31665 research outputs found
Sort by
Ecobrick Sebagai Solusi Dinding Nonstruktural Ramah Lingkungan
Pertumbuhan penduduk mengakibatkan peningkatan kebutuhan tempat tinggal yang berdampak pada tingginya permintaan batu bata. Namun, batu bata memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena bahan pembuatan dan proses produksinya. Pertumbuhan penduduk juga mengakibatkan peningkatan jumlah sampah plastik yang berisiko pada kesehatan dan lingkungan. Tujuan penelitian ini menganalisis kuat tekan dan lentur dinding bata dan ecobrick (botol PET berisi sampah plastik), mengetahui tingkat perbedaan kekuatan kedua dinding, dan membandingkan biaya pembuatan dinding. Penelitian ini dimulai dari persiapan, pembuatan, perawatan, dan pengujian benda uji. Analisis biaya mengacu pada harga satuan yang berlaku di Kabupaten Bogor Tahun 2019. Hasil analisis yang diperoleh ialah kuat tekan dinding bata lebih tinggi dari ecobrick, bata 2,38 MPa dan ecobrick 1,31 MPa. Kuat lentur dinding ecobrick lebih tinggi dibandingkan bata, ecobrick 1,23 MPa dan dinding bata 1,18 MPa. uji T menunjukkan kuat tekan kedua dinding berbeda secara signifikan, sedangkan kuat lenturnya tidak berbeda secara signifikan. Biaya pembuatan dinding ecobrick lebih murah 20% dari biaya pembuatan dinding bata
Karakterisasi Ekstrak Secang (Caesalpinia sappan) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dan Telaah Mengenai Aplikasi Zat Warna pada Semikonduktor TiO2
Sel surya tersensitisasi pewarna (DSSC, dye sensitized solar cell) adalah sel surya yang mengadsorpsi sinar matahari melalui molekul (dye) pewarna. Pewarna yang digunakan adalah Secang (Caesalpinia sappan). Komponen penyusun DSSC terdiri atas semikonduktor yang dapat menghantarkan elektron dari molekul pewarna melewati semikonduktor dan menuju elektrolit agar tercipta siklus elektron. Semikonduktor yang digunakan, yaitu TiO2 karena mempunyai aktivitas fotokatalis yang tinggi, dan menyerap UV-dekat . Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi serapan energi dari ekstrak batang Secang (C. sappan) dan melakukan telaah literatur terkait penggunaan zat warna sebagai pemeka cahaya pada semikonduktor TiO2. Penelitian dilakukan di laboratorium hingga pencirian ekstrak menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dilanjutkan dengan studi literatur. Puncak brazilin dalam ekstrak muncul pada panjang gelombang 447 nm. Berdasarkan studi literatur, kristal TiO2 yang memiliki aktivitas fotokatalis terbaik, yaitu kristal anatase dengan puncak 2ϴ=25.25° pada spektrum XRD. Pewarna pada DSSC dapat berinteraksi dengan semikonduktor apabila nilai LUMO dari pewarna lebih tinggi dari pada nilai LUMO semikonduktor
Analisis Usahatani Lengkuas dan Kencur (Kajian Prospek Kemitraan pada Perusahaan Jamu).
Usahatani biofarmaka dilakukan oleh petani kecil dengan luas lahan kurang dari 1
Ha. Namun, di sisi lain perusahaan jamu membutuhkan pasokan bahan baku dari petani.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prospek kemitraan berdasarkan aspek
kuantitas, kualitas, dan kontinuitas menggunakan analisis usahatani. Apabila dilihat dari
aspek kuantitas, produksi dan produktivitasnya masih rendah. Apabila kemitraan ingin
dijalankan maka lengkuas dipanen pada umur lebih dari 12 bulan dan kencur dipanen
pada umur 10-12 bulan. Berdasarkan aspek kualitas, petani belum menjalankan teknik
budidaya sesuai dengan prosedur, belum memiliki pengetahuan mengenai penangan hama
dan penyakit,dan kualitas produk petani belum teruji. Apabila kemitraan ingin dijalankan,
maka perusahaan perlu memberikan pelatihan dan bimbingan mengenai tek nik budidaya.
Berdasarkan aspek kontinuitas, petani akan sulit menyupply produk secara kontinu
karena membutuhkan masa panen 12 hingga lebih dari 12 bulan serta memiliki
kemudahan untuk menjual produk ke pasar bebas. Berdasarkan hasil simulasi kemitraan,
kemitraan tanaman lengkuas dapat dilakukan oleh 4 orang petani dengan luas lahan 0.43
Ha per petani. Pada kemitraan tanaman kencur dibutuhkan 8 orang petani dengan luas
lahan 0.125 Ha per petani. Bantuan yang dibutuhkan petani lengkuas yaitu upah tenaga
kerja sedangkan petani kencur bantuan berupa bibit
Produksi Tepung Umbi Kimpul (Xanthosoma sp.) dan Umbi Talas (Colocasia esculenta L.) Termodifikasi secara Fisik
Talas dan kimpul merupakan umbi minor penghasil karbohidrat yang belum
dimanfaatkan secara optimal namun berpotensi sebagai substitusi terigu atau
sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri, dan lain sebagainya.
Penggunaan tepung umbi kimpul dan talas secara alami memiliki kekurangan pada
sifat fungsionalnya, antara lain tidak tahan panas, tidak tahan pengadukan serta
tidak tahan asam. Sehingga perlu dilakukan modifikasi untuk meningkatkan sifat
fungsionalnya. Tujuan penelitian ini adalah memproduksi tepung kimpul dan
tepung talas termodifikasi secara fisik melalui proses Heat Moisture Treatment
(HMT) dan annealing, serta mengetahui karakteristiknya. Hasil analisis komponen
proksimat menunjukkan tepung talas mengandung protein yang lebih tinggi yang
disebabkan oleh banyaknya lendir dibandingkan tepung kimpul. Berdasarkan sifat
amilografinya, kedua metode modifikasi terhadap tepung umbi kimpul dan talas
mampu meningkatkan suhu awal gelatinisasi, namun menurunkan peak viscosity,
break down viscosity, set back viscosity, dan viskositas akhir tepung termodifikasi.
Berdasarkan karakteristik fungsional terhadap kedua jenis umbi, metode HMT
dapat meningkatkan daya cerna pati in vitro, namun menurunkan kelarutan,
swelling power, dan kejernihan pasta 1%. Sementara itu, metode annealing dapat
meningkatkan kelarutan, swelling power, dan daya cerna pati in vitro, namun
menurunkan kejernihan pasta 1%
Karakteristik Fermentasi Rumen In Vitro dan Performa Sapi Potong yang Diberi Pelepah Kelapa Sawit dan Indigofera zollingeriana
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh teknik pengawetan berbeda terhadap karakteristik fermentasi rumen dan kecernaan in vitro awetan kombinasi pelepah kelapa sawit dan I. zollingeriana. Penelitian ini terdiri atas dua tahap. Tahap pertama adalah percobaan in vitro untuk menganalisis karakteristik fermentasi rumen serta kecernaan awetan kombinasi pelepah kelapa sawit dan I. zollingeriana. Tahap ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi ; P0 = kontrol, P1 = silase, P2 = silase kering, P3 = hay, P4 = haylase. Peubah yang diamati adalah konsentrasi ammonia, konsentrasi VFA total serta kecernaan in vitro bahan kering dan bahan organik. Seluruh data yang diperoleh diuji menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan uji lanjut Fisher’s Least Significant Different (LSD) pada tingkat signifikansi 0.05. Tahap kedua adalah kajian in vivo pemberian silase kombinasi pelepah kelapa sawit dan I. zollingeriana pada performa Brahman cross selama 30 hari. Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, rataan pertambahan bobot badan harian dan biaya pakan per pertambahan bobot badan. Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan bahwa perlakuan silase, silase kering, hay, dan haylase meningkatkan (p<0.05) kecernaan in vitro bahan kering dan bahan organik. Meskipun demikian, perlakuan hay dan haylase menurunkan (p<0.05) konsentrasi ammonia dan konsentrasi VFA total. Pengujian in vivo menunjukkan bahwa pemberian silase kombinasi pelepah kelapa sawit dan I. zollingeriana menghasilkan pertambahan bobot badan harian rata-rata sebesar 0.6 ± 0.4 kg. Berdasarkan kajian in vitro dan in vivo pada sapi potong, disimpulkan bahwa perlakuan silase dan silase kering adalah teknik yang direkomendasikan untuk mengawetkan kombinasi pelepah kelapa sawit dan I. zollingeriana
Analisis Finansial dan Nilai Tambah Usaha Kopi Cigalontang Melalui Skema Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di KPH Tasikmalaya
Kopi arabika menjadi salah satu komoditas yang paling dicari masyarakat sekarang ini. Pengolahan kopi dapat menjadi usaha yang menguntungkan bagi masyarakat karena menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Melalui skema PHBM, usaha kopi diperluas dengan menghasilkan kualitas kopi premium dari daerah Cigalontang, Tasikmalaya. Pengolahan kopi dari hulu hingga hilir memerlukan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kelayakan finansial usaha kopi Cigalontang, menghitung besaran nilai tambah dari setiap bentuk olahan, dan sensitivitas usaha terhadap perubahan kondisi. Analisis finansial dilakukan dengan metode Discounted Cash Flow. Kegiatan penanaman menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 234.902.497/ha, BCR sebesar 1,90, dan IRR sebesar 35,08%. Kegiatan pengolahan kopi hingga menjadi bubuk kopi juga menghasilkan keuntungan yang dilihat dari nilai NPV yang sebesar Rp 2.968.369.251, BCR sebesar 2,04; dan IRR sebesar 98,08%. Perhitungan nilai tambah dari produk olahan kopi menggunakan metode Hayami, memberikan nilai tambah tertinggi pada olahan roasted bean sebesar Rp 90.506/kg. Usaha kopi Cigalontang lebih sensitif terhadap penurunan pendapatan daripada kenaikan biaya produksi
Peran lamun (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata) dalam peyerapan karbon di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
Peningkatan gas CO2 di atmosfer dapat memicu terjadinya pemanasan global. Lamun merupakan ekosistem perairan laut yang dapat mengurangi atau menyerap karbon. Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii merupakan tiga jenis lamun yang dominan di Pulau Pramuka. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung serapan C-organik dari tiga jenis lamun yang dominan di Pulau Pramuka. Pengamatan dilaksanakan pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengukuran kandungan C-organik dilakukan dengan metode Walkley dan Black. Berdasarkan Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 kondisi kualitas air di Pulau Pramuka tergolong dalam keadaan normal atau cocok bagi kehidupan lamun. Cymodocea rotundata merupakan jenis lamun dengan nilai persentase tutupan (32,95%), kerapatan (263,64 ind/m2), dan kandungan C-organik (656,28 mg/l) tertinggi dibanding jenis lainnya yaitu E. acoroides dan T. hemprichii. Persentase tutupan lamun dan kerapatan lamun mempengaruhi kandungan C-organik yang tersimpan pada lamun di suatu kawasan
Development of Sustainable Risk Mitigation Strategy for Bajabang Eduagrotourism.
Pengembangan agrowisata secara berkelanjutan dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditas terkait dengan mempertimbangkan berbagai aspek yaitu sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Analisis risiko dan keberlanjutan dapat dikembangkan menjadi strategi mitigasi risiko untuk mencapai agrowisata berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan strategi mitigasi risiko yang berkelanjutan untuk Bajabang Eduagrowisata. Selain itu, penelitian juga bertujuan untuk menganalisis risiko potensial, aksi mitigasi risiko, status keberlanjutan dan atribut kunci keberlanjutan sebagai pertimbangan dalam menyusun strategi. Analisis risiko dilakukan menggunakan metode House of Risk (HOR), analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan pendekatan Rap-Agrotourism dengan teknik Multi Dimensional Scaling (MDS), dan penyusunan strategi dilakukan menggunakan metode Analytical Network Process (ANP). Didapatkan 27 risiko potensial yang dikategorikan dalam risiko keamanan, infrastruktur dan fasilitas, manajemen, dan pengembangan. Prioritas aksi mitigasi
diperoleh. Teridentifikasi 36 atribut keberlanjutan yang terhimpun dalam empat dimensi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan. Atribut pengungkit keberlanjutan dari keempat dimensi telah didapatkan. Status keberlanjutan agrowisata didapatkan sebesar 70.12% dengan nilai perbedaan dari nilai MDS dan nilai monte carlo kurang dari 5%. Strategi mitigasi risiko untuk mengembangkan agrowisata yang berkelanjutan didapatkan dari analisis ANP yang mengintegrasikan analisis risiko dan keberlanjutan. Strategi tersebut adalah peningkatan strategi pemasaran yang memperhatikan kolaborasi kelembagaan dan dilakukan bersamaan dengan peningkatan infrastruktur dan wahana wisata
Pengaruh Impregnasi Furfuril Alkohol pada Kayu Mangium (Acacia mangium) terhadap Serangan Rayap Tanah melalui Uji Kubur
Kayu mangium (Acacia mangium Willd.) merupakan salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang termasuk dalam kelas tahan IV terhadap serangan rayap tanah. Tingkat ketahanan yang rendah menyebabkan kayu perlu dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketahanan kayu mangium terimpregnasi furfuril alkohol (FA) terhadap serangan rayap tanah. Proses impregnasi menggunakan metode vakum tekan. Beberapa pengujian yang terdiri dari weight percent gain (WPG), retensi, kerapatan, kadar air, perubahan warna, kehilangan berat, dan ketahanan kayu dilakukan untuk membandingkan hasil impregnasi FA dengan kayu mangium yang diawetkan imidacloprid dan kayu mangium tanpa perlakuan impregnasi (kontrol). Rata-rata nilai WPG FA 13,57% dan retensi imidacloprid 2,46 kg/m3. Kadar air kayu mangium hasil impregnasi FA 3,99%, kayu mangium yang diawetkan imidacloprid 12,29%, dan kayu mangium kontrol 14,04%. Kerapatan kayu mangium hasil impregnasi FA sebesar 0,82 g/cm3, kayu mangium yang diawetkan imidacloprid sebesar 0,65 g/cm3, dan kayu mangium kontrol 0,70 g/cm3. Hasil penelitian menunjukkan kayu mangium dengan perlakuan dan tanpa perlakuan mengalami kehilangan berat setelah uji kubur selama 3 bulan. Kayu mangium hasil impregnasi FA kehilangan berat sebesar 2,67%, kayu mangium yang diawetkan imidacloprid 3,60%, dan kayu mangium kontrol 4,43%. Nilai tingkat ketahanan kayu mangium hasil impregnasi FA dan kayu mangium yang diawetkan imidacloprid sebesar 10 dan kayu mangium kontrol bernilai 8,2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa FA dan imidacloprid mampu meningkatkan ketahanan kayu mangium terhadap serangan rayap tanah. Kayu mangium hasil impregnasi FA dan kayu mangium yang diawetkan imidacloprid memiliki nilai tingkat ketahanan yang sama terhadap serangan rayap tanah, sehingga FA berpotensi untuk digunakan sebagai bahan alternatif pengawet komersil kayu. Berdasarkan hasil ANOVA, kayu mangium hasil impregnasi FA berbeda nyata dengan kayu mangium yang diawetkan imidacloprid dan kayu mangium kontrol terhadap nilai kerapatan, kadar air, dan perubahan warna. Namun untuk nilai kehilangan berat, kayu mangium hasil impregnasi FA hanya berbeda nyata dengan kayu mangium kontrol
Analisis Pola Termal Citra Landsat 8 dan Drone Thermal pada Fase Pertumbuhan Padi Sawah di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur.
Teknologi Penginderaan Jauh Landsat banyak digunakan untuk memantau sumberdaya alam. Landsat memungkinkan memantau padi sawah yang memiliki 4 fase utama dalam pertumbuhannya. Selain itu, pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle, UAV) atau yang lebih dikenal dengan drone merupakan salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan foto udara detil, waktu terkini, cepat dan lebih murah (Shofiyanti 2011). Saluran Thermal Infrared Sensor (TIRS) dari Landsat 8 dan thermal camera dari drone dalam penelitian ini digunakan untuk menjelaskan karakteristik suhu dari fase pertumbuhan padi sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pola termal citra Landsat 8 dan drone thermal pada fase pertumbuhan padi sawah di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Penelitian mencakup tahap persiapan, pengambilan data lapang, pengolahan citra, dan analisis data. Terdapat 37 titik pengamatan terhadap fase tanaman padi, yaitu bera basah, vegetatif awal, vegetatif akhir, generatif awal, generatif akhir, dan bera kering. Ekstraksi suhu dari citra Landsat 8 menggunakan suhu permukaan (land surface temperature), yang dikoreksi menggunakan suhu harian hasil pemodelan RegCM4. Suhu permukaan terkoreksi kemudian digunakan untuk mengoreksi suhu yang diturunkan dari citra drone termal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kanal termal citra Landsat 8 dan citra drone termal dapat menginformasikan suhu padi sawah pada setiap fase pertumbuhan. Pola suhu permukaan fase tumbuh padi sawah antara citra Landsat 8 dan drone termal relatif sama. Fase awal pertumbuhan padi sawah menunjukkan suhu yang tinggi kemudian menurun. Citra drone termal menyajikan data dan visual lebih teliti dibanding citra Landsat 8, sehingga pola suhu permukaan setiap fase padi sawah lebih detil.