31665 research outputs found
Sort by
Preferensi Moda Transportasi Generasi Milenial Kota Bogor.
Pengelolaan transportasi yang tepat sangat penting dilakukan oleh suatu pemerintah daerah. Kota Bogor sebagai salah satu daerah termacet di Indonesia perlu mengatasi masalah transportasi yang dihadapinya. Jumlah generasi milenial yang telah mendominasi demografi di Kota Bogor menjadikan preferensi transportasi mereka perlu untuk diteliti agar sistem transportasi sesuai dengan permintaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi generasi milenial dalam penggunaan moda transportasi umum di Kota Bogor agar sistem moda transportasi umum di Kota Bogor dapat berjalan dengan efisien. Penelitian ini menggunakan data sekunder hasil survei konsumsi energi dan transportasi kerjasama IGES (Institute Global for Environmental Strategies) dan IPB (Institut Pertanian Bogor) terhadap 223 responden generasi milenial dari 6 kecamatan di Kota Bogor. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode kuantitatif berupa model multinominal logit. Hasil analisis menunjukan bahwa variabel jenis kelamin, status pernikahan, pendapatan, jumlah kepemilikan sepeda motor, jarak perjalanan, jarak rumah ke transportasi umum, jarak tempat kerja ke transportasi umum dan biaya perjalanan memengaruhi pilihan moda transportasi masyarakat milenial di Kota Bogor. Moda transportasi ojek (konvensional dan online) memiliki penilaian tertinggi pada kategori harga, waktu perjalanan, ketepatan waktu, dan kemudahan. Moda transportasi taksi (konvensional dan online) memiliki penilaian tertinggi pada kategori kenyamanan, keselamatan dan keamanan, dan pelayanan umum. Adapun saran yang diberikan dalam penelitian ini ialah peningkatan efisiensi waktu perjalanan transportasi umum dengan meningkatkan infrastruktur transportasi umum seperti armada bus dan halte, penertiban pedagang kaki lima, dan pembuatan jembatan layang di atas lintasan kereta api
Evaluasi Galur-galur Cabai Hias (Capsicum annuum L.) IPB dengan Pemberian Nutrisi dalam Rangka Pelepasan Varietas
Tanaman cabai hias memiliki keragaan yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai tanaman hias dalam pot. Kualitas tanaman cabai hias perlu diperhatikan untuk menghasilkan tanaman dengan nilai estetika dan karakter yang unggul, salah satunya melalui pemberian nutrisi yang tepat. Penelitian dilakukan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan IPB pada bulan Oktober 2019 hingga Maret 2020. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi (Split Plot Design RKLT). Petak utama adalah pemupukan: P1 (AB mix untuk cabai), P2 (AB mix untuk sayur/buah), P3 (NPK + gandasil D/B). Anak petak adalah genotipe: Lembayung dan Ayesha sebagai varietas pembanding, serta Nazla dan Viola sebagai galur uji. Kedua galur uji memiliki beberapa karakter yang lebih unggul dibandingkan dengan varietas pembanding, yakni pada tinggi tanaman, diameter batang, karakter buah, variasi warna dalam tanaman, umur berbunga, dan umur panen. Perlakuan pupuk NPK + gandasil D/B menghasilkan keunggulan pada seluruh peubah pengamatan selain tinggi tanaman, ukuran daun, dan daya simpan buah. Daya simpan buah terbaik adalah genotipe dengan perlakuan AB mix sayur/buah. Berdasarkan uji preferensi konsumen, galur uji memiliki nilai kesukaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding. Keragaan terbaik dimiliki oleh galur Nazla (8, 10, 12 MST) dengan perlakuan pupuk NPK + gandasil D/B
Sintesis dan Pencirian Komposit Hidroksiapatit-ZnO-Kitosan Berporogen yang Berpotensi sebagai Implan Antibakteri
Kerusakan tulang dapat diperbaiki dengan menggunakan implan seperti hidroksiapatit (HAp), tetapi infeksi pascaoperasi dapat terjadi karena bakteri. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan bahan antibakteri, yaitu ZnO dan kitosan. Komposit HAp-ZnO-kitosan disintesis menggunakan metode presipitasi, kemudian larutan ZnO dan kitosan ditambahkan ke dalam suspensi HAp yang telah terbentuk. HAp berpori dibentuk dengan menambahkan pati singkong yang digunakan sebagai porogen. Berdasarkan literatur, ukuran pori yang terbentuk setelah penambahan pati singkong adalah 13.246.8 μm. Pola difraksi sinar-X pada sintesis HAp telah menunjukkan fase HAp dominan dan pada sintesis ZnO juga memperlihatkan fase ZnO yang lebih dominan. Spektrum inframerah transformasi Fourier pada HAp tanpa porogen memperlihatkan keberadaan pengotor berupa CO32-, sedangkan pada HAp porogen hanya terbentuk gugus penyusun senyawa HAp. Aktivitas antibakteri pada komposit HAp-ZnO-Kitosan 3% berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli
Status Nutrisi Mineral Rusa Totol (Axis axis) Di Lingkungan Istana Kepresidenan Bogor
Tujuan penelitian untuk mengevaluasi status mineral rusa totol di
lingkungan Istana Kepresidenan Bogor dan melalui analisa status mineral (Ca, P,
Fe, Mn, Zn, Cu dan Pb) di tanah, pakan dan rambut rusa. Rambut merupakan
tempat terakumulasinya mineral terutama logam berat pada tubuh selain hati,
ginjal, kuku dan jaringan adiposa. Analisis rambut dikoleksi dari 15 ekor rusa
jantan yang dipilih secara acak dengan usia ±2.5 – 6 tahun. Tanah yang dikoleksi
dari sepuluh titik, contoh rumput diperoleh melalui cuplikan dari beberapa titik
lahan penggembalaan.
Kadar mineral tanah, pakan dan rambut rusa di analisa menggunakan
Atomic Absorption Spectrofotometry (AAS). Kadar mineral menunjukkan Ca dan
P pada tanah sangat rendah, kadar mineral Fe dan Pb tinggi sedangkan mineral
Mn, Zn dan Cu tanah dalam kisaran normal. Pada rumput lapang, kadar mineral
Ca, P, Cu dan Zn tergolong rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan rusa,
kadar mineral Fe dan Mn tinggi melebihi kebutuhan rusa totol. Mineral Ca, P, dan
Cu dapat dipenuhi dari pakan konsentrat sedangkan Zn dapat dipenuhi melalui
suplementasi mineral blok. Kadar mineral Pb rumput 0.94 ppm masih dalam batas
normal. Kadar Mineral Ca, Fe dan Mn pada rambut rusa tergolong tinggi, namun
kadar Zn dan Cu rambut rendah (P<0.01). Tingginya kadar Pb rambut diduga
terjadi oleh akumulasi Pb dalam jangka waktu panjang.The research was to evaluate the mineral status of spotted deer in the Bogor
Presidential Palace and through the analysis of mineral status (Ca, P, Fe, Mn, Zn,
Cu and Pb) in soil, feed and deer hair. Hair is a place of accumulation of minerals,
especially heavy metals in the body, apart from the liver, kidneys, nails and
adipose tissue. Hair analysis was collected from 15 male deer that were randomLy
selected with an age of ± 2.5 - 6 years. Soil is collected from ten points, grass
samples obtained by sampling from several points of grazing land.
Soil mineral content, forage and deer hair were analyzed using Atomic
Absorption Spectrofotometry (AAS). The mineral content shows that Ca and P in
the soil are very low, the levels of Fe and Pb minerals are high, while the minerals
Mn, Zn and Cu are in the normal range. In field grass, the mineral content of Ca,
P, Cu and Zn is low and has not been able require mineral needed of deer, high
levels of Fe and Mn minerals exceed the needs of spotted deer. Minerals Ca, P,
and Cu can be fulfilled from concentrate feed while Zn can be fulfilled through
mineral block supplementation. The grass Pb mineral content of 0.94 ppm is still
within normal limits. Mineral Ca, Fe and Mn levels in deer hair were high, but Zn
and Cu levels in hair were low (P <0.01). The high level of hair lead is thought to
be caused by long-term Pb accumulation
Hubungan Karakteristik Individu dan Literasi Media dalam Pemanfaatan Media Sosial di Kalangan Remaja
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin pesat menyebabkan aktivitas komunikasi antar manusia menjadi lebih mudah dan praktis. Salah satu bentuk perkembangan TIK yaitu internet dengan media sosial sebagai salah satu fasilitasnya. Namun, pada penggunaannya media sosial tidak selalu berdampak positif. Agar terhindar dari dampak negatif media sosial, maka dibutuhkan literasi media bagi para penggunanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan karakteristik individu remaja, menjelaskan tingkat literasi media remaja, menjelaskan pemanfaatan media sosial oleh remaja, dan menganalisis hubungan karakteristik individu dan literasi media dalam pemanfaatan media sosial. Analisis data yang digunakan berupa analisis data kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan Statistika deskriptif dan Inferensial dengan uji korelasi rank spearman dan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat literasi media responden pada aspek technical skills dan communicative abilities tergolong pada kategori tinggi sedangkan pada aspek critical understanding tergolong sedang. Frekuensi mengakses media sosial oleh remaja tergolong ke dalam dua kategori, yakni frekuensi rendah dan tinggi dengan durasi mengakses tinggi, media yang paling banyak digunakan responden dalam mengakses media sosial adalah ponsel, serta mayoritas responden mengakses media sosial untuk tujuan komunikasi. Pendidikan, biaya paket data merupakan karakteristik responden yang berhubungan signifikan dengan tujuan pemanfaatan, serta critical understanding dan communicative abilities berhubungan sangat nyata dengan frekuensi, durasi mengakses, dan tujuan pemanfaatan
Pertumbuhan, Produksi dan Nutrien Beberapa Varietas Sorgum Hybrid Dengan Jarak Tanam Berbeda sebagai Sumber Pakan
Sorgum merupakan jenis tanaman sereal yang berpotensi sebagai makanan ternak. Produksi dan kualitas sorgum lokal masih sangat rendah dibanding produk impor, sehingga diperlukan upaya perbaikan varietas tanaman melalui program pemuliaan tanaman salah satunya introduksi. Introduksi sangat berpotensi terhadap peningkatan hijauan dan menambah keragaman varietas sorgum pakan.
Hijauan sangat diperlukan untuk produksi dan reproduksi ternaknya maupun kebutuhan hidup. Ketersediaan hijauan untuk pakan ternak semakin terbatas dikarenakan terbatasnya lahan untuk pengembangan hijauan. Tanaman sorgum mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan didaerah yang sering mengalami kekeringan atau daerah yang tergenang banjir serta mampu tumbuh pada lahan marjinal. Pembudidayaan tanaman sorgum diperlukan manajemen lahan yang tepat salah satunya pengatur jarak tanam dengan mengatur jarak tanam berkaitan dengan produksi.
Penelitian ini menggunakan tiga varietas sorgum hybrid, dua jarak tanam, empat kelompok berdasarkan kesuburan tanah dan empat ulangan. Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi pertumbuhan, produksi dan nutrien beberapa varietas sorgum hybrid dengan jarak tanam berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok pola faktorial 3x2 dengan 4 ulangan dimana factor pertama adalah varietas sorgum hybrid yaitu varietas 12FS5006, varietas 13FB7001 dan varietas 12S49001 dan faktor kedua jarak tanam yaitu 25 x 25 cm dan 25 x 40 cm.
Hasil penelitian menunjukan varietas sorgum berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, lebar, panjang, jumlah daun, produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi biomassa BK, kadar abu, kadar serat kasar dan protein kasar. Jarak tanam sorgum berpengaruh terhadap produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi batang segar, produksi biomassa BK, BK %, dan kadar serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini pertumbuhan dan produksi varietas 12S49001 lebih tinggi dibandingkan dengan varietas 12FS9006 dan varietas 13FB7001. Varietas 12S49001 memiliki kandungan abu, protein kasar dan serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lain. Jarak tanam 25 x 25 cm menghasilkan proporsi malai, produksi biomassa segar, produksi daun, produksi batang, produksi BK, kandungan BK%, kandungan serat kasar dibandingkan dengan jarak tanam 25 x 40 cm
Potensi Seduhan Alang-alang (Imperata cylindrica (L) Beauv.) untuk Pengendalian Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat
Tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Banyak permasalahan hama dan penyakit yang menjadi kendala pada pertanaman tomat. Salah satu penyakit penting adalah puru akar yang disebabkan oleh Meloidogyne spp. Upaya pengendalian yang telah dilakukan untuk mengurangi infeksi Meloidogyne spp. diantaranya rotasi tanaman, penggenangan air dan penggunaan pestisida. Salah satu alternatif untuk mengendalikan Meloidogyne spp. adalah penggunaan pestisida botanis karena sifatnya yang mudah terurai dan tidak mencemari lingkungan. Alang-alang berpotensi sebagai pestisida botanis yang mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi seduhan alang-alang sebagai pengendalian Meloidogyne spp. dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Seduhan alang-alang diproduksi dengan metode fermentasi yang menggunakan 3 jenis bahan pelarut yang berbeda yaitu air (AA), air cucian beras (AB), dan air kelapa (AK) dengan waktu fermentasi yang berbeda-beda. Seduhan alang-alang diuji secara in vitro untuk mortalitas Meloidogyne spp. dan secara in vivo di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan tiga jenis seduhan alang-alang mampu meningkatkan persentase mortalitas Meloidogyne spp. hingga 100%. Seduhan alang-alang juga dapat menekan jumlah puru pada akar dan populasi Meloidogyne spp. di tanah. Perlakuan seduhan alang-alang dengan bahan pelarut air cucian beras (AB) konsentrasi 75% memberikan hasil terbaik dalam menekan Meloidogyne spp. pada akar maupun dalam tanah. Ketiga jenis seduhan alang-alang juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat, perlakuan seduhan alang-alang dengan bahan pelarut air kelapa (AK) konsentrasi 75% merupakan hasil terbaik
Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah dan Musyarakah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia : Temuan Jangka Panjang
melihat kinerja perekonomian suatu negara. Perbankan sebagai sektor
terbesar dalam sektor keuangan di Indonesia memiliki peran penting terhadap
pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran pembiayaan ke sektor riil. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembiayaan perbankan syariah
berdasarkan jenis akad terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL), penelitian ini
menganalisis pengaruh pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah, gross
fixed capital formation, pengeluaran pemerintah, ekspor, impor dan inflasi
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2003-2019. Hasil
estimasi jangka panjang menunjukkan bahwa investasi dan inflasi berpengaruh
signifikan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan ekspor berpengaruh
signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penelitian ini juga
menemukan bahwa pembiayaan murabahah berpengaruh positif signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2003-2019. Yang
mengejutkan, temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam jangka panjang
pembiayaan mudharabah justru berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi. Sementara, pembiayaan musyarakah tidak memiliki
pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang
Infeksi Virus dan Keragaan Pertumbuhan Kultivar Bawang Putih Lokal.
Bawang putih (Allium sativum L) adalah komoditas hortikultura dengan
permintaan cukup tinggi di Indonesia. Bawang putih dibudidaya secara aseksual
melalui perbanyakan vegetatif yaitu dengan bagian umbi (siung). Perbanyakan
secara vegetatif ini meningkatkan resiko infeksi oleh berbagai macam virus yang
bersifat tular umbi. Beberapa penyakit utama yang disebabkan oleh infeksi virus
pada bawang putih diantaranya, Garlic common latent virus (GarCLV) dan
Shallot latent virus (SLV) dari genus Carlavirus, Onion yellow dwarf virus
(OYDV) dan Shallot yellow stripe virus (SYSV) dari genus Potyvirus. Penelitian
ini bertujuan mengidentifikasi virus pada beberapa varietas bawang putih (Sanur
1, Sanur 2, Jati Barang, Lumbu Kuning dan Banjar), mengukur insidensi penyakit
dan mengamati pertumbuhan tanaman bawang putih. Gejala penyakit, tinggi
tanaman dan jumlah daun per tanaman diamati setiap 2 minggu sekali. Konfirmasi
lebih lanjut terhadap infeksi virus dilakukan dengan dot-immunobinding assay
(DIBA). Hasil deteksi menunjukkan bahwa infeksi Potyvirus (OYDV, SYSV) dan
Carlavirus (GarCLV and SLV) berhasil dikonfirmasi dari semua sampel.
Insidensi penyakit yang disebabkan oleh virus di pertanaman berkisar antara 88.2
hingga 100%; sedangkan pada umbi berkisar antara 96.8 sampai 99.5%. Gejala
dominan yang ditemukan di lapangan diantaranya, mosaik kuning, bercak kuning,
ujung daun berlekuk dan kerdil. Hasil panen menunjukkan rata-rata berat umbi
berkisar antara 0.69 g sampai 1.86 g; dengan rata-rata jumlah siung per umbi
antara 1 sampai 2 buah. Hasil penelitian ini mengonfirmasi tingginya infeksi virus
pada bawang putih dan potensinya mengganggu pertumbuhan tanaman.
Kata kunci: dot-immunobinding assay, gejala penyakit, insidensi penyakit, mosai
Pengukuran Tingkat Produktivitas Pekerja di Proyek Pembangunan Pengembangan RSUD Wates, Yogyakarta
Proyek melibatkan lebih banyak interaksi manusia dibandingkan dengan
penggunaan teknologi atau mesin. Tujuan penelitian ini adalah menghitung tingkat
produktivitas pekerja, mengidentifikasi pekerjaan kritis dan adanya keterlambatan
yang terjadi serta memperkirakan keterlambatan atau percepatan penyelesaian
proyek pembangunan pengembangan RSUD Wates. Analisis dilakukan dengan
work sampling method, diagram jalur kritis dan diagram kurva S.Dari 9 lokasi yang
diamati maka pekerjaan pengecoran jalan rigid memiliki tingkat produktivitas yang
paling tinggi yaitu sebesar 100% sedangkan pengecoran helipad IRNA memiliki
tingkat produktivitas paling rendah yaitu 36.23%. Ketiga pekerjaan pembuatan
dinding juga memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah daripada tingkat
produktivitas minimum (65%) dengan nilai masing-masing sebesar 54.4%, 50.32%
dan 52.7%. Dapat disimpulkan bahwa produktivitas pekerja sangat berdampak
terhadap kelancaran suatu proyek. Dapat dilihat secara graphis dari kurva S realisasi
terhadap kurva S rencana bahwa terjadi keterlambatan di awal pelaksanaan proyek
tetapi kemudian terjadi percepatan sehingga proyek diperkirakan selesai lebih cepat
dari rencana