31665 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Produksi Bawang Merah di Jawa Tengah.
Jawa Tengah merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia. Produksi bawang merah yang fluktuatif dan produktivitas bawang merah yang semakin menurun mengindikasikan adanya risiko produksi. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor produksi yang mempengaruhi risiko produksi bawang merah dan faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan mengurangi risiko produksi bawang merah. Analisis data menggunakan Just and Pope. Hasil penelitian menunjukkan semua faktor secara nyata memengaruhi produktivitas bawang merah di Jawa Tengah. Faktor yang secara nyata meningkatkan produktivitas bawang merah yaitu bibit, pupuk kandang, pupuk kimia, pestisida padat, tenaga kerja dan musim tanam. Pestisida cair secara nyata menurunkan produktivitas bawang merah. Semua faktor produksi secara nyata memengaruhi risiko produksi bawang merah di Jawa Tengah. Penggunaan pestisida cair, penggunaan tenaga kerja dan dummy musim tanam diduga sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko produksi
Efek Transportasi Antar Pulau Menggunakan Kapal Ternak Camara Nusantara Terhadap Parameter Fisiologis Sapi Bali
Pengiriman ternak menggunakan kapal dapat menyebabkan stres. Stres yang
dialami oleh ternak selama transportasi dapat menurunkan fungsi kekebalan
hewan dan membuat lebih rentan terhadap penyakit. Studi khusus tentang
kesehatan ternak selama pengiriman antar pulau menggunakan kapal Camara
Nusantara sebagai moda transportasi belum pernah dilakukan. Kapal ternak
Camara Nusantara merupakan bagian dari program kewajiban pelayanan publik
angkutan khusus ternak yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian
Perhubungan dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan dan respon fisiologis sapi bali
selama transportasi dari Pelabuhan Tenau (Kupang) ke Pelabuhan Tanjung Priok
(Jakarta) menggunakan kapal ternak Camara Nusantara 3.
Sebanyak dua belas ekor sapi bali jantan dari jumlah total 350 sapi yang
diangkut dengan bobot 200-250 kg dipilih sebagai sampel menggunakan
purposive sampling. Peubah fisiologis berupa suhu rektal, frekuensi napas,
frekuensi jantung, kadar glukosa darah, saturasi oksigen darah, kadar hemoglobin,
dan diferensiasi sel darah putih digunakan untuk mengevaluasi status
kesejahteraan dan tingkat stres hewan selama perjalanan transportasi. Parameter
fisiologis sapi bali mengalami penurunan pada hari 2 hingga 4. Nilai tersebut
berada dalam tingkat stres ringan dalam rentang normal sapi dengan usia dan
bobot tersebut. Namun saat akhir pengamatan, ternak dapat pulih dan
mengembalikan nilai rentang normal tingkat fisiologis mereka. Hasil analisis
menggunakan Repeated Measures ANOVA didapatkan nilai pada peubah
kelembapan, THI (indeks suhu dan kelembapan) dan estimasi penurunan bobot
badan mengalami penurunan yang signifikan (P <0,05). Nilai pada peubah THI
berada dalam tingkat stres sedang
Pengembangan Papan Partikel Tiga Lapis Batang Sorgum dengan Perekat Asam Sitrat-Sukrosa
Batang sorgum sangat berpotensi untuk dijadikan bahan baku papan partikel. Papan partikel dibuat 3 lapis untuk memudahkan papan partikel pada proses pengerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan ukuran partikel halus dan kasar pada papan partikel tiga lapis. Pengujian sifat fisis dan mekanis papan partikel mengacu pada standar JIS A 5908:2003. Hasil terbaik dari penelitian menunjukkan bahwa papan partikel dengan ukuran partikel halus sebanyak 50% pada permukaan (25% atas dan 25% bawah) dan partikel 4-14 mesh sebanyak 50% pada bagian tengah, memiliki sifat fisis dan mekanis terbaik. Papan partikel dari sorgum tersebut memiliki nilai kadar air 6.32%, daya serap air 35%, pengembangan tebal 8.09%, MOE 2057.98 N/mm2, MOR 10.24 N/mm2, keteguhan rekat 0.31 N/mm2, dan Kuat pegang sekrup 155.5 N/mm2. Sifat fisis dan mekanis papan partikel tersebut memenuhi standar JIS A 5908:2003 tipe 8, kecuali untuk pengujian kuat pegang sekrup
Dinamika Distribusi Spasial Primata: Perubahan Iklim dan Implikasinya terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi
Primata merupakan satwaliar yang sangat esensial bagi kehidupan manusia dan
ekosistem di dalamnya. Primata memberikan pengetahuan lebih untuk para peneliti
terkait dengan evolusi manusia, biologi, maupun epidemiologi penyakit. Berbagai
jenis primata mayoritas tersebar di daerah tropis termasuk Indonesia. Indonesia
memiliki kekayaan primata tertinggi di Asia. Namun, ancaman terhadap kepunahan
primata sedang dihadapi oleh primata Indonesia – khususnya dari perubahan iklim
serta kegiatan antropogenik yang menyebabkan kehilangan habitat primata. Hal ini
menjadikan perencanaan konservasi primata sangatlah penting bagi Indonesia.
Tiga famili primata yang memiliki keterancaman tinggi, yaitu Cercopithecidae,
Hominidae, dan Hylobatidae dipilih sebagai objek penelitian. Adapun tujuan
penelitian ini diantaranya: 1) Menentukan model distribusi spasial primata terbaik;
2) Menduga distribusi spasial dari primata untuk kondisi saat ini (baseline) dan
masa depan (tahun 2030); serta 3) Mengidentifikasi wilayah prioritas nasional
untuk konservasi primata.
Analisis spasial dilakukan menggunakan Google Earth Engine untuk
membangun model distribusi primata untuk baseline dan masa depan dengan
skenario iklim RCP8.5. Titik sebaran primata yang bersumber dari Global
Biodiversity Information Facility (GBIF), Direktorat Jenderal Konservasi
Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen
KKH-KLHK), serta studi literatur digunakan sebagai peubah respon. Model
MIROC5 dan WorldClim v2.0 digunakan sebagai peubah iklim, data hutan dari
CCI-ESA yang dielaborasi dengan informasi tutupan tajuk digunakan sebagai
peubah habitat, serta SRTM digunakan sebagai peubah geofisik.
Hasil penelitian menunjukkan algoritma Random Forest merupakan algoritma
terbaik dengan nilai statistik akurasi rata-rata (overall accuracy, true skill statistics,
Kappa, dan area under the curve) sebesar 0.70. Luasan wilayah yang sesuai untuk
habitat primata meningkat dari 4,096,200 ha pada tahun 2000 menjadi 5,516,050
ha pada tahun 2030. Peningkatan secara agregat terjadi pada habitat primata sebesar
1.4 juta ha sehingga menjadi prospeksi yang baik untuk konservasi primata di
Indonesia. Namun, perlu ditinjau bahwa ditemukan pula beberapa kehilangan
habitat yang dapat mengancam keberadaan primata saat ini di wilayah tersebut.
Rincian luasan kehilangan habitat (loss), peningkatan habitat (gain), serta habitat
persisten primata pada masa depan di Indonesia berturut-turut sebesar 1,985,700 ha,
3,405,550 ha, dan 2,110,500 ha.
Kawasan konservasi yang memiliki kehilangan habitat relatif tinggi memiliki
prioritas restorasi habitat. Ekosistem Gunung Leuser menjadi kawasan konservasi
prioritas pertama untuk primata berdasarkan hasil analisis dengan luas kehilangan
habitat sebesar 60,350 ha. Upaya restorasi kawasan serta perencanaan refugium
perlu dilaksanakan sehingga dapat menekan terjadinya kontraksi populasi primata
Pegaruh Pemberian Gula Pasir dan Vitamin C pada Ternak Domba Sebelum Pengangkutan Terhadap Status Faal, Penyusutan Bobot Badan dan Profil Darah saat Transportasi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian gula pasir dan vitamin C dalam transportasi hewan ternak untuk mengurangi tingkat stres pada domba. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan yaitu P1 (Kontrol), P2 (Vitamin C 125 mg kg-1 BB), P3 (Gula Pasir 6 g kg-1 BB) dan 3 ulangan setiap perlakuan. Variable yang dihitung antara lain bobot badan, respirasi, suhu rektal, detak jantung, dan analisis profil darah. Data diolah menggunakan analysis of variance (ANOVA), apabila terdapat perbedaan yang nyata. Dari hasil penelitian pemberian vitamin C pada domba mampu menurunkan stres selama transportasi yang berakibat pada penyusutan bobot badan domba. Penyusutan berat badan domba dengan pemberian vitamin C berhasil mencapai angka 9.95±0.72 kg, lebih rendah dari penyusutan bobot badan domba perlakuan lainnya yaitu pemberian gula yang mencapai 8.58±2.67 kg dan perlakuan control yaitu sebesar 10.92±2.55 kg
Pengaruh Persepsi Harga dan Persepsi Kualitas Produk terhadap Minat Beli Sutera Mandar.
Sutera mandar adalah kain tenun tradisional yang berbahan dasar benang sutera yang diperoleh dari ulat sutera dan diproduksi di Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik konsumen, persepsi harga dan persepsi kualitas produk terhadap minat beli sutera mandar. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, yang dilakukan di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Lokasi penelitian dipilih secara purposive. Contoh dalam penelitian ini adalah pengunjung toko kain sutera mandar sebanyak 60 orang. Pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan teknik convenience sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara langsung menggunakan alat bantu kuesioner. Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung, persepsi harga dan persepsi kualitas produk secara simultan berpengaruh positif terhadap minat beli sutera mandar. Namun, secara parsial hanya usia pengunjung dan persepsi kualitas produk yang berpengaruh positif signifikan terhadap minat beli sutera mandar
Pengendalian Gulma Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Adolina, PT Perkebunan Nusantara IV, Sumatera Utara.
Kegiatan magang di Kebun Adolina, PT Perkebunan Nusantara IV, Sumatera Utara bertujuan meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial budidaya kelapa sawit. Tujuan khusus kegiatan magang yaitu mempelajari pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit. Magang dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2019 hingga 20 Mei 2019. Data dan informasi diperoleh melalui pengamatan langsung dan tidak langsung. Gulma yang mendominansi blok tanaman belum menghasilkan (TBM) (blok 17M) adalah gulma rumput dengan nisbah jumlah dominansi (NJD) 66.58%. Gulma dominan pada blok tanaman menghasilkan (TM) adalah gulma berdaun lebar dengan nilai NJD TM muda (blok 10EF) 79.31%, TM remaja (blok 06M) 71.08%, dan TM tua (blok 98A) 55.6%. Rata-rata nilai koefisien komunitas (KK) dari semua blok yang dibandingkan adalah 34.16% dan nilai koefisien ketidaksamaan dari semua blok pengamatan adalah 66%. Gulma di Afdeling II Kebun Adolina tergolong heterogen. Biaya dan tenaga kerja per hektar yang digunakan pada pengendalian gulma secara kimiawi lebih rendah dibandingkan dengan pengendalian gulma secara manual. Herbisida yang digunakan untuk pengendalian gulma di Kebun Adolina berbahan aktif isopropil amina glyphosate dan metil metsolfuron. Prestasi kerja penyemprot di Afdeling II Kebun Adolina sesuai dengan standar perusahaan yaitu 3.04 ha HK-1. Persentase tingkat penggunaan ala pelindung diri (APD) di Afdeling II yaitu 76.67%
Sintesis Fluorapatit Nanopartikel Berbasis Cangkang Telur Ayam dengan Metode Sonokimia
Apatit alami yang ada dalam gigi berskala nanometer sehingga diperlukan
fluorapatit nanopartikel agar sesuai dengan gigi alami manusia dan meningkatkan
biokompatibilitasnya. Fluorapatit nanopartikel dalam penelitian ini disintesis
menggunakan metode sonokimia dengan variasi molaritas kalsium oksida, asam
fosfat, amonium fluorida, dan variasi amplitudo ultrasonikasi. Hasil karakterisasi
XRD menunjukkan bahwa fluorapatit telah terbentuk pada setiap sampel.
Meningkatkan molaritas kalsium oksida, asam fosfat, ammonium fluorida dan
amplitudo ultrasonikasi dapat meningkatkan kristalinitas dan ukuran kristalit
fluorapatit. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR dan EDX, sampel dengan
perlakuan ultrasonikasi memiliki persentase fluor lebih banyak dibanding sampel
tanpa perlakuan ultrasonikasi. Berdasarkan hasil SEM ukuran rata-rata partikel
sampel tanpa ultrasonikasi cenderung lebih kecil daripada sampel dengan
perlakuan ultrasonikasi
Pengaruh Infrastruktur, Tingkat Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Pemerintah berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan
berbagai cara seperti menaikan anggaran, dan membuat kebijakan-kebijakan baru
terkait infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Namun, pertumbuhan ekonomi
Indonesia dalam rentang tahun 2012-2017 terus menurun dan belum memenuhi
target pemerintah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh
infrastruktur, tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Metode yang digunakan adalah regresi data panel dengan model fixed effect.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa komponen yang memiliki pengaruh
paling besar adalah kesehatan yang diwakili oleh angka harapan hidup, selanjutnya
komponen pendidikan yang diwakili oleh rata-rata lama sekolah dan harapan lama
sekolah. Sedangkan komponen yang memiliki pengaruh paling kecil adalah
infrastruktur yang diwakili oleh rasio panjang jalan kondisi baik terhadap luas
wilayah, persentasi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air minum, dan
persentasi rumah tangga yang mendapatkan sanitasi layak. Hasil tersebut
menunjukkan aspek sumber daya manusia memegang peranan penting dalam
memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah perlu
memberikan perhatian lebih terhadap aspek sumber daya manusia, khususnya
dalam komponen kesehatan
Keragaman Genetik Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Tinjil Berdasarkan Daerah D-loop DNA Mitokondria.
Macaca fascicularis di Pulau Tinjil dikembangbiakan sebagai hewan
model pada penelitian biomedis dan bioteknologi. Perbedaan komposisi genetik
dan asal populasi dari hewan model dapat mempengaruhi hasil penelitian. Oleh
karena itu, analisis komposisi dan keragaman genetik dari M. fascicularis penting
untuk pemilihan secara efisien individu yang akan digunakan, konservasi sumber
genetik, dan monitoring keragaman genetik dalam fasilitas penangkaran.
Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman genetik berdasarkan daerah Dloop
DNA mitokondria dan mengonfirmasi asal usul indukan. Sebanyak 15
sampel darah utuh M. fascicularis diekstraksi dengan QIAmp DNA Blood Mini Kit.
Daerah D-loop mt-DNA diamplifikasi dengan primer LqqF (forward) dan Saru5
(reverse). Amplikon sebesar 1200 pb ditentukan runutan basanya dengan teknik
sekuensing. Data hasil contig sekuen D-loop disejajarkan dengan program
MAFFT UGENE. Keragaman genetik dianalisis dengan perangkat lunak DNAsp
v6.11. Rekonstruksi pohon filogenetik dibentuk berdasarkan metode neighbour
joining menggunakan MEGA X. Panjang sekuen daerah D-loop yang dianalisis
yaitu 921-923 pb dengan 93 situs polimorfik dan empat situs indel. Empat belas
haplotipe dihasilkan dari 15 individu. Keragaman nukleotida pada daerah D-loop
parsial sebesar 0.029 dan keragaman genetik (h) sebesar 0.990. Hasil rekonstruksi
pohon filogenetik menunjukan indukan betina pada populasi Tinjil berasal dari
dua lokasi, yakni Sumatera selatan dan Jawa