Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Persepsi Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh, Umpan Balik Mahasiswa Kedokteran di Masa Pandemi
Tujuan: untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap faktor pendukung dan penghambat pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi. Metode: metode penelitian deskriptif analitik, desain cross sectional dan menggunakan data sekunder hasil evaluasi persepsi mahasiswa terhadap PJJ. Data sekunder di peroleh dari 176 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya yang mengisi kuesioner evaluasi PJJ menggunakan google form. Kuesioner berupa pertanyaan mengenai persepsi mahasiswa terkait faktor pendukung dan faktor penghambat pada pembelajaran jarak jauh yang telah dilakukan selama setahun. Hasil: Koneksi internet yang paling banyak digunakan mahasiswa saat PJJ adalah kombinasi data seluler dan wifi (53,08%). Faktor pendukung yang paling banyak disetujui mahasiswa adalah lokasi pembelajaran yang fleksibel (84,9%) sedangkan faktor penghambat paling banyak adalah ketergantungan pada sinyal (97%). Pada pertanyaan terbuka, hasil persepsi mahasiswa yang paling tinggi terkait faktor pendukung PJJ adalah efisiensi waktu (23,06%), sedangkan faktor penghambat adalah sinyal, elektronik, dan listrik yang kurang mendukung (25,78%). Kesimpulan: Menurut mahasiswa faktor pendukung PJJ adalah efisiensi waktu dan faktor penghambat adalah sinyal, gadget dan listrik. Evaluasi ini menjadi masukan yang berharga bagi Institusi untuk mempertimbangkan metode pembelajaran PJJ yang efektif dan efisien
Gambaran Diagnostik dan Penatalaksanaan Covid-19 Pasien Lansia RSU Royal Prima Medan Bulan Oktober-Desember 2020
Tujuan: Untuk mengetahui gambaran diagnostik dan penatalaksanaan Covid-19 pada pasien lansia di RSU Royal Prima Medan pada bulan Oktober-Desember 2020.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif retrospektif. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu rekam medis Covid-19 pada pasien lansia di RSU Royal Prima Medan pada bulan Oktober-Desember 2020. Jenis teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah Purposive Sampling dengan kriteria pasien lansia yang berusia ≥60 tahun, pasien Covid-19 lansia dengan data lengkap, pasien lansia yang dinyatakan sembuh.Hasil: Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat 100 pasien lansia yang terkena Covid-19 dengan gejala yang beragam. Selanjutnya juga didapatkan penatalaksanaan sesuai gejala masing-masing pasien.Kesimpulan: Berdasarkan data rekam medik didapatkan usia pada lansia yang paling banyak terkena Covid-19 dimortalitas usia 71-75 tahun, dan dimana didominasi oleh laki-laki. Gejala klinis yang paling sering didapatkan yaitu Demam + Batuk + Sesak Napas + Lemas, dan Pcr + Foto Thoraks + D-Dimer sebagai pemeriksaan penunjang yang paling sering dilaksanakan oleh pasien. Penatalaksanaan yang paling sering diberikan yaitu Antibiotik (Levofloxacin) + Antivirus (Remdesivir) + Antipiretik (Paracetamol) + Vitamin
Differences in Levels of Vitamin D, Human Placenta Lactogen (hPL) and Estradiol in Normal Pregnancy and 1st Trimester Abortion
Vitamin D deficiency is one of the common health problems in the world, around 20-40% occurs during pregnancy (Urrutia-Pereira & Solé, 2015). Abortion or early pregnancy loss in the first trimester has a close relationship with vitamin D deficiency (Hou et al., 2016). This study aims to prove the differences in levels of vitamin D, levels of human Placenta Lactogen (hPL) and levels of estradiol in normal pregnancy and first trimester abortion.This research is a comparative analytic study with a cross sectional approach. The normality test of the data was carried out using the sapiro wilk test and data analysis using the independent T test.The results of the research variables showed that the average levels of vitamin D, Estradiol, and hPL in normal pregnant women were significantly higher than pregnant women who had an abortion in the first trimester, namely (36.577 ng/mL vs 19.120 ng/mL; 626.596 pg/mL vs 246.604 pg/mL; 12.188 g/mL vs 6.786 g/mL) with a value of p<0.05 for the three variables
Profil Gambaran Histopatologi Ginjal Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Betina Galur Sprague Dawley yang terpajan 7,12- dimetilbenz(α)antracene dan diberi Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (mill.) Urb.)
 Tujuan : Mengetahui profil gambaran histopatologi ginjal pada tikus putih galur Sprague dawley yang terpajan 7,12-Dimetilbenz(Α)Antracene dan diberi ekstrak etanol umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.). Metode : Digunakan desain penelitian deskriptif dengan melihat profil gambaran histopatologi ginjal. Dosis DMBA 20mg/kgBB. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok kontrol negatif (DMBA), kelompok perlakuan I (DMBA + EEUBD 180 mg/kg BB), kelompok perlakuan II (DMBA + EEUBD 360 mg/kgBB) dan kelompok perlakuan III (DMBA + EEUBD 720 mg/kgBB). Dilakukan pembuatan preparat histopatologi ginjal pewarnaan HE. Hasil : Didapatkan profil gambaran kerusakan tubulus proksimal ginjal pada kelompok perlakuan dosis bawang dayak 180mg/kgBB, 360mg/kgBB, dan 720mg/kgBB berupa degenerasi hidropik, nekrosis, hilangnya brush border, pembentukan cast, dan dilatasi tubulus. Pada uji Kruskal-Wallis didapatkan nilai p 0,11 yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna. Kesimpulan : DMBA dan ekstrak etanol bawang dayak dosis 180mg/kbBB, 360mg/kgBB, dan 720mg/kgBB tidak mempengaruhi gambaran histologis tubulus proksimal ginjal
Penatalaksanaan Malunion pada Fraktur Tulang Hyoid
Latar Belakang: Fraktur tulang hyoid sangat jarang terjadi dan biasanya dikaitkan dengan trauma lain seperti fraktur mandibular, vertebra cervical atau bersamaan dengan laserasi jaringan lunak. Hal ini merupakan akibat dari trauma langsung atau hiperekstensi leher. Malunion merupakan salah satu komplikasi dari fraktur tulang hyoid, yang terjadi saat proses penyembuhan tulang dengan deformitas dan gangguan fungsi. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan tomografi komputer dan laringoskopi. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan jenis cedera, gejala, dan komplikasi potensial yang terkait. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan keluhan rasa mengganjal di tenggorok sejak 5 tahun yang lalu dan semakin memberat sejak 4 bulan terakhir. Pada pemeriksaan tomografi komputer regio colli, didapatkan kesan asimetris/ dislokasi tulang hyoid (sisi kiri) dengan gambaran garis/ fissure. Pada pasien dilakukan closing wedge osteotomy dan open reduction internal fixation (ORIF) tulang hyoid dengan miniplate dan screw. Kesimpulan: Pemilihan teknik closing wedge osteotomy dan ORIF menggunakan miniplate dan screw memberikan hasil yang memuaskan dalam penyembuhan dan fiksasi optimal pada penatalaksanaan malunion dari fraktur tulang hyoid
Injeksi Toksin Botulinum pada Disfonia Spasmodik Tipe Adduktor
Disfonia spasmodik adalah gangguan fonasi akibat gerakan involunter, intermiten dan ireguler dari otot-otot intrinsik laring. Hingga saat ini patofisiologinya masih belum jelas. Gejalanya yang tidak familiar di kalangan klinisi sering menyebabkan keterlambatan diagnosis. Terapi injeksi botulinum masih menjadi pilihan pertama untuk mengobati gejala disfonia spasmodik. Laporan Kasus: Seorang wanita 50 tahun mengeluh suara seperti tercekik dan terputus-putus saat bicara sejak 1,5 tahun lalu. Pemeriksaan laring tidak menemukan adanya lesi patologis. Diagnosis disfonia spasmodik tipe adduktor ditegakkan berdasarkan persepsi suara. Dilakukan injeksi botulinum pada otot tiroaritenoid, dan memberikan hasil yang memuaskan selama 3 bulan. Kesimpulan: Penegakkan diagnosis disfonia spasmodik masih merupakan tantangan untuk klinisi. Injeks
Prevalensi dan Pola Sensitivitas Antibiotik Acinetobacter baumannii di RSUP. Dr. M. Djamil Padang
AbstrakTujuan: Mengetahui prevalensi dan pola sensitivitas Acinetobacter baumannii di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode:Â Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif, dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi pada bulan Januari 2020 hingga Juni 2020. Jumlah sampel penelitian sebanyak 195 yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Identifikasi bakteri dan uji sensitivitas menggunakan alat mikrobiologi otomatis (VITEK 2) dengan metode kolorimetri dan turbidimetri. Hasil:Â Prevalensi Acinetobacter baumannii pada penelitian ini sebesar 14,7%. Spesimen positif terbanyak dari bangsal penyakit dalam, intensif dewasa, intensif anak dan bedah, masing-masing sebesar 46,7%, 20,5%, 7,2%, 7,2%. Sensitivitas Acinetobacter baumannii terhadap antibiotik paling tinggi adalah amikasin, trimetroprim/sulfametoksazol dan meropenem masing-masing sebesar 74,9%, 67,1%, 62,7%. Resistensi antibiotik paling tinggi didapatkan pada cefazolin, seftriakson dan siprofloksasin masing-masing sebesar 99,3%, 67,0%, 66,2%. Kesimpulan: Prevalensi infeksi Acinetobacter baumannii di RSUP Dr M Djamil 14,7% dengan antibiotik paling sensitif adalah amikasin.Kata kunci: prevalensi; resistensi; antibiotik; Acinetobacter baumannii; pola antibiotikÂ
Gangguan Pendengaran pada Sindrom Down dengan Hipotiroid Kongenital
Pendahuluan: Gangguan pendengaran pada hipotirod kongenital merupakan salah satu komplikasi yang berat dan dapat bersifat irreversibel. Hipotiroid merupakan kelainan tiroid yang paling sering terjadi pada sindrom Down. Sindrom Down adalah kelainan genetik dimana terdapat abnormalitas perkembangan kromosom 21. Laporan Kasus: Dilaporkan seorang anak perempuan umur 1 tahun 11 bulan dikonsulkan dari bagian Ilmu Kesehatan Anak dengan diagnosis sindrom Down dengan hipotiroid kongenital, penyakit jantung bawaan dan global delay development rencana untuk pemeriksaan pendengaran. Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil timpanometri tipe A pada telinga kanan dan tipe As pada telinga kiri, pemeriksaan Otoacoustic Emissions (OAE) didapatkan hasil telinga kanan dan kiri refer dan pada pemeriksaan Brain Evoked Response Audiometry (BERA) tidak ditemukan adanya gelombang V pada semua frekuensi pada kedua telinga. Pasien didiagnosis dengan gangguan sensorineural derajat berat. Kesimpulan: Sindrom Down dengan hipotiroid kongenital merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Deteksi dini gangguan pendengaran sangat penting untuk menghindari keterlambatan diagnosis dan intervensi.Kata kunci: Gangguan pendengaran, sindrom Down, hipotiroid kongenita
Pengaruh Human Wharton’s Jelly Mesenchymal Stem Cells terhadap Gambaran Sel Saraf pada Daerah Hippocampus Tikus Like Model Alzheimer
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian human wharton’s jelly mesenchymal stem cell (HWJ-MSC) terhadap gambaran kerusakan sel saraf pada daerah hippocampus tikus like model Alzheimer. Metode: Penelitian ini menggunakan 21 ekor tikus jantan putih (Rattus norvegicus) galur Wistar. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif (diberikan pakan biasa), kelompok kontrol positif (diinduksi dengan AlCl3  melalui oral selama 5 hari), dan kelompok perlakuan (kelompok yang diinduksi AlCl3 selama 5 hari dan dilanjutkan pemberian HWJ-MSC selama 28 hari. Tikus dilakukan terminasi dan diambil organ otaknya kemudian dilakukan pemotongan jaringan serta pewarnaan Hematoxylin Eosin. Preparat otak tikus pada daeerah hippocampus diamati menggunakan mikroskop cahaya kemudian dilakukan perhitungan kerusakan sel saraf yang terjadi pada setiap kelompok hewan coba. Hasil : Terdapat banyak sel saraf yang mengalami kerusakan pada kelompok kontrol positif dibandingkan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif. Kesimpulan : Hal ini menunjukkan adanya pengaruh dari HWJ-MSC terhadap gambaran kerusakan sel saraf pada daerah hippocampus tikus like model Alzheimer.Kata kunci: Saraf, Alzheimer, AlCl3, HWJ-MS
Hubungan antara Kelebihan Berat Badan dengan Dismenore Primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2016-2018
Latar Belakang: Dismenore merupakan masalah ginekologis yang paling umum terjadi pada perempuan remaja atau dewasa. Studi prevalensi menyatakan sebanyak 90% penduduk di dunia mengalami dismenore. Gejala dari dismenore dapat berupa nyeri pada perut bagian bawah, nyeri menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai, rasa kram yang hilang-timbul, sakit kepala, mual dan muntah, sembelit, diare, sering berkemih. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya dismenore seperti usia menarche, indeks massa tubuh, dan siklus menstruasi. Mekanisme terjadinya dismenore yaitu karena tingginya produksi prostaglandin. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kelebihan berat badan dengan dismenore primer. Metode:Â Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Sampel diambil dari data primer yaitu menggunakan kuesioner yang dilakukan dengan teknik wawancara pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2016-2018. Besar sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Data yang telah didapat selanjutnya dianalisis dengan menggunakan SPSS. Hasil: Prevalensi nyeri haid pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2016-2018 sebesar 60,9%. Hasil perhitungan uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kelebihan berat badan dengan dismenore primer (p=0,887). Kesimpulan: Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara kelebihan berat badan dengan dismenore primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2016-2018.Kata kunci: kelebihan berat badan, obese, dismenore prime