31665 research outputs found
Sort by
Pest and Disease Attacks, Pesticide Application, and Rice Production in Pekalongan City, Central Java
Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan pokok di
Indonesia. Tanaman padi pada umumnya tidak dapat berproduksi secara optimal
karena berbagai kendala, seperti kesuburan lahan, praktik budidaya, dan serangan
hama dan penyakit tanaman. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat
menyebabkan kerugian yang sangat tinggi. Strategi pengendalian yang sering
dilakukan oleh petani salah satunya melalui aplikasi pestisida sintetik. Penelitian
ini bertujuan mengetahui jenis hama dan penyakit penting, luas serangan hama
dan penyakit, jenis dan aplikasi pestisida, serta produktivitas tanaman padi di
Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Data serangan hama dan penyakit, penggunaan
pestisida, dan produktivitas padi diperoleh dari Dinas Pertanian Kota Pekalongan
serta literatur elektronik. Hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman
padi di Kota Pekalongan antara lain penggerek batang padi, wereng batang
cokelat, keong mas, burung, tikus, penyakit kerdil rumput, dan hawar daun
bakteri. Berdasarkan luas serangan OPT, wereng batang cokelat merupakan hama
yang dominan menyerang tanaman padi di Kota Pekalongan. Terdapat 11 bahan
aktif pestisida yang digunakan oleh petani padi di Kota Pekalongan, yang
sebagian besar merupakan jenis insektisida. Insektisida Abacel 18 EC yang
berbahan aktif abamektin merupakan insektisida yang rata-rata volume
penggunaannya tinggi. Curah hujan juga menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas padi, semakin tinggi curah hujan, maka produksi
padi semakin menurun. Tiga jenis pupuk,yaitu phonska, urea, dan SP-36 dan padi
varietas IR-42 banyak digunakan oleh petani padi di Kota Pekalongan.Rice (Oryza sativa L.) is a primary food crop in Indonesia. Rice plants are
generally unable to produce optimally due to various factors, such as soil fertility,
cultivation pratices, weather, and plant pests and diseases. Pests and diseases
could cause significant production losses and synthetic pesticide was one of the
current prevention methods used by farmers. The aim of this study was reporting
the main pests and diseases and their attacks, pesticides application, and the rice
production in Pekalongan, Central Java. The data were obtained from Pekalongan
Agricultural Office and some electronic references. There were seven main pests
and diseases attacking the rice plants in Pekalongan, including rice stem borer,
brown planthopper, birds, rats, golden snails, bacterial leaf blight, and grassy stunt
virus disease. According to the area of pest attack, the brown planthopper was a
dominant pest attacking rice plants. There were 11 pesticide active ingredients
used by rice farmers, and most of which were insecticides. Abacel 18 EC (a.i
abamectin) is an insecticide with a high average volume used. The rainfall was
also become one of the factors affecting the rice productivity, the higher the
rainfall, the lower the rice production. Three types of fertilizer, phonska, urea, and
SP-36 are used by rice farmers in Pekalongan. Meanwhile, IR-42 was the
commonly rice variety planted in Pekalongan
Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) and their control in yardlong bean field
Kacang panjang merupakan tanaman sayuran yang berperan sebagai sumber
protein, vitamin, dan mineral. Salah satu hama penting tanaman kacang panjang
adalah kutu daun Aphis craccivora. Pengendalian yang umum dilakukan petani
terhadap hama ini adalah penggunaan insektisida sintetik. Studi pustaka ini
bertujuan memberikan informasi tentang bioekologi kutu daun A. craccivora dan
cara pengendaliannya pada pertanaman kacang panjang sebagai dasar penyusunan
strategi pengendalian secara terpadu. Pengumpulan data dan informasi dilakukan
dengan metode studi pustaka. Tahapan penulisan terdiri dari perumusan masalah,
pengumpulan data, analisis, dan simpulan. Berdasarkan studi pustaka, kutu daun
mulai ditemukan di pertanaman kacang panjang pada fase bibit, pertumbuhan
vegetatif sampai fase generatif. Perkembangan populasinya secara alami
dipengaruhi oleh faktor makanan, musuh alami dan faktor lingkungan seperti curah
hujan. Pengendalian kutu daun secara terpadu dapat dilakukan dengan budidaya
tanaman yang baik, pemanfaatan musuh alami hama, bioinsektisida, insektisida
nabati, dan insektisida sintetik sebagai alternatif terakhir. Musuh alami kutu daun
antara lain Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., dan
Lysiphlebus fabarum. Bioinsektisida Lecanicillium lecanii dan Beauveria bassiana
serta insektisida nabati ekstrak daun sirsak, gulma siam, dan daun pepaya
berpotensi sebagai sarana pengendalian alternatif yang aman dan ramah
lingkungan.Yardlong bean is a vegetable plant that contains high protein, vitamins, and
minerals. One of the important pests of the yardlong bean plant is the Aphis
craccivora Koch. Farmers often control this pest by using synthetic insecticides.
This literature research aims to provide information about the bioecology of A.
craccivora and methods to control them in yardlong bean cultivation as the basis
for developing an integrated control strategy. Data and information collection were
carried out using the literature study method. The writing stages consist of problem
formulation, data collection, analysis, and making conclusions. Based on literature
studies, aphids appeared to become destructive in yardlong bean plantations on
seedling, vegetative growth to generative phase. Aphids population development is
often influenced by food factors natural enemies, and environmental factors such
as rainfall. Integrated control of aphids can be carried out by good cultivation of
plants, utilization of natural enemies of pests, bioinsecticides, botanical
insecticides, and synthetic insecticides as a last resort. Natural enemies of aphids
include Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., and
Lysiphlebus fabarum. Bioinsecticides Lecanicillium lecanii and Beauveria
bassiana as well as vegetable insecticides soursop leaf extract, siamese weeds, and
papaya leaves have the potential as a means of controlling safe and environmentally
friendly alternatives
Trend of Fish Consumption Diversity in Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman konsumsi ikan segar dan ikan awetan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode forecasting berupa metode Moving Average dan metode Double Exponential Smoothing. Data yang digunakan adalah data sekunder konsumsi ikan di Indonesia tahun 2013 hingga 2018 dari SUSENAS. Hasil peramalan/ forecasting dengan menggunakan metode Moving Average pada konsumsi ikan segar, ikan awetan, udang dan hewan laut lainnya yang segar, serta udang dan hewan lainnya yang diawetkan hingga tahun 2024 masing-masing berturut-turut adalah 16,39 kg/kap/tahun, 2,09 kg/kap/tahun, 1,32 kg/kap/tahun, dan 0,11 kg/kap/tahun. Hasil peramalan/ forecasting dengan menggunakan metode Double Exponential Smooting pada konsumsi ikan segar, ikan awetan, udang dan hewan laut lainnya yang segar, serta udang dan hewan lainnya yang diawetkan hingga tahun 2024 masing-masing berturut-turut adalah 19,39 kg/kap/tahun, 1,86 kg/kap/tahun, 1,58 kg/kap/tahun, dan 0,16 kg/kap/tahun. Kata kunci: forecasting, ikan awetan, ikan segar, udang dan hewan lainnya diawetkan, udang dan hewan lainnya segarThis study aimed to analyze diversity of fresh and preserved fish consumption in Indonesia. The study applied two forecasting methods, Moving Average method and the Double Exponential Smoothing to secondary data of fish consumption in Indonesia start year 2013 until 2018 from SUSENAS. Results of forecasting using Moving Average method on consumption of fresh fish, consumption of preserved fish, consumption of fresh shrimp and other aquatic animals, and consumption of preserved shrimp and other aquatic animals until 2024 are 16,39 kg / cap /year, 2,09 kg / cap / year, 1,32 kg / cap / year, and 0,11 kg / cap / year, respectively. Results of forecasting using Double Exponential Smooting method on consumption of fresh fish, consumption of preserved fish, consumption of fresh shrimp and other aquatic animals, and consumption of preserved shrimp and other aquatic animals until 2024 are 19,39 kg / cap / year, 1,86 kg / cap / year, 1,58 kg / cap / year, and 0,16 kg / cap / year, respectively. Keywords: forecasting, fresh fish, fresh shrimp and other aquatic animals, preserved fish, preserved shrimp and other aquatic animal
Pengaruh Keragaman Iklim terhadap Serangan Empat Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama Tanaman Padi Di Jawa Barat
Pada tanaman padi, terdapat 4 hama yang sering menurunkan produksinya yaitu hama penggerek batang padi (PBP), wereng batang coklat (WBC), hawar daun bakteri (HDB), dan blast (Pyricularia oryzae Cav.). Tingkat serangan keempat OPT tersebut sensitif terhadap perubahan suhu udara, kelembaban dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keragaman ketiga variabel iklim terhadap luas serangan 4 hama utama padi di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder luas areal serangan hama padi dari Badan Perlindungan Pangan dan Hortikultura (BPTPH) dan data iklim (suhu, kelembaban, dan curah hujan) dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) periode 1990 - 2018. Pengaruh keragaman iklim terhadap luas serangan 4 OPT utama diuji dengan menggunakan analisis regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu udara memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan luas serangan keempat hama utama padi, sedangkan kelembapan relatif hanya memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan luas serangan blas dan curah hujan tidak memberikan kontribusi yang nyata terhadap perubahan luas serangan 4 hama tersebut.In rice crops, there are 4 pests that often reduce their production, namely rice
stem borer (RSB), brown planthopper (BPH), bacterial leaf blight (BLB), and blast
(Pyricularia oryzae Cav.). The invasion level of the four pests is sensitive to
changes in air temperature, humidity and rainfall. This study was aimed to examine
the relationship between the diversity of the three climate variables on the invasion
area of the 4 main pests of rice in West Java Province. This research used secondary
data on the area of rice pests invasion from the Food and Horticultural Protection
Agency (BPTPH) and climate data (temperature, humidity and rainfall) from the
Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) in the period 1990 -
2018. The impact of climate variability on invasion area of 4 major rice pests was
examined using a linear regression analysis. The results showed that air
temperature contributed significantly to the increase in invasion area of the four
main rice pests, while relative humidity only contribute significantly to the increase
in invasion area of blast, and rainfall did not significantly contribute to changes in
the invasion area of the four pests
Management of Defoliating and Pruning for Flowering Induction of Apple Manalagi (Malus sylvestris Mill.) in PT. Kusuma Agrowisata.
Kegiatan magang dilaksanakan di PT. Kusuma Agrowisata, Batu, Jawa
Timur selama tiga bulan mulai dari Januari hingga April 2020. Tujuan umum
kegiatan magang agar mahasiswa dapat mempelajari dan mendapatkan
pengalaman dalam bekerja secara nyata mengenai aspek teknis dan manajerial
budidaya tanaman apel, khususnya mengenai pengelolaan perompesan daun dan
pemangkasan untuk induksi pembungaan pada tanaman apel. Metode yang
digunakan pada kegiatan magang dengan mengumpulkan data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan mengikuti seluruh kegiatan teknis,
pengamatan di lapangan, dan wawancara. Data sekunder diperoleh melalui arsip
kebun, laporan manajemen, dan studi pustaka. Pengamatan yang dilakukan
berupa pengamatan aspek teknis, aspek manajerial, dan aspek khusus.
Pengamatan aspek teknis dengan melakukan kegiatan sebagai karyawan harian
lepas (KHL) dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman
apel. Aspek manajerial sebagai pendamping pengawas kebun apel dengan
mengawasi kinerja KHL, membuat jurnal, dan membuat rencana kegiatan.
Pengamatan aspek khusus mengenai perbedaan interval waktu perompesan daun
ke pemangkasan yang dilakukan pada 2 blok apel Manalagi (Malus sylvestris
Mill.) yaitu blok B3 (3 hari) dan blok A3 (6 hari). Teknik perompesan daun
dilakukan secara manual menggunakan tangan dan pemangkasan dilakukan secara
mekanis menggunakan gunting pangkas serta gergaji. Perbedaan interval waktu
perompesan daun dan pemangkasan antara blok B3 dengan A3 tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah tunas vegetatif dan generatif, persentase pecah tunas,
jumlah kuncup bunga yang muncul, jumlah bunga yang mekar, serta jumlah
bunga yang gugur. Perbedaan interval waktu memengaruhi kecepatan waktu
pecah tunas, waktu muncul kuncup bunga, dan waktu bunga mekar antara kedua
blok. Blok B3 lebih cepat mengalami fase perkembangan bunga dibandingkan
dengan blok A3 karena tanaman apel blok B3 lebih dulu dilakukan pemangkasan.Internship activities were carried out in PT. Kusuma Agrowisata, Batu,
East Java for three months from January to April 2020. The general purpose of
internship activities was to assist and develop technical and managerial work
experience for the student in growing apples, especially in the management of
defoliating and pruning for flowering induction. The method used in internship
activities by collecting primary and secondary data. The primary data are
collected by all technical activities, field observations, and interviews. The
secondary data are collected from company archives, management reports, and
literature studies. The aspects of observation are including technical aspects,
managerial aspects, and specific aspects. The technical aspect observation
activities were carried out as labor to do apple cultivation activities. The
managerial aspects were carried out as a companion of the supervisor to
supervise labor, writing a working journal, and planning activities. The specific
aspect observations were about the different effect of time intervals of defoliating
to pruning, were made on two blocks of apples var. Manalagi (Malus sylvestris
Mill.); block B3 (3 days) and block A3 (6 days). The defoliating using the manual
technique by hand and pruning using mechanical technique with shears and saws.
The different time intervals between block B3 and A3 had no significant effect on
the total of vegetative and generative buds, the percentage of bud burst, the total
of flower buds, the total of blooming flowers, and the total of flowers drop. The
different time intervals effect, the bud bursting time, the flower buds appearing
time, and the flower blooming time. The flowering phase in block B3 has been
faster than block A3 cause block B3’s plants are pruned first
Parasitization Levels and Species of Egg Parasitoid on Yellow Rice Stem Borer (Scirpophaga incertulas) at Paddy Field, Karawang District
Produksi padi di Indonesia masih mengalami penurunan signifikan yang
disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT), salah satunya adalah
penggerek batang padi kuning (PBPK), Scirpophaga incertulas. Pengendalian
hama tersebut yang umum dilakukan oleh petani adalah penggunaan insektisida.
Aplikasi insektisida apabila dilakukan dengan tidak bijaksana akan berdampak
negatif. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian hama yang ramah
lingkungan sesuai konsep pengendalian hama terpadu (PHT) seperti aplikasi
feromon sintetik. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat parasitasi dan spesies
parasitoid telur S. incertulas pada pertanaman padi yang mendapat perlakuan
feromon sintetik (Z11-Hexadecenal 33%). Penelitian ini dilakukan di pertanaman
padi milik petani di Desa Sukaraja, Kecamatan Rawamerta, dan Desa
Sindangmukti, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mulai
dari Februari sampai Juni 2020. Penelitian dilakukan pada lahan 80 ha yang dibagi
menjadi beberapa petak lahan. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak
kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan
yaitu perlakuan kontrol (pertanaman padi tanpa feromon) dan perlakuan feromon
dengan dosis 10 dispenser/ha, 20 dispenser/ha, dan 30 dispenser/ha. Pengambilan
kelompok telur dilakukan setiap 2 minggu sebanyak 4 kali. Peubah yang diamati
yaitu kemunculan larva PBPK dan imago parasitoid, serta tingkat parasitisasinya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan feromon sintetik dapat
memengaruhi tingkat parasitasi kelompok telur pada pengamatan 10 MST dan
tingkat parasitasi butir telur pada pengamatan 6 MST, tetapi tidak memengaruhi
terhadap jumlah larva PBPK yang menetas, imago parasitoid yang muncul, dan
spesies parasitoid yang ditemukan.The rice production in Indonesia have significant declined due to plant pests
and diseases, one of them is yellow rice stem borer (PBPK) Scirpophaga incertulas.
Insecticide applications have been commonly used by farmers for controlling this
pest. Unwise application of insecticides will have a negative impact. Therefore,
integrated pest management (IPM) needs to be carrierd out and one of strategy is
synthetic pheromone application. This research aims to determine the type of egg
parasitoids and its parasitization level of S. incertulas in paddy field applied by
synthetic pheromones (Z11-Hexadecenal 33%). This research was carried out in
farmers' rice fields at Sukaraja Village, Rawamerta District, and Sindangmukti
Village, Kutawaluya District, Karawang Regency, West Java from February to June
2020. The research was carried out on 80 Ha of land which was divided into several
plots of land. The experiment was conducted using a randomized group (RBD) with
4 treatments and 5 replications. The treatments used were control treatment (rice
cultivation without using pheromone) and treatment of rice planting with 10
dispenser/ha, 20 dispenser/ha, and 30 dispenser/ha. Eggs were sampled biweekly
for 4 times with variables were observed of the appearance of PBPK larvae,
parasitoid imago, and parasitization levels. The results of this study indicated that
the use of synthetic pheromones affected the parasitization levels of egg group at
10 MST and parasitization levels of egg at 6 MST, but does not affected the number
of hatched PBPK larvae, emerge parasitoids adults, and parasitoid species found
Study of Status and History of Land Use for Smallholding Oil Palm Plantation in Gunung Meriah Sub-district, Aceh Singkil
Kabupaten Aceh Singkil merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit di Provinsi Aceh. Luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus meningkat setiap tahun menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan atau alih fungsi lahan yang diduga berasal dari kawasan hutan. Konversi hutan secara besar-besaran menyebabkan kekhawatiran banyak pihak karena merupakan penyebab deforestasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian status dan riwayat penggunaan lahan kebun sawit swadaya di Kabupaten Aceh Singkil. Penelitian dilakukan dengan menganalisis penafsiran citra google earth dan overlay peta kebun sawit swadaya dengan peta kawasan hutan Aceh, peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Aceh tahun 2011-2031, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status lahan kebun sawit swadaya menurut peta kawasan hutan Aceh dan peta RTRWP Aceh sebelum menjadi perkebunan adalah Area Penggunaan Lain (APL) dan Arahan Perencanaan Kawasan (APK) Perkebunan. Riwayat penggunaan lahan dan tutupan lahan sebelum menjadi kebun sawit swadaya adalah hutan sekunder dan ladang berpindah.Aceh Singkil Regency is one of the centers of oil palm plantations in Aceh Province. The area of oil palm plantations is increasing annually, causing in land use changes that are thought to be originated from forest areas. Concerns about large scale forest conversion have been blamed by many parties as the cause of deforestation. Therefore, it is necessary to study the origin status and history of land use of smallholdings oil palm plantations in Aceh Singkil District, with an analysis of the interpretation of google earth imagery and an overlay of smallholder oil palm plantation maps with maps of Aceh forest areas, maps of Provincial Spatial Planning (RTRWP) of Aceh, interviews with smallholders’ oil palm owner, and literature studies. The results showed that the status of smallholdings oil palm plantations according to the Aceh forest area map and Provincial Spatial Planning of (RTRWP) Aceh map before being converted into plantations were Other Land Uses (APL) and Area Planning Direction (APK) for Plantation. The history of land use and land cover before becoming smallholdings oil palm plantations is secondary forest and shifting cultivation
The quality of lohmann eggs aged 52-60 weeks with the additional of yellow mealworm (Tenebrio molitor L.) feed and probiotics
Ulat Tepung (Tenebrio molitor L.) memiliki kandungan protein tinggi yang berpotensi digunakan sebagai pakan tambahan sumber protein bagi unggas. Disamping pemberian pakan yang mengandung protein tinggi, efisiensi penyerapan pakan dalam pencernaan juga perlu diperhatikan melalui penggunaan probiotik dalam pakan atau minuman. Kualitas telur dapat dipengaruhi pakan, bangsa, umur, penyakit dan lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis pengaruh pemberian pakan tambahan berupa ulat tepung dan penggunaan probiotik pada air minum terhadap kualitas telur yang dihasilkan ayam petelur strain Lohmann. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan uji tukey untuk mengetahui perbedaan dari setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan tambahan 6% ulat tepung dan 0,2% probiotik pada air minum terdapat interaksi terhadap bobot telur, bobot putih dan kuning telur. Asam lemak tidak jenuh (PUFA) ditemukan pada telur dengan kandungan tertinggi terdapat pada perlakuan pemberian pakan tambahan 5% ulat tepung.Yellow mealworm (Tenebrio molitor L.) has a high protein content that is potentially used as an additional feed protein source for livestock. In addition to feed containing high protein, feed absorption efficiency in the digestive tract is also worth noting through the use of probiotics in feeds/drinks. Eggs quality can be influenced by feeds, breed, age, disease and environment. The purpose of the study was for analyze the effect of yellow mealworm as additional feed and the use of probiotics in drinks against the quality of eggs produced by Lohmann strain laying hens. Studied uses a completely randomized design (CRD) two factor. The data was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and continued Tukey test to determine the differences of each treatment. The result showed that the additional of 6% Tenebrio molitor L. and 0,2% probiotics has an interaction on egg weight, albumin weight and yolk weight. Poly unsaturated fatty acid (PUFA) are found in eggs of laying hens given the additional 5% yellow mealworm in their feeding
Prediction of Erosion Using the USLE Model on Forest and Land Rehabilitation (RHL) Activities in Cibitung and Cisembung Sub-watersheds, Citarum Watershed
DAS Citarum merupakan sumberdaya air yang sangat penting bagi Provinsi
Jawa Barat, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan akibat pencemaran dan
erosi. Penelitian ini bertujuan memprediksi erosi di Sub-Sub DAS Cibitung dan
Sub-Sub DAS Cisembung, DAS Citarum serta menyusun arahan pengelolaan
lahan berdasarkan konservasi tanah dan air. Penelitian ini dilakukan dengan
memprediksi erosi eksisting pada Sub-Sub DAS Cibitung dan Sub-Sub DAS
Cisembung, prediksi erosi dengan skenario kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
(RHL) dan skenario arahan pengelolaan lahan sebagai skenario alternatif lain.
Hasil prediksi erosi pada kondisi eksisting di Sub-Sub DAS Cibitung sebesar
38,02 ton ha-1 tahun-1 dan di Sub-Sub DAS Cisembung sebesar 126,12 ton ha-1
tahun-1. Tolerable soil loss di Sub-Sub DAS Cibitung sebesar 29,08 ton ha-1
tahun-1 dan di Sub-Sub DAS Cisembung sebesar 19,99 ton ha-1 tahun-1. Kegiatan
RHL dari BPDASHL Citarum-Ciliwung diprediksi menurunkan erosi di Sub-Sub
DAS Cibitung sebesar 18,7% dan menurunkan erosi di Sub-Sub DAS Cisembung
sebesar 91,38%. Arahan pengelolaan lahan dari kegiatan RHL yang dimodifikasi
diprediksi dapat menurunkan erosi sebesar 31,45% di Sub-Sub DAS Cibitung dan
menurunkan erosi sebesar 86,95% di Sub-Sub DAS Cisembung. Arahan
pengelolaan lahan dengan teknik konservasi tanah dan air diprediksi dapat
menurunkan erosi sebesar 90,58% di Sub-Sub DAS Cibitung dan menurunkan
erosi sebesar 97,03% di Sub-Sub DAS Cisembung.
Kata-kunci: Arahan pengelolaan lahan, DAS, RHLThe Citarum watershed is a very important water resource for West Java
Province, but its condition is very critical due to pollution and erosion. The
research aims were to predict the erosion in the Cibitung and Cisembung Subwatersheds
based on existing, forest and land rehabilitation condition, and to
arrange land management based on soil and water conservation. This research was
conducted by computing the prediction of existing erosion, prediction of erosion
based on forest and land rehabilitation activity and the land management as
another alternative scenario in the Cibitung and Cisembung Sub-watersheds. The
results show that the prediction of erosion in the existing conditions in the
Cibitung Sub-watershed is 38,02 tonnes ha-1 year-1 and in Cisembung Sub watersheds is 126,12 tonnes ha-1 year-1. Tolerable soil loss in Cibitung Subwatershed
is 29,08 tons ha-1 year-1 and in Cisembung Sub-watershed is 19,99 tons
ha-1 year-1. Forest and land rehabilitation activities from BPDASHL Citarum-
Ciliwung are predicted to reduce the erosion in the Cibitung Sub-watershed by
18,7% and reduce the erosion in Cisembung Sub-watershed by 81,94%. The
direction for land management by modificated the forest and land rehabilitation
activities are predicted to reduce erosion by 31,45% in the Cibitung Subwatershed
and reduce erosion by 91,38% in the Cisembung Sub-watershed. The
direction for land management by used water and soil conservation’s technic are
predicted to reduce erosion by 90,58% in the Cibitung Sub-watershed and reduce
erosion by 97,03% in the Cisembung Sub-watershed.
Keywords: Forest and land rehabilitation, Land management, Watershe
Economic Value of The Surface Water in Cihideung Sub Watershed Cisadane Watershed
Air merupakan sumberdaya alam terpenting dalam kehidupan makhluk hidup. Aliran air tidak hanya mengalir dalam tanah, tetapi juga mengalir di atas permukaan tanah yang disebut air permukaan. Salah satu sumber air permukaan yang berada di Jawa Barat adalah air sungai dari Sub DAS Cihideung, DAS Cisadane yang melalui beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor. Selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, air Sub DAS Cihideung juga digunakan masyarakat desa dengan tingkat pendapatan rata-rata Rp. 4.224.000.000 per tahun dan pengeluaran rata-rata Rp.1.415.600.000 per tahun. Pendidikan rata-rata masyarakat lulusan SD sebagai penunjang kebutuhan kerja yang berprofesi sebagai petani, peternak, dan pembudi daya ikan dengan usia antara 47-53 tahun.
Hasil studi menunjukkan bahwa air Sub DAS Cihideung digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (domestik), pertanian, perikanan dan peternakan. Debit rata-rata air sungai adalah 129 m3/detik dengan dua kelompok kesaaman air yaitu hulu berada di kelompok pertana dan tengah serta hilir berada di kelompok kedua karena mengalami kemiripan hingga 92%. Tingkat pencemaran air di Sub DAS Cihideung pada hulu tergolong tercemar ringan, sementara tengah dan hilir tergolong dalam tercemar sedang. Nilai ekonomi air Sub DAS Cihideung sebesar Rp. 240.245.531.195,00/tahun. Nilai kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp. 138.784.446.558,00/tahun
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah tingkat penggunaan air yang tinggi digunakan oleh masyarakat sekitar Sub DAS Cihideung untuk berbagai keperluan dengan kualitas air saat ini yang semakin menurun. Adanya kesadaran masyarakat sebesar Rp. 240.245.531.195,00/tahun untuk membayar jasa lingkungan air menunjukkan potensi kekuatan masyarakat untuk meningkatkan manfaat dan kelestarian air Sub DAS Cihideung.Surface water is part of the rainfall flowing above the ground to rivers, lakes, or oceans. One of the surface water resources in West Java is the river water from Sub DAS Cihideung sub watershed. People living in the Cihideung river have traditionally benefited water value as environmental services of the river. They use the water for their livelihood, mainly for agriculture, fisheries, and livestock with their level of average income Rp. 4.224.000.000 per year and average of expenditure Rp.1.415.600.000 per year. Most of them work as farmers with an average age of 47-53 years and the education level is only elementary school level.
They put value of water services about Rp. 240.245.531.195,00 per year for all house hold in Cihideung Sub Watershed for economic value of water utilization. The quality of water tends to be degrading with existing condition is mild to moderate polluted. Total willingness to pay Rp. 138.784.446.558,00 per year for ecosystem services.
The water condition have been decreasing people income and need to be restored among other by upland forest conservation using Payment of Environmental Service schema. The value of water could be managed as a source of fund for the conservation program