Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
    259 research outputs found

    Manajemen Risiko Penyakit Akibat Kerja di Industri Roti

    No full text
    The rendang bread industry is one of the bakery industry in Palembang that has various risks of occupational diseases. This study aims to identify, analyze, and evaluate health risks in the work environment of the rendang bread industry which can cause occupational diseases and develop control recommendations so that occupational diseases do not arise which can be detrimental to workers and the industry. This research is a semi-quantitative research. Data was collected by observation and interviews. The data processing method in this study uses the HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) method. The results showed that there were 21 kinds of risks in the production process of rendang bread with 9.52% extreme risk, 38.10% high risk, 47.62% moderate risk and 4.76% low risk. Risk control that can be carried out for the rendang bread production process is by eliminating unsafe equipment, replacing unsafe tools and materials with safer ones, redesigning the work environment, providing education to workers, encouraging changes in worker behavior to improve safety and health in work, as well as the use of personal protective equipment appropriate to the type of work

    Pengetahuan dan Self-Efficacy Orang Tua dalam Persiapan Pertemuan Tatap Muka Terbatas di Tengah Pandemi Covid-19

    No full text
    Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di sekolah mulai diberlakukan, sehingga membutuhkan persiapan termasuk pada orang tua siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektiftas edukasi mengenai protokol kesehatan selama pertemuan tatap muka terbatas tehadap pengetahuan dan efikasi diri orang tua siswa. Penelitian kuantitatif ini menggunkan metode pra eksperimen one group pretest-posttest dengan 74 sampel orang tua siswa SDN 001 Sungai Kunjang Samarinda. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pre test dan post test online setelah diberikan edukasi tentang protokol kesehatan pada PTM terbatas. Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-rank Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan orang tua (p-value 0,000), namun tidak terdapat perbedaan self-efficacy (p-value 0,111) sebelum dan setelah edukasi. Pihak sekolah dapat memberikan penyampaian informasi secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan orang tua demi menjaga ketahanan sekolah di era pasca pandemi

    Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Sosial dengan Keikutsertaan Masyarakat dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Desa Sepanjang Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang

    No full text
    Kepesertaan merupakan barometer keberhasilan program Jaminan Kesehatan Nasional yang penting dalam menjaga sustainibilitas program. Namun informasi mengenai Jaminan Kesehatan Nasional masih terbatas sehingga kurangnya pengetahuan masyarakat berdampak pada rendahnya dorongan untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan dukungan sosial dengan keikutsertaan masyarakat dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Sepanjang Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan case control. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan dengan frekuensi terbanyak pada kategori pengetahuan baik sebanyak 62 responden (72,1%), tingkat dukungan sosial dengan frekuensi terbanyak pada kategori dukungan sosial tinggi sebanyak 46 responden (53,5%). Hasil uji chi square menunjukkan nilai p 0,002 < α 0,05 sehingga ada hubungan pengetahuan dengan keikutsertaan Jaminan Kesehatan Nasional. Hasil juga menunjukkan nilai p 0,0005 < α 0,05 yang menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan sosial dengan keikutsertaan Jaminan Kesehatan Nasional. Kesimpulan dari penelitian terdapat hubungan pengetahuan dan dukungan sosial dengan keikutsertaan masyarakat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Sepanjang

    Hubungan Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Perilaku Makan dan Asupan Energi Mahasiswa Gizi Universitas Airlangga

    No full text
    Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan sekumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita, yang muncul secara siklik dengan tingkatan dan gejala yang berbeda-beda, dalam rentang waktu 7-10 hari sebelum menstruasi. Gejala emosional seperti mudah marah, mood swing, dan depresi dapat menjadi pemicu perubahan nafsu makan, sehingga wanita cenderung mengonsumsi makanan kaya energi. Peningkatan konsumsi makan oleh wanita dengan PMS terkait dengan upaya untuk mengurangi efek negatif pada perubahan mood. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kejadian PMS dengan perilaku makan dan asupan energi mahasiswi Gizi Universitas Airlangga. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan desain cross sectional. Jumlah responden 62 mahasiswi S1 Gizi Universitas Airlangga. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Data diambil secara online, termasuk data karateristik responden, tingkat gejala PMS, perilaku makan, serta asupan kalori.  Analisis data secara statistik menggunakan uji Chi-Square dan uji Korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan, mahasiswi mengalami PMS dengan kategori gejala sedang (45,2%) dan gejala berat (45,2%). Sebanyak 46,8% mahasiswi memiliki skor tinggi pada perilaku emotional eating. Mayoritas asupan energi mahasiswi (71%) defisit tingkat berat. Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara PMS dengan emotional eating (p=0,030). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara PMS dengan emotional eating, sehingga perlu adanya peningkatan awareness terhadap kejadian PMS, serta kemampuan untuk mengendalikan kondisi emosional terhadap hal-hal yang lebih positif

    Dampak Media Sosial Terhadap Body Image Remaja Putri

    No full text
    Media sosial merupakan salah satu bentuk teknologi informasi dalam berkomunikasi, media sosial mempermudah informasi menyebar dan sampai kepada sasaran. Perkembangan jejaring sosial sangat luar biasa terjadi baik dikalangan usia anak-anak, remaja dan usia tua, hal ini terjadi karena media sosial mudah diakses dengan jejaring pertemanan yang tanpa batas. Media sosial mempunyai banyak manfaat jika digunakan dengan bijak, Remaja putri lebih detail dan memiliki standar dalam menilai bentuk tubuhnya dibandingkan dengan remaja laki-laki, informasi lain bahwa body image pada siswa laki-laki lebih baik dibandingkan body image siswa perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak dari media sosial terhadap body image remaja putri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional research. Sampel penelitian sebanyak 100 remaja putri yang diambil menggunakan purposive sampling . Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan alat ukur skala Multidimensional Body-self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS). Data dianalisis secara statistik deskriptif.. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden paling banyak berusia 18-20 tahun (43%), sebanyak 30 orang (30%) responden pengguna media sosial Instagram dengan konten yang paling banyak dilihat adalah kecantikan 48 orang (48%) serta sebanyak 89 orang (89%) menggunakan media sosial selama 2 jam dalam satu kali melihat. Body image (Citra Tubuh) pada remaja putri di Kabupaten Ciamis usia 11-20 tahun berada dalam kategori sedang sebanyak 70 orang (70 %). Dampak penggunaan media sosial pada remaja putri adalah timbulnya body image positif dan body image negatif. Edukasi tentang body image melalui media sosial diperlukan untuk mengarahkan remaja putri pada body image postif. &nbsp

    Education For Healthy Latrine In Kampala Hamlets, Limapoccoe Village, Maros Regency

    No full text
    Permanent healthy latrines are latrines that already use a goose-neck construction and are located inside the house. In 2020, 72.3% of Indonesian families have used permanent healthy latrines. The remaining 18.5% use semi-permanent healthy latrines and 9.2% use sharing/communal latrines. This research uses quantitative research with purposive sampling technique. This study uses quasi-experimental designs with a one-group pretest-posttest. The research population is the population living in Kampala Hamlets, Limapoccoe Village. Respondents in this study amounted to 30 respondents. The variables seen in this study are Knowledge and Attitudes Regarding the Healthy Latrine. This research was conducted in December 2021. Data processing was carried out in a descriptive analytic manner with the Wilcoxon test. The results of the research conducted on the level of community knowledge in the Kampala hamlet regarding healthy latrine there was a significant difference (p value 0.00) in the knowledge, attitudes and actions of the community before and after the counseling was carried out. It is necessary to have an integrated counseling program carried out by the puskesmas, posyandu cadres, and Kampala village government so that there is an increase in knowledge, attitudes and actions of healthy latrine

    Analisis Tumbuh Kembang Anak Stunting 0-36 Bulan Di Kelurahan Pengawu (Lokus Stunting Kota Palu)

    No full text
        Stunting merupakan masalah kesehatan yang harus diperhatikan dan ditangani sejak dini, karena berdampak sangat panjang untuk kehidupan seseorang. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, menurunkan produktivitas, kerentanan terhadap penyakit, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan yang berefek jangka panjang bagi dirinya, keluarga, dan pemerintah. Stunting seringkali hanya diukur dari indicator fisik tanpa menyertai dengan indicator psikososial Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mengevaluasi faktor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang Batita stunting di Kelurahan Pengawu. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian Kuantitatif dengan desain Cross Sectional Study. Populasi pada penelitian ini adalah semua anak Batita (Anak bawah tiga tahun) di Kelurahan Pengawu (lokus stunting Kota Palu), adapun Sampel berjumlah 145 orang yang diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan riwayat pemberian ASI Eksklusif (p=0,003), pengetahuan gizi ibu (p=0,004) dan pendapatan keluarga (p=0,003) terhadap kejadian stunting, dan tidak ada hubungan antara frekuensi ANC (p=0,058) dan perkembangan psikososial (p=0,063) pada kejadian stunting. Dalam pengamatan mendalam yang dilakukan peneliti pada indikator tumbuh kembang anak Batita juga menunjukkan bahwa anak yang berstatus stunting pada umumnya (60,3%) memiliki perkembangan psikososial yang baik sehingga perlu dilakukan screening yang komprehensif sebelum seorang anak ditetapkan berstatus stunting

    Analisis Spasial Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan Kejadian Stunting di Kabupaten Cianjur Tahun 2017

    No full text
    Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun), akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak tersebut mengalami ukuran yang terlalu pendek dari anak seusianya secara umum. Stunting atau balita pendek meningkatkan risiko kematian anak, berdampak buruk pada perkembangan kognitif dan motorik, menurunkan kinerja di sekolah, meningkatkan risiko kelebihan gizi dan penyakit tidak menular, dan mengurangi produktivitas di masa depan. Tujuan penelitian ini adalah diharapkan dapat menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan dan mudah dipahami melalui informasi berbasis lokasi/spasial.Penelitian ini menggunakan rancangan studi deskriptif dan menggunakan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat Tahun 2017, Kementerian Kesehatan Tahun 2017, dan data shapefile peta. Hasil penelitian didapatkan terdapat 4 daerah prioritas untuk dilakukan penanganan stunting, terdapat 2 terdapat wilayah dengan persentase balita sangat pendek , 7 daerah dengan presentase balita pendek, dan 4 wilayah dengan akses sanitasi yang rendah. Diperlukan partisipasi aktif dalam upaya mengatasi kasus stunting dengan mengedepankan ketersediaan fasilitas sanitasi untuk mendukung perilaku hidup bersih

    Prevalensi Kristal Urin Pada Pasien Prolanis Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Bangetayu

    No full text
    Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan faktor risiko penyebab nefrolitiasis. Pasien mengalami hiperglikemia kronis akibat kelalaian kontrol kadar glukosa yang buruk yang akan memicu Urolithiasis. Gangguan amoniagenesis di ginjal mengakibatkan derajat keasaman urin menurun dan memicu pembentukan kristal urin sehingga prevalensi kristal urin lebih banyak pada pasien Diabetes daripada nonDiabetes. Pemeriksaan kristal urin bermanfaat untuk skrining urolithiasis, maka gangguan fungsi ginjal akut atau kronis yang terkait dengan presipitasi kristal di bagian intrarenal pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dapat dicegah. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik dan prevalensi kristal urin pada pasien Prolanis DM tipe 2 di Puskesmas Bangetayu Kota Semarang. Jenis Penelitian adalah observasional analitik dengan desain studi kasus kontrol. Jumlah sampel penelitian sebanyak 40 orang diambil dengan metode total sampling 1:1 berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kristal asam urat kelompok kasus sebanyak 10 orang (25%) dan kontrol 17 orang (42,5%), kristal amorf kelompok kasus sebanyak 4 orang (10%) dan kontrol 24 orang (60%) dan kristal oksalat kelompok kasus sebanyak 11 orang (27,5%) dan kontrol 13 orang (32,5%). Prevalensi kristal urin pada pasien prolanis Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Bangetayu lebih sedikit menunjukkan adanya kristal urine dibandingkan dengan kelompok kontrol Non-Diabetes Melitus Tipe 2

    Hubungan Antara Shift Kerja dan Durasi Kerja dengan Keluhan Kelelahan Pada Perawat di Rumah Sakit Daerah Balung Kabupaten Jember Tahun 2021

    No full text
             Kelelahan merupakan permasalahan yang sering terjadi ditempat kerja, baik sektor formal maupun informal. Kelelahan secara nyata dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja dan dapat menurunkan produktivitas kerja yang ditandai dengan menurunnya fungsi fisiologis motorik, serta menurunnya semangat kerja. Salah satu faktor penyebab kelelahan kerja adalah beban serta durasi kerja dari perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara shift kerja dan durasi kerja dengan kelelahan perawat di Rumah Sakit Daerah Balung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross setional study, dengan total populasi sebanyak 126 perawat dan sampel sebanyak 80 perawat dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data diri responden dan kuesioner IFRC untuk mengukur kelelahan kerja. pengolahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji chisquare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki keluhan kelelahan tingkat rendah yaitu sebanyak 42 perawat atau sebesar 52,5% dan minoritas sebanyak 5 perawat atau sebesar 6,3% memiliki keluhan kelelahan tingkat sangat tinggi. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chisquare diperoleh bahwa nilai p 0,000 > α = 0,005. Dengan demikian H0 ditolak, artinya terdapat hubungan antara shift kerja dengan keluhan kelelahan pada perawat. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chisquare diperoleh nilai p 0,007 < α = 0,005. Dengan demikian H0 diterima, artinya tidak terdapat hubungan antara durasi kerja dengan keluhan kelelahan pada perawat. Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap keluhan kelelahan, serta tidak ada hubungan antara durasi kerja dengan tingkat keluhan kelelahan pada perawat di Rumah Sakit Daerah Balung Kabupaten Jember

    17

    full texts

    259

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇