31665 research outputs found
Sort by
Optimasi Suhu Annealing dan Konsentrasi Primer untuk Deteksi Kualitatif Cronobacter spp. Menggunakan Metode PCR Multipleks
Cronobacter spp. adalah bakteri patogen oportunistik yang mampu membahayakan hidup dengan menyebabkan penyakit meningitis, bakterimia, dan necrotizing enterocolitis. Metode deteksi Cronobacter spp. terus dikembangkan untuk memperoleh hasil yang spesifik dan waktu uji yang singkat, salah satunya dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tujuan penelitian ini adalah memperoleh suhu annealing dan konsentrasi primer yang optimum untuk deteksi kualitatif Cronobacter spp. menggunakan metode PCR Multipleks dengan beberapa kombinasi gen target, yaitu hfq, ompA, dan grxB. Pada penelitian ini digunakan 13 isolat bakteri Cronobacter spp. yang diisolasi dari beberapa produk MP–ASI, maizena, susu formula, pati singkong, tepung terigu, dan merica bubuk. Hasil optimasi kondisi running PCR multipleks dengan suhu annealing (52, 55, 57ºC) dan konsentrasi primer (0.1 μM; 0.3 μM; 0.5 μM) menunjukkan hasil amplifikasi terbaik pada suhu 57ºC dengan konsentrasi primer hfq 0.1 μM dan grxB 0.5 μM
Cemaran Escherichia coli dan Resistansinya terhadap Antibiotik pada Daging Burger yang Dijual di Dramaga Bogor
Burger merupakan jenis makanan ready-to-eat food (RTE) yang banyak
dikonsumsi. Bagi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), burger biasanya
diperoleh dari pedagang makanan jajanan kaki lima yang tersebar di sekitar
kampus. Kebiasaan mengonsumsi makanan RTE dapat meningkatkan risiko
terjadinya foodborne disease. Salah satu bakteri penyebab foodborne disease
adalah E. coli. Keberadaan Escherichia coli pada daging burger dapat menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang serius apabila tidak ditangani dengan benar
dalam proses pengolahan maupun penyajiannya. Selain itu, E. coli juga diduga
telah banyak mengalami kejadian resistansi antibiotik yang menyebabkan
pengobatan menjadi tidak efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cemaran E. coli dan sifat
resistansinya terhadap antibiotik pada sampel daging burger yang dijual di
Dramaga, Bogor. Sebanyak 35 sampel daging burger diperoleh dari 7 pedagang
burger yang berjualan pada radius 2 km di sekitar Kampus IPB, Dramaga, Bogor
dengan ulangan sebanyak 5 kali pada hari yang berbeda. Isolasi dan identifikasi
E. coli mengacu pada SNI 2897:2008 dari Badan Standardisasi Nasional tentang
Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam Daging, Telur, dan Susu, serta Hasil
Olahannya. Escherichia coli (ATCC) 25922 digunakan sebagai kontrol positif
dalam setiap pengujian. Uji resistansi terhadap antibiotik menggunakan metode
Kirby Bauer dengan acuan dari Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI)
tahun 2018. Uji resistansi antibiotik dilakukan terhadap semua isolat E. coli yang
didapat dari semua koloni E. coli yang diisolasi dari sampel daging burger.
Antibiotik yang digunakan dalam penelitian antara lain: ampisilin, amoksisilin,
trimetoprim-sulfametoksasol, tetrasiklin, oksitetrasiklin, gentamisin, streptomisin,
kloramfenikol, sefotaksim, asam nalidiksat, serta enrofloksasin. Karakteristik dan
praktik pedagang burger diperoleh melalui kuesioner terstruktur dengan tujuan
mengetahui faktor-faktor yang mendukung terhadap keberadaan E. coli.
Hasil pengujian laboratorium terhadap E. coli pada daging burger yang
berasal dari pedagang burger yang berjualan di Dramaga, Bogor, utamanya di
sekitar kampus IPB, Dramaga, Bogor diperoleh sampel positif E. coli sebanyak 4
sampel (11.4%) dari total 35 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
seluruh isolat E. coli (100%) mengalami kejadian resistansi terhadap antibiotik.
Resistansi tertinggi ditemukan pada antibiotik streptomisin (100%) dan
gentamisin (80%). Dari 5 isolat E. coli yang didapat, 4 isolat diantaranya telah
resistan terhadap 3 atau lebih golongan antibiotik yang dikenal sebagai MDR,
dengan pola resistansi yang terdiri atas: AMP-AMC-S-CN (ampisilin-amoksisilinstreptomisin-
gentamisin), AMP-S-ENR-NA-SXT-CN (ampisilin-streptomisinenrofloksasin-
asam nalidiksat-trimetoprim sulfametoksasol-gentamisin), AMP-SENR-
NA-SXT-OT-CN (ampisilin-streptomisin-enrofloksasin-asam nalidiksattrimetoprim
sulfametoksasol-oksitetrasikilin-gentamisin), serta pola AMC-TE-SNA-
SXT-OT-CN (amoksisilin-tetrasiklin-streptomisin-asam nalidiksattrimetoprim
sulfametoksasol-oksitetrasiklin-gentamisin).
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan
nyata (P<0.05) antara suhu dengan jumlah E. coli dengan nilai korelasi negatif,
dimana semakin tinggi suhu, maka jumlah E. coli semakin rendah. Selain itu,
berdasarkan symmetric measures terdapat hubungan yang kuat antara
ada/tidaknya pemakaian sarung tangan dengan keberadaan E. coli (CC=0.707;
p<0.05) dan ada/tidak adanya sabun dengan keberadaan E. coli pada daging
burger yang dijual di Dramaga, Bogor (CC=0.600; p<0.05)
Isolasi dan Identifikasi Kapang Endofit dari Mangrove Aegiceras corniculatum sebagai Penghasil Antioksidan Alami pada Minyak
Oksidasi lemak merupakan faktor yang dapat menurunkan kualitas pada
minyak yang dapat menyebabkan produk memiliki rasa dan bau yang tidak
diinginkan serta berpotensi sebagai toksik. Oksidasi lemak dapat dihambat dengan
menggunakan antioksidan. Terdapat 2 sumber antioksidan yaitu antioksidan alami
dan sintetis. Penggunaan antioksidan sintetis terbatas karena memiliki resiko
terhadap kesehatan. Mangrove mengandung senyawa bioaktif yang memiliki
kemampuan sebagai bahan antioksidan. Tanaman mangrove memiliki beberapa
kapang endofit didalam jaringannya yang mampu menghasilkan senyawa
metabolit sekunder seperti tanaman inangnya. Pemanfaatan kapang endofit pada
mangrove merupakan hal yang tepat karena produksinya mudah dan dapat
digunakan sebagai bahan berkelanjutan karena tidak merusak lingkungan.
Penelitian mengenai kapang endofit mangrove khususnya pada spesies Aegiceras
corniculatum belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi
dan mengidentifikasi kapang endofit dari mangrove Aegiceras corniculatum
sebagai penghasil antioksidan alami pada minyak.
Isolasi kapang endofit dilakukan dengan menggunakan media potato
dextrose agar (PDA) dan difermentasi dengan media potato dextrose broth
(PDB). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan perendaman reagen 2,2-
difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Isolat terpilih dilakukan pengujian aktivitas
antioksidan (IC50), uji penghambatan minyak dengan metode ferro-tiosionat
(FTC) dan waktu kultivasi dengan metode shaker. Selanjutkan diidentifikasi
senyawa kimia yang terkandung dengan GC-MS dan identifikasi molekular
dengan penanda ITS untuk mengetahui spesies kapang endofit.
Isolat yang berhasil diisolasi dari daun, buah dan ranting mangrove
Aegiceras corniculatum sebanyak 8 isolat. Dari 8 isolat, hanya 1 isolat yang aktif
sebagai antioksidan yaitu isolat DBU3 dengan nilai IC50 19,28 ± 1,27 μL/mL.
Hasil pengujian uji penghambatan peroksidasi minyak, isolat DBU3 dapat
menghambat peroksidasi namun aktivitasnya masih lebih direndah dibandingkan
dengan kontrol positif yaitu TBHQ. Waktu kultivasi pada isolat DBU3 terjadi
dalam 4 fase yaitu fase lag pada hari ke 0 sampai 2, fase log pada hari ke 2 sampai
7, fase statisioner pada hari ke 7 sampai 14 dan fase kematian terjadi setelah hari
ke 14. Senyawa kimia yang berperan sebagai antioksidan pada isolat DBU3
berdasarkan hasil GCMS diantaranya Phenol,3,5-bis(1,1-dimethylethyl),
Hexadecanoic acid, Hexadecanoic acid methyl ester, Malic Acid, NAminopyrrolidine,
9-Octadecanoic acid, Methyl ester, (E), Benzeneethanol, 4-
hydroxy, 1,2-Benzenedicarboxylic acid, d-Tyrosine, Bis(2-methylpropyl) ester 1-
Nonadecene dan Heneicosane. Berdasarkan hasil molekular, isolat DBU3
teridentifikasi sebagai Microdochium sp
Optimalisasi Peralatan Pemanenan Kayu pada Hutan Tanaman Industri di IUPHHK-HT PT Musi Hutan Persada, Provinsi Sumatera Selatan.
Untuk mencapai efisiensi waktu dan biaya produksi pemanenan kayu
diperlukan pengoptimalan dalam penggunaan jumlah alat pemanenan kayu yang
tepat. Penelitian dilaksanakan di areal kerja hutan tanaman PT Musi Hutan Persada,
Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan penggunaan
jumlah peralatan pemanenan kayu yang optimal berdasarkan produktivitas alat dan
target produksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah alat pemanenan kayu
dari tahapan penebangan sampai pengangkutan terdapat kelebihan dan kekurangan
alat. Alat pemanenan kayu yang ideal berdasarkan target produksi terdiri atas 2 unit
Shearhead dan 10 unit Harvester untuk kegiatan penebangan, 9 unit Forwarder dan
1 unit Wheel Skidder untuk kegiatan penyaradan, 3 unit Excavator Grapple untuk
kegiatan pemuatan, serta 69 unit Logging Truck untuk kegiatan pengangkutan.
Skenario jumlah alat ideal ini lebih menguntungkan perusahaan karena mengurangi
biaya produksi alat yang tidak diperlukan
Analisis Willingess to Pay dan Stakeholder dalam Pengelolaan Hutan Kota Srengseng Jakarta Barat
Keberadaan hutan kota semakin penting untuk dipertahankan, namun DKI Jakarta hanya hanya memiliki 0.3% hutan kota. Hutan Kota Srengseng (HKS) merupakan wujud nyata dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi sebagai kawasan lindung baik flora dan fauna, tempat rekreasi, wahana penelitian plasma nutfah, dan tempat pelatihan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi pengunjung, mengestimasi besarnya nilai Willingness to Pay (WTP) pengunjung, menganalisis keterkaitan stakeholder dalam pengelolaan HKS, dan menganalisis strategi pengelolaan HKS. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mengidentifikasi persepsi pengunjung, CVM untuk mengestimasi WTP pengunjung, analisis stakeholder untuk mengidentifikasi stakeholder dan menganalisis strategi pengelolaan HKS dengan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Hutan Kota Srengseng perlu dipertahankan dengan estimasi nilai tarif retribusi pengunjung adalah sebesar Rp 5 529,41 per kunjungan, stakeholder yang terlibat adalah Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Komunitas Konservasi dan Lingkungan, Kelompok Tani Srengseng Lestari dan ORMAS Betawi dan pengelolaan dalam Hutan Kota Srengseng meliputi aspek ekonomi, sosial budaya, ekologi, serta sarana dan prasarana
Kajian Risiko Okratoksin A pada Kopi Bubuk di Indonesia
Kopi adalah produk ekspor penting yang memiliki risiko keamanan pangan
karena kandungan okratoksin A yang dapat membahayakan kesehatan. Okratoksin
A adalah mikotoksin yang bersifat nefrotoksik, kemungkinan karsinogenik,
teratogenik, genotoksik, dan imunotoksik yang dapat ditemukan dalam kopi.
Toksin ini diproduksi oleh kapang dari genus Penicillium dan Aspergillus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi risiko penyakit karena okratoksin A
dalam kopi bubuk di Indonesia. Tahap pengolahan biji kopi di Indonesia
ditentukan melalui survei online. Keberadaan, kadar okratoksin A dalam biji kopi
serta perubahannya selama pengolahan dianalisis dari referensi negara beriklim
tropis sementara tingkat konsumsi kopi bubuk per orang diperoleh dari laporan
Survei Konsumsi Makanan Individu Indonesia. Kajian paparan dilakukan secara
deterministik dan karakterisasi risiko okratoksin A ditentukan dengan persentase
risiko dan MOE (margin of exposure).
Survei dari kedai kopi (n=20) menunjukkan bahwa pengolahan biji kopi
yang paling banyak diterapkan di kedai kopi di Indonesia adalah metode kering
(tanpa fermentasi). Jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi bubuk
dengan konsumsi terbesar (72%) pada usia dewasa (19-55 tahun). Berdasarkan
data publikasi yang diperoleh, kadar okratoksin A dalam biji kopi adalah 0.033-
168 μg/kg dengan rata-rata 12.25 μg/kg, sedangkan kadar okratoksin A dalam
kopi sangrai termasuk kopi bubuk adalah 0.018-55 μg/kg dengan rata-rata 5.60
μg/kg. Kadar rerata okratoksin A pada kopi sangrai yang mencakup kopi bubuk
pada hasil penelitian lebih tinggi dari batas maksimum regulasi Indonesia.
Paparan okratoksin A dari kopi bubuk dengan skenario kadar okratoksin A
pada biji kopi dan penurunanya akibat penyangraian adalah 0.017-0.895 ng/kg
bb/hari, sementara dengan skenario kadar okratoksin A pada kopi sangrai
termasuk kopi bubuk adalah 0.011-0.594 ng/kg bb/hari dan dengan skenario rerata
kadar okratoksin A keseluruhan adalah 0.014-0.744 ng/kg bb/hari. Nilai rerata
paparan okratoksin A dari kopi bubuk hasil penelitian lebih tinggi dibandingkan
dengan nilai paparan batas maksimum regulasi pada setiap kelompok usia. Hasil
karakterisasi risiko menunjukkan bahwa paparan okratoksin A dari kopi bubuk
berisiko rendah (<100% PTWI) dengan nilai MOE lebih tinggi dari 10.000 di
semua kategori usia. Secara umum risiko paparan okratoksin A dari konsumsi
kopi bubuk di Indonesia rendah dan paparan tertinggi terjadi pada orang dewasa
(19-55 tahun) yaitu >100% PTWI dengan MOE <10000.
Keterbatasan penelitian ini meliputi penggunaan kadar okratoksin A dari
pustaka negara lain, asumsi bahwa kopi bubuk dari Laporan Survei Konsumsi
Individu Indonesia tahun 2014 memiliki jenis pengolahan kopi sama dengan hasil
survei penelitian ini, asumsi bahwa varietas dan metode kering diaplikasikan
dalam pengolahan biji kopi, pengolahan kopi yang terbatas pada biji kopi menjadi
kopi bubuk, tidak mempertimbangkan proses penyeduhan dengan asumsi semua
okratoksin A terkstrak ketika diseduh
Pengoptimuman Masalah Persediaan Produksi dengan Tingkat Permintaan, Produksi, dan Kerusakan yang Bervariasi
Persediaan merupakan barang-barang yang disimpan di gudang yang akan
digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Persediaan produksi merupakan
persediaan yang pengisiannya dilakukan dengan memproduksi barang dan dalam
pengisiannya pada umumnya memiliki keterbatasan produksi sehingga persediaan
tidak dapat terpenuhi sekaligus, melainkan dipenuhi dengan sejumlah tertentu
barang secara berkala. Selain itu, persediaan dapat mengalami kerusakan sehingga
tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang panjang untuk memenuhi
permintaan yang akan datang. Karya ilmiah ini membahas pengoptimuman
persediaan menggunakan model Economic Production Quantity (EPQ) dengan
tingkat permintaan, produksi dan kerusakan yang merupakan fungsi terhadap
waktu. Fungsi objektif model adalah meminimumkan biaya total persediaan yang
dihitung berdasarkan biaya persiapan produksi, biaya produksi, biaya
penyimpanan, dan biaya kompensasi untuk unit yang backlogged. Output model
berupa jadwal kapan waktu pelaksanaan produksi, waktu berhentinya produksi, dan
waktu periode kekurangan untuk setiap siklus persediaan produksi pada suatu
horizon perencanaan tertentu
Estimasi Nilai Keberadaan Durian Rancamaya dan Analisis Faktor- Faktor yang Memengaruhi Willingness To Pay (WTP) Masyarakat dalam Pelestarian Durian Rancamaya
Durian merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki prospek
untuk menjadi komoditas unggulan, baik untuk tujuan ekspor maupun kebutuhan
dalam negeri. Indonesia memiliki berbagai jenis durian unggul, salah satunya
adalah Durian Rancamaya atau dikenal juga sebagai Durian Mas. Saat ini,
pembangunan pesat di bidang pemukiman, perkantoran dan jaringan jalan
mengancam kelestarian Durian Rancamaya. Minimnya persediaan lahan
mengakibatkan kurangnya pembudidayaan dan penanaman pohon durian.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi persepsi masyarakat sekitar
terhadap keberadaan durian rancamaya; (2) Mengestimasi Willingness To Pay
(WTP) nilai keberadaan durian rancamaya terkait upaya pelestarian durian
rancamaya; (3) Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi WTP
masyarakat terkait pelestarian durian rancamaya. Penelitian ini menggunakan
metode analisis Skala Likert, Contingent Valuation Method, dan Regresi Logistik
Ordinal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Mayoritas masyarakat memiliki
persepsi yang tinggi terhadap manfaat pohon dan buah durian rancamaya dan
persepsi sedang terhadap pengelolaan dan pelestarian durian rancamaya; (2) Rataan
WTP nilai keberadaan durian rancamaya sebesar Rp 79.300/KK/tahun dengan nilai
total WTP sebesar Rp 92.225.900 per tahun; (3) Faktor-faktor yang memengaruhi
WTP masyarakat terkait upaya pelestarian Durian Rancamaya adalah jumlah
tanggungan keluarga, usia, dan pendidikan
Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan Kentang di Indonesia
Kentang merupakan salah satu komoditas dalam program diversifikasi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang memengaruhi permintaan kentang di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari tahun 1993 hingga tahun 2017 dengan model analisis ECM (Error Correction Model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap permintaan kentang yaitu harga kentang (PP), harga ayam (PC), dan jumlah penduduk (Pop) dalam jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek tidak terdapat variabel yang berpengaruh signifikan. Berdasarkan nilai elastisitas menunjukkan bahwa kentang bersifat inelastis dan merupakan barang inferior
Kinerja Sumber Daya Manusia di Rumah Potong Hewan (Studi Kasus RPH Kategori I dan Kategori II).
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi uraian pekerjaan sumber
daya manusia dan menganalisis kinerja sumber daya manusia di RPH kategori I
dan II. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Peubah yang diamati yaitu karakteristik SDM, pengukuran
dan penilaian kinerja SDM, dan efektivitas dan efisiensi kinerja karyawan.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karakteristik karyawan kategori I
dan kategori II rata-rata memiliki pendidikan SMA, umur 30-40 tahun dan lama
bekerja 10-20 tahun. Pengukuran kinerja karyawan (kuantitas, kualitas dan
tanggung jawab) dan penilaian kinerja karyawan (efektivitas dan efisiensi,
tanggung jawab, disiplin, dan inisiatif) memiliki persentase yang cukup baik
sebesar RPH Kategori I (77.66-80.95%) dan RPH Kategori II (81.36-83.59%).
Efektifitas RPH II telah sesuai dengan SOP, sedangkan RPH kategori I pada tahap
pelayuan karkas dan pengangkutan karkas belum sesuai standar SOP. Angka
efisiensi berdasarkan jam kerja RPH kategori I dan RPH kategori II sama-sama
mendekati angka 1 menunjukkan bahwa waktu kerja karyawan yang digunakan
efisien