Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pertumbuhan dan Produksi Empat Genotipe Kedelai (Glycine max (L.) Merril) dengan Taraf Pemupukan Nitrogen yang Berbeda

    No full text
    Kedelai merupakan komoditas pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Akan tetapi, produksi kedelai dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan sistem budidaya, di antaranya dengan cara pemupukan nitrogen dan juga penggunaan varietas unggul. Penelitian ini bertujuan mempelajari pertumbuhan dan produksi empat genotipe kedelai terhadap perbedaan taraf pemupukan nitrogen. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru dan Laboratorium Pascapanen pada bulan Maret hingga Agustus 2019. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RLKT) dengan dua faktor percobaan, yakni genotipe (Tanggamus, Anjasmoro, Manshuu Masshokutou, dan SJ4) dan dosis pemupukan nitrogen (0 kg/ha, 25 kg/ha melalui alur, dan 10 g/L melalui penyemprotan). Genotipe kedelai menunjukkan respon yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, indeks luas daun, umur tanaman, nilai kehijauan daun, dan jumlah buku produktif. Genotipe juga memiliki respon yang nyata terhadap komponen hasil meliputi jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 butir biji, serta persentase kondisi biji normal dan keriput. Perbedaan pemupukan nitrogen tidak memberikan respon signifikan terhadap keseluruhan parameter. Tanggamus memiliki respon pertumbuhan dan hasil paling baik jika dibandingkan dengan genotipe lainnya berdasarkan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, indeks luas daun, jumlah cabang dan buku produktif, persentase biji normal, jumlah polong, serta jumlah dan bobot biji per tanaman

    Pemenuhan Higiene Sanitasi serta Pengetahuan Penanggung Jawab dan Penjamah Pangan di Sepuluh Industri Jasa Boga di Kota Bogor

    No full text
    Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1096 Tahun 2011 mendefinisikan industri jasa boga sebagai suatu usaha pengelolaan pangan yang disajikan di luar tempat usaha atas dasar pesanan yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha. Berdasarkan luas jangkauan yang dilayani, industri jasa boga dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan A (A1, A2, A3) yang melayani kebutuhan masyarakat umum, golongan B yang melayani kebutuhan masyarakat dalam kondisi tertentu dan golongan C yang melayani masyarakat di dalam alat angkut umum internasional dan pesawat udara. Penggolongan tersebut juga didasarkan pada kelengkapan fasilitas yang dimiliki industri jasa boga. Industri jasa boga menghasilkan pangan siap saji atau pangan yang siap dikonsumsi langsung oleh konsumen, sehingga pengendalian keamanan pangan di industri jasa boga menjadi sangat penting. Keamanan pangan siap saji dapat dikendalikan dengan melaksanakan pengelolaan pangan yang sesuai dengan prinsip higiene sanitasi. Higiene sanitasi merupakan upaya untuk mengendalikan faktor-faktor terjadinya kontaminasi pada pangan, baik yang berasal dari bahan pangan, orang, tempat dan peralatan, agar pangan tersebut aman. Tingkat pemenuhan higiene sanitasi pangan di industri jasa boga sangat bergantung dari peran penanggung jawab untuk mengawasi seluruh tahapan pengelolaan pangan dan peran penjamah pangan untuk mengelola pangan secara aman, salah satunya adalah dengan cara memenuhi higiene perorangan saat mengolah pangan. Oleh karena itu, dalam Permenkes 1096/2011 penanggung jawab jasa boga dan penjamah pangan disyaratkan untuk memiliki pengetahuan tentang higiene sanitasi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat pemenuhan prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan di industri jasa boga, memperoleh tingkat pemenuhan higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan, memperoleh tingkat pengetahuan penanggung jawab jasa boga tentang prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan, memperoleh pengetahuan penjamah pangan tentang higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan, menentukan korelasi antara pengetahuan penanggung jawab jasa boga dengan pemenuhan prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan, dan menentukan korelasi antara pengetahuan penjamah pangan dengan pemenuhan higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan. Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 industri jasa boga yang berlokasi di Kota Bogor dengan kriteria memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi yang masih berlaku, beroperasi secara rutin, dan bersedia menjadi responden penelitian, yang terdiri dari 2 industri jasa boga golongan A2, 4 industri jasa boga golongan A3, dan 4 industri jasa boga golongan B. Penanggung jawab jasa boga dan penjamah pangan yang digunakan sebagai responden berjumlah 10 dan 63 orang. Tahapan pelaksanaan penelitian mencakup pengumpulan data sekunder, penentuan responden, pengembangan checklist dan kuesioner, pelaksanaan observasi dan survei, penilaian dan pengkategorian nilai responden, serta analisis korelasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat pemenuhan prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan di industri jasa boga golongan A2, A3 dan B termasuk ke dalam kategori cukup. Apabila ditinjau dari tingkat pemenuhan pada semua tahapan pengelolaan pangan, tahap penyimpanan bahan pangan di industri jasa boga golongan A2 dan tahap pengolahan pangan di semua golongan industri jasa boga memiliki tingkat pemenuhan prinsip higiene sanitasi yang kurang. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa tingkat pemenuhan higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan di industri jasa boga golongan A2, A3 dan B termasuk ke dalam kategori kurang. Berkenaan dengan tingkat pengetahuan, hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penanggung jawab tentang prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan di industri jasa boga golongan A2, A3 dan B termasuk ke dalam kategori baik. Pengetahuan tentang prinsip higiene sanitasi yang perlu ditingkatkan berkaitan dengan tahap pengolahan pangan, tahap pengangkutan pangan, dan tahap penyajian pangan. Hasil survei juga menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penjamah pangan tentang higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan di industri jasa boga golongan A3 dan B termasuk ke dalam kategori baik, sedangkan tingkat pengetahuan penjamah pangan tentang higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan di industri jasa boga golongan A2 masih termasuk ke dalam kategori cukup. Beberapa pengetahuan tentang higiene perorangan yang perlu ditingkatkan adalah mengenai frekuensi mencuci tangan selama mengolah pangan, perilaku makan dan mengunyah, serta penggunaan perhiasan dan perlengkapan kerja saat mengolah pangan. Pengetahuan penanggung jawab jasa boga tentang prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan memiliki korelasi yang cukup dan positif dengan pemenuhan prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan. Hasil analisis korelasi juga menunjukkan bahwa pengetahuan penjamah pangan tentang higiene perorangan pada tahap pengolahan pangan memiliki korelasi yang tinggi dan positif dengan pemenuhan higiene perorangan pada tahap pangan

    Kemasan Aktif dengan Antioksidan Astaxanthin Eksoskeleton Lobster Air Tawar

    No full text
    Plastik polietilen banyak digunakan sebagai material kemasan. Difusitas oksigen pada polietilen yang rendah belum mampu mencegah kerusakan pangan akibat oksidasi. Antioksidan astaxanthin dari eksoskeleton lobster air tawar dapat menjadi komponen aktif kemasan modern polietilen yang mencegah kerusakan produk pangan. Penelitian bertujuan menentukan karakteristik kemasan aktif polietilen untuk produk pangan dengan antioksidan dari astaxanthin eksoskeleton lobster air tawar. Penelitian meliputi komposisi kimia eksoskeleton lobster air tawar, ekstraksi dan karakterisasi karotenoid/astaxanthin, serta karakterisasi kemasan aktif polietilen pada produk pangan. Eksoskeleton lobster air tawar memiliki kadar air 51.09-52.72%, abu 18.18-18.65% dan protein 15.15-15.56%, unsur kimia oksigen, kalsium, fosfor, natrium, dan gugus fungsi utama amida II serta kalsium karbonat. Ekstraksi menghasilkan astaxanthin/karotenoid 55.9 mL dari 10.02 g yang terdeteksi pada puncak gelombang 470 nm serta memiliki indeks aktivitas antioksidan 0.060. Karakteristik kemasan aktif polietilen pada produk pangan dengan 27.95 mL astaxanthin/karotenoid dapat menahan Free Fatty Acid (FFA) 0.56-0.43 % dan Peroxide Value (PV) 10.83-9 meq/kg

    Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Orlin Farm di Kabupaten Bogor.

    No full text
    Orlin Farm adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam usaha peternakan domba berdiri sejak tahun 2015. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang dihadapi peternakan domba Orlin Farm, merumuskan alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi dalam pengembangan usaha dari hasil analisis internal dan eksternal peternakan domba Orlin Farm. Alat analisis yang digunakan adalah Matriks EFE, Matriks IFE, Matriks IE, Matriks SWOT, dan QSPM. Ada lima alternatif strategi prioritas yang dihasilkan berdasarkan Matriks SWOT dan strategi prioritas utama yang dihasilkan melalui QSPM adalah mengoptimalkan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi dengan STAS sebesar 7.85

    Produksi dan Kualitas Biji Okra (Abelmoschus esculentus L.) Dengan Berbagai Dosis Pupuk Fosfor, Pupuk Organik dan Pupuk Hayati

    No full text
    Buah okra (Abelmoschus esculentus L. Moench) memiliki banyak manfaat demikian juga dengan biji okra. Diperlukan perbaikan teknologi produksi biji okra, antara lain melalui pemupukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian pupuk SP-36, pupuk organik dan pupuk hayati terhadap produksi dan kualitas biji okra. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB, di Cikarawang, Dramaga, Bogor yang dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai bulan Maret 2020. Percobaan menggunakan Faktorial (Rancangan Kelompok Lengkap Teracak) dengan dua faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk P (0, 60, 120, 150 kg SP-36 ha-1) faktor kedua yaitu kombinasi pupuk organik dan pupuk hayati (dengan dan tanpa pupuk organik). Peubah yang diamati adalah tinggi, jumlah daun, diameter batang, bobot tanaman, luas daun, hasil produksi, kadar hara daun dan biji. Hasil penelitian menunjukkan interaksi pupuk SP-36, pupuk organik dan hayati berpengaruh nyata terhadap tinggi, diameter batang, jumlah daun dan panjang polong. Pola respon menunjukkan bahwa dengan pupuk organik dan pupuk hayati maka penambahan pupuk SP-36 menyebabkan penurunan tinggi, diameter batang, jumlah daun dan panjang polong tanaman okra, sedangkan penambahan pupuk SP-36 tanpa pemberian pupuk organik dan hayati menyebabkan peningkatan nilai peubah tersebut. Respon ini terkait dengan status hara P yang tinggi di tanah tempat percobaan. Semua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi biji

    Strategi Pengelolaan Wisata berdasarkan Daya Dukung Kawasan (Studi kasus: Agrowisata Gunung Mas, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat).

    No full text
    Agrowisata Gunung Mas merupakan objek wisata di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat yang banyak diminati pengunjung karena pesona alam yang indah dan lokasi yang strategis. Upaya menarik wisatawan dilakukan oleh pengelola Agrowisata Gunung Mas melalui segmentasi wisata berupa adanya atraksi wisata di dalam kawasan. Atraksi wisata tersebut adalah tea walk, panahan, camping ground, taman kelinci, berkendara jeep, menunggangi kuda, flying fox dan berkendara ATV. Kegiatan wisata alam selain menghasilkan dampak positif juga dapat menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga diperlukan strategi yang tepat dalam pengelolaan kawasan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung kawasan, mengkaji harga tiket optimal tiap atraksi wisata, dan merekomendasikan strategi yang sesuai untuk pengelolaan Agrowisata Gunung Mas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Carrying Capacity, Contingent Valuation Method, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pengunjung tiap segmen masih Under Carrying Capacity, tetapi pada segmen berkendara jeep jumlah pengunjung hampir mencapai batas carrying capacity. Pembatasan jumlah pengunjung dan peningkatan fasilitas pada segmen berkendara jeep dapat dilakukan melalui peningkatkan tarif yang disesuaikan dengan Willingness to Pay pengunjung. Hasil analisis SWOT menunjukkan Agrowisata Gunung Mas berada pada sel 4 yang mengindikasikan tempat wisata ini pada posisi tumbuh dan membangun. Berdasarkan matriks QSPM, strategi yang dihasilkan diantaranya menetapkan tarif segmentasi berdasarkan Willingness to Pay pengunjung, memperbanyak atraksi wisata di dalam kawasan, dan menggalakkan promosi wisata baik melalui media cetak maupun elektronik

    Analisis Metabolisme Perikanan Skala Kecil di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu, Provinsi DKI

    No full text
    Pulau Pramuka terletak pada gugusan Kepulauan Seribudan sebagian besar penduduk menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Pemanfaatan sumberdaya perikanan membutuhkan upaya baik berupa makanan serta bahan bakar yang kemudian dikonversi menjadi kebutuhan energi untuk memperoleh biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji energi input dan output perikanan skala kecil di Pulau Pramuka. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Mei 2019 dengan metode pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling. Analisis data terdiri atas kandungan energi, catch per unit effort (CPUE), dan revenue per unit effort (RPUE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi defisit energi terhadap semua responden. Nilai energi yang didapat berkisar 10.026 sampai dengan 23.619 kkal/hari. Nilai CPUE berkisar 1 sampai dengan 100 kg dan nilai RPUE berkisar Rp 100.000 sampai dengan 2.750.000. Trend dinamika CPUE (kg/trip) dan CPUE (kg/kkal) berfluktuasi dengan pola yang sama

    Stragegi Bisnis Kopi Cakap Di Kota Bogor

    No full text
    Daya tarik masyarakat yang meningkat terhadap kopi menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup. Salah satu perubahan tersebut yaitu kecenderungan minum kopi di coffee shop yang dijadikan sebagai salah satu gaya hidup saat ini. Tingginya permintaan konsumen terhadap coffee shop menyebabkan semakin bertambahnya jumlah coffee shop tak terkecuali di Kota Bogor. Banyaknya jumlah coffee shop menjadikan tingkat persaingan diantaranya semakin tinggi. Kopi Cakap sebagai entitas baru perlu merumuskan strategi bisnis yang tepat agar dapat bertahan dalam persaingan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang digunakan untuk merumuskan alternatif strategi bisnis yang tepat untuk diterapkan oleh Kopi Cakap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, matriks SWOT, dan matriks QSP. Matriks IFE dan EFE menunjukkan respon terhadap kondisi internal yang baik dan respon terhadap kondisi eksternal yang sedang. Matriks IE menunjukkan posisi Kopi Cakap berada pada kuadran empat yaitu tumbuh dan membangun. Matriks SWOT menghasilkan tujuh alternatif strategi dengan prioritas strategi yaitu melakukan perluasan pasar secara geografis dengan cara membuka cabang di daerah lain yang diperoleh dari hasil analisis matriks QSP

    Gap Analysis Implementasi Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Perkebunan Kelapa Sawit Berdasarkan ISPO di Kawasan Timur Provinsi Sumatera Selatan

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dan menganalisis kesenjangan dari implementasi kebijakan lingkungan pada perkebunan kelapa sawit berdasarkan kriteria ISPO. Penelitian ini telah dilakukan di kawasan timur Provinsi Sumatera Selatan yang secara administrasi terletak di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin dengan fokus utama pada enam perusahaan swasta di bidang perkebunan kelapa sawit. Kawasan timur provinsi sumatera selatan telah memiliki kebijakan dan regulasi dalam mengatur pengelolaan lingkungan khususnya pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit, akan tetapi masih banyak terjadi permasalahan lingkungan yang diindikasikan karena adanya kesenjangan antara program kebijakan yang dibuat dengan implementasinya di lapangan. Analisis kesenjangan telah dilakukan dengan menggunakan metode regulatory gap analysis yaitu suatu teknik sederhana yang digunakan untuk mengevaluasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum perusahaan perkebunan kelapa sawit di kawasan timur Provinsi Sumatera Selatan telah memenuhi 105 indikator dari 126 indikator kriteria ISPO terkait lingkungan, dengan skor implementasi sebesar 85%, yang artinya kebijakan lingkungan sudah diimplementasikan melalui program-program pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan, akan tetapi ada beberapa indikator yang belum dipenuhi oleh beberapa perusahaan, indikator tersebut diantaranya terkait dengan pemenuhan sertifikasi lingkungan, pengelolaan lahan gambut, pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan lindung dan tanggung jawab sosial. Secara keseluruhan skor gap implementasi kebijakan lingkungan pada enam perusahaan perkebunan kelapa sawit di kawasan timur provinsi Sumatera Selatan memiliki skor sebesar 0.15 atau dibawah 0.50, yang artinya implementasi kebijakan lingkungan secara keseluruhan telah berhasil diterapkan dan sesuai dengan rencana serta mampu mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di masyarakat

    Desain Pintu Air Berbantu Komputer untuk Saluran Tersier Daerah Irigasi Cinangka Kabupaten Bogor

    No full text
    Masalah yang terjadi di Daerah Irigasi Cinangka adalah pintu air tersier yang saat ini dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat berfungsi dengan optimal. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan rancangan desain pintu air berbantu komputer dan menghitung perkiraan biaya pekerjaan pintu air tersier. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juli 2020 di Daerah Irigasi Cinangka, Kabupaten Bogor dengan menggunakan data klimatologi selama 10 tahun, pola tanam, dan jenis tanah. Curah hujan efektif terbesar terjadi pada periode ke 2 November sebesar 8 mm/hari. November merupakan awal periode penanaman padi. Nilai terbesar evapotranspirasi terjadi pada bulan September 5.7 mm/hari dengan pola penanaman yang direkomendasikan padi-padi-palawija. Debit kebutuhan air irigasi terbesar selama 1 tahun terjadi di bulan Maret sebesar 0.029 m3/dt. Bukaan pintu air tertinggi terjadi di bulan Maret sebesar 0.06 m. Dimensi pintu air yang disarankan memiliki lebar daun pintu (B) 0.50 m, tinggi pintu air (H) 0.60 m, dan tinggi rangka (H1) 1.95 m dengan jenis pintu sorong baja. Pekerjaan pintu air tersier diperkirakan membutuhkan biaya sebesar Rp. 9,132,000.00

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇