31665 research outputs found
Sort by
Mealybugs (Hemiptera: Pseudococcidae) on Chrysanthemum And Their Management Efforts at PT. Natalia Nursery, Bogor West Java
Krisan merupakan tanaman hias bunga potong dan menjadi komoditas
ekspor utama florikultura di Indonesia. Usaha dalam budidaya tidak terlepas dari
organisme penganggu tanaman, salah satunya kutu putih. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi spesies kutu putih pada krisan, menentukan intensitas serangan
dan mengamati gejala kerusakan Phenacoccus solenopsis pada krisan serta upaya
pengendaliannya. Identifikasi dilakukan dengan mengoleksi kutu putih yang ada
pada tanaman krisan kemudian dibuat preparat mikroskop. Pengamatan intensitas
serangan dilakukan pada tiga petak krisan, dan gejala kerusakan dilakukan dengan
menginfestasi Ph. solenopsis. Upaya pengendalian dilakukan dengan menguji
keefektifan minyak mimba (Azadirachta indica) terhadap Ph. solenopsis, yaitu
dengan aplikasi minyak mimba tunggal, sabun sebelum mimba, campuran sabun
dan mimba serta kontrol. Metode pengujiannya yaitu larutan disemprot pada
tanaman yang diinfestasi kutu putih. Kematian Ph. solenopsis diamati 24, 48, 72,
96 JSP. Hasil identifikasi terdapat empat spesies kutu putih, yaitu: Ferrisia virgata,
Ph. solenopsis, Pseudococcus jackbeardsleyi, dan Planacoccus minor yang
menjadi hama pada krisan. Spesies F. virgata dan Pl. minor merupakan catatan baru
pada tanaman krisan. Intensitas serangan Ph. solenopsis tertinggi yaitu 8.72%
dengan populasi 73.5 kutu putih per petak. Kerusakan Ph. solenopsis pada fase
vegetatif menyebabkan malformasi di bagian pucuk daun sehingga ukurannya
menyusut, keriting, penebalan daun, pembengkokan batang serta pengurangan
ukuran secara keseluruhan. Gejala fase generatif menyebabkan daun pelindung
seperti terpelintir, bakal bunga tidak berkembang dan pembengkokan tangkai
bunga. Aplikasi sabun dilanjut dengan mimba menunjukkan paling efektif terhadap
Ph. solenopsis dengan mortalitas sebesar 100% pada 96 JSP.Chrysanthemum is the most exported ornamental cut flower in Indonesia.
Its cultivation cannot be separated from pests attacks, especially mealybugs. This
study aims to identify mealybugs species on chrysanthemum, to determine the
intensity attack level, damage symptom of Phenacoccus solenopsis and its control
efforts. Mealybug identification was made by collecting mealybugs and preparing
on slide. The intensity and population development of mealybugs were observed on
three plots. The damage symptoms caused by mealybugs, a certain number of Ph.
solenopsis were infested to the plants and observed. Control efforts were carried
out by testing the effectiveness of Neem (Azadirachta indica) against Ph.
solenopsis, the plant was treated with single neem oil, combined with soap, applied
after soap and control. The method is a solution sprayed on chrysantemum that
mealybugs invest in. The death Ph. solenopsis was observed at 24, 48, 72, 96 HAT.
The identification result shows that there are four mealybugs species, i.e: Ferrisia
virgata, Ph. solenopsis, Planacoccus minor, and Pseudococcus jackbeardsleyi as
pest on chrysanthemum. The species of F. virgata and Pl. minor are new mealybugs
pests record to chrysanthemum. The highest intensity of Ph. solenopsis is recorded
as many as 8.72 % or 73.5 mealybugs per plots. Damage due to mealybugs in the
vegetative phase causes malformation in the shoots leaves reported as reduction of
leaf size, wavy leaves, curled, thickened, twisted leaves, incurvation of stem, and
reduction of overall plant size. Further damage on generative phase showed the
incurvation of bud and flower stalk. The most effective treatment against Ph.
solenopsis with a mortality of 100% at 96 hour after treatment on soap spraying
continued by neem
Kajian Risiko Kesehatan Lingkungan Masyarakat Bantaran Sungai Kuantan Akibat Pajanan Merkuri di Kabupaten Kuantan Singingi
Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI), masih marak terjadi di Sungai Kuantan. Kegiatan PETI selalu dikaitkan dengan kebutuhan ekonomi individu maupun kelompok. Terdapat kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dirugikan seperti masyarakat yang menerima dampak lingkungan.
PETI dapat berdampak pada pencemaran Hg pada air sungai, air sumur, sedimen dan ikan. Perairan yang tercemar Hg dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan akibat penurunan kualitas perairan tersebut. Saat ini belum ada penelitian yang melihat dampak kualitas perairan terhadap risiko kesehatan di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga diperlukan kajian mendalam yang dapat memperkirakan tingkat risiko kesehatan dan manajemen risiko pengendalian pencemaran.
Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji risiko kesehatan lingkungan masyarakat bantaran Sungai Kuantan di Kabupaten Kuantan Singingi. Tujuan utama ini dicapai dengan tujuan khusus yaitu; (1) mengetahui gambaran kandungan merkuri pada air sungai, air sumur, sedimen dan ikan ditinjau dari hulu, tengah dan hilir sungai; (2) mengetahui gambaran sosio-demografi, pola aktivitas, pola konsumsi, dan gangguan kesehatan masyarakat; (3) analisis besaran asupan pajanan merkuri pada masyarakat dari adsorbsi air sungai, asupan air sumur dan ikan; (4) analisis besaran risiko kesehatan non karsinogenik pada masyarakat ditinjau dari hulu, tengah dan hilir sungai; dan (5) merumuskan manajemen risiko yang tepat guna meminimalisirkan dampak pajanan merkuri pada masyarakat.
Pengambilan sampel lingkungan yaitu air sungai, air sumur, sedimen, ikan baung dan ikan kapiek dilakukan di tiga lokasi yaitu, Kec. Hulu Kuantan (hulu), Kec. Kuantan Tengah (tengah) dan Kec. Kuantan Hilir (hilir). Pengambilan sampel masyarakat yaitu 50 responden dewasa dan 50 responden anak (7 – 15 tahun) di setiap lokasi sehingga terdapat 300 responden. Selain itu terdapat enam responden tenaga kesehatan. Kandungan merkuri (Hg) pada masing-masing sampel lingkungan dianalisis sesuai dengan metode APHA dan SNI (Standar Nasional Indonesia). Data hasil analisis dibandingkan dengan baku mutu pencemaran. Data masyarakat diambil dengan teknik kusioner dan wawancara, data hasil analisis dijadikan variabel dalam perhitungan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).
Hasil menunjukkan konsentrasi Hg pada air sungai, air sumur (tengah dan hilir), sedimen berada di atas baku mutu pencemaran, sedangkan pada sampel ikan baung dan ikan kapiek masih berada di bawah standar baku mutu pencemaran. Konsentrasi Hg secara signifikan meningkat dari lokasi hulu sampai hilir pada air sungai dan sedimen. Konsentrasi Hg secara signifikan meningkat pada dua sumur warga di lokasi tengah dan hilir. Konsentrasi Hg secara signifikan terdapat pada ikan kapiek yang ditangkap di lokasi tengah sungai, namun tidak signifikan pada konsentrasi Hg ikan baung antar lokasi penelitian.
Gambaran masyarakat yang ditinjau dari sosio-demografi, pola konsumsi, pola aktivitas, dan gangguan kesehatan lokasi hulu dan hilir mirip, sedangkan lokasi tengah berberbeda dari lokasi lainnya. Rata-rata adsorbsi dermal air sungai, asupan air sumur, ikan baung dan ikan kapiek mayoritas tertinggi terdapat pada responden lokasi hilir dan terendah pada responden lokasi tengah. Adsrobsi dermal air sungai berada di bawah standar risiko, sehingga belum diperlukan manajemen risiko. Asupan air sumur tengah dan hilir, asupan ikan baung dan kapiek hulu dan hilir berada diatas standar risiko, sehingga diperlukan manajemen risiko. Namun demikian perlu diperhatikan pada lokasi tengah adanya nilai yang sudah mendekati standar risiko. Manajemen risiko untuk asupan air sumur tengah dan hilir adalah menurunkan konsentrasi dari rata-rata keseluruhan 0,03195 mg/l menjadi batas konsentrasi real time – life time, yaitu 0,0034 – 0,0043 mg/l (responden dewasa) dan 0,002 – 0,0054 mg/l (responden anak). Manajemen risiko untuk asupan ikan baung dan ikan kapiek hulu dan hilir dari 0,1173 mg/kg dan 0,1250 mg/kg menjadi 0,0797 – 0,1002 mg/kg dan 0,0891 mg/kg (life time responden anak), dengan batas frekuensi konsumsi 2 – 3 kali dalam seminggu (hulu dan tengah) dan 1 – 2 kali dalam seminggu (hilir) dengan asumsi pola konsumsi sama.
Kata kunci : amalgamasi, antropometri, ARKL, baku mutu pencemaran, PETI
Soil Strength over Various Land Use and Slopes (Case Study: PT. Perkebunan Buah Subang)
Areal perbukitan dan pegunungan berpotensi mengalami longsor karena cenderung memiliki lereng yang curam. Terjadinya longsor erat kaitannya dengan kekuatan tanah. Kekuatan tanah merupakan parameter yang menggambarkan kemampuan tanah menahan tekanan tanpa mengalami kegagalan. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan tanah pada lahan terbuka, kebun bambu, dan hutan dengan kemiringan lereng berbeda, serta mengetahui hubungannya dengan sifat-sifat fisik dan kandungan bahan organik tanah, dan mengetahui pengaruh kehadiran perakaran tanaman terhadap kekuatan tanah telah dilakukan di daerah PT. Perkebunan Buah Subang. Penelitian dilakukan pada lahan terbuka, kebun bambu, dan hutan dengan kemiringan lereng 15-30% dan 30-45%. Parameter kekuatan tanah yang diukur di lapang adalah ketahanan penetrasi dan kekuatan geser tanah. Sifat-sifat fisik dan kandungan bahan organik yang mempengaruhi kekuatan tanah dianalisis di laboratorium. Kekuatan tanah berbeda-beda pada berbagai penggunaan lahan dan kemiringan lereng. Lokasi kebun bambu kemiringan lereng 15-30% dan 30-45% menunjukkan nilai kekuatan geser yang lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya. Kekuatan geser tanah pada lokasi kebun bambu lebih tinggi karena sistem perakarannya serabut yang terjalin satu sama lain dalam mengikat matrik tanah sehingga tanah menjadi lebih kuat dalam menahan keruntuhan. Ketahanan penetrasi dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, jumlah diameter agregat paling besar (≥ 2 mm), bobot isi tanah, dan porositas total tanah. Semakin tinggi persentase diameter agregat berukuran ≥ 2 mm, kandungan bahan organik, dan porositas total, serta semakin rendah bobot isi tanah akan menyebabkan ketahanan penetrasi semakin rendah. Kekuatan geser dan ketahanan penetrasi tanah pada lokasi dengan penggunaan lahan kebun bambu, baik pada kemiringan lereng 15-30% maupun pada kemiringan lereng 30-45% menunjukkan adanya trend penurunan nilai pada jarak yang semakin menjauhi tanaman bambu.
Kata kunci: jarak, kekuatan geser, ketahanan penetrasi, perakaran, sifat fisik.Hilly and mountainous areas have the potential to experience landslides because they tend to have steep slopes. The occurrence of landslides is closely related to soil strength. Soil strength is a parameter that describes the ability of the soil to withstand pressure without experiencing failure. A research aims at identifying soil strength in open land, bamboo gardens, and forests with different slopes, as well as to determine their relationship to soil physical properties and soil organic matter content, and knowing the effect of plant roots on soil strength was carried out in the area of PT. Perkebunan Buah Subang. The research was conducted on open land, bamboo gardens, and forests with slopes of 15-30% and 30-45%. Soil strength parameters measured in the field are penetration resistance and soil shear strength. Soil physical properties and organic matter content that affect soil strength are analyzed in the laboratory. Soil strength varies with different land uses and slopes. The location of the bamboo garden with a slope of 15-30% and a slope of 30-45% shows a higher shear strength value than other locations. The shear strength of the soil at the bamboo garden location is higher because the root system has fibers that intertwine with each other to bind the soil matrix so that the soil becomes stronger to resist collapse. Soil penetration resistance is influenced by soil organic matter content, the largest amount of soil aggregate diameter (≥ 2 mm), bulk density, and total porosity. Height percentage of aggregate diameter ≥ 2 mm, soil organic matter content, and total porosity, as well as low bulk density will cause lower soil penetration resistance. Shear strength and soil penetration resistance at locations with bamboo garden land use, both on slopes of 15-30% and slopes of 30-45% indicate a trend of decreasing value at distances further away from bamboo plants.
Keywords: distance, soil shear strength, soil penetration resistance, roots, soil physical propertie
Analysis of Unemployment Rate in the Monetary Inflationary Targeting Framework Policy System in Developed and Developing Countries
Tingkat pengangguran di dunia terus mengalami fluktuasi seiring dengan variabel makroekonomi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari pemberlakuan kebijakan Inflationary Targeting Framework (ITF) beserta faktor lainnya seperti tingkat inflasi dan tingkat pertumbuhan PDB dan nilai tukar terhadap tingkat peganggura di dunia. Data yang digunakan berbentuk data panel dengan periode analisis dari tahun 1980 hingga 2019 dengan 114 negara di dunia. Data penelitian ini besumber dari World Economic Outlook dan International Financial Statistics yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF). Penelitian ini menggunakan analsis regresi data Unbalanced Panel dengan metode Pooled Least Square . Hasil penelitian ini menunjukan kebijakan ITF memberikan perbedaan yang nyata dan positif terhadap tingkat pengangguran di dunia dan negara maju serta tidak memberikan perbedaan nyata pada tingkat pengangguan di negara berkembang. Pertumbuhan PDB berpegaruh signifikan positif terhadap tingkat pengangguran di dunia negara maju dan berkembang.The unemployment rate in the world continues to fluctuate along with other
macroeconomic variables. This study aims to analyze the effect of the
implementation of the Inflationary Targeting Framework (ITF) policy along with
other factors such as the inflation rate and GDP growth rate and the exchange rate
on the level of peganggura in the world. The data used is in the form of panel data
with an analysis period from 1980 to 2019 with 114 countries in the world. The
research data comes from the World Economic Outlook and International
Financial Statistics released by the International Monetary Fund (IMF). This study
uses Unbalanced Panel data regression analysis with the Pooled Least Square
method. The results of this study indicate that the ITF policy provides a real and
positive difference to the unemployment rate in the world and developed countries
and does not make a real difference in the level of disturbance in developing
countries. GDP growth has a significant positive effect on the unemployment rate
in the world, developed and developing countries
Kinerja Sprayer Hybrid untuk Liquid Fertilizing pada Budidaya Bayam di Lahan Kering
SkripsiJAKA TRIO RAMADHAN. Kinerja Sprayer Hybrid untuk Liquid Fertilizing pada Budidaya Bayam di Lahan Kering. Dibimbing oleh GATOT PRAMUHADI Kinerja sprayer hybrid (gabungan sprayer semi-otomatis dan elektrik) dengan berbagai nosel pada liquid fertilizing dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman. Tujuan penelitian ini bertujuan menentukan droplet optimum menggunakan sprayer hybrid dan beberapa tipe nosel untuk pemupukan cair pada budidaya tanaman bayam. Parameter utama pengujian sprayer di Laboratorium, yaitu tekanan cairan, debit penyemprotan efektif, lebar penyemprotan efektif, diameter droplet, dan kerapatan droplet. Hasil penelitian menunjukkan pada kinerja sprayer elektrik diperoleh droplet yang optimum terdapat pada solid cone nozzle menghasilkan diameter droplet sebesar 147 µm, kerapatan droplet sebesar 263 droplet/cm2 , debit penyemprotan efektif sebesar 1,16 liter/menit, dan lebar penyemprotan efektif sebesar 56 cm. Hasil kinerja sprayer hybrid untuk sprayer semi otomatis menggunakan four holes nozzle yaitu diameter droplet sebesar 134 µm, kerapatan droplet sebesar 225 droplet/cm2, debit penyemprotan efektif sebesar 1,07 liter/menit, dan lebar penyemprotan efektif sebesar 72 cm. Berdasarkan percobaan di lapangan kinerja liquid fertilizing untuk sprayer elektrik diperoleh tinggi tanaman sebesar 39,75 cm, jumlah daun sebesar 7 helai, dan bobot tanaman pada umur 21 hari setelah tanam (HST) sebesar 0,37 gram. Kinerja liquid fertilizing untuk sprayer semi-otomatis diperoleh parameter di lapangan yaitu tinggi tanaman sebesar 39,25 cm, jumlah daun sebesar 8 helai, dan bobot tanaman pada umur 21 HST sebesar 0,43 gram. Kata kunci: droplet, liquid fertilizing, nosel, sprayer elektrik, sprayer semiotomati
Market Integration and Price Transmission of Broiler Chicken in Indonesia. Supervised
Subsektor peternakan merupakan basis ekonomi potensial dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Daging ayam broiler merupakan salah satu komoditas strategis yang dihasilkan subsektor peternakan selain daging sapi, telur dan susu. Keunggulan komoditas ini antara lain harga produk ini terjangkau, mudah diperoleh dan mudah diolah menjadi berbagai macam masakan. Selain itu sektor perunggasan merupakan penyumbang terbesar protein hewani di Indonesia yaitu 65%. Nilai ekonomi perunggasan Indonesia terbilang besar, perputaran modal cepat, karena periode pemeliharaannya relatif singkat. . Hal tersebut menyebabkan peternakan ayam broiler sebagai penghasil daging ayam beroiler sangat potensial untuk dikembangkan. Permasalahan umum pemasaran ayam broiler diantaranya adalah fluktuasi harga yang tidak menentu dan kompetisi pasar terhadap harga ayam antar pedagang dan peternak. Disamping itu, permasalahan pasar yang tak efisien. Fluktuasi harga yang tinggi menyebabkan disinsentif bagi pelaku usaha sektor perunggasan karena menyebabkan ketidakpastiaan berusaha. Sinyal harga yang buruk di berbagai bagian pasar menunjukkan bagaimana pasar komoditas pertanian tidak terintegrasi dengan baik. Para ekonom neo-klasik percaya bahwa transmisi harga dapat dijadikan indikator efisiensi yang terbentuk antar dua pasar yang saling berinteraksi. Kurangnya informasi yang diterima produsen membuka peluang bagi pedagang untuk mempermainkan harga di tingkat produsen dengan alasan adanya perubahan harga di tingkat konsumen. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis integrasi pasar daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Caringin Bandung dan DKI Jakarta; (2) menganalisis integrasi pasar daging ayam broiler tingkat produsen di Indonesia; (3) menganalisis faktor-faktor penentu integrasi pasar daging ayam broiler tingkat produsen Indonesia; (4) menganalisis transmisi harga daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Bandung dan DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi seperti Badan Pusat Statistik dan sumber referensi yang lainnya. Data yang dipergunakan merupakan data time series bulanan mulai tahun 2014 sampai tahun 2019. Integrasi pasar daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Caringin Bandung dan DKI Jakarta dianalisis menggunakan model VAR. Integrasi pasar daging ayam broiler tingkat produsen di Indonesia menggunakan ECM. Faktor-faktor penentu integrasi pasar daging ayam broiler tingkat produsen Indonesia menggunakan metode OLS. Adapun transmisi asimetri harga daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Bandung dan DKI Jakarta menggunakan model NARDL. Hasil analisis VAR integrasi pasar daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Caringin Bandung dan DKI Jakarta menunjukkan pembentukan harga daging ayam broiler di tingkat peternak tidak dipengaruhi oleh perubahan harga periode sebelumnya di tingkat peternak itu sendiri, harga pasar Bandung maupun harga pasar DKI Jakarta. Pembentukan harga daging ayam tingkat pasar Caringin Bandung ditentukan oleh perubahan harga daging ayam tingkat peternak satu periode sebelumnya, dan perubahan dua periode sebelumnya harga DKI Jakarta. Pembentukan harga DKI Jakarta dipengaruhi oleh perubahan harga pasar Bandung satu periode sebelumnya. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi integrasi antara pasar daging ayam broiler di tingkat produsen Jawa Barat, pasar Bandung dan pasar DKI Jakarta baik pada jangka panjang ataupun jangka pendek. Hasil ini mengkonfirmasi adanya kegagalan hukum satu harga (Law of One Price). Hasil analisis ECM integrasi pasar daging ayam broiler tingkat produsen di Indonesia menunjukkan pasar produsen yang memimpin harga yaitu Sumatera Selatan dan Yogyakarta. Hasil menunjukkan menunjukkan bahwa tidak terdapat integrasi yang menyeluruh pada jangka panjang pasar daging ayam broiler tingkat produsen di Indonesia. Hal tersebut menguatkan dugaan pasar daging ayam broiler di Indonesia mengarah pada pasar persaingan tak sempurna. Hasil OLS analisis faktor-faktor penentu integrasi pasar menunjukkan faktor yang berpengaruh terhadap terhadap integrasi pasar daging ayam broiler di Indonesia yaitu jumlah produksi daging ayam broiler provinsi tujuan. Hasil analisis NARDL transmisi asimetri harga daging ayam broiler di sentra produksi Jawa Barat dengan pasar Caringin Bandung dan DKI Jakarta menunjukkan terjadi asimetri harga daging ayam broiler dari pasar Caringin Bandung ke pasar tingkat peternak dalam jangka panjang. Terjadi asimetri harga daging ayam broiler dari pasar Jakarta ke pasar tingkat peternak dalam jangka panjang. Hal ini menunjukan bahwa dalam jangka panjang terjadi penyalahgunaan market power yang dilakukan oleh pasar Caringin Bandung dan pasar Jakarta. Tidak terdapat asimetri harga jangka pendek dari pasar Jakarta ke pasar peternak. Artinya, tidak ada adjustment cost yang dikeluarkan pelaku usaha untuk menyesuaikan harga akibat adanya perubahan biaya tertentu. Pengaruh penurunan harga di pasar Bandung lebih besar dari pengaruh kenaikan terhadap harga tingkat peternak. Implikasi kebijakan dari hasil penelitian ini adalah: (1) menyusun kebijakan untuk mendukung terciptanya informasi yang transparan diantara para pelaku pasar daging ayam broiler, agar integrasi pasar daging ayam broiler lebih baik; (2) menetapkan kebijakan pengendalian harga daging ayam broiler dengan pertimbangan utama fokus pada pasar yang menjadi pemimpin harga yaitu Sumatera Selatan dan DI Yogyakarta yang akan ditransmisikan secara selaras pada daerah lainnya, agar struktur pasar daging ayam broiler lebih kompetitif; (3) Menyusun regulasi guna peningkatan kinerja pemasaran daging ayam broiler di Indonesia, terutama berkaitan dengan integrasi pasar pemerintah perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang menentukan integrasi pasar yaitu jumlah produksi daging ayam broiler provinsi tujuan.; (4) melakukan upaya stabilisasi harga, memperbaiki infrastruktur informasi pasar di daerah sentra produsen dan sentra konsumenBPPPDN KEMENRISTEK DIKT
Improvement Contribution and Efficiency Estimation in Application of "Precipalm" Fertilizer Dosage Recommendation at PT Kalimantan Agro Nusantara, East Kutai, East Kalimantan
Asesmen lapangan dilaksanakan di PT Kalimantan Agro Nusantara, Kebun Nusantara, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada bulan Januari 2020 sampai April 2020. Kegiatan studi bertujuan mengestimasi neraca nitrogen untuk mengetahui jejak nitrogen dan efisiensi penerapan dosis pemupukan nitrogen Precipalm pada perkebunan kelapa sawit. Estimasi neraca nitrogen di PT KAN Kebun Nusantara kondisi pra pemupukan diperoleh -85.67 kg N ha-1 tahun-1, sedangkan untuk kondisi pasca pemupukan diperoleh untuk kedua perlakuan dosis pemupukan baik PPKS dan Precipalm sebesar 23.56 kg N ha-1 tahun-1 dan 25.24 kg N ha-1 tahun-1. Defisit N terjadi pada kondisi pra pemupukan jika tidak mempertimbangkan input sumber dan proses dekomposisi alami akibat dari tidak adanya pemupukan selama dua tahun terakhir, sedangkan pada kondisi pasca pemupukan terjadi surplus N untuk kedua perlakuan. Jejak nitrogen produksi diperoleh untuk pra pemupukan sebesar 1.45 kg N ton TBS-1 serta untuk pasca pemupukan perlakuan PPKS dan Precipalm sama besar yaitu 3.19 kg N ton TBS-1 3.22 kg N ton TBS-1. Data jejak nitrogen produksi menunjukkan bahwa dinilai pada parameter jejak nitrogen keadaan tidak dipupuk lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan keadaan setelah dipupuk. Estimasi efisiensi nitrogen untuk perlakuan dosis PPKS dan Precipalm diperoleh masing-masing sebesar 69.98% dan 70.09% untuk efisiensi input eksternal dan 89.53% dan 88.80% jika mempertimbangkan input internal, yang mana nilai tersebut tidak berbeda nyata.The study was carried out at PT Kalimantan Agro Nusantara, Kebun Nusantara, East Kutai, East Borneo from January 2020 to April 2020. The purpose of the study was to estimating the nitrogen balance to find out the nitrogen footprint and the application efficiency estimation of Precipalm nitrogen fertilizer application in oil palm plantations. Estimation of nitrogen balance at PT KAN Kebun Nusantara in pre-fertilization conditions was obtained -85.67 kg N ha-1 year-1, while for post-fertilization conditions obtained for the two treatments, both PPKS and Precipalm fertilization doses were 23.56 kg N ha-1 year-1 and 25.24 kg N ha-1 tahun-1. The N deficit occurs in the pre-fertilization condition if it does not consider the source input and natural decomposition process due to the absence of fertilization for the last two years, while in the post-fertilization condition there is a surplus of N for both treatments. Production nitrogen footprint obtained for pre-fertilization were 1.45 kg N ton TBS-1 and for post fertilization treatment PPKS and Precipalm were 3.19 kg N tons TBS-1 and 3.22 kg N tons TBS-1. Production nitrogen footprint data show that assessed on the nitrogen footprint parameter the unfertilized condition is more environmentally friendly than the post-fertilization condition. Estimation of nitrogen efficiency for PPKS and Precipalm dosage treatment were 69.98% and 70.09% for external input efficiency and 89.53% and 88.80%, respectively, when considering internal input, where these values were not significantly different
Content Analysis of Covid-19 Hoax News on Facebook Social Media
Penyebaran Covid-19 di Indonesia diiringi dengan menyebarnya berita hoaks
terkait virus tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk
pesan, karakteristik konten, dan klasifikasi konten berita hoaks Covid-19 pada
media sosial Facebook. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis isi yang
menggunakan data primer dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling
sebanyak 100 unggahan di Facebook yang dinyatakan hoaks oleh Hoax Buster pada
situs https://covid19.go.id/p/hoax-buster selama periode Desember 2020 – Februari
2021. Data yang dikumpulkan dikategorikan dan diolah dengan proses tabulasi dan
diinterpretasi secara deskriptif menggunakan aplikasi Microsoft Excel for Mac,
Qualitative Software Statistical Package for Social Science (SPSS) 23.0 dan NVivo
for Mac untuk menganalisis data kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa
sebagian besar unggahan hoaks Covid-19 di Facebook adalah dalam bentuk pesan
gambar. Penggunaan kata terbanyak dalam judul berita pada periode penelitian ini
adalah vaksin. Hampir semua unggahan berita hoaks diunggah oleh akun pribadi
dan jenis berita hoaks terbanyak adalah misleading content
Analisis Pemanfaatan Senyawa Terpenoid Sebagai Antifouling Agent untuk Menekan Pertumbuhan Teritip (Balanus sp.)
Teritip merupakan inveterbrata yang masuk ke dalam gologan crustacea dan termasuk ke dalam biota biofouling. Banyaknya penggunaan TBT dan tembaga sebagai bahan antifouling yang merupakan bahan yang berbahaya bagi lingkungan maka mendorong terciptanya bahan antifouling dari bahan alami yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek penambahan senyawa antifouling (Terpenoid) terhadap jumlah dan biomassa teritip yang menempel pada substrat yang di tenggelamkan di Pelabuhan Dermaga Muara Angke. Setiap subtrat yang di lapisi formula antifouling, menggunakan dosis yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan pertama terdiri dari kontrol yang menggunakan cat tanpa campuran senyawa terpenoid dan tiga perlakuan lainnya yang menggunakan tambahan senyawa terpenoid dengan dosis masing-masing 40, 50, dan 60 ml. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil terbaik yang di peroleh menggunakan formula dengan tambahan senyawa terpenoid sebanyak 60 ml yang menunjukkan jumlah dan bobot teritip yang paling rendah.Teritip is an inveterbrata that is included in the crustacean field and is
included in the biofouling biota. The large number of uses of TBT and copper as
anti-fouling materials which are harmful to the environment encourages the
creation of anti-fouling materials from natural, environmentally friendly materials.
This study aims to determine the effect of the addition of antifouling compounds
(Terpenoids) on the amount and biomass of trite attached to the substrate submerged
in Muara Angke Harbor. Each substrate is coated with an antifouling formula, using
a different dosage. This study used a completely randomized design with four
treatments and six replications. The first treatment consisted of control using paint
without a mixture of terpenoid compounds and three other treatments that used
additional terpenoid compounds with doses of 40, 50, and 60 ml, respectively. The
results of this study indicate that the best results are obtained using a formula with
the addition of 60 ml of terpenoid compounds, which shows the lowest number and
weight of teriti
Determinants of Economic Growth in Member States of the Organization for Islamic Cooperation (OIC) for the 2016-2019 Period
tidak adaREIZHA NURUL HUDA. berjudul Determinan Pertumbuhan Ekonomi di Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Periode 2016-2019. Dibimbing oleh TITA NURSYAMSIAH dan YEKTI MAHANANI.
Pertumbuhan ekonomi di negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) masih mengalami ketertinggalan dibandingkan negara non OKI. Hal ini harus menjadi fokus utama pemerintah negara OKI untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Negara OKI. Penelitian ini menggunakan teori neoklasik dan tori endogen pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan variabel neoklasik yaitu labor force participation, gross capital formation dan technology lalu variabel endogen yaitu trade Opennes , foreign direct investment, dan growth industry terhadap pertumbuhan ekonomi di negara anggota OKI. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel statis. Penelitian ini menggunakan analisis data panel statis dengan data cross section sebanyak 29 negara anggota OKI serta data time series tahun 2016–2019. Berdasarkan hasil penelitian variabel Gross capital formation, Growth Industry berpengaruh positif sedangkan Foreign Direct Investment berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara anggota OKI.
Kata kunci: data panel statis, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), pertumbuhan
ekonomi, teori endogenus, teori eksogenustidak ad