31665 research outputs found
Sort by
Preferensi Makan Larva Spodoptera frugiperda J.E. Smith pada Enam Jenis Tanaman.
Jagung merupakan salah satu tanaman serealia yang strategis dan bernilai
ekonomi tinggi serta mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai sumber
utama karbohidrat dan protein setelah beras juga sebagai sumber pakan ternak.
Hama yang sering menyerang pertanaman jagung di antaranya lalat bibit
(Atherigona sp.), penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) dan penggerek
tongkol (Helicoverpa armigera). Spodoptera frugiperda atau yang lebih dikenal
dengan fall armyworm (FAW) atau di Indonesia dikenal sebagai ulat gerayak
jagung (UGJ) secara konsisten telah menjadi hama penting bagi berbagai spesies
tanaman, khususunya jagung di Amerika selama bertahun-tahun. Tujuan penelitian
ini mempelajari preferensi makan S. frugiperda pada enam jenis tanaman (jagung,
padi, kedelai, cabai, brokoli dan bayam). Penelitian dilakukan di Laboratorium
Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Juli sampai Desember 2019. Larva
S. frugiperda diambil dari pertanaman jagung yang terserang UGJ di daerah Bogor.
Larva diberi makan daun jagung dan juga jagung muda. Pakan uji yang digunakan
adalah daun jagung, daun padi, daun kedelai, daun cabai, daun brokoli dan daun
bayam. Uji pilihan menggunakan dua jenis pakan yang diletakkan pada wadah yang
sama, sementara uji tanpa pilihan menggunakan dua jenis pakan yang diletakkan
pada wadah berbeda. Pada uji tanpa pilihan menunjukkan perbedaan pada setiap
perlakuan. Daun bayam merupakan daun yang paling disukai oleh larva S.
frugiperda, sementara daun padi merupakan daun yang paling tidak disukai. Uji
pilihan antara daun bayam dan daun jagung, larva S. frugiperda lebih menyukai
daun bayam dibandingkan dengan daun jagung
Implementasi Algoritme Dynamic Time Warping Paralel untuk Menghitung Similaritas Protein Menggunakan CUDA.
Perhitungan similaritas protein menjadi salah satu hal penting dalam
melakukan penelitian genom. Dengan berkembangnya data sekuens protein secara
eksponensial, waktu komputasi menjadi salah satu faktor penting dalam proses
pengolahan data. Riset pada ranah Bioinformatika menjadi salah satu bidang yang
aktif dalam penggunaan Graphical Processing Unit (GPU) untuk pemrosesan
secara paralel. Adapun pada penelitian kali ini akan dilakukan implementasi paralel
dari algoritme Dynamic Time Warping (DTW) dengan menggunakan CUDA.
Tujuan dari implementasi paralel terhadap algoritme DTW adalah untuk mereduksi
waktu eksekusi yang dihasilkan dari proses perhitungan similaritas antar protein,
karena algoritme DTW memiliki kompleksitas yang sangat tinggi yaitu O(N * M).
Nilai speed-up menjadi metrik evaluasi untuk membandingkan performa GPU jika
dibandingkan dengan CPU (sekuensial). Penelitian ini menghasilkan speed-up 13
kali jika dibandingkan dengan CPU. Penggunaan dual GPU menambahkan speedup
sebesar 20 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan CPU
Pemodelan Hidrodinamika dan Sebaran Konsentrasi Sedimen Tersuspensi di Teluk Kelabat
Teluk Kelabat berada di utara Pulau bangka yang berbentuk jam pasir terdiri
dari Teluk Kelabat Luar (TKL) dan Teluk Kelabat Dalam (TKD). Kegiatan
perikanan, pertambangan, pelabuhan berlangsung di ekosistem ini. Penelitian ini
bertujuan untuk menduga sebaran konsentrasi sedimen supensi melalui kajian pola
arus yang dibangkitkan oleh angin dan pekala. Pemodelan hidrodinamika 2-
dimensi perata-rataan kedalaman digunakan dalam mengkaji pola arus dan
sebaran model konsentrasi sedimen tersupensi. Validasi hasil model
menggunakan nilai Root Mean Square Error (RMSE). RMSE untuk tinggi pekala,
komponen arus zonal dan meridional adalah sebesar 0.05, 0.07 dan 0.12. Hasil
model menunjukkan kecepatan arus model pada Musim Barat berkisar 0.07 - 0.41
m/s dan Musim Timur berkisar 0.06 - 0.34 m/s. Konsentrasi sebaran sedimen
tersuspensi rata-rata di TKD berkisar 14.44 – 29.06 mg/L dan di TKL berkisar
6.90 – 19.02 mg/L
Pengaruh Faktor Internal terhadap Profitabilitas Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia Periode 2015-2019
Selama tahun 2015-2019, Jumlah BPR di Indonesia menurun dari 1637 menjadi 1578. Hal ini diikuti penurunan rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Assets (ROA). Penurunan profitabilitas berpotensi membahyakan kelangsungan usaha BPR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor internal yang terdiri dari modal, likuiditas, efisiensi, risiko kredit, dan total aset BPR terhadap profitabilitas BPR di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa rasio keuangan 320 BPR di Indonesia pada tahun 2015-2019. Penelitian ini menggunakan regresi data panel sebagai alat analisis. Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa ukuran (total aset) BPR berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. Sedangkan, BOPO (efisiensi) dan NPL (risiko kredit) memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap ROA. CAR (modal) dan LDR (likuiditas) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA
Potensi Pemanfaatan Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) sebagai Ingredien Pangan Fungsional Pencegah Kanker Kolon.
Buah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) merupakan rempah
dengan flavor unik yang tumbuh di Sumatera Utara, sering digunakan sebagai
bumbu masakan tradisional dan dikenal oleh masyarakat setempat memiliki khasiat
bagi kesehatan. Berbagai studi menunjukkan potensi andaliman sebagai ingredien
pangan fungsional. Potensi buah andaliman belum terdokumentasikan dan
termanfaatkan dengan memadai sehingga dikhawatirkan dapat mengakibatkan
penggerusan biodiversitas tanaman lokal Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan
penelusuran potensi buah andaliman di tiga kabupaten penghasil andaliman terbesar
di Sumatera Utara, yaitu Dairi, Tobasa, dan Simalungun. Tiga varietas andaliman
yaitu varietas Simanuk, Sihorbo, dan Simangkok dapat diidentifikasi. Ketiga
varietas ini memiliki morfologi buah, perdu, dan aroma buah yang berbeda.
Pemanfaatan andaliman yang dilakukan di tingkat petani masih sebatas dijual segar
ke pengumpul yang selanjutnya didistribusikan ke Medan, Pekanbaru, dan Jakarta.
Pengujian bioaktivitas ekstrak andaliman, baik yang diperoleh dari andaliman
segar maupun olahan, dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test
dilakukan sebagai uji pendahuluan screening ekstrak yang digunakan pada analisis
berikutnya. Sampel andaliman varietas Simanuk asal Dairi sebanyak tiga sampel
mewakili setiap perlakuan pengolahan awal terpilih dari 18 jenis sampel yang diuji.
Uji bioaktivitas secara in vitro dilakukan terhadap sel kanker kolon HCT-116,
WiDr, dan sel Vero sebagai pembanding dengan menggunakan analisis 3-(4,5-
dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT). Tahapan ini untuk
membuktikan kemampuan andaliman dalam menghambat proliferasi sel kanker
kolon sehingga dapat mendukung hipotesis bahwa buah andaliman dapat membantu
mencegah penyakit degeneratif kanker kolon. Ekstrak etanol dari sampel dengan
perlakuan pengeringan oven memiliki nilai bioaktivitas tertinggi di antara ketiga
sampel uji dengan IC50 95.63 dan 94.64 μg/mL, masing-masing untuk sel WiDr dan
HCT-116. Mekanisme yang mendasari penghambatan sel kanker kolon ini
dipelajari melalui ekspresi gen Bcl-2 dan Bax sebagai gen penanda anti-apoptosis
dan pro-apoptosis, serta ekspresi gen Ki-67 sebagai penanda aktivitas proliferasi sel
menggunakan instrumen Real Time Polymerase Chain Reaction. Peran apoptosis
sebagai salah satu mekanisme yang mendasari penghambatan pada sel kanker kolon
WiDr dan HCT-116 yang diuji terkonfirmasi dengan diperolehnya rasio Bax dan
Bcl-2 lebih dari 1 (Bax/Bcl-2 >1) pada perlakuan ekstrak andaliman dimulai dari
konsentrasi setengah IC50 (½D), masing-masing sebesar 47.81 dan 47.41 μg/mL
untuk sel WiDr dan HCT-116. Akan tetapi, ekspresi apoptosis ini tidak linier
dengan dosis perlakuan. Pada ½D ekspresi gen apoptosis Bax maupun rasio
Bax/Bcl-2 lebih tinggi dibandingkan 1D dan 2D. Pewarnaan Hoechst pada sel WiDr
juga menunjukkan ciri apoptosis pada perlakuan 1D dan ½D. Ekspresi gen penanda
proliferasi Ki-67 pada sel WiDr menunjukkan fenomena yang sejalan, konsentrasi
perlakuan ½D memberikan ekspresi yang paling rendah. Fenomena serupa tidak
terjadi pada sel HCT-116. Perbedaan ekspresi pada kedua jenis sel ini diduga akibat
iii
perbedaan stadium asal kedua sel kanker kolon yang menyebabkan perbedaan
histologis dan jalur mutasi.
Pada tahap terakhir penelitian dipelajari kemampuan ekstrak andaliman
dalam menghambat disfungsi intestinal barrier dengan menggunakan monolayer
sel Caco-2 yang terdiferensiasi dan telah distimulasi oleh sitokin inflamasi.
Mekanisme ekstrak andaliman dalam mempengaruhi permeabilitas saluran cerna
secara fisik dapat dipelajari dapat dipelajari dengan menggunakan model ini.
Peningkatan permeabilitas dapat mempengaruhi translokasi endotoksin dan
komponen pro-inflamasi dalam saluran cerna yang menyebabkan penyakit kronis,
salah satunya adalah penyakit kanker kolon. Ekstrak etil asetat dan etanol
andaliman kering pada konsentrasi 380 μg/mL terbukti dapat menghambat
disfungsi intestinal barrier pada sel Caco-2 dengan meningkatkan nilai
transepithelial electrical resistance dan menghambat translokasi molekul
fluorescein isothiocyanate-dextran dan lucifer yellow melalui membran uji.
Senyawa yang diduga berperan pada aktivitas ini adalah senyawa dari kelompok
sanshool. Akan tetapi, hasil pengamatan menunjukkan bahwa hidroksi-alfasanshool
dan hidroksi-beta-sanshool pada konsentrasi 5 μg/mL tidak memiliki
bioaktivitas terhadap sel uji. Senyawa yang muncul pada waktu retensi 13.6 menit
pada kromatogram HPLC diduga senyawa hidroksi-γ-isosanshool, yang berperan
pada bioaktivitas ekstrak andaliman
Pengaruh Fotoperiodisme dan Media Tanam terhadap Inisiasi Pembungaan Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Mini Plant Factory.
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki suhu lebih dari 18oC
dengan lama penyinaran matahari rata-rata di bawah 12 jam sehingga
menyebabkan produktivitas bakal bunga bawang merah di Indonesia rendah.
Mini plant factory merupakan sistem manipulasi lingkungan terkendali yang
dapat menyediakan lingkungan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fotoperiodisme menggunakan
cahaya buatan serta dan media tanam terhadap inisiasi pembungaan bawang
merah. Perlakuan yang digunakan adalah lama penyinaran dan warna LED.
Bawang merah dibagi menjadi tiga kelompok lama penyinaran, yaitu 12 jam,
16 jam, dan 20 jam dan kemudian dibagi lagi menjadi dua kelompok warna
LED, yaitu growth LED dan white LED. Bawang merah ditanam pada dua
kelompok media tanam yang berbeda, yaitu tanah dan sekam mentah (media
tanam A) serta tanah, cocopeat, dan arang sekam (media tanam B). Mini plant
factory mampu memanipulasi lingkungan dengan kisaran suhu 16oC hingga
18oC dengan kelembaban udara 73% sampai 34 HST, namun pada saat
perlakuan stress suhu ruangan rata-rata tidak sesuai karena adanya panas dari
udara luar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyinaran dan warna
LED berbeda nyata terhadap inisiasi pembungaan sedangkan media tanam
tidak berbeda nyata. Bakal bunga tanaman dengan perlakuan lama penyinaran
20 jam yang disinari growth LED berjumlah 60 buah dengan persentase
pembungaan 100%. Perlakuan lainnya adalah tanaman dengan perlakuan
lama penyinaran 16 jam yang disinari white LED memiliki persentase 100%,
namun bakal bunga yang dihasilkan berjumlah 40 buah. Berdasarkan hasil
penelitian, tanaman perlakuan growth LED dengan lama penyinaran 20 jam
merupakan perlakuan paling optimum dalam meningkatkan produktivitas
bakal bunga bawang merah
Kebijakan Pembangunan Desa dan Pemberantasan Kemiskinan: Studi Kasus pada Dana Desa di Provinsi Aceh, Indonesia.
Village funds is still a new fiscal policy that was initially launched in 2015
by the seventh president of Indonesia, “Joko Widodo”, as his pilot project. Some villages have
significantly benefited from developments and improvements initiated by the policy. However, it
also has been identified through various investigative analysis that not all village funds
allocations transferred to local governments have been implemented effectively and efficiently.
This research examines the relationship between the village funds allocations and poverty
alleviation in Aceh province, Indonesia. Using a panel data model that provides random-effects
estimations, it concludes the village funds allocations from the period of 2015 to 2018 cannot
reduce the poverty rate in 23 regencies/municipalities in Aceh. Fiscal variables such as government
expenditure and government own revenue have also shown a positive relationship with the poverty
rate.
Furthermore, with fixed-effects estimation, village funds allocations also show the same result of
its relationship with the number of people living in poverty. Meanwhile, one fiscal variable, GDRP
has a negative and significant relationship with the number of people living in poverty. Some
social variables, such as education and population have also had significant and negative effects
on the
poverty rate and the number of people living in poverty
Analisis SWOT Pengembangan Peternakan Domba di Kabupaten Bogor Berdasarkan Potensi Penyediaan Hijauan Pakan
Usaha peternakan domba menjadi usaha yang diminati oleh masyarakat di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penyediaan hijauan pakan, menganalisis faktor-faktor strategis pengembangan ternak domba di Kabupaten Bogor, dan menghasilkan rekomendasi program. Data diperoleh dalam bentuk data primer melalui wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur. Penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis SWOT dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi program yang dapat dijalankan yaitu peningkatan mutu bahan pakan (hijauan dan pakan penguat) spesifik lokal dengan pola terintegrasi dan menyeluruh, perbaikan frekuensi dan intensitas pelatihan mengenai efisiensi pengembangan usaha ternak domba yang bernilai ekonomis tinggi, stabilisasi harga khususnya ternak domba dan perbaikan efisiensi pemasaran ternak domestik serta perbaikan manajemen pengolahan limbah dan optimalisasi pemanfaatan ruang atau dalam hal ini penyediaan lahan peternakan yang sesuai dengan kondisi dan keunggulan wilayah. Hijauan yang ditemukan terdiri atas 6 jenis rumput, 7 jenis leguminosa, 28 jenis rumbah dan 2 jenis belum teridentifikasi
Pengaruh Inokulasi Mikoriza Arbuskular terhadap Pertumbuhan Semai Jelutung (Dyera lowii Hook.F) pada Tanah Gambut dan Tanah Pascatambang Pasir Silika
Jelutung rawa merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan gambut, pertumbuhannya cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal, serta mempunyai manfaat ganda yakni getah dan kayu. Potensi jenis Jelutung rawa semakin menurun karena pengelolaannya yang tidak lestari. Kegiatan penanaman kembali perlu dilakukan dengan menggunakan bibit yang berkualitas. Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) merupakan hubungan simbiotik antara fungi dengan akar tanaman yang dapat meningkatkan kualitas bibit pada media miskin hara. Gambut dan media tanah pascatambang merupakan media yang miskin unsur hara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis respon pertumbuhan semai jeulutung (Jelutung rawa) pada media gambut dan tanah pascatambang pasir silika yang diberi mikoriza arbuskula berupa inokulum MycoSilvi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan (mikoriza dan media tanam). Hasil penelitian menunjukkan pemberian MycoSilvi pada tanah gambut (M2T1) memberikan hasil yang paling baik sebab memberikan peningkatan pertumbuhan sebanyak 19.56% pada tinggi, 7.5% pada diamater, 4.16% pada biomassa dan 0.95% pada kandungan klorofil
Pengembangan Ekowisata Hutan Adat di Ammatoa Kajang Sulawesi Selatan.
Hutan Adat Ammatoa Kajang merupakan hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat Ammatoa Kajang Kabupaten Bulukumba dengan fungsi pokok lindung sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SK.6746/MENLHK-PSKL/KUM.1/12/2016. Hutan Adat Ammatoa Kajang memiliki potensi ekologi dan budaya berupa hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, keanekaragaman flora dan fauna, kearifan lokal, dan sosial budaya yang dapat menjadi objek pengembangan ekowisata. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi daya tarik wisata di Hutan Adat Ammatoa Kajang sebagai objek dalam pengembangan wisata.
Analisis persepsi, motivasi, preferensi, dan partisipasi dari stakeholder juga dilakukan untuk mengetahui ketersediaan/kondisi infrastruktur dan fasilitas yang ada, memetakan alasan masyarakat adat dan para pihak, serta mengidentifikasi prioritas pengembangan yang sesuai untuk pengembangan ekowisata di Hutan Adat Ammatoa Kajang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tertutup dengan metode one score one indicator (skala 1-7). Teknik pengambilan sampel pada analisis stakeholder (pemerintah, pemangku adat, masyarakat lokal) yaitu purposive sampling sedangkan pengunjung/wisatawan menggunakan teknik random sampling. Disamping itu, dilakukan analisis stakeholder untuk memetakan para pihak yang memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan dalam pengelolaan dan rencana pengembangan ekowisata hutan adat.
Penelitian ini juga menganalisis tingkat kesiapan masyarakat serta kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat adat. Hasil dari analisis potensi daya tarik wisata, analisis persepsi, motivasi, preferensi, dan partisipasi stakeholder, serta analisis kesiapan masyarakat dan kelembagaan kemudian menjadi basis dalam menyusun rancangan program pengembangan ekowisata di Ammatoa Kajang.
Wilayah adat Ammatoa Kajang merupakan wilayah yang memiliki potensi daya tarik wisata cukup besar. Di wilayah adat ini ditemukan daya tarik biologi, potensi flora dan fauna yang endemis di Sulawesi Selatan, daya tarik fisik, serta daya tarik sosial budaya masyarakat adat meliputi kepercayaan patuntung, berbagai upacara adat/ritus, bahasa, pengetahuan lokal yaitu pasang, sistem kekerabatan, peralatan hidup dan teknologi, kesenian, dan sistem mata pencaharian. Berbagai potensi daya tarik ini menjadi objek dalam mengembangkan ekowisata.
Identifikasi persepsi terhadap kondisi infrastruktur dan fasilitas, motivasi, preferensi, dan partisipasi dari stakeholder juga dilakukan dalam rangka pengembangan ekowisata. Hasilnya ditemukan bahwa secara umum baik pemerintah, pemangku adat, masyarakat lokal, maupun pengunjung menilai bahwa kondisi infrastruktur dalam kondisi sedang. Untuk fasilitas, pemangku adat dan pemerintah menilai dalam kondisi baik, sementara masyarakat lokal dan pengunjung menilai infrastruktur dalam kondisi sedang. Motivasi pemerintah, pemangku adat, dan masyarakat lokal berada pada kondisi yang tinggi. Preferensi dalam membangun tapak dan destinasi serta pemberdayaan masyarakat lokal juga
ditemukan tinggi. Hanya partisipasi masyarakat lokal yang masih dalam kondisi sedang. Meskipun demikian, secara umum hasil ini menunjukkan bahwa terdapat motivasi yang tinggi dari para stakeholder dalam pengembangan ekowisata di wilayah adat Ammatoa Kajang.
Pengembangan ekowisata hutan adat juga mengidentifikasi kesiapan masyarakat dan kelembagaan/instansi di tingkat tapak. Dalam studi ini, identifikasi kesiapan kelembagaan difokuskan pada dua kategori stakeholder yaitu pemerintah daerah meliputi Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bulukumba dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, serta lembaga masyarakat adat meliputi Kecamatan Kajang, Desa Tana Towa, dan Ammatoa. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembagaan masyarakat lokal secara umum memiliki tingkat kesiapan yang lebih baik dibandingkan pemerintah daerah. Dengan demikian, diperlukan upaya-upaya peningkatan kesiapan kelembagaan khususnya terhadap pemerintah daerah untuk mewujudkan pengembangan ekowisata di Hutan Adat Ammatoa Kajang. Program pengembangan ekowisata kemudian dirancang berdasarkan potensi daya tarik wisata, persepsi atas kondisi infrastruktur dan fasilitas, motivasi, preferensi, dan partisipasi dari para stakeholder, serta kesiapan masyarakat dan kelembagaan di tingkat tapak. Hasilnya berupa rancangan program dengan tiga bentuk program yaitu program wisata harian, bermalam, dan event tahunan. Program wisata harian dibuat untuk pengunjung yang memiliki waktu singkat. Paket wisata yang disediakan yaitu berkunjung ke rumah Ammatoa, tracking ke kawasan adat, menenun, dan kunjungan ke sanro kajang. Program wisata bermalam dibuat untuk pengunjung yang memiliki waktu luang lebih untuk merasakan nuansa menginap di homestay milik masyarakat adat, serta dapat memilih paket wisata seperti yang tertera pada paket wisata harian. Sementara untuk program event tahunan ditawarkan sebuah event bertajuk Festival Kajang yang meliputi upacara adat andingingi, penampilan kesenian adat Kajang, lokakarya, dan pameran