31665 research outputs found
Sort by
Evaluasi Performa Populasi F1 dari Delapan Kombinasi Persilangan Hotong (Setaria italica L. Beauv.).
Hotong (Setaria italica L. Beauv.) merupakan tanaman penghasil
karbohidrat bernilai gizi tinggi dan memiliki toleransi terhadap beberapa cekaman
abiotik. Persilangan antara genotipe hotong yang memiliki beberapa sifat unggul
dilakukan untuk mengembangkan varietas hotong yang unggul. Idiotipe yang
ditargetkan termasuk produktivitas tinggi, umur panen singkat, habitus pendek,
toleransi terhadap cekaman abiotik, dan nilai gizi yang tinggi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengevaluasi populasi F1 dari delapan kombinasi
persilangan hotong, yaitu ICERI-5 x Botok-4, ICERI-5 x Botok-10, ICERI-6 x
Botok-4, ICERI-6 x Botok-10, Botok-4 x ICERI-5, Botok-4 x ICERI-6, Botok-10
x ICERI-5, dan Botok-10 x ICERI-6. Hibrida hotong yang dikonfirmasi oleh marka
SNP berbasis gen SiDREB2 ditanam di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan
(240 m dpl) dari Agustus 2019 hingga Maret 2020. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa berdasarkan total poin data dan total poin heterosis kombinasi persilangan
terbaik adalah ICERI-6 x Botok-10, ICERI-6 x Botok-4, dan ICERI-5 x Botok-10
Kinerja Pertumbuhan Ikan Mas Cyprinus carpio dengan Pemberian Pakan Komersil yang Berbeda di Waduk Cirata, Jawa Barat.
Kegiatan budidaya dengan padat tebar tinggi membutuhkan pemberian pakan berkualitas, kandungan nutrien lengkap, serta seimbang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan menjaga kesehatan ikan. Pakan dalam kegiatan akuakultur menghabiskan 75–90% dari biaya produksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kinerja pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) yang dipelihara pada karamba jaring apung dengan pemberian empat pakan komersil berbeda. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan yaitu pakan komersil A, pakan komersil B, pakan komersil C, dan pakan komersil D. Ikan yang digunakan memiliki bobot rata rata 30 g. Ikan dipelihara pada KJA berukuran 7 × 7 × 4 m. Ikan diberi pakan tiga kali sehari (07.00, 12.00, dan 17.00 WIB) dengan metode at satiation selama 70 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pakan D memiliki hasil terbaik pada rasio konversi pakan, retensi lemak, dan tingkat kelangsungan hidup. Sedangkan penggunaan pakan C hanya memiliki hasil terbaik pada retensi protein
Komunikasi Lingkungan dalam Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia.
Pengelolaan sumber daya alam pada umumnya melibatkan pihak yang memiliki konflik pengaruh dan kepentingan, begitu halnya dengan pengembangan kelapa sawit di Indonesia. Pengembangan yang masif menjadikan Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia. Bagi Indonesia, kelapa sawit memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dan perolehan devisa bagi negara. Devisa ekspor yang dihasilkan oleh komoditas ini pada tahun 2016 mencapai 24 juta ton dengan nilai 16 miliar dolar Amerika. Luas perkebunan mencapai 14,3 juta ha pada tahun 2018 (angka estimasi) dengan total produksi mencapai 42,7 juta ton. Perkebunan rakyat berkontribusi terhadap 36,5% produksi minyak sawit nasional dengan luas areal perkebunan mencapai 5,8 juta ha atau setara dengan 42,3% dari total areal perkebunan sawit nasional. Namun demikian pertumbuhan industri minyak kelapa sawit dalam perkembangannya menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat internasional khususnya di kawasan Eropa dan Amerika yang berujung pada hambatan perdagangan dan menurunnya daya saing minyak sawit Indonesia. Berkembangnya diskursus negatif secara luas kemudian memunculkan adanya pembelaan-pembelaan yang berujung pada terjadinya perang diskursus yang menilai bahwa kontroversi minyak sawit sebenarnya adalah persoalan perang dagang.
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengidentifikasi dan memetakan diskursus yang berkembang dan menjadi kontroversi dalam tata kelola kelapa sawit di Indonesia.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis interpretasi/persepsi dari para pemangku kepentingan terhadap diskursus dalam tata kelola kelapa sawit di Indonesia.
3. Menganalisis pengaruh dan dampak diskursus tentang tata kelola kelapa sawit di Indonesia terhadap praktik pertanian keberlanjutan yang diadopsi petani.
4. Menganalisis derajat pengaruh dan kepentingan dari pemangku kepentingan serta merumuskan strategi komunikasi yang tepat dan solutif dalam perbaikan tata kelola kelapa sawit di Indonesia.
Metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis digunakan dalam penelitian ini. Alur analisis terbagi menjadi dua tahapan utama yaitu analisis diskursus tiga tingkat Fairclough yang dilanjutkan dengan analisis pemangku kepentingan. Analisis teks media online selama periode 2015-2018 menunjukkan bahwa pemberitaan sawit di media online masih didominasi oleh publikasi yang berkaitan dengan isu lingkungan yang mengindikasikan semakin kuatnya tekanan LSM terhadap aspek transparansi, penegakan hukum dan keterlibatan multipihak yang ditujukan kepada kepada pemerintah dan korporasi. LSM mampu membentuk opini publik bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan kejahatan korporasi dan dampak dari kegagalan
pemerintah dalam menyelesaikan masalah-masalah lingkungan. Tuntutan dan tekanan dimaksud berdampak pada terjadinya beberapa perubahan kebijakan yang menempatkan aspek lingkungan sebagai isu sentral. Analisis interpretasi diskursus dari pemangku kepentingan yang menginterpretasikan kontestasi antara sawit dengan hutan sebagai diskursus utama dalam tata kelola sawit di Indonesia. Kelompok developmentalis menggunakan legitimasi pragmatis dan kognitif untuk mengkritisi hegemoni standar keberlanjutan global yang didukung oleh legitimasi moral. Analisis sosial menunjukkan bahwa standar keberlanjutan global berdampak pada terciptanya petani pragmatis petani cenderung menyatakan tidak ada keterkaitan langsung antara diskursus negatif global mengenai isu degradasi lingkungan dengan praktik budidaya yang mereka terapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sertifikasi keberlanjutan dapat merubah perilaku petani secara komunal, namun belum sampai pada perubahan nilai-nilai dan motivasi personal terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Analisis pemangku kepentingan membagi pihak-pihak yang terlibat dalam tata kelola sawit di Indonesia dalam empat kuadran dalam sebaran yang tidak berimbang. Terdapat 31 pemangku kepentingan yang berada pada kuadran Crowd yang menunjukkan adanya indikasi bahwa keriuhan kontroversi yang terjadi bersumber dari pihak-pihak yang sebetulnya tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap perbaikan tata kelola. Di lain pihak, pemangku kepentingan yang memiliki posisi strategis tidak diajak untuk berpartisipasi lebih aktif dalam mencapai sebuah konsensus. Strategi komunikasi yang direkomendasikan oleh penelitian ini antara lain:
1. Melakukan komunikasi yang lebih terbuka dan partisipatif, khususnya kepada pemangku kepentingan Key Players (Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Greenpeace) dan Context Setter (SPKS, Sawit Watch, Kemenko Perekonomian, TUK dan CIFOR) dengan disertai upaya nyata dalam meningkatkan aspek keberlanjutan.
2. Mengkomunikasikan perencanaan jangka pendek dan jangka panjang yang jelas dalam perbaikan tata kelola kelapa sawit dan mendorong kerjasama yang lebih konstruktif dengan negara mitra.
3. Review bersama antara Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN untuk mengurai kekusutan dan tumpang tindih regulasi secara menyeluruh, terutama masalah legalitas lahan, mengingat masalah ini merupakan isu krusial yang menjadi akar dari permasalahan-permasalahan tata kelola lainnya seperti konflik lahan, ketidakpastian investasi, deforestasi serta lambatnya implementasi program peremajaan dan sertifikasi ISPO.
4. Memperluas cakupan kerjasama penelitian antar pemangku kepentingan pemerintah dan non pemerintah untuk menghasilkan penelitian yang tidak memihak dari kredibel. Output penelitian yang dihasilkan dapat digunakan sebagai basis studi akademik obyektif dalam upaya diplomasi dan menjadi acuan intervensi kebijakan
Perbandingan Nilai Kapasitas Tukar Kation Tanah Organik Menggunakan Larutan Amonium Asetat yang Disangga Sekitar pH Lapang dan 7.0.
Kapasitas tukar kation (KTK) dan basa-basa yang dapat dipertukarkan
adalah dua langkah terpenting untuk menentukan karakteristik dan kualitas tanah.
Terdapat beberapa metode pengukuran KTK, di antaranya adalah metode
amonium asetat Schollenberger dan Dreibelbis (1930) yang disangga pada pH 7.0
dan metode barium klorida-trietanolamina Mehlich (1938) yang disangga pada pH
8.2. Pengukuran KTK menggunakan kedua metode ini dapat menghasilkan nilai
yang sangat berbeda dengan KTK tanah pada keadaan lapangannya (KTK efektif
atau KTK), terutama untuk tanah masam, seperti tanah organik, dengan KTK
yang bergantung pada pH. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai
KTK tanah organik yang diekstrak menggunakan larutan amonium asetat dengan
pH sekitar lapang (pH 3.8, 4.2, 4.8) dan netral (7.0). Lima sampel tanah organik
dan dua sampel tanah mineral digunakan dalam penelitian ini. Variabel yang
diukur adalah KTK dan basa-basa yang dapat dipertukarkan menggunakan larutan
amonium asetat yang disangga pada beberapa pH; pH lapang (asam) sebesar 3.8,
4.2, 4.8, dan netral (7.0). Setiap sampel tanah dan tingkat pH diulang tiga kali.
Hasil menunjukkan hubungan positif antara pH larutan amonium asetat dengan
KTK tanah, semakin tinggi pH larutan pengekstrak maka KTK yang terukur juga
semakin tinggi. Nilai KTK yang diukur menggunakan amonium asetat ber-pH 3.8
dan 4.2 memiliki selisih nilai yang lebih rendah daripada KTK yang diukur
menggunakan larutan amonium asetat ber-pH 4.8 dan 7.0. Secara umum, selisih
nilai KTK antara pH 3.8 dan 4.2 berada di bawah 25%, sedangkan selisih nilai
KTK antara pH 3.8 dan 7.0 mencapai 212%. Pengukuran yang dilakukan dengan
menggunakan larutan amonium asetat ber-pH tinggi pada tanah organik tidak
akan menghasilkan nilai KTK yang representatif terhadap kondisi di lapangan dan
mengarah pada analisis data yang salah. Oleh karena itu, pH larutan pengekstrak
yang paling cocok untuk mengukur KTK tanah organik adalah 3.8 atau 4.2.
Namun, ekstraksi dengan larutan ber-pH 3.8 lebih sulit untuk dilakukan karena
terdapat kesulitan dalam pembuatan larutan dan larutan tersebut bersifat kurang
stabil sehingga, amonium asetat ber-pH 4.2 adalah larutan yang paling
direkomendasikan untuk proses ekstraksi. Di sisi lain, perbedaan nilai pH larutan
pengekstrak tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap kation yang dapat
dipertukarkan di tanah organik
Kajian Data Jumlah Kasus Baru Kusta di Pulau Jawa Menggunakan Pemodelan Linear Terampat dan Spasial
Data jumlah kasus baru kusta merupakan data cacah non negatif. Salah satu
metode klasik yang digunakan untuk menganalisis data cacah adalah regresi
Poisson. Namun apabila pada data respon yang diamati ditemukan adanya kondisi
overdispersi (pada kasus ini, nilai ragam lebih besar dari rataan), maka regresi
Poisson tidak tepat lagi untuk diterapkan. Teknik analisis regresi yang dapat
diterapkan untuk mengatasi masalah overdispersi diantaranya yaitu regresi
binomial negatif.
Metode regresi binomial negatif kurang sesuai jika diterapkan pada data
spasial yang menyebabkan perbedaan karakteristik antara wilayah satu dengan
wilayah lainnya. Oleh karena itu diperlukan teknik analisis lain untuk mengatasi
kondisi overdispersi dan mencakup pengaruh spasial. Metode Regresi Poisson
Terboboti Geografis (RPTG) adalah salah satu metode yang dikembangkan untuk
analisis data dengan memperhitungkan faktor spasial. Peubah respon yang diteliti
merupakan peubah acak diskrit yang berdistribusi Poisson dan memperhatikan
faktor spasial, maka hubungan antara peubah respon dalam hal ini jumlah kasus
baru kusta dan peubah penjelas dapat diketahui dengan metode tersebut sehingga
dapat diketahui faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus
baru kusta di tiap kabupaten/kota di Pulau Jawa. Sebagai perbandingan, digunakan
pula metode Geographically Weighted Negative Binomial Regression (Regresi
Binomial Negatif Terboboti Geografis/RBNTG) untuk penanganan overdispersi
dan pengaruh spasial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji data jumlah kasus baru kusta di Pulau
Jawa tahun 2017 menggunakan pemodelan linear terampat (yakni model regresi
Poisson dan regresi binomial negatif) dan pemodelan spasial (RPTG dan RBNTG);
membandingkan hasil dari keempat pemodelan tersebut untuk memperoleh
pemodelan terbaik; dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kasus
baru kusta di Pulau Jawa berdasarkan pemodelan terbaik yang diperoleh. Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Profil Kesehatan Tahun 2017
dari Dinas Kesehatan seluruh provinsi di Pulau Jawa dan publikasi Daerah Dalam
Angka Tahun 2018 dari BPS Provinsi di Pulau Jawa. Unit pengamatan yang
digunakan adalah seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa yang ada sebanyak 119
kabupaten/kota. Peubah respon yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah
kasus baru kusta pada tahun 2017. Peubah penjelas yang diamati yaitu jumlah
penduduk, persentase balita yang diimunisasi BCG, persentase rumah tangga
berperilaku hidup bersih dan sehat, persentase rumah sehat, persentase jumlah
penduduk dengan akses air minum layak, persentase jumlah penduduk dengan
sanitasi layak, dan rata-rata tenaga kesehatan per desa/kelurahan.
Dari hasil eksplorasi data diperoleh nilai jangkauan dan ragam yang besar
pada data jumlah kasus baru kusta di Pulau Jawa mengindikasikan jumlah kasus
baru kusta yang beragam pada tiap kabupaten/kota di Pulau Jawa. Hubungan antara
jumlah kasus baru kusta dan faktor-faktor yang memengaruhinya dianalisis
menggunakan analisis regresi Poisson. Pemeriksaan overdispersi pada data jumlah
kasus baru kusta dilakukan dengan uji dispersi menghasilkan nilai sebesar 51.61
yang lebih dari 1 menunjukkan adanya overdispersi. Keberadaan overdispersi
dalam model harus diatasi, salah satunya dengan menggunakan regresi binomial
negatif. Nilai AIC dan BIC dari model regresi binomial negatif jauh lebih rendah
dibandingkan model regresi Poisson. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi
binomial negatif lebih baik daripada model regresi Poisson. Namun masih ada
masalah keragaman spasial yang belum diatasi. Adanya keragaman spasial antara
satu titik pengamatan dengan titik pengamatan lainnya dapat dilihat dengan
pengujian Breusch-Pagan. Dari hasil pengolahan uji ini diperoleh nilai statistik BP
sebesar 28.409 dengan nilai p sebesar 1.854×10-4 pada taraf nyata 5% sehingga
disimpulkan bahwa ada keragaman spasial antar wilayah.
Hasil pemodelan dengan RBNTG diperoleh nilai koefisien dan peubah yang
signifikan berpengaruh terhadap kasus baru kusta berbeda-beda tiap kabupaten/kota
di Pulau Jawa. Pemodelan RBNTG menghasilkan 14 kelompok kabupaten/kota
berdasarkan kesamaan peubah penjelas yang signifikan. Sedangkan pada
pemodelan dengan menggunakan pendekatan RPTG menghasilkan 6 kelompok
kabupaten/kota yang memiliki kesamaan peubah penjelas yang signifikan.
Penilaian terhadap model dilakukan berdasarkan nilai AIC dan BIC terkecil. Model
yang lebih baik diterapkan untuk data jumlah kasus baru kusta di Pulau Jawa adalah
model RBNTG karena mempunyai nilai AIC dan BIC yang paling kecil.
Kata kunci: kasus baru kusta, keragaman spasial, overdispersi, RBNT
Efektivitas Pemanfaatan Cyber Extension dalam Meningkatkan Kapabilitas Petani
Berkembangnya media informasi yang semakin pesat menyajikan berbagai
macam jenis informasi dari beberapa platfrom media yang tersebar. Hadirnya cyber
extension sebagai alternatif media teknologi informasi dan komunikasi dalam inovasi
pertanian berupa aplikasi MyAgri yang dilucurkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayur
yang memuat informasi seputar hortikultura untuk petani hortikultura di Indonesia
diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas petani dalam mengelola inovasi tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan sejuah mana pemanfaatan cyber extension
sebagai media perolehan informasi pertanian oleh petani, menganalisis hubungan antara
karakteristik petani dengan pemanfaatan cyber extension sebagai media perolehan
informasi pertanian, dan menganalisis hubungan pemanfaatan cyber extension sebagai
media perolehan informasi pertanian dalam meningkatkan kapabilitas petani. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sensus dengan data kuantitatif berupa
kuesioner yang didukung oleh data kualitatif berupa wawancara mendalam dengan admin
aplikasi MyAgri. Penentuan responden penelitian sebanyak 30 orang dengan
menggunakan teknik sensus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang
sangat nyata antara pemanfaatan cyber extension dengan indikator karakteristik tingkat
pendidikan formal, motivasi, dan ketersediaan jaringan, dan terdapat hubungan sangat
nyata antara pemanfaatan cyber extension dengan kapabilitas petani mengeola inovasi
Sebaran Konsentrasi Sedimen Tersuspensi dan Sedimen Dasar Berdasarkan Citra Landsat 8 dan Pengukuran Lapang di Teluk Banten.
Muatan padatan tersuspensi (MPT) merupakan salah satu indikator tingkat
kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi konsentrasi
MPT dan jenis sedimen dasar secara spasial di Teluk Banten. Metode yang
digunakan adalah pengambilan data insitu MPT dan sedimen dasar sebanyak 10
stasiun pada bulan Juli 2017 dan Oktober 2017. Penelitian ini juga melakukan
analisis penginderaan jauh menggunakan citra Landsat 8 untuk sebaran MPT.
Citra Landsat 8 diekstraksi dengan menggunakan algoritma Budhiman dan
Parwati, lalu dibuat peta sebaran konsentrasi MPT pada bulan Juli dan Oktober.
Curah hujan pada bulan Juli sebesar 252 mm dan pada bulan Oktober sebesar 203
mm diduga merupakan faktor penyebab tingginya masukan MPT melalui sungai
ke Teluk Banten. Konsentrasi MPT insitu pada bulan Juli berkisar antara 60 - 210
mg/L dan pada bulan Oktober berkisar antara 80 - 190 mg/L. Angin pada bulan
Juli bertiup domminan dari arah timur dan Oktober dari arah utara. Pola arus pada
bulan Juli bergerak dari timur ke barat dengan kecepatan maksimum mencapai 0,6
m/s sedangkan pada bulan Oktober arus bergerak dari utara dan berbelok ke timur
dengan kecepatan maksimum mencapai 0,4 m/s. Kadar MPT yang tinggi ikut
mempengaruhi jenis sedimen dasar berupa fraksi debu yang mendominasi
perairan Teluk Banten
Penerapan Hotspot Analysis dan Regresi Logistik pada Kasus Difteri di Jawa.
Difteri merupakan penyakit yang mudah menular, mematikan, dan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Sebagai tindakan penanggulangan KLB, pemerintah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) yang bertujuan menutup kesenjangan imunitas (immunity gap). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah hotspot kasus difteri, faktor yang memengaruhinya, dan melihat dampak pelaksanaan ORI pada daerah hotspot dan bukan hotspot. Metode yang digunakan untuk mendeteksi hotspot adalah Getis-Ord . Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya daerah hotspot, dilakukan uji parameter simultan dan parsial pada model regresi logistik. Data yang digunakan berasal dari profil kesehatan tiap provinsi di Jawa pada tahun 2017. Dari hasil penelitian, terdapat 20 daerah yang ditetapkan berstatus hotspot. Faktor yang memengaruhi terbentuknya daerah hotspot yaitu kepadatan penduduk dan persentase desa Universal Child Immunization (UCI). Berdasarkan hasil pembandingan kasus difteri pada tahun 2017 dan 2018, pelaksanaan ORI sebagai tindakan penanggulangan KLB difteri cukup baik. Penetapan lokasi ORI oleh Kementerian Kesehatan sudah tepat. Namun, cakupan imunisasi tidak merata sehingga masih terdapat daerah dengan peningkatan kasus yang tinggi meskipun ORI sudah dilaksanakan
Implikasi Desain Berdasarkan Studi Persepsi Pengguna untuk Pengembangan Keterlacakan Produk Ternak dengan Blockchain di Indonesia
Keterlacakan dalam rantai pasokan kesehatan masyarakat veteriner sangat
penting untuk meningkatkan nilai dan kepercayaan produk daging konsumen. Ada
tantangan dalam mengembangkan sistem keterlacakan, yang mencakup informasi
yang direkam dalam sistem, desain sistem, dan mekanisme untuk menjaga
integritas informasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, peran studi pengguna
dalam pengembangan sistem keterlacakan sangat penting untuk memastikan
kegunaan sistem. Dalam penelitian ini, studi pengguna dilakukan untuk menangkap
karakteristik dan persepsi konsumen ternak di wilayah Bogor. Berdasarkan hasil
survei, lima implikasi desain dirumuskan, yaitu (1) penerapan sistem keterlacakan
harus mempertimbangkan pemahaman konsumen tentang manfaat teknologi
keterlacakan, (2) informasi yang disajikan dalam sistem harus sesuai dengan target
pengguna karena kelompok sasaran yang berbeda memiliki keprihatinan dan
prioritas yang berbeda, (3) memastikan kemudahan penggunaan sistem, (4) peran
pemerintah dalam sistem harus jelas untuk meningkatkan kepercayaan publik
terhadap sistem, dan (5) teknologi keterlacakan seperti blockchain dapat
meningkatkan persepsi positif pelanggan
Dampak Perubahan Luas Mangrove di Papua dan Papua Barat terhadap Emisi Karbon
Mangrove adalah ekosistem hutan pantai yang unik karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon atmosfer dan perairan dalam jumlah besar bahkan jika dibandingkan dengan tipe hutan lain. Namun keberadaannya di Papua dan Papua Barat kini terus mengalami penurunan luas akibat faktor antropogenik (perubahan fungsi lahan) dan faktor alam. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengawasan dan pelaporan kondisi mangrove hubungannya dengan dampak yang ditimbulkan akibat perubahan luas mangrove terhadap pelepasan sejumlah emisi karbon ke atmosfer dalam jangka waktu yang lama. Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan (i) mengidentifikasi penyebaran luas mangrove, (ii) menduga laju penurunan luas dan konsekuensinya terhadap cadangan karbon menurut tipe hidrogeomorfik, dan (iii) menduga emisi karbon di atas permukaan tanah setiap kabupaten akibat perubahan tutupan lahan mangrove dekade pertama (2001-2010) dan kedua (2011-2018) dengan memanfaatkan Atlas Papua dan pendekatan beda-cadangan (stock-difference approach) di setiap tipe hidrogeomorfik. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa Kabupaten Teluk Bintuni memiliki persentase luas mangrove terbesar yaitu 19% (228.419 ha) dan Kabupaten Tambrauw memiliki luas terkecil 0,002% (10 ha) dari total seluruh luas mangrove di Papua dan Papua Barat sebesar 1.174.947 ha pada tahun 2018. Luasan mangrove terdeteksi mengalami penurunan luas akibat perubahan fungsi lahan menjadi badan air, kawasan penambangan, daerah penebangan kayu, dan tutupan lahan lain seperti pemukiman hingga pelebaran jalan dengan laju 0,16%/th. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pengurangan cadangan karbon di atas permukaan dengan laju 10,52±8,60 Gg C/th atau 19,30±15,78 Gg CO2 ha/th. Emisi CO2 rata-rata dari deforestasi mangrove di Provinsi Papua dan Papua Barat tersebut hanya menyumbang 0.002% dari emisi nasional sektor FOLU sebesar 979.422 Gg CO2 ha/th