Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Systematic Review : Karakteristik Fisikokimia Beras Analog dan Potensinya sebagai Pangan Fungsional

    No full text
    Beras analog merupakan beras yang diproduksi sebagian atau seluruhnya menggunakan bahan non-padi. Karakteristik kimia, fisik, serta sensori dari beras analog didesain sehingga menyerupai beras. Bahan baku beras analog diantaranya jagung, sorgum, aren, singkong, ubi, dan sebagainya. Formulasi beras analog didesain sesuai dengan karakteristik yang akan dicapai. Proses pembuatan beras analog umumnya menggunakan metode granulasi dan ekstrusi. Penelitian systematic review ini menggunakan data terpublikasi untuk mengetahui pengaruh komposisi bahan dan pengolahan yang digunakan terhadap karakteristik kimia, warna, sensori serta sifat fungsionalitas dari beras analog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang berbeda memberikan pengaruh terhadap kadar abu, protein serta karbohidrat beras analog. Metode dalam pembuatan beras analog memberikan pengaruh terhadap kadar karbohidrat dan protein beras analog. Sifat fisik beras analog telah menyerupai beras sungguhan namun dari segi warna memiliki warna relatif berbeda dari beras sosoh. Tetapi, beras analog sudah dapat diterima oleh panelis. Formulasi terbaik berdasarkan penerimaan overall tertinggi adalah beras jagung pulut dan lokal (6,20) sedangkan untuk nasi analog yaitu formulasi tepung oyek dan kacang hijau (5,45). Beras analog selain menjadi alternatif makanan pokok juga memiliki sifat fungsionalitas seperti efek hipoglikemik, memiliki kandungan antioksidan, menurunkan resiko kanker kolon, kadar kolesterol, serta berat badan

    berjudul Konversi Limbah Padat Kelapa Sawit Menjadi Bio Oil Menggunakan Proses Hidrotermal Pirolisis dan Catalytic Cracking Hydrodeoxygenation

    No full text
    Kebutuhan energi dari waktu ke waktu semakin bertambah dengan sumber energi fosil. Namun sumber energi fosil merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbahurui dan akan mengalami kelangkaan maka perlu dicari energi alternatif. Beberapa energi alternatif yang bisa menggantikan bahan bakar fosil adalah air, energi matahari, angin, energi termal dan energi biomassa. Energi biomassa dari perkebunan salah satunya adalah biomassa dari limbah perkebunan kelapa sawit. Indonesia penghasil kelapa sawit terbesar dunia dengan luas lahan sampai tahun 2018 seluas 14.3 juta ha (BPS 2019). Dengan luasan tersebut akan menghasilkan biomassa berupa batang hasil replanting, pelepah, tandan kosong kalapa sawit (TKKS), cangkang dan serat buah. Teknologi yang digunakan untuk mengolah biomassa kelapa sawit salah satunya adalah teknologi hidrotermal pirolisis (HP). HP adalah dekomposisi termal senyawa organik tanpa oksigen pada suhu (275-300 °C ), waktu tinggal 0.2 – 1 jam dengan tekanan tinggi (5-20 MPa) dalam ketiadaan oksigen untuk menghasilkan cairan, gas dan arang dengan atau tanpa menambahkan katalis. Dalam penelitian ini, HP menggunakan pelarut asap cair yang berasal dari biomassa sawit. Crude bio oil belum bisa dijadikan langsung sebagai bahan bakar namun perlu dilakukan upgrading dengan penambahan katalis. Katalis yang digunakan adalah katalis arang aktif impregnasi nikel (AA/Ni) dan zeolit alam aktif impregnasi nikel (ZAA/Ni). Tujuan penelitian adalah sebagai berikut : (1) menghitung potensi limbah padat kelapa sawit, (2) menganalisa karakteristik katalis ZAA dan AA impregnasi Ni, dan (3) mengalisa sifat fisik dan kimia crude bio oil dan bio oil. Penelitian tahap pertama yaitu menghitung limbah perkebunan kelapa sawit yang dilakukan dengan pengambilan data di Provinsi Riau. Data yang diambil adalah data luas perkebunan kelapa sawit yang terdiri dari data tananaman belum menghasikan (TBM), tanaman menghasilkan (TM), dan tanaman tua rusak (TTR). Limbah yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit adalah batang hasil replanting, pelepah, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang dan serat buah. Limbah perkebunan kelapa sawit dihitung berdasarkan perhitungan neraca massa (Hambali 2010). Hasil perhitungan diperoleh limbah batang hasil replanting selama periode 5 tahun adalah 2 525 610 ton, pelepah 2 920 024 ton, tandan kosong kelapa sawit 6 663 042 ton, cangkang 1 586 656 ton dan serat buah 2 030 920 ton. Limbah perkebuna kelapa sawit paling berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku bio oil adalah TKKS. Penelitian tahap kedua adalah preparasi zeolit dan arang aktif untuk katalis yang diimpregnasi dengan logam nikel. Zeolit yang digunakan adalah zeolit alam yang berasal dari Bayah dan arang aktif yang dipergunakan adalah arang aktif dari limbah perkebunan kelapa sawit yaitu TKKS. Hasil zeolit alam aktif impregnasi logam nikel (ZAA/Ni) adalah luas permukaan katalis 974.44 (m2/g) pada ZAA/Ni 3%, nilai kristalinitas 70.09 pada ZAA/Ni 2%. Untuk arang aktif impregnasi nikel (AA/Ni) nilai kristalinitas yang tertinggi adalah pada AA/Ni 2% yaitu 44.46%, luas permukaan yang paling luas terjadi pada AA/Ni 2% yaitu 835.819 (m2/g). Penelitian tahap ketiga adalah produksi crude bio oil dengan proses hidrotermal pirolisis, dengan bahan baku TKKS dan pelarut yang digunakan adalah asap cair TKKS. Suhu maksimal yang digunakan untuk memanaskan reaktor adalah 315 °C dengan tekanan maksimal adalah 90 bar. Pada proses ini perlakuan yang diberikan adalah perbedaan ukuran serbuk 40, 60, 80 mesh dan perbedaan tekanan gas hidrogen yaitu 10 dan 15 bar. Untuk analisa data digunakan Rancangan acak faktorial dengan 2 faktor yaitu ukuran serbuk dan perbedaan tekanan gas hidrogen dengan 3 kali ulangan. Dari hasil analisis mengunakan tabel ANOVA diperoleh nilai pH adalah perlakuan ukuran serbuk 60 mesh, tekanan gas hidrogen 10 bar. Nilai viskositas yang memberikan pengaruh berbeda adalah perlakuan ukuran serbuk 80 mesh dengan jumlah tekanan hidrogen 15 bar. Untuk hasil analisa Gas Cromatography Mass Spectrometry (GC-MS) adalah adanya senyawa alifatik hidrokarbon sebagai senyawa yang mudah terbakar. Penelitian ini menemukan 46 jenis senyawa aromatik, 36 jenis senyawa alifatik dan 19 jenis senyawa alifatik hidrokarbon (lampiran 1). Perlakuan terbaik dari proses produksi bio oil hidrotermal pirolisis adalah ukuran serbuk 60 mesh, tekanan gas hidrogen 15 bar dengan persentase senyawa hidrokarbon 15.24%. Nilai HHV crude bio oil adalah 39.13 MJ/kg pada perlakuan ukuran serbuk 60 mesh, tekanan gas hidrogen 15 bar. Nilai HHV berkorelasi dengan persentase rendahnya kandungan oksigen dan tingginya persentase kandungan karbon. Penelitian tahap keempat adalah melakukan upgrading crude bio oil dengan perlakuan memberikan katalis AA/Ni 2 % dan katalis ZAA/Ni 3 % dengan masing – masing perlakuan diberikan katalis 4% dari berat crude bio oil. Upgrading bio oil dilakukan dengan reaktor bio oil dengan suhu 450 °C tekanan gas hidrogen 15 bar. Tekanan akhir yang terjadi pada reaktor setelah suhu mencapai 450 °C adalah ± 125 bar. Hasil upgrading crude bio oil menunjukkan terjadi peningkatan senyawa hidrokarbon dan HHV (MJ/kg). Senyawa hidrokarbon meningkat dari 15.24% menjadi 27.72%, nilai HHV 39.13 MJ/kg menjadi 40.27 MJ/kg yang terjadi pada katalis AA/Ni 2%. Sedangkan pada katalis ZAA/Ni 3% terjadi penurunan HHV yaitu 38.81 MJ/kg dan persentase hidrokarbon mengalami penurunan sebesar 13.61 %. Adanya penambahan katalis AA/Ni 2% dapat meningkatkan senyawa hidrokarbon dan nilai HHV pada bio oil hasil upgading. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah tandan kosong kelapa sawit dapat dijadikan bahan baku bio oil, limbah kelapa sawit ini memiliki prospek yang baik dengan potensi pertahun sebesar 4 879 347 ton/tahun (BPS, 2017) dan diperkirakan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya luasan kebun kelapa sawit. Untuk meningkatkan kualitas bio oil dilakukan upgrading dengan menggunakan katalis ZAA/Ni 3% dan AA/Ni 2%, dimana perlakuan terbaik diperoleh dari bahan baku berupa serbuk dengan ukuran 60 mesh dan tekanan H2 15 bar, yang menghasilkan nilai HHV bio oil 40.27 MJ/kg, serta dapat meningkatkan senyawa hidrokarbon dari 15.24% menjadi 27.72%

    Analisis Pengelolaan Perikanan Skala Kecil dengan Pendekatan Ekosistem Berbasis Spasial

    No full text
    Pemanfaatan wilayah pesisir dan laut di perairan Bangka tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor perikanan, tetapi juga sektor pertambangan dan pariwisata. Walaupun sektor pertambangan menjadi sektor utama dalam pembangunan daerah, sektor perikanan termasuk salah satu penyumbang pendapatan daerah selain sektor pertanian. Ketergantungan terhadap sektor perikanan, terutama dirasakan oleh masyarakat pesisir Kabupaten Bangka yang didominasi oleh nelayan kecil. Selama beberapatahun terakhir, pemanfaatan wilayah perairan Bangka oleh sektor pertambangan semakin masif dilakukan, dimana wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) Laut semakin bertambah. Pada situasi ini, ruang gerak nelayan kecil semakin berkurang akibat aktivitas penangkapan yang tidak lagi maksimal dikarenakan daerah penangkapan ikan yang semakin berkurang. Akibatnya nelayan melaut lebih jauh dengan frekuensi yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan perikanan skala kecil di perairan Kabupaten Bangka melalui pemetaan keragaan dan status terkini daerah penangkapan ikan (DPI) yang terdampak izin usaha pertambangan (IUP) serta menyusun strategi pengelolaan perikanan skala kecil berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2019 dengan menggunakan metode observasi, wawancara mendalam terhadap responden melalui pendekatan partisipatif dan kuesioner. Analisis keragaan dan status pengelolaan perikanan skala kecil di perairan Kabupaten Bangka dilakukan melalui pendekatan indikator Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM). Selanjutnya status keberlanjutan dari model bioekonomi disimulasikan melalui model dinamik perikanan yang diadopsi dari model Basic Fisheries dari Ruth dan Hannon (2012). Strategi pengelolaan perikanan skala kecil dilakukan melalui pendekatan keputusan taktis (tactical decision). Status pengelolaan perikanan skala kecil pada perairan Kabupaten Bangka yaitu Zona DPI dengan IUP (Zona A) tergolong sedang, Zona DPI dengan IUP tanpa kegiatan (Zona A1) tergolong baik, dan Zona DPI tanpa IUP (Zona B) tergolong dalam status sedang. Keberlanjutan pengelolaan perikanan pada ketiga zona berdasarkan analisis bioekonomi menurut jenis ikan pelagis dan demersal, diketahui bahwa perikanan pelagis Zona A cenderung economical overfishing, sedangkan perikanan demersal sudah menunjukkan kondisi economical overfishing; Zona A1 dan Zona B baik pelagis maupun demersal berada pada kondisi underfishing. Simulasi yang dilakukan selama 10 tahun dengan interval 2.5 tahun pada ketiga zona DPI pada kondisi MSY dan MEY baik pada perikanan pelagis maupun demersal menunjukkan penurunan signifikan rata-rata tahun ke 2.5 pada parameter stok (N), effort (E), dan produksi (x), sehinggga kondisi pengelolaan dengan pendekatan bioekonomi pada ketiga zona tidak berlangsung lebih dari 2.5 tahun. Strategi pengelolaan perikanan dengan keputusan taktis diprioritaskan pada indikator range collaps, kapasitas penangkapan, konflik perikanan, pendapatan nelayan, dan penguatan kelembagaan

    Rasio Daun per Buah dan Indeks Luas Daun Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L.) di Kebun Percobaan Tajur dan Pasirkuda, Bogor, Jawa Barat

    No full text
    Rasio daun per buah dan indeks luas daun merupakan metode yang umum digunakan untuk menentukan standar pemangkasan dalam produksi buah tanaman. Penelitian ini bertujuan membandingkan karakter morfologi antar populasi manggis serta mengetahui nilai rasio daun-buah dan indeks luas daun (ILD) tanaman manggis di dua lokasi yaitu Tajur dan Pasirkuda. Penelitian ini dilaksanakan dari November 2018 sampai Mei 2019 di Kebun Percobaan Tajur dan Pasirkuda. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan faktor tunggal dan sepuluh ulangan. Faktor yang digunakan pada penelitian ini adalah lokasi, yaitu Tajur dan Pasirkuda. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata pada sebagian besar karakter morfologi yang diamati di kedua populasi. Nilai rasio daun-buah di Tajur dan Pasirkuda adalah berturut-turut 34.98 dan 60.85. Nilai ILD antar kedua populasi tidak berbeda nyata dengan rentang antara 5.7 – 14.1

    Kandungan Total Fenolik, Flavonoid, dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Jengger Ayam (Celosia cristata) pada Berbagai Pelarut.

    No full text
    Molekul yang memiliki satu atom atau lebih elektron yang tidak berpasangan dapat disebut radikal bebas. Tubuh dapat mengalami stress oksidatif karena keterbatasan antioksidan, yaitu keadaan ketika kemampuan tubuh dalam menangkal radikal bebas lebih kecil daripada jumlah radikal bebas di dalam tubuh. Salah satu tanaman yang diketahui memiliki potensi antioksidan adalah biji tanaman jengger ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan ekstrak pelarut berbeda dari biji jengger ayam. Pelarut yang digunakan antara lain akuades, metanol, etanol, aseton, dan isopropanol. Rentang total fenolik sebesar 0.212 ± 0.022 - 2.192 ± 0.023 mg GAE/g bobot kering, flavonoid sebesar 0.083 ± 0.006 - 0.272± 0.015 mg QE/g bobot kering, dan aktivitas antioksidan metode DPPH sebesar 0.349 ± 0.01 - 1.069 ± 0.052 μmol TE/g bobot kering. Rentang aktivitas antioksidan metode FRAP dan CUPRAC sebesar 3.152 ± 0.112 - 6.666 ± 0.089 μmol TE/g bobot kering dan 0.776 ± 0.03 – 32.492 ± 01.62 μmol TE/g bobot kering. Berdasarkan uji fenolik dan flavonoid didapatkan pelarut terbaik adalah akuades. Berdasarkan uji aktivitas antioksidan DPPH terbaik pada pelarut akuades sedangkan metode FRAP dan CUPRAC adalah pelarut aseton

    Analisis Faktor Kematian Ibu Hamil di Pulau Jawa Tahun 2017

    No full text
    Angka kematian ibu hamil (maternal) dan angka kematian bayi merupakan salah satu ukuran bagi kemajuan kesehatan suatu negara, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan ibu dan anak. Angka kematian maternal merupakan indikator yang mencerminkan status kesehatan ibu, terutama risiko kematian bagi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor yang memengaruhi kematian ibu hamil di Pulau Jawa. Data yang digunakan merupakan data angka kematian ibu hamil tahun 2017 di Pulau Jawa. Metode yang digunakan yaitu regresi Poisson. Berdasarkan analisis regresi Poisson data yang digunakan mengalami overdispersi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai deviance yang lebih besar dari satu yaitu 3.808. Overdispersi diatasi dengan analisis Zero-Inflated Poisson, diperoleh lima peubah bebas yang memengaruhi kematian ibu hamil di Pulau Jawa yaitu persentase rumah tangga ber-PHBS (X3), persentase penduduk yang memiliki akses air minum yang layak (X4), persentase ibu hamil yang mendapat imunisasi TT1 (X8), persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe1 (X10), dan persentase perkiraan ibu hamil dengan komplikasi kebidanan (X12). Kelima peubah bebas tersebut signifikan pada taraf nyata 10%. Metode ukuran kebaikan yang digunakan yaitu AIC, nilai AIC regresi Poisson yaitu 629.42 sedangkan nilai AIC regresi ZIP yaitu 473.82

    Profil Organ Dalam dan Bobot Karkas Ayam Broiler yang Diberi Jamu Kombinasi Temulawak dan Daun Bangun- Bangun

    No full text
    Pengunaan antibiotik secara berlebihan dalam pakan ternak serta kurangnya pemahaman tentang waktu henti (withdrawal time) obat hewan dapat berakibat pada gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan, residu antibiotik, dan resistensi mikroorganisme. Jamu merupakan alternatif yang berkhasiat dan dapat digunakan sebagai substitusi antibiotik. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pemberian jamu kombinasi tamulawak dan daun bangun-bangun terhadap profil organ dalam ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 60 ekor ayam broiler strain Cobb, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan dengan masing-masng perlakuan 15 ekor. Perlakuan tersebut ialah kelompok ayam yang tidak diberi jamu sebagai kontrol dan kelompok ayam yang diberi jamu kombinasi dengan konsentrasi bertingkat (0.0625%, 0.1250%, dan 0.1875%). Pemberian perlakuan jamu dilakukan dengan dicampurkan dalam air minum pada hari ke-8 sampai hari ke-35. Hasil menunjukkan bahwa pemberian jamu kombinasi berpengaruh nyata terhadap bobot karkas, bobot lemak abdomen, bobot paru-paru, bobot ginjal, dan bobot usus, serta terhadap persentase bobot karkas, persentase bobot lemak abdomen dan persentase bobot paru-paru. Pemberian jamu kombinasi yang paling efektif untuk meningkatkan bobot karkas dan mengoptimalkan fungsi organ dalam ayam beroiler adalah jamu kombinasi dengan konsentrasi 0.1250%

    Kandungan Logam Berat (Hg dan Cd) pada Ikan Mas (Cyprinus carpio, Linn 1758) Budidaya di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.

    No full text
    Waduk Jatiluhur memiliki berbagai fungsi, sebagai : (a) pembangkit listrik (b) pengendali banjir (c) sumber pengairan irigasi (d) pemasok air untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan untuk kegiatan perikanan budidaya (e) lokasi wisata. Waduk Jatiluhur rentan terhadap masukan limbah berbahaya dan beracun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kandungan logam berat merkuri (Hg) dan kadmium (Cd) pada ikan mas (Cyprinus carpio, Linn 1758) serta mengetahui tentang batas konsumsi ikan mas yang terkontaminasi logam berat. Kandungan logam berat dianalisis dengan metode AAS. Nilai konsentrasi logam berat Hg dalam daging berkisar sebesar 0,020-0,027 mg/kg dan pada insang berkisar sebesar 0,020-0,027 mg/kg. Sementara itu, Nilai konsentrasi logam berat Hg di air sebesar <0,0001 mg/L dan <0,002 untuk Cd. Nilai bioconcentration factor (BCF) untuk Hg dan Cd adalah 222,22-300,00 dan 10,00-28,42. Nilai batas aman konsumsi (safety level) untuk orang dewasa (50 kg) adalah 45,37 kg daging/minggu sedangkan untuk anak-anak (15 kg) adalah 13,61 kg daging/minggu

    Pemetaan Wilayah Potensi Pengembangan Tanaman Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) berdasarkan Aspek Agroklimat di Provinsi Jawa Tengah

    No full text
    Diantara semua jenis buah naga, buah naga merah adalah jenis yang paling populer. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian agroklimat sebagai dasar penentuan wilayah potensial untuk mengembangkan buah naga merah di Provinsi Jawa Tengah. Kesesuaian lahan dievaluasi berdasarkan faktor iklim (curah hujan, suhu udara) dan kondisi tanah (tekstur tanah, kemiringan lereng). Sebagai pembanding teoritis, studi ini juga mengevaluasi kesesuaian agroklimat dua wilayah penghasil buah naga merah, yaitu Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hasil analisis menghasilkan beberapa kelas kesesuaian, yaitu kelas S1(sangat sesuai), S2(cukup sesuai), S3(sesuai marginal), dan kelas N(tidak sesuai). Tumpang susun kelas agroklimat dengan kelas penggunaan lahan menghasilkan area potensial untuk pengembangan tanaman buah naga merah. Kabupaten Kendal memiliki kelas S1 terluas dengan luas wilayah 1033 ha atau 0.03% dari total luas Provinsi Jawa Tengah. Kelas kesesuaian terluas adalah kelas S2 dengan luas areal 2035674 ha atau 59.49% dari luas total Provinsi Jawa Tengah. Wilayah dengan luas 542263 ha tidak dapat dilakukan konversi. Meskipun Kabupaten Sleman dan Kabupaten Banyuwangi merupakan sentra buah naga merah di Indonesia, kedua kabupaten ini didominasi kelas S3. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan buah naga merah di beberapa lokasi di Provinsi Jawa Tengah secara teoritis dimungkinkan

    Optimasi Pemurnian Minyak Ikan Tuna dengan NaCl dan Suhu menggunakan Response Surface Methodology

    No full text
    Minyak ikan tuna yang berasal dari hasil samping industri pengalengan masih mengandung bahan-bahan non minyak berupa pengotor dan fosfatida sehingga memiliki kualitas yang rendah dan umumnya digunakan untuk pakan, belum digunakan untuk pangan. Oleh karena itu, dibutuhkan proses pemurnian lebih lanjut agar kualitas minyak ikan memenuhi standar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan minyak ikan sesuai IFOS 2014 dan Codex 2017 menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Rancangan eksperimen yang digunakan yaitu Central Composite Design (CCD) yang terdiri dari dua faktor (konsentrasi NaCl dan suhu) dengan lima respon (asam lemak bebas, bilangan asam, bilangan peroksida, anisidin, dan total oksidasi). Kombinasi dari konsentrasi NaCl dan suhu degumming menunjukkan kondisi respon optimum pada konsentrasi 5% dan suhu 50°C. Validasi kondisi optimum menghasilkan nilai rendemen 57.1%, asam lemak bebas 0.41±0.07%, nilai asam 0.62±0.11 mgKOH/g, nilai peroksida 2.30±0.12 meq/kg, nilai anisidin 14.13±0.09 meq/kg, dan nilai total oksidasi 18.73±0.85 meq/kg. Persentase penurunan hasil respon setelah dilakukan pemurnian, nilai asam lemak bebas 56.38%, nilai asam 61.49%, nilai peroksida 86.39%, nilai anisidin 71.64%, dan total oksidasi 77.60%. Minyak ikan tuna murni pada kondisi optimal menghasilkan dokosaheksaenoat (DHA) sebesar 18.49% dan nilai respon parameter oksidasi yang sesuai IFOS 2014 dan Codex 2017

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇