Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
259 research outputs found
Sort by
PERILAKU AKSEPTOR DALAM MEMILIH METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) DI POSKESDES ANUTA SINGGANI KECAMATAN MANTIKULORE KOTA PALU
Akseptor Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) adalah Pasangan Usia Subur(PUS) yang salah seorang dari padanya menggunakan salah satu alat kontrasepsi jangkapanjang. Di Kota Palu pengguna IUD sebanyak 235 orang, MOW 195 orang, Implant169 orang. Pada Kecamatan Mantikulore Kelurahan Tondo RW 13 diketahui penggunaMKJP Implan sebanyak 3 orang dan IUD sebanyak 3 orang. Masalah dalam penelitianini mengenai rendahnya pengunaan MKJP di wilayah Poskesdes Anuta Singgani.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku akseptor dalam memilih MetodeKontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jenis penelitian ini menggunakan metodekualitatif. Hasil penelitian ini diketahui bahwa informan tidak mengetahui konsep dariMKJP, selain itu informan memilih sikap yang pesimis terhadap MKJP, sedangkanuntuk aspek kepercayaan informan tidak memilik kepercayaan larangan dalampenggunaan MKJP. selain itu penyebab rendahnya penggunaan MKJP yaitu rendahnyakualitas pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baku mutu pelayanan KB.Informan tidak juga mendapatkan dukungan dari keluraga (suami) selain itu kader diyang ada di wilayah kerja Poskesdes Anuta Singgani hanya memiliki kader posyandu.Kesimpulan bahwa akseptor belum mengetahui konsep MKJP dan informan juga tidakmendapatkan dukungan yang positif dari keluarga dan rendahnya fasilitas pelayananMKJP yang ada
Policy implementation of No Smoking area in Undata Public Hospital Palu City
The determination of the No Smoking Area is an effort to protect the community against the risk of health problems due to the environment contaminated with cigarette smoke. The purpose of this study was to determine the implementation of the No Smoking Area policy at the Undata Regional General Hospital (RSUD), Palu, especially in the aspects of communication, resources, disposition. , and bureaucratic structures. This type of research is qualitative research with a case study approach. Determination of informants is done through purposive sampling technique, namely the researcher uses his judgment in selecting informants to obtain in-depth information according to the research objectives. the concept of communication is good enough. The KTR Task Force at Undata Hospital uses print and electronic media. In the resource variable, the results are not good enough. The KTR Task Force at Undata Hospital is still lacking in terms of the number, namely only 15 people previously numbered 30 people. The disposition variables obtained in this study are good enough. The appointment of the KTR task force at Undata Hospital is directly selected by the hospital director, but the supervisory officers still lack incentives. In the bureaucratic structure variable, the results were quite good. The most authorized person in implementing the implementation of the KTR policy implementation at the Undata Hospital Palu is the Task Force coordinator. The suggestion in this research is that the KTR Task Force at Undata Hospital should be added and the Undata Hospital should create a smoking area.
 
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU
Berat badan lahir rendah sangat menentukan kesehatan di masa dewasa bayi yang dilahirkan dengan Berat badan kurang dari 2500 gram berkorelasi erat dengan penyakit degeneratif di usia dewasa. Provinsi sulawesi tengah menjadi provinsi yang paling tinggi kejadian BBLR pada tahun 2013. Prevalensi BBLR di Sulawesi Tengah tertinggi terjadi di Kota Palu Sebesar 231 Kasus (3,2%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian BBLR Di RSU Anutapura Palu. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan case control. Sampel kasus adalah ibu yang melahirkan BBLR dan sampel kontrol adalah ibu yang melahirkan normal dengan perbandingan 1 : 2 dengan macthing umur. Data dianalisis dengan uji OR pada batas kemaknaan (alfa 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas (OR = 1,703 pada 95%, CI 0,862-3,363), jarak kehamilan (OR = 3,231pada 95% CI 1,633-6,391) cakupan penimbangan berat badan (OR = 2,519 pada 95% CI 1,261-5,031), cakupan pemeriksaan tekanan darah (OR = 2,692 pada 95% CI 1,397-5,184), dan cakupan pemeriksaan kadar Hb (OR = 3,154 pada 95% CI 1,451-6,855), merupakan faktor risiko terhadap BBLR. Disarankan kepada ibu hamil agar lebih memerhatikan kondisi kesehatan janinnya, dan rutin melakukan kunjungan antenatal care sehingga bayi yang dilahirkan tidak mengalami BBLR
THE QUALITY OF BAKTERIOLOGIS STUDY AND USE OF WATER OR DUG WELLS WITH AN OCCURRENCE WATER BORNE DISEASES IN THE VILLAGE WEST PASAYANGAN
Background & Objective : Clean water which could cause bakteriologis water quality ineligible .This studyattempts to know the quality of water bakteriologis a well (the bacteria MPN coliformm and e.coli )consumed villagers west Pasayangan Kabupaten Banjar in the water borne disease and relations the behaviorof the people in the water borne disease. Materials and method: This research methods used the crosssectional. The study analyzed by the quality of bakteriologis (MPN coliform and E. Coli ) as many as 30 awell. Data obtained through observation, interview using a questionnaire and results laboratory.Resultsbakteriologis water quality a well suggests that the whole water a well ineligible clean water developed bythe minister of health no. 416 / menkes / per / ix / 1990. Result: The results showed that source of drinkingwater and management of drinking water had links scene water borne disease. Conclusion: The quality ofbakteriologis well water dig they did not qualified drinking water and there was a correlation between theclean and healthy living (PHBS) in a household with a water borne diseases .Was recommended to thecommunity to need to do and healthy patterns of living water management well with the way of chlorine inand cook water with the right way before use
DIETARY CARBOHYDRATE AND PHYSICAL ACTIVITY WITH PREDIABETES WITHIN ADULT WOMEN
Background & Objective: Prediabetes is a high-risk condition for developing diebetes mellitus. Adultwomen have a higher risk of experiencing prediebetes compared with men. Excessive of simplecarbohydrate intake, low of fiber intake and physical activity risk to increasing blood glucose levels. Thisstudy aimed to analyze the correlation between total carbohydrate intake, simple carbohydrate intake, fiberintake and physical activity with prediabetes in adult women. Materials and Methods: This study used acase control with 36 women aged 45-55 years old in each group chosen by simple random sampling. Foodintake was assessed using by Semi FFQ. Waist circumference was measured using by a tape measure, andphysical activity was obtained using by Long IPAQ. Data were analyzed using by Chi Square, Fisher Exactand multiple logistic regression test. Results: There is a difference in mean of waist circumference, fastingblood glucose, simple carbohydrate intake, fiber intake and physical activity in both groups. The variable atrisk for prediabetes were simple carbohydrate intake (OR=3,94;95%CI 1,23-12,56), fiber intake(OR=2,63;95%CI 0,91-7,63) and fat intake (OR=2,14;95%CI 0,78-5,84). Intake of simple carbohydrate andfiber are the most dominant variable that affecting the incidence of prediabetes with a proportion of 14,5%.There were no correlation between total carbohydrate intake, fiber intake and physical activity withprediabetes in adult women. Conclusion: Excessive simple carbohydrate intake and low fiber intake wererisk in the occurrence of prediabetes
DESCRIPTION OF THE SANITATION KARANG ASEM STASION IN BANYUWANGI 2017
Background & Purpose: Stations are one of the public places that have sanitation facilities and enableenvironmental pollution and diseases including diarrhea, dysentery, typhus, malaria and filiarisis. The aim offinding out the sanitation conditions at Station Karang Asem in Banyuwagi. Material and Methods: thisstudy is an observational study conducted through a sheet of instrument that has been made based onapplicable laws and interview sheets. The assessment instrument consists of 3 main variables that are used asthe foundation in the assessment including the main building variables, sanitation facilities and supportingfacilities at the station. of the 3 variables there are sub-variables and also sub-variables used as ratings.Assessment is done by looking at the total final score of the sum of 3 variable scores. Results: The totalscore of the main building variable 140 means fulfilling 100% sub-variable requirements, 77 sanitationfacilities means fulfilling 50% of the assessment requirements of sub-variables and supporting facilities 97.5means meeting the 21.5% assessment requirements of sub-variables. The total score of Karang Asem stationsanitation is so that station x sanitation is 314.5. Which means in the Good category. Conclusion: KarangAsem Station in Banyuwangi has a Good category in station sanitation assessments, although there stillneeds to be an increase especially in its sanitation facilities.Keywords: station, sanitation, public place
HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KEBIJAKAN DAN KEBIASAAN MEROKOK SISWA KELAS VII DAN VIII DI SMP NEGERI 5 PALU TAHUN 2015
Kebiasaan remaja yang sulit dihindari ialah merokok, kebiasaan merokok pada remajadapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain karena masa perkembangan anakyang mencari identitas diri dan selalu ingin mencoba hal baru yang ada dilingkungannya. Perilaku siswa juga mempengaruhi kebiasaan merokok di lingkungansekolah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku dan kebijakandengan kebiasaan merokok pada siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 5 Palu. Jenispenelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan menggunakan pendekatancross sectional study. Jumlah sampel yaitu 60 responden dengan teknik pengambilansampel menggunakan Proportional Stratified Random Sampling. Analisis yangdigunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kebiasaan merokoksiswa (ρ = 0,000), tidak ada hubungan sikap dengan kebiasaan merokok (ρ = 0,235), adahubungan tindakan dengan kebiasaan merokok (ρ = 0,007), dan ada hubungankebijakan dengan kebiasaan merokok (ρ = 0,000). Pengawasan terhadap siswa oleh gurumaupun orang tua sangat penting dalam mengontrol agar tidak merokok danmempertegas aturan merokok bagi siswa dan guru untuk tidak merokok di lingkungansekolah, serta mengantisipas
FAKTOR RISIKO KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI KELURAHAN TAIPA KOTA PALU
Gizi kurang merupakan penyebab kematian 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun(balita) di dunia. Kelurahan Taipa merupakan salah salah satu kelurahan di Kota Paluyang mempunyai kasus gizi kurang tertinggi dengan prevalensi sebanyak 13,5%.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi kurang padabalita usia 24-59 bulan di Kelurahan Taipa Kota Palu. Jenis penelitian ini adalah casecontrolstudy. Sampel dalam penelitian ini yaitu balita yang berada di Kelurahan TaipaKota Palu yang berjumlah 99 balita yang terdiri dari 33 kasus dan 66 kontrol.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan FFQsemikuantitatif serta pengukuran berat badan. Analisa data dilakukan dengan ujistatistik univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yangkonsumsi energinya memiliki risiko tinggi berisiko 8,413 kali menderita gizi kurangdibandingkan dengan balita yang konsumsi energinya memiliki risiko rendah (CI:3,036-23,014), balita yang konsumsi proteinnya memiliki risiko tinggi berisiko 6,091kali menderita gizi kurang dibandingkan dengan balita yang konsumsi proteinnyamemiliki risiko rendah (CI: 2,306-16,094) dan balita dengan pola asuh makan yangmemiliki risiko tinggi berisiko 3,200 kali menderita gizi kurang dibandingkan balitadengan pola asuh makan yang berisiko rendah (CI: 1,293-7,922), sedangkan balita yangpernah menderita penyakit infeksi berisiko 2,250 kali menderita gizi kurangdibandingkan balita yang tidak pernah mengalami penyakit infeksi dan tidak bermaknasignifikan (CI: 0,810-6,252). Sebaiknya para orangtua lebih memperhatikan asupanmakanan balita dan kesehatannya agar zat gizi dapat terpenuhi untuk menunjangaktivitas sehari-hari mereka sehingga dapat terhindar dari gizi kurang
EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LOMPENTODEA KECAMATAN PARIGI BARAT KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yangsangat kompleks. Dimana prevalensi penyakit kusta di Kabupaten Parigi Moutong padatiga tahun terakhir mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2012 sebesar 2,6%, padatahun 2013 sebesar 4,8% , dan 5,7% pada tahun 2014. Salah satu penyebab tingginyaangka penemuan penderita kusta karena tidak adanya pelaksanaan penyuluhan kelompok.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan Program Pengendalian PenyakitKusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat KabupatenParigi Moutong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jumlah informankeseluruhan adalah 6 informan yang terdiri 1 informan kunci (key informan), 1 Informanbiasa, dan 4 Informan tambahan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakanpendekatan analisa isi (content analisis) dengan teknik matriks. Hasil penelitianmenunjukan bahwa dari aspek input yakni program bisa berjalan dengan baik meskipunadanya keterbatasan SDM, dana dan fasilitas, Process dalam pelaksanaan program sudahsesuai dengan SOP yang sudah di tentukan oleh Dinas Kesehatan, output pada monitoringdan evaluasi pelaksaan program sudah berjalan baik dengan pelaporan yang dilakukantiga bulan sekali. Diharapkan Dinas Kesehatan terkait untuk memaksimalkan dana untukpelaksanaan program kusta sehingga input, process yang belum maksimal bisa teratasidengan efektif dan efesien
Dimensions of Health Service Quality at the Prison Polyclinic Class IIA in Palu City
Prisoner services are services related to the implementation of prisoners\u27 rights and obligations in the form of care, coaching, education and guidance. Health services at the Class II A Prison Polyclinic in Palu do not have a health practice permit and only have 5 nurses and 1 dentist.The aim of this study was todetermine the service quality of the Class II A Lapis Polyclinic in Palu. This type of research is quantitative with a descriptive survey approach. The sample in this study were 120 patients who visited the Polyclinic. Sampling used the Accidental Sampling method. Data collected using questionnare. The data obtained were analyzed statistically using univariate analysis. Research results from the dimensions of reliability 86.7% of respondents said well and 13.3% of respondents stated that it was not good, from the dimension of responsiveness 88.3% of respondents said good and 11.7% of respondents stated that it was not good, from the dimensions assurance (guarantee) 85% of respondents stated that good and 15% of respondents stated that it was not good, from the dimensions of empathy (empathy) 94.2% of respondents said good and 5.8% of respondents said it was not good, and from the tangible dimension (physical evidence) 90, 8% of respondents said good and 9.2% of respondents said it was not good. The conclusion of the study, from the service quality at Class II A Prison Polyclinic in Palu based on the SERVQUAL model can be said to be good. Suggestion is to maintain and improve the quality of service from each quality dimension so that it can meet the needs of patients