Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Penurunan Tegangan Permukaan dan Daya Hambat Escherichia coli dan Staphylococcus aureus oleh Ekstrak Daun Graptophyllum pictum (L.) Griff

    No full text
    Wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) merupakan salah satu tanaman obat unggulan khas Indonesia. Metabolit sekunder pada daun wungu berpotensi menurunkan tegangan permukaan dan menghambat aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai tegangan permukaan dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus oleh ekstrak air, metanol, dan etil asetat daun wungu. Pada penelitian ini, daun wungu diekstraksi menggunakan 3 jenis pelarut, yaitu air, metanol dan etil asetat. Penelitian dilanjutkan dengan mengukur tegangan permukaan menggunakan metode cincin du-Nouy dan aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun wungu dapat menurunkan tegangan permukaan dengan nilai Konsentrasi Misel Kritik (KMK) ekstrak etil asetat sebesar 0.18%, ekstrak metanol (0.40%), dan ekstrak air (0.84%). Ekstrak etil asetat daun wungu merupakan ekstrak terbaik dengan nilai KMK terendah yaitu 0.18%. Penelitian ini juga menunjukkan ekstrak air dan metanol daun wungu pada konsentrasi 10000 ppm tidak memiliki daya hambat terhadap bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

    Asymmetric Exchange Rate Pass-Through: Kasus Empiris di Kawasan ASEAN+3.

    No full text
    Penelitian mengenai Exchange Rate Pass-Through menggunakan pendekatan asimetris mulai banyak digunakan dalam beberapa tahun belakangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Exchange Rate Pass- Through terhadap Consumer Price Index pada periode 2000Q1 sampai 2018Q4 di kawasan ASEAN+3. Perbandingan model terbaik dilakukan pada model simetris ARDL (Autoregressive Distributed Lag) dan asimetris NARDL (Non-Linear Autoregssive Distributed Lag). Pada negara di kawasan ASEAN+3 dapat disimpulkan bahwa model asimetris NARDL lebih baik dibandingkan model simetris ARDL. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien Exchange Rate Pass- Through, pendekatan asimetris terbukti lebih baik dibandingkan dengan pendekatan simetris. Pada model asymmetric Exchange Rate Pass-Through, negara Indonesia tidak memiliki signifikansi pada simetris Exchange Rate Pass- Through, sedangkan dijangka panjang memliki signifikansi saat depresiasi pada model asymmetric Exchange Rate Pass-Through. Tidak terdapat complete passthrough di kawasanASEAN+3

    Analisis Kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Kegiatan Penyadapan Getah Pinus di KPH Sukabumi

    No full text
    Penyadapan getah pinus termasuk ke dalam kegiatan yang tergolong berbahaya dan memiliki berbagai kendala. Prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diterapkan untuk melindungi dan menghindarkan pekerja dari kecelakaan kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi K3, kepuasan kerja, gejala kelelahan kumulatif, keluhan otot, dan asupan gizi pada pekerja penyadap getah pinus di KPH Sukabumi. Kondisi K3 dianalisis dari hasil wawancara. Kecelakaan kerja yang terjadi berupa bagian tubuh terkena kadukul. Faktor-faktor yang mempengaruhi variabel terikat dianalisis dengan regresi logistik biner. Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah kontrak kerja. Gejala kelelahan yang paling banyak dikeluhkan oleh responden adalah kelelahan fisik. Keluhan musculoskeletal disorders yang paling banyak dirasakan pekerja terletak pada bagian lengan atas kanan, lengan bawah kanan, bahu kanan, dan betis kanan. Tingkat kecukupan energi dan status gizi responden yang dianalisis dengan metode food recall adalah normal

    Pembuatan Sistem Monitoring Kadar Glukosa Darah Berbasis Internet of Things (IoT).

    No full text
    Internet of Things (IoT) dapat dijadikan sarana penunjang dalam penanganan penyakit diabetes. Inovasi ini memungkinkan perangkat perawatan kesehatan terhubung dengan jaringan internet, sehingga data pasien dapat diperbaharui dan diakes secara real-time. Selain mempermudah akses, penggunaan IoT juga memberikan nilai tambah pada efesiensi biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang software system monitoring glukosa darah berbasis website sehingga pasien dapat melakukan pemeriksaan, konsultasi, dan melihat data rekam medis dari jarak jauh. Data hasil pemeriksaan disimpan didalam cloud dan ditampilkan secara online. ESP8266 digunakan sebagai mikrokontroller yang telah dilengkapi dengan modul WiFi, Thingspeak sebagai cloud, aplikasi online “Pantau Medis” sebagai dashboard yang mampu menampilkan presentasi data grafis. Aplikasi ini dibangun dengan Bahasa Hypertext Preprocessor (PHP) sebagai bahasa pemrogramannya. Peneliltian ini melibatkan pihak medis dalam pengambilan keputusan. Umpan balik yang diberikan kepada pasien berupa anjuran seperti resep obat, pola makan, dan kegiatan fisik yang harus dilakukan oleh pasien

    Pertumbuhan, Ekspresi Gen dan Respons Imunitas Udang Vaname Diberi Probiotik Bacillus NP5 dan Prebiotik Madu serta Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus

    No full text
    Kendala dalam budidaya udang vaname adalah penurunan kinerja pertumbuhan dan meningkatnya serangan penyakit, salah satunya penyakit vibriosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus. Beberapa strain bakteri V. parahaemolyticus dilaporkan sebagai agen penyebab penyakit acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) yang menyebabkan kegagalan produksi budidaya udang di Asia. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri V. parahaemolyticus pada udang vaname yakni dengan perbaikan respons imun melalui aplikasi probiotik, prebiotik dan sinbiotik. Probiotik merupakan mikroba hidup sebagai suplemen pakan yang bermanfaat bagi kesehatan inang dengan meningkatkan keseimbangan mikroba usus, sistem kekebalan, kualitas lingkungan, dan nilai gizi pakan. Prebiotik adalah bahan pangan yang tidak dapat dicerna yang memberikan efek menguntungkan bagi inangnya dengan cara merangsang pertumbuhan dan aktivitas sejumlah bakteri tertentu di usus sehingga meningkatkan kesehatan inang. Bila probiotik dan prebiotik digabung dalam suatu produk tunggal (sinbiotik), maka manfaatnya menjadi meningkat. Pada penelitian ini digunakan probiotik Bacillus sp. NP5 yang telah diuji mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan nila terhadap infeksi Streptococcus agalactiae. Prebiotik madu telah diuji dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun udang vaname terhadap infeksi V. parahaemolyticus dengan hasil terbaik pada perlakuan prebiotik madu 0.75%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan, ekspresi gen dan respons imun udang vaname yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5 dan prebiotik madu serta diinfeksi V. parahaemolyticus. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu probiotik Bacillus NP5, prebiotik madu, sinbiotik (probiotik Bacillus NP5 dan prebiotik madu), KP (tanpa probiotik dan prebiotik), masing-masing diuji tantang dengan V. parahaemolyticus, dan KN (tanpa probiotik dan prebiotik serta tidak diuji tantang). Udang vaname berukuran 2.59±0.05 g dipelihara selama 60 hari, kemudian diinfeksi dengan V. parahaemolyticus pada dosis LD50 kecuali KN. Pemberian pakan dilakukan sebanyak lima kali sehari secara feeding rate (FR 5%-12%). Parameter yang diukur meliputi kinerja pertumbuhan (tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan spesifik (LPS), rasio konversi pakan (RKP)), ekspresi gen {gen serine protein (SP), peroxinectin (PE) dan lipopolysaccharida and β 1,3-glucanbinding protein (LGBP)}, respons imun (total hemocyte count (THC), aktivitas phenoloxidase (PO), respiratory burst (RB)) dan tingkat kelangsungan hidup udang vaname setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik Bacillus NP5, prebiotik madu dan sinbiotik mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dengan hasil terbaik pada perlakuan sinbiotik. Nilai TKH pada perlakuan sinbiotik, probiotik Bacillus NP5 dan prebiotik madu berturut-turut sebesar 92.44%, 91.11% dan 95.56%, lebih tinggi (p<0.05) dibandingkan kontrol (85.78%). Nilai LPS tertinggi terdapat pada perlakuan sinbiotik yaitu sebesar 2.61±0.13% hari-1, diikuti oleh perlakuan probiotik Bacillus NP5 dan prebiotik madu dengan nilai masingmasing sebesar 2.43±0.09 % hari-1 dan 2.33±0.19 % hari-1. Nilai RKP perlakuan prebiotik madu, probiotik Bacillus NP5 dan sinbiotik berturut-turut sebesar 1.60±0.24, 1.65±0.08, dan 1.58±0.08, lebih baik (p<0.05) dibandingkan kontrol (2.24±0.37). Hasil pengukuran ekspresi gen SP, PE, dan LGBP udang vaname yang diberi prebiotik madu, probiotik Bacillus NP5 dan sinbiotik juga lebih baik dibanding perlakuan KP, baik setelah perlakuan maupun setelah uji tantang. Nilai ekspresi gen SP tertinggi terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik setelah perlakuan maupun pada 3 jam, 6 jam dan 24 jam setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Nilai ekspresi gen PE tertinggi terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik setelah perlakuan maupun pada 3 jam dan 6 jam setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Nilai ekspresi gen LGBP tertinggi juga terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik setelah perlakuan maupun pada 3 jam, 6 jam dan 24 jam setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Hasil pengukuran respons imun menunjukkan pemberian prebiotik madu, probiotik Bacillus NP5 dan sinbiotik mampu meningkatkan nilai THC, PO dan RB, baik setelah perlakuan maupun setelah diuji tantang dengan Vibrio parahaemolyticus. Nilai THC tertinggi terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik baik setelah perlakuan maupun setelah 3 jam, 6 jam, dan 24 jam uji tantang dengan V. parahaemolyticus. Nilai aktivitas PO tertinggi juga terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik setelah perlakuan maupun pada 3 jam, 6 jam, dan 24 jam setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Nilai aktivitas RB tertinggi juga terdapat pada perlakuan sinbiotik, baik baik setelah perlakuan maupun setelah 3 jam, 6 jam, dan 24 jam diuji tantang dengan V. parahaemolyticus. Sintasan udang vaname setelah diuji tantang dengan V. parahaemolyticus menunjukkan pada perlakuan prebiotik madu, probiotik Bacillus NP5, dan sinbiotik lebih tinggi (73.3-86.7%) dibandingkan perlakuan KP (50.0%). Hasil pengamatan histologi juga menunjukkan bahwa tingkat kerusakan jaringan hepatopankreas udang vaname pada ketiga perlakuan tersebut tidak separah kerusakan jaringan hepatopankreas udang vaname pada perlakuan KP. Kesimpulan, pemberian probiotik Bacillus NP5, prebiotik madu dan sinbiotik mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan, ekspresi gen dan respons imun udang vaname terhadap infeksi V. parahaemolyticus dengan hasil terbaik pada pemberian sinbiotik

    Struktur Anatomi Kayu Normal, Kayu Reaksi, dan Kayu Opposite pada Kayu Sungkai.

    No full text
    Kayu reaksi adalah cacat alami yang sering dijumpai pada kayu-kayu hutan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan karakteristik struktur anatomi termasuk panjang dan tebal dinding serat kayu normal, reaksi, dan kayu opposite pada sungkai (Peronema canescens). Struktur anatomi dikaji secara makro- dan mikroskopis, sedangkan panjang dan tebal dinding serat melalui sediaan maserasi. Hasil penelitian menunjukkan struktur anatomi kayu reaksi tidak berbeda dibandingkan struktur anatomi kayu normal dan oppositenya, kecuali kilap kayu, panjang dan diameter pori, panjang dan diameter lumen serat, tinggi jari-jari, jumlah untaian sel parenkim, dan keberadaan G-layer. Dibandingkan kayu normal, kayu reaksi lebih mengkilap, pori-pori lebih panjang dan lebih lebar, serat lebih pendek, diameter lumen serat lebih lebar, jari-jari lebih tinggi, jumlah untaian sel parenkim lebih banyak, dan memiliki G-layer. Ciri umum kayu sungkai yang diteliti adalah berwarna putih sampai kuning kecoklatan, agak mengkilap‒mengkilap, tekstur halus, serat lurus, berisi endapan putih, porositas tata lingkar, pori dominan soliter, perforasi sederhana, noktah antar pembuluh selang-seling, parenkim aksialnya beragam mulai vasisentrik, aliform hingga confluent dengan parenkim marjinal di batas riap tumbuh

    Penggunaan Baja Ringan Kanal C sebagai Perkuatan Kayu.

    No full text
    Meranti merah (Shorea spp.) merupakan salah satu jenis kayu yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, baik yang bersifat struktural maupun non struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penggunaan baja ringan kanal C sebagai perkuatan balok kayu dengan penambahan perlakuan berupa lubang. Sampel yang digunakan berupa balok berukuran 7.3 cm x 8 cm x 100 cm sebanyak dua belas buah yang diberikan perlakuan lubang yaitu tanpa lubang, satu lubang, dua lubang, dan tiga lubang. Balok tersebut diperkuat baja ringan kanal C dengan ketebalan 0.65 mm dan 0.75 mm. Pengujian sifat fisis dan mekanis meliputi kadar air, kerapatan, berat jenis, kuat lentur, kekakuan, dan daktilitas kayu yang mengacu pada standar ASTM D 2395-14 dan ASTM D 143-94. Hasil pengujian menunjukkan penggunaan baja ringan sebagai perkuatan pada kayu dengan perlakuan lubang meningkatkan nilai kuat lentur dan daktilitas, sementara menurunkan nilai kekakuan dari kayu. Nilai kuat lentur dan daktilitas tertinggi terdapat pada kayu tanpa baja ringan dan kayu dengan baja ringan ketebalan 0.75 mm dengan perlakuan satu lubang yaitu sebesar 550.009 kg/cm2 dan 4.95. Nilai kekakuan tertinggi terdapat pada kayu dua lubang tanpa baja yaitu sebesar 109.097 kg/cm

    Pengaruh Bagian Talus dan Jenis Larutan Perendam terhadap Karakteristik Kalsium Alginat dari Sargassum polycystum

    No full text
    Sargassum polycystum merupakan salah satu jenis rumput laut coklat (Phaeophyta) yang dapat menghasilkan senyawa fikokoloid yaitu alginat. Jenis alginat yang dihasilkan pada penelitian ini berupa kalsium alginat yang didapatkan dengan cara menambahkan kalsium klorida pada filtrat hasil ekstraksi. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh bagian talus dan jenis larutan perendam terhadap kandungan dan karakteristik kalsium alginat dari Sargassum polycystum. Bagian rumput laut untuk produksi kalsium alginat diambil dari bagian talus (ujung, tengah, dan pangkal) yang direndam dalam larutan KOH 0.7%, NaOH 0.7%, dan HCl 0.7%. Kalsium alginat yang dihasilkan dilakukan analisis rendemen, kadar abu, kadar air, nilai pH, viskositas, kekuatan gel, dan derajat putih. Perbedaan bagian talus dan jenis larutan perendam memberi pengaruh nyata terhadap rendemen, viskositas, dan kekuatan gel. Karakteristik kalsium alginat terpilih yaitu terdapat pada faktor talus bagian pangkal dengan jenis larutan KOH 0.7% yang memiliki rendemen 55.57%, kadar abu 41.27%, kadar air 7.13%, nilai pH 8.35, viskositas 120.8 cP, kekuatan gel 132.0 g/cm2, dan derajat putih 55.57%

    Kinerja sektor kesehatan masyarakat di provinsi Aceh (Indonesia).

    No full text
    Makalah ini menganalisis kinerja sektor kesehatan masyarakat di provinsi Aceh, dimana provinsi ini terdiri dari 17 kabupaten dan 5 kota. Indikator yang diukur dalam penelitian ini adalah yang terkait dengan efisiensi. Berdasarkan studi-studi terdahulu dalam pengukuran efisiensi, penelitian ini menggunakan metode non-parametrik yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) untuk menjawab masalah-masalah di dalam penelitian ini. Walaupun metode yang diajukan dan digunakan dapat diaplikasikan untuk beberapa sektor selain kesehatan, namun riset ini hanya focus terhadap evaluasi efisiensi di sektor kesehatan di provinsi Aceh. Aceh dipilih dikarenakan penelitian pada ruang lingkup studi ini masih terlihat terbatas di Aceh. Provinsi ini juga spesial dikarenakan menerima dana otonomi khusus dari pemerintah Indonesia, namun berdasarkan data terbaru anak stunting tertinggi se-Indonesia terdapat di Aceh. Dengan mengukur kinerja sektor kesehatan di Aceh, penelitian ini dapat berkontribusi untuk kebijakan pada masing-masing daerah di Aceh untuk memperbaiki kinerja lebih baik. Ada dua tujuan dalam penelitian ini, yaitu: pertama, untuk menganalisis variabel input dan output yang digunakan dalam penelitian ini. Kedua, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis kinerja dalam hal efisiensi untuk semua kabupaten/ kota di provinsi Aceh. Penelitian ini memiliki 2 temuan yang dapat diaplikasikan untuk pengambilan kebijakan. Pertama, penelitian ini menjelaskan pengukuran kinerja sektor kesehatan di Aceh yang menggunakan 2 macam output dan 3 jenis input variable. Diantara 23 kabupaten/ kota di Aceh, tingkat harapan hidup tertinggi adalah di Lhokseumawe dan Banda Aceh (71). Sebaliknya, nilai terendah sebesar 63 ada di kabupaten Subulussalam. Variable output lainnya adalah tingkat kehidupan balita, dimana nilai tertinggi adalah 999 dari 1000 balita yang hidup di Aceh Tenggara dan nilai teren per 1000 bayi di kabupaten Simelue. Selain dua poin tersebut, penelitian ini juga berguna untuk mengukur kinerja efisiensi. Dari pengukuran input menunjukkan bahwa dari seluruh provinsi Aceh, kurang dari 30 % dikategorikan efisien. Ada beberapa poin penting dari hasil ini. Pertama, Banda Aceh yang merupakan ibu kota provinsi merupakan kinerja terbaik dan kabupaten Pidie sebaliknya. Kedua, salah satu variable input yang digunakan adalah jumlah puskesmas namun varibel in ternyata tidak memberikan feel yang signifikna untuk menghasilkan kabupaten/ kota yang efisienyang mana dapat dilihat perbedaan Banda Aceh dan Pidie. Untuk bagian pengambilan kebijakan, studi ini menjelaskan bagaimana mengontrol atau mengatur tiga jenis variable input agar mencapai tingkat efisiensi. Terdapat 6 kabupaten/ kota yang dikategorikan efisien (ditulis cetak tebal) yaitu: Aceh Tenggara, Aceh Barat, Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, dan Subulussalam. Untuk kasusu keenam daerah yang sudah mencapai tingkat efisien, tidak diperlukan lagi untuk mengurangi atau menambah variable input. Sebaliknya untuk 17 kabupaten/ kokta masih harus mengatur variable inputnya untuk mencapai tingkat efisiensi. Contohnya, Langsa harus memperbaiki kinerjanya dengan mengurangi jumlah perawat sebanyak 221 orang dan jumlah dokter sebanyak 41 orang. Daerah lain yang agak berbeda dengan Langsa misalnya adalah Pidie dan Gayo Lues yang hanya harus mengurangi jumlah perawat sebyak 89 dan 48 orang, secara berurutan

    Pengembangan Dosis Oil Spill Dispersant (OSD) untuk Bioremediasi Tanah Tercemar Minyak Berat dengan Teknik Bioslurry

    No full text
    Kegiatan industri perminyakan menghasilkan limbah seperti petroleum hydrocarbon yang merusak lingkungan tanah karena terjadi perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Oil Spill Dispersant (OSD) merupakan produk yang dapat menguraikan limbah minyak menjadi butiran-butiran kecil sehingga dapat terdispersi secara alami. Percobaan laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum proses bioremediasi dengan teknik lumpur biologis (bioslurry) pada berbagai kombinasi waktu inkubasi dan Dispersant to Oil Ratio (DOR) OSD dengan penambahan bakteri pendegradasi minyak pada tanah yang terkontaminasi minyak bumi dan menerapkan kondisi optimum dari skala laboratorium (500 mL) ke skala yang lebih besar (scale up 32 L) telah dilaksanakan di Laboratorium Surfaktan dan Bio-energy Research Center (SBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) pada bulan Januari – Desember 2018. Aplikasi bioremediasi dibagi ke dalam dua tahap, yaitu (1) penelitian bioremediasi pada skala laboratorium untuk mengetahui dosis optimal OSD dari proses bioremediasi; dan (2) penelitian bioremediasi scale up (32 L) dari hasil dosis optimum OSD skala laboratorium. Percobaan pertama ini menggunakan Response Surface Method (RSM) dengan dua faktor, yaitu faktor waktu inkubasi (X1) dan DOR (X2). Variabel yang diamati pada percobaan ini adalah persen degradasi Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) (Y1), pH (Y2), total mikrob (Y3), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Perlakuan optimum dari hasil RSM, dilanjutkan ke tahap scale up dengan reaktor berukuran 32 L. Kultivasi dilakukan pada Slurry bioreaktor dengan kecepatan 120 rpm pada suhu ruang selama 28 hari. Parameter yang diamati pada percobaan scale up adalah TPH, pH, total mikrob, dan COD dan GC-MS Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu dan kombinasinya dengan DOR nyata menurunkan TPH tanah, meningkatkan tingkat kemasaman tanah, dan meningkatkan total B. megaterium dalam tanah, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap COD larutan tanah. Hasil optimasi OSD dengan RSM menunjukkan bahwa semakin tinggi DOR OSD dan semakin lama waktu bioremediasi, maka semakin tinggi pula tingkat biodegradasi TPH. Kondisi optimum tercapai pada DOR 1.16:1 dan waktu 7 hari yang mampu mendegradasi TPH sebesar 54.30%. Kondisi optimum pH (8.825) tercapai pada DOR 1:1 dan waktu bioremediasi 5 hari, serta kondisi optimum jumlah bakteri B. megaterium BM-PFFP (8.35 log CFU/g) tercapai pada DOR 0.86:1 dan waktu bioremediasi 7 hari. Oil spill dispersant (OSD) meningkatkan COD larutan tanah baik pada tanah tidak tercemar maupun tanah tercemar minyak berat. Berdasarkan hasil penelitian skala 32 L, perlakuan OSD SBRC+B.megaterium signifikan berbeda nyata terhadap perlakuan kontrol dan OSD SBRC pada penurunan TPH tanah, perubahan nilai kemasaman tanah (pH), jumlah populasi mikrob tanah, dan kandungan nilai COD larutan tanah. Kombinasi OSD SBRC + BM-PFFP mampu mendegradasi hidrokarbon dari 105000 mg Kg-1 menjadi 9681 mg Kg-1 dengan efisiensi degradasi sebesar 90.78%. Hasil analisis komponen minyak bumi melalui GCMS, penggunaan OSD SBRC mampu mengurangi jumlah kelimpahan senyawa hidrokarbon dibandingkan tanpa pemberian OSD (kontrol)

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇