137686 research outputs found
Sort by
Representasi Arsitektur pada City Branding Kabupaten Banyuwangi dalam Menciptakan Identitas Kota yang Baru,
City branding merupakan cara suatu kota mempromosikan identitasnya
yang memunculkan citra tertentu. Banyuwangi yang sebelumnya dikenal sebagai
“kota santet” mem-branding kotanya sebagai Kota Pariwisata melalui representasi
arsitektur untuk mengubah citra negatif. Telah banyak penelitian yang mengkaji
mengenai city branding, identitas kota, citra kota, maupun representasi arsitektur
tetapi belum ada yang secara spesifik mengaitkan seluruhnya sehingga penelitian
ini mencoba menjawab pertanyaan penelitian bagaimana city branding
Banyuwangi menggunakan representasi arsitektur dalam mengubah identitasnya.
Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, dilakukan wawancara dengan
arsitek langsung selama proses branding Banyuwangi dan observasi serta
dokumentasi pada karya-karya arsitektur yang menjadi komunikasi city branding.
Karya arsitektur yang digunakan sebagai unit amatan dipilih berdasarkan kategori
komunikasi citra kota primer-spasial yaitu infrastruktur yang telah terbangun
selama periode Bupati Azwar Anas (2010-2021), diantaranya Pendopo Sabha
Swagata, Bandara Banyuwangi, Grand Watu Dodol (GWD); dan lanskap yaitu
Taman Blambangan Banyuwangi, dan Taman Gandrung Terakota (TGT). Temuan
setelah menganalisis data menggunakan inductive coding dibahas menggunakan
narrative tools.
Hasil penelitian menunjukkan pembangunan dan branding kota melalui
arsitektur yang sederhana namun bermakna seperti Pendopo Sabha Swagata,
Bandara Banyuwangi, menunjukkan bahwa peningkatan ekonomi tidak
memerlukan arsitektur yang megah dan mahal. Representasi arsitektur Banyuwangi
pada ruang publik yang dekat dengan masyarakat seperti Taman Blambangan,
GWD dan TGT berhasil merubah mindset lokal dan non-lokal, mendukung city
branding sebagai kota wisata-budaya. Temuan ini dapat menjadi "Banyuwangi
Effect" bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengembangkan strategi city
branding melalui arsitektur yang berbasis pada identitas loka
Tempat Evakuasi Akhir dengan Pendekatan Arsitektur Tanggap Darurat di Kabupaten Lumajang,
Tempat evakuasi akhir (TEA) di Kabupaten Lumajang menjadi jawaban dari
permasalahan kondisi tempat pengungsian di Indonesia yang kebanyakan jauh dari standar
tempat pengungsian. Dalam perancangannya, TEA harus dapat mengakomodasi
kebutuhan-kebutuhan dasar penggunanya secara layak dan tentunya menjadi area/bangunan
yang paling aman dari situasi darurat akibat bencana yang sukar untuk diprediksi
kedatangannya. Pemilihan lokasi di Kabupaten Lumajang didasari oleh potensi ancaman
bencana yang ada pada daerah tersebut yaitu terdapat 11 dari 13 jenis bencana yang ada di
Indonesia.
Metode perancangan yang akan digunakan adalah metode pragmatis yang melalui
proses pencarian beberapa alternatif dan eksplorasi bentuk. Dalam mendesain TEA didasari
oleh teori arsitektur tanggap darurat sesuai dengan potensi ancaman bencana yang ada di
tapak. Tapak berlokasi di Kecamatan Lumajang, sehingga perancangan akan dilandasi oleh
aspek tanggap darurat gempa bumi, banjir, cuaca ekstrem (hujan deras dan angin kencang),
serta prinsip keselamatan, perlindungan terhadap bahaya kebakaran, dan evakuasi.
Hasil perancangan berupa area TEA yang terdiri atas massa utama bangunan yang
memiliki fungsi sebagai tempat pengungsian dan ruang terbuka hijau (RTH) yang dapat
digunakan sebagai area resource center (penggerak ekonomi pada tapak). Area resource
center juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi dalam bentuk camp/tenda apabila
kapasitas di dalam bangunan TEA telah membeludak. Standar TEA yang diterapkan
meliputi aspek arsitektural, persyaratan lokasi, dan sarana prasarana. Prinsip arsitektur
tanggap darurat diterapkan pada aspek struktural dan nonstruktural (elemen arsitektural dan
mechanical electrical and plumbing/MEP) dalam bangunan dan tapak. Sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwa area TEA ini merupakan tempat paling aman bagi korban
bencana untuk mengungsi dan hidup sementara dengan layak
Analisis Kapasitas Momen Nominal Profil pada Kondisi Strain Hardening.
Baja merupakan material yang sangat umum digunakan dalam dunia konstruksi.
Sifat material yang unggul menahan kuat tekan beban dan tarik membuat material baja
sering digunakan. Tidak hanya itu , instalasi yang lebih efisien dalam hal waktu membuat
baja menjadi material yang sering digunakan untuk sebuah konstruksi yang membutuhkan
waktu yang lebih pendek. Dalam material baja terdapat 3 zona yaitu zona elastis, zona
plastis , dan zona strain hardening. Pada analisis zona plastis yang disebut analisis plastis,
baja dianggap seolah-olah mengalami keadaan plastis hingga putus. Pada kenyataannya
masih ada zona strain hardening yang terjadi pada material baja dengan efek terjadi
peningkatan tegangan . Hal ini yang mendasari analisis ini untuk mencoba menganalisis
seberapa besar peningkatan kapasitas momen nominal yang terjadi pada baja jika
memperhitungkan kondisi strain hardening.
Pada analisis ini dilakukan analisis kapasitas momen nominal pada kondisi elastis,
kondisi strain hardening, dan kondisi putus. Grafik hubungan tegangan dan regangan yang
digunakan menggunakan mutu Q335B dengan nilai tegangan leleh sebesar 384 MPa. Profil
yang digunakan pada analisis ini adalah WF dengan dimensi 200.100.5,5.8. Pada grafik
hubungan tegangan dan regangan , ditentukan 7 titik tinjau dari kondisi elastis hingga kondisi
putus guna menyederhanakan grafik tegangan yang awalnya kurvatur menjadi multilinier.
Hasil dari analisis menunjukkan bahwa kapasitas momen nominal yang didapat pada
kondisi elastis adalah 67,6198 kNm. Pada kondisi strain hardening, kapasitas momen
nominal yang didapat adalah 108,2785 kNm. Pada kondisi putus, kapasitas momen nominal
yang didapat adalah 108,2945 kNm. Peningkatan kapasitas momen nominal yang terjadi dari
kondisi elastis ke kondisi strain hardening yaitu 60,1283%. Sedangkan peningkatan
kapasitas momen nominal yang terjadi dari kondisi elastis ke kondisi putus yaitu 60,1521%.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar regangan yang terjadi pada baja, semakin besar
juga kapasitas momen nominal yang dapat ditahan oleh profil
Pengaruh Variasi Suhu Lingkungan dan Beban Pendingin Terhadap Performa Kotak Pendingin TEC1-12706.
Perkembangan sektor industri masa kini meningkatkan konsumsi energi global,
termasuk untuk sistem refrigerasi. Sistem refrigerasi yang paling umum adalah sistem
refrigerasi uap yang menggunakan chlorofluorocarbon (CFC) yang berdampak negatif
pada lingkungan. Alternatifnya adalah pendingin thermoelectric converter (TEC). TEC
bekerja dengan arus listrik pada elemen semikonduktor tipe-p dan tipe-n, yang
memindahkan panas dari sisi dingin ke sisi panas untuk dibuang. Efisiensi TEC diukur
dengan Coefficient of Performance (COP), yang menunjukkan jumlah panas yang
diserap dibandingkan daya listrik yang digunakan. Efisiensi ini dipengaruhi oleh suhu
lingkungan dan beban pendingin. Penelitian diperlukan untuk memahami pengaruh suhu
lingkungan dan beban pendingin terhadap kinerja kotak pendingin TEC dengan
mengamati dan menganalisis temperatur dan nilai COP yang dihasilkan.
Pada penelitian ini, digunakan kotak pendingin dengan ukuran 32,5x22,5x28,5
cm yang memiliki polyurethane foam sebagai isolator termal, 4 buah modul TEC1-
12706, 4 buah heat sink dan kipas berukuran besar untuk sisi panas, 4 buah heat sink dan
kipas berukuran kecil untuk sisi dingin, 2 buah power supply, 3 buah termometer digital,
2 buah thermocouple type K, thermal paste, dan wadah plastik sebagai wadah bagi beban
pendingin berupa akuades. Penelitian dilakukan dalam waktu 90 menit dengan variasi
suhu lingkungan yaitu 18°C, 22°C, 26°C, dan 30°C, serta variasi jumlah beban
pendingin, yaitu 0 mL, 500 mL, dan 1000 mL. Pengukuran temperatur dilakukan setiap
5 menit dengan melakukan pengecekan suhu lingkungan, heat sink sisi dingin, heat sink
sisi panas, ruangan kotak pendingin, serta beban pendingin untuk mengamati perubahan
temperatur yang terjadi serta mengetahui nilai COP yang dihasilkan.
Setelah dilakukan pengolahan data, didapatkan bahwa suhu lingkungan yang
lebih rendah akan menghasilkan suhu yang lebih rendah dan nilai COP yang lebih baik,
dimana pada suhu lingkungan 18°C, 22°C, 26°C, dan 30°C secara berurutan
menghasilkan suhu akhir 15,6℃; 16℃; 22,3℃ dan 24,5℃. Nilai COP aktual secara
berurutan yakni 0,704; 0,700; 0,697 dan 0,684. Sedangkan beban pendingin yang lebih
besar jumlahnya akan menghasilkan suhu akhir yang lebih tinggi dan nilai COP yang
lebih buruk, yaitu Pada suhu lingkungan 18℃ dengan variasi beban pendingin 0, 500,
dan 1000 mL temperatur yang dihasilkan kotak pendingin secara berurutan yaitu 15,6℃;
16℃ dan 16,7℃. Nilai COP secara berurutan yakni 0,704; 0,697 dan 0,694
Strategi Penerapan Adaptive Reuse Pada Bangunan Fendi’s Homestay Malang
Kota Malang mengalami perkembangan pesat pada masa pemerintahan kolonial
Belanda, sehingga sampai saat ini masih banyak ditemukan bangunan bersejarah khas
kolonial Belanda sebagai warisan budaya yang seharusnya dilindungi. Kondisi pada
bangunan bersejarah tersebut beragam, tidak sedikit yang terbengkalai dan beberapa lainnya
mulai diupayakan untuk dikonservasi. Adaptive reuse merupakan salah satu upaya
pelestarian cagar budaya dengan mengalihkan peran fungsi lama bangunan menjadi fungsi
yang lebih baik dan bermanfaat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi penerapan adaptive reuse pada
bangunan Fendi’s Homestay sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Malang yang
awalnya berupa rumah tinggal dan telah beralih fungsi menjadi homestay. Metode penelitian
deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study) digunakan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis penerapan adaptive reuse berdasarkan teori strategi
desain adaptive reuse beserta teknik renovasi dalam transformasi bangunannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fendi’s Homestay mengalami strategi
installation tingkat 4 di tahun 2007 dan strategi insertion tingkat 7 di tahun 2013. Teknik
renovasi pada bangunan induk cenderung diterapkan secara semi permanen dan berupa
penambahan yang tidak merusak struktur ataupun mengancam keaslian bangunan. Pada
bangunan baru, teknik renovasi diterapkan seoptimal mungkin untuk mengakomodasi fungsi
baru dengan mengutamakan kenyamanan pengguna
Kesesuaian Aksesibilitas Kesesuaian Aksesibilitas Bagi Penyandang Tunadaksa Pengguna Kursi Roda Pada Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya ,
Masjid Raden Patah (MRP) merupakan salah satu fasilitas keagamaan di
Universitas Brawijaya (UB) Malang. Universitas Brawijaya merupakan perguruan
tinggi yang sudah menerapkan kebijakan kampus inklusif sejak tahun 2012. Karena itu,
sudah semestinya Fasilitas yang ada pada Universitas Brawijaya menyediakan
aksesibilitas yang ramah disabilitas dan sesuai dengan standar pada Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan
Kemudahan Bangunan Gedung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui
bagaimana kesesuaian aksesibilitas pada Masjid Raden Patah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif menggunakan
pendekatan studi kasus dengan Masjid Raden Patah sebagai objek penelitian. Strategi
yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melakukan skoring terlebih dahulu untuk
mengetahui tingkat kesesuaian sesuai dengan standar yang berlaku yaitu Permen PUPR
Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung, kemudian
melakukan simulasi dengan partisipan yaitu salah satu jamaah penyandang disabilitas
pengguna kursi roda sesuai rute aktivitas yang sering dilewati untuk mengetahui
hambatan dan kesesuaian yang dirasakan oleh partisipan.
Hasil analisis yang didapatkan dari mengkomparasikan hasil pengukuran elemen
fisik dan fasilitas terpilih dengan standar, didapatkan persentase rata-rata sebesar 55%
dan masuk kedalam kategori cukup sesuai. Kemudian, setelah dilakukan simulasi
bersama partisipan, didapatkan hasil bahwa masih terdapat beberapa hambatan yang
dialami oleh partisipan pada elemen sirkulasi dan fasilitas yang sudah sesuai menurut
standar
Dari kedua hasil analisis yang sudah dilakukan, didapatkan bahwa mayoritas
elemen fisik dan fasilitas pada Masjid Raden Patah yang menjadi unit amatan di Masjid
Raden Patah masih dianggap tidak cukup sesuai, dan hanya ruang salat diantara unit
amatan lainnya yang dikategorikan sangat sesuai dan ramah terhadap penyandang
disabilitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikator yang mungkin
perlu diperbarui dan memerlukan perhatian dan perawatan yang berlebih. Namun, salah
satu faktor ketidaksesuaian yang ada pada Masjid Raden Patah juga kemungkinan
berasal dari pembangunan masjid yang dilakukan sebelum standar peraturan tersebut
disahkan
Perancangan Balai Latihan Kerja dengan Konsep Resilience Architecture di Bumi Semeru Damai,
Bencana dapat diartikan sebagai peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan masyarakat, sering dalam bentuk terganggunya kestabilan perekonomian
ataupun peningkatan pengangguran ditengah komunitas. Kabupaten lumajang tercatat
sebagai satu wilayah yang sering dilanda bencana alam, khususnya akibat meletusnya
gunung Semeru. Akibat letusan Desember 2022, sejumlah lebih dari 2000 keluarga telah
dipindahkan ke tempat domisili baru yang lebih aman, kawasan Bumi Semeru Damai.
Pemindahan komunitas dalam jumlah besar tersebut berujung pada tercabutnya mata
penghasilan asli masyarakat pada awalnya yakni pertanian yang tidak dijumpai dilokasi
domisili baru tersebut.
Masyarakat terdampak ini membutuhkan jenis mata pencaharian baru untuk memulai
kehidupan barunya, keberadaan fasilitas Balai Latihan Kerja dinilai sangat mendesak
sebagai upaya pembekalan ketrampilan bekal penghidupan warga terdampak tersebut.
Konsep resilience architecture dipilih sebagai konsep dasar desain bangunan balai latihan
kerja konstekstual terhadap lingkungan baru tersebut. Sedangkan pendekatan empirisme
dilakukan untuk menentukan berbagai kriteria desain.
Balai Latihan Kerja mewadahi pelatihan keterampilan di beberapa kejuruan pada tingkat
kompetensi kerja. Kejuruan yang tersedia berupa kerjuruan Processing, Pariwisata,
Teknologi Informasi dan Komunikasi, dan Tata Busana. Kajian aspek resilience architecture
dilakukan berdasarkan literatur utama yaitu Istiadji, dkk (2018) sebagai landasan dalam
observasi. Terdapat empat prinsip pada konsep ini, yaitu responsive, adaptive, absorptive,
dan recovery. Keempat prinsip tersebut diterapkan pada desain Balai Latihan Kerja yang
menghasilkan bangunan yang siaga dan tahan terhadap potensi ancaman bencana getaran
tanah dan sebaran abu vulkanik di Bumi Semeru Damai, sebagai lokasi perancangan
SPA & Wellness center di Kota Batu dengan Konsep Arsitektur Bioklimatik,
Pola hidup masyarakat modern saat ini penuh dengan aktifitas, cepat, dan
sistematis dan menuntut masyarakat untuk selalu memiliki kondisi fisik dan mental
yang optimal, kondisi tersebut bisa didapatkan melalui aktivitas relaksasi, meditasi,
dan olah fisik. Wellness menjadi istilah yang tepat karena wellness merujuk pada
kondisi kesehatan fisik dan mental seseorang, yang melibatkan pemeliharaan dan
peningkatan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Sejak tahun 2017,
Kemenparekraf telah mengembangkan wellness tourism dengan salah satu fokus
utama yaitu usaha SPA dan Wellness center. Dalam perkembangannya, SPA
membutuhkan diferensiasi produk, keberadaan fasilitas SPA akan lebih menarik
apabila disandingkan dengan Wellness center.
SPA & Wellness center dirancang pada tapak kosong seluas ± 3,9 ha di Jalan
Sultan Agung No.20, Kel. Sisir, Kota Batu, Jawa Timur. Penerapan konsep
bioklimatik selaras dengan salah satu prinsip pembentuk wellness yaitu untuk
menciptakan lingkungan yang sehat, serta sebagai solusi terhadap kondisi alam
Kota Batu. Penerapan konsep bioklimatik berpedoman pada 6 prinsip arsitektur
bioklimatik oleh Kenneth Yeang.
Dalam proses perancangan, SPA & Wellness center menggunakan
pendekatan desain strukturalisme dengan strategi desain analisis pola (pattern
analysis). Pendekatan desain strukturalisme bertujuan untuk mendapatkan tipologi
persamaan dan perbedaan terhadap objek studi berdasarkan aspek-aspek yang
diperlukan dan memunculkan taksonomi desain yang dikembangkan menjadi
kriteria desain. Objek studi SPA terdiri dari 3 objek studi, yaitu Mango Bay Resort
SPA, Babylon Garden SPA, dan Thermal Vals. Sedangkan objek studi Wellness
center terdiri dari 3, yaitu Mashouf Wellness center, Lone Tree Wellness center,
dan West Lafayette Wellness center
Pengaruh Limbah Carageenan pada Campuran Asphalt Concrete Base Course (AC-BC) dengan Asbuton B 50/30 terhadap Karakteristik Marshall
Kebutuhan aspal minyak untuk perkerasan jalan sekitar 1,2 juta ton setiap tahun,
tetapi aspal nasional belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga diimpor. Padahal,
Indonesia memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia, yaitu Asbuton dari Pulau
Buton, Sulawesi Tenggara, dengan cadangan lebih dari 670 juta ton dan kadar bitumen
15%-35%, setara dengan 170 juta ton aspal minyak. Produk Asbuton yang beredar
termasuk Asbuton B 50/30 yang tetap memerlukan tambahan aspal pen 60/70 sebelum
digunakan.
Penelitian ini bertujuan memanfaatkan Aspal Buton untuk menggantikan aspal
minyak dan memeriksa pengaruh limbah karagenan terhadap karakteristik Marshall dari
campuran laston lapis antara asbuton (AC-BC Asb). Selain itu, penelitian ini berupaya
menentukan kadar limbah karagenan optimum untuk mencapai karakteristik campuran
yang optimal.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium. Tahap pertama
melibatkan pengujian sifat fisik setiap material yang digunakan, mengacu pada
Spesifikasi Bina Marga 2018. Penelitian dimulai dengan menentukan Kadar Aspal
Optimum (KAO) dari campuran aspal minyak dan aspal buton. Selanjutnya, limbah
karagenan yang telah diangin-anginkan ditambahkan dalam rentang kadar 5%-9%.
Analisis statistik data dilakukan melalui beberapa tahap, termasuk pengujian normalitas,
pengujian homogenitas, one way ANOVA, dan uji Tukey.
Hasil pemeriksaan sifat fisik dari bahan material menunjukkan bahwa semuanya
sesuai dengan spesifikasi Bina Marga. Dari pengujian dan analisis data, penambahan
limbah karagenan ditemukan mempengaruhi karakteristik Marshall campuran. Kadar
limbah karagenan optimum yang diperoleh adalah 7,25% dari kadar aspal. Pada kadar
optimum ini, dibandingkan dengan campuran tanpa limbah karagenan, terdapat
peningkatan nilai stabilitas sebesar 91,56%, nilai VIM sebesar 19,04%, dan nilai VMA
sebesar 3,42%. Sementara itu, nilai VFB mengalami penurunan sebesar 3,42%, dan
kelelehan menurun sebesar 9,57%, namun semua karakteristik marshall di penelitian ini
tetap memenuhi kriteria pengujian Spesifikasi Bina Marga 2018.
Secara keseluruhan, penambahan limbah karagenan pada campuran AC-BC
Asbuton B 50/30 berdampak signifikan pada sebagian besar karakteristik Marshall,
kecuali pada nilai Flow dan MQ. Variasi kadar limbah karagenan menunjukkan
perbedaan yang signifikan pada beberapa karakteristik, menunjukkan bahwa proporsi
limbah karagenan dalam campuran dapat dioptimalkan untuk mencapai sifat yang
diinginkan sebagai Laston Lapis Antara (AC-BC)
Analisis Potensi Bahaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Proses Pengupasan Tanah Penutup (Overburden) Dengan Metode HIRARC Dan FTA (Studi Kasus: PT. Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) Jobsite Insani Baraperkasa)
PT. Bukit Makmur Mandiri Utama atau yang sering disebut BUMA merupakan
kontraktor pertambangan batubara terbesar kedua di Indonesia yang beroperasi secara
independent. Saat ini, BUMA menyediakan jasa bagi sepuluh pelanggan untuk dua belas
lokasi tambang melalui kontrak-kontrak jangka panjang di pulau kalimantan, salah satunya
yaitu PT. Insani Baraperkasa. Bisnis proses BUMA Jobsite Insani Baraperkasa hanya
melakukan kegiatan dari pembersihan lahan (land clearing), pengupasan tanah pucuk (top
soill), dan pengupasan tanah penutup (overburden). Berdasarkan data dari BUMA Jobsite
Insani Baraperkasa masih terdapat kecelakaan kerja yang terjadi selama tahun 2023 dan
menyebabkan kerugian yang besar bagi Perusahaan. Penyebab kecelakaan ini beragam,
mulai dari faktor kesalahan manusia, kerusakan unit, dan lingkungan tambang.
Pada penelitian ini, analisis potensi bahaya keselamatan dan Kesehatan kerja pada
proses pengupasan tanah penutup (overburden) menggunakan metode hazard
indentification, risk assessment, and risk control (HIRARC) untuk mengidentifikaasi bahaya
dan risiko, serta melakukan pengendalian. Selain itu, dilakukan juga metode fault tree
analysis (FTA) untuk mengidentifikasi akar penyebab dari risiko yang dinilai extreme dan
harus dilakukan pengendalian yang tepat.
Hasil penelitian dengan metode HIRARC, pada aktivitas loading overburden terdapat
14 risiko pada risk level extreme, 4 risiko pada risk level high, dan 1 risiko pada risk level
medium. Kemudian pada aktivitas hauling overburden terdapat 14 risiko pada risk level
extreme, 6 risiko pada risk level high, dan 2 risiko pada risk level medium. Terakhir pada
aktivitas dumping overburden terdapat 14 risiko pada risk level extreme, 6 risiko pada risk
level high, dan 2 risiko pada risk level medium. Kemudian pada risiko dengan risk level
extreme dilakukan analisis FTA dan diperoleh hasil pada risiko unit terbakar diperoleh
minimal cut set ada 2 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terbakar.
Kemudian pada risiko unit terguling diperoleh minimal cut set ada 12 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terguling. Kemudian pada risiko unit tergelincir
diperoleh minimal cut set ada 10 kejadian dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit
tergelincir. Kemudian pada risiko unit terperosok diperoleh minimal cut set ada 11 kejadian
dasar (basic event) yang dapat menyebabkan unit terperosok. Terakhir pada risiko gangguan
pendengaran diperoleh minimal cut set ada 5 kejadian dasar (basic event ) yang dapat
menyebabkan gangguan pendengaran