137686 research outputs found
Sort by
Identifikasi Pengaruh Akuifer Dangkal Untuk Perencanaan Jalan Long Boh-Metulang, Kabupaten Malinau Dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole
Ketersediaan Infrastruktur jalan kawasan perbatasan adalah hal
yang paling utama guna membuka keterisolasian dan meningkatkan
kegiatan perekonomian masyarakat. Dimana dalam perencanaan jalan
raya akan dilakukan beberapa survei diantaranya metode geolistrik.
Motode Geolistrik yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan
akuifer ialah metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Dipoledipole. Keberadaaan akuifer pada daerah penelitian berada pada
kedalaman rata-rata 2 sampai 12 m di bawah permukaan pada
beberapa lintasan geolistrik dengan luasan yang berbeda-beda
Analisis Thermal Protective Performance pada Aluminium Foil Insulation Suit akibat Variasi Air Gap Thickness.
Pemadam kebakaran menjadi profesi yang terlatih untuk merespon situasi darurat yang
melibatkan kebakaran, penyelamatan orang, dan berbagai kejadian berbahaya yang
mengancam keselamatan dan properti. Profesi ini berisiko tinggi karena bukan sekedar
menyelamatkan orang saat kebakaran namun juga mengurangi kerusakan akibat api bagi
dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Supaya seorang pemadam tetap selamat dalam
menjalankan tugasnya, disediakanlah alat pelindung diri yang salah satunya pakaian
pemadam kebakaran tahan api. Pakaian ini diperlukan adanya uji standarisasi untuk
mengetahui kinerja pelindung termal yang sesuai dengan NFPA 1971 dengan nilai thermal
protective performance minimal 35 cal/cm2 supaya dapat menjaga keselamatan
penggunanya. Untuk meningkatkan hal tersebut dapat diberikan air gap di dalamnya,
supaya heat transfer yang terjadi semakin terhambat.
Metode penelitian kali ini menerapkan konsep eksperimental yang memanfaatkan alat
heat transfer bench scale test apparatus, dengan menerapkan permodelan sampel ukuran
15 cm × 15 cm sebanyak 3 jenis lapisan kain dari aluminium foil insulation suit yang
diberikan celah udara 0 mm; 1,28 mm; 2,56 mm; 3,84 mm; 5,12 mm; 6,4 mm; dan 7,68
mm. Tiga lapisan kain tersebut meliputi fiberglass aluminium coated, aramid retardant
insulation mat, dan spun cotton fabric. Setiap variasi dipapar panas dari api hingga bagian
terdalam pakaian mencapai 55℃. Kemudian seluruh data hasil yang meliputi temperatur,
laju heat transfer, fluks panas, waktu luka bakar derajat dua, dan resistansi termal
diformulasikan untuk mendapatkan nilai thermal protective perfomance.
Setiap variasi memiliki nilai TPP masing-masing yang dianalisis apakah sudah
memnuhi standar NFPA 1971. Hasil pengujian TPP dengan nilai di atas 35 cal/cm2 tercatat
mulai terjdi pada celah udara 6,4 mm dan puncak TPP sebesar 36,299 cal/cm2 pada celah
udara 7,68 mm. Kecenderungan nilai thermal protective perfomance secara keseluruhan
semakin meningkat seiring dengan penambahan tebal celah udara, hal dikarenakan nilai
resistansi termal yang semakin besar, dan waktu luka bakar derajat dua yang meningkat
pula. Di mana nilai resistansi termal memengaruhi besar laju heat transfer yang kemudian
memengaruhi nilai fluks panas di mana menjadi aspek penentu nilai thermal protective
perfomance. Sehingga berdasarkan analisis, pakaian pemadam kebakaran yang digunakan
perlu diberikan celah udara minimal 6,4 mm supaya memenuhi standar yang berlaku
Pengaruh Amplitudo Modulasi Spindle Speed Variation Pada Proses End Milling Terhadap Kekasaran Permukaan Aluminium 5052.
Perkembangan dalam teknologi permesinan berkembang secara pesat, khususnya
adalah proses milling. Dalam perkembangannya, teknologi ini menemukan banyak masalah,
salah satunya adalah chatter. Untuk mencegah terjadinya chatter maka metode spindle speed
variation (SSV) digunakan selama proses permesinan. Aluminium memiliki kualitas
permesinan yang baik. Sebagai contoh, aluminium 5052 memiliki komposisi aluminium
95,75% dengan tingkat kemurnian 99,52%, serta magnesium sekitar 2,5%, cocok untuk
industri permesinan. Penelitian ini fokus pada pengaruh variasi amplitudo spindle speed
variation terhadap getaran dan kekasaran permukaan aluminium 5052.
Proses metode spindle speed variation melibatkan alat dan bahan, pembuatan algoritma
spindle speed variation dan accelerometer, pemasangan instalasi komponen hardware pada
denford router 2600 pro, dan peletakkan aluminium 5052 dengan dimensi panjang 100 mm,
lebar 50 mm, dan ketebalan 16 mm pada ragum. Proses permesinan pada end milling
dilakukan dengan variasi RVA 0%, 10%, 20%, dan 30% dan variasi kecepatan spindel 3000,
5000, dan 9000 RPM pada setiap variasi RVA. Selama proses permesinan data getaran
direkam melalui accelerometer dan diolah melalui matlab sehingga diperoleh data
acceleration-time domain dan grafik fast fourier transform Selanjutnya adalah pengujian
kekasaran permukaan dengan arah stylus sejajar dengan arah pemakanan. Kemudian
parameter kekasaran permukaan yang digunakan adalah roughness average (Ra).
Hasil didapatkan bahwa proses permesinan end mill dengan variasi amplitudo modulasi
atau RVA menggunakan metode spindle speed variation terhadap kekasaran permukaan
pada aluminium 5052 diperoleh hasil bahwa metode spindle speed variation dapat
menurunkan nilai getaran dan kekasaran permukaan. Metode spindle speed variation
dilakukan pada variasi RVA 0%, 10%, 20%, dan 30% dengan variasi kecepatan spindel 3000
RPM, 5000 RPM, dan 9000 RPM. Variasi RVA yang semakin besar cenderung menurunkan
getaran dan kekasaran permukaan karena pola sinus selama proses permesinan yang
menghambat terjadinya chatter dan resonansi. Variasi kecepatan spindel yang semakin
tinggi semakin menurunkan getaran dan kekasaran permukaan karena pemakanan pada
kecepatan tinggi sedikit
Penerapan Konsep Lean Service Dalam Upaya Perbaikan Alur Rekrutmen Posisi B2b Commercial Sales Account (Studi Kasus Pt Moda).
PT MODA merupakan perusahaan yang menyediakan layanan terpadu untuk
pengelolaan persewaan kendaraan pelanggan. B2B Commercial Sales Account merupakan
posisi dengan kebutuhan jumlah karyawan terbanyak pada tiap tahunnya. Berdasarkan
analisis pada kondisi alur rekrutmen saat ini, ditemukan 3 waste diantaranya waste of
waiting, motion, dan overprocess yang perlu dihilangkan untuk menciptakan alur rekrutmen
baru dengan durasi singkat dan output sales sesuai target manpower planning. Perbaikan
alur rekrutmen dapat dicapai menggunakan metode DMAI yang diharapkan dapat
memudahkan peneliti dalam identifikasi waste, menentukan faktor penyebab waste, serta
penghilangan waste melalui rekomendasi yang diberikan.
Pada tahap define dilakukan pembuatan tabel project charter yang memuat informasi
mengenai perencanaan dan pelaksanaan penelitian, kemudian dilakukan pembuatan tabel
voice of customer untuk mengetahui masalah yang berdampak pada customer. Pada tahap
ini, CTQ juga ditentukan sehingga dapat diketahui bahwa perlu dilakukannya perbaikan
pada alur rekrutmen. Pada tahap measure dilakukan analisis COPIS untuk mengetahui
customer, output, process, input, dan supplier pada alur rekrutmen. Selanjutnya dilakukan
pemetaan current business process menggunakan Business Process Modelling Notation
(BPMN) yang terdiri dari 35 elemen. Pada tahap ini juga terdapat process activity mapping
yang terdiri dari 22 proses dengan 8 operasi, 1 transportasi, 6 inspeksi, 7 delay, dan 0 storage
dengan total keseluruhan durasi rekrutmen sebesar 1.705 jam atau 71,04 hari. Tahap Analyze
dilakukan dengan melakukan analisis penyebab waste pada proses yang terdapat waste yaitu
tahap collecting and screening CV sebanyak 2 waste, tahap user interview 1 sebanyak 3
waste, dan user interview 2 sebanyak 3 waste. Rekomendasi perbaikan mencakup
penggunaan teknologi ATS untuk screening CV, pemanfaatan fitur schedulling assistant
untuk penjadwalan interview, sistem user interview panel, penambahan tahap online test, dan
penambahan rasio offering
Analisis Marketing Mix 7P Yang Mempengaruhi Minat Beli Pada Produk Olahan Daging Domba (Studi Kasus: PT KTHR Indonesia).
PT KTHR Indonesia merupakan salah satu perusahaan di bidang peternakan domba yang
berada di daerah Malang. Perusahaan ini memiliki dua unit usaha yang bergerak dalam bidang
makanan produk olahan daging domba. Usaha pertama yaitu Sate Raja Catering melayani
makanan fresh, biasanya melayani catering dan aqiqah. Penjualan Sate Raja Catering saat ini
belum memenuhi target penjualan yaitu mendapatkan pesanan sebanyak 30 tiap bulannya.
Sate Raja Catering telah melakukan kegiatan pemasaran baik secara konvensioanal maupun
online. Kemudian, usaha kedua yaitu Amando menjual makanan siap saji seperti abon,
krengsengan, dan sop. Penjualan Amando masih sedikit dikarenakan usaha ini baru saja
dibuat. Pemasaran Amando masih dilakukan secara konvensional.
Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pengaruh antara variabel marketing mix dengan
minat beli. Penelitian diawali dengan pengumpulan data dari konsumen Sate Raja Catering
dan Amando melalui kuesioner dengan responden berjumlah 30 orang. Setelah data
terkumpul, analisis pertama dilakukan menggunakan metode Segmenting, Positioning, and
Targeting (STP) untuk mengetahui segmen pasar. Kemudian, dilakukan identifikasi faktor
faktor yang mempengaruhi marketing mix. Selanjutnya dilakukan uji statistik menggunakan
Analisis Regresi Linear Berganda untuk mengetahui pengaruh marketing mix dengan minat
beli. Setelah hasil uji statistik diperoleh, selanjutnya diberikan rekomendasi perbaikan untuk
variabel yang berpengaruh terhadao minat beli.
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis, didapatkan hasil Analisis Regresi Linear
Berganda untuk Sate Raja Catering didapatkan hasil bahwa marketing mix berpengaruh
signifikan secara simultan terhadap minat beli, dengan variabel yang berpengaruh signifikan
positif secara pasial terhadap minat beli yaitu product, price, promotion dan people.
Sedangkan untuk Amando, didapatkan hasil bahwa marketing mix juga berpengaruh
signifikan secara simultan terhadap minat beli, dengan variabel yang berpengaruh signifikan
positif secara parsial terhadap minat beli yaitu product, promotion, dan people
Efek Zeolite sebagai Katalis untuk Improvement Proses Pirolisis Kayu Mahoni.
Zeolit adalah sekelompok bahan yang memiliki mikropori yang tersusun secara molekuler.
Zeolit dalam proses pirolisis memiliki peran yaitu sebagai katalis. Katalis yaitu suatu zat
yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia yakni pada suhu tertentu. Katalis dapat
meningkatkan bio-oil, menunjukkan penurunan yang cukup besar dalam senyawa
teroksigenasi dan peningkatan kandungan hidrokarbon aromatik atau alifatik. Pada
penelitian ini, biomassa yang digunakan adalah serbuk kayu mahoni dan zerbuk zeolite.
Sebelumnya dilakukan pengujian kadar air pada kayu mahoni dan serbuk kayu mahoni,
setelah itu dilakukan aktivasi dan di saring menggunakan mesh 0,50 mm. Pirolisis
biomassa serbuk kayu mahoni yakni sebanyak 6 sempel dengan masing masing memiliki
variasi campuran zeolite 0, 10, 20, 30, 40 dan 50%. Untuk prosedur proses pirolisis dengan
TGA yakni mengalirkan nitrogen kedalam ruang pemanas piroliser selama 3 menit dengan
flow rate 100 mL/menit, temperature 30 0C sampai 5500C dan proses pirolisis ini akan
running selama 51 menit. Dari pengujian ini ditemukan zeolit sebagai katalis dapat dengan
cepat pembentukan hidrokarbon aromatik dalam peningkatan bio-oil dan juga dengan cepat
juga memperlambat kerja katalis. Penurunan masssa pada grafik terbanyak yakni pada
variasi zeolite 20 % dengan presentasi penurunan massa 54% dan ditemukan perubahan
massa terhadap waktu terbanyak yakni pada variasi zeolite 20% dengan penurunan 393,11
μg/min
Upaya Peningkatan Efektivitas Stasiun Gilingan Dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus PG Kebon Agung).
Pabrik gula merupakan industri penting di Indonesia, namun produksi gula di dalam negeri
masih stagnan dan belum dapat memenuhi permintaan domestik. Hal ini menyebabkan defisit
neraca gula nasional dan menyebabkan pemerintah melakukan impor gula. Salah satu
perusahaan produsen gula di Indonesia adalah PG Kebon Agung. Namun, dalam proses
produksinya selama musim giling berlangsung, PG Kebon Agung mengalami kendala berupa
ketidaksesuaian antara realisasi penggilingan tebu dengan target yang telah ditetapkan. Salah
satu faktor yang menjadi penyebab adalah kejadian downtime, terutama pada stasiun gilingan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari stasiun gilingan,
menentukan kerugian terbesar, mengidentifikasi potensi kegagalan, serta merumuskan
rekomendasi perbaikan yang sesuai.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu overall equipment effectiveness (OEE)
untuk mengetahui efektivitas dari stasiun gilingan, dilanjutkan dengan identifikasi six big
losses untuk mengetahui kerugian yang paling berpengaruh, kemudian untuk mengetahui risiko
kegagalan digunakan metode machine/machinery failure mode and effect analysis (MFMEA).
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis MFMEA menjadi dasar rekomendasi perbaikan
dengan pendekatan total productive maintenance (TPM).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa proses produksi di stasiun gilingan PG kebon
Agung telah memenuhi standard world class OEE yaitu pada 85%. Analisis six big losses dan
diagram pareto menunjukkan 3 losses terbesar yaitu reduced speed losses, idling & minor
stoppage losses, dan breakdown losses. Hasil identifikasi kegagalan menggunakan MFMEA
menunjukkan terdapat 4 komponen kritis yaitu rantai aux carrier, slate aux carrier, rake cane
carrier, dan baut pengecang rake cane carrier. Rekomendasi terdiri dari 4 pilar TPM yaitu 5S
berupa program 5S yaitu program Jumat bersih dan kegiatan 5S selama 5 menit sebelum dan
sesudah bekerja. Pilar autonomous maintenance yaitu membuat dan menerapkan standar
inspeksi dengan checklist setiap awal shift. Pilar education and training yaitu matriks
kompetensi. Pilar planned maintenance rekomendasi yang diberikan yaitu jadwal
pemeliharaan komponen kritis
Cyclic Behavior of Back-To-Back Cold-Formed Steel (CFS) C Section Connected by Angle Plate, Inner Plate, and Self-Drilling Screw (SDS) Connections.
Baja bentuk dingin (Cold-Formed Steel atau CFS) semakin banyak digunakan dalam
konstruksi karena sifatnya yang ringan, kekuatan luar biasa, dan adaptabilitasnya. Material
ini dibentuk menjadi berbagai konfigurasi, seperti penampang C dan penampang Z,
menggunakan teknik roll-forming yang tidak memerlukan panas. Metode ini memungkinkan
produksi struktur yang ramping dan kokoh dengan ketebalan antara 0,4 hingga 6,4 mm.
Akibatnya, CFS sangat cocok untuk membangun rangka, panel atap, dan bangunan modular.
Manfaatnya mencakup efektivitas biaya dan keberlanjutan lingkungan, menjadikannya
pilihan utama untuk proyek konstruksi modern.
Dalam penelitian ini, metode penelitian eksperimental diterapkan, didukung oleh studi
studi sebelumnya tentang topik serupa. Investigasi melibatkan penggunaan bagian ganda
CFS yang disusun berlawanan dan dihubungkan oleh sekrup self-drilling (SDS) dan plat
sudut. Data eksperimental dikumpulkan melalui uji beban siklik untuk mengevaluasi
kekuatan, kekakuan, dan kelenturan rangka CFS. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan
simulasi yang dilakukan menggunakan perangkat lunak ABAQUS untuk memvalidasi
temuan eksperimental dan memahami kinerja sambungan dalam berbagai kondisi beban.
Pendekatan komprehensif ini memastikan pemeriksaan menyeluruh terhadap perilaku
struktural CFS dalam skenario praktis dan simulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sambungan sekrup secara signifikan
mempengaruhi integritas struktural rangka CFS. Rangka dengan tambahan plat sudut
menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam hal dissipasi energi dan ketahanan terhadap
tekuk dibandingkan dengan rangka yang hanya menggunakan sambungan plat dalam. Studi
ini menyarankan bahwa pengoptimalan pola sambungan sekrup dan penambahan elemen
penguat seperti plat sudut dapat meningkatkan ketahanan struktural rangka CFS. Secara
khusus, rangka dengan sambungan sekrup yang dioptimalkan menunjukkan peningkatan
daya tahan dan stabilitas di bawah beban siklik, menyoroti pentingnya desain sambungan
dalam aplikasi CFS. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk mengeksplorasi berbagai
pengaturan sekrup dan dampak faktor lingkungan terhadap kinerja sekrup. Meneliti kondisi
lingkungan yang berbeda, seperti variasi suhu dan kelembaban, dapat memberikan wawasan
yang lebih mendalam tentang kinerja jangka panjang struktur CFS. Selain itu, eksplorasi
material inovatif dan teknik manufaktur canggih dapat lebih mengoptimalkan penggunaan CFS dalam konstruksi. Studi-studi masa depan ini akan berkontribusi pada pengembangan struktur CFS yang lebih kokoh, efisien, dan berkelanjutan, memajukan bidang teknik
konstruksi
Pengaruh Kecepatan Putaran Roll Terhadap Nilai Kekuatan Tarik Pada Hasil Proses Hot Roll Bonding Pelat A1100.
Material aluminium (Al) telah mendapat penerimaan luas dalam berbagai sektor
industri. Aluminium dikenal dengan ketahanan korosinya yang baik, namun tantangan
utamanya terletak pada kesulitan penyambungan akibat keberadaan lapisan oksida yang
terbentuk di permukaan logam. Penyambungan aluminium merupakan suatu inovasi yang
digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembuatan suatu produk atau
komponen. Aluminium memiliki nilai yang rendah terhadap kemampuan las dibandingkan
dengan material baja karena adanya lapisan oksida pada permukaan aluminium.
Permasalahan penyambungan aluminium ini dapat diatasi dengan berbagai cara proses
manufaktur yang dapat digunakan salah satunya dengan metode roll bonding yang mana
dapat sekaligus meningkatkan sifat mekanik material.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan putar roll
terhadap kekuatan tarik pada hasil roll bonding pelat A1100. Penelitian ini sendiri dilakukan
menggunakan mesin roll buatan dengan daya motor sebesar 4 HP. Spesifikasi mesin roll
yang digunakan adalah menggunakan jari-jari roll sebesar 60 mm, rolling ratio sebesar 50%
serta daya dari motor ke roller sendiri telah direduksi sebesar 20x dengan menggunakan
inverter listrik serta gear. Variasi yang digunakan pada penelitian ini adalah kecepatan
putaran roller sebesar 10 rpm, 30 rpm dan 50 rpm.
Dari hasil pengujian eksperimental yang telah dianalisa, didapat bahwa nilai kekuatan
tarik rata-rata tertinggi tejadi pada kecepatan putaran roll 10 rpm yaitu sebesar 183,17 MPa,
lalu dengan kecepatan putar roll 30 rpm sebesar 160,18 MPa, dan dengan nilai rata-rata
kekuatan tarik terendah terjadi pada kecepatan putar roll 50 rpm sebesar 152,82 MPa
“Pengaruh Perceived Value, Customer Trust, Customer Experience, Customer Satisfaction terhadap Customer Loyalty Pada Shopee Express Kota Malang”.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh perceived value,
customer trust, customer experience dan customer satisfaction terhadap customer
loyalty. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah sampel yang
diambil melalui penyebaran kuesioner sebanyak 120 responden pada Shopee
Express Kota Malang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi linier berganda dengan penentuan sampel menggunakan teknik
purposive sampling. Karakteristik sampel yang dipilih yaitu, minimal berusia 17
tahun, berdomisili di Kota Malang, pengguna Shopee Express, pernah berbelanja
di Shopee dengan menggunakan jasa pengiriman Shopee Express minimal 1 kali.
Penelitian ini menggunakan software SPSS versi 26.0 sebagai alat analisis dengan
temuan hasil berupa perceived value berpengaruh positif dan signifikan terhadap
customer loyalty, customer trust berpengaruh positif dan signifikan terhadap
customer loyalty, customer experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap
customer loyalty, dan customer satisfaction berpengaruh positif dan signifikan
terhadap customer loyalty. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat empat variabel
yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap customer loyalty yaitu
perceived value, customer trust, customer experience dan customer satisfaction
sehingga perusahaan dapat mempertahankan sekaligus memberikan inovasi berkala
terkait strategi pemasaran ini seperti meningkatkan kualitas layanan jasa,
mengefisiensikan waktu pengiriman dan menjamin keutuhan produk yang dikirim
sehingga pelanggan akan merasa puas dan terpenuhi harapannya