31665 research outputs found
Sort by
Potensi Biomassa dan Karbon pada Tegakan Eucalyptus pellita di PT. Musi Hutan Persada Kabupaten Muara Enim
Hutan memiliki peran besar sebagai penyedia jasa lingkungan dalam
kaitannya dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Hutan memiliki
kemampuan sebagai penyerap, penyimpan sekaligus menjadi sumber emisi
karbon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kandungan
biomassa dan karbon yang tersimpan pada tegakan hutan tanaman Eucalyptus
pellita dan mengetahui potensi tegakan hutan tanaman Eucalyptus pellita dalam
menyerap karbon dioksida (CO2) berdasarkan kelas umurnya. Metode sampling
yang digunakan adalah systematic sampling with random start. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa besarnya kandungan biomassa pohon berkisar
35.97-284.75 ton/ha dan karbon pohonnya berkisar antara 16.19-128.14 ton C/ha,
serta potensi menyerap gas CO2 dari amosfer bekisar 59.41-470.26 ton/ha
Pengaruh Praperlakuan Alkali dan Bagian Talus Sargassum polycystum terhadap Karakteristik Asam Alginat
Asam alginat merupakan produk antara dalam proses ekstraksi alginat.
Asam alginat pada penelitian ini dihasilkan dari tiga bagian talus yang berbeda.
Metode yang digunakan yaitu ekstraksi asam alginat dengan pelarut Na2CO3 2%.
Tahapan praperlakuan dilakukan sebelum proses ekstraksi dengan cara
perendaman menggunakan pelarut KOH untuk meningkatkan kualitas asam
alginat. Penelitian bertujuan menentukan pengaruh praperlakuan alkali dan bagian
talus S. polycystum terhadap karakteristik asam alginat serta membandingkan
dengan standar mutu alginat. Praperlakuan alkali dan bagian talus memberi
pengaruh nyata terhadap rendemen, viskositas, dan kekuatan gel asam alginat.
Karakteristik asam alginat terpilih yaitu pada faktor praperlakuan KOH 0.9%
dengan talus bagian pangkal yang memiliki rendemen sebesar 21.51%, kadar abu
10.34%, kadar air 7.04%, nilai pH 2.54, viskositas 53.37 cP, derajat putih 57.91%,
dan kekuatan gel 58.80 g/cm2. Karakteristik asam alginat yang dihasilkan telah
memenuhi standar asam alginat yang ditetapkan oleh Food and Agricultural
Organization, kecuali pada parameter kadar abu
Strategi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Analisis Kesesuaian Habitat di Kawasan PLTU Banten 3 Lontar
Rehabilitasi diperlukan untuk pemulihan ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar yang telah rusak dan menurun fungsinya menjadi stabil melalui perencanaan yang matang dengan memperhatikan parameter-parameter ekologi. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat kerusakan dan kesesuaian habitat untuk pembuatan rekomendasi strategi rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar. Pengambilan sampel dilakukan di kawasan rehabilitasi mangrove PLTU Banten 3 Lontar pada 9-10 Januari 2020. Pengambilan data primer menggunakan metode survey dengan pendekatan ekologi dan spasial. Mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar mengalami kerusakan pada tingkat rusak sedang dan rusak berat. Ada dua jenis mangrove mendeterminasi lokasi penelitian, yaitu Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Kawasan rehabilitasi mangrove di PLTU Banten 3 Lontar memiliki tipe pasut diurnal, substrat liat berpasir, kandungan C-organik berkisar 2-5%, sebaran salinitas berkisar 30-32‰, dan sebaran pH berkisar 7,3-7,4. Kawasan PLTU Banten 3 Lontar memiliki area seluas 14.874 m2 yang tidak dapat langsung dilakukan rehabilitasi. Pengelolaan mangrove direkomendasikan dengan empat strategi rehabilitasi diantaranya penyesuaian dan penyiapan kondisi habitat serta pengoptimalan aliran air. Estimasi total manfaat ekonomi ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar setelah rehabilitasi (2027), yaitu sebesar Rp439.797.689/ha/tahun
Aktivitas Antioksidan Garam Rumput Laut Ulva lactuca akibat Penambahan Genjer (Limnocharis flava).
Rumput laut Ulva lactuca dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan garam rumput laut. Garam rumput laut rendah natrium dan tinggi kalium menjadi alternatif mengurangi penyakit hipertensi. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi kimia, mineral, dan logam berat tepung rumput laut U. lactuca dan L. flava, menentukan kandungan fitokimia, aktivitas dan kapasitas antioksidan ekstrak, serta menentukan komposisi mineral, logam berat, NaCl, aktivitas dan kapasitas antioksidan garam rumput laut U. lactuca serta U. lactuca dengan penambahan L. flava pada perbandingan 1:1. Pembuatan garam rumput laut terdiri dari U. lactuca dan U. lactuca : L. flava yang dicampurkan akuades 1:10, dan dipanaskan dalam waterbatch shaker pada 40 ºC selama 10 menit, dan dikeringkan dengan oven pada 60 ºC selama 30 jam. Garam U. lactuca menghasilkan rendemen 32.36%, rasio Na:K 1.49, dan NaCl (%) 23.90%, aktivitas antioksidan 93.24 ppm (DPPH), dan kapasitas antioksidan 129.15 μmol/g (CUPRAC). Garam U. lactuca : L. flava (1:1) menghasilkan rendemen 22.78%, rasio Na:K 0.59, dan NaCl (%) 21.05%, aktivitas antioksidan 118.87 ppm (DPPH), dan kapasitas antioksidan 104.07 μmol/g (CUPRAC)
Produksi Pepton Kacang Tunggak dengan Enzim Papain Kasar untuk Media Pertumbuhan Bakteri
Pemanfaatan produk dari bakteri sudah sangat luas untuk memenuhi
kebutuhan pangan sehari-hari. Banyaknya produk mikrobial yang berkembang di
masyarakat mengharuskan produk yang halal karena mayoritas masyarakat
Indonesia beragama Islam. Menurut Atma et al. (2018), produk mikrobial sendiri
ditetapkan menjadi titik kritis karena risiko yang terletak pada media yang
digunakan untuk penyegaran atau pertumbuhan bakteri. Dalam bidang bioteknologi,
media pertumbuhan bakteri sering kali menggunakan pepton untuk sumber asam
amino. Sumber protein dari pepton komersial dapat diragukan kehalalannya dan
disisi lain produknya tidak dapat dikonsumsi masyarakat vegan, yaitu masyarakat
yang tidak mengonsumsi semua produk hewani secara total. Kacang tunggak
menjadi salah satu bahan yang potensial karena kandungan protein yang tinggi yaitu
sebesar ±35%. Pemanfaatan kacang tunggak sehari-hari masih terbatas.
Pemanfaatan kacang tunggak sebagai sumber pepton merupakan upaya untuk
diversifikasi produk agar memiliki nilai tambah. Tujuan penelitian ini adalah
menentukan kondisi hidrolisis terbaik untuk memproduksi pepton kacang tunggak.
Kondisi yang dimaksimalkan adalah waktu hidrolisis, konsentrasi enzim, dan suhu
hidrolisis yang digunakan. Pepton yang dihasilkan kemudian diaplikasikan sebagai
nutrisi pertumbuhan bakteri yang dibandingkan dengan pepton komersial. Proses
hidrolisis yang digunakan adalah hidrolisis enzimatis menggunakan enzim papain
kasar. Aktivitas enzim papain yang digunakan sebesar 6.794,33 U/g. Kondisi
hidrolisis terbaik dicapai dengan konsentrasi enzim sebesar 0,4% (b/b) dalam waktu
hidrolisis selama 2 jam dengan suhu hidrolisis 55oC. Hasil pengujian terhadap
pertumbuhan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif
(Escherichia coli), pepton dari kacang tunggak menunjukkan hasil yang lebih baik
daripada pepton komersial (BactoTMpeptone) yang digunakan
Ulasan Komposit Selulosa Asetat/Polietilena Glikol sebagai Bahan Dasar untuk Membran Separasi Gas
Membran adalah lapisan tipis selektif dan semipermeabel yang berada di antara dua fase, yaitu fase umpan dan fase permeat. Bahan yang digunakan adalah selulosa asetat (SA) dengan tambahan polietilena glikol (PEG) 400-20.000. Penelitian ini didasarkan pada peran PEG terhadap selektivitas membran untuk mendukung CH4 dan CO2 dengan gas umpan bertekanan rendah (2-8 bar). Pada studi ini membran adalah hasil kopolimerisasi SA dan PEG serta inisiator radiasi berkas elektron. Tujuan ini adalah mengkaji pengaruh penambah PEG dan pengaruh radiasi pada performa membran, serta penelitian laporan penelitian terdahulu untuk dapat menggunakan SA PEG sebagai membran pemisah gas dan memahami kelebihan serta kekurangannya untuk mengembangkan lebih lanjut. Berdasarkan hasil mikroskop elektron payaran, membran dengan PEG memiliki struktur yang lebih padat dan lebih baik dalam menahan permeasi gas dibandingkan tanpa PEG. Selektivitas ditunjukkan oleh membran dengan bobot molekul PEG 400 dan PEG 20000, dengan konsentrasi PEG 10% dan tekanan gas umpan 2 bar
Identifikasi Nematoda Aphelenchoides fragariae pada Bawang Merah (Allium ascalonicum) dari Pasar Kemang Bogor dan Kabupaten Brebes
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan obat tradisional. Beberapa genus nematoda parasit, antara lain Ditylenchus dan Aphelenchoides, merupakan nematoda terbawa umbi yang sangat merusak tanaman bawang dan belum banyak dilaporkan keberadaannya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi nematoda Aphelenchoides fragariae yang terdapat pada umbi bawang merah di Pasar TU Kemang Bogor dan Kabupaten Brebes berdasarkan karakter morfologi nematoda. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel umbi bawang merah dari Pasar TU Kemang Bogor dan empat pengepul/petani di Kabupaten Brebes, pendataan sampel, ekstraksi nematoda, perhitungan populasi nematoda, pembuatan preparat permanen nematoda, dan identifikasi nematoda. Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode perendaman air dingin dan pengabutan (mist chamber) untuk sampel umbi serta flotasi-sentrifugasi untuk sampel tanah. Identifikasi nematoda dilakukan dengan pengamatan ciri morfologi kunci, antara lain morfologi anterior, organ reproduksi, dan posterior terutama bentuk ujung ekor (mucro). Nematoda parasit berhasil dideteksi pada sampel umbi bawang dari Pasar TU Kemang Bogor dengan jumlah rata-rata 217 nematoda/20 g umbi. Berdasarkan ciri morfologi kunci, antara lain bentuk bibir, stilet, esofagus, ujung ekor/mucro, serta bentuk spikula jantan, berhasil diidentifikasi Aphelenchoides fragariae. Nematoda yang sama tidak berhasil dideteksi dari sampel umbi bawang merah dan tanah asal Kabupaten Brebes
Program Edukasi Diet DM Berbasis Android terhadap Perilaku Makan dan Kadar Glukosa Darah Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Kota Bandung.
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah di atas normal. Diabetes dapat mengakibatkan komplikasi di seluruh bagian tubuh dan menyebabkan risiko kematian dalam jangka waktu yang panjang. Komplikasi Diabetes Melitus (DM) baik komplikasi akut maupun kronis, dapat dicegah dengan edukasi DM, diet DM yang baik dan seimbang, obat dan olah raga. Edukasi DM memberi manfaat penting bagi penderita DM yaitu mendapatkan pengetahuan, dan dapat menerapkan informasi dengan baik dan benar. Pendidikan DM merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola DM agar dapat diterapkan dengan baik. Dalam meningkatkan edukasi penggunaan teknologi baru seperti smartphone berbasis android memberi banyak manfaat dalam proses intervensi terhadap perilaku penderita DM. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh program edukasi diet DM berbasis android terhadap perubahan perilaku makan dan kadar glukosa darah.
Penelitian menggunakan desain cluster randomized control trial dengan pre-post intervention yang dilakukan terhadap 33 pasien kelompok intervensi dan 37 pasien DM kelompok kontrol. Data yang dikumpulkan terdiri dari karakteristik subjek, persepsi keparahan penyakit DM, persepsi harapan pengobatan, kebiasaan makan dan kadar glukosa darah puasa. Semua data diambil dengan cara wawancara menggunakan kuesioner kecuali kadar glukosa darah puasa diambil melalui pemeriksaan darah subjek. Proporsi subjek perempuan (65.7%) lebih banyak daripada laki-laki (34.3%), sebagian besar subjek berusia 55 – 64 tahun (47.1%), berpendidikan SMA atau sederajat (40%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (57.1%), pendapatan diatas UMR (55.7%), setengahnya (50.0%) menderita DM lebih dari 10 tahun, status gizi normal (52.9%). Karakteristik subjek tidak berbeda antar kelompok kecuali pendapatan, pada kelompok intervensi signifikan lebih tinggi.
Setelah intervensi, kedua kelompok secara signifikan (p0.05). Praktik kebiasaan makan pada kelompok intervensi meningkat secara signifikan (p0.05) antara dua kelompok. Kadar glukosa darah puasa dari kedua kelompok tidak signifikan (p>0.05). Dengan demikian, penggunaan kedua metode intervensi pendidikan gizi memiliki dampak positif pada peningkatan persepsi tingkat keparahan dan skor harapan pengobatan, praktik makan, tetapi tidak dalam kadar glukosa darah puasa
Ambang Ekonomi Hama Pengisap Polong Kedelai (Glycine max (L.) Merill) di Bogor.
Hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis dan Nezara viridula
menjadi hama penting pada kedelai karena dapat menyebabkan kehilangan hasil
mencapai 79%-80%. Pengendalian hama ini menggunakan insektisida sintetik
maupun alternatif lain harus mengacu pada informasi tentang kepadatan hama
yang merugikan secara ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai
ambang ekonomi hama pengisap polong kedelai di Bogor berdasarkan tiga
alternatif pengendalian. Penelitian dilakukan di area lingkungan sekitar rumah
kaca yang terdiri atas dua percobaan. Percobaaan pertama tentang hubungan
antara tingkat kepadatan hama dan kehilangan hasil tanaman dan percobaan kedua
adalah pengaruh pengendalian hama terhadap hasil yang dapat diselamatkan.
Ambang ekonomi ditentukan sebesar 75% dari nilai tingkat kerusakan ekonomi
(TKE). Penentuan TKE menggunakan pendekatan rasio manfaat biaya (RMB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ambang ekonomi untuk pengendalian
menggunakan insektisida sintetik sebesar 1.25 imago R. linearis/4 tanaman yang
setara dengan 1.37 nimfa N. viridula/4 tanaman; untuk pengendalian
menggunakan cendawan entomopatogen B. bassiana sebesar 1.62 imago R.
linearis/4 tanaman yang setara dengan 1.78 nimfa N. viridula/4 tanaman; dan
pengendalian dengan kombinasi keduanya sebesar 1.77 imago R. linearis/4
tanaman yang setara dengan 1.94 nimfa N. viridula/4 tanaman
Efikasi Vaksin Streptococcus agalactiae Strain S3 yang Diuji Tantang Strain S1, S2, dan S3 untuk Pencegahan Penyakit Streptococcosis pada Ikan Nila
Streptococcus agalactiae merupakan agen utama yang menyebabkan penyakit streptococcosis pada ikan nila. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji menguji efikasi vaksin S. agalactiae strain S3 dalam berbagai dosis untuk pencegahan penyakit streptococcosis pada ikan yang diuji tantang dengan S. agalactiae strain berbeda (S1,S2 dan S3). Bobot ikan nila adalah 24.39±2.16 gram dan panjang awal 11.48±0.49 cm. Bakteri yang digunakan merupakan bakteri Streptococcus agalactie yang didapatkan dari koleksi PT. Vaksindo Satwa Nusantara dari perairan Danau Toba, Sumatera Utara. Ikan nila divaksinasi menggunakan bakteri S. agalactiae strain S3 dengan kepadatan bakteri 107 , 108, dan 109 CFU ekor-1 serta kontrol negatif dan positif yang disuntikan larutan PBS (Phosphate Buffered Saline). Ikan diuji tantang menggunakan bakteri S. agalactiae strain S1, S2, dan S3 selama 10 hari dengan dosis 0.1 mL dan kepadatan bakteri 106 CFU ekor-1 secara intraperitoneal. Pengamatan parameter dilakukan sebelum vaksinasi, setelah vaksinasi dan setelah uji tantang. Berdasarkan parameter kelangsungan hidup relatif, pemberian vaksin S. agalactiae strain S3 mampu menghasilkan nilai kelangsungan hidup relatif 92,12 % pada dosis 107 CFU mL-1 dan proteksi 100% pada dosis diatasnya. Namun menghasilkan nilai kelangsungan hidup relatif yang lebih rendah jika diuji tantang dengan strain lainnya (S1 dan S2)