Al-Mizan (e-Journal)
Not a member yet
    204 research outputs found

    Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pencurian Hasil Hutan Bukan Kayu (Getah Pinus) di Kabupaten Tana Toraja

    Full text link
    This study aims to analyze law enforcement against theft of non-timber forest products (pine resin) in Tana Toraja and inhibiting factors in law enforcement. This research is normative-empirical research using a statutory approach, conceptual approach, and sociological enforcement with data sources in the form of observations, documentation, and interviews with the police, prosecutors, and judges who handle the case. The results of this study indicate that law enforcement against the crime of theft of forest products in Tana Toraja Regency substantially uses Law Number 41 of 1999 concerning Forestry, but structurally, law enforcers are still less effective in handling it. While the inhibiting factors affecting law enforcement, namely structurally, the police are still less effective in acting according to the mandate of the law, there are still unscrupulous officials who intervene in the taking of pine resin; and related facilities or facilities are not adequate in supporting the implementation of law enforcement against the crime of pine resin theft

    Disparitas Pemidanaan dalam Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Keuangan Negara

    Full text link
    This study aims to analyze legal factors and factors of law enforcement officials that influence the disparity in sentencing for corruption which results in state losses. The type of research used is empirical normative legal research. The results of the study show that (1) the legal factor in the presence of disparity decisions regarding corruption crimes has not been optimal because the minimum criminal sanctions in the corruption law cause disparity in sentencing which is quite disturbing due to the non-uniformity in the provision of minimum sentences for similar offenses. (2) the factor of law enforcement officials as the cause of the disparity in sentencing of corruption case decisions is very clearly seen and felt to be very unfair to each other, there is no clear guideline regarding the prevention of disparity in corruption criminal rulings so law enforcement officers exercise their power to decide similar offenses the pretext of the judicial power law

    Perlindungan Terhadap Anak Penyandang Disabilitas Pasca Putusan Perceraian Orang Tua di Kabupaten Kolaka

    Full text link
    This study aims to analyse the form of protection for children with disabilities after parental divorce and the role of the government in providing protection for children with disabilities after parental divorce. This research is empirical juridical in nature with data collection techniques derived from library research and field research. The results of this study indicate that: (1) the form of protection of children with disabilities after divorce decisions in Kolaka Regency is based on the rights of children with disabilities contained in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and Law Number 8 of 2016 concerning Persons with Disabilities, but has not been implemented optimally in accordance with the legislation; (2) The role of the Kolaka Regency government has not been optimal in carrying out its mandate based on Kolaka Regency Regional Regulation Number 3 of 2016 concerning the Implementation of Child Protection

    Senjata Api sebagai Mas Kawin Pada Masyarakat Adat di Pegunungan Arfak Papua Barat

    Full text link
    This study aims to analyze the validity of firearms as dowry and the legal consequences arising from the existence of Papuan customary law in the Arfak Mountains of West Papua. This research is a normative-empirical research with a statutory approach and a legal sociology approach. The types and sources of law used in this research are primary data sourced from observation, interviews, and documentation, as well as secondary data derived from literature. Furthermore, the collected data is analyzed with qualitative description.  The results showed that: (1) the validity or legality of firearms as a dowry does not apply to the marriage of the mountain people of the Arfak tribe. This is because firearms can only be owned by law enforcement officers and security forces who have permission to use firearms; (2) the legal consequences of the enactment of Arfak tribal customs regarding the provision of firearms as dowry are considered valid because firearms are only a symbol in the customs of indigenous tribes and are considered to have historical values that have been passed down from generation to generation, and are not an aspect that cancels a marriage.Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menjelaskan keabsahan senjata api sebagai mas kawin dalam hukum adat papua terutama di Kabupaten Manokwari dan di Kabupaten Pegunungan Arfak. Untuk mengetahui dan menjelaskan akibat hukumnya berlakunya kebiasaan/ adat istiadat orang asli papua tentang pemberian senjata api sebagai mas kawin di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Normatif-Empirik, menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan sosiologi hukum. Jenis serta sumber hukum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Data primer dan Data sekunder. Metode pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi, keseluruhan dari data dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan 1. Keabsahan atau legalitas senjata api sebagai mas kawin tidak berlaku pada pernikahan masyarakat Pegunungan Suku Arfak karna senjata api hanya dapat dimiliki oleh aparat penegak hukum serta pasukan pengamanan yang memiliki izin penggunaan senjata api. Mengacu pada peraturan kapolri No 82 Tahun 2004 menjelaskan bahwa masyarakat adat Papua yang menggunakan senjata api sebagai mas kawin dalam perkawinan tidak berhak memiliki senjata api, jadi dapat dikatakan bahwa kepemilikan senjata api oleh masyarakat adat asli Papua dinilai ilegal, 2. Akibat hukum berlakunya kebiasaan/adat istiadat orang asli Papua tentang pemberian senjata api sebagai mas kawin di Pegunungan Arfak maka pernikahan tersebut di anggap sah karna senjata api hanya merupakan simbol dalam adat masyarakat pegunungan arfak dan dianggap memiliki nilai-nilai sejarah yang telah diturunkan secara turun temurun dan bukan merupakan aspek yang membatalkan suatu pernikahan, beberapa upaya aparat penegak hukum wilayah papua barat dalam melakukan penanggulangan penggunaan senjata api yaitu Penyuluhan dan Pemberian Sanksi Pidana

    Pemahaman Moderasi Beragama dalam Keluarga Melalui Pendidikan Kursus Pranikah di Kabupaten Bogor.

    Full text link
    This research aims to provide an understanding of religious moderation to prospective brides through premarital courses in Rumpin Village with a research focus on the internalisation of religious moderation values to prospective brides through educational activities, premarital counseling, and understanding of Islamic teachings in the family environment in order to form a family that is appeasement (sakinah), love (mawaddah), affection (warahmah) and has moderate religious insight. This research is a field research with a sociological approach. Data collection techniques using documentation and observation, then analysed descriptively qualitative. The results showed that bridge-to-be in Rumpin Village in the premarital education held at the Religious Affairs Office were given religious knowledge material on how to settle down through moderate perspectives and attitudes. Moreover, the premarital education course is a programme of the Ministry of Religious Affairs which is carried out before the marriage contract is held. Islamic teachings remind us of the importance of knowledge in marriage.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman moderasi beragama kepada calon pengantin melalui kursus pranikah di Desa Rumpin dengan fokus penelitian tentang internalisasi nilai-nilai moderasi beragama kepada calon pengantin melalui kegiatan-kegiatan pendidikan, penyuluhan pranikah, dan pemahaman ajaran Islam di lingkungan keluarga dalam rangka membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta mempunyai wawasan keberagamaan yang moderat. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan sosiologis. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan observasi, kemudian dianalis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon pengantin di Desa Rumpin dalam kursus pranikah yang diadakan di Kantor Urusan Agama diberikan materi pengetahuan agama tentang cara berumah tangga melalui cara pandang dan sikap moderat. Apalagi kursus pranikah adalah sebuah program dari Kementerian Agama RI yang dilaksanakan sebelum diadakannya akad nikah. Ajaran Islam mengingatkan tentang pentingnya ilmu dalam pernikahan

    Kedudukan Badan Keamanan Laut dalam Penegakan Hukum di Laut

    Full text link
    This research discusses the position of the Marine Security Agency in law enforcement at sea. This research uses a statutory approach and a historical approach. Descriptive qualitative analysis technique, namely by describing, explaining, describing, and describing primary legal materials and secondary legal materials following the problems closely related to this research, then drawing a conclusion based on the analysis that has been done. The results showed that the position of the Marine Security Agency (Bakamla) with fellow law enforcers at sea as a coordinator, but it does not eliminate the authority of other law enforcers. Bakamla is present to replace the function of the Marine Security Coordinating Agency (Bakorkamla) which was previously considered to fail in synergizing law enforcement at sea. Meanwhile, Bakamla\u27s authority is to conduct instant pursuit, stop, inspect, arrest, bring ships, and hand over to related agencies. These authorities are authorities that are often found in the investigation process, but Bakamla as a law enforcer at sea, is not given the authority to conduct investigations. Bakamla\u27s authority as an investigator is still waiting for the Omnibus Law on Marine Security which is currently being discussed in the House of Representatives.Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, yaitu melakukan study kepustakaan terhadap dokumen dokumen hukum Pendekatan yang digunakan adalah; pendekatan perundang-undangan dan pendekatan historis. Sumber bahan hukum adalah perundang-undangan, konvensi internasional, regulasi nasional, literatur hukum, jurnal jurnal dan bahan-bahan dari internet. Teknik analisis bahan hukum yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara memaparkan, menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder  sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini, kemudian menarik suatu kesimpulan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedudukan Bakamla dengan sesama penegak hukum dilaut adalah sebagai koordinator tetapi tidak menghilangkan kewenangan penegak hukum lainnya. Bakamla hadir menggantikan fungsi Bakorkamla yang sebelumnya dinilai gagal dalam mensinergikan penegakan hukum di laut. Sedangkan Kewenangan Bakamla adalah; melakukan pengejaran seketika, memberhentikan, memeriksa, menangkap, membawa kapal dan menyerahkan ke instansi terkait. Kewenangan tersebut  adalah kewenangan yang sering dijumpai dalam proses penyelidikan, namun Bakamla sebagai penegak hukum di laut, tidak diberikan kewenangan melakukan penyidikan. Kewenangan Bakamla sebagai penyidik masih menunggu Omnibus Law Keamanan Laut yang saat ini masih dibahas di DPR

    Legal Protection of Marks in the Perspective of Property Rights Law

    Full text link
    The brand is the manufacturer\u27s public persona, a barometer of the company\u27s public standing, and a watershed moment in the company\u27s overall business strategy. There\u27s no getting around the fact that a product\u27s brand serves as its identity; after all, it\u27s what sets one firm apart from another. The protection of registered marks, however, is sometimes the source of intricate legal challenges that obscure the mark\u27s true significance. The purpose of this research is to evaluate and analyze the legal protection of registered trademarks and to determine the reason of the termination of its protection using a normative juridical approach. The research uncovered a number of potential triggers for a brand\u27s registration to be revoked, such as the end of the brand\u27s validity period, a request for revocation by the brand\u27s owner, ministerial initiative based on the recommendation of the brand appeal Commission, or a lawsuit filed by a third party. Once the trademark is registered, it is protected for a certain length of time that may be extended. Legal action, criminal prosecution, and administrative measures like trademark cancellation or registration rejection all serve as deterrents. Defending corporate identities through trademarks is crucial in today\u27s period of intense global competition. This study delves deeply into the value of brands to manufacturers and the legal hurdles that must be overcome to ensure a brand\u27s long-term viability in a competitive market. With this knowledge in hand, company stakeholders may take the necessary initiatives to establish a brand that will endure. Protecting your name and your ideas are essential.Merek menjadi wajah dan karakter bagi setiap produsen, mencerminkan citra dan reputasi perusahaan, serta menjadi tonggak strategi bisnis. Penggunaan merek sebagai identitas produk atau jasa tidak dapat diabaikan, karena merek mampu membedakan perusahaan dari pesaingnya. Namun, di balik pentingnya merek, sering kali terjadi sengketa hukum yang kompleks terkait dengan perlindungan merek terdaftar. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana perlindungan hukum terhadap merek terdaftar, serta mengidentifikasi penyebab berakhirnya perlindungannya. Hasil penelitian mengungkapkan beberapa alasan mengapa terdaftarnya merek dapat berakhir, termasuk berakhirnya masa berlaku merek, permintaan penghapusan oleh pemilik merek, inisiatif dari Menteri berdasarkan rekomendasi Komisi Banding Merek, dan gugatan dari pihak ketiga. Perlindungan merek dimulai sejak pendaftaran dan berlangsung selama masa jangka waktu tertentu, namun dapat diperpanjang. Upaya perlindungan mencakup gugatan perdata, penuntutan pidana, dan tindakan administratif seperti penolakan pendaftaran atau penghapusan merek. Dalam era persaingan global yang semakin ketat, melindungi identitas bisnis melalui merek menjadi penting. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang peranan merek sebagai aset berharga bagi produsen dan mengajak untuk lebih memahami tantangan hukum yang dihadapi untuk menjaga keberlanjutan merek dalam pasar yang dinamis. Dengan pemahaman ini, para pemangku kepentingan bisnis dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengukir jejak merek yang tak terlupakan dan mampu bertahan dalam ujian waktu

    The Implementation of Death Penalty in The Context of Islamic Law and Criminal Law in Indonesia: Challenges and Implication

    Full text link
    This research aims to answer how the death penalty is regulated in the context of Islamic law and positive criminal law in Indonesia by parsing the challenges and implications. This type of research is conducted with a normative approach, namely by analysing the problem through an approach to legal principles and referring to legal norms contained in legislation. The results show that the death penalty in Islam triggers controversy, where the cons argue that the death penalty does not originate from the Qur\u27an and Al-Hadith, but is a derivative of the history of the prophet and the Arabs; they are also concerned about human intervention in its implementation so that it is considered not truly from God. On the other hand, the pro side argues that the death penalty is God\u27s will without human intervention. Moreover, in positive criminal law, the death penalty is used to protect the fabric of life and is considered legitimate even though every individual has the right to life. Thus, the state is considered to protect its citizens from unlawful acts.Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana pengaturan hukuman mati dalam konteks hukum islam dan hukum pidana positif di Indonesia dengan mengurai tantangan dan implikasinya. Jenis penelitian dalam ini dilakukan dengan pendekatan normatif yaitu dengan melakukan analisis terhadap permasalahan melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum serta mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hukuman mati dalam Islam memicu kontroversi, dimana pihak yang kontra berpendapat bahwa hukuman mati tidak berasal dari Al-Qur\u27an dan Al-Hadits, melainkan merupakan hasil turunan sejarah nabi dan bangsa Arab; mereka juga mengkhawatirkan campur tangan manusia dalam pelaksanaannya sehingga dianggap tidak benar-benar berasal dari Tuhan. Di sisi lain, pihak yang pro berpendapat bahwa hukuman mati adalah kehendak Allah tanpa campur tangan manusia. Selain itu, dalam hukum pidana positif, hukuman mati digunakan untuk melindungi struktur kehidupan dan dianggap sah walaupun setiap individu memiliki hak atas hidupnya. Dengan demikian, negara dianggap melindungi warganya dari tindakan yang melanggar hukum

    Perlindungan Hak Jurnalis Terkait Ujaran Kebencian dalam Hukum Positif Indonesia

    No full text
    This study aims to analyze the protection of journalists\u27 rights regarding hate speech in Law Number 19 of 2016 concerning Information and Transactions and the protection mechanisms regulated in Law Number 40 of 1999 concerning the Press. The research method used is the normative method with the Statute Approach approach and is processed using the legal hermeneutic method. The results of the study show that article 28, paragraph (3) regarding hate speech in the ITE Law is an article that has multiple interpretations and is prone to misuse. The ITE Law can also set aside the Press Law as a lex specialist in protecting journalists. Meanwhile, the Press Law has a mechanism for preserving the journalist profession, such as the right of reply, the right of correction, a Memorandum of Understanding between the Press Council and the Indonesian National Police, and dispute resolution through the Press Council. This research reveals that the ITE Law and the Press Law differ in protecting journalists\u27 rights regarding hate speech.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hak jurnalis terkait ujaran kebencian dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi, serta mekanisme perlindungan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Metode penelitian yang digunakan adalah metode normatif dengan pendekatan statute approach dan diolah dengan metode hermeneutika hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasal 28 ayat (3) mengenai ujaran kebencian dalam UU ITE merupakan pasal yang multitafsir dan rentan disalahgunakan. UU ITE juga dapat mengesampingkan UU Pers sebagai lex spesialis dalam perlindungan jurnalis. Sedangkan UU Pers memiliki mekanisme perlindungan terhadap profesi jurnalis, seperti hak jawab, hak koreksi, Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan penyelesaian sengketa melalui jalur Dewan Pers. Penelitian ini mengungkapkan bahwa UU ITE dan UU Pers memiliki perbedaan dalam perlindungan hak jurnalis terkait ujaran kebencian. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi antara kedua undang-undang tersebut agar tidak terjadi tumpang tindih dan kontraproduktif dalam pengaturan norma. Selain itu, diperlukan penguatan mekanisme perlindungan dalam UU ITE agar tidak menimbulkan kriminalisasi terhadap jurnalis yang melaksanakan tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Dengan demikian, perlindungan hak jurnalis dapat dijamin dengan baik dan kebebasan pers dalam menjalankan tugasnya dapat terlindungi sesuai dengan amanat konstitusi negara

    Susuan Dalam Tinjauan Tafsir Ayat-Ayat Ahkam

    No full text
    Breastfeeding is a bonding of a mother to her baby which is natural to meet the basic needs of the baby so that it can grow and develop physically and psychologically properly. Islamic teachings explicitly regulate this in the Qur\u27an and Hadith, which aim to make the basic life processes of a child follow Islamic law. This study aims to analyze breastfeeding (ar-radha\u27ah) problems, especially regarding breastfeeding of non-biological children which creates intimacy between mother and child, and contemporary problems related to breastfeeding through the verses of law in the Qur\u27an based on the opinion of scholars, especially commentators. The research in this paper uses qualitative methods with data collection techniques based on literature study by reading several references such as the Qur\u27an, hadith, books, and articles, and analyzing the opinions of commentators. The results of this study state that breastfeeding is recommended for mothers to their biological children, but breastfeeding is carried out by mothers to non-biological children, so this breastfeeding has legal implications, namely the prohibition of marriage. Breastfeeding creates friendship between mothers who donate breast milk and babies who are breastfed either through direct suction (tsadyu) or not, even if it\u27s only one suck or by way of fair (sau\u27ut) which lasts for two years because this will form bones and grow flesh in the growth of the baby so that it will make marriage illegal. In ar-radha\u27ah include recommendations for breastfeeding, the father\u27s obligation to provide support during breastfeeding, the permissibility of breastfeeding children other than the biological mother, and the nature of breastfeeding.Menyusui merupakan bonding atau kelekatan seorang ibu dengan bayinya yang menjadi fitrah untuk memenuhi kebutuhan dasar bayi agar bisa tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikis dengan baik. Ajaran Islam mengatur hal ini secara eksplisit al-Qur’an dan Hadis,  yang bertujuan agar proses kehidupan dasar seorang anak mengikuti syariat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa permasalahan penyusuan (ar-radha’ah) khususnya tentang penyusuan terhadap bukan anak kandung yang menimbulkan kemahraman antara ibu dan anak, permasalahan kontemporer terkait sususan melalui ayat-ayat ahkam dalam al-Qur’an berdasarkan pendapat ulama khususnya ulama tafsir. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berbasis studi pustaka dengan proses membaca beberapa referensi seperti al Qur’an Hadis, buku, artikel, literatur, serta menganalisa pendapat para mufassir. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa memberikan asi adalah sebuah anjuran bagi ibu kepada anak kandungnya, namun penyusuan yang dilakukan oleh ibu kepada bukan anak kandungnya maka penyusuan ini berimplikasi hukum yaitu berlaku pengharaman pernikahan. Penyusuan menimbulkan kemahraman antara ibu yang mendonasi asi dengan bayi yang disusuinya baik melalui tsadyu (isapan langsung) ataupun tidak, walaupun hanya sekali hisapan. Atau dengan cara wajur maupun sau’ut yang berlangsung selama dua tahun karena hal ini akan membentuk tulang dan menumbuhkan daging dalam pertumbuhan si bayi sehingga menimbukan keharamanan pernikahan

    170

    full texts

    204

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Mizan (e-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇