31665 research outputs found
Sort by
Optimasi Trainset Dispatching pada KRL Commuter Line.
DKI Jakarta merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia dan tentunya
kepadatan penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan
transportasi melayani mobilitas masyarakat. Pada kenyataannya, kompleksitas
mobilisasi penduduk yang tinggal di perkotaan seringkali tidak didukung oleh
ketersediaan infrastruktur dan moda angkutan umum yang memadai. Saat ini moda
transportasi massal di kota Jakarta adalah kereta rel listrik (KRL) commuter line
yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar dengan waktu perjalanan
yang ditempuh lebih cepat serta hemat energi dan sangat efisien.
Besarnya permintaan sering mengakibatkan terjadinya penumpukan
penumpang di berbagai stasiun terlebih saat waktu sibuk. Pengoperasian KRL
commuter line yang baik dapat memberikan tingkat mobilitas yang tinggi dengan
biaya operasional minimum. Salah satu cara dalam mengurangi penumpukan
penumpang yaitu dengan melakukan keberangkatan jumlah rangkaian kereta yang
tepat di stasiun awal keberangkatan setiap periode waktu. Jumlah rangkaian kereta
yang diberangkatkan akan optimal jika semua permintaan penumpang dapat
terpenuhi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membuat model matematika
penentuan banyaknya rangkaian kereta yang perlu diberangkatkan dari stasiun awal
keberangkatan pada setiap slot waktu dan mengaplikasikan model tersebut pada
rute satu arah stasiun Bogor menuju stasiun Jakarta Kota.
Model matematika pemberangkatan rangkaian kereta diformulasikan dalam
bentuk integer linear programming (ILP).Variabel keputusan dalam model ini ialah
banyaknya setiap jenis rangkaian kereta yang diberangkatkan di stasiun pertama
setiap slot waktu dengan fungsi tujuan meminimumkan total biaya operasional
rangkaian kereta. Beberapa skenario pengujian model digunakan untuk melihat
kesesuaian hasil dari model yang dibentuk. Penelitian ini menggunakan tiga contoh
skenario yang hipotesisnya telah diketahui dengan data ketersediaan trainset, batas
penggunaan trainset selama jam operasional, dan biaya operasional yang berbeda
untuk setiap jenis trainset.
Berdasarkan hasil aplikasi model pemberangkatan jumlah rangkaian kereta
pada KRL commuter line diperoleh pemberangkatan rangkaian kereta dengan biaya
operasional minimum sebanyak 56 perjalanan. Dengan segala kompleksitas yang
tidak diperhitungkan dalam peneltian ini, hasil tersebut 10 perjalanan lebih sedikit
dibandingkan dengan PT KCI dikarenakan dalam penelitian ini hanya
menggunakan satu arah perjalanan dalam analisis. Adanya keterbatasan studi dalam
penelitian ini, maka biaya operasional optimum pemberangkatan jumlah rangkaian
kereta diperoleh sebesar 302C, di mana nilai C dilambangkan sebagai nilai biaya
operasional satuan yang nantinya dapat disesuaikan dengan biaya operasional real
yang dikeluarkan pihak PT KCI
Pengembangan Ekowisata Mangrove Blok Bedul, Resort Grajagan, Taman Nasional Alas Purwo, Provinsi Jawa Timur
Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan kawasan pelestarian dengan formasi vegetasi yang lengkap, salah satu formasinya adalah formasi hutan mangrove yang terletak di mangrove Blok Bedul yang potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan wisata dengan tahapan identifikasi potensi objek wisata, identifikasi pengelolaan wisata, menentukan motivasi, persepsi, serta preferensi pengunjung, dan menyusun strategi pengembangan wisata. Metode yang digunakan adalah studi literatur, observasi lapang, kuesioner, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan skala Likert untuk penilaian motivasi, persepsi, dan preferensi pengunjung, dan strategi pengembangan wisata dianalisis menggunakan SWOT. Hasil penelitian mendapatkan 20 jenis tumbuhan, 5 jenis mamalia, 15 jenis burung air, 1 jenis reptil, 16 jenis pisces, 5 jenis molusca, dan 7 jenis crustaceae. Potensi sosial dan budaya masyarakat setempat adalah kearifan lokal masyarakat dalam mencari ikan, kerang, udang, dan jenis lainnya, serta upacara adat tahunan Petik Laut. Pengelolaan wisata dikelola oleh Balai TNAP, badan pengelola wisata mangrove, dan pemerintah daerah. Kepentingan TNAP sejalan dengan kepentingan desa yaitu, meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya tanpa menebang atau mencari kayu di hutan. Motivasi pengunjung tertinggi (4,27) adalah untuk menghilangkan lelah (refreshing), persepsi tertinggi (3,64) pada keadaan di lokasi, dan preferensi tertinggi (4,21) untuk berjelajah dan menikmati keindahan mangrove
Dinamika Konduktivitas Termal Tanah Dan Evaporasi Tanah Pada Lahan Pertanaman Kelapa Sawit.
Perkebunan Kelapa Sawit memiliki prospek ekonomi yang baik untuk dikembangkan sebagai sumber devisa negara. Kelapa Sawit telah berkontribusi terhadap peningkatan GDP Nasional, hal yang berkaitan mengenai peningkatan produktivitas kelapa sawit akan digunakan sebagai bahan analisis. Analisis ini dapat memberikan informasi baru ataupun melengkapi informasi yang berkaitan dengan suhu tanah, konduktivitas termal tanah, dan evaporasi tanah sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan meteorologi terapan, khususnya pada bidang mikrometeorologi. Selain itu, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam usaha perlakuan intensif dan manajemen yang baik untuk tanaman kelapa sawit sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Salah satu tahapan analisis ini adalah mengenai transfer panas di dalam tanah yang akan dipengaruhi oleh tingkat kebasahan tanah, hal ini akan dikaitkan dengan besar kehilangan air dari permukaan tanah ke atmosfer (Ea dalam mm/30 menit). Metode yang digunakan adalah analisis pengaruh konduktivitas termal tanah (k dalam W/m °C) terhadap laju penjalaran panas di tiga kedalaman tanah (5 cm, 30 cm, dan 60 cm), besar penjalaran panas ini ditunjukkan oleh perbedaan puncak amplitudo suhu tanah dan time lag suhu tanah. Implikasi nilai konduksi tanah ini adalah kepada peningkatan nilai evaporasi tanah yang lebih besar akibat pengaruh tingkat kebasahan tanah pada periode basah dibandingkan periode kering
Hubungan Citra Tubuh, Tipe Perilaku Makan, dan Gaya Hidup dengan Status Gizi Siswa SMA Negeri 1 Bogor
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan citra tubuh, tipe perilaku makan, dan gaya hidup (durasi tidur, kebiasaan sarapan, dan aktivitas fisik) dengan status gizi siswa SMA Negeri 1 Bogor. Penelitian ini bersifat cross sectional study dengan subjek sebanyak 66 siswa pria. Data karakteristik subjek dan keluarga serta gaya hidup dikumpulkan dengan pengisian kuesioner. Citra tubuh diukur menggunakan FRS (Figure Rating Scale), sedangkan tipe perilaku makan diukur menggunakan DEBQ (Dutch Eating Behavior Questionarre). Sebesar 46.97% subjek memiliki citra tubuh negatif, 53% memiliki perilaku external eating, 92.42% memiliki durasi tidur yang kurang, 75.76% memiliki aktivitas fisik yang ringan (PAL: 1.40-1.69), dan 16.67% tidak rutin sarapan (0.05) antara perilaku external eating dan durasi tidur dengan status gizi, begitupula antara tipe perilaku makan dengan citra tubuh. Terdapat hubungan negatif signifikan (p<0.05) antara citra tubuh, tipe perilaku emotional eating, kebiasaan sarapan, serta aktivitas fisik dengan status gizi, sedangkan ada hubungan positif yang signifikan antara tipe perilaku restrained eating dengan status gizi. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin positif citra tubuh, semakin cenderung berperilaku emotional eating, semakin rutin sarapan, dan semakin berat aktivitas fisik, maka status gizi semakin normal. Sedangkan, semakin cenderung berperilaku restrained eating, semakin berhubungan dengan status gizi lebih
Kepadatan Tanah oleh Forwarder dan Skidder dalam Penyaradan Kayu di PT. Musi Hutan Persada.
Pemanenan hasil hutan merupakan kegiatan memindahkan tegakan berdiri
dari dalam hutan ke suatu tempat yang sudah ditetapkan. Salah satu proses dari
pemanenan hasil hutan yaitu penyaradan. Secara umum proses penyaradan pada
areal Hutan Tanaman Industri (HTI) menggunakan alat berat seperti forwarder
dan skidder. Proses penyaradan kayu menggunakan alat berat menyebabkan
penambahan kepadatan tanah pada jalur sarad. Alat berat yang digunakan
forwarder Valmet 875 dan skidder CAT 525D. Pengukuran dilakukan terhadap
besar nilai cone penetration pada permukaan tanah hingga kedalaman 30 cm di
areal yang sedang dipanen. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan tanah yang
dihasilkan forwarder lebih tinggi dibandingkan skidder. Nilai Cone penetration
terus mengalami pertambahan seiring dengan penambahan jumlah rit. Kepadatan
tanah juga cenderung meningkat dari permukaan tanah hingga kedalaman 30 cm
Model Simulasi Dinamika Struktur Tegakan dan Keragaman Jenis pada Hutan Alam Bekas Tebangan (Studi Kasus di HPH PT. Aya Yayang Indonesia Kalimantan Selatan).
Manajemen pengelolaan hutan yang lestari sangat penting untuk diketahui dan diterapkan pada hutan alam. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengetahui karakteristik hutan yang ditunjukkan dengan perilaku tegakan akibat adanya dinamika tegakan atau proses biologis tegakan yang dapat mempengaruhi daya regenerasinya. Penelitian ini dilaksanakan pada PUP di areal HPH PT. Aya Yayang Indonesia Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola dinamika struktur tegakan, komposisi dan keragaman jenis, dan menyusun model simulasi dinamika tegakan guna mengetahui perilaku tegakan dengan mengetahui besaran standing stock, menentukan besarnya intensitas penebangan, dan menentukan jangka waktu siklus tebang yang lestari. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam manajemen pengelolaan hutan lestari adalah dengan model simulasi. Dinamika tegakan hutan yang diteliti menunjukkan bahwa komposisi struktur tegakan pada areal bekas tebangan mengikuti bentuk huruf J terbalik. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh bidang dasar tegakan. Terdapat 65 jenis pohon yang terbagi ke dalam 26 suku dari seluruh petak pengamatan. Jenis yang paling mendominasi adalah Meranti Merah (Shorea sp.) dari suku Dipterocarpaceae (INP= 23,82) atau sekitar 20,45 % dari total kerapatan pohon. Dalam simulasi model terdapat lima perlakuan (skenario) yang dibuat untuk menetukan tingkat intensitas penebangan dan jangka waktu siklus tebang. Skenario 4 merupakan perlakuan yang paling baik (80 % untuk KD 60up dan 40 % untuk KD 50-59,9) dan mempunyai siklus tebang 30 tahun. Selain itu, skenario 5 juga dapat diterapkan pada areal bekas tebangan jika permintaan kayu di pasar semakin tinggi
Evaluasi Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Campuran Pakan terhadap Performa dan Karkas Itik Hibrida
Pistia stratiotes L. merupakan tanaman air yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang baik sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak seperti itik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pemanfaatan kayu apu sebagai campuran pakan terhadap performa, karkas, dan Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Penelitian ini menggunakan 128 ekor DOD (day old duck) itik hibrida. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa pemberian kayu apu (P0), pakan mengandung 10% kayu apu (P2), pakan mengandung 20% kayu apu (P2), dan pakan mengandung 30% kayu apu (P3). Kayu apu diberikan pada itik dalam keadaan segar. Peubah yang diamati adalah performa, bobot karkas, persentase karkas, persentase bagian karkas, persentase bagian nonkarkas, serta Meat Bone Ratio. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kayu apu sebagai campuran pakan tidak berbeda nyata terhadap nilai konversi pakan, bobot badan, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Perlakuan P2 dapat meningkatkan nilai IOFC dengan margin keuntungan sebesar 48.57%. Simpulan dari penelitian ini adalah kayu apu dapat digunakan sampai 30% sebagai pakan itik tanpa menurunkan performa, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio, serta dapat meningkatkan IOFC
Performa Induk dan Anak Kelinci New Zealand White yang Diberi Ransum Mengandung Daun Kelor Pada Fase Laktas
Kelinci adalah ternak yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan ternak lainnya. Daging dan bulu yang berkualitas dapat dihasilkan oleh kelinci karena memiliki potensi biologis dan ekonomi yang baik. Salah satu keunggulan lainnya pada ternak kelinci adalah kemampuannya untuk melahirkan anak yang banyak atau disebut juga dengan istilah prolific. Keunggulan ini juga menjadi kekurangan dari ternak kelinci karena besarnya angka mortalitas pada anak kelinci. Mortalitas pada anak kelinci dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah manajemen kandang, peforma induk, pakan, dan juga kemampuan induk mengasuh anak atau yang disebut mothering ability. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan dan menganalisa performa induk dan anak kelinci new zealand white yang diberi ransum mengandung daun kelor (Moringa oleifera lamk) dengan performa kelinci yang diberi ransum tanpa daun kelor. Analisis data dilakukan dengan metode rancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) dengan taraf 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi pakan perlakuan lebih baik dibandingkan dengan pakan kontrol, begitu halnya dengan pertumbuhan bobot badan induk dan efisiensi pakan induk. Simpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan daun kelor pada ransum meningkatkan peforma induk kelinci new zealand white jika dibandingkan dengan pakan kontrol. Mortalitas dan PBBH anak kelinci tidak memiliki perbedaan yang nyata
Studi Genetik dan Morfofisiologi Toleransi Padi terhadap Cekaman Rendaman dan Kekeringan Mendukung Perakitan Varietas Multi Toleran.
Cekaman rendaman dan kekeringan merupakan cekaman yang seringkali
terjadi di lahan rawa lebak terutama lahan rawa lebak dangkal. Masalah utama pada
lahan rawa lebak ialah sulitnya memprediksi dinamika tinggi muka air sehingga
tanaman padi sering mengalami kekeringan pada musim kemarau dan terendam
akibat curah hujan setempat atau banjir kiriman dari hulu. Lahan rawa lebak
dangkal dan tengahan seringkali mengalami cekaman rendaman pada awal musim
tanamatau pada fase vegetatif dan cekaman kekeringan pada akhir musim atau pada
fase generatif, sehingga padi mengalami dua cekaman sekaligus pada satu periode
hidupnya. Luas lahan rawa lebak dangkal dan tengahan di Indonesia mencapai 7
512 800 ha. Lahan tersebut potensial untuk budidaya pertanian salah satunya
komoditas padi sebagai tanaman pangan utama masyarakat Indonesia. Pada
disertasi ini ditampilkan hasil penapisan terhadap galur-galur padi terhadap
cekaman rendaman dan kekeringan, konfirmasi toleransi padi terhadap cekaman
kekeringan menggunakan marka molekuler, penelitian karakter morfologi dan
fisiologi yang terkait dengan toleransi rendaman dan kekeringan, studi genetik padi
terkait dengan toleransi kekeringan fase generatif menggunakan populasi yang
toleran terhadap cekaman rendaman fase vegetatif, dan evaluasi galur terpilih pada
lahan rawa lebak dan lahan bercekaman ganda secara artifisial.
Tujuan pertama penelitian ini ialah mendapatkan informasi toleransi galurgalur
padi terhadap cekaman rendaman fase vegetatif dan kekeringan fase generatif.
Sebanyak 18 galur diketahui toleran terhadap rendaman dan tujuh galur yang
toleran terhadap kekeringan yang terkonfirmasi secara molekuler. Diantara galurgalur
tersebut, diperoleh tiga galur yang toleran terhadap cekaman rendaman fase
vegetatif dan sekaligus toleran terhadap cekaman kekeringan fase generatif. Ketiga
galur tersebut ialah galur 60 (BP20452e-PWK-0-SKI-3-3), galur 48 (BP20452e-
PWK-0-SKI-1-1), dan galur 56 (BP20452e-PWK-0-SKI-2-4). Berdasarkan
informasi toleransi galur-galur padi terhadap cekaman rendaman dan kekeringan
dipilih beberapa galur yang mewakili genotipe peka dan toleran salah satu maupun
kedua cekaman untuk digunakan pada studi morfofisiologi.
Tujuan kedua penelitian ini ialah mempelajari karakter morfologi, agronomi,
dan fisiologi terkait sifat toleransi dan adaptasi tanaman padi terhadap cekaman
rendaman pada fase vegetatif dan cekaman kekeringan fase generatif. Toleransi
tanaman padi terhadap cekaman rendaman maupun cekaman kekeringan diduga
berdasarkan nilai indeks kepekaan tanaman pada karakter produktivitas. Indeks
tersebut diperoleh dengan melibatkan data produktivitas pada lingkungan tidak
tercekam dan lingkungan tercekam, dimana semakin rendah indeks suatu genotipe
maka semakin toleran genotipe tersebut. Indeks kepekaan tersebut menggambarkan
perubahan produktivitas antara lingkungan tidak tercekam dengan lingkungan
tercekam. Sementara itu, adaptabilitas tanaman padi terhadap cekaman rendaman
maupun cekaman kekeringan diduga berdasarkan nilai produktivitas pada kondisi
cekaman. Berdasarkan penelitian ini diperoleh informasi bahwa karakter
v
kandungan karoten pada 5 hari perendaman, jumlah gabah isi per malai, dan
kandungan klorofil total pada 5 hari perendaman yang tinggi merupakan indikator
suatu genotipe tanaman yang adaptif terhadap cekaman rendaman fase vegetatif.
Karakter selisih tinggi bibit, jumlah gabah isi per malai, fertilitas malai, dan umur
berbunga yang rendah serta selisih kandungan prolin tajuk pada 10 hari perendaman
yang tinggi antara kondisi tidak tercekam dan kondisi rendaman merupakan
indikator sifat toleran terhadap cekaman rendaman fase vegetatif. Karakter indeks
kepekaan kekeringan (IKK) jumlah gabah hampa per malai, IKK fertilitas malai,
IKK tinggi tanaman, IKK N total, MDA dan prolin akar 15 hari kekeringan
merupakan indikator sifat toleran terhadap cekaman kekeringan fase generatif.
Karakter yang merupakan indikator toleransi dan adaptasi untuk kedua cekaman
ialah fertilitas malai dan kandungan prolin pada saat cekaman.
Tujuan ke tiga penelitian ini ialah mengetahui pewarisan toleransi kekeringan
fase generatif menggunakan populasi yang toleran terhadap rendaman fase
vegetatif. Populasi persilangan Lipigo 2 x Inpari 30 Ciherang Sub1 dianalisis
menggunakan nilai tengah enam generasi (P1, P2, F1, BCP1, BCP2, dan F2) pada
kondisi tidak tercekam dan tercekam ganda, dimana pada fase vegetatif diberi
cekaman rendaman dan pada fase generatif diberi cekaman kekeringan.
Berdasarkan percobaan pada kondisi tidak tercekam karakter panjang malai
dipengaruhi aksi gen aditif dan dominan, sedangkan karakter yang lain baik pada
kondisi tercekam maupun tidak tercekam dipengaruhi oleh aksi gen epistasis. Pada
kondisi tercekam terdapat pengaruh tetua betina pada karakter jumlah gabah isi per
malai, jumlah gabah hampa per malai, dan hasil gabah per rumpun.
Mempertahankan variasi genetik hingga generasi lanjut dapat dijadikan strategi
untuk mendapatkan hasil tinggi dan toleran terhadap cekaman kekeringan.
Tujuan ke empat penelitian ini adalah mengevaluasi galur-galur terpilih pada
kondisi sesungguhnya di rawa lebak. Hasil evaluasi selanjutnya dibandingkan
dengan hasil evaluasi kondisi artifisial menggunakan kolam rendaman dan kondisi
tidak tercekam di lahan irigasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe padi
yang menghasilkan produktivitas terbaik lahan rawa lebak ialah Inpara 9, sementara
pada pengujian artifisial menggunakan kolam rendaman ialah IR11T210.
Berdasarkan studi dalam disertasi ini galur 46 (IR11T210), galur 60 (BP20452e-
PWK-0-SKI-3-3), galur 48 (BP20452e-PWK-0-SKI-1-1), dan galur 56 (BP20452e-
PWK-0-SKI-2-4) dapat direkomendasikan untuk uji daya hasil lanjutan dalam
perakitan varietas multitoleran.
Implikasi dari keseluruhan rangkaian penelitian ini diantaranya ialah bahwa
sejumlah karakter agronomi terkait toleransi padi terhadap cekaman kekeringan
dikendalikan oleh aksi gen epistasis, sehingga seleksi toleransi tanaman terhadap
cekaman kekeringan hendaknya dilakukan di akhir generasi. Disamping itu,
ditemukan beberapa karakter seperti jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah
hampa per malai, dan hasil gabah per rumpun pada kondisi cekaman yang
dipengaruhi oleh tetua betina, sehingga dalam hal ini pemilihan tetua betina dalam
perakitan varietas toleran kekeringan harus menjadi pertimbangan khusus.
Berdasarkan penelitian ini juga disarankan agar penyusunan metode skrining
cekaman ganda secara buatan perlu dilakukan kembali dengan menggunakan media
yang lebih besar sehingga perlakuan kekeringan lebih mudah diatur, serta ukuran
contoh yang lebih besar pula
Kombinasi Potong Daun-Curing-Pengeringan dalam Penyimpanan Bawang Merah.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai penyedap aneka masakan, bahan baku industri makanan, dan obat-obatan. Namun bawang merah sangat mudah mengalami perubahan mutu seperti susut bobot, perubahan warna, perubahan volatile dan kerusakan karena memiliki kandungan air yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu bawang merah selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan pemotongan daun dan curing terhadap perubahan mutu bawang merah sebelum penyimpanan dan untuk membuat prosedur pra-penyimpanan optimum dalam mempertahankan mutu bawang merah selama penyimpanan.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) factorial, yang terdiri dari dua factor dengan tiga kali ulangan. Faktor perlakuan yang digunakan adalah (1) perlakuan curing (C) yang terdiri atas: curing 3 hari tanpa pemotongan daun sebelum penjemuran (C3L), curing 3 hari dan pemotongan daun sebelum penjemuranan (C3N), penjemuran tanpa pemotongan daun dan tanpa perlakuan curing (C0L), dan penjemuran dengan pemotongan daun tanpa perlakuan curing (C0N). (2) Suhu penyimpanan (T): penyimpanan pada suhu 5°C RH 65-70% (TL), dan penyimpanan pada suhu ruang (25-32°C) RH ruang (TR). Penyimpanan dilakukan selama 16 minggu dengan parameter yang diamati adalah kadar air, susut bobot, persentase kerusakan, kekerasan, kadar sulfur, dan warna.
Hasil menunjukkan bahwa perlakuan curing berpengaruh positif terhadap kualitas umbi bawang merah dengan kadar air lebih tinggi, susut bobot lebih rendah, dan kualitas warna yang lebih baik selama penyimpanan. Sementara perlakuan pemotongan daun berpengaruh negatif terhadap penurunan kualitas umbi dengan kadar air lebih rendah, susut bobot lebih tinggi, serta kualitas warna lebih rendah. Penyimpanan suhu 5°C menghasilkan kualitas umbi yang lebih baik dibandingkan suhu ruang.
Perlakuan C3L (Curing dan tanpa pemotongan daun) pada penyimpanan suhu 5°C dan RH kisaran 65-75% memiliki kualitas terbaik dengan kerusakan terendah yaitu 7.33%, susut bobot terendah 24.59%, kekerasan 4.32 N, kadar sulfur 0.38%, kadar air 82.91%, Nilai L* 47.38, a* tertinggi 31.06, b 5.78 pada minggu ke-12. Namun pada minggu ke-16 terjadi peningkatan laju penurunan dengan tingkat kerusakan yaitu 32%, susut bobot 38.66%