137686 research outputs found
Sort by
Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keterlibatan Masyarakat dalam Penilaian Sampah Melalui TPS-3R Janti Guna Penurunan Emisi Metana (CH4)
Permasalahan pengolahan sampah merupakan salah satu masalah serius yang
dihadapi oleh hampir semua negara maju dan berkembang. Sampah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dalam aktivitas keseharian manusia. Aktivitas
tersebut berdampak pada peningkatan timbulan sampah di lingkungan. Kondisi
ini diperparah dengan beberapa faktor seperti laju urbanisasi, pertumbuhan
penduduk, peningkatan pendapatan, dan perilaku tidak ramah lingkungan yang
dapat mendorong jumlah timbulan sampah semakin meningkat. Data “Food Loss
and Waste Index” dari UNEP 2024, volume sampah makanan Indonesia
mencapai 20,93 Juta ton/tahun, menempati urutan empat terbesar dunia setelah
China, India, dan Nigeria. Data Bappenas menunjukkan sampah makanan yang
terbuang di Indonesia tahun 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton/tahun atau
setara 115-184 kg/kapita/tahun.
Data DLHK Sidoarjo hanya mampu memproses sekitar 17% dari total sampah,
sisanya 83% masuk ke TPA Jabon. Permasalahan ini jika tidak ditangani dengan
tepat dapat menimbulkan berbagai macam pencemaran lingkungan, perubahan
iklim, dan dampak buruk pada kesehatan manusia. Permasalah ini berkaitan erat
dengan pola hidup serta budaya masyarakat setempat. Optimalisasi kegiatan
penanganan sampah pada kawasan urban diperlukan untuk meminimalisasi
dampak dengan melakukan pengolahan sampah secara 3R melalui TPS-3R
serta peran aktif masyarakat melalui kegiatan pemilahan dan pengolahan
sampah dari sumber.
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung skenario pengurangan sampah pada
TPS-3R dan pemilahan sampah rumah tangga Desa Janti guna penuruan emisi
metana. Dalam penelitian ini, terdapat 3 skenario. Skenario 1: Jumlah sampah
Desa Janti terbuang semua ke TPA, Skenario 2: Reduksi sampah oleh TPS-3R Desa Janti dan skenario 3: Reduksi TPS-3R dengan melibatkan partisipasi
masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Mass balance analysis dan
recovery factor digunakan untuk memproyeksikan reduksi sampah dari ketiga
skenario diatas. Sedangkan, untuk menyelidiki faktor internal dan external
perilaku pemilahan sampah menggunakan teknik observasi langsung dan
kuesioner menggunakan theory of planned behavior (TPB) dan norm activation
model (NAM) dengan SmartPLS 4.0.9.6.
Hasil penelitian menunjukkan potensi reduksi (recovery factor) di TPS-3R Desa
Janti 55.1% (2035.1 kg), pemilahan sampah masyarakat Desa Janti 22.9% (589.6
kg/hari). Peran TPS-3R dan partisipasi masyarakat memilah sampah pada
skenario 3 dapat mengoptimalisasi reduksi sampah Desa Janti ke TPA Jabon
sebesar 2624.7kg/hari (958.75 ton/tahun), proyeksi hingga 2033 dapat mereduksi
1037.8 ton/tahun dengan total recovery factor 78%, dan reduksi metana dari Desa
Janti masuk ke TPA menjadi 324.8122-ton C02-eq /tahun (51%) sesuai PP No.61
Tahun 2011 target penurunan GRK 41% hingga proyeksi 2033. Faktor yang
berpengaruh untuk menumbuhkan keterlibatan masyarakat memilah sampah
(faktor internal dan external). Namun, tidak semua faktor menunjukkan hubungan
yang signifikan terhadap perilaku memilah sampah. Norma pribadi tidak hanya
memberikan pengaruh yang signifikan dan meningkatkan faktor mediasi (yaitu
sikap, norma sosial, kesadaran akan konsekuensi, kontrol perilaku yang
dirasakan, pengetahuan) terhadap perilaku memilah sampah. Sementara itu,
dukungan pemerintah daerah terbukti memiliki pengaruh langsung signifikan,
namun tidak memiliki pengaruh secara tidak langsung sebagai moderator yang
mempengaruhi norma pribadi terhadap perilaku memilah sampah Hal ini
mengindikasikan bahwa peran pemerintah untuk target “kesadaran warga” dalam
bentuk program intervensi atau pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat
belum maksimal. Pemerintah perlu menargetkan pendidikan lingkungan dan
pembuatan kebijakan yang efektif untuk mendorong masyarakat agar aktif untuk
memilah sampah dari sumber
Pemetaan Kekuatan Daya Saing Indonesia dan Dampaknya Terhadap Kesejahteraan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi daya
saing Indonesia diukur dari produktivitas. Kemudian melihat dampak daya saing
sendiri terhadap kesejahteraan yang diukur dari aktivitas ekonomi. Konsep ini
diadopsi dari kerangka daya saing Gardiner, Martin dan Tyler tahun 2004. Adapun
penggunaan indikator studi ini menggunakan indikator Indeks Daya Saing Daerah
(IDSD) oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional tahun 2020 hingga 2022.
Penelitian dianalisis menggunakan persamaan simultan dengan menggunakan
data panel dan pendekatan Three Stage Least Square (3SLS) dengan Fixed Effect
Model. Hasilnya menunjukkan bahwa indeks kompetensi SDM, indeks ekosistem
inovasi dan indeks lingkungan pendukung sama-sama berpengaruh signifikan dan
positif terhadap produktivitas (daya saing) dimana Indeks Kompetensi SDM
memiliki pengaruh dua kali lipat lebih besar dibandingkan indeks ekosistem inovasi
dan empat kali lipat lebih besar dibandingkan indeks lingkungan pendukung.
Sementara itu dampak daya saing ini terhadap kesejahteraan (aktivitas ekonomi)
juga menunjukkan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan indeks pasar.
Sehingga dapat dikatakan peningkatan daya saing mampu menciptakan
kesejahteraan di Indonesia. Jika ditelaah kembali, maka dapat dikatakan bahwa
strategi peningkatan kompetensi SDM adalah hal paling penting dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan di Indonesia
Analisa Kekuatan dan Daya Dukung Tanah pada Frame Jembatan di Kawasan Pertambangan dengan Beban Kendaraan HD 785-7
Jembatan merupakan struktur yang digunakan sebagai penghubung antara dua
bagian jalan yang terputus akibat hambatan atau rintangan yang letaknya lebih rendah dari
kedudukan jembatan itu senditi. Kegunaan jembatan dimanfaatkan juga pada industri
pertambangan untuk meningkatkan efisensi waktu kendaraan tambang dalam melewati
rintangan seperti parit agar pengantaran bahan tambang tidak memakan lebih banyak waktu
karena rute yang terhalang parit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah desain
rangka jembatan memiliki kekuatan yang memadai untuk menerima beban dari timbunana
tanah dan juga beban dari kendaraan saat melintasi timbunan tanah yang terdapat rangka
jembatan serta mengetahui daya dukung tanah yang terletak dibawah fondasi jembatan dapat
menerima beban tanpa mengalami pergesaran atau keruntuhan tanah.
Metode penelitian menggunakan metode komputasi menggunakan simulasi
komputer dengan menerapkan 3 macam pembebanan. Pembebanan arah vertikal diperoleh
dari timbunan tanah dan saat kendaraan melintas pada kondisi paling kritis yaitu dibagian
belakang kendaraan saat bermuatan dan dari arah horizontal pembebanan tanah akibat
timbunan yang biasa disebut tekanan tanah lateral. Karena beban kendaraan tidak langsung
membebani rangka karena adanya tanah sebagai timbunan dan rangka terkubur maka beban
sebenarnya pada rangka dihitung menggunakan rumus Boussinesq.
Hasil penelitian menunjukan distribusi tegangan yang bervariasi tergantung
variabel bebas penelitian. Distribusi tegangan antara variabel rangka luar dan rangka dalam
memiliki perbedaan karena rangka luar memiliki dimensi yang lebih besar sehingga beban
dan tegangan yang diterima lebih banyak daripada rangka dalam. Pada variabel lengkap
dengan adanya tambahan struktur kontainer menyebabkan permukaan kontainer yang
mengalami pembebanan pula. Dari ketiga variabel dengan kondisi pembebanan yang
disesuaikan, didapatkan tidak terjadi tegangan yang melewati tegangan luluh dan tegangan
ultimate material jembatan yaitu structural steel. Beban fatigue menunjukan pada kontainer
memiliki variasi life yang menunjukan kemampuan kontainer untuk digunakan dalam berapa
kali siklus sedangkan pada rangka memiliki siklus tak terbatas tetapi pada analisa las
kemampuan sambungan memiliki kapasitas 122.93 kN. Daya dukung tanah dengan
pertimbangan faktor keamanan bernilai 1.30937 MPa dengan asumsi gaya vertikal yang
melakukan pembebanan pada rangka maka didapatkan pembebanan rangka sebesar
60745,16 Pa sehingga tidak melewati batas daya dukung tanah dan tidak terjadi keruntuhan
tanah
Community Upcycling Center Dengan Pendekatan Hedonistic Sustainability Di Bogor, Jawa Barat
Permasalahan tentang budaya “membuang” dan konsumerisme yang berkembang di
masyarakat menyebabkan penumpukan sampah, terutama sampah anorganik. Kota Bogor
diprediksi akan mengalami peningkatan sampah jika masyarakat masih mengadopsi budaya
tersebut. Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah kurangnya kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Perancangan Community Upcycling Center ditujukan sebagai sarana pengelolaan
sampah berbasis masyarakat yang berfokus pada meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
pengelolaan sampah dan konsumsi yang bertanggung jawab melalui pengalaman secara
langsung, yaitu dengan mengenalkan konsep upcycling. Pendekatan yang digunakan adalah
Hedonistic Sustainability yang mengintegrasikan aspek berkelanjutan dengan kesenangan,
sehingga kegiatan upcycling diharapkan bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan
menarik bagi masyarakat. Prinsip Hedonistic Sustainability dilibatkan dalam proses
perancangan yang menggunakan metode pragmatisme dengan eksplorasi bentuk pada model
analog.
Hasil perancangan berupa fasilitas Community Upcycling Center dengan fungsi
pengelolaan sampah yang juga dilengkapi dengan fungsi rekreasi dan edukasi. Prinsip
hedonistic pada rancangan diwujudkan melalui aspek mass transformation dan attraction
yang mempromosikan pleasure atau kesenangan. Prinsip sustainability diwujudkan melalui
aspek site and land use, community, health and well-being, materials, energy, dan water,
yang berkontribusi pada lingkungan yang lebih sehat dan masa depan yang lebih
berkelanjutan
Preferensi Pengunjung Terhadap Tampilan Fasade Bangunan Komersial Di Koridor Jalan Suryakencana, Kota Bogor
Kota Bogor merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia dengan
pertumbuhan kegiatan perdagangan dan jasa yang cukup pesat. Berdasarkan RTRW Kota
Bogor Tahun 2011-2031, terdapat salah satu kawasan yang difungsikan sebagai kawasan
dengan kegiatan perdagangan dan jasa skala pelayanan kota, yaitu Koridor Jalan
Suryakencana. Lokasinya yang strategis menyebabkan terjadinya komersialisasi bangunan.
Komersialisasi bangunan ini menyebabkan banyak bangunan dengan kondisi fasade yang
rusak, terbengkalai, dan tidak terawat. Bagi bangunan komersial, penting untuk
memerhatikan tampilan fasade bangunan, dikarenakan menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Dengan jumlah bangunan komersial sebanyak 163 unit yang tersebar di sepanjang
Koridor Jalan Suryakencana, maka memungkinkan bagi pengunjung untuk memilih
bangunan komersial sesuai preferensi mereka. Hal ini kemudian menjadi tujuan dari
penelitian ini, yaitu untuk mengetahui preferensi pengunjung terhadap tampilan fasade
bangunan komersial di Koridor Jalan Suryakencana, Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan analisis konjoin, dimana hasil dari analisis ini dapat menggambarkan
preferensi pengunjung. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui observasi serta
penyebaran kuisioner di lapangan. Responden dalam penelitian ini berjumlah 105 orang.
Hasil dari analisis konjoin menunjukkan bahwa untuk bangunan komersial pada jenis
convenience store, pengunjung paling menyukai tampilan fasade bangunan dengan jenis
pintu ayun, jenis jendela dengan jendela geser, jenis atap dengan atap perisai, jenis penanda
(signage) dengan flush signage, dan jenis ornamen dengan ornamen modern. Nilai
kepentingan juga menunjukkan bahwa jendela memiliki nilai tertinggi (153,172), yang
berarti pengunjung menganggap jendela sebagai atribut terpenting untuk diperhatikan dalam
tampilan fasade bangunan komersial. Hal ini kemudian dapat menjadi rekomendasi yang
dapat digunakan pemilik bangunan komersial di Koridor Jalan Suryakencana dalam menata
fasade bangunan sesuai dengan preferensi pengunjung
Pengaruh Modal Sosial Terhadap Pengentasan Kemiskinan di Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang
Kecamatan Sampang memiliki jumlah rumah tangga yang dikategorikan miskin
sebanyak 7.433 KK atau 27,4% dari jumlah pemukim keseluruhan sejumlah 27.162 KK.
Jejaring sosial merupakan modal vital yang mencerminkan kekuatan masyarakat dalam
memecahkan masalah bersama melalui kolaborasi. Modal sosial dapat mengatasi
kemiskinan dengan berbagi sumber daya seperti waktu, keahlian, sokongan, dan informasi,
serta menyediakan kesempatan kerja, saran, dan dukungan antar sesame. Dengan demikian,
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui terkait tingkat kemiskinan di Kecamatan
Sampang serta bagaimana korelasi spasial antar desa terkait pengaruh modal sosial terhadap
kemiskinan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tingkat kemiskinan
Multidimentional Poverty Index (MPI), analisis jaringan sosial, dan analisis autokorelasi
spasial. Metode Multidimentional Poverty Index bertujuan untuk mengukur tingkat
kemiskinan di Kecamatan Sampang berdasarkan dimensi pendidikan, kesehatan dan standar
hidup. Metode Social Network Analysis digunakan untuk melihat tingkat partisipasi dan
kedekatan antar masyarakat di Kecamatan Sampang. Autokorelasi spasial digunakan untuk
melihat hubungan antara indikator kemiskinan dengan variabel jaringan sosial. Variabel
terikat pada penelitian ini adalah tingkat kemiskinan MPI. Sedangkan variabel bebas yang
digunakan adalah tingkat partisipasi sosial dan densitas.
Hasil Perhitungan MPI, masyarakat Kecamatan Sampang memiliki taraf MPI
sangat rendah, rendah, sedang dan sangat tinggi dengan rentang nilai MPI dari 0,09 sampai
0,384. Faktor yang paling mempengaruhi MPI adalah faktor pendidikan dan standar hidup.
Autokorelasi spasial menunjukkan bahwa skor MPI dan modal sosial bernilai positif yang
mana memiliki koneksi spasial antar desa di kecamatan Sampang. Hal ini menunjukkan
bahwa kedekatan geografis berkorelasi kuat dengan kesamaan tingkat MPI dan modal sosial,
dikarenakan unsur-unsur sosial ekonomi, budaya, dan lingkungan yang mirip di antara
wilayah-wilayah yang berdekatan
Pengaruh Penambahan Serat Carrageenan terhadap Kinerja Marshall Campuran Laston Lapis Aus Asbuton (AC-WC Asb)
Kualitas perkerasan jalan merupakan salah satu komponen penting dalam upaya
peningkatan berbagai sektor pendukung untuk menjadikan Indonesia negara maju di tahun 2045.
Indonesia memiliki sumber daya berupa aspal alam yang melimpah yaitu aspal buton (asbuton)
yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dengan jumlah sebesar 792,5 juta ton. Asbuton
dapat mensubstitusi sebagian aspal minyak pada perkerasan jalan. Penggunaan asbuton juga dapat
meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri dimana Indonesia sendiri masih
melakukan impor aspal minyak untuk memenuhi kebutuhan aspal. Indonesia juga kaya akan
rumput laut merah atau alga merah yang mampu menghasilkan Carrageenan yang memiliki kadar
selulosa tinggi dan mampu memberikan kekuatan pada campuran beraspal. Pada penelitian ini,
campuran laston lapis aus asbuton (AC-WC Asb) akan ditambahkan dengan Carrageenan dengan
jenis iota yang diubah menjadi serat dengan sunflower oil sebagai bahan peremaja dan dilakukan
pengujian marshall untuk mengetahui pengaruh dan kadar optimum dari penambahan serat
Carrageenan.
Pembuatan serat Carrageenan dilakukan dengan microfluidic device. Kadar aspal optimum
yang digunakan pada penelitian ini adalah sebesar 6.5% dari berat total campuran. Kadar serat
Carrageenan yang ditambahkan pada campuran berasapal adalah sebesar 1%, 3%, 5%, dan 7%
dari berat aspal dengan panjang serat 1 cm. Setelah dilakukan pembuatan dan pengujian benda uji,
dilakukan analisis menggunakan grafik pita untuk mengetahui kadar serat optimum dan analisis
statistik seperti uji kenormalan, homogenitas, dan uji T untuk mengetahui pengaruh dari
penambahan serat Carrageenan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar optimum serat Carrageenan yang
ditambahkan pada campuran laston lapis aus asbuton (AC-WC Asb) adalah sebesar 3.25%.
Penambahan serat Carrageenan menurunkan nilai VIM, stabilitas, dan kelelehan dengan masing�masing sebesar 2.79%, 12.08%, dan 19.22% dibandingkan dengan campuran beraspal tanpa
penambahan serat Carrageenan. Nilai VMA, VFB, dan MQ mengalami peningkatan dengan
masing-masing sebesar 1.53%, 1.75%, dan 8.39% dibandingkan dengan campuran beraspal tanpa
penambahan serat Carrageenan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa penambahan serat
Carrageenan dengan kadar optimum memenuhi standar karakteristik marshall yang telah
ditentukan
Studi Eksperimental Pengaruh Ukuran Butiran Pada Likuifaksi di Kota Palu Menggunakan Alat Uji Shaking Table
Likuifaksi adalah perubahan material tanah dari bentuk padat menjadi cair
melalui peningkatan tekanan air pori dan penurunan tegangan efektif. Likuifaksi
dapat menyebabkan hilangnya daya dukung tanah dan merusak konstruksi di
atasnya. Meja getar sederhana yang menggunakan meja getar satu arah adalah alat
yang digunakan dalam penelitian ini. Percepatan gempa yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 0,3 g dan 0,5 g Metode perbaikan percepatan gempa yang
dilakukan berupa pemadatan. Sebelum dilakukan uji shaking table, terlebih dahulu
dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui klasifikasi tanah. klasifikasi tanah
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pasir Bergradasi Buruk. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu terjadinya likuifaksi terhadap variasi
gradasi ukuran butiran dan kepadatan pada likuifaksi tanah pasir dengan percepatan
gempa yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian, tanah dengan gradasi yang
buruk adalah yang paling cepat mengalami penurunan. Pada percepatan gempa 0,3
g terjadi penurunan total sebesar 14 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 14 mm pada 10 detik. Percepatan gempa 0,5 g menghasilkan penurunan
total sebesar 15 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 16 mm pada
32 detik. Tanah dengan gradasi yang buruk diperbaiki dengan pemadatan. Tanah
yang dipadatkan dengan kepadatan 17,838 kN/m3 menghasilkan penurunan sebesar
8 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 6 mm pada 45 detik dalam
percepatan gempa 0,3 g. Tanah yang dipadatkan dengan kepadatan 17.995 kN/m3
menghasilkan penurunan sebesar 8 mm pada 15 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 7 mm pada 20 detik pada percepatan gempa 0,5 g. Tanah yang dipadatkan
dengan kepadatan 18.563 kN/m3 mengalami penurunan 6 mm pada detik ke-15 dan
kenaikan muka air tanah 6 mm pada detik ke-25 pada percepatan gempa 0,5 g.
Pada metode numerik menggunakan Aplikasi Geostudio mendapatkan pada
percepatan 0,3 g dengan perbaikan terjadi pada kepadatan 17,838 kN/m3.
Penurunan awal terjadi pada detik ke 10 serta penurunan maksimal sebesar 9,4 mm. Likuifaksi adalah perubahan material tanah dari bentuk padat menjadi cair
melalui peningkatan tekanan air pori dan penurunan tegangan efektif. Likuifaksi
dapat menyebabkan hilangnya daya dukung tanah dan merusak konstruksi di
atasnya. Meja getar sederhana yang menggunakan meja getar satu arah adalah alat
yang digunakan dalam penelitian ini. Percepatan gempa yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 0,3 g dan 0,5 g Metode perbaikan percepatan gempa yang
dilakukan berupa pemadatan. Sebelum dilakukan uji shaking table, terlebih dahulu
dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui klasifikasi tanah. klasifikasi tanah
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pasir Bergradasi Buruk. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu terjadinya likuifaksi terhadap variasi
gradasi ukuran butiran dan kepadatan pada likuifaksi tanah pasir dengan percepatan
gempa yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian, tanah dengan gradasi yang
buruk adalah yang paling cepat mengalami penurunan. Pada percepatan gempa 0,3
g terjadi penurunan total sebesar 14 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 14 mm pada 10 detik. Percepatan gempa 0,5 g menghasilkan penurunan
total sebesar 15 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 16 mm pada
32 detik. Tanah dengan gradasi yang buruk diperbaiki dengan pemadatan. Tanah
yang dipadatkan dengan kepadatan 17,838 kN/m3 menghasilkan penurunan sebesar
8 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 6 mm pada 45 detik dalam
percepatan gempa 0,3 g. Tanah yang dipadatkan dengan kepadatan 17.995 kN/m3
menghasilkan penurunan sebesar 8 mm pada 15 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 7 mm pada 20 detik pada percepatan gempa 0,5 g. Tanah yang dipadatkan
dengan kepadatan 18.563 kN/m3 mengalami penurunan 6 mm pada detik ke-15 dan
kenaikan muka air tanah 6 mm pada detik ke-25 pada percepatan gempa 0,5 g.
Pada metode numerik menggunakan Aplikasi Geostudio mendapatkan pada
percepatan 0,3 g dengan perbaikan terjadi pada kepadatan 17,838 kN/m3.
Penurunan awal terjadi pada detik ke 10 serta penurunan maksimal sebesar 9,4 mm.Likuifaksi adalah perubahan material tanah dari bentuk padat menjadi cair
melalui peningkatan tekanan air pori dan penurunan tegangan efektif. Likuifaksi
dapat menyebabkan hilangnya daya dukung tanah dan merusak konstruksi di
atasnya. Meja getar sederhana yang menggunakan meja getar satu arah adalah alat
yang digunakan dalam penelitian ini. Percepatan gempa yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 0,3 g dan 0,5 g Metode perbaikan percepatan gempa yang
dilakukan berupa pemadatan. Sebelum dilakukan uji shaking table, terlebih dahulu
dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui klasifikasi tanah. klasifikasi tanah
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pasir Bergradasi Buruk. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu terjadinya likuifaksi terhadap variasi
gradasi ukuran butiran dan kepadatan pada likuifaksi tanah pasir dengan percepatan
gempa yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian, tanah dengan gradasi yang
buruk adalah yang paling cepat mengalami penurunan. Pada percepatan gempa 0,3
g terjadi penurunan total sebesar 14 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 14 mm pada 10 detik. Percepatan gempa 0,5 g menghasilkan penurunan
total sebesar 15 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 16 mm pada
32 detik. Tanah dengan gradasi yang buruk diperbaiki dengan pemadatan. Tanah
yang dipadatkan dengan kepadatan 17,838 kN/m3 menghasilkan penurunan sebesar
8 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 6 mm pada 45 detik dalam
percepatan gempa 0,3 g. Tanah yang dipadatkan dengan kepadatan 17.995 kN/m3
menghasilkan penurunan sebesar 8 mm pada 15 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 7 mm pada 20 detik pada percepatan gempa 0,5 g. Tanah yang dipadatkan
dengan kepadatan 18.563 kN/m3 mengalami penurunan 6 mm pada detik ke-15 dan
kenaikan muka air tanah 6 mm pada detik ke-25 pada percepatan gempa 0,5 g.
Pada metode numerik menggunakan Aplikasi Geostudio mendapatkan pada
percepatan 0,3 g dengan perbaikan terjadi pada kepadatan 17,838 kN/m3.
Penurunan awal terjadi pada detik ke 10 serta penurunan maksimal sebesar 9,4 mm.Likuifaksi adalah perubahan material tanah dari bentuk padat menjadi cair
melalui peningkatan tekanan air pori dan penurunan tegangan efektif. Likuifaksi
dapat menyebabkan hilangnya daya dukung tanah dan merusak konstruksi di
atasnya. Meja getar sederhana yang menggunakan meja getar satu arah adalah alat
yang digunakan dalam penelitian ini. Percepatan gempa yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 0,3 g dan 0,5 g Metode perbaikan percepatan gempa yang
dilakukan berupa pemadatan. Sebelum dilakukan uji shaking table, terlebih dahulu
dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui klasifikasi tanah. klasifikasi tanah
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pasir Bergradasi Buruk. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu terjadinya likuifaksi terhadap variasi
gradasi ukuran butiran dan kepadatan pada likuifaksi tanah pasir dengan percepatan
gempa yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian, tanah dengan gradasi yang
buruk adalah yang paling cepat mengalami penurunan. Pada percepatan gempa 0,3
g terjadi penurunan total sebesar 14 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 14 mm pada 10 detik. Percepatan gempa 0,5 g menghasilkan penurunan
total sebesar 15 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 16 mm pada
32 detik. Tanah dengan gradasi yang buruk diperbaiki dengan pemadatan. Tanah
yang dipadatkan dengan kepadatan 17,838 kN/m3 menghasilkan penurunan sebesar
8 mm pada 10 detik dan kenaikan muka air tanah sebesar 6 mm pada 45 detik dalam
percepatan gempa 0,3 g. Tanah yang dipadatkan dengan kepadatan 17.995 kN/m3
menghasilkan penurunan sebesar 8 mm pada 15 detik dan kenaikan muka air tanah
sebesar 7 mm pada 20 detik pada percepatan gempa 0,5 g. Tanah yang dipadatkan
dengan kepadatan 18.563 kN/m3 mengalami penurunan 6 mm pada detik ke-15 dan
kenaikan muka air tanah 6 mm pada detik ke-25 pada percepatan gempa 0,5 g.
Pada metode numerik menggunakan Aplikasi Geostudio mendapatkan pada
percepatan 0,3 g dengan perbaikan terjadi pada kepadatan 17,838 kN/m3.
Penurunan awal terjadi pada detik ke 10 serta penurunan maksimal sebesar 9,4 mm.Sedangkan pada percepatan gempa 0,5 g terjadi likuifaksi pada kepadatan 17,995
kN/m3 dan 18,563 kN/m3. Pada kepadatan 17,995 kN/m3 penurunan awal pada detik
10 dan penurunan maksimal sebesar 15 mm. sedangkan pada kepadatan 18,563
kN/m3 penurunan awal pada detik 12 dan penurunan maksimal sebesar 10 mm.
Berdasarkan hasil penelitian, pemadatan dapat mengurangi potensi likuifaksi
Analysis Of The Effect Of Soft Coulomb Potential Depth On The High Harmonic Generation Energy Spectrum Using The Symmetrized Split Operator Fast Fourier Transform (Ssofft) Method
This research analyzes how the depth of the Soft Coulomb
Potential affects the HHG energy spectrum. The main focus of
this study is to analyze the influence of potential depth variations
on the energy spectrum, as well as the correspondence between
cut-off energy values from analytic calculations and simulations,
and the contribution of electron dynamics at the atomic level in
forming the HHG energy spectrum. Programming is done using
Fortran, Python, and Sublime Text. The program is based on the
time-dependent Schrödinger equation perturbed by external
energy using filter and SSOFFT methods
Pengaruh Kualitas Taman Teluk Grajakan Sebagai Ruang Publik Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Setempat.
Taman Teluk Grajakan merupakan taman aktif yang terletak di RW 14 Kelurahan
Pandanwangi dengan luas sekitar 5.689 m2
. Taman ini memiliki hamparan rumput hijau
serta pepohonan yang rindang dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap sehingga
menjadikan taman ini cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk berolahraga,
bermain, bersantai atau hanya sekadar menikmati keindahan taman. Taman sebagai ruang
publik yang berkualitas, yakni bersih, aman, indah dan fasilitas yang memadai dapat
meningkatkan kualitas mental dan fisik masyarakat. Taman juga memberikan ruang bagi
masyarakat untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik melalui interaksi sosial. Selain
itu, taman juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Taman
yang hijau dan sehat dapat membantu mengurangi polusi udara dan suara. Hal ini secara
tidak langsung menciptakan hidup lebih nyaman dan sehat sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup masyarakat. World Health Organization (WHO) mendefinisikan kualitas
hidup sebagai pandangan tiap individu terhadap pandangannya dalam kehidupan, yang
terkait dalam konteks budaya dan lingkungan sekitar. Penelitian ini berfokus pada kualitas
Taman Teluk Grajakan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar taman tersebut dengan
tujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas taman Teluk Grajakan mempengaruhi
kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitar taman tersebut dan mengidentifikasi
variabel kualitas taman yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar
taman tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis
berupa analisis statistik deskriptif dan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis
indikator kualitas taman yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Kualitas
taman diukur melalui instrumen pertanyaan yang terdiri dari 32 item berdasarkan empat
variabel kualitas taman yaitu kenyamanan & citra, akses & keterhubungan, penggunaan &
aktivitas, serta keramahan. Sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan instrumen
pertanyaan yang bersumber dari WHOQOL-Bref dimana instrumen kuesioner ini terdiri
dari 24 item pertanyaan berdasarkan empat domain Kualitas Hidup yaitu kesehatan fisik,
kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam
pengumpulan data penelitian ini adalah observasi lapangan dan penyebaran kuesioner
kualitas taman serta kualitas hidup untuk mendapatkan informasi tentang kualitas taman
dan hidup berdasarkan persepsi masyarakat di sekitar taman. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa variabel kualitas taman berpengaruh terhadap signifikan kualitas hidup masyarakat
di sekitar Taman Teluk Grajakan dengan besaran pengaruh yang diberikan adalah 20.9%