Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat pada Wisata Pesisir di Yogyakarta (Kasus: Kelompok Sadar Wisata Baron Indah, Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta).

    No full text
    Berdasarkan UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pariwisata adalah macam-macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Salah satu kawasan pariwisata yang dimiliki Indonesia adalah wilayah pesisir. Pengembangan kawasan wisata dapat dilakukan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam rangka menciptakan lapangan pekerjaan baru dan menyejahterakan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat kesejahteraan anggota Pokdarwis Baron Indah dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Baron. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner dan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara serta observasi lapang. Teknik dalam penentuan responden penelitian menggunakan cluster accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota Pokdarwis Baron Indah berada pada tingkat partisipasi sedang. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat partisipasi dengan tingkat kesejahteraan

    Hubungan Kepuasan Pelayanan Makanan terhadap Tingkat Kecukupan Pasien Diet Lunak di RS Ummi Bogor

    No full text
    Kepuasan pasien adalah sejauh mana pasien merasa bahwa kebutuhan dan harapannya dipenuhi oleh pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan kepuasan pelayanan makanan terhadap tingkat kecukupan pasien diet lunak yang dirawat di RS Ummi Bogor. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional melibatkan 50 subjek. Data karakteristik dan tingkat kepuasan pasien dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sekitar separuh (54%) subjek menderita PTM, hampir dua per tiga (64%) subjek berstatus gizi normal, dan memiliki tingkat kecukupan gizi yang baik. Asupan makanan subjek laki-laki lebih banyak daripada subjek perempuan. Kepuasan subjek terhadap pelayanan makanan rumah sakit sudah baik dengan rating scale 61-80 %, yang artinya puas. Variabel yang berhubungan signifikan dengan tingkat kepuasan adalah asupan karbohidrat (p=0.015) dan tingkat kecukupan lemak (p=0.046). Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan pelayanan makanan terutama pada indikator rasa, mengingat salah satu alasan subjek tidak menghabiskan makananya adalah karena rasa yang hambar

    Perbaikan Kemampuan Mikrob Multifungsi Pelarut Fosfor dan Kalium (Aspergillus costaricaensis dan Staphylococcus pasteuri) menggunakan Iradiasi Gamma

    No full text
    Pupuk hayati merupakan salah satu faktor penting dalam perbaikan kualitas tanah. Pupuk hayati dapat meningkatkan ketersediaan hara tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Iradiasi gamma merupakan salah satu alternatif untuk menginduksi perbaikan kemampuan mikrob. Mutu pupuk hayati ditentukan oleh beberapa faktor, pertama adalah keefektifan mikrob yang digunakan dalam meningkatkan ketersediaan hara seperti hara P dan K. Kedua, bahan pembawa yang mampu menjaga populasi mikrob selama penyimpanan, sebelum inokulan tersebut digunakan. Ketiga, keefektifan mikrob yang digunakan saat pengujian di rumah kaca. Keempat, keefektifan mikrob yang digunakan saat pengujian di lapang. Pada penelitian ini digunakan mikrob yang memiliki kemampuan melarutkan P dan K yaitu Aspergillus costaricaensis (A. costaricaensis) dan Staphylococcus pasteuri (S. pasteuri) Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengkaji kemampuan mikrob multifungsi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) yang telah diiradiasi gamma, (2) mengkaji viabilitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada bahan pembawa gambut dan arang sekam, (3) mengkaji efektivitas A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di rumah kaca, (4) mengkaji efektivitas mutan A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di lapang. Mikrob yang digunakan pada penelitian ini merupakan koleksi mikrob tanah pelarut P dan K Laboratorium Bioteknologi Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University. Mikrob tersebut adalah induk dan mutan bakteri S. pasteuri serta induk dan mutan fungi A. costaricaensis. Percobaan pertama, yaitu pengujian kemampuan mikrob multifungi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) sebelum dan sesudah penyimpanan. Pada percobaan pertama ini juga dilakukan analisis asam organik yang dihasilkan oleh mikrob tersebut dalam melarutkan P dan K. Percobaan tahap kedua, yaitu pengujian viabilitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada bahan pembawa gambut (gambut dari Rawa Pening) dan arang sekam. Penghitungan total populasi mikrob dilakukan dengan metode Total Plate Count (TPC) pada media spesifik Pikovskaya dan Alexandrov. Percobaan ketiga, yaitu pengujian efektivitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada pertumbuhan jagung di rumah kaca. Adapun parameter yang diukur yaitu tinggi, berat kering akar dan tajuk, P tersedia tanah, K-dd tanah, kadar hara P dan K, serta populasi mikrob di rizosfer jagung. Percobaan keempat yaitu pengujian efektivitas mutan A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di lapang. Adapun parameter yang diukur yaitu tinggi, berat kering akar, berat kering tajuk, P tersedia tanah dan K-dd tanah. Percobaan pertama menunjukkan perbaikan kemampuan A. costaricaensis yang telah diiradiasi gamma dalam melarutkan P dan perbaikan kemampuan S. pasteuri yang telah diiradiasi gamma dalam melarutkan P dan K. Mutan A. costaricaensis 2,5 (dosis iradiasi 2,5 kGy) mampu meningkatkan kelarutan P (Ca3(PO4)2) tertinggi mencapai 202,2 ppm P pada pengujian setelah penyimpanan. Mutan S. pasteuri 2,5 (dosis iradiasi 2,5 kGy) mampu meningkatkan kelarutan P (Ca3(PO4)2) sebesar 2,2 ppm P pada pengujian setelah penyimpanan. Mutan S. pasteuri 2,5 juga menunjukkan peningkatan kelarutan K (feldspar) tertinggi sebesar 5 ppm pada pengujian sebelum penyimpanan. Perbaikan kemampuan mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri ini didukung oleh kemampuan mikrob tersebut dalam menghasilkan asam organik. Mutan A. costaricaensis 2,5 menghasilkan asam asetat, laktat, sitrat, malat dan oksalat dengan jumlah total asam organik yang dihasilkan sebesar 3,79 ppm. Mutan S. pasteuri menghasilkan asam asetat, laktat, sitrat dan oksalat dengan jumlah total asam organik yang dhasilkan sebesar 4,3 ppm. Iradiasi gamma memicu mutasi yang dapat menyebabkan terjadinya variasi genetik. Variasi genetik berperan penting dalam proses adaptasi. Dalam hal ini mutasi akan mempengaruhi kemampuan adaptasi mikrob mutan dalam melarutkan P dan K yang sukar larut. Hasil percobaan kedua menunjukkan bahan pembawa gambut mampu mempertahankan populasi mikrob induk dan mutan (A. costaricaensis dan S. pasteuri) lebih stabil dibandingkan dengan bahan pembawa arang sekam selama enam minggu penyimpanan. Hasil penghitungan populasi fungi A. costaricaensis menunjukkan bahwa bahan pembawa gambut mampu mempertahankan viabilitas fungi sampai dengan log 6,78 (6,15 x 106 CFU/g). Populasi bakteri S. pasteuri pada bahan pembawa gambut mampu dipertahankan sampai dengan log 8,17 (1,48 x 108 CFU/g). Hasil percobaan ketiga menunjukkan inokulasi S. pasteuri dan A. costaricaensis (induk dan mutan) menunjukkan efek yang positif terhadap pertumbuhan jagung. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pengukuran parameter tinggi (152,4 cm), berat kering tajuk (78 g), K tanaman (1,33%) serta populasi mikrob tanah pada medium Pikovskaya (6,69 x 106 CFU/g) menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. Pengukuran pada parameter K-dd tanah (53,90 ppm), kadar P tanaman (0,50%) dan populasi mikrob tanah pada medium Alexandrov (6,03 x 106 CFU/g) menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan S. pasteuri 2,5. Aplikasi isolat mutan mampu melarutkan P dan K di tanah, sehingga meningkatkan ketersediaan hara P dan K serta kadar hara P dan K yang berkaitan dengan peningkatan berat kering akar dan tajuk. Hasil percobaan keempat menunjukkan inokulasi mutan mikrob mampu mereduksi penggunaan pupuk P dan K sampai dengan 50%. Hasil ini ditunjukkan pada perlakuan P10 (kombinasi batuan P dan KCl (dosis 50%) dengan mutan A. costaricaensis 2,5) dan perlakuan P6 (kombinasi batuan P dan feldspar (dosis 50%) dengan mutan A. costaricaensis 2,5). Perlakuan P10 dan P6 menghasilkan berat kering tajuk secara berurutan sebesar 38,10 g dan 34,77 g. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan berat kering tajuk pada kontrol. Berat kering tajuk yang dihasilkan oleh kontrol P3 ( kombinasi batuan P dan KCl (dosis 100%) dan P1 (kombinasi batuan P dan feldspar (dosis 100%)) secara berurutan yaitu 29,19 g dan 15,63 g. Perlakuan P10 dan P6 juga menunjukkan berat kering tajuk yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan P4 (31,21 g) yang menggunakan sumber pupuk P dan K mudah larut (kombinasi pupuk SP36 dan KCl dosis 100%). Kesimpulan umum yang dihasilkan dalam serangkaian percobaan ini adalah fungi (A. costaricaensis) yang telah diiradiasi gamma dengan dosis 2,5 kGy mengalami perbaikan kemampuan dalam melarutkan P. Bakteri (S. pasteuri) yang telah diiradiasi gamma dengan dosis 2,5 kGy mengalami perbaikan kemampuan dalam melarutkan P dan K. Perbaikan kemampuan mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 ini didukung oleh kemampuan mikrob tersebut dalam menghasilkan asam asetat yang lebih tinggi dibandingkan dengan isolat induk. Bahan pembawa gambut Rawa Pening mampu mempertahankan populasi A. costaricaensis dan S. pasteuri lebih stabil dibandingkan arang sekam. Mikrob multifungsi P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) menunjukkan efek positif terhadap pertumbuhan jagung di rumah kaca. Kadar K tanaman, tinggi tanaman, berat kering tajuk serta populasi mikrob pada medium Pikovskaya menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. P tanaman, K-dd tanah serta populasi mikrob pada medium Alexandrov menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan S. pasteuri. Inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan S. pasteuri 2,5 pada percobaan lapang mereduksi penggunaan pupuk P dan K sampai dengan 50% pada perlakuan kombinasi antara sumber P atau K mudah larut dengan sumber P atau K sukar larut, maupun kombinasi perlakuan sumber P dan K sukar larut (dosis 50%). Berat kering tajuk, tinggi tanaman serta P tersedia tanah menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan, pertama, yaitu metode peningkatan kemampuan mikrob multifungsi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) dengan iradiasi gamma dosis 2,5 kGy. Kedua, yaitu penggunaan bahan pembawa gambut Rawa Pening untuk menjaga kestabilan populasi A. costaricaensis dan S. pasteuri. Ketiga yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 dikombinasikan dengan sumber P dan K sukar larut seperti batuan P maupun batuan K untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Keempat yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 dengan kombinasi antara pupuk anorganik yang mudah larut dengan pupuk P atau K organik yang sukar larut. Kelima yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 untuk melarutkan P dan K pada tanah yang mengandung sumber P dan K yang tinggi, namun dalam kondisi tidak tersedia

    Formulasi Makanan Selingan Berbasis Labu Kuning (Cucurbita moschata) dalam Bentuk Cair untuk Lansia

    No full text
    Diabetes merupakan kondisi kronis yang terjadi ketika pankreas tidak cukup memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Negara Indonesia berada di posisi ke-6 dari 10 negara dengan populasi diabetes tertinggi. Usia penderita diabetes di Indonesia terbanyak pada usia 55-74 tahun dengan presentase sebesar 39.2%, rentang usia tersebut termasuk pada kelompok pra lansia dan lansia. Proses penuaan berimplikasi pada lemahnya fungsi otot secara fisiologis, kehilangan gigi alami dan kordinasi gerakan yang dapat menyebabkan kesulitan dalam proses makan. Lansia beresiko lebih tinggi terkena disfagia karena penyakit yang mempengaruhi mekanisme menelan. Modifikasi sifat makanan biasa menjadi cair akan membuat makanan lebih mudah dan aman untuk ditelan. Pemberian makanan dalam bentuk cair dimungkinkan dapat membantu lansia yang mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan padat. Makanan dalam bentuk cair merupakan makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental yang dapat diberikan secara oral. Makanan dalam bentuk cair dapat digunakan sebagai alternatif pilihan makanan selingan untuk penderita diabetes seperti snack bar, cookies dan wafer yang pada umumnya memiliki tekstur keras. Konsumsi makanan tinggi serat direkomendasikan untuk penderita diabetes karena dapat membantu dalam kontrol glukosa darah. Labu kuning merupakan pangan sumber serat serta memiliki aktivitas penghambatan enzim alfa glukosidase dan efek hipoglikemik, sehingga berpotensi untuk membantu menurunkan resiko perkembangan penyakit diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan formula makanan dalam bentuk cair menggunakan bahan dasar labu kuning dan menentukan formula terpilih berdasarkan uji organoleptik; (2) menganalisis dan membandingkan sifat fisik (viskositas), kandungan gizi (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan kadar serat pangan) formula labu kuning terpilih, formula tempe dan formula komersil; (3) menganalisis laju penghambatan enzim alfa glukosidase formula labu kuning terpilih, formula tempe dan formula komersil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penyusunan formula berdasarkan jumlah tepung labu kuning yang terdiri dari tiga formula yaitu F1 (70 g), F2 (80 g) dan F3 (90 g). Penentuan formula berdasarkan modifikasi dari formula tempe, perhitungan zat gizi formula labu kuning berdasarkan syarat diet diabetes dan jumlah serat pangan dalam tepung labu kuning. Uji organoleptik menggunakan skala hedonik dan mutu hedonik dengan panelis semi terlatih. Viskositas diukur dengan viscometer. Kandungan zat gizi didapatkan dari analisis proksimat, kadar serat dan penghambatan enzim alfa glukosidase dianalisis dengan metode enzimatik. Hasil penilaian hedonik menunjukkan bahwa formula F3 dengan jumlah tepung labu kuning sebanyak 90 g merupakan formula terpilih. Formula F3 kemudian dibandingan dengan formula tempe dan komersil. Hasil penilaian hedonik pada formula labu kuning terpilih, tempe, dan komersil menunjukkan bahwa formula komersil merupakan formula yang lebih disukai dibandingkan labu kuning dan tempe. Kandungan gizi formula labu kuning yaitu protein 1.42%, lemak 1.18%, karbohidrat 10.85% dan serat pangan 5.81%. Kandungan gizi formula tempe yaitu protein 3.13%, lemak 3.7%, karbohidrat 13.58% dan serat pangan 5.34%. Sementara itu, formula komersil memiliki kandungan protein 3.65%, lemak 2.8%, karbohidrat 17.48% dan serat pangan 2.81%. Kandungan karbohidrat, protein dan lemak formula komersial memenuhi syarat diet diabetes dibandingkan dengan formula labu kuning dan tempe. Formula labu kuning memiliki kadar serat yang cenderung lebih tinggi dibandingkan kedua formula. Viskositas formula labu kuning, tempe dan komersil masing-masing sebesar 6.5, 7.5 dan 1.5 cP dikategorikan dalam viskositas cair. Nilai aktivitas inhibisi α-glukosidase formula labu kuning sebesar 0.21%, tempe sebesar 39.8% sedangkan formula komersil tidak menunjukkan aktivitas inhibisi. Formula labu kuning berpotensi sebagai alternatif makanan selingan berbentuk cair untuk penderita diabetes karena memiliki serat yang tinggi

    Hubungan Perubahan Kualitas Diet dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe Dua pada Orang Dewasa.

    No full text
    Kepatuhan terhadap Alternate Healthy Eating Index (AHEI) 2010 dalam mengevaluasi kualitas diet dapat memengaruhi kadar glukosa darah penderita diabetes melitus tipe dua (DMT2), yang berisiko pada penyakit komplikasi dan kematian (Coppel et al. 2010). Diet kaya akan konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan; konsumsi rendah daging merah/olahan dan minuman berpemanis telah terbukti meningkatkan kontrol glikemik serta menurunkan risiko penyakit komplikasi pada penderita DMT2 (Ley et al. 2014). Penelitian mengenai penilaian kualitas diet pada penderita DMT2 di antaranya telah dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris (Andrews et al. 2011; Berkowitz et al. 2014). Sementara, di Indonesia penelitian mengenai penilaian kualitas diet menggunakan instrumen AHEI-2010 belum banyak digunakan, khususnya pada orang setelah diagnosa DMT2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perubahan kualitas diet dengan kadar glukosa darah penderita DMT2 pada orang dewasa selama dua tahun pemantauan. Tujuan khusus penelitian ini yaitu 1) Menganalisis perubahan kualitas diet penderita DMT2; 2) Menganalisis perubahan kadar glukosa darah penderita DMT2; 3) Menganalisis hubungan perubahan kualitas diet dengan kadar glukosa darah penderita DMT2. Penelitian ini dianalisis menggunakan data sekunder dari “Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular” oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Subjek yang memenuhi syarat adalah 105 penderita DMT2 usia 25-65 tahun. Data konsumsi pangan dikumpulkan melalui food recall 24 jam. Penilaian kualitas diet mengacu pada AHEI-2010 (terdiri dari 11 komponen) yang telah dimodifikasi berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Indonesia terutama pada porsi komponen pangan (Kemenkes RI 2014). Kandungan polyunsaturated fatty acids (PUFA), lemak trans dan omega 3 dikonversi menggunakan food composition table Australia, Thailand dan USDA (AUSNUT 2016; Judprasong et al. 2018; USDA 2019). Kadar glukosa darah diperiksa melalui glukosa darah puasa (GDP) dan glukosa darah dua jam setelah pembebanan glukosa 75 g (GD2PP). Data konsumsi pangan dan kadar glukosa darah diambil sebanyak dua kali yaitu saat pertama kali didiagnosa (Awal pemantauan) dan dua tahun setelah diagnosa DMT2 (Akhir pemantauan). Wilxocon test, paired t-test, independent sample t-test, one way anova test dan regresi linier Generalized Estimating Equation (GEE) digunakan dalam analisis ini. Hasil penelitian menunnjukkan sebagian besar jenis kelamin subjek adalah perempuan dan berusia ≥45 tahun, menempuh pendidikan terakhir sampai dengan tamat SLTP/sederajat dan tamat SLTA/sederajat, memiliki status bekerja. Mayoritas subjek memiliki perilaku yang baik ditandai dengan tingkat aktivitas fisik cukup, tidak memiliki kebiasan merokok dan status kesehatan mental yang baik. Akan tetapi lebih sedikit subjek yang menggunakan terapi diabetes dalam pengendalian kadar glukosa darah. Lebih dari setengah subjek tidak memiliki iii riwayat diabetes keluarga. Status obesitas pada sebagian subjek masih tinggi dengan rata-rata IMT 28.4 kg/m2. Total skor dari kualitas diet lebih tinggi pada awal pemantauan 54.9 dibandingkan akhir pemantauan 53.8. Total skor kualitas diet menurun 1.1 poin (kualitas diet memburuk) dan tidak terdapat perbedaan atau penurunan signifikan (p≥0.05). Sebanyak 53.5% subjek menunjukkan skor menurun (kualitas diet memburuk) dan 46.7% menunjukkan skor meningkat (kualitas diet membaik). Perubahan dalam kualitas diet dapat terjadi karena menurunnya konsumsi sayur-sayuran, meningkatnya konsumsi daging merah/olahan dan natrium. Hal ini dapat menyumbang penurunan total skor dari kualitas diet atau mengarah pada perubahan kualitas diet yang memburuk. Penurunan skor yang signifikan hanya terjadi pada komponen daging merah/olahan (p<0.05), sementara untuk komponen lainnya (sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, minuman berpemanis, kacang-kacangan, lemak trans, omega 3, PUFA, natrium dan alkohol) tidak menunjukkan penurunan atau peningkatan dan perbedaan yang signifikan (p≥0.05) pada awal hingga akhir pemantauan. Selama masa pemantauan, subjek memiliki kepatuhan yang rendah terhadap kualitas diet. Berdasarkan total energi dan zat gizi makro (protein, lemak dan karbohidrat) diketahui bahwa pada akhir pemantaun memiliki rata-rata yang lebih tinggi daripada awal pemantaun. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dan perbedaan signifikan pada energi, protein dan lemak (p<0.05), tetapi tidak dengan karbohidrat (p≥0.05). Kadar GDP 112.7 mg/dL dan GD2PP 225.3 mg/dL pada awal pemantauan lebih rendah dibandingkan kadar GDP 123.5 mg/dL dan GD2PP 228.9 mg/dL pada akhir pemantauan. Kadar GDP dan GD2PP mengalami peningkatan (kontrol glikemik buruk), masing-masing sebesar 10.8 mg/dL dan 3.6 mg/dL, akan tetapi tidak menunjukkan peningkatan dan perbedaan yang signifikan pada awal dan akhir pemantauan (p≥0.05). Subjek belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah dengan baik untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam kisaran nomal. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perubahan kualitas diet dengan kadar GDP dan GD2PP (p≥0.05). Meskipun demikian, diketahui bahwa perubahan menurun dari kualitas diet selama pemantauan berkontribusi terhadap peningkatan kadar GDP 12.1 mg/dL dan kadar GD2PP 17.8 mg/dL yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perubahan meningkat dari kualitas diet. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena skor perubahan dalam kualitas diet mungkin terlalu kecil. Akan tetapi, hubungan signifikan terjadi antara terapi diabetes dan status obesitas dengan kadar GDP (p<0.05). Rekomendasi diet yang perlu diperbaiki bagi penderita diabetes adalah hindari konsumsi minuman instan berpemanis atau yang mengandung gula, meningkatkan konsumsi sayur-sayuran setidaknya dua porsi/hari, buah-buahan segar yang mengandung fruktosa rendah-sedang (jeruk, pisang dan papaya) setidaknya lima porsi/hari, kacang-kacangan setidaknya dua porsi/hari, pangan yang mengandung omega 3 dan omega 6 (biji-bijian utuh, ikan segar dan minyak ikan), serta membatasi konsumsi lemak trans (pangan digoreng dengan cara deep frying dan produk-produk pangan yang diolah menggunakan HVO seperti biskuit, krakers, chips)

    Analisis Pemasaran Tenun Ulos di Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara

    No full text
    Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, memiliki lebih dari 300 kelompok etnis, dan 1.340 etnis. Hal ini menjadi daya tarik pariwisata dan memperkuat kedudukan Indonesia di internasional. Kelompok etnis Batak di Tapanuli Utara terkenal dengan tenunannya yaitu ulos. Industri tenun ulos mendominasi beberapa kecamatan di Tapanuli Utara dan menjadi sumber pendapatan utama bagi kaum perempuan di beberapa desa. Namun, pemasaran tenun ulos tradisional dan online belum menjangkau konsumen yang lebih luas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemasaran tenun ulos sehingga tercipta strategi yang lebih menguntungkan dan menjangkau lebih banyak konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, matriks SWOT, dan matriks QSP untuk pemasaran tradisional dan Partial Least Square Modeling Structural Equation Modeling (SEM PLS) untuk pemasaran online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang cocok untuk pemasaran tenun ulos adalah memperluas lini produk sehingga tenun ulos dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan kegunaan. Penelitian ini juga membuktikan bahwa penerapan pemasaran online memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan pemasaran tenun ulos

    Pengaruh Tingkat Adopsi Teknologi Budidaya Padi Sawah (Oryza sativa L.) terhadap Produktivitas Padi Sawah dan Pendapatan Petani di Desa Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah

    No full text
    Padi sebagai komoditas pangan utama terus mengalami peningkatan permintaan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk sehingga perlu adanya adopsi teknologi budidaya yang dapat meningkatkan produktivitas padi. Penelitian ini bertujuan mempelajari korelasi antara tingkat adopsi teknologi budidaya padi sawah dengan produktivitas padi sawah dan pendapatan petani. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga dengan metode survey melalui in depth interview menggunakan kuesioner. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 33 petani responden yang dipilih dengan metode sensus pada 13 petani padi IPB 3S dan metode purposive sampling pada 20 petani padi varietas lain selain IPB 3S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi budidaya IPB Prima dan PTT Padi Sawah di lokasi penelitian masing-masing pada kisaran 53.13-72.66% dan 55.26-76.32%. Petani yang melakukan adopsi teknologi sesuai anjuran memiliki tingkat produktivitas padi dan pendapatan lebih tinggi dibandingkan petani yang tidak melakukan adopsi teknologi sesuai anjuran. Faktor yang berpengaruh terhadap adopsi teknologi oleh petani yaitu tingkat pendidikan dan luas lahan

    Pendugaan Luas Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) berdasarkan Analisis Spektral Data Satelit

    No full text
    Padi adalah tanaman pangan utama, tidak hanya di Indonesia tetapi di Asia dan juga di dunia. Produksi dan konsumsi beras melibatkan lebih dari 250 juta petani dan 3.3 miliar konsumen. Salah satu hama yang paling umum menyerang padi adalah wereng batang cokelat (WBC) (Nilaparvata lugens Stal). Penelitian ini bertujuan mengestimasi luas serangan WBC pada padi dengan menggunakan analisis spektral data satelit. Metode dibagi menjadi lima tahap yaitu Persiapan data, kegiatan lapangan, penentuan awal musim tanam, analisis indeks vegetasi, estimasi luas serangan. Persiapan data terdiri dari pengunduhan data, proyeksi data, pemotongan gambar dan digitasi. Kegiatan lapangan dilakukan untuk validasi dan data historis serangan WBC di daerah penelitian. Penentuan tanggal tanam dilakukan dengan melihat pola tahunan indeks vegetasi dan melihat pola perkembangan tanaman padi. Analisis indeks vegetasi menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan algoritma Enhanced Vegetation Index (EVI). Estimasi luas serangan yang dibagi menjadi empat tahap yaitu; normalisasi data, indeks vegetasi unit (VIU), estimasi luas serangan WBC, dan perbandingan nilai NDVI dan EVI. Hasil penelitian ini menunjukan luas area terserang WBC dapat dianalisis dengan menggunakan indeks vegetasi spektral satelit. Hasil analisis dengan citra satelit dapat membedakan padi sehat dan pasi tidak sehat. Nilai indeks vegetasi lahan yang terserang WBC lebih rendah dan perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan lahan yang tidak terserang WBC, selain itu sawah yang terserang WBC memiliki nilai puncak lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. NDVI lebih efektif untuk mengestimasi luas serangan WBC

    Pengawetan Kayu Pinus (Pinus merkusii) dengan Alkaline Copper Quaternary (ACQ) sebagai Komponen Menara Pendingin

    No full text
    Struktur menara pendingin utamanya adalah kayu. Kayu merupakan material organik tersedia di alam, mudah diperoleh, dan berasal dari sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Menara pendingin di Indonesia umumnya menggunakan kayu redwood dan douglas fir sesuai dengan persyaratan CTI (Cooling Tower Institute) STD 103 dan 114. Biaya pengadaan dan pemeliharaan kayu impor cukup mahal sehingga penggunaan kayu lokal sebagai komponen menara pendingin menjadi salah satu solusi. Salah satu kayu lokal yang diteliti dan dipelajari sebagai komponen menara pendingin adalah kayu pinus (Pinus merkusii). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet Alkaline Copper Quaternary (ACQ) pada sifat fisis, mekanis, keterawetan kayu, dan keawetan kayu. Sifat fisis, mekanis, dan keawetan diukur sebelum dan sesudah pengawetan dengan cara impregnasi vakum-tekan metode full-cell ACQ, selanjutnya diuji-t dengan asumsi ragam yang sama untuk mengetahui perubahan sifat fisis mekanis dan keawetan setelah impregnasi. Hasil penelitian ini menunjukkan kayu pinus memiliki tegangan izin geser, lentur dan tekan tegak lurus yang sedikit lebih rendah dari persyaratan pada CTI-114, CTI-103, dan NDS 2005 sehingga untuk mensubstitusi douglas fir dan redwood sebagai komponen menara pendingin di Indonesia diperlukan dimensi kayu yang lebih besar. Kayu pinus memiliki sifat keterawetan yang bagus karena diindikasikan oleh nilai retensi yang tinggi dan nilai penetrasi yang sesuai dengan syarat CTI-112. Hasil uji ketercucian menunjukkan bahan pengawet ACQ lebih banyak tercuci pada air panas dibandingkan air dingin. Hasil uji ketahanan terhadap rayap tanah laboratorium dengan standar SNI 7207:2014 dan uji ketahanan terhadap rayap di lapang dengan standar ASTM D1758-08 menunjukkan bahwa proses pengawetan memiliki pengaruh nyata terhadap weight loss kayu pinus yang berkurang secara signifikan setelah diawetkan dengan ACQ, yang berarti umur pakai kayu pinus menjadi lebih tinggi setelah diberikan pengawet ACQ. Pengawetan dengan ACQ memberikan pengaruh sifat fisis dan mekanis yang bervariasi, namun secara umum tidak ada kenaikan maupun penurunan yang berbeda nyata setelah proses pengawetan

    Implikasi Konflik Agraria Terhadap Struktur dan Strategi Nafkah Rumahtangga Pedesaan (Kasus: Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan).

    No full text
    Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) berada di tiga provinsi, yaitu Provinsi Lampung, Bengkulu, dan Provinsi Sumatera Selatan. Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang menjadi area konservasi, membuat banyak masyarakat sekitar Taman Nasional tidak lagi memiliki akses secara legal untuk masuk ke dalam hutan. Padahal, warga lokal sangat bergantung dari hasil hutan di taman nasional terutama kopi. Pengekstrak kopi di kawasan taman nasional telah sejak lama berkonflik dengan pemerintah dan pihak-pihak yang mengklaim hak atas akses dan tata kelola taman nasional. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang didukung dengan pendekatan kualitatif dan dilakukan pada petani pengekstrak kopi di Desa Dadapan. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survei dan melibatkan 30 responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konflik agraria dan strategi nafkah yang dilakukan oleh petani pengekstrak kopi serta menganalisis struktur nafkah yang digunakan untuk bertahan dari berbagai konflik yang ada

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇