Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
ASFIKSIA PERINATAL SEBAGAI FAKTOR RESIKO GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK
AbstrakAsfiksia adalah keadaan di mana tubuh atau bagian tubuh kekurangan oksigen. Jika kondisi ini terjadi pada bayi baru lahir disebut dengan asfiksia perinatal, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan secara permanen maupun bersifat sementara, salah satunya adalah gangguan pendengaran sensorineural.Makalah ini akan membahas tentang mekanisme gangguan pendengaran akibat asfiksia, deteksi dini gangguan pendengaran dengan pemeriksaan Brain Evoked Response Auditory (BERA) dan Otoacoustic Emissions (OAE).Gangguan pendengaran akibat asfiksia dapat terjadi akibat beberapa mekanisme. Kelainan ini terlihat pada gambaran BERA dan OAE, dimana terjadinya peningkatan masalaten dan interval gelombang yang bersifat sementara atau menetap, serta ditemukan gangguan pada fungsi koklea bayi dengan asfiksia perinatal terutama pada frekuensi 1-5 kHz yang terdeteksi pada hari ke tiga sampai hari kelima kelahiran, dan terdapat perbaikan pada usia 1 bulan.Kata Kunci : Asfiksia perinatal, gangguan pendengaran, BERA, OAEAbstractAsphyxia is a condition in which the body or body part to lack of oxygen. If this condition occurs in newborns with perinatal asphyxia is also called, which can cause tissue damage is permanent or temporary. One of that is a sensorineural hearing loss.This paper will discuss the mechanisms of hearing loss due to asphyxia, early detection of hearing loss with an examination Brain Auditory Evoked Response (BERA) and Otoacoustic Emissions (OAE).Hearing loss due to asphyxia can occur due to several mechanisms. These abnormalities are seen on the results of BERA and OAE, where an increase in latent period and the interval waves that are temporary or permanent, and found interference with the function of the cochlea infants with perinatal asphyxia, especially at frequency of 1-5 kHz were detected on the third day until the fifth day of birth, and there are improvements to the age of 1 month.Key word : Perinatal asphyxia, hearing loss, Brain Auditory Evoked Response, Otoacoustic Emission
MINI CEX : METODE PENILAIAN PERFORMA PADA PENDIDIKAN TAHAP KLINIK
AbstrakMini Cex adalah salah satu metode penilaian yang dirancang untuk mengukur performa peserta didik dalam pendidikan tahap klinik. Penilaian Mini Cex dilakukan oleh seorang penilai yang sudah dilatih terhadap peserta didik yang berinteraksi langsung dengan pasien, yang terdiri dari tujuh komponen yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, profesionalisme, clinical judgment, keterampilan konseling, organisasi atau efisiensi dan penilaian secara keseluruhan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa metode penilaian ini memiliki validitas dan reabilitas yang baik, selain itu metode ini juga mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.Kata Kunci : Mini Cex, metode penilaian, pendidikan tahap klinikAbstractMini Cex is one of assessment method designed to measure the performance of students in the clinical stage education. Mini Cex assessment conducted by an assessor who is trained to student who interact directly with patients, There are seven components which will be evaluated : medical interviewing skills, physical examination skills, professionalism, clinical judgment, counseling skills, organization or efficiency and overall clinical competence. Various studies have shown that mini cex has good validity and reliability, besides this method also has some advantages and disadvantages.Key word : mini cex, assessment method, clinical stage educatio
GANGGUAN PANIK DENGAN AGORAFOBIA
AbstrakSerangan Panik ditandai dengan gejala anxietas yang berat seperti: berdebar-debar, nyeri dada, sesak nafas, tremor, pusing, merasa dingin atau panas, ada depersonalisasi atau derealisasi, gejala mencapai puncaknya dalam 10 menit. Gangguan Panik merupakan serangan panik yang berulang-ulang dengan onset cepat dan durasi sangat singkat. Karena adanya keluhan fisik berat pada waktu serangan, pasien menjadi ketakutan mereka akan mendapat serangan jantung, stroke dan lain-lain. Kadang pasien berfikir mereka akan kehilangan kontrol atau menjadi gila. Lama-lama pasien akan menghindari tempat-tempat atau situasi serangan paniknya pernah terjadi terutama tempat kegiatan sosial atau tempat yang susah untuk menyelamatkan diri, hal ini dianggap sebagai penyebab terjadinya Agorafobia. Gangguan Panik bisa disebabkan faktor biologik,genetik atau psikososial. Penatalaksanaan sebaiknya kombinasi Psikofarmaka dan Psikoterapi. Pada kasus ini seorang wanita 26 tahun datang dengan keluhan seperti serangan panik berulang sejak 6 bulan sebelumnya, yang tidak mendapat pengobatan adekuat sehingga jatuh menjadi Gangguan Panik dengan Agorafobia. Kalau dilihat etilogi sesuai teori psikososial: pasien ini mengalami cukup banyak trauma pada masa anak yaitu dengan perceraian orangtua, hidup penuh stresor bersama tante serta ibu tiri pada masa-masa sekolah. Ketika tinggal bersama ibu kandung pasien sering menyaksikan pertengkaran ibu dan bapak tirinya. Dengan pemberian Psikofarmaka yang dikombinasi dengan Psikoterapi memberi hasil yang cukup baik.Kata kunci: Serangan Panik,Gangguan Panik, AgorafobiaAbstractPanic Attack is characterized by severe anxiety symptoms: palpitation, chest pain, dyspnoe, tremor, dizziness, chills or hot, depersonalization or derealization, the symptoms reached a peak within 10 minutes. Panic Disorder is several time got Panic Att.ack with rapid onset and short very duration. Because of the physical symptoms during the attack, patient become afraid that they will have heart attack, become stroke etc.Sometimes patient think they will loss control or be crazy. By the time patient will avoid the place and situation their panic attack have occured, especially social activities or the place which escape would be formidable is thought to cause the Agoraphobia. Etilogy of Panic Disorder can be biological factors, genetic or psychosocial factors. The most effective treatments are combine pharmacotherapy and psychoterapy.In this case report a 26 years woman come with chief complain like panic attack many time since 6 moths before, cause of not get adequate treatment patient become PanicLAPORAN KASUS235Disorder with Agoraphobia. From etiology we consider psychosocial factors: patient had many psychosocial trauma since she was a child that is divorced of her parent, live with her auntie and step mother full with stressor during her schooltime, When she live with her mother, she often face the disharmony of her mother and her step father. With the combination of pharmacotherapy and psychotearpy give good result.Key word : Panic Attack, Panic Disorder. Agoraphobia
PENGARUH KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS GINGIVITIS PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS KECAMATAN PADANG TIMUR KOTA PADANG TAHUN 2012
AbstrakGingivitis kehamilan adalah gingivitis yang terjadi pada wanita hamil. Gingivitisdisebabkan oleh iritasi bakteri yang ada dalam plak dan kalkulus. Plak dan kalkulus merupakanindikator kebersihan mulut yang buruk. Selama kehamilan, hormon estrogen dan progesteroneakan mengalami peningkatan yang menyebabkan jaringan gingiva merespon secara berlebihanterhadap iritasi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersihan rongga mulutdan status gingivitis ibu hamil serta hubungan antara tingkat kebersihan rongga mulut denganstatus gingivitis pada ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah anayitic correlation denganpendekatan cross sectional, sampel diambil menggunakanteknik accidental sampling dengan ujistatistik Kolmogorov-Smirnov. Subjek adalah 70 wanita hamil di Puskesmas wilayah kerjaAndalas Padang Timur. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebersihan mulut ibu hamil diwilayah kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur sebagian besar adalah sedang(57,1%) dan sebagian besar ibu hamil yang diperiksa mengalami gingivitis sedang (70%). Semuaibu yang diperiksa mengalami gingivitis, baik itu ibu dengan tingkat kebersihan mulut yang baik,sedang maupun buruk. Disarankan kepada ibu hamil untuk selalu menjaga kebersihan dankesehatan rongga mulutnya.Kata Kunci : gingivitis kehamilan, estrogen, progesteron, tingkat kebersihan rongga mulut,gingivitisAbstractPregnancy gingivitis is gingivitis that occurs in pregnant women. Gingivitis caused by theirritation of bacteria in plaque and calculus. Plaque and calculus is indicator of poor oral hygiene.During pregnancy, estrogen and progesterone will increase that causes excessive gingival tissueresponse to local irritation. This study aims to determine oral hygiene level and gingivitis statusin pregnant women and relationship between oral hygiene level with gingivitis status in pregnantwomen. The kind of this research is analyitic correlation with cross sectional study, sampleswere taken with accidental sampling technique with statistical test Kolmogorov-Smirnov.Subject were 70 pregnant women at the work area Puskesmas Andalas Padang Timur. Theresults showed oral hygiene level in pregnant women at the work area Puskesmas AndalasPadang Timur are mostly moderate (57.1%) and majority of them had moderate gingivitis (70%).215ARTIKEL PENELITIANAll of the pregnant women were examined had gingivitis, both pregnant women with good oralhygiene, medium and bad. It is recommended to pregnant women to always maintain the hygieneand health of the oral cavity.Key word : pregnancy gingivtis, estrogene, progesterone, oral hygiene and gingivitis.21
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PEPAYA TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL, LDL DAN HDL DARAH TIKUS PUTIH JANTAN HIPERKOLESTEROLEMIA
AbstrakPepaya mengandung pektin yang merupakan serat larut air. Pektin berkemampuan mengikat asam empedu dan dieliminasi keluar tubuh melalui feses. Penurunan jumlah asam empedu di lumen usus menyebabkan hepar menggunakan kolesterol dalam darah untuk membentuk asam empedu. Hal tersebut mengakibatkan penurunan jumlah kolesterol.Tujuan studi ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian ekstrak pepaya mengkal terhadap kadar kolesterol total, HDL dan LDL tikus putih. Desain penelitian ini adalah eksperimental menggunakan 20 ekor tikus putih jantan yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kontrol, dan kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak pepaya dengan dosis 0,5 ml, 1 ml dan 1,5 ml per 200g/BB melalui oral selama 15 hari.Hasil penelitian menunjukkan terjadinya penurunan rerata kadar kolesterol total, LDL, dan peningkatan kadar HDL serum tikus setelah pemberian ekstrak pepaya selama 15 hari secara bermakna (p<0,05). Tetapi tidak terjadi perbedaan yang bermakna (p>0,05) antara kelompok yang diberi ekstrak pepaya dengan dosis 0,5 ml, 1 ml, dan 1,5 ml.Kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini ialah bahwa ekstrak pepaya dapat menurunkan kadar kolesterol total, LDL, dan peningkatan kadar HDL pada serum tikus putih jantanKata kunci : pektin, kolesterol, asam empedu, serat, tikus.AbstractPapaya contain pectin which is a water-soluble fiber. Pectin has the ablity to bind bile acids and eliminated out of the body through the feces. Decrease in the amount of bile acids in intestinal lumen causing liver uses cholesterol to synthesize bile acids blood.The purpose of this study was to see the effect of papaya extract on total cholesterol, HDL and LDL of male rats. This is an experimental research design using 20 white male rats were divided into four groups : control group and group treated with papaya extract a dose of 0,5 ml, 1 ml per 200 gr/body weight orally for 15 days.Results showed a decrease in everage total cholesterol, LDL and increased serum levels of rats after administration of papaya extract after 15 days wereARTIKEL PENELITIAN30significantly (p<0,05). But no significantly difference occused (p>0,05) between groups were fed papaya extractat a dose of 0,5 ml, 1 ml and 1,5 ml.Conclusions from the study are that papaya extract can lower total cholesterol, LDL and levels increased in the serum of male ratsKey word : pectin, cholesterol, bile acid, fiber, rats
UJI EFEK INFUSA BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria Macrocarpa Scheff Boerl) TERHADAP PENCEGAHAN PENINGKATAN KOLESTEROL DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus Novergicus) YANG DIBERI DIET LEMAK TINGGI
AbstrakPenyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Salah satu pemicu terjadinya PJK adalah tingginya kadar kolesterol dalam darah. Buah mahkota dewa telah lama digunakan oleh masarakat untuk menurunkan kadar kolesterol dan mengobati berbagai penyakit kardiovaskuler.Telah dilakukan penelitian untuk melihat efek infus buah mahkota dewa terhadap pencegahan peningkatan kadar kolesterol pada tikus putih jantan yang diberi diet lemak tinggi (DLT). Penelitian ini menggunakan 30 ekor Rattus novergicus jantan yang berumur 2,5 – 3 bulan dengan berat badan 250 - 350 gram. Hewan coba dibagi secara acak atas lima kelompok dan diperlakukan sebagai berikut:Kelompok I diberi diet standar 555 global feed dan 1 ml aquades, kelompok II diberi diet lamak tinggi(DLT) yang terdiri dari 2% Kolesterol, 10% kuning telur itik, 18% lemak sapi dan 78% diet standar dan 1 ml aquades, kelompok III diberi DLT dan 1 ml infus yang mengandung 97 mg mahkota dewa., kelompok IV diberi DLT dan 1 ml infus yang mengandung 194 mg mahkota dewa, kelompok V diberi DLT dan 1 ml infus yang mengandung 388 mg mahkota dewa. Infus diberikan per oral setiap hari selama 56 hari. Diet dan air minum diberikan ad libitum.Pada hari ke 0, 14, 28, 42 dan 56 darah diambil melalui vena centralis ekor untuk ditentukan kadar kolesterol totalnya secara enzimatik menggunakan KIT kolesterol CHOD-PAP merk Diasys. Absorbans diukur dengan spektrofotometer Genesis 20 pada panjang gelombang 546 nm. Data dianalisis dengan GLM pengukuran berulang dan one-way anova.Hasil penelitian menunjukan : pemberian infus yang mengandung 97, 194 dan 388 mg mahkota dewa dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol dibanding kontrol (-). Terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kelompok 194 dan 388 mg dengan kelompk 97 mg, dimana kelompok 194 dan 388 mg mencegah peningkatan lebih besar. Tidak terdapat perbedaan (p>0,05) antara kelompok yang mendapat 194 dengan kelompok yang mendapat 388 mg mahkota dewa.ARTIKEL PENELITIAN52Disarankan untuk meneliti efek pencegahan peningkatan pada profil lipid yang lain dan melihat efek penurunan infus mahkota dewa pada hewan coba yang hiperkolesterolemik.Kata kunci : Mahkota dewa, kolesterolAbstractCoronary heart disease (CHD) is the leading cause of death in many parts of the world including in Indonesia. One of the triggers of CHD are high blood cholesterol levels. The Crown of God (Phaleria macrocarpa) has long been used by people to lower cholesterol and treat various cardiovascular diseases. Has done research to observe the effect of infusion Phaleria to prevent an increase in cholesterol levels in male white rats fed a high fat diet (HFD). This study used 30 male Rattus novergicus old from 2.5 to 3 months with body weight 250-350 grams. Experimental animals were randomized over five groups and treated as follows:Group I was given a standard diet 555 of global feed and 1 ml aquades, group II were given a diet high fat (HFD) consisting of 2% cholesterol, 10% of duck egg yolk, beef 18% fat and 78% standard diet and 1 ml aquades, group III was given the DLT and 1 ml infusion containing 97 mg of crown gods., group IV were given DLT and 1 ml infusion containing 194 mg crown of god, group V were given HFD and 1 ml infusion containing 388 mg the crown of god. Infusion given orally every day for 56 days. Diet and drinking water provided ad libitum.On days 0, 14, 28, 42 and 56 blood was collected via the tail vein centralis for total cholesterol is determined enzymatically using cholesterol Chod-PAP KIT Diasys. Absorbance was measured with a spectrophotometer Genesis 20 at 546 nm wavelength. Data were analyzed by GLM repeated measurements and one-way ANOVA.The results showed: the infusion containing 97, 194 and 388 mg crown of god can prevent an increase in cholesterol levels compared to controls (-).There are significant differences (p <0.05) between groups 194 and 388 mg with 97 mg faction, which groups 194 and 388 mg prevent the increase is greater. No difference (p> 0.05) between the group receiving 194 with the group receiving 388 mg crown of gods.It is advisable to examine the effect of preventing an increase in other lipid profiles and observe the effect of decreasing infusion crown of gods on hypercholesterolemic animal.Key word : Phaleria macrocarpa, cholsetero
OPINI MASYARAKAT TENTANG MALPRAKTEK KEDOKTERAN
AbstrakDalam menjalankan profesinya, dokter harus taat pada norma-norma sosial, etika profesi dan hukum. Pelanggaran akan nilai-nilai tersebut dapat menjadi sorotan masyarakat, dan bisa berlanjut kepada tuduhan malpraktek kedokteran. Penelitian ini dilakukan untuk menilai bagaimana opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran yang dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip etika kedokteran. Untuk menjawab tujuan penelitian ini telah dilakukan online survei deskriptif dan kualitatif pada Bulan November 2009-Oktober 2010, dengan menggunakan kuisioner terstruktur dan pertanyaan terbuka. Respoonden didapatkan dengan teknik sampling non-probabilitas convenience sampling.  Data dianalisa menggunakan prinsip-prinsip etika kedokteran secara deskriptif. Data kualitatif juga dilakukan analisa tematik serta ditampilkan dalam bentuk narasi. Secara umum opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran sesuai dengan pandangan prinsip-prinsip etika kedokteran. Masyarakat berpendapat bahwa terjadinya malpraktek ada unsur kesalahan prosedur atau diagnosis dan penatalaksanaan. Namun, mereka cendrung pada filosofis konsekuentialis yang lebih menitik beratkan kepada akibat yang dialami oleh pasien yang kurang mempertimbangkan apa yang telah dilakukan dokter berdasarkan standar medis. Bahkan, ungkapan responden yang dianggapnya sebagai malpraktek lebih disebabkan karena ketidakpuasannya terhadap pelayanan yang diberikan. Ketidakpuasan tersebut timbul akibat rendahnya kualitas informasi dan sikap komunikasi dokter dan petugas dalam melakukan pelayanan. Oleh karena itu, untuk memperbaiki opini masyarakat dan mencegah berbagai tuduhan malpraktek, dokter dan petugas kesehatan harus mentaati etika dan standar profesi dalam melakukan pelayanan, serta memberikan informasi yang cukup dan komunikasi yang baik dengan pasien.Kata Kunci: Malpraktek kedokteran, etika, dan opini masyarakat.  AbstractIn providing services, medical professionals have to aware on social norms, ethics and laws. The behaviours which against those regulations attract public attention and can lead to medical malpractice allegations. This research was conducted to explore public opinion on medical malpractice, which was analyzed base on medical ethic principles. To answer the research question, descriptive and qualitative online survey has been conducted from November 2009 to October 2010, which used structured and open ended questionnaire. The participants were selected by employing non-probability convenience sampling. Later, the quantitative data was analyzed descriptively, and the qualitative data was also analyzed thematically and presented narratively. In general, public opinion on malpractice is similar to the principles of medical ethics. They believe that wrong procedures, diagnosis and treatments are factors of the malpractice. However, the participants adopt more consequentialism philosophy, which emphasize on effect on patients and lack of consideration what the doctors has done base on medical standards. More over, participants' explanations on medical malpractice are expression of dissatisfaction of medical services. The dissatisfaction is as a result of low of quality of information and attitude of doctors and other staffs in providing the services. Threfore, to improve public opinion on medical service and prevent medical malpractice allegation, doctors and other staffs have to obey professional standards and ethics, providing adequate information and good communication.Key word : Medical malpractice, ethics, and public opinion
DETEKSI DAN MANAJEMEN REFEEDING SYNDROME
AbstrakRefeeding syndrome (RFS) dideskripsikan sebagai perubahan biokimiawi, manifestasi klinis dan komplikasi sebagai konsekuensi pemberian nutrisi pada pasien kurang gizi. Refeeding syndrome ini menyebabkan dampak buruk dan kematian. Sindroma ini lebih sering terjadi pada kelompok risiko. Refeeding syndrome merupakan suatu sindroma yang sering tak terdiagnosis oleh karena itu perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran dari tenaga medis untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari RFS. Karena alasan tersebut ditulis tinjauan pustaka ini yang akan membahas mengenai patofisiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, dan manajemennya.Kata kunci : refeeding syndrome, kurang gizi, hipofosfatemia, dukungan nutrisiAbstractRefeeding syndrome (RFS) describel as biochemical changes, clinical manifestations, and complications that can occur as a consequence of feeding a malnourished individual. RFS can result in serious harm and death. RFS more commonly occurs in at-risk populations. Increased awareness amongst healthcare professionals is likely to reduce morbidity and mortality. This review examines the pathophysiology, risk factors, clinical manifestations, and management of RFS.Key word : refeeding syndrome, malnourished, hypophosphatemia, nutritional suppor