Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Fenomena Kernohan Notch, Tinjauan Neuroanatomi Hemiparesis Paradoksikal
Fenomena Kernohan notch merupakan suatu manifestasi klinis defisit neurologi yang tidak lazim karena letak lesi sesisi dengan defisit neurologis. Bermacam hipotesa terkait fenomena ini, adanya lesi desak ruang banyak diyakini sebagai penyebab fenomena ini. Peningkatan tekanan intrakranial menyebabkan penekanan pedunkulus serebri kontralateral, sehingga menyebabkan kompresi terhadap sudut tentorial kontralateral. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk membahas fenomena kernohan notch dan tinjauan neuroanatomi. Metode: Penelusuran digital dengan menggunakan database Pubmed dan menggunakan artikel yang terbit dari tahun 2012. Artikel ini ditulis berdasarkan review beberapa literatur laporan kasus tunggal maupun ganda, serta artikel penelitian. Hasil: Bermacam hipotesa etiologi yang pernah dilaporkan yaitu anomali dekusasio piramidum, gangguan fungsional serebral, disfungsi serebrovaskular dan kompresi jaras traktus kortikospinal kontralateral dari efek massa supratentorial dan menyebabkan manifestasi klinis hemiparesis atau hemiplegia paradoksikal. Penatalaksanaan fenomena Kernohan notch bertujuan dekompresi tekanan intrakranial. Prognosis ditentukan bermacam faktor, meskipun demikian 67% kasus mempunyai prognosis fungsionam baik. Kesimpulan: fenomena Kernohan notch merupakan fenomena bermanifestasi klinis hemiparesis yang unik dan jarang terjadi akibat efek desak ruang
Konsistensi Respon Imun Humoral (IgG) SARS-CoV-2 Pasca Vaksinasi SARS-CoV-2 pada Tenaga Kesehatan
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon humoral antibodi IgG pada tenaga kesehatan setelah dua dosis vaksinasi coronavirus disease 2019 (COVID-19); Metode: Penelitian merupakan studi deskriptif dengan desain potong lintang pada bulan Juli hingga Desember 2021 di Rumah Sakit Anton Soedjarwo, Pontianak. Responden merupakan tenaga kesehatan yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit yang diambil secara consecutive sampling. Deteksi dan pengukuran kadar anti-SARS-CoV-2 IgG dilakukan dengan metode Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) dengan target protein S-RBD. Pemeriksaan dilakukan pada enam bulan setelah dosis ke-dua vaksin; Hasil: Total responden adalah 23 orang, dengan jumlah persentase laki-laki dan perempuan yaitu 47,83% dan 52,17% dengan rerata usia 28,9 tahun. Hasil kadar respon humoral antibodi IgG setelah enam bulan vaksinasi dosis ke-dua91,30% menunjukkan hasil reaktif/seropositif dengan nilai median kadar antibodi IgG 1951,5 AU/ml; Kesimpulan: Respon humoral antibodi IgG SARS-CoV-2 responden mayoritas menunjukkan hasil positif dengan rentang nilai yang bervariasi dan diharapkan dapat menjadi dasar apakah memerlukan vaksinasi ulangan atau booster ke depannya.Kata kunci: vaksin COVID-19; antibodi IgG; respon humora
Korelasi Kadar Feritin dengan Enzim Transaminase Palasemia beta mayor Tergantung Transfusi
AbstrakTujuan: Mengetahui korelasi kadar feritin dengan enzim transaminase serum pada penyandang talasemia beta mayor tergantung transfusi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif dengan rancangan cross-sectional terhadap 50 penyandang talasemia beta mayor untuk pemeriksaan feritin, SGOT dan SGPT di laboratorium sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan dari Juli 2019 - Oktober 2020. Pemeriksaan feritin menggunakan metode ELFA, SGOT dan SGPT menggunakan metode NADH (Without P-5’-P). Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman, bermakna jika p<0,05. Hasil: Sebanyak 50 penyandang talasemia beta mayor didapatkan rerata kadar feritin adalah 3729,02 (3218,00) ng/dL, rerata kadar SGOT adalah 54,96 (48,99)%, rerata kadar SGPT adalah 60,14 (77,60)%. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif lemah antara kadar feritin dan SGOT (r=0,242, p<0,05), kadar feritin dan SGPT (r=0,380, p<0,05). Simpulan: Terdapat korelasi positif lemah antara kadar feritin dengan enzim transaminase penyandang talasemia beta mayor tergantung transfusi.Kata kunci: Talasemia beta mayor; transfusi; feritin; SGOT; SGP
Hubungan antara intensitas Pruritus Nokturna dengan Kualitas Tidur pada Penderita Skabies
Objective: To analyze the relationship between the intensity of nocturnal pruritus and the sleep quality of scabies patients. Method: This was an analytic study with cross-sectional design. The subject was recruited by total sampling. Data was analysed using the Spearman correlation test. Result: As many as 160 out of 302 students (53%) were suffering from scabies. Majority of patients were 13 years old, at the 7th grade of school, had a normal Body Mass Index (BMI), had an onset of scabies ≤ 3 months and not in the scabies treatment period in the last 1 month. There were 22 scabies patients matched the inclusion and exclusion criteria. As many as 5 out of 22 patients had mild nocturnal pruritus,10 patients had moderate nocturnal pruritus and 7 patients had severe nocturnal pruritus. There were 13.6% had good sleep quality and 86.4% had poor sleep quality. Analysis using Spearman test showed the value of p=0.65 implicated that there was no significant correlation between the intensity of nocturnal pruritus and the sleep quality of scabies patients. Conclusion: There was no relationship between the intensity of nocturnal pruritus and the sleep quality of scabies patients at the Pesantren male dormitory
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Campak di Kelurahan Balai Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin Kota Padang
The lowest immunization coverage in Padang is in area of Puskesmas Air Dingin Padang. Mother’s knowledge is one of the factor that influence the provision of immunization. Objectives: To determined correlation between mother’s knowledge of measles immunization and provision of measles immunization in area of Puskesmas Air Dingin Padang. Methods: This was an analytic study with cross-sectional design. The population were all of mothers with babies age 9-48 months in the area of Puskesmas Air Dingin Padang. The 139 of samples were taken by purposive sampling. Data were collected by interviews using questionnaires. Computerized data processing and analysis permormed by Chi-square test. Results: This study obtained 59,7 % of respondents gave measles immunization to their childen and 89,9% of respondents have sufficient knowledge about measles immunization. There was significant correlation between two variables (p=0,001). Conclusion: There is a significant correlation between mother’s knowledge of measles immunization and provision of measles immunization in Balai Gadang area of Puskesmas Air Dingin Padang, therefore needs to be improved counseling about measles and measles immunization to the community
Pengaruh Radiasi Gelombang Elektromagnetik Sebelum dan Selama Kehamilan terhadap Struktur Mikroskopik Kulit Tikus (Rattus norvegicus)
Telepon seluler mempunyai peranan besar dalam kehidupan sehari-hari, dan mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang akan meningkatkan reaksi oksidatif. Pada masa kehamilan, terdapat gangguan pada keseimbangan pro-oksidan dan antioksidan sehingga adaptasi tubuh menjadi terganggu sehingga memudahkan terjadinya stress oksidatif. Tujuan: Mengetahui pengaruh radiasi gelombang terhadap lapisan epidermis dan dermis kulit tikus yang diradiasi sebelum dan selama kehamilan. Metode: Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus betina berumur 2-3 bulan. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, yaitu kelompok I (kontrol), kelompok II (paparan radiasi 1 ponsel), kelompok III (2 ponsel), dan kelompok IV (4 ponsel). Kelompok perlakuan diradiasi dengan ponsel selama 90 menit selama 40 hari (21 hari sebelum kehamilan dan 19 hari selama kehamilan). Pada hari ke-19 kehamilan, tikus dikorbankan dan dilakukan pengambilan sampel. Organ kulit diambil dari bagian punggung kemudian dibuat preparat dengan pewarnaan Masson’s Trichrome. Preparat lalu difoto dan diukur ketebalan epidermis dan dermis dengan aplikasi Imageview. Hasil: Terdapat penebalan dermis yang signifikan pada kelompok perlakuan radiasi 1 ponsel, 2 ponsel, dan 4 ponsel dibandingkan kontrol. Akan tetapi, pada kelompok tikus yang diradiasi 4 ponsel ketebalan epidermisnya lebih tipis dibandingkan dengan tikus kelompok radiasi 2 ponsel. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan kemampuan adaptasi pada perlakuan radiasi elektromagnetik yang lebih besar.Â
Pengaruh Latihan Fisik Aerobik terhadap Indeks Massa Tubuh, Rasio Lingkar Pinggang-Panggul dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Palembang
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular dengan prevalensi dan kematian yang cukup tinggi. Hipertensi dikaitkan dengan sejumlah penanda risiko kardiovaskular lainnya seperti obesitas, pola nutrisi yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang rendah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obesitas dan tekanan darah seseorang dapat dipengaruhi oleh aktifitas fisik. Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan fisik aerobik terhadap IMT, RLPP dan tekanan darah pada pasien hipertensi di RS Pertamedika Palembang. Metode: Penelitian quasy experimental dengan one-group pretest-posttest. Data adalah hasil pengukuran IMT, RLPP serta tekanan darah yang diukur sebelum dan setelah latihan fisik aerobik 3 kali seminggu selama 4 minggu dengan durasi 30 menit. Hasil: Sebanyak 21 sampel penelitian diambil dengan cara total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil uji statistik didapatkan penurunan rerata IMT setelah latihan fisik aerobik yang signifikan menjadi 28,5 dengan P=0,023 (P<0,05), RLPP setelah latihan fisik aerobik yang signifikan menjadi 0,87 dengan P=0.002 (P<0,05), serta penurunan rerata sebesar 6,91 ± 1,008 mmHg untuk tekanan darah sistolik dan 7,39 ± 0,035 untuk tekanan darah diastolik sesudah latihan fisik dengan p value 0,000 (< 0,05). Kesimpulan: Terdapat Pengaruh Latihan Fisik Aerobik terhadap Indeks Massa Tubuh, Rasio Lingkar Pinggang-Panggul dan tekanan darah pasien hipertensi di RS Pertamedika Palembang
Potensi nanopartikel chitosan berbasis flavonoid fisetin dari buah stroberi (Fragaria x ananassa): modalitas terapi dalam penatalaksanaan TNBC
Breast cancer is ranked number one in the world as a cancer with the highest new cases reaching 1.7 million people (43.4%). Triple-Negative Breast Cancer (TNBC) has a worse prognosis than non-TNBC because of low 5-year survival rates and high recurrence rates. TNBC was also rated as more aggressive and invasive with high levels of nuclear mitotics. Currently, the use of natural food substances derived from fruits, vegetables, and spices is getting more attention because of its role as chemopreventive and chemotherapeutic agents, one of which is flavonoids. Fisetin (3,3',4',7-tetrahydroxyflavone) is a flavonol bioactive molecule found in fruits and vegetables such as apples and persimmons with the highest concentration found in strawberries (Fragaria x ananassa). One of the technologies being developed in the oncology field is nanoparticles. Nanoparticles are useful for delivering and releasing drugs to the target organs, as well as increasing the bioavailability of drugs so that drugs can work for a longer time. The combination of the flavonoid fisetin encapsulated with chitosan nanoparticles has the potential to become one of the therapeutic modalities in the management of TNBC
Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Komunikasi Kesehatan di Pelayanan Kesehatan Primer Selama Masa Pandemi Covid-19
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mendeskripsikan faktor yang memengaruhi kualitas komunikasi kesehatan di Puskesmas dan/atau Klinik terhadap masyarakat selama masa pandemi Covid-19; Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang memaparkan dan menganalisis hasil wawancara dengan informan. Sampel penelitian merupakan dokter yang bekerja di Puskesmas/Klinik. Wawancara dilakukan di bulan Oktober 2020; Hasil: Hasil penelitian didapatkan model komunikasi dari teori Schramm yang berfokus pada proses encode dan decode. Terdapat 5 topik sebagai indikator kualitas pelayanan yaitu reliability, assurance, empathy, dan tangible. Kelima aspek tersebut mencakup, edukasi, prosedural konsultasi, fasilitas yang tersedia, dan kemampuan para dokter dalam berkomunikasi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas/Klinik sudah mengukuti standar yang dianjurkan oleh Pemerintah Indonesia; Kesimpulan: Perubahan pelayanan kesehatan pada Puskesmas/Klinik mengacu pada Surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia dan rekomendasi dari WHO. Tenaga medis yang bekerja di Puskesmas/Klinik harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut serta memberikan edukasi kepada masyarakat guna membantu penganggulangan dan pencegahan Covid-19 di Indonesi
Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE)
Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE) adalah kelainan pada regio hip dimana didapatkan pergeseran dari epifisis kaput femoris mulai dari area metafisis hingga fisis. Prevalensi SCFE berbeda-beda mengikuti kelompok etnis tertentu, kondisi geografis, lokasi, dan perubahan musim. SCFE sering dijumpai pada anak-anak Hispanik dan Afrika dengan jumlah mencapai 3,94 hingga 2,53 kali dibandingkan anak-anak Kaukasia. Rasio antara anak laki-laki dibandingkan perempuan sebesar 1,6:1, dimana rasio ini mewakili usia puncak pertumbuhan mereka, yaitu usia 10 hingga 16 tahun, dengan usia rata-rata 12 tahun pada anak perempuan dan 13,5 tahun pada anak laki-laki. Pada pasien usia dewasa muda, SCFE dikaitkan dengan gangguan metabolisme endokrin. Faktor lain seperti genetika dapat berperan dalam SCFE dimana adanya riwayat di keluarga menyebabkan variabilitas yang lebih besar. Proses penentuan diagnosis yang tertunda dapat menyebabkan perburukan dari kondisi awal pasien, hingga terjadinya gejala proses degenerasi awal yang berujung arthritis sendi pinggul. Tidak jarang, diagnostik yang terlambat berujung pada kecacatan premanen. Dibutuhkan pemeriksaan awal (screening) berskala besar untuk SCFE yang belum pernah dilakukan hingga sekarang, agar proses penetuan diagnosis dapat dibuat lebih cepat