31665 research outputs found
Sort by
Hubungan Pola Asuh dan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting Bayi Usia 6-23 Bulan di Desa Parappe Sulawesi Barat
Masalah stunting pada balita masih cukup serius, angka nasional menunjukkan prevalensi stunting sebesar 37.2% (Riskesdas 2013), yang berarti terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35.6%) dan tahun 2007 (36.8%). Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua prevalensi Stunting dengan kategori pendek dan sangat pendek setelah Aceh (37.9%) pada anak umur 0-23 bulan sebesar 37.1% angka ini diatas angka nasional sebesar 29.9% (Riskesdas 2018). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola asuh dan pengetahuan Ibu dengan kejadian stunting bayi usia 6-23 bulan di Desa Parappe Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan subjek sebesar 77 bayi. Pengumpulan data pola asuh dan pengetahuan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Status gizi subjek ditentukan berdasarkan indeks PB/U. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan (p<0.05) antara pendapatan keluarga dengan kejadian stunting. Besar keluarga, berat badan lahir, pendidikan, pengetahuan, pola asuh, dan pemberian ASI tidak berhubungan dengan kejadian stunting
Polimorfisme Genetik serta Diferensiasi Sapi Madura Karapan dan Sapi Madura Pedaging Menggunakan DNA Mitokondria D-loop
Sapi Madura merupakan salah satu sapi potong asli Indonesia yang
berkembang baik di agroekosistem kering. Sapi Madura merupakan persilangan
antara banteng (Bos javanicus) dan sapi zebu (Bos indicus). Sapi madura
dimanfaatkan oleh masyarakat Madura sebagai sapi pedaging, sapi karapan (sapi
balapan), dan sapi sonok (sapi kontes kecantikan). Adanya seleksi ini diduga dapat
membuat karakter morfologi dan genotipe antara sapi karapan dan sonok menjadi
berbeda dari sapi madura pedaging. Penggunaan mitokondria DNA D-loop sudah
banyak dilakukan untuk mempelajari kekerabatan sapi Madura dengan B. indicus dan
B. javanicus, tetapi belum spesifik membedakan antara sapi karapan dan sapi
pedaging. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perbedaan karakter morfologi
dan polimorfisme genetik serta mempelajari diferensiasi sapi Madura karapan dan
sapi Madura pedaging menggunakan DNA mitokondria D-loop. Sampel darah sapi
Madura diamplifikasi dengan primer AF22 (forward)
5'GCGTACGCAATCTTACGATCA3' dan AF23 (reverse)
5'ATGCAGTTAAGTCCAGCTAC3'. Hasil sekuens dianalisis dan dibuat
rekonstruksi pohon filogeni berdasarkan ruas mtDNA D-loop menggunakan
metode Neighbour Joining (NJ) dengan boostrap 1000 kali. Sapi Madura pedaging
memiliki ruas berulang (tandem repeat) dengan runutan GTACATAATATTAAT
dan GTAATAA. Hasil rekonstruksi pohon filogenetik berdasarkan ruas D-loop
menunjukkan bahwa sapi Madura terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok
B. indicus dan kelompok B. javanicus CERZA. Sampel sapi karapan mengelompok
dengan B. indicus sedangkan sampel sapi pedaging mengelompok dengan B.
javanicus
Peningkatan Nilai Kalor Batubara Lignit Menggunakan Metode Oil Coating Minyak Jelantah
Batubara Lignit adalah batubara kualitas rendah yang sudah jarang
digunakan dalam bidang pembangkit listrik maupun industri, memiliki potensi yang
tinggi untuk dijadikan sumber energi alternatif berupa briket batubara organik.
Penelitian ini, membuat briket batubara lignit dengan pencucian menggunakan asap
cair – SLS (sodium lauryl sulfate). Bahan baku dibentuk hingga ukuran 250 μmdan
dicampurkan dengan perekat tar kayu kadar 10%. Dilakukan variasi pelapisan
partikel permukaan batubara dengan menggunakan minyak jelantah (dry oil
coating). Briket hasil penelitian adalah hasil uji proksimat dari pencucian dan
pelapisan minyak jelantah terbaik dengan metode pencucian (soaking) dengan asap
cair variasi 1:20 dan pelapisan minyak jelantah (dry oil coating) variasi 1:3 yang
memiliki kadar air 54.586%, kadar zat terbang 25.747%, kadar abu 17,059%, dan
karbon terikat 58.918%, kerapatan massa 1.209 g/cm3, keteguhan tekan 7.296
kgf/cm2, nilai kalor 6206 kal/g, dan laju pembakaran briket 0.6433 g/menit. Metode
soaking asap cair dan dry oil coating mampu meningkatkan nilai kalor mencapai
16.545
Hubungan Reforma Agraria dengan Peningkatan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani (Kasus: Lahan Eks HGU PT. Cipicung di Desa Pasawahan, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat).
Salah satu penyebab kemiskinan di pedesaan adalah rendahnya akses petani terhadap tanah serta belum optimalnya pendayagunaan sumberdaya lahan pertanian. Reforma agaria menjadi salah satu solusi untuk mengentaskan kemiskinan. Hal ini dikarenakan reforma agraria merupakan penataan kembali struktur penguasaan kepemilikan tanah yang lebih adil yang mana diharapkan mampu menciptakan pemerataan dan keadilan dalam pemilikan tanah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis reforma agraria dilihat dari aspek asset reform dan access reform, menganalisis peningkatan kesejahteraan petani, serta menganalisis hubungan reforma agraria dengan peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif Data kuantitatif dioleh menggunakan analisis Rank Spearman Correlation dengan pemilihan responden menggunakan metode survei. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan tingkat asset reform pada kategori rendah, kehadiran access reform dan peningkatan kesejahteraan pada kategori sedang. Pada penelitian iniditemukan hubungan antara asset reform dengan kesejahteraan rumah tangga petani, sedangkan kehadiran access reform tidak memiliki hubungan dengan kesejahteraan rumah tangga petani
Model Simulasi Dinamika Struktur Tegakan untuk Penentuan Intensitas dan Siklus Tebang Hutan Alam Bekas Tebangan (Studi Kasus di HPH PT. Triwiraasta Bharata, Kalimantan Timur).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dinamika struktur tegakan
pada hutan bekas tebangan yang dilakukan pada PUP di Areal HPH PT. Triwiraasta
Bharata, Kalimantan Timur. Model simulasi dinamika struktur tegakan disusun
untuk mengetahui perilaku tegakan dengan menentukan besarnya intensitas
penebangan yang diperbolehkan dan menentukan jangka waktu siklus tebang
sehingga dapat menjamin kelestarian dalam kegiatan pengelolaan hutan. Terdapat
4 skenario pertumbuhan pada berbagai tingkat penebangan dan jangka waktu siklus
tebang. Skenario 3 merupakan skenario terbaik dengan mensimulasikan intensitas
penebangan sebesar 15% pohon pada kelas diameter (KD) 40-49,9 cm, 60% KD
50-59,9 cm, 80% KD 60up cm untuk kelompok jenis Dipterocarpaceae; dan 80%
KD 40-49,9 cm, 40% KD 50-59,9 cm, 80% KD 60up cm untuk kelompok jenis
Non-Dipterocarpaceae dengan siklus tebang 30 tahun
Penggunaan Matriks Queen Contiguity dan K-Nearest Neighbor pada Data Panel Spasial Kemiskinan Sumatera Utara
Kabupaten/Kota di Sumatera Utara cenderung memiliki tingkat kemiskinan yang relatif sama sehingga mengindikasikan adanya pengaruh spasial. Pengaruh spasial pada tingkat kemiskinan Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dianalisis menggunakan analisis spasial. Analisis spasial tidak terlepas dari matriks pembobot spasial. Matriks pembobot spasial yang digunakan adalah matriks queen contiguity dan k-nearest neighbor. Data yang digunakan adalah data tahunan tingkat kemiskinan periode 2014 – 2017 dari Badan Pusat Statistik. Adapun data ini merupakan data panel. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan penggunaan matriks queen contiguity dan k-nearest neighbor dalam analisis data panel spasial tingkat kemiskinan Kabupaten/Kota di Sumatera Utara serta mengetahui peubah–peubah yang memengaruhinya. Model data panel terpilih adalah model pengaruh tetap, sedangkan model data panel spasial terbaik adalah model SAR dengan pendekatan matriks queen contiguity. Model tersebut memenuhi semua asumsi dan menghasilkan nilai R2 sebesar 0.993 dan nilai AIC sebesar -6.879. Peubah yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan berdasarkan model terbaik adalah jumlah penduduk, PDRB dan angka harapan hidup
Kajian Perilaku Komplain Konsumen Indonesia berdasarkan Suku, Generasi, dan Karakteristik Sosio-demografi Lainnya
Perilaku komplain adalah suatu respon atas ketidakpuasan konsumen setelah mengosumsi barang dan/atau jasa. Penelitian ini secara umum bertujuan membandingkan dan menganalis pengaruh suku, generasi, dan karakteristik sosio-demografi lainnya terhadap perilaku komplain di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data dari Kementerian Perdagangan RI yang bejudul “Pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen di Indonesia pada 2016-2017”. Terdapat 2100 data dengan perilaku komplain, suku, generasi, dan karakteristik sosio-demografi lainnya sebagai variabel. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, one way anova, dan uji regresi linier berganda dengan SPSS 25.0. Temuan menunjukkan bahwa perilaku komplain konsumen di Indonesia masih rendah. Konsumen Suku Bugis, generasi Y, laki-laki, berasal dari wilayah perkotaan, pekerjaan tenaga profesional, pendidikan tinggi, dan kelas ekonomi A adalah konsumen yang sering komplain daripada kelompok konsumen lainnya. Hasil penelitian menemukan perbedaan yang signifikan pada variabel perilaku komplain berdasarkan suku, generasi, wilayah, tingkat pendidikan, dan kelas ekonomi, sedangkan perilaku komplain berdasarkan jenis kelamin dan pekerjaan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hasil juga menunjukkan bahwa suku, wilayah, tingkat pendidikan, dan kelas ekonomi secara signifikan berpengaruh terhadap perilaku komplain, sedangkan generasi, jenis kelamin, dan pekerjaan tidak berpengaruh terhadap perilaku komplain
Strategi Pengembangan Lembaga Amil Zakat Nasional Bangun Sejahtera Mitra Umat (Laznas BSMU) dengan Business Model Canvas
Lembaga Amil menjadi salah satu solusi dari kemiskinan di negara Indonesia. Laznas BSMU merupakan Lembaga Amil yang mengedepankan nilai dari setiap program yang dijalankan. Namun saat ini Laznas BSMU belum memiliki pemetaan dalam model bisnis untuk dapat mengembangkan lembaga agar dapat bertahan dan bersaing dengan amil zakat lain di Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memetakan model bisnis yang diterapkan pada Laznas BSMU dan merumuskan strategi alternatif pengembangan model bisnis Laznas BSMU. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan model bisnis kanvas dan analisis SWOT. Metode analisis deskriptif diolah berdasarkan dari sembilan elemen model bisnis kanvas yang kemudian dianalisis menggunakan analisis SWOT pada setiap elemen model bisnis kanvas tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alternatif prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh Laznas BSMU yaitu fokus kepada penambahan dan pengembangan sistem inti serta budaya kerja pada Laznas BSMU disamping alternatif-alternatif strategi lainnya. Laznas BSMU diharapkan dapat memanfaatkan kekuatan serta peluang dan menimalisir kelemahan untuk menghindari ancaman
Rancang Bangun Umpan Elektronik Menggunakan Getaran Sebagai Atraktor Ikan
Perikanan tangkap adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan binatang dan tanaman air, baik di laut maupun di perairan umum secara bebas. Sumberdaya perikanan di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan serta berkembangnya teknologi yang pesat di Indonesia merupakan alasan perlu adanya pembaharuan pada bidang perikanan tangkap seperti mengembangkan alat tangkap maupun alat bantu tangkap yang digunakan. Penilitian bertujuan menghasilkan rumpon buatan berbasis elektronik menggunakan getaran dengan frekuensi rendah sebagai atraktor untuk ikan dan mencari tahu frekuensi yang paling efektif pada rumpon elektronik. Penelitian ini dimulai dengan perancangan rumpon elektronik dengan atraktor berbasis getaran, lalu dilanjutkan dengan uji coba rancang bangun, dan pengambilan data. Data yang diambil yaitu perbandingan waktu datang ikan menggunakan rancang bangun rumpon dengan tiga frekuensi getaran yang berbeda dan tanpa menggunakan getaran. Rancang bangun rumpon didesain menyerupai bentuk rumpon pada umumnya namun dengan bahan dan ukuran berbeda. Sumber tenaga rancang bangun rumpon berasal dari baterai dengan daya 1.5 V, 3V dan 6 V. Frekuensi getaran yang dihasilkan dan digunakan pada pengambilan data adalah 720 Hz, 1441.3 Hz dan 2842.9 Hz. Hasil dari pengambilan data menunjukan waktu datang ikan semakin pendek jika frekuensi getaran semakin tinggi. Hasil waktu datang ikan dipisahkan per 5 detik dan di sajikan ke dalam grafik. Grafik data waktu datang ikan per 5 detik menunjukkan bahwa adanya percepatan waktu tunggu atau waktu datang ikan namun tidak linear. Dapat disimpulkan rancang bangun rumpon elktronik berbasis getaran ini dapat menarik perhatian ikan dan semakin tinggi frekuensi yang dihasilkan maka semakin cepat waktu datang ikan
Optimasi Penggunaan Isoamilase pada Tepung Singkong sebagai Alternatif Bahan Pakan Jagung
Tepung singkong merupakan salah satu sumber utama karbohidrat dan energi di Indonesia setelah beras dan jagung. Tepung singkong merupakan salah satu alternatif bahan pakan untuk mengatasi masalah ketersediaan dan meningkatknya harga jagung. Pati singkong mempunyai tingkat resisten pati yang tinggi dibandingkan dengan jagung sehingga sulit dicerna oleh unggas. Salah satu cara meningkatkan kandungan amilosa pada tepung singkong dengan menambahkan isoamilase. Penelitian ini bertujuan menyamakan rasio amilosa/ amilopektin antara tepung singkong dan jagung dengan penambahan isoamilase serta mengetahui metode penambahan isoamilase yang paling efisien. Penelitian ini menggunakan 2 metode penambahan isoamilase yaitu metode langsung (M1) dan metode tidak langsung (M2) dengan 4 perlakuan yaitu P0 (CRM + 0% isoamilase), P1 (CRM + 0.05% isoamilase), P2 (CRM + 0.1% isoamilase) and P3 (CRM + 0.15% isoamilase). Hasil menunjukkan level optimum penambahan isoamilase pada tepung singkong sebesar 0.05% dan metode penambahan isoamilase yang paling efisien adalah metode tidak langsung (M2). Rasio amilosa/ amilopektin pada tepung singkong dengan level 0.05% isoamilase menggunakan metode tidak langsung adalah 1: 2.20 mendekati rasio amilosa/ amilopektin pada jagung yaitu 1: 2.19