31665 research outputs found
Sort by
Hubungan Modal Sosial dengan Tingkat Keberdayaan Karyawan Unit Usaha Kampoeng Mataraman (Kasus: Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, D.I. Yogyakarta)
Potensi desa dan sumberdaya yang ada di Indonesia masih memerlukan pemanfaatan secara maksimal untuk dapat mencapai peningkatan kesejahteraan. Salah satunya dengan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dalam pelaksanaannya BUMDes membutuhkan modal sosial yang berfungsi sebagai perekat dalam persepsi terhadap proses pemberdayaan. Keberdayaan masyarakat yang dihasilkan dari persepsi terhadap proses pemberdayaan dapat menjadikan masyarakat menjadi mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan modal sosial dengan tingkat keberdayaan karyawan unit usaha Kampoeng Mataraman BUMDes Panggung Lestari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif diolah menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan pemilihan responden menggunakan metode sensus. Hasil penelitian ini menemukan bahwa modal sosial masyarakat yang tergabung dalam unit usaha Kampoeng Mataraman tingkatan sedang, persepsi terhadap proses pemberdayaan berada pada tingkatan sangat baik dan masyarakat cukup berdaya. Temuan ini disimpulkan semakin tinggi modal sosial yang dimiliki oleh individu maka semakin tinggi juga tingkat keberdayaan dan terdapat hubungan yang cukup berarti antara modal sosial dengan tingkat keberdayaan
Estimasi Nilai Kehilangan Food waste dan Potensi Implementasi Denda Sisa Makanan di Rumah Makan (Studi Kasus : Grand Garden Café & Resto, Kebun Raya Bogor).
Kebun Raya Bogor memiliki jumlah kunjungan terbesar di antara wisata alam lainnya yang berlokasi di Kota Bogor. Sebagian wisatawan menghabiskan hampir 40% dari anggaran mereka untuk makanan pada saat bepergian, dan sebesar 50% dari pendapatan restoran berasal dari wisatawan. Adanya kebiasaan makan di luar (eating out) sebagai gaya hidup meningkatkan volume sampah makanan, sedangkan 93% sampah organik di Indonesia berasal dari sampah makanan. Dalam kasus ini, perilaku food waste sulit dicegah karena berhubungan dengan kebiasaan, sedangkan food waste menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan karena menimbulkan pencemaran serta pemborosan sumberdaya dalam pengolahannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan terjadinya food waste untuk mendukung program Zero Waste 2030 dalam SDG nomor 12. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui persepsi dan perilaku pengunjung rumah makan mengenai food waste; (2) Mengestimasi jumlah timbulan dan nilai kehilangan food waste yang dihasilkan restoran; dan (3) Menganalisis potensi implementasi sistem denda untuk food waste pada konsumen restoran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif menggunakan skala Guttman, skala Likert, metode SNI 19-3964-1994, dan Contingent Valuation Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tentang isu food waste dan pengakuan memiliki kebiasaan mencegah terjadinya food waste dalam kesehariannya, tidak bisa menjamin seseorang untuk tidak berperilaku menyisakan makanan yang berpotensi menimbulkan food waste. Besarnya nilai kehilangan dari food waste di restoran (Rp872.338.472/tahun) menggambarkan adanya pemborosan sumberdaya yang tidak dapat dihindari sehingga sistem denda pada sisa makanan konsumen dapat sebagai salah satu alternatif solusi. Adapun skema denda sesuai nilai rataan WTP pengunjung resto adalah Rp15.676 sampai Rp21.360 untuk setiap 100 gram sisa makanan konsumen dan berlaku kelipatannya, sedangkan pada menu buffet adalah sebesar Rp50.000
Sintesis dan Pencirian Hidroksiapatit dari Cangkang Bekicot (Achatina fulica) dengan Metode Presipitasi
Hidroksiapatit (HAp) dapat disintesis dari bahan alam yang kaya akan
kalsium. Cangkang bekicot (Achatina fulica) merupakan bahan alam yang banyak
mengandung kalsium. Kandungan kalisum dalam cangkang spesies ini mencapai
44.5%. Metode yang digunakan dalam sintesis HAp ini ialah metode presipitasi,
dengan mereaksikan Ca(OH)2 dari sampel cangkang dan (NH4)2HPO4 sebagai
sumber prekursor fosfat dengan ragam suhu pelengketan (sintering) 600, 800, 1000,
dan 1100 °C. Berdasarkan hasil spektrum difraksi sinar–X, semakin meningkat
suhu semakin meningkat kristalinitas HAp. Analisis menggunakan spektrum
inframerah transformasi fourier menggambarkan keberadaan gugus fungsi OH-,
PO4
3-, dan CO3
2- pada penggunaan suhu pelengketan 600, 800, dan 1000 °C. Pada
penggunaan suhu 1100 °C tidak terdapat gugus fungsi CO3
2-. Analisis berdasarkan
mikroskop elektron pemayaran menunjukkan bahwa HAp pada suhu 1100 °C
memiliki bentuk yang lebih seragam dibandingkan dengan penggunaan suhu 600
°
Produksi, Potensi, dan Karakterisasi Plantarisin dari Lactobacillus plantarum S34 secara in vivo pada mencit ddY.
Resistensi antibiotik merupakan permasalahan yang timbul akibat kesalahan
penggunaan antibiotik yang tidak tepat sehingga mikroorganisme dapat
menyesuaikan diri untuk bertahan hidup. Beberapa mikroorganisme dilaporkan
memiliki resistensi terhadap lebih dari satu jenis antibiotk/multiple drug resistence
(MDR). Di Indonesia, keberadaan bakteri yang telah memiliki resistensi terhadap
antibiotik telah ditemukan, seperti pada golongan Staphylococcus, Pseudomonas,
Proteus, Shigella, Klebsiella, Escherichia, dan Salmonella. Berbagai upaya
dilakukan untuk menangani kasus yang disebabkan oleh bakteri MDR, seperti
bakteriofag maupun ekstrak kasar plantarisinlorasi bahan berpotensi antimikrob,
salah satunya adalah peptida antimikrob seperti plantarisin.
Penelitian mengenai plantarisin yang berasal dari Lb. plantarum telah
dilakukan sebelumnya dengan mengisolasi Lb. plantarum S34 dari bekasam.
Aktivitas antimikrob plantarisin diketahui mampu menghambat pertumbuhan
mikroorganisme, seperti Escherichia coli, Listeria innocua, Micrococcus luteus,
Enterococcus casseliflavus, Lactococcus lactis lactis, dan Lactobacillus plantarum.
Aktivitas antimikrob yang lebar ini menjadikan plantarisin sebagai kandidat
senyawa antimikrob yang baru. Sebagai kandidat antimikrob baru, pengujian
terhadap keamanan dan efektivitas antimikrob plantarisin S34 baik secara in vitro
maupun in vivo harus dilakukan. Pada penelitian ini pengujian terhadap keamanan
plantarisin dilakukan secara in vivo dengan pengamatan selama 48 jam dengan
dosis 50, 100, 1000, dan 5000 mg/kgBB.
Identifikasi berat molekul menggunakan SDS-PAGE menunjukkan adanya
pita pada posisi 7.34 kDa dan 5.82 kDa. Protein dengan bobot <10 kDa ini diduga
merupakan plantarisin tipe II. Dua buah pita yang muncul diduga sebagai
plantarisin EF dan JK. Pita pada posisi 7.34 yang diduga sebagai plantarisin EF juga
mirip dengan total bobot molekul dari plantarisin E yang sebesar 3.75 kDa dan
plantarisin F sebesar 3.86 kDa. Sedangkan pita dengan ukuran 5.82 memiliki
ukuran yang hampir sama dengan berat molekul plantarisin JK jika dihitung
menggunakan rata-rata bobot molekul asam amino. Pengujian terhadap aktivitas
ekstrak kasar plantarisin menunjukkan aktivitas yang kuat terhadap EPEC K1.1 dan
S. aureus, aktivitas baik terhadap S.typhimurium dan Proteus, dan lemah terhadap
S. typhosa
Hasil pengujian terhadap toksisitas ekstrak kasar plantarisin S34 tidak
menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Penurunan maupun kenaikan
yang dialami mencit masih berada pada rentang normal mencit. Pengamatan
terhadap kadar biokimia darah ureum dan kadar SGPT. Kenaikan kadar ureum
dapat diakibatkan oleh pemecahan secara enzimatik ekstrak kasar plantarisin S34
oleh enzim proteolitik. Pemecahan protein ini menghasilkan urea maupun amoniak
pada darah yang akan dibuang melalui feses maupu urin. Kadar SGPT meningkat
dapat dikarenakan adanya aktivitas penguraian oleh enzim proteolitik yang
dihasilkan oleh hati. Namun demikian, peningkatan kadar SGPT masih dalam taraf
5
normal sehingga tidak menunjukkan adanya kelainan pada fungsi organ hati.
Pengamatan terhadap organ ginjal maupun hati tidak menunjukkan adanya
kerusakan yang diakibatkan oleh pemberian ekstak kasar plantarisin S34.
Pemberian ekstrak kasar plantarisin S34 menunjukkan tidak ada gejala toksisitas
baik secara analisis hematologi maupun hstopatologi hingga dosis 5000 mg/kgBB
Model Optimasi Supply Wisata Alam Destinasi Ciwiwdey
Evaluasi tujuan wisata berdasarkan supply dan persepsi sisi permintaan sangat
penting dalam pariwisata, terutama untuk menentukan kebijakan investasi masa
depan. Evaluasi dari sisi permintaan menunjukkan tingkat kepuasan dan efek
revisitnya terhadap turis di objek wisata tertentu sembari menentukan kurangnya
faktor pasokan dapat digunakan untuk mengoptimalkan pasokan di masa depan.
Penelitian ini bertujuan untuk membangun model optimasi supply di destinasi
wisata alam Ciwidey, agar dapat memaksimalkan layanan bagi wisatawan yang
berkunjug ke Ciwidey serta Merancang Managemen Kolaborasi dalam rangka
optimasi supply destinasi wisata Ciwidey. Proses mendapatkan dan mempelajari
persepsi pengelola dan persepsi pengunjung terhadap layanan yang ada di wisata
alam destinasi Ciwidey berlangsung dalam tiga langkah, pertama adalah
pengisisan kuisioner dengan jumlah responden sebanyak 120 yang mana dalam
tiap lokasinya diwakili 30 responden. Kedua adalah wawancara dan ketiga ialah
studi pustaka. Ketiga data ini akan digunakan untuk persiapan model optimisasi,
yang mana digunakan untuk menganalisis faktor supply yang ada di Destinasi
Ciwidey.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang perlu untuk
dioptimalkan, yaitu variabel ketersediaan informasi, transportasi, dan fasilitas
keagamaan. Ketiga variabel tersebut tergolong rendah pada sisi pengunjung.
Setiap variabel terdiri dari indikator-indikator dimana optimalisasi harus
dilakukan secara kolaboratif oleh semua pemangku kepentingan yang
diikutsertakan, diantaranya adalah pemerintah, biro transportasi, dinas kehutanan,
pengelola wisata, dan masyarakat lokal di sekitar lokasi wisata. Sisi layanan
khusus yang meliputi variabel layanan khusus (objek dan daya tarik wisata, sarana
dan prasarana, kegiatan wisata dan konservasi) yang ada di empat lokasi
penelitian memiliki perbedaan signifikan disetiap lokasinya. Pemenuhan supply
yang bertitik pada kuadran II setiap lokasi harus dievaluasi oleh pengelola
keempat lokasi wisata berdasarkan evaluasi dari sisi persepsi pengunjung.
Peningkatan layanan baik umum maupun khusus untuk destinasi Ciwidey
membutuhkan kolaborasi yang terkordinasi oleh seluruh stakeholder yang terlibat.
Rekomendasi kinerja indikator dan kolaborasi stakeholder terkait serta pembuatan
Ciwidey Tourism Center menjadi tawaran dari peneliti untuk kedepannya bisa
digunakan demi pengoptimalisasian layanan wisata alam destinasi Ciwidey
Karakterisasi Genetik Berdasarkan DNA Mitokondria D-loop dan Gen TSPY pada Siamang Kerdil (Hylobates klossii) Kepulauan Mentawai.
Siamang kerdil (Hylobates klossii) merupakan satwa primata endemik kepulauan Mentawai dengan nama lokal bilou. Hylobates klossii tersebar di pulau-pulau besar di Mentawai seperti Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Populasi siamang kerdil terancamkarena deforestasi dan perburuan. Siamang kerdil masuk dalam kategori genting (Endangered) berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 2008. Hylobates klossii terdaftar di CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Apendiks I/Tahun 2001 dan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018.
Salah satu cara untuk menanggulangi kerusakan habitat dan penurunan populasi dapat dilakukan melalui usaha konservasi. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis garis keturunan secara maternal berdasarkan DNA Mitokondria D-loop (D-loop mtDNA) dan garis keturunan secara paternal berdasarkan gen TSPY (testis specific protein in Y-chromosome) serta mengkarakterisasi struktur gen penyandi protein TSPY pada siamang kerdil (Hylobates klossii) Kepulauan Mentawai.
Sampel dikoleksi dari dua tempat, yaitu penangkaran TSI (Taman Safari Indonesia) dan Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Sampel yang digunakan adalah sampel darah dan feses dari lima individu, yaitu Nam-nam, April, Lestari, Gou-gou yang diperoleh dari TSI dan sampel feses dari satu individu, yaitu Bilou diperoleh dari Kepulauan Mentawai. Amplifikasi PCR dilakukan pada sampel DNA dan cDNA menggunakan primer spesifik untuk D-loop dan TSPY. Amplikon dirunutkan menggunakan primer dua arah dan dianalisis dengan metode bioinformatik berupa BioEdit, Clustal W, dan MEGA 7. Model struktur tiga dimensi protein TSPY diprediksi menggunakan I-TASSER dan divisualisasikan dengan program PyMol.
Berdasarkan analisis DNA Mitokondria D-loop, H. klossii terdiri atas empat haplotipe, yaitu 1) Nam-nam dan April, 2) Bilou, 3) Lestari, dan 4) Gou-gou dengan rentang jarak genetik 0.00-0.047. Analisis berdasarkan gen TSPY dari dua jantan H. klossii menunjukkan bahwa April memiliki nilai jarak genetik yang lebih dekat dengan H. muelleri, yaitu 0.005 dibandingkan dengan H. klossii, yaitu 0.008. Analisis pohon filogeni menggunakan metode neighbor joining juga menunjukkan individu April mengelompok dengan H. muelleri (identitas 99.56%) sementara Gou-gou dengan H. klossii (identitas 100%).
Karakterisasi gen parsial TSPY (990 bp) antara Gou-gou dan April menunjukkan bahwa ada lima mutasi nukleotida yang menyebabkan empat mutasi asam amino, yaitu Pro100Ala, Asn133Asp, Gly277Glu, dan Thre281Ser. Mutasi ini menyebabkan pergeseran posisi struktur asam amino berdasarkan model struktur protein TSPY antara individu Gou-gou dan April. Hasil analisis mengasumsikan
individu April adalah perkawinan silang antara betina H. klossii dan jantan H. muelleri.
Karakterisasi genetik diharapkan dapat mendukung upaya konservasi melalui rekomendasi untuk pengelolaan pelestarian H. klossii yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah perkawinan sedarah dan kawinnya indvidu hibrida dengan spesies lain di penangkaran
Peran Komunikasi Pemasaran Terpadu dalam Peningkatan Pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Pertumbuhan dan perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Usaha
Mikro Kecil dan Menengah digunakan untuk mengurangi pengangguran dan
menyerap tenaga kerja. Pemasaran menjadi salah satu masalah utama yang
dihadapi oleh UMKM. Komunikasi pemasaran terpadu dapat digunakan untuk
memperkenalkan produk kepada pelanggan dengan menggunakan komponenkomponen
yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran
komunikasi pemasaran terpadu pada peningkatan pendapatan UMKM. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif
dengan responden sebanyak 33 orang. Hasil penelitian yang diperoleh
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara karakteristik UMKM
dengan komunikasi pemasaran terpadu, tidak terdapat hubungan signifikan antara
karakteristik pelaku UMKM dengan komunikasi pemasaran terpadu, terdapat
hubungan yang signifikan antara komponen komunikasi pemasaran terpadu
dengan peningkatan pendapatan UMKM, dan terdapat hubungan yang signifikan
antara komunikasi pemasaran terpadu dengan peningkatan pendapatan UMKM
Analisis Kebijakan Gizi dalam Menurunkan Prevalensi Stunting di Jawa Barat.
Menurut Riskesdas 2018, prevalensi balita stunting di Jawa Barat 31.1% dan tergolong tinggi. Penanganan masalah stunting menjadi prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan menjadi salah satu akar masalah dan prasyarat pendukung dalam menanggulangi masalah gizi. Tujuan penelitian adalah menganalisis kebijakan gizi dalam menurunkan prevalensi stunting di kabupaten/kota Jawa Barat. Desain penelitian adalah studi ekologi. Lokasi penelitian di Jawa Barat dengan unit penelitian 27 kabupaten/kota. Jenis data adalah data sekunder berupa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan prevalensi stunting kabupaten/kota Jawa Barat. Sumber data dari Badan Pusat Statistik, Riset Kesehatan Dasar, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Kebijakan gizi dilakukan dengan menganalisis konten, aktor, anggaran. Analisis konten berupa analisis kesesuaian program intervensi gizi. Analisis aktor berupa analisis keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam program intervensi gizi. Analisis anggaran berupa analisis anggaran program intervensi gizi. Uji korelasi antar variabel dengan spearman. Hasil menunjukkan rata-rata kabupaten/kota memiliki program intervensi gizi yang sesuai standar sebesar 62%. Kabupaten Bandung barat memiliki persentase kesesuaian paling tinggi yaitu 79%. Keterlibatan OPD Kabupaten Bandung dalam program paling banyak, yaitu 37. Rata-rata intensitas keterlibatan OPD kabupaten/kota sebesar 90.4%. Anggaran program paling besarn Rp 1,674.84 milliar dimiliki Kabupaten Bandung. Uji korelasi menunjukkan jumlah kesesuaian program berhubungan positif signifikan dengan prevalensi stunting
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Impulse Buying Makanan dan Minuman pada GrabFood
Perkembangan teknologi secara pesat di era globalisasi menyebabkan tren gaya hidup masyarakat di Indonesia mengalami perubahan. Kemudahan teknologi dan komunikasi telah merubah fenomena perilaku belanja sebagian masyarakat secara langsung (offline) bergeser ke pola belanja melalui aplikasi dalam jaringan (online). Salah satunya adalah pola konsumsi masyarakat khususnya persoalan makanan, dimana masyarakat membeli makanan melalui aplikasi menggunakan smartphone. GrabFood merupakan salah satu aplikasi pesan-antar makanan secara online yang paling sering digunakan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi impulse buying makanan dan minuman pada GrabFood. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner yang dilakukan oleh responden yang pernah melakukan pembeli tidak terencana (impulse buying) makanan dan minuman di Grabfood dan berdomisili di Jabodetabek. Metode analisis yang digunakan adalah non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan bantuan program Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kualitas produk dan promosi memiliki pengaruh secara signifikan terhadap impulse buying di GrabFood
Perbedaan Morfofisiologi Daun Tumbuhan Asli Lahan Gambut dan Non-Gambut pada Naungan dan Genangan yang berbeda di Persemaian
Lahan gambut senantiasa memerlukan penanaman kembali dengan bibit yang berasal dari lahan gambut maupun non-gambut. Penanaman bibit di lahan gambut akan dipengaruhi oleh genangan air gambut dan naungan dari pohon dewasa. Namun, belum ada laporan penelitian tentang perbedaan morfofisiologi bibit tumbuhan asli lahan gambut dan non-gambut yang akan digunakan untuk penanaman kembali di lahan gambut, khususnya daun. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan morfofisiologi daun bibit tumbuhan asal lahan gambut (Shorea balangeran dan Cratoxylum arborescens) dengan asal lahan non-gambut (Durio zibethinus dan Nephelium lappaceum) terhadap perlakuan naungan dan genangan di persemaian. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi dengan petak utama yaitu naungan dan anak petak yaitu penggenangan air. Morfofisiologi tumbuhan yang diamati adalah kadar klorofil, luas dan tebal daun, kerapatan stomata, karakter pembuluh xilem daun, dan konduktivitas hidrolik (Kh) pembuluh xilem daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup bibit S. balangeran dan C. arborescens lebih tinggi dibandingkan D. zibethinus dan N. lappaceum. Kadar klorofil S. balangeran dan C. arborescens dipengaruhi oleh naungan. Luas dan tebal daun S. balangeran dan C. arborescens dipengaruhi oleh naungan dan genangan. Semakin besar jumlah pembuluh xilem, maka semakin besar nilai Kh. Nilai Kh S. balangeran dipengaruhi oleh interaksi naungan dan genangan, sedangkan nilai Kh pada C. arborescens tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Oleh karena itu, dari nilai Kh maka C. arborescens mampu beraklimatisasi dengan baik di naungan dan genangan