Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
FREKUENSI KUMAN Neisseriae gonorrhoeae YANG MENGINFEKSI WANITA USIA ANAK DI PADANG
AbstrakInfeksi traktus reproduksi wanita dapat disebabkan oleh penyakit hubungan seksual (sifilis, gonore, trikhomonas dan sebagainya). Dari semua penyakit kelamin insidens gonore merupakan yang tertinggi. Gonore penyakit yang disebabkan oleh kuman Neisseriae gonorrhoea atau disebut juga Coccus Gram negatif sampai saat ini merupakan suatu penyakit yang banyak menimbulkan problem bukan saja di negara berkembang, tetapi juga merupakan masalah di negara super power (adikuasa) bahkan di seluruh dunia. Selain mempengaruhi kesehatan reproduksi erat sekali hubungannya dengan perilaku seks. Dari sudut psikologi sosial sebagian besar perilaku seks adalah perilaku sosial.Telah dilakukan penelitian dengan pengumpulan sampel secara cross sectional sampling dari wanita usia anak di Padang untuk mengetahui adanya kuman Neisseriae gonorrhoeae. Penelitian deskriptif dengan menggunakan metoda pewarnaan Gram mikroskopis langsung. Dari 18 sampel, ditemukan frekuensi penderita terinfeksi kuman Neisseriae gonorrhoeae 11 (61%) dan 7 (38,9%) non N gonorrhoeae. Dari variable-variable yang diuji anak sebagai sample yang terinfeksi kuman gonore berusia 1 – 3 tahun 4 (22,2 %), 4 – 7 tahun 6 (33,3%), 8 – 11 tahun 1 (5,5%} dan 12 – 15 tahun 0 (0%), di mana di lihat tingkat usia pendidikan anak pra sekolah dan sekolah. Orang tua si anak, ibu dan ayah pendidikan mencakup SD 0 (0%), SLP 0 (0%), SLA 14 (77,8) dan 7 (38,9%) dan PT 4 (22,2%) dan 10 (55,5 %). Kemudian pekerjaan orang tua anak meliputi RT 9 (50%), PNS/Swasta 8 (44,4%) dan 14 (77,8%). Dagang 1 (5,6%) dan 2 (11,1%) dan sopir 2 (11,1%). Kesimpulannya penderita wanita usia anak di Padang cukup tinggi terinfeksi kuman N gonorrhoeae.Kata Kunci : gonore, wanita usia anak-anak, resistensi antibiotika.AbstractFemale genital infection may causes by sexual transmitted diseases (Syphilis, gonorrhoea, ect). From all vebereal diseases, incidence of gonorrhoeae is the highest. Current gonorrhoeae caused by Neisseriae gonorrhoeae or Gram negative coccus is the disease induced the problem both in the developing countries and super power countries event world wide. In addition to reproduction health, it close relate to sexual behaviour. From comerstone of social psychologic then major sexual behaviour is social behaviour. We have the saples collection cross sectionally sampling from some girls in Padang with the purpose to know presence bacterial, Neisseriae gonorrhoeae. The descriptive study using direct microscopical Gram stain.ARTIKEL PENELITIAN136Of 18 samples, found patient infected by bacterial N.gonorrhoeae 11 (61%) and 7 (38.9%). From the variables tested, the child as bacterial infected are 4 have age 1-3 years (22.22%); 6.4 -7 years (33.3%); 1.8-11 years (5.5%) and 0.12-15 years (0%) respectively where observed the educational age rates are pre school and school. The children parent that mother and father education are 0 SD (0%); 0 SLP (0%); 14 SLA (77.8%) and 4 PT (22.2%) and 10 (55.5%) respectively (tables 2 and 3). Subsequent the parent jobs include 9 household (50%), 8 PNS/private (44.4%) and 14 (77.8%); Trading 1(5.6%) and 2 (11.1%) Conclude that girls in Padang have been infected by bacteries Neisseriae gonorrhoeae are high.Keywords: gonorrhoea, infected girls, antibiotics resistance
HUBUNGAN ASUPAN DAN KADAR OMEGA-3 PLASMA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA ETNIK MINANGKABAU DI KOTA PADANG
AbstrakHipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia maupun di dunia Hampir 95% kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya atau disebut hipertensi esensial (HET). Pola konsumsi yang baik dan seimbang merupakan salah satu upaya pengendalikan tekanan darah. Omega-3 adalah salah satu zat gizi yang dapat menurunkan tekanan darah. Omega-3, terbukti berperan dalam mencegah beberapa penyakit kronis termasuk hipertensi.Telah dilakukan penelitian dengan desain cross sectional study untuk melihat hubungan omega-3 plasma dengan kejadian hipertensi. Penelitian dilakukan pada 130 orang yang terdiridari subjek hipertensi dan normotensi. Pengambilan sampel dengan cara sistematik random sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi. Asupan omega-3 dihitung menggunakan FFQ dan kadar omega-3 plasma diukur dengan teknik methylasi.Hasil penelitian ini adalah asupan omega-3 adalah 0,66±0,61 gram/hari, EPA 0,29 ± 0,23 gram/hari, DHA (22:6) 0,85± 0,65 gram/hari dan kelompok normotensi ALA 0,64± 0,55 gram/hari, EPA 0,27±0,15 gram/hari, DHA 21,34 ± 174,14 gram/hari. Tidak terdapat perbedaan bermakna asupan omega-3 dengan kadar omega-3 plasma antara kelompok hipertensi dengan kelompok normotensi dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan omega-3 dan kadar omega-3 plasma dengan kejadian hipertensi.Hasil penelitian ini tidak mendukung hubungan antara omega-3 dengan kejadian hipertensiKata kunci : hipertensi, omega-3, EPA, ALA, DHAAbstractHypertension is the leading health problem in the community in Indonesia and even in certain countries all over the world. Almost 95% of hypertension cases are from unknown cause which is also known as essential hypertension (HET). Planned and balanced consumption pole is one of the efforts to control blood pressure. Omega-3 is one of the nutrients that reduce blood pressure. Omega-3 is proven to involve in preventing certain chronic disease including hypertension.A cross-sectional study carried out to identify the correlation between Omega-3 plasma and the hypertension incidence. 130 subjects were selected and dividedARTIKEL PENELITIAN122into groups of hypertension and normotension. The subjects were chosen using randomized systemic sampling method inconsideration of inclusive and exclusive criteria. Omega-3 consumption measured by FFQ and Omega-3 plasma measured using methylasi technique The study’s result shows The hypertensive’s consumption of omega-3 was 0,66±0,61 g/day, EPA 0,29 ± 0,23 g/day, DHA (22:6) 0,85± 0,65 g/day and normotension was ALA 0,64± 0,55 g/day, EPA 0,27±0,15 g/day, DHA 21,34 ± 174,14 g/day. no significant differences was found in either omega-3 consumption and Omega-3 plasma level between the hypertension and normotension groups and no significant correlation between the intake and omega-3 plasma level with the incidence of hypertension.This result didn’t support that omega-3 can influenced hypertension in subjectKey word : hypertension, omega-3, EPA, ALA, DH
PENGARUH PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) PADA TIKUS JANTAN (Rattus Norvegicus) TERHADAP FSH DAN LH
AbstrakKemajuan teknologi informasi membawa dampak terhadap perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk perubahan pola konsumsi makanan yang lebih banyak mengkonsumsi jenis makanan cepat saji, makanan kemasan dan makanan awetan yang belakangan ini semakin banyak dijual dipasar tradisional dan swalayan. Penggunaan bahan tambahan makanan sering dijumpai, salah satunya adalah bahan penyedap yang banyak sekali digunakan seperti senyawa L-asam glutamat yang digunakan dalam bentuk garam yaitu monosodium glutamat (MSG). Berbagai merk dagang MSG telah dikenal dimasyarakat secara luas seperti ajinomoto, vetsin, micin, sasa, miwon dan sebagainya.MSG adalah garam monosodium dengan asam glutamat yang sering digunakan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera makan. Pemberian MSG mengakibatkan gangguan hormonal pada hewan coba, ion glutamat dalam sirkulasi portal akan mempengaruhi hipotalamus dalam memproduksi GnRH yang selanjutnya akan mengganggu hipofise anterior dalam memproduksi FSH dan LH. Fungsi FSH adalah untuk bekerja pada tubulus seminiferus terutama pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis, sedangkan LH berfungsi pada sel Leydig untuk mengatur sekresi testosteron.Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan post only group design. Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Unand Padang dari tanggal 20 Desember 2009 sampai 30 Februari 2010. Populasi adalah tikus putih jantan strain Jepang (Rattus norvegicus) yang berasal dari laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unand. Sampel berjumlah 20 ekor dibagi atas 4 kelompok dengan satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Dosis MSG yang digunakan yaitu P1= 4800 mg/kgbb/hari, P2=7200 mg/kgbb/hari dan P3= 9600 mg/kgbb/hari diberikan peroral sebanyak dua siklus epitel seminiferus. Analisa dengan uji Anova dengan derajat kepercayaan 95% dan jika bermakna dilanjutkan dengan uji Multiple Comparissons jenis Bonferroni.Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pemberian MSG dengan dosis 4800 mg/kgbb/hari, 7200 mg/kgbb/hari dan 9600 mg/kgbb/hari menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap penurunan kadar FSH (p=0,000) dan LH (p=0,000), namun pada uji Multiple Comparissons Bonferroni didapatkan antar kelompok pada FSH belum menunjukan pengaruh yang bermakna (p˃0,05) sedangkan pada LH antar kelompok perlakuan, antara P1, P2 tidak didapatkan perbedaan yangARTIKEL PENELITIAN161bermakna (p˃0,05), P1 dan P3 didapatkan perbedaan yang bermakna (p˂0,05) dan P2 dengan P3 didapatkan perbedaan yang bermakna (p˂0,05).Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian MSG terhadap tikus jantan dapat menurunkan kadar FSH dan LH. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan dosis minimal yang dapat memberikan perubahan kadar FSH dan LH.Kata kunci : MSG, FSH, LHAbstractThe progress of information and technology gave the influence in society and life styles, included the change of goods and provision system, which become more prefered to fast food, meal packaged and preserved, then firmly sells and found in traditional market and swalayan. The continously use of additional substance firmly seems everywhere, one of them is something used as flavoring, L-Glutamat acid which used in a mineral salt that is Monosodium Glutamat (MSG). Many kinds of MSG brand known by people as ajinomoto, vetsin, micin, sasa, miwon, etc.MSG is a mineral salt of monosodium with glutamat acid that firmly used as the food flavoring for appetizer. The distribution of MSG causing the hormonal interference for the animal trial, which the glutamat ion in portal sirculation will effect the hipotalamus in producting the GnRH which were next would effected the anterior hypofise in producting the FSH and LH. The FSH function is to do working for seminiferus tubular espeially for sertoli cells to increase the spermatogenesis, then LH functioned to Leydig to control the testosteron secretion.This research experimently done with post only group design, take place in Biology Laboratorium and Biochemistry, Faculty of Medicine Andalas University in December 20th, 2009 until Februari 30th, 2010. The population is the white rat strain Japan (Rattus Norvegicus) taken from Faculty of Mathematic and Natural Sciences Andalas University. There are 20 samples devided into 4 groups with 1 group controller and three treated groups. P1=4800 mg/kgbw/day, P2=7200 mg/kgbw/day and P3=9600 mg/kgbw/day used as MSG dose, given orally about two seminiferus epitel cycles. The analysis by Anova test with 95% of trust and if there would sense of in meaning, continued with Multiple Comparissons test, kind of Bonferroni.The result of the research taken that the MSG given with 4800 mg/kgbw/day, 7200 mg/kgbw/day and 9600 mg/kgbw/day showed the significant effect to FSH (p=0,000) and LH (p=0,000), but for the Multiple Comparissons Bonferroni test between groups in FSH, there were not yet have the meaning in effect (p>0,05) then to LH for the treated groups, between P1, P2 there were not any significant differences (p>0,05) P1 and P3 got the significant differenciates (p<0,05) and P2 with P3 got the significant effect (p<0,05).The research concluded that the MSG given for the male rat could decrease the FSH and LH. Suggested to do the following research to find the minimal dose change level FSH and LH.Key word : MSG, FSH, L
DURASI KONSUMSI MAKANAN DIGORENG DENGAN MINYAK KELAPA SAWIT PEMANASAN BERULANG TERHADAP MALONDIALDEHID PLASMA
AbstrakPemanasan berulang pada minyak dengan suhu tinggi mengakibatkan proses oksidasiyang akan meningkatkan oksidan tubuh jika termakan. Penelitian ini menentukan pengaruhlama konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak kelapa sawit pemanasan 40 kaliterhadap kadar malondialdehid (MDA) plasma. Desain penelitian ini adalah post test onlycontrol group dengan menggunakan hewan coba tikus sebagai sampel.Tikus dibagi 4 kelompokyang terdiri dari 2 kelompok perlakuan 14 dan 28 hari yang diberikan kentang yang digorengdengan minyak tanpa pemanasan berulang serta 2 kelompok perlakuan 14 dan 28 hari denganpemanasan berulang 40 kali. MDA diukur dengan metode Wills. Hasil penelitian menunjukkanbahwa MDA plasma pada kelompok dengan pemanasan berulang berbeda bermakna(p=0,004) jika dikonsumsi selama 28 hari, namun tidak berbeda bermakna (p=0,749) jikadikonsumsi selama 14 hari jika dibandingkan dengan kelompok tanpa pemanasan berulang.Durasi konsumsi selama 14 dan 28 hari tidak mengakibatkan perbedaan MDA plasma yangbermakna (p=0,766). Kesimpulan, pemberian makanan yang digoreng dengan minyakkelapa sawit yang dipanaskan berulang 40 kali selama 14 dengan 28 hari tidak menimbulkanperbedaan bermakna kadar MDA plasma.AbstractRe-heated process of oil could increase oxidative products, resulting in the increase ofoxidant level if consumed. This research investigated the influence of long term consumptionof food fried in 40 times re-heated palm oil on plasma malondialdehyde (MDA) level. This waspost test only control group research. This research used rat as experimental models whichwere divided into 4 groups. Two groups were given potatoes fried in non re-heated palm oilfor 14 and 28 days, and 2 groups were given potatoes fried in 40 times re-heated palm oilfor 14 and 28 days. MDA levels were measured by Wills methods. Result showed that MDAplasma level in re-heated group was significantly different (p=0.004) if consumed for 28 dayscompared to non re-heated group, but was not significantly different (p=0.749) if consumedfor 14 days. There was no significant difference on MDA plasma level between the durationof consumption for 14 days and 28 days (0.766). As conclusion, consumption of food fried in40 times re-heated palm oil for 14 and 28 days did not cause significant differences on MDAplasma level
ANTI-MALARIAL DRUG RESISTANCE
AbstrakTujuan studi ini adalah untuk menjelaskan mekanisme resistensi parasit malaria danusaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menghadapi munculnya strain parasit yangresisten terhadap artemisinin. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan. ResistensiP.falciparum terhadap obat-obat anti malaria disebabkan oleh perubahan spontan yangterjadi pada beberapa gen seperti P.falciparum multi drug resistance1 (Pfmdr1), P.falciparumchloroquine transporter (Pfcrt), P.falciparum dihydropteroate synthase (Pfdhps), P.falciparumdihydrofolate reductase (Pfdhfr), and P.falciparum multidrug resistance-associated proteins(Pfmrp). Penyebaran resistensi tersebut dipengaruhi oleh tingkat transmisi di sebuah wilayah.WHO telah menjalankan usaha untuk menanggulangi penyebaran resistensi tersebut misalnyadengan merekomendasikan penghentian monoterapi artemisinin, dan pemberian anti malariasetelah konfirmasi laboratorium. Selain itu, perlu adanya penggunaan obat kombinasi, produksirejimen dosis tetap, dan pengembangan obat anti malaria baru. Kesimpulan dari hasil studiini ialah munculnya malaria resisten terhadap artemisinin akan menghambat usaha eradikasimalaria karena itu diperlukan usaha-usaha untuk menanggulanginya.AbstractThe objective of this study was to describe the development of anti-malarial drug resistanceof the parasites and the efforts taken to contain the emergence of artemisinin resistant malaria.This was a literature study. The development of resistance to anti-malarial drugs are due tospontaneous changes in certain genes such as of P.falciparum multi drug resistance1 (Pfmdr1),P.falciparum chloroquine resistance transporter (Pfcrt), P.falciparum dihydropteroate synthase(Pfdhps), P.falciparum dihydrofolate reductase (Pfdhfr), and P.falciparum multidrug resistanceassociatedproteins (Pfmrp). The spread of the resistance depends on the transmission ratewithin each area. WHO has established a global plan to contain the spread of this resistance,such as recommendation to withdraw artemisinin-based monotherapies and administrationof treatment after laboratory confirmation. In addition, administration of anti-malarial drugcombination, production of fixed dose regimen and development of new drugs are necessary.The Conclusion is emergence of artemisinin resistant malaria will threaten malaria eradicationthus some efforts are necessarily needed to contain it.Afiliasi penulis: Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudi
PROFIL KECEPATAN HANTARAN SARAF PADA USIA MUDA
AbstrakKecepatan Hantaran Saraf (KHS) digunakan untuk menilai aktivitas saraf perifer. Nilai KHS dipengaruhi oleh faktor antropometrik, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT). Beberapa studi mendapatkan perbedaan KHS pada beberapa tempat pemeriksaan. Tujuan penelitian ini adalah menilai KHS pada usia muda normal berdasarkan IMT. Ini adalah studi potong lintang terhadap komunitas Dokter Muda FK-Unand di bagian Ilmu Penyakit Saraf dari Januari sampai Mei 2011. Peserta dikelompokkan berdasarkan IMT <25 dan IMT ≥25. Penilaian KHS dilakukan pada saraf medianus, ulnaris, radialis, tibialis posterior dan peroneus komunis. F Wave dan H Reflex diukur menggunakan EMG. Data dianalisis dengan SPSS. Hasil studi didapatkan bahwa dari 53 subjek; 34 orang memiliki IMT <25 dan 19 orang dengan IMT ≥25. Pada kelompok IMT <25 didapatkan rerata usia 23,5 tahun, tinggi badan 1,69 m dan berat badan 64,32 kg, sedangkan kelompok IMT ≥25 didapatkan rerata usia 23,47 tahun, tinggi badan 1,66 m dan berat badan 73,58 kg. Terdapat pemanjangan latensi dan penurunan KHS sensorik serta pemanjangan latensi dan penurunan KHS motorik pada kelompok IMT ≥25 dibanding kelompok IMT <25. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna KHS sensorik dan motorik nervus medianus berdasarkan IMT.AbstractNerve Conduction Velocity (NCV) can measure peripheral nerve activity. It was influenced by anthropometric, such as Body Mass Index (BMI). Previous studies suggested different results of NCV among different sites. The purpose of this study was to measure NCV among healthy young adult based on BMI. A cross sectional study was conducted to investigate NCV of fifth and sixth year medical students of Andalas University Padang from January to May 2011. Participants were categorized as BMI under 25 and 25 or above. NCV was examined on median, ulnar, radial, posterior tibial, and common peroneal nerves. F Waves and H Reflexes were measured using EMG. Data was analyzed by SPSS. The results from 53 participants; 34 had BMI under 25 and 19 had BMI 25 or above. On the group with BMI under 25, average age was 23.5 years olds, average height was 1.69, and average weight was 64.32 kg. On the group with BMI 25 or above, average age was 23.47 years olds, average height was 1.66 m, and average weight was 73.58 kg. There were prolonged latency and decreased NCV both sensoric and motoric on group with BMI 25 or above
KARAKTERISTIK PENDERITA RETARDASI MENTAL DI SLB KOTA BUKITTINGGI
AbstrakRetardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap yang dikarakteristikkan dengan tingkat IQ dibawah 70-75. Frekuensi penderita retardas mental pada laki-laki lebih tinggi. Retardasi mental dapat disebabkan oleh aspek biologis yang mencakup gangguan kromosom dan genetik. Sindrom Down merupakan salah satu bentuk retardasi mental berat yang terkait dengan usia ibu saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita retardasi mental di SLB Kota Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang yang diambil dengan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui data dasar siswa berupa jenis kelamin dan usia ibu saat hamil serta tes IQ yang kemudian dikategorikan berdasarkan derajat retardasi mental Hasil dari penelitian ini dengan 46 sampel yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan bahwa frekuensi laki-laki dengan perempuan sama, 41,3% termasuk derajat retardasi mental ringan, dan 34,8% dari ibu penderita hamil pada usia lebih dari 35 tahun. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa sebagian penderita memiliki derajat retardasi mental ringan, dengan usia ibu saat hamil pada usia lebih dari 35 tahun.AbstractMentally retardated is a state of mental development stalled or incomplete which characterized by an IQ level below 70-75. Frequency mentally retarded of male is higher. Mentally retardated caused by biological aspects that include chromosomal and genetic disorders. Down syndrome is a severe form of mentally retardated associated with maternal age. This study aims to investigate the characteristics of individuals with mentally retardated at special school in Bukittinggi. This study used a descriptive design and 50 people with random sampling. Data was collected through student basic data such as gender and maternal age and IQ tests were then categorized based on the degree of mentally retardated. The results of 46 samples that complied inclusion criteria was found that the frequency of male same with female, 41.3% including the degree of mild mentally retardated, and 34.8% of maternal age is over than 35 years old. This study concluded that most individuals have a mild degree of mentally retardated, with maternal age is over than 35 years old
PERBEDAAN TINGKAT SIMTOM ANSIETAS DAN DEPRESI ANTARA PEKERJA SEKS KOMERSIAL YANG MENDERITA HIV/ AIDS DENGAN YANG TIDAK MENDERITA HIV/ AIDS
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat simtom ansietas dan depresi antara pekerja seks komersial (PSK) yang menderita HIV/ AIDS dengan yang tidak menderita HIV/ AIDS. Penelitian potong lintang, dengan nonprobability sampling, jenis cluster sampling. Tempat penelitian adalah di lokalisasi Kabupaten Bengkalis dan di klinik VCT RSUD Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Subjek penelitian adalah wanita yang bekerja sebagai PSK di lokalisasi PSK, kooperatif, bersedia diwawancara. Subjek berjumlah 96 orang PSK; 48 orang menderita HIV/ AIDS dan 48 tidak menderita HIV/ AIDS. Data tentang status HIV/ AIDS diambil dari laporan klinik VCT RSUD Kecamatan Mandau. Alat ukur yang digunakan adalah Hospital Anxiety and Depression Scale. Analisis data yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Didapatkan proporsi ansietas pada seluruh PSK adalah 22.9%, pada PSK yang menderita HIV/ AIDS 31.2% dan PSK tidak menderita HIV/ AIDS 14.6%, sedangkan proporsi depresi pada seluruh PSK adalah 25%, pada PSK yang menderita HIV/ AIDS 27.1% dan PSK yang tidak menderita HIV/ AIDS 22.9%. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna tingkat simtom ansietas dan depresi antara pekerja seks komersial yang menderita HIV/ AIDS dengan yang tidak menderita HIV/ AIDS. Simpulan, didapatkan tingginya ansietas dan depresi pada keseluruhan PSK itu sendiri. Disamping menjadi seorang PSK ditambah lagi dengan menderita HIV/ AIDS akan menambah beratnya simtom ansietas dan depresinya.AbstractThe aims of this study is to determine the differences of anxiety and depression symptoms level between commercial sex workers who suffer HIV/AIDS with not suffer HIV/AIDS.Cross sectional study, using nonprobability sampling technique, the type is cluster sampling. Location is in red light district of commercial sex workers in Kabupaten Bengkalis and in VCT clinic of general hospital of Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Subjects were women who worked as prostitutes in red light district, cooperative, willing to be interviewed. Sample size were 96 women, 48 suffer HIV/ AIDS and 48 not suffer HIV/AIDS. Data on HIV/ AIDS status are collected from the report of VCT clinic of general hospital of Kecamatan Mandau. Measuring instruments is the Hospital Anxiety and Depression Scale. Data analysis by using the Kolmogorov-Smirnov test. It was found the proportion of anxiety in all sex workers is 22.9%, in sex workers who suffer HIV/ AIDS is 31.2% and in sex workers who not suffer HIV/ AIDS is 14.6%. While the proportion of depression in all sex workers is 25%, in sex workers who suffer HIV/ AIDS is 27.1% and in sex workers who not suffer HIV/ AIDS is 22.9%. There was no significant differences the level of anxiety and depression symptoms between commercial sex workers who suffer HIV/ AIDS with not suffer HIV/ AIDS. In conclusion, we get the high proportion of anxiety and depression symptoms among commercial sex workers themselves. Beside to being a prostitute in addition to having HIV / AIDS will increase the severity of symptoms of anxiety and depression
PERAN ASPEK ETIKA TENAGA MEDIS DALAM PENERAPAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
AbstrakPermasalahan etik didunia rumah sakit seperti halnya fenomena gunung es. Dilndonesia ba-nyak permasalahan yang tidak terungkap. Mulai dari kasus dugaan malpraktik,kelalaian dalam penanganan pasien, diskriminasi terhadap pasien, sampai tindak kriminallainnya. Tenaga medis memiliki peran penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yangbermutu. Di antaranya dalam menerapkan budaya keselamatan pasien. Saat ini keselamatanpasien belum sepenuhnya menjadi budaya dalam pelayanan kesehatan. Hal ini terlihat darimasih adanya kasus seperti malpraktik, diskriminasi, dan lainnya. Setiap profesi kesehatanmemiliki kode etik masing-masing. Keberadaan kode etik seharusnya menjadi aspek dalampenerapan budaya keselamatan pasien. Undang-undang Rumah Sakit nomor 44 tahun 2009sudah jelas mengatakan bahwa keselamatan pasien adalah faktor yang harus diutamakan olehpetugas kesehatan dibandingkan faktor yang lain. Metode: metode yang digunakan yaitumenelaah dari berbagai sumber publikasi ilmiah secara online. Dari hasil pencarian kemudiandiolah dan dianalisis sehingga menghasilkan sebuah pembahasan dan kesimpulan dari topikyang ditetapkan. Hasil: Kode etik yang dimiliki oleh profesi tenaga kesehatan harus selaluditerapkan sebagai upaya untuk menerapkan budaya keselamatan pasien. Pasien akan merasapuas apabila terlayani dengan baik oleh tenaga kesehatan. Untuk menerapkan budayakeselamatan pasien dan menjalankan kode etik profesi diperlukan iklim berorganisasi yang baik.Aspek etika menjadi bagian penting dalam melakukan pelayanan kepada pasien.Kata kunci: etika, petugas kesehatan, keselamatan pasienAbstractEthical probiem in hospital is iceberg phenomena. .ln lndonesia, many problems are noirevealed; cases of suspecfed maipractice, negligence in handling of patients, discriminateagainst patients and others. Medical personnel have an important role in creating a quality healtltservtces including implementing patient safety culture. Currently patient safety citlture does notexist yet in health care. The evidence are the persistence reports of malpracfrce cases,discrimination, and others. Each health profession has a code of ethics. The existence of a codeof ethics should be an aspecf in the implementation of safety culture pasien. Hospitals Actnumber 44 of 20A9 it was clear to say that patient safety is a factor that should be prioritized byhealth v,iorkers compared to other factors. Method: The method used is the examinaticn andanalysis of variety scientific publications published online. Resu/ts; The code of conduct ownedby personnel of health professions should always be applied in an attempt to implement a patientsafety culture. Patients will feel satisfied when served professionalty by health workers. Toimplement the patient safety citlture and run code of professional conduct require goociorganizational climate. Ethicalaspecfs become an imporlant part of patient serviceKeyworcis: ethic, health care personnei, patient safet
THE ASIA PACIFIC BIOETHICS PROGRAM OF THE UNESCO CHAIR IN BIOETHICS
THE ASIA PACIFIC BIOETHICS PROGRAM OFÂ THE UNESCO CHAIR IN BIOETHIC