bitumen 15%-35%, setara dengan 170 juta ton aspal minyak. Produk Asbuton yang beredar termasuk Asbuton B 50/30 yang tetap memerlukan tambahan aspal pen 60/70 sebelum digunakan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan Aspal Buton untuk menggantikan aspal minyak dan memeriksa pengaruh limbah karagenan terhadap karakteristik Marshall dari campuran laston lapis antara asbuton (AC-BC Asb). Selain itu, penelitian ini berupaya menentukan kadar limbah karagenan optimum untuk mencapai karakteristik campuran yang optimal. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium. Tahap pertama melibatkan pengujian sifat fisik setiap material yang digunakan, mengacu pada Spesifikasi Bina Marga 2018. Penelitian dimulai dengan menentukan Kadar Aspal Optimum (KAO) dari campuran aspal minyak dan aspal buton. Selanjutnya, limbah karagenan yang telah diangin-anginkan ditambahkan dalam rentang kadar 5%-9%. Analisis statistik data dilakukan melalui beberapa tahap, termasuk pengujian normalitas, pengujian homogenitas, one way ANOVA, dan uji Tukey. Hasil pemeriksaan sifat fisik dari bahan material menunjukkan bahwa semuanya sesuai dengan spesifikasi Bina Marga. Dari pengujian dan analisis data, penambahan limbah karagenan ditemukan mempengaruhi karakteristik Marshall campuran. Kadar limbah karagenan optimum yang diperoleh adalah 7,25% dari kadar aspal. Pada kadar optimum ini, dibandingkan dengan campuran tanpa limbah karagenan, terdapat peningkatan nilai stabilitas sebesar 91,56%, nilai VIM sebesar 19,04%, dan nilai VMA sebesar 3,42%. Sementara itu, nilai VFB mengalami penurunan sebesar 3,42%, dan kelelehan menurun sebesar 9,57%, namun semua karakteristik marshall di penelitian ini tetap memenuhi kriteria pengujian Spesifikasi Bina Marga 2018. Secara keseluruhan, penambahan limbah karagenan pada campuran AC-BC Asbuton B 50/30 berdampak signifikan pada sebagian besar karakteristik Marshall, kecuali pada nilai Flow dan MQ. Variasi kadar limbah karagenan menunjukkan perbedaan yang signifikan pada beberapa karakteristik, menunjukkan bahwa proporsi limbah karagenan dalam campuran dapat dioptimalkan untuk mencapai sifat yang diinginkan sebagai Laston Lapis Antara (AC-BC)

    Analisis Potensi Bahaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Proses Pengupasan Tanah Penutup (Overburden) Dengan Metode HIRARC Dan FTA (Studi Kasus: PT. Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) Jobsite Insani Baraperkasa)

    No full text
    PT. Bukit Makmur Mandiri Utama atau yang sering disebut BUMA merupakan kontraktor pertambangan batubara terbesar kedua di Indonesia yang beroperasi secara independent. Saat ini, BUMA menyediakan jasa bagi sepuluh pelanggan untuk dua belas lokasi tambang melalui kontrak-kontrak jangka panjang di pulau kalimantan, salah satunya yaitu PT. Insani Baraperkasa. Bisnis proses BUMA Jobsite Insani Baraperkasa hanya melakukan kegiatan dari pembersihan lahan (land clearing), pengupasan tanah pucuk (top soill), dan pengupasan tanah penutup (overburden). Berdasarkan data dari BUMA Jobsite Insani Baraperkasa masih terdapat kecelakaan kerja yang terjadi selama tahun 2023 dan menyebabkan kerugian yang besar bagi Perusahaan. Penyebab kecelakaan ini beragam, mulai dari faktor kesalahan manusia, kerusakan unit, dan lingkungan tambang. Pada penelitian ini, analisis potensi bahaya keselamatan dan Kesehatan kerja pada proses pengupasan tanah penutup (overburden) menggunakan metode hazard indentification, risk assessment, and risk control (HIRARC) untuk mengidentifikaasi bahaya dan risiko, serta melakukan pengendalian. Selain itu, dilakukan juga metode fault tree analysis (FTA) untuk mengidentifikasi akar penyebab dari risiko yang dinilai extreme dan harus dilakukan pengendalian yang tepat. Hasil penelitian dengan metode HIRARC, pada aktivitas loading overburden terdapat 14 risiko pada risk level extreme, 4 risiko pada risk level high, dan 1 risiko pada risk level medium. Kemudian pada aktivitas hauling overburden terdapat 14 risiko pada risk level extreme, 6 risiko pada risk level high, dan 2 risiko pada risk level medium. Terakhir pada aktivitas dumping overburden terdapat 14 risiko pada risk level extreme, 6 risiko pada risk level high, dan 2 risiko pada risk level medium. Kemudian pada risiko dengan risk level extreme dilakukan analisis FTA dan diperoleh hasil pada risiko unit terbakar diperoleh minimal cut set ada 2 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terbakar. Kemudian pada risiko unit terguling diperoleh minimal cut set ada 12 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terguling. Kemudian pada risiko unit tergelincir diperoleh minimal cut set ada 10 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit tergelincir. Kemudian pada risiko unit terperosok diperoleh minimal cut set ada 11 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terperosok. Terakhir pada risiko gangguan pendengaran diperoleh minimal cut set ada 5 kejadian dasar (basic event ) yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran

    80,320

    full texts

    137,686

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    bkg
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇