Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Analisis Kesesuaian Kebijakan Upaya Percepatan Pencegahan Stunting Kabupaten Cianjur dengan Kebijakan Nasional

    No full text
    Berdasarkan hasil PSG 2017, Kabupaten Cianjur memiliki persentase stunting yang tinggi yaitu 35.7%. Pentingnya komitmen politik dan kebijakan yang mendukung pengentasan stunting mendasari dilakukannya penelitian ini. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian kebijakan pemerintah nasional dan kabupaten dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui konten analisis kandungan informasi pada dokumen-dokumen kebijakan nasional dan daerah yang berhubungan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui hubungan cakupan program dengan prevalensi stunting di Kabupaten Cianjur. Penelitian dilakukan di Kabupaten Cianjur pada bulan September-Desember 2018. Kebijakan Kabupaten Cianjur sudah sesuai dengan kebijakan nasional, namun perlu adanya perbaikan pada beberapa hal antara lain: 1) penetapan isu strategis, arah kebijakan, strategi dalam perencanaan pembangunan; 2) penetapan sasaran program; dan 3) pelaksanaan beberapa intervensi gizi sensitif dan spesifik yang belum terlaksana

    Analisis In Silico dan In Vitro Aktivitas Inhibisi Enzim Alfa Glukosidase oleh Pektin dari 12 Genotipe Buah Okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench)

    No full text
    Diabetes melitus (DM) dilaporkan terus meningkat setiap tahunnya. Sebanyak 87-91% dari penderita DM diperkirakan menderita DM tipe II yang disebabkan adanya resistensi insulin. Salah satu pendekatan untuk mengatasi diabetes melitus tipe II yaitu dengan menghambat kerja enzim alfa glukosidase. Buah okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) merupakan buah yang kaya akan serat dan diketahui dapat dimanfaatkan sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya inhibisi senyawa pektin dan bahan aktif lain dari buah okra melalui penambatan molekuler serta potensi pektin okra sebagai obat antidiabetes secara in vitro. Penambatan molekuler pada alfa glukosidase menunjukkan kuersetin 3-gentiobiosida memiliki daya inhibisi terbaik dengan nilai %BSS sebesar 68.75% dan energi afinitas -8.8 kkal/mol. Asam galakturonat dan ramnosa tidak berikatan dengan sisi aktif enzim. Pektin okra memiliki daya inhibisi yang sangat lemah. MC2 pada konsentrasi 50 mg/mL menghambat kerja enzim sebesar 25.5%, sedangkan Zahira tidak aktif menghambat alfa glukosidase ( 1.54%)

    Formulasi dan Bioaktivitas Tablet Suplemen Berbasis Spirulina dan Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

    No full text
    Spirulina merupakan mikroalga yang dijuluki superfood karena mengandung protein yang tinggi dan berpotensi sebagai antioksidan. Spirulina dimanfaatkan antara lain sebagai suplemen makanan, pewarna makanan alami serta dalam industri kosmetik. Manfaat tersebut juga semakin diperkaya apabila dikombinasikan dengan hidrolisat kolagen yang memiliki bioaktivitas antara lain sebagai antioksidan, antimikroba dan antihipertensi. Hidrolisat kolagen dihasilkan dari hidrolisis kolagen dengan penambahan enzim protease. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas antioksidan dan aktivitas penghambatan tirosinase dari tablet spirulina dan hidrolisat kolagen. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu : 1) ekstraksi dan hidrolisis kolagen kulit ikan nila, 2) kultivasi dan pemanenan spirulina, 3) formulasi tablet spirulina dan hidrolisat kolagen dilanjutkan pengujian aktivitas antioksidan dan penghambatan tirosinase pada tablet yang terpilih berdasarkan karakteristik fisik. Hidrolisat kolagen yang dihidrolisis dengan enzim papain memiliki bobot molekul berturut-turut 105.62 kDa, 98.56 kDa, dan 18.30 kDa dan memiliki gugus fungsi Amida A, amida B, amida I, II dan III. Nilai zeta potensial hidrolisat kolagen sebesar –6.463 mV. Komposisi kimia spirulina meliputi kadar air 5.605%, abu 8.105%, lemak 0.69%, protein 57.4%, karbohidrat 27.8%. Berdasarkan karakteristik tablet yang meliputi parameter keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerarasan dan waktu hancur semua formulasi memenuhi persyaratan sedangkan kerapuhan tablet hanya pada formula A spirulina : hidrolisat kolagen (25%: 53.75%) yang memenuhi persyaratan DEPKES RI yaitu 0.275 %. Aktivitas antioksidan pada spirulina diukur dengan IC50 sebesar 714.6 ppm, hidrolisat kolagen IC50 788 ppm, tablet IC50 843 ppm. Penghambatan tirosinase oleh spirulina dengan IC50 1003.7 ppm, hidrolisat kolagen IC50 102.9 ppm dan tablet IC50 163.6 ppm. Analisis komposisi kimia pada tablet spirulina dan hidrolisat kolagen meliputi kadar air 8.7 %, abu 12.3%, lemak 0.2%, protein 39.3% dan karbohidrat 39.%. Pengujian total bakteri tablet pada minggu ke 4 sebanyak 8.75 x 103 CFU/g. Formula tablet A spirulina : hidrolisat kolagen (25 %: 53.75%) dalam satu takaran saji 16.8 g mampu menyumbang energi sebesar 53.21 kkal. Konsumsi tablet spirulina dan hidrolisat kolagen dengan takaran saji 16.8 g memberikan rata-rata kecukupan energi 2150 kkal dan memenuhi satu per delapan kebutuhan protein manusia dewasa

    Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit di Seruyan Estate, PT. Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Hanau, Seruyan, Kalimantan Tengah

    No full text
    Tanaman kelapa sawit adalah tanaman perkebunan yang ditanam pada lahan terluas di Indonesia. Produk yang dihasilkan oleh kelapa sawit adalah minyak sawit/Crude Palm Oil (CPO) berasal dari daging buah (mesokarp) dan Palm Kernel Oil (PKO) berasal dari inti sawit. Peningkatan produksi kelapa sawit masih bisa terus diupayakan. Salah satu cara untuk meningkatkannya adalah dengan cara melakukan pemupukan dengan tepat. Program magang secara spesifik bertujuan mempelajari aspek teknis dan manajerial pemupukan tanaman kelapa sawit. Secara komprehensif dipelajari tentang konsep 5 tepat pemupukan (5T) yaitu tepat jenis dan dosis pupuk, tepat waktu, cara dan tempat aplikasi. Hasil pengamatan menunjukan pelaksanaan konsep ketepatan dosis, cara dan tempat sudah baik, namun konsep ketepatan waktu belum sesuai dengan yang direkomendasikan oleh tim riset

    Perubahan Karakteristik Fisikokimia dan Mikrobiologi Ketupat selama Penyimpanan

    No full text
    Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari setengah penduduk dunia. Beras umumnya diolah menjadi nasi. Ketupat merupakan produk olahan beras yang menjadi bagian dari budaya Indonesia. Ketupat dibuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman janur dalam bentuk tertentu dan dimasak dalam air mendidih. Ketupat memiliki umur simpan yang singkat. Suhu penyimpanan yang berbeda diduga memengaruhi sifat fisikokimia dan mikrobiologi ketupat. Selain itu, perbedaan jenis beras diduga juga berpengaruh terhadap karakteristik ketupat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kadar amilosa beras dan persentase pengisian ketupat terhadap perubahan karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi ketupat selama penyimpanan pada suhu yang berbeda. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu karakterisasi beras, penentuan persentase pengisian ketupat terbaik dengan uji organoleptik serta karakterisasi fisikokimia dan mikrobiologi ketupat selama penyimpanan. Karakterisasi fisikokimia dan mikrobiologi ketupat selama penyimpanan dilakukan dalam dua kondisi suhu, yaitu suhu ruang (T= 26-29 oC, RH = 72.2-85.3 %) dan suhu dingin (T= 5 oC; RH= 19.2 %). Ketupat dibuat menggunakan dua varietas beras, yaitu IR 64 dan Pandan Wangi. Kadar protein, karbohidrat, pati, dan air kedua varietas beras tidak berbeda nyata. Beras Pandan Wangi memiliki kadar abu, lemak, dan amilopektin lebih tinggi, sedangkan beras IR 64 memiliki kadar amilosa lebih tinggi. Hasil uji menunjukkan bahwa beras IR 64 tergolong dalam beras beramilosa sedang (23.51 %) dan beras Pandan Wangi tergolong dalam beras beramilosa rendah (19.69 %). Suhu awal gelatinisasi beras IR 64 tergolong dalam kategori suhu awal gelatinisasi tinggi (77.70 °C), berbeda nyata dengan beras Pandan Wangi yang tergolong dalam beras dengan suhu awal gelatinisasi sedang (71.43 °C). Hasil uji orgenoleptik diperoleh bahwa persentase pengisian 50 % dan 60 % adalah persentase pengisian terbaik pada pembuatan ketupat dan dipilih untuk penelitian tahap tiga. Kadar amilosa beras dan persentase pengisian ketupat yang tinggi menghasilkan kekerasan ketupat yang tinggi selama penyimpanan suhu ruang dan suhu dingin. Ketupat tidak mengalami perubahan kekerasan selama penyimpanan suhu ruang, sedangkan kekerasan ketupat meningkat selama penyimpanan suhu dingin. Kadar amilosa beras yang tinggi dan persentase pengisian ketupat yang rendah menghasilkan elastisitas ketupat yang rendah selama penyimpanan suhu ruang. Ketupat mengalami peningkatan elastisitas selama penyimpanan suhu ruang, sedangkan elastisitas ketupat tidak mengalami perubahan selama penyimpanan suhu dingin. Kadar amilosa beras dan persentase pengisian ketupat yang tinggi menghasilkan daya kunyah ketupat yang tinggi selama penyimpanan pada suhu dingin, sedangkan selama penyimpanan pada suhu ruang daya kunyah tidak dipengaruhi oleh kadar amilosa beras. Nilai daya kunyah ketupat meningkat selama penyimpanan suhu ruang dan suhu dingin. Kadar amilosa dan persentase pengisian ketupat tidak berpengaruh pada kelengketan, aw, dan pH ketupat selama penyimpanan pada suhu ruang dan suhu dingin. Kadar amilosa beras dan persentase pengisian ketupat yang tinggi, menghasilkan kadar air ketupat yang rendah. Nilai kelengketan, kadar air, aw dan pH ketupat menurun selama penyimpanan pada suhu ruang, sedangkan kadar air dan pH tidak berubah selama penyimpanan pada suhu dingin. Ketupat yang disimpan pada suhu ruang sebaiknya dikonsumsi sebelum 24 jam. Hal ini karena angka lempeng total (ALT) pada hari ke-1 berkisar antara 2.1 x105 koloni/g sampai 6.5x105 koloni/g dan telah melebih ambang batas maksimal mikroba pada pangan olahan yang ditetapkan BPOM (105 koloni/g). Penyimpanan ketupat pada suhu dingin mampu mempertahankan mutu mikrobiologi ketupat sampai penyimpanan hari ke-9. Selama penyimpanan pada suhu ruang, daya kunyah ketupat mengalami peningkatan yang disebabkan oleh berkurangnya kadar air ketupat. ALT selama penyimpanan suhu ruang memiliki korelasi negatif dengan nilai aw dan pH ketupat. Namun, nilai aw dan pH ketupat masih dalam rentang pertumbuhan bakteri, yaitu aw dan pH berturut-turut lebih dari 0.9 dan 4.5. Kata kunci: beras, ketupat, suhu penyimpanan, tekstu

    Pengaruh Pencarian Informasi, Pengetahuan dan Self-sufficiency Konsumen terhadap Perilaku Konsumerisme di Indonesia.

    No full text
    oleh konsumen untuk mempromosikan, melindungi, dan memperkuat haknya sebagai konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pencarian informasi, pengetahuan tentang undang-undang dan lembaga perlindungan konsumen, dan self-sufficiency konsumen terhadap perilaku konsumerisme di Indonesia. Penelitian ini didasarkan pada data dari Kementrian Perdagangan RI yang berjudul “Hasil Pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) di Indonesia pada tahun 2016-2017”. Data penelitian ini berjumlah 2.100 data dengan pencarian informasi, pengetahuan konsumen, dan perilaku konsumerisme sebagai variabel. Analisis data yang digunakan adalah Independent Samples T-Test untuk uji beda jenis berdasarkan jenis kelamin dan Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan LISREL 8.70. Penelitian ini menemukan bahwa Self-sufficiency, pengetahuan konsumen, perilaku konsumerisme, dan pencarian informasi pada laki-laki lebih baik daripada perempuan. Keduanya sama-sama berada pada tingkat kategori yang rendah, kecuali pada tingkat self-sufficiency konsumen. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pencarian informasi berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan konsumen. Namun, self-sufficiency tidak berpengaruh signifikan terhadap pencarian informasi. Hasil juga menemukan bahwa perilaku konsumerisme dipengaruhi oleh pencarian informasi dan self-sufficiency, tetapi tidak menemukan adanya pengaruh pengetahuan terhadap perilaku konsumerismenya. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi yang intensif lagi oleh pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen untuk meningkatkan pengetahuan konsumen dan perilaku konsumerisme

    Kerentanan DAS Bengawan Solo Menggunakan Metode Dam Environmental Vulnerability Index (DEVI).

    No full text
    Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo merupakan salah satu DAS kritis di Indonesia. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi kerentanan DAS Bengawan Solo yang direpresentasikan dengan lima sub DAS Bengawan Solo menggunakan metode dam environmental vulnerability index (DEVI). DEVI merupakan metode analisis kerentanan suatu DAS dengan memperhitungkan bendungan, yang pertama kali diaplikasikan di Sungai Amazon tahun 2017. Saat ini DEVI sudah mulai diperkenalkan di Asia, salah satunya Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk (i) menghitung kerentanan DAS Bengawan Solo, (ii) menganalisis faktor yang paling mempengaruhi kerentanan, dan (iii) membuat peta kerentanan DAS Bengawan Solo berdasarkan metode DEVI. Data masukan yang digunakan dalam penelitian antara lain digital elevation model (DEM), peta tutupan lahan, peta sebaran jenis tanah, debit harian, curah hujan harian, dan lokasi bendungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Bengawan Solo memiliki tingkat kerentanan sedang (40-60%) dan tinggi (60-80%). Sub DAS dengan tingkat kerentanan sedang adalah sub DAS Wonogiri, Jurug, dan Madiun sedangkan tingkat kerentanan tinggi berada pada sub DAS Cepu dan Babat. Nilai DEVI tertinggi berada pada sub DAS Babat yang terjadi akibat adanya aktivitas morfodinamika paling tinggi yang ditandai dengan tingginya nilai erosi pada sub DAS Babat. Selain itu, letak bendungan di sub DAS Babat menyebabkan anak sungai dan panjang sungai terdampak bendungan cukup besar, mengingat sub DAS Babat terletak paling hilir dari DAS Bengawan Solo. Sedangkan pada sub DAS Wonogiri diketahui memiliki aktivitas morfodinamika dan sistem sungai terdampak bendungan terendah sehingga nilai DEVI pada sub DAS ini paling rendah dibandingkan sub DAS lain. Berdasarkan perhitungan tersebut, aplikasi DEVI bisa digunakan untuk menilai kerentanan DAS

    Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus Pada Sarang Burung Walet Ekspor

    No full text
    Sarang burung walet merupakan komoditas ekspor bernilai tinggi, oleh karena itu karantina pertanian harus menjamin produk aman dari kontaminasi mikroba. Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang dapat ditemukan di lingkungan seperti air, debu, makanan, minuman, peralatan makan, pada manusia maupun pada hewan sehingga menjadi salah satu penyebab keracunan pangan (foodborn diseases). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri Staphylococcus aureus pada sarang burung walet ekspor ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sebanyak 40 sampel sarang burung walet diuji di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) Rawamangun. Hasil pemeriksaan berdasarkan metode isolasi sampel pada Baird-Parker Agar (BPA) menunjukkan 7,5% dari total sampel yang diuji merupakan suspect koloni S. aureus. Pemeriksaan lebih lanjut menggunakan metode identifikasi dengan uji koagulase menunjukkan tidak ada bakteri patogen Staphylococcus aureus yang ditemukan dalam sampel sarang burung walet yang diekspor ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hal ini menunjukkan tindakan yang dilakukan saat pemrosesan sarang burung walet ekspor telah berhasil menekan keberadaan bakteri Staphylococcus aures pada sarang burung walet

    Dampak Perubahan Luas Mangrove di Papua dan Papua Barat terhadap Emisi Karbon.

    No full text
    Mangrove adalah ekosistem hutan pantai yang unik karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon atmosfer dan perairan dalam jumlah besar bahkan jika dibandingkan dengan tipe hutan lain. Namun keberadaannya di Papua dan Papua Barat kini terus mengalami penurunan luas akibat faktor antropogenik (perubahan fungsi lahan) dan faktor alam. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengawasan dan pelaporan kondisi mangrove hubungannya dengan dampak yang ditimbulkan akibat perubahan luas mangrove terhadap pelepasan sejumlah emisi karbon ke atmosfer dalam jangka waktu yang lama. Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan (i) mengidentifikasi penyebaran luas mangrove, (ii) menduga laju penurunan luas dan konsekuensinya terhadap cadangan karbon menurut tipe hidrogeomorfik, dan (iii) menduga emisi karbon di atas permukaan tanah setiap kabupaten akibat perubahan tutupan lahan mangrove dekade pertama (2001-2010) dan kedua (2011-2018) dengan memanfaatkan Atlas Papua dan pendekatan beda-cadangan (stock-difference approach) di setiap tipe hidrogeomorfik. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa Kabupaten Teluk Bintuni memiliki persentase luas mangrove terbesar yaitu 19% (228.419 ha) dan Kabupaten Tambrauw memiliki luas terkecil 0,002% (10 ha) dari total seluruh luas mangrove di Papua dan Papua Barat sebesar 1.174.947 ha pada tahun 2018. Luasan mangrove terdeteksi mengalami penurunan luas akibat perubahan fungsi lahan menjadi badan air, kawasan penambangan, daerah penebangan kayu, dan tutupan lahan lain seperti pemukiman hingga pelebaran jalan dengan laju 0,16%/th. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pengurangan cadangan karbon di atas permukaan dengan laju 10,52±8,60 Gg C/th atau 19,30±15,78 Gg CO2 ha/th. Emisi CO2 rata-rata dari deforestasi mangrove di Provinsi Papua dan Papua Barat tersebut hanya menyumbang 0.002% dari emisi nasional sektor FOLU sebesar 979.422 Gg CO2 ha/th

    Bioakumulasi Merkuri (Hg) pada Ikan Aplocheilus sp. di Muara Kali Japat, DKI Jakarta

    No full text
    Kegiatan di daratan dapat menjadi sumber pencemaran merkuri di Teluk Jakarta yang masuk melalui sungai yang mengalir di DKI Jakarta. Salah satu alirannya adalah Sungai Ciliwung. Sungai ini memiliki beberapa muara yang mengalir menuju Teluk Jakarta, dalam hal ini yaitu muara Kali Japat. Merkuri yang terdapat di muara Kali Japat berpotensi terakumulasi pada biota di ekosistem ini, seperti Aplocheilus sp. Penelitian bertujuan mengalisis bioakumulasi merkuri pada ikan Aplocheilus sp. Pengambilan sampel dilakukan pada September 2017 dengan metode purposive sampling di dua stasiun di muara Kali Japat, Kecamatan Ancol, DKI Jakarta. Stasiun 1 lebih dekat dengan pengaruh air tawar sedangkan Stasiun 2 lebih dekat dengan kegiatan pelabuhan. Sampel ikan Aplocheilus sp. dan sedimen dianalisis menggunakan Mercury Analyzer MA3000 yang terdapat di Laboratorium Kimia Laut dan Ekotoksikologi P2O LIPI. Hasil analisis konsentrasi merkuri pada ikan Aplocheilus sp. berkisar antara 0,60 μg/kg – 13,87 μg/kg. Panjang dan berat rata-rata ikan Aplocheilus sp. yaitu 12,96±3,39 mm dan 65,75±67,79 mg. Ikan Aplocheilus sp. yang terdapat di muara Kali Japat memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara ukuran dan konsentrasi merkuri dalam tubuh ikan Aplocheilus sp. Konsentrasi merkuri baik pada sedimen maupun ikan Aplocheilus sp. di kedua stasiun tidak menunjukkan adanya beda nyata

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇