31665 research outputs found
Sort by
Penerapan Resampling pada Random Forest untuk Mengklasifikasikan Status Kebutuhan KB
Jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat sekitar
3.5−4 juta jiwa pertahun. Program Keluarga Berencana (KB) dibentuk pada tahun
1970 dengan tujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran. Status kebutuhan KB
dikategorikan menjadi dua kelas yaitu KB yang terpenuhi (met need KB) dan KB
yang tidak terpenuhi (unmet need KB). Perbedaan tingkat unmet need KB dan met
need KB menyebabkan ketidakseimbangan pada data. Random forest merupakan
metode klasifikasi pada data kategorik berupa kumpulan pohon keputusan. Tujuan
penelitian ini adalah memperoleh model terbaik dalam mengklasifikasikan status
kebutuhan KB serta mengetahui peubah-peubah yang memengaruhi status
kebutuhan KB berdasarkan random forest dengan resampling pada data tidak
seimbang. Data yang digunakan adalah data SDKI (Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia) BKKBN tahun 2017 yang terdiri atas 16 peubah kategorik.
Penanganan data tidak seimbang dilakukan menggunakan undersampling,
oversampling, dan Synthetic Minority Oversampling Technique (SMOTE). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa model dengan penerapan SMOTE menghasilkan
F1-score dan AUC-PR tertinggi dalam mengklasifikasi status kebutuhan KB.
Berdasarkan tingkat kepentingan peubah penjelas didapatkan banyak anak hidup,
diskontinu KB dalam 5 tahun terakhir, kelahiran dalam 5 tahun terakhir, keinginan
menambah anak, dan usia istri sebagai peubah penting dalam menentukan status
kebutuhan KB pada pasangan usia subur
Pemulihan Perak dari Limbah Cair Hasil Analisis Kebutuhan Oksigen Kimiawi.
Limbah cair laboratorium banyak mengandung logam berat, seperti perak, merkuri, kromium, dan besi dalam konsentrasi tinggi dan berpotensi mencemari lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah memulihkan Ag dari limbah cair hasil analisis kebutuhan oksigen kimiawi (COD) menggunakan beberapa macam pereaksi dan membandingkan hasil pengolahan limbah tersebut dengan baku mutu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 5 tahun 2014. Jumlah konsentrasi total logam Ag dalam limbah sisa analisis COD ialah 432 ppm. Nilai tersebut sangat melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang menyatakan bahwa batas maksimum logam Ag dalam perairan adalah 0.5 ppm. Logam dalam limbah COD diukur kadarnya menggunakan spektrofotometer serapan atom. Meskipun dengan menambahkan NaOH, kadar logam Ag yang diperoleh masih belum memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan, sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut
Analisis Kepuasan Anggota terhadap Kualitas Pembiayaan Air dan Sanitasi di Kopsyah Benteng Mikro Indonesia
Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menjadi salah satu koperasi yang menjalankan program yang peduli tentang kesehatan anggotanya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik anggota dan mengukur tingkat kepuasan anggota. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 60 anggota dengan metode convenience sampling untuk pengambilan sampel. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, importance performance analysis (IPA), dan customer satisfaction index (CSI). Karakteristik anggota yang mengambil program MTA dan MTS memiliki hasil yang sama, perbedaan terletak pada kategori jenis kelamin. Pada program MTS hanya 1 orang yang berjenis kelamin laki-laki sisanya perempuan, sedangkan untuk program MTA semua anggota berjenis kelamin perempuan. Secara keselurahan kinerja koperasi mendapat nilai 86 persen untuk MTS dan 88 persen untuk MTA yang berarti konsumen merasa puas atas kinerja koperasi. Koperasi perlu meningkatkan tingkat kinerja, khususnya pada atribut yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi namun tingkat kinerjanya rendah yang ditentukan menggunakan metode IPA
Edible Film Antimikroba Bawang Putih (Allium sativum) sebagai Kemasan Bumbu Mie Instan
Edible film dapat digunakan sebagai kemasan bumbu mie instan yang aman bagi lingkungan maupun dikonsumsi. Sodium tripolyphosphate (STPP) sebagai agen crosslinking digunakan untuk memperbaiki sifat asli tapioka sebagai pati alami. Senyawa allicin bawang putih ditambahkan sebagai antimikroba untuk menjaga kontaminasi bahan terkemas. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan karakteristik pati alami dan modifikasi, mengetahui pengaruhnya sebagai coating bawang putih, dan pengaruh edible film sebagai bahan kemasan bumbu mie instan. Karakteristik pati alami dan modifikasi menunjukkan nilai yang berbeda nyata (p0.05) pada luas zona hambat bakteri Salmonella sp. Hasil tidak berbeda nyata ditunjukkan pada kedua lapisan film terhadap luas zona hambat bakteri Staphylococcus aureus. Kandungan VRS pada sampel menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap bawang putih segar. Ketebalan mempengaruhi sifat edible film lainnya. Uji hedonik film dalam aplikasinya pada parameter rasa, aroma, warna dan penerimaan umum menunjukkan hasil yang berbeda nyata dan tidak berbeda nyata pada parameter kekentalan
Skrining Gen Target untuk Pengembangan Metode Deteksi Cronobacter spp. dalam Susu Formula Menggunakan PCR Real Time
Bakteri patogen oportunistik Cronobacter spp. diketahui menyebabkan penyakit seperti necrotizing enterocolitis (NEC) dan meningitis pada kelompok bayi tertentu. Cronobacter spp. telah diisolasi dari berbagai macam makanan kering asal Indonesia. Cronobacter spp. yang terdapat pada makanan kering diduga berada dalam kondisi stres bahkan VBNC. Bakteri pada kondisi tersebut tidak dapat terdeteksi dengan metode plate count. Teknik PCR real time atau quantitative PCR (qPCR) dapat menjadi alternatif untuk bakteri tersebut. Cronobacter spp. dapat bertahan dalam makanan kering karena memiliki gen yang berperan dalam merespon kondisi stres yaitu gen rpoS dan grxB. Gen lain dari gen virulen yang mengalami upregulation saat kondisi stres yaitu gen hfq dan ompA. Sepuluh isolat lokal C. sakazakii diketahui memiliki gen rpoS, grxB, hfq, dan ompA.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan gen target untuk deteksi Cronobacter spp., merancang primer gen target terpilih untuk deteksi Cronobacter spp., dan aplikasi primer terpilih untuk deteksi cepat bakteri Cronobacter spp. pada susu formula menggunakan PCR real time. Gen target dipilih berdasarkan analisis sekuen, primer spesifik dirancang melalui pendekatan in silico, inklusivitas uji PCR real time dilakukan untuk deteksi Cronobacter spp., dan sensitifitas uji PCR real time dinyatakan dengan kurva standar.
Berdasarkan hasil analisis sekuen didapatkan hasil bahwa gen grxB ditentukan sebagai gen target untuk deteksi Cronobacter spp. menggunakan PCR real time. Primer gen target dirancang berdasarkan wilayah konservasi C. sakazakii yang tidak dapat mengamplifikasi non Cronobacter spp. Primer yang dipilih adalah GBCF yaitu urutan sekuen gen grxB isolat lokal C. sakazakii pada posisi 62-81 dan GBCR pada posisi 141-160. Primer tersebut mampu mendeteksi 24 Cronobacter spp., serta dapat diaplikasikan untuk deteksi cepat Cronobacter spp. pada susu formula dengan konsentrasi DNA terendah 1 x 10-4 (ng/μL) atau setara dengan jumlah bakteri sebanyak 1.01 x 101 sel. Temuan ini dapat berkontribusi untuk pengembangan deteksi cepat Cronobacter spp. menggunakan PCR real time
Teknologi Penurunan Emisi Formaldehida pada Produksi Kayu Lapis dan Papan Partikel
Pemakaian perekat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya produksi kayu lapis dan papan partikel. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kajian upaya penurunan emisi formaldehida pada produksi kayu lapis dan papan partikel dengan perekat urea formaldehida. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka. Hasil studi memperlihatkan penurunan emisi formaldehida dapat dilakukan antara lain dengan penambahan arang aktif, penambahan perekat lain, penambahan bahan nano, dan penambahan ammonium. Penambahan arang aktif dapat menurunkan emisi formaldehida sebesar 80%, penambahan perekat lain dapat menurunkan emisi formaldehida sebesar 50-70%, penambahan bahan nano dapat menurunkan sebesar 53%, dan penambahan ammonium menurunkan sebesar 50%-90%. Selain dapat menurunkan emisi formaldehida, penambahan perekat lain dan penambahan bahan nano juga dapat meningkatkan internal bond papan partikel dan keteguhan rekat kayu lapis. Sementara itu, penambahan arang aktif dapat menurunkan internal bond papan partikel dan keteguhan rekat kayu lapis
IPB (Bogor Agricultural University)
Kelelawar merupakan reservoir dari virus-virus zoonotik berbahaya. Kelelawar seringkali secara serologis positif terhadap virus namun tidak menunjukkan gejala klinis. Pertahanan tubuh kelelawar terhadap virus menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkapkan komponen kekebalan kelelawar terutama dari aspek molekular. Hingga saat ini, belum banyak peneliti yang mengkaji aspek kekebalan dari sisi morfofisiologi organ kekebalan kelelawar. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, mengkarakterisasi, dan menganalisis morfofisiologi limpa kelelawar pemakan buah yang berkaitan dengan peran kelelawar sebagai reservoir virus. Penelitian ini merupakan kajian histologi yang bersifat eksploratif dan deskriptif pada kelelawar pemakan buah (Pteropodidae) yaitu codot besar (Cynopterus titthaecheilus), nyap besar (Rousettus leschenaultii), dan kalong besar (Pteropus vampyrus). Kajian histologi dilakukan pada organ limpa yang difiksasi dengan bouin, paraformaldehida (PFA) 4%, atau neutral buffered formalin (NBF) 10% lalu ditanam dalam parafin. Pewarnaan histologi yang dilakukan meliputi pewarnaan umum, histokimia, dan imunohistokimia. Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya dan mikroskop polarisasi. Kajian terbagi menjadi tiga topik yaitu identifikasi struktur dan fungsi umum limpa, identifikasi matriks ekstraselular penyusun rangka penunjang limpa, serta identifikasi tipe aliran darah dan posisi blood spleen barrier atau sawar darah limpa (SDL). Kajian terhadap struktur dan fungsi umum mendeskripsikan bahwa limpa kelelawar pemakan buah seperti mamalia pada umumnya, memiliki pulpa putih dan pulpa merah. Pulpa putih terdiri dari periarteriolar lymphoid sheaths (PALS) dan folikel. Pulpa merah terdiri dari korda splenik, struktur sinus, dan ellipsoid. Zona marginal (ZM) dan sinus marginal (SM) diidentifikasi antara pulpa putih dan pulpa merah. Berdasarkan kajian komparasi morfofisiologi dengan spesies lain, limpa kelelawar pemakan buah diduga tidak memiliki kemampuan yang baik untuk berkontraksi dan menyediakan darah yang cepat, meskipun begitu memiliki kapasitas untuk menyimpan darah. Limpa kelelawar pemakan buah memiliki semua struktur filtrasi yang pernah diidentifikasi pada vertebrata yang mengindikasikan fungsi dominan limpa kelelawar pemakan buah adalah filtrasi patogen darah dan pertahanan yang mendukung ketahanan kelelawar terhadap infeksi virus. Kajian terhadap matriks ekstraselular penyusun rangka limpa mendeskripsikan bahwa jaringan ikat penunjang limpa kelelawar pemakan buah terutama disusun oleh serabut retikular. Serabut retikular secara umum memiliki inti kolagen yang terdiri dari kolagen I dan III dan dilapisi laminin dengan ketebalan yang bervariasi. Serabut elastin tunggal dan pendek diidentifikasi tersebar pada berbagai area limpa sebagai bagian dari serabut retikular. Penelitian ini mengidentifikasi struktur mirip periellipsoidal lymphoid sheaths (PELS) yang belum pernah diidentifikasi pada limpa mamalia. Identifikasi tipe aliran darah dan posisi SDL dilakukan dengan mengamati partikel tinta india yang diinjeksikan melalui intravena. Partikel tinta india berfungsi
sebagai penanda dan model pengganti patogen darah. Aliran darah pada limpa kelelawar pemakan buah diidentifikasi memiliki tipe peredaran darah terbuka dan tertutup. Struktur SDL diidentifikasi berada pada area zona marginal (ZM), ellipsoid, dan PELS. Berdasarkan kecepatan pemrosesan tinta india, kelelawar pemakan buah disinyalir memiliki proses induksi kekebalan spesifik yang cepat dibandingkan mamalia lainnya. Kajian ini juga mengidentifikasi lesio kerusakan sel yang diduga terprogram pada 30% kelelawar yang dikaji dan menemukan badan inklusi eosinofilik pada semua limpa kelelawar yang dikaji. Belum banyak penelitian yang menyajikan badan inklusi hasil infeksi alam sehingga temuan ini dapat memberikan gambaran patofisiologi infeksi virus non eksperimental dalam limpa kelelawar pemakan buah. Temuan-temuan morfologi pada limpa kelelawar pemakan buah yang dikaitkan dengan karakter biologi kelelawar, mengindikasikan limpa kelelawar pemakan buah merupakan organ utama yang berperan dalam kekebalan non spesifik dan spesifik terhadap virus
Perancangan User Interface Prototipe Aplikasi Akuisisi Data Patroli Kebakaran Hutan dan Lahan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sudah menjadi peristiwa yang rutin setiap tahun yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Penanganan karhutla telah dilakukan melalui patroli pengawasan oleh Manggala Agni. Hasil pengawasan ini dilaporkan melalui aplikasi akusisi data yang telah ada, yaitu “Patroli Karhutla”. Namun aplikasi tersebut memiliki tingkat usability yang masih rendah sehingga menyulitkan penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang user interface prototipe aplikasi “Patroli Karhutla” dengan memperhatikan usability dari aplikasi mobile yang learnable hingga tahap medium-fidelity. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Thornsby. Berdasarkan pengujian menggunakan aplikasi web maze.design, diperoleh persentase kesuksesan sebesar 100% yang mengindikasikan learnability pada prototipe yang dikembangkan dan nilai rata-rata pengujian usability Maze sebesar 85 mengindikasikan usability prototipe. Dapat disimpulkan bahwa user interface prototipe yang dikembangkan dapat memenuhi learnability dan usability penggunanya
Keanekaragaman Simplisia Nabati dan Produk Obat Tradisional di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional merupakan warisan yang masih
digunakan hingga saat ini. Tumbuhan obat yang digunakan berupa simplisia nabati
dan produk obat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk dan
keanekaragaman simplisia nabati, mengidentifikasi produk obat tradisional yang
diperdagangkan dan mengidentifikasi potensi pengelolaan lestari tumbuhan obat
sebagai simplisia nabati di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun,
Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-Juli 2017 dengan cara
observasi langsung dan wawancara. Simplisia nabati yang diperdagangkan di di Kota
Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun sebanyak 11 bentuk simplisia nabati
dengan 113 spesies tumbuhan obat yang berasal dari 46 famili dan didominasi famili
Zingiberaceae. Simplisia nabati yang diperdagangkan didominasi oleh habitus herba
dan bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun (folium). Simplisia
nabati yang diperdagangkan umumnya berasal dari budidaya dengan harga jual antara
Rp 16 000-Rp 700 000 per kilogram. Sebanyak 22 spesies tumbuhan obat termasuk
dalam status keterancaman menurut IUCN, CITES LIPI dan Permen LHK No. P.106
Tahun 2018
Analisis Biologi Reproduksi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) Berdasarkan Tingkah Laku Seksual dan Profil Hormon
Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan satu dari dua puluh genus
Trachypithecus yang berada di Asia. Satwa primata ini tersebar di Pulau Jawa, Bali
dan Lombok. Populasi satwa primata ini termasuk ke dalam satwa yang memiliki
populasi cenderung mengalami penurunan. Penurunan populasi Lutung jawa
diakibatkan oleh perburuan illegal dan degradasi hutan. Usaha peningkatan
populasi melalui fasilitas konservasi eks-situ telah dilakukan, namun masih belum
maksimal. Sampai saat ini studi tentang biologi reproduksi spesies ini masih sangat
terbatas. Oleh karena itu, diperlukan studi reproduksi sebagai dasar untuk
pengembangan teknik reproduksi dan manajemen dalam usaha peningkatan
populasinya. Penelitian ini dilakukan dengan metode non-invasif untuk mengukur
hormon reproduksi dalam sampel feses.
Penelitian ini dilakukan selama 10 bulan terhadap kelompok Lutung jawa
yang dipelihara di fasilitas konservasi eks-situ Taman Safari Cisarua Bogor.
Terdapat dua tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu (1) pengamatan
tingkah laku seksual. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui pola dan indikator
tingkah laku seksual Lutung Jawa; (2) analisis hormon estrogen dan progesterone
dalam sampel feses. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui status reproduksi
berdasarkan profil hormon.
Tingkah laku seksual T.auratus terdiri dari tingkah laku percumbuan dan
kopulasi. Tingkah laku seksual spesifik ditunjukkan adalah head-shaking sebelum
kopulasi terjadi oleh betina. Tingkah laku kopulasi diawali dengan mounting
kemudian thrusting 28 detik. Kopulasi berlangsung selama 60 detik. Kopulasi
terjadi 3 hari sebelum periode estrus. Jenis estrogen dalam feses T. auratus adalah
estradiol-17b, estriol, dan estron; sedangkan progesterone adalah 17-a-OH
Progesteron. Konsentrasi hormon estrogen pada saat puncak mencapai 1030.8 μg/g
feses kering. Panjang siklus estrus T. auratus berdasarkan interval kenaikan hormon
estrogen adalah rentang 21-33 hari. Analisis hormon progesteron menunjukkan
konsentrasi rendah mencapai 81.2 μg/g feses kering. Nilai konsentrasi ini diamati
pada betina post-partus. Pengukuran hormon melalui sampel feses merupakan
metode non-invasif yang dapat digunakan untuk memonitor reproduksi T. auratus